tidak ada lampu yang diciptakan jika tidak untuk menyala
ukuran terang lampu menyajikan pilihan bagi penggunanya
setidaknya memang hidup adalah pilihan
mengenal diri sendiri dan bangkit dari katerpurukan
ada hal yang kadang kita tidak mengerti
disisi dunia maya
sendiri dan bisu
jika pijakan kaki di bumi
membawa seribu asa bagi para pendo'a
sedangkan mata tak lagi memandang
bahwa seribu orang telah menghakimi dengan suka cita
wahai pemuda yang berserakan
apakah tidak kau pandang negeri tercinta
jika orang tua ditanahku telah tiada
maka lemaslah aku melihatmu tak becus mendidik anak kami
wahai pemuda yang terlelap tidur
setidaknya ada mimpi indah yang sedang kau bangun
namun nyala lampu telah dimatikan
dan tidak ada lagi matamu melihat
sedang bumi terus berputar
matahari tak lelah berpijar
sedang mati sudah pemuda negeriku
dalam peluh tangis yang tersedu-sedu
tak ada lagi lampu berpijar
adakah yang mau melihat di kolong jembatan?
adakah yang mau mendengar jerit bayi kelaparan
atau siapalah yang mau menyentuh luka koreng dari si tua renta
ah... negeriku masih ramai
melambai-lambai dengan damai
ah... biar pergi penjajah jalang
tak mengerti hati yang sudah karang
wahai diri yang iri
siang tak kan pernah berganti malam
detik berjalan terus...
terus dan terus....
sedang usiaku dan usiamu akan lanjut
dan mati diliang yang sama
siapakah yang mau mengobati?
sedang sakit akan datang berkali-kali
ah... lebih baik ku susuri lorong itu
biar gelap dan berdebu
dan mimpiku
kutemukan diriku ditaman sana
sedang belajar membaca alam
sendiri
sendiri di gelap malam
cukup dengan bulan
yang cukup aku sukai
dan cukup aku senangi
No comments:
Post a Comment