05.00 Am
“hwaaa….. !!!”, kontan ku ikut kaget. Teriakan histeris Teteh.
“ Apaan the?! Masih pagi buta begini… “. Tanya ku heran.
“ hih..! ulat ini lho. Boleh di bunuh g sih?!” jawabnya masih dengan wajah pucat
“ Ho.. klo ganggu boleh kok.”. Jawabku. Tapi tidak juga begitu yakin.
Teteh asal jawa barat itu memukulkan sandal dari depan kamarnya ke lantai beberapa kali. Aku hanya memandangnya dari ruang keluarga.
“hugh! Hugh!”. Ekspresinya memukul itu ulat.
“ hih!” Teteh besemangat lagi memukul-mukul itu ulat.
Dan… ku lihat dari atas genting ada makhluk yang sama sepertinya turun seperti spiderman yangturun dari gedung pencakar langit. Shyung…. Tetap di depan pintu kamar teteh. Dia turun pake’ benang, mirip benang laba-laba.
“ Teteh.. itu teh..!”. aku menunjuk dari jauh.
“ hih. Iya nih!”. Puk puk puk! Teteh masih memukul-mukukan sendalnya di lantai halaman.
Dan.. ada lagi yang turun. Shyung…. Benar2 mirip spiderman.
“teteh… ada lagi!!. Hi..”. ku beri tahu lagi dia.
Aku jadi ikutan geli. Aneh bin ajaib.
“Ulat apaan teh?”. Aku pun bertanya penasaran.
“ itu lho dari pohon jati”. Jawabnya.
Ho… tertnyata dari pohon jati sebelah asrama. Ada dua pohon jati besar yang berada di utara asrama kami. Terpisah oleh tembok yang mengelilingi asrama kami sekaligus sebagai dinding kamar-kamar kami.
Aku tidak tertarik melihat seperti apa ulat yang dimaksud.
Masih jam 5 pagi. Memang terlalu pagi untuk olah raga mulut. Haha… Hari yang juga hari besar umat Islam ini memang dingin di pagi buta. Sepertinya tadi malam hujan. Tampak halaman asrama kami basah. Dan juga udara pagi yang lembab.
Aku segera mempersiapkan diri untuk sholat Id. Tapi aku putuskan untuk menjemur cucianku kemaren. Karena kemaren g ada hanger dan juga tempat yang cukup untuk nangkring bajuku. Hu.. terlalu banyak cucian semingguku ini. hm…. Satu bak gede. Haha..
Weitzz.. g salah lagi. Lokasi jemuran yang juga menghadap langsung dengan tembok dimana pohon jati besar itu bersemayam, jelas rawan dengan hadirnya ulat-ulat yang sama…
Jemuran sudah penuh. Aku pilih milik baju milik temen2 yang udah kering. Lantas aku ambil untuk tempat baju2ku. But, sebelum itu…..
“Hwa..!!!”. aku menjerit kontan. Ulat hitam yang menggelikan sedang menggeliat berjalan naik di tembok putih itu. Hih..!!
Merinding bulu kudukku. Idih!.. huff… g ada orang tahu. Cuma ada mb mislina yang memang bawaanya tenang. Aku g boleh takut. Kan mau jemur baju. Masa g dijemur. Meski hujan 2 hari ini berturut2, bajuku mesti di hanger. Klo g bisa berabe, habis sudah stok di lemari. Cia…
Mencoba tegar dengan terus menjemur. Sesekali beegidik. “hih!”. Haha…
Baju kesekian ku hanger dan … “ Hwa…. !!!”. jeritku yang kedua kali. Kontan aku keluar dari barisan baju2 yang dijemur. Ada lagi ulat dengan jarak yang lebih dekat denganku. Juga ditembok, bagian bawah.
“hih ..!!”, merinding lagi.
“ kenapa mb umi?”. Sapa mb Mislina di ruang keluarga.
“ hih..!! ulatnya mb..”. aku mengadu
“ gapapa. Namanya juga ulat.”. huff.. enak sekali jawabannya.
Aku duduk dilantai sejenak. Sambil menekuk kakiku menahan merinding. “Hih!!”.
Wah.. g bisa begini terus. Harus segera beranjak dan berjuang untuk menjemur lagi. Besok harus save semua perlengkapan di kamar. Mau hibernasi. Maksudnya skripsi…. Hehe.
Aku bangkit dan melanjutkan perjuangan. Sedang diluar bersahutan takbir dari masjid-masjid di daerah Pugeran ini. Takbir kemenangan Ibrahim dan Ismail.
“Astaghfirulloh.. masa’ takut sama ulat begini sih!.”. aku sendiri heran. Aku bukan orang yang seperti ini dahulu kala. Biasa menerjang hutan belantara. Mencari kayu bakar untuk teman-teman. Sudah biasa menemui binatang kecil-kecil yang aneh2. dan senang ketika bertemu dengan ulat yang berwarna-warni. Bulu2 yang panjang dan gerakan jalannya yang lucu. Idih… hihi
Aku bangkit lagi. Ah.. gpapa.
Aku selesaikan sampai dengan baju terakhir. Dan…
“Hwa…. !!!”. ku lempar kontan ember yang baru saja ku buang airnya. Aku memegangnya!!. Hoh, tidak!! Aku memegang ulatnya!!!
“hih hih… !!!.” hwa… aku bertambah begidik lagi. Hih.. hih… aku telah mengucapkannya berkali-kali. Mb mislina hanya tertawa melihatku. Hahaha…
“mb…. Tolong dong!”. Rengekku
“ apa tho..?”. enak sekali jawabannya.
“Hih.. ! aku megang ulatnya nih… “
Segera ku buka keran. Belum 3 detik.. dan …
“hwa…!!!!”. Jeritan yang lebih keras.
Ada lagi di keran. Berpose mengejekku. Bertambah begidik lagi. Belum selesai dengan yang ku pegang. Hih!!!
“Mb miss!!”. Kali ini aku membentak
“ Ha ha ha..”. mb mis malah tertawa keras.
Aku jadi jengkel. Dengan ulat-ulat tadi. Penampilannya tidak begitu bagus. Dan entah kenapa juga kok aku jadi takut ulat. Idih…
Warnanya coklat hitam. Berbulu. Badannya gemuk sepanjang 4cm. hih… gerakan jalannya membuat badan bagian perut bertambah gemuk. Melengkuk keatas dan setelah itu gerakannya mengulur lebih panjang. Hih…
Dag dig dug.. jadi senam jantung dech. Entah sudah berapa kali aku menjerit pagi ini. biasanya aku lari2 pagi selama 15 menit. Tapi aku jadi g minat lagi dengan keadaan yang udah begini. Senam jantung aja deh. Dah cukup.
Warna langit udah terang. Aku putuskan segera mempersiapkan diri. Take a bath and go to pray this morning. Masih sambil bergidik dan beristighfar aku berjalan menuju kamar. Dan ….
“Hwa…!!! Kok nyampe sini sih… ”. haduh… capek juga jerit melulu.
Makhluk yang sama sedang jalan-jalan di kusen kayu pintu kamar ku. Si eca yang sedang beres2 didalam kamar pun merespon.
“ada apa mb…??”. Tanyanya tenang
“ ulat ca! di pintu tuh… “ jawabku sambil tetap bergidik. Hih!
“ Oh…. Ulat toh. Kirain apaan.. “. Tenang sekali dia memimpali.
“ Hih!!. “. Berulang kali aku masih bergidik. Mengambil perlengkapan mandi untuk segera ke lapangan Sholat id. Ketika sudah masuk kamar mandi pun… “Hih”. Aku keluar lagi. Masih bergidik..
“Piye tho mb. Ulatnya di luar kok… “ Eca mencoba menenangkan.
“ Iya. Tapi kan tetep aja”. Yang jelas g ada alasan. Cuma geli aja. Huff… bismillah… aku langsung segera lakukan hal lain untuk melupakan semuanya. Dan akhirnya bisa tenang sampai berangkat ke lapangan. Tepatnya halaman Casa Grande. Real estate mewah dekat asrama kami.
USAI SHOLAT …
Alhamdulillah…. Bisa tepat ikut sholat ied. Karena tadi tampak beberapa jama’ah yang ketinggalan. Sholat ied diadakan lebih awal dari biasanya. Dan benar saja, ketika sholat telah selesai, rintik hujan pagi ini memang membuat suhu semakin dingin. Aku hanya mencoba merentas partikel lembut-lembut itu ke wajahku. Sejuk…
Kami memasuki kembali halaman asrama. Sambil bercanda dengan soulmateku, Eca, mengobrolkan tentang hal-hal aneh. Eca, dia yang mengajarkan bahwa hidup hari ini untuk disambut dan tidak untuk direngeki. Hanya belajar untuk mengubah hidup yang selama itu selalu merasa segala hitam disegala ruang waktu dan tempat. Disegala dimensi.
Kami menemukan beberapa mangga yang jatuh dari pohonnya. Alhamdulillah.. pagi2 dah ada rezeki. Satu, dua, tiga, empat buah kami dapatkan. Hm… so sweet u are…
Bersama yang lain berkumpul di ruang keluarga untuk menikmati mangga yang hm…. Ku kupas mangga yang sudah masak itu. Hua… manis sangat sepertinya. Dah …
Tiba-tiba…
“ Hwa…!!”. Jerit Eca.
Aku bingung. “Kenapa..?”. dan…
“ Hwa… !!!”. aku ikut menjerit dan menjerit lagi. Masih melanjutkan yang tadi pagi. Ulat lagi! Menggeliat diatas karpet ruang keluarga dimana kami berkumpul.
Ya Alloh…. Aku beristighfar berulang kali. Tidak ada alasan untuk takut dengan ulat.
“Hayo2 dibuang gih ca!’”. Amah Emi memberi perintah. Tiga orang terheroik di asrama ini sedang berada di dalam satu forum. Dan soal ulat ini…
“ Nah tu… awas, hati2. kasian dia… “. Amah emi menjelaskan cara yang baik untuk mengusirkan. Tepatnya memindahkah ulat itu.
“ Hahaha… “. Eca hanya tertawa saja.
Sedang aku… ? aku hanya memalingkan wajah. Sudah cukup bagiku untuk memandang dengan lebih dekat. Dan kali ini pun juga sangat dekat. Pun aku sudah menyentuhnya. Hih..!!!
“Udah belom..?!”. aku bertanya. Bukan, teriak tepatnya.
“ Udah mb…”. Jawab Eca.
“Hih… kok bisa sih nyampe sini. Kan jauh?!”. Eca bertanya.
“ Lihat aja jalannya. Sangat terjangkau klo cuma nyampe sini. “. Sepetinya juga aku telah faham siapa ulat ini. ruang keluarga yang juga dekat dengan lokasi jemuran, sangat mudah dijangkau.
“ Ada apa mb? “. Mb Vira. Juga santri disini, bertanya sambil berjalan pincang. Memang begitu beliau. Kakinya tidak normal sejak kecil. Tanda cinta Alloh.
Orang yang sangat aku cintai ini dan yang membuatku semakin mencintainya adalah karena dia adalah seorang muallaf. Akhwat yang juga mahasiswa S2 Hukum di UGM itu selalu memandang segala sesuatu dengan posistif. Juga dengan peristiwa ini.
“ ho… mereka tho. Gapapa. Berarti sebentar lagi ada kupu-kupu”. Jelasnya
“ ho!”. Tiba-tiba aku bisa berfirkir arif detik ini. kupu-kupu??
“ hm… nanti yang seperti apa ya kupu-kupunya?? “. Dia berucap lagi
“ Haduh mb… “ Eca pun menanggapi.
“ Ha ha.. iya kan..?! Jadi kepompong dulu. Terus, mereka bisa terbang jadi kupu-kupu”. Jelasnya gamblang.
Aku seperti orang bangun tidur. Bengong. Iya ya.. Mereka akan jadi kupu-kupu. Indah… dengan segala warna. Entah hitam, atau coklat. Bahkan… apakah kau tahu tentang kupu-kupu gajah? Aku belum pernah melihatnya di jogja. Tapi di Lampung, tepatnya di rumah sering sekali melihat mereka menyambangi bunga asoka depan rumah ku. Juga kadang2 ada yang mampir sampai ke rumah. Warna mereka berarneka ragam. Karena ukurannya yang sangat besar. Itulah kenapa disebut kupu-kupu gajah. Memang sedikit menakutkan. Bukan karena menggigit. Juga karena sayapnya yang besar. Klo mengibak tangan yang hendak menyentuhnya, bisa merusak warnya yang ada disayapnya. Sayang…
Juga kupu-kupu yang berwarna kuning dari pohon yang biasa ditanam disepanjang jalan depan rumah-rumah disana. Sewaktu kecil, bersama teman-teman sering menangkap mereka di pagi hari. Terutama hari minggu dimana kami libur sekolah. Kadang kami menunggui mereka keluar dari kepompongnya. Dari bentuk sayap yang tertekuk karena tertahan cangkang kepompong, sampai tegak. Dan setelah tegak langsung kami tangkap. Setelah ditangkap. Kami hanya menghitung siapa yang dapat paling banyak. Kebanyakan kami masukkan kedalam toples untuk dipandang. dan diantarnya kami lepas bagi mereka yang telah lelah kami tahan. Hihi.. kasihan juga.
Haha… kami sangat senang waktu itu. Karena sangat banyak sekali kupu-kupu dimusim penghujan. Mungkin seperti musim semi bagi darerah yang mengenal 4 musim. Mereka terbang diantara kami yang juga ikut terbang dengan berlari kesana kemari. Menari bersama mereka. Warna kuning merekapun menjadi kebangganku. Subhanalloh…
Haha.. baiklah. Aku hanya manggut-manggut tandan faham. Euphoria sejenak yang menyejukkan. Mencoba memimatinya kembali. Klo dijogja, dimana ya bisa kutemukan?? Dan…..
“ Hwa..!!! “ Jerit kami ramai bersama-sama. Dia datang lagi…. !!! Ha ha ha…
Asma Amanina, 10 Dzulhijah 1428 H
tah take a nembo kalenya.
ReplyDeletealur yang menarik, cerita sederhana, perenungan yang cukup ceria. nice words. okey... keep write.
ha ha ha... kayak komentar ane biasanya di K.com. lama gak nulis sesuai dengan gayaku. okey. menulis. berkarya. tapi harus ada makna.
US
thanks for ur visit. iya, lagi latihan..
ReplyDeletenext posting ada lagi.