Wednesday, December 17, 2008

dewi-dewi...

Apa ya yang lebih pas julukannya bagi orang yang memiliki kepribadian berbeda. Maksunya ada dua ruamh kepribadian didalamnya. Hm… analisis psikologi niy. Seperti beberapa orang yang pernah ku temui. Juga orang yang sampai pernah ku tanyai,
Ada berapa dianya-mu??

Juga orang yang g mengakui sebuah kebahagiaan yang hadir dalam dirinya adalah karena orang-orang disekitarnya, tapi karena yang lain. Padahal, dia sangat menyayangi teman-temannya itu. Kau tahu masalahnya, hanya karena dia selama ini merasa selalu hina dina.

Ada lagi katanya, orang indigo. Ah, entahlah. Yang aku faham anak indigo, bukan orang indigo.
Ada juga mereka yang pura-pura bahagia. Begitu yang pernah dituliskannya.

Apa lagi ya….
Reza armanda atau Niva atau Apit atau Abi atau Zae, g boleh protes ya aku nulis ini! Hoho…

DUNIA KEPRIBADIAN
Istilah ini aku dapatkan dari seorang teman. Ketika itu aku sedang kalut. G mampu memahami seseorang yang sudah 5 tahun kenal. tapi tetap aku g menemukan titik terang dan benar-benar memastikan begitulah adanya. Haha.. aneh kan?

DULU…
Cantik ku bilang. Anak orang cina. Tapi non-muslim. Dewi. Namanya melambangkan dirinya. Berkuilt putih, kurus tinggi, manis, berambut panjang. Ah anggunnya…

Inel yang duduk disebelahku menyikutkan tangan dan berbisik.
“ ssstt… Mi, anak ini lho yang katanya pacaranya pak guru”.
“Oh ya?!” memastikan.
“ G salah lagi. Cantik ya..?”. hm… Temanku yang juga tomboy ini pun memuji.
Hufff.. aku Cuma bisa melihat punggungnya non. Dia kan duduknya membelakangiku.
“ Ho… ya, klo gitu baguslah. Seleranya pak Guru jelas g main-main”.

Pak Guru, kami menyebutnya begitu. Tepatnya guru les komputer kami itu adalah orang yang sangat sabar. Perawakannya tinggi besar, cerdas dan dinamis. Dia membuka tempat les komputer ini dengan usahanya sendiri. Ah, enterpreneur sejati.

Sedangkan wanita ini, ia miliki segalanya. kacatipi - begitu pak guru menyebutnya. Kaya, cantik, tinggi, pinter. Semua mua dech dia punya. Cocok begitu intinya buat pak guru. Haha.. itulah pandangan kami sebagai murid sejati. Hanya saja, pak guru adalah muslim sejati, tapi Dewi bukan seorang muslim. Itu yang menjadi pertanyaan besar kami. Ah, mungkin waktu itu pak guru taunya juga muslim. Kenalan dalam waktu sehari?? Tanda tanya besar….

MULANYA…
“ hm… gimana ya Um jelasinnya. Waktu itu sih dia dateng ke sini. Dia mau daftar. Terus… besoknya ku bilang klo aku suka sama dia. Eh… ternyata dia mau. Hihi…” itulah penjelasan dari pak Guru. Singkat.

Aku pun hanya mengerenyitkan dahi setelah mendengarkan. Mungkin waktu 1 hari kenalan dan langsung “menembak”, gila memang. Tapi untuk gadis secantik dia, everything can happened.

Kamu tahu apa rutinitas mereka? Karena pak guru adalah orang yang sibuk, sedangkan dia sendiri siswi kelas 3 di sebuah SMK yang juga sibuk dengan persiapan kelulusan. Mereka marathon tiap sore. Begitu. Hm… apa ya? Emang aneh si.

Beberapa hari terlewati dan …
“ Eh, Umi ya?”. Ups. Do’i menyapaku. Huhu…. Tersanjung nih. Haha…
“ Hehe. Iya. Dewi kan?”. Tersipu malu. Lagi jawab sapaan orang keren nih…
“Hm.. iya. Eh Um, kamu buru-buru g?”. ho, waktu itu memang selesai kelas.
“ g juga sih. Ada apa?”. Tanyaku juga heran.
“ Gpapa. Pengen ngobrol aja”. Dug, what’s wrong with me? Aku g salah apa-apa kan…
“ ho. Sekarang…? Hehe. Iya dech”. Ku garuk kepalaku yang g gatal. (Bo’ong ding. Aku lupa adegannya)

Kami duduk berdua di beranda tempat les komputer Innovative tepatnya. Hu hu.. aku GR nih. Beneran deh. Aku dapet cewek cantik nih. Ho, bukan lesbi. Tapi bagiku saat itu aku sangat senang punya temen baru secantik dia. Dewi gitu lho…

“AKU DULU MUSLIM… “.
“ Jadi, kamu …? Hm… maksunya gimana ya?”. Tanyaku juga heran. Campur bingung, tepatnya… kaya’ orang bego’ gitu.
“ aku bukan anak kandung orang tuaku yang sekarang. Ibuku keturunan keraton jogja. Sedang bapakku orang biasa. Ada sengketa keluarga, dan dengan segala macam masalah. Akhirnya aku di adopsi ortuku yang sekarang”. Ho…. Penjelasannya membuatku terpaku. Aku seperti mendengar sebuah legenda baru. Aku manggut-manggut tanda faham. Faham yang g seutuhnya. Ada luka sepertinya.

“ Aku ikut agama ortuku yang sekarang. Otomatis kan?!”. Jelasnya gamblang.
“ Terus… kamu sendiri selama ini gimana?”. Tanyaku
“ ya aku aktif di gereja”. Jelas dong mb!
“ Tapi di sekolah aku juga belajar ngaji.” Whatzz…. Mengerinyitkan dahi lagi.
“ Hm.. aku hafal kok bacaan sholat. Aku dikit-dikit bisa baca alqur’an juga”.

Ho. Dia g lagi salah ngomong lho. Aku juga g lagi mimpi. Dia beneran ngomong gitu.
“ hehe. Ya kah?” aku minta diyakinkan
“ iya. Aku, pengen masuk Islam”. Whatzz..!! aku kontan kaget. Tersentak. Ini perbincangan pertama kami. Tapi, dia sudah menjelaskan banyak hal.
“ Kamu kaget ya? “ dia bertanya.
Dan aku menjawab
“ he. Iya.”. jelas kan jawabanku. Pun klo kamu berada di posisiku juga begitu.

Aku berfikir dan berfikir… ini adalah sebuah hidayah. G salah lagi. Ketika seseorang menyatakan keinginannya untuk menjadi seorang muslim. Dan dewi, ia telah mempelajari Islam sejak lama. Seperti membaca Al-qur’an, adalah pelajaran yang memerlukan waktu yang agak lama. Terus, hafal bacaan sholat. Well… aku seperti menjadi seorang superman. Yang keberadaanku bagi dewi sepertinya dibutuhkan. Tapi.. waitzz.. kan ada pak guru.
***

“ Hm.. iya Um. Aku tahu keinginannya itu”. Jelas pak guru
“ Iya pak. Tar klo kalian jadi nikah, kan bisa menyelamatkan dia. “. Aku coba untuk meyakinkan.
“ hehe. Gitu ya?”.
Duh… kok tanyanya gitu ya

“ ya iya lah. Ada orang yang bisa melindungi dia klo ada apa-apa. Perhatiin dong posisi dia. Bukan anak kandung. Maaf aja niy… tapi dia dapet segala kesenangan di rumah. Dia anak dari orang tua asuh yang berada.”. aku menjelaskan sulitnya posisi dewi.
“ yah.. aku akan nikahi dia dengan syarat itu memang”.
Huff… keren kan pak guru ku ini. haha… ya iyalah.
***

“ Apa!!”. Aku kaget mendengar penjelasannya.
“ Itulah kenyataannya di rumah. Aku udah g tahan sebenarnya. Tapi ternyata aku masih tangguh berada disana. Mereka yang membesarkanku.”.
Enough… penjelasannya nyaris tanpa basa-basi.

“ bekas pukulan rotan biasanya baru hilang sekitar empat hari sampai seminggu. Dan aku g bisa beraktivitas seperti biasanya”. Tambahnya.
Aku seperti ikut merasakan sakit. Membayangkan warna perih yang berada di punggungnya itu
“ Tapi, itu memang kamu melakukan kesalahan? “. Aku mentabayunkan hal yang bisa juga menyebabkan peristiwa serupa.
“ Hm… iya. Itu memang kesalahan. Tapi, memukul begitu sering itu juga kesalahan.”. dia membela.

Aku g habis fikir. Semakin kenal aku dengan kehidupan pahitnya.
“ Um… bapakku disini”. Whats..?? apa lagi ini!
“ Aku tahu dia disini. Aku kangen sama mereka. Selalu.”
Sepertinya aku butuh oksigen lebih banyak.

“ Maksud kamu apa sih wi?”. Ini semua butuh penjelasan.
“ Tempo hari dia menjawab puisi-puisiku. Aku tahu itu dia. Dan dia tahu aku”. Kamu tahu, tatapan matanya g pasti pada satu benda. Hanya pada udara yang tembus pada kehampaan.

Aku terdiam. Terpatung, g bergerak. Hoho. Belum mati. Masih bisa nulis cerita ini kok setelahnya. Kenyataan yang mengerikan. Seperti cerita-cerita dalam sinetron yang banyak nangis-nangis itu. Tapi kenyataan jelas lebih pahit.
Aku berfikir. Tapi buntu. Pelajaran yang g dapat ku mengerti. Bukan seperti alur integral metafisika yang biasa ku pelajari di kelas. Terlalu rumit.
****

“ Wah… senangnya lihat kalian.”. ku sapa dewi dan pak guru yang sedang mendiskusikan sesuatu di ruang tamu.
“ Hei. Udah selesai po kerjaanmu?” Pak guru menjawab sapaanku.
“ Udah dong… Beres bos. “ Aku menunjukkan wajah kemenangan. Soal-soal excel darinya ku babat habis. Hahaha…

“ Eh. Maaf ya ngganggu. Sengaja. Hihi”. Ya maaf aja. Aku kan emang udah selesai.
“ Um, sini gih. Ada yang mau ku tunjukin sama kamu. Tapi ini untuk kita2 aja yah?!”.
Dewi membuatku bingung. Apa lagi yang akan dia ceritakan padaku. Tingkahnya sedikit manja.
Dia mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah buku mirip diktat. Sampul mika warna biru muda. Disodorkannya ke diriku. Dan… ku buka. Satu per satu.

Ho, ini adalah deretan tulisan yang membawa penulisnya pada dimensi dua. Abstrak. G nyata. Tapi dirindu. Jadi, dia mengumpulkan puisi-puisinya dalam satu kumpulan puisi. Khusus miliknya. Menjadi mozaik yang utuh, namun hanya dalam mimpi. Begitulah puisi.
“Apaan sih? Aku g boleh tahu y?”. pak guru wajar penasaran. Masa’ sebagai cowoknya g boleh tahu. tapi memang hal ini terlalu privasi menurutku. Apa lagi puisi-puisi gadis cantik ini.

Dewi hanya tersenyum. Dia belum memperbolehkan.
Aku mencoba memahami beberapa pokok bahasan dengan apa yang telah ia tulis. Puisi bukan hal untuk dipertanyakan. Kebebasan bagi si penulis untuk menuliskan apa yang dia mau. G ada protes atau interupsi. Semau penulis. Ada beberapa pokok bahasan.

Kerinduan seorang anak pada ibu, pada bapak. Aku tahu cerita ini.
kesakitan yang sangat perih, dia coba menceritakan dirinya sebagai peri yang terkurung.
Istilah Gadis Pingit berulang kali dia ungkit-ungkit.
Dan… seorang pangeran. Ho.. seorang pangeran??? She have found him.

“ Tahu g mi. si dewi kemaren pingsan.”Pak guru membuka perbincangan lagi.
Eh.. apa! Pingsan! Apa lagi ini. aku hanya bengong. Ku arahkan pandangan mataku mata tubuh kurus dewi. Dia hanya tersenyum saja.

“ Haha. Pasti g percaya. Dia bener-bener pingsan!”.
Dia punya penyakit. Entah apa namanya. Berhubungan dengan darah. Kurang sel darah putih. Apa ya namanya? Kanker darah?
Ah dewi. Sekian banyak cerita telah ku peroleh tentangmu. Maaf jika aku g mampu berbuat apapun untukmu…
***
“ UM, UDAHLAH JANGAN DEKAT-DEKAT LAGI SAMA DIA.. “.
Itu ujar pak guru. G habis pikir. Ia memintaku untuk menghindari si dewi. Si dewi yang pernah sangat ia cintai itu dan yang baru dua bulan ini memadu kasih itu.

Aku masih teringat ketika mereka selalu menghabiskan sore bersama dengan melihat senja di langit barat, juga dewi yang bercerita bahwa tiap hari pak guru selalu menelfonnya, makan bersama, dan semua-mua yang ku dengar tentang mereka.

“ sebenarnya apa sih masalah kalian?”. Hoho… disini ternyata posisiku sebagai penengah mereka lho…
“ Mi, aku sudah tahu siapa dia sebenarnya.” Pak guru g ragu mengatakannya.
“Maksudnya?”. Aku bingung aja.
“ Pun mungkin aku juga sulit untuk mengatakannya. Tapi dia g seperti apa yang kita fahami sebelumnya.”. itu aja??
“ Gimana sih. Aku g ngerti deh. Setauku pak guru sangat senang tempo hari ketika bisa dekat sama dia.”.

aku memang bingung.
“ Ah, entar juga kamu akan faham. Tapi itu, kamu jangan terlalu dekat dengannya.”
Bukankah yang seperti ini tanpa penjelasan? Menyebalkan bagiku.

***
‘ ini Popi, sepupu dewi’
Message deliverd

‘sekarang gmn keadaannya’
Message sent

‘dr tadi mlm ngigau terus nama pacarnya yg dijepara”

Aku hanya terpaku. Mengingat puisi-puisi yang ditulisnya ketika itu. Sebelum dan sesudah bersama dengan pak guru. Dan sampai hari ini, bahkan dalam keadaan kritis itu, ia masih mengigau tentang pak guru??

‘Trs gmn sm tunanganny? ’
Message sent

‘g tau mb.sprtny mmaklumi.’

‘klo dah siuman ksh tau aq y. aq mw ngobrl sm dia’

Message deliverd
‘yup’


Ini tahun pertamaku di jogja. Tapi hari ini hatiku terterawang ke daerah asalku. Tentang cerita itu. Cerita yang bagiku sulit untuk difahami. Romansa cinta anak manusia, yang kandas dengan seribu alasan. Sakit, perih, mungkin begitu rasanya. Ah, aku sendiri g faham. Hanya menjadi saksi. Hihi…

Sakit dewi semakin parah. Dia yang memberi kabar langsung dengan isakan tangis di telfon. Atau sms dengan nada-nada penuh luka. Huff… sampai aku sendiri bingung menggambarkan bagaimana keadaannya sekarang. Karena terlalu banyak dan sulit untuk dijalani. Dan badannya yang kurus itu kini apakah akan semakin kurus juga? Sekurus impiannya yang semakin terkikis waktu.

Sekarang dia di Bandung. Sudah punya tunangan seorang polisi. Ku pikir dia bisa menggantikan pak guru. Hanya saja dewi sepertinya g pernah merelakan perginya kekasih yang amat ia cintai itu.
Kakinya retak karena jatuh dari motor, ditambah dengan kanker darah yang dia derita. Sejenak di bandung mungkin bisa menghindari pukulan rotan ibunya. Entah akan seberapa lama dia bisa menghindari semuanya. Begitulah ia menceritakan….

***
“ Um, udahlah. Dia itu g kaya’ apa yang kamu bayangin. Dia itu…. “
“ kemaren aku lihat dia cupika cupiki sama co. aku g suka. Setahuku dia itu…“
“ G tahu Um. Temen2 SMAnya bilang dia itu…. “
“ alasanku adalah karena dia g seperti yg ku kenal.” pak guru.

Begitu banyak cerita tentangmu. Warna yang bertolak belakang dengan yang selama ini ku kenal tentangmu. Bahkan aku g menemukan seorangpun yang sependapat denganku. Terlalu lucu bagiku. Atau aku yang terlalu lugu. Ah kau ini!

Ataukah kau kala itu kau yang lain…. ? dan kau yang ku tahu dari orang lain ini kau yang mana wi? Kau sakit itu kau yang mana? Terus, gadis pingit selama ini siapa dia? Putri keraton itu, itu siapa?


***

“ Bu, Dewinya ada?”. Aku bercakap dari luar tralis gerbang rumah megah ini dengan ibunya dewi yang juga telah mengenalku. Setelah anjing penjaganya menggonggong tamu tak diundang, ibunya datang dengan sedikit senyum. Anjingnya galak banget. Ada dua, yang satu berwarna putih tampak lucu dan imut, tapi ternyata g kalah galak. Hahaha…

“ Wah, dewinya di Karang Um. Ada apa ya?”. Ibunya menjelaskan.
“ Ho, pengen maen aja. Kan udah lama g ketemu. Di Karang dia dimana bu?” tanya ku untuk memperpanjang perbincangan.
“ Dewi kan kuliah disana. Terus ini dia belum pulang”. Jelas wanita paruh baya ini.
“ oya, katanya dewi pernah sakit di Bandung. Apa udah sembuh, kok udah mulai kuliah lagi?” Tiba-tiba aku berani menanyakan. Sebenarnya aku g ingin ibunya tahu klo aku tahu banyak hal tentang dewi.
“ G kok. Dewi baik-baik aja.” Jawab ibu. Tampak ada kerenyitan bingung di keningnya.
“ Lho, kan sempet rawat inap di rumah sakit?!”. Aku terus mengintrogasi. Wanita ini adalah wanita yang juga kasar terhadap dewi dengan pukulan rotannya. Hanya saja, untuk masalah yang memang langsung berhubungan dengan nyawa dewi kala itu apakah akan disembunyikannya juga?

“ G ah, dia baik-baik aja. Kuliah di Karang dan dia sehat-sehat aja”.
Ah, aku semakin bingung.
“ hm….. gitu ya bu?”. Aku hanya mencoba berfikir, tapi buntu. Bukan mencari solusi, but something wrong happened.

“ Ya udah deh. Ntar Umi kesini lagi. Soalnya no hp dewi g bisa di hubungi. Makasih ya bu. Mari…. “.

Enough… !!! Aku sudah lelah berada dalam sandiwaranya. Menjadi tokoh bonekanya. Menjadi orang yang memelasinya, dan menenangkan jiwa palsunya. Apa-apa yang udah diceritakan pak guru?? Juga cerita dari beberapa temanku?? Dan sekarang aku sendiri! Tentangnya, g pernah habis untuk diperdebatkan. Terutama dengan pak guru.

***

Laki-laki ini rupanya yang telah mampu mengobati dewi. Dari segala sakitnya selama ini. aku hanya memandangi senyum manisnya. Meski aku sendiri dalam keadaan lelah, tapi segalanya telah hilang begitu saja setelah melihatnya dalam keadaan yang jauh lebih baik dari yang pernah aku bayangkan.

“ yang membuatku tetap dengannya adalah dia seperti pak guru”. Tuturnya sedikit malu.
Ah, pak guru selalu berada dalam hatinya. Bahkan sampai hari ini. terhitung tiga putaran bumi mengelilingi matahari. Tetap saja begitu.

Tapi secara kilas mata laki-laki ini bebeda dengan pak guru. Orangnya lebih putih, lebih tampan bagi kebanyakan cewek ku pikir, dan memiliki prestis dari kalangan berada. Tampak dari penampilannya yang sangat elegant. Ah dewi, entah apa yang kau fikirkan… se-nggak2-nya ia tambatan hatimu hari ini. Dan g mengusik kehidupan pak guru lagi seperti yang terjadi beberapa waktu setelah kalian berpisah. Kisah roman kalian itu.

***

Riwayatmu pernah hilang dalam memoriku. Setelah aku kebingungan menelaah dirimu dengan lebih detail. Cerita-cerita dari orang lain mengusikku. Kita telah 3 tahun berteman. Tapi aku sendiri sebagai orang yang kau percaya dan menjadi pendengar setiamu, g percaya. Bahkan dengan pak guru sekalipun. Laki-laki yang sangat baik itu. Dan yang telah melepas bujangnya beberapa waktu lalu itu.

Aku menjadi g peduli. Aku terlalu sibuk dengan banyak urusan. Apa lagi di kota tempat aku belajar, aku punya banyak hal yang ku kerjakan. kisahmu terhapus begitu saja. Dan juga gambar dirimu dalam albumku semakin kusut. Nomor hpmu g bisa di kontak lagi. G ada berita lagi. Sudah cukup bagiku. Semoga menjadi kebaikan bagiku, dan juga dengan jiwa keduamu itu. Jiwa yang kesakitan itu. Yang mungkin masih ada sampai hari ini. tapi ku harap ia telah pergi dan benar-benar meninggalkanmu.

Kisah ke-Islamanmu telah kau ceritakan sejak dulu. Tapi aku g melihat perubahan dalam dirimu. Gosip-gosip dari banyak orang telah memekakkan telingaku. Tapi rintihanmu selama ini telah meredamkannya lagi. Ah dewi.. maafkan aku.
Sampai pada suatu hari…

***
“ Tiin… digole’i dewi..!! ” (Tin.. – panggilan di rumah - di cari dewi.)
Ibuku dari ruang tamu memanggil. Setelah ada deru mobil yang masuk ke halaman kami.

Hm… dewi yang mana ni? Ada beberapa nama dewi yang menjadi temanku. Masih pagi untuk menerima tamu. Tapi ini kan idul fitri. Saatnya berkunjung.

Aku segera menuju ruang tamu. Dan.. aku hanya mematung.
Dia, dewi itu. Yang telah hilang ceritanya selama 2 matahari, dalam kabar dan juga ruang memoriku. Kini berada di hadapanku dengan baju muslimahnya. Dia kenakan jilbab sesuai dengan warna bajunya yang hijau keemasan. Dan dibelakannya, berdiri laki-laki itu. Laki-laki kala dua matahari itu.

Aku bengong, g sadarkan diri. Haha.. maksudnya aku mencoba loading dengan memori-memori kala itu.
Kau hanya tersenyum manis yang semakin manis dengan lipstik tipismu itu.

“ Um… “. Kau menyapa.
Kau menyambangiku. Merangkulku dan begitu juga aku. Kita berpelukan erat. Rindu sekali…
Hanya saja…

Aku masih memandang matamu yang juga ikut berbicara, bahasa lain yang juga iku bercerita. Kau telah menikah dengan laki-laki ini dan memenuhi setengah agamamu sebagai muslim. Aku sungguh terbengong-bengong…

Aku g bertanya apa-apa. Aku g tahu pertanyaan seperti apa yang harus aku keluarkan.

“ ku kasih tahu. ini foto anakku.”.
Whatzz… secepat itu?
“ aku g bohong Mi. ini anakku sama dia.”. kau memperlihatkan layar ponselmu. Tampak anak yang manis sedang berpose bersamamu.

“ Udah berapa bulan?” akhirnya ada pertanyaan.
“ Putra udah tujuh bulan”. Jawabmu singkat.
Aku semakin beku. Dua matahari mengubahmu sedemikian cepat. Dan kau pun sudah punya buah hati?? Ku cubit kaki kananku. Huff.. aku g lagi mimpi kok.
Matahari selanjutnya kau memperlihatkan Putra padaku. Ia sedang tertidur saat itu. Sangat pulas. Ayahnya yang tampan dan juga ibunya yang cantik sepertimu, nampak padanya seperti pangeran kecil dalam pangkuan ratu. Kau masih dengan busana anggunmu. Aku hanya tertegun.
***

HARI INI…
Aku pun g yakin menggambarkan ini semua. Aku menjadi tokoh figuran pada film kusut seorang dewi. Adalah wanita yang g pernah aku fahami. Menjadikanku orang yang sangat bodoh. Kau tahu apa terjadi hari ini? ada gambaran episode dimana cita-citanya tercapai. Terutama keinginannya menjadi seorang muslim. Tentu saja hal yang sangat membahagiakan. Juga bagiku. Ini sebuah gerbang terindah yang telah dilewati oleh seorang dewi. Semoga saja begitu.

Namun.. aku sendiri ragu bagaimana menceritakannya. Ah.. tapi ku coba ya. Aku hanya ingin kalian bisa mengambil pelajaran dan dari dirinya aku ingin kalian bisa memahami orang terdekat anda dengan prasangka baik anda. G menjadi skeptis sepertiku saat ini. itulah pandanganku terhadap dewi. Gadis cantik putri keraton yang terasing di dimensi dua.

***

Miu_suzhu : udah tahu kabar dewi?
Pak_guru : hm… dia sering ditinggal pergi suaminya terus.
Miu_suzhu : ya iya lah. Suaminya kan konsultan tehnik sipil. Perginya kemana-mana. Ke pelosok juga disambangin.
Pak_guru : dia g tahan dgn suaminya. Tempo hari dia curhat sama aku.
Curhat?? Dengan pak guru??
Sambil mengetikkan tuts keyboard laptop Eca aku melanjutkan chatting ku dengan pak guruku yang baru saja YM-nya ku add.

Miu_suzhu : lho. Gitu ya. Setahuku dia bahagia bgt tu. Ya, terakhir pertemuan lebaran tempo hari sih..
Pak_guru : ah, kasihan dia. Tapi gmn lagi. Jalannya udah begitu.
Miu_suzhu : gitu ya .g tahu ah! Malah km yg tahu banyak tentang itu anak. Padahal aku kan mau ksh kabar tentang dia.
Pak_guru : udahlah. Yang lalu biar lalu.
Miu_suzhu : ye.. siapa yg mau ungkit2.
Pak_gutu : dia itu MBA.
MBA (Married by accident)
…..
…..
Pak_guru : Buzz!!
Pak_guru : Um… ?? masih di situ??

***
Jogja tambah kelam. Musim hujan ini se-nggak2-nya menambah jumlah orang yang terkena flu. Alhamdulillah aku sehat. Asalkan makan tepat waktu, minum susu, haha… everything will be ok. Tiba-tiba terlintas tentangmu. Kutulis, dan tiba-tiba ada rindu yang menyeruak…

‘aslmkm.Apa kbr wi?’
‘w’slm.baik. Ni siapa?’
‘ni umi. Hehe. Gmn kbr anakmu?’
‘Putra demam, badanny panas’
‘udh dbw kdokter? Inikan msm hjn.wjr, anak2’
‘udah 2x. tp blm reda jg’
‘km sndrian drmh?’


‘km tmbh gmk ap kurus?’
‘masih ky dulu’
Ho… masih kurus

‘makannya mkn yg bnyk dong wi…’
‘tenang aj. Klo aq nafsu aq mkn byk kok. Tp srg g nafsunya’
‘matahari masih setia wi. Senangkan putra dgn mnyenangkan dirimu’.
‘ya, Insya Alloh aq slalu brusaha utk itu, senyum anakku adlh kbhagiaanku. km g prnh sms sm pak guru?’
Kenapa kau menanyakannya….

‘g. terakhr chatting bln lalu. Km blm ktmu lg? Emg ad apa?’
‘g ad ap2. soalny bbrp mingg in dia rjn sms aq. Dia pngen ktmu sm aq klo plg ke jpara’
Hm… apakah cerita kalian memang g pernah berakhir??

‘ ho. aq dah 3th g ktnmu’

Message delivered
‘aq ktmu trakhir ky’ny wkt usai ujian skolah, katanya dia tmbh gmk n skrg lg kulh nymbg S1 di Rajabasa’

Aku g mau membahasnya lebih lanjut. G mau mencabut pedang pada luka yang telah kering milikmu itu. Juga mungkin lukanya. Yang telah 5 tahun menganga hitam. Kisah roman kala itu…

Orang itu, adalah masa lalu bagimu. Ruang yang berbeda wi. Dimensi yang berbeda. Berenanglah ke dimensimu sendiri Wi…..

Biarlah figuran ini menjadi balok prisma di dimensi yang lain. Yang telah menyaksikan kalian dan kini sedang mengharap cahaya putih, lalu memendarkan dan menjadi pelangi. Menjadi MeJiKuHiBiNiU…

Cahaya putih itu….
Ah cinta…

Keep it drowning in your love..
Backstreet boys sedang konser ditelingaku, membangun prisma itu. Hahaha… maafkan aku Wi.


Yogyakarta, 14 Desember 2008

2 comments:

  1. kutunggu jandamu mbak Dewi...kacaTipi
    gpp. asal bisa tobat. hiihihh...

    ::Peace::

    ReplyDelete
  2. well... aku yo ndue kisah Roman juga lho Umi.....

    Hmm... ngerti ra? figuran sing enek dalam crito iki ki adalah figuran yang terpenting dibandingke figuran liane.....(paling ora sko si dewi lan pak guru).....

    Ya tow... ^_^

    ReplyDelete