Gadis ini hanya ingin merasakan sari pati hidup.
Warna yang dia hitung dalam perjalanan pendakian ini tidak banyakk. Dia memanggil Hi sepanjang perjalanannya. Pada warna dahan-dahan yang lebat dari pohon-pohon rindang si kanan kiri jalan yang ia tapaki. Tapi yang membuatnya bahagia adalah beberapa warna lain yang juga pernah ia temui sebelumnya. Yaitu pada beberapa tumbuhan setinggi badannya. Apakah itu pada bunga, atau buah.
“Hijau, kali ini kau tampak lebih ceria”. Ujar Cin.
Membungkus bumi dan juga menjadi Hi. Sahabat Cin.
Setelah itu ia hanya tersenyum mencapai puncak. Aku puas… katanya. Namun langit tiba-tiba mendung subuh itu. Membuat team pendakiannya bingung. Perkiraaan cuaca telah salah mereka perhitungkan. Dan akhirnya teamnya memastikan untuk segera mengakhiri pendakian itu. Namun tidak baginya, ia hanya ingin menanti matahari terbit dari timur. Biar hanya fajar yang ingin ia temui dari tempat yang lebih dekat dengan langit dan segera sujud diatas batu paling lapang.
Ah…. Biar sekalian aku merasakan airMu disini. Lebih dekat denganMu…
“Kalian pulanglah dulu. Aku menyusul…”. Kata Cin pada sahabat-sahabatnya.
***
“ Hey Cin, lihat itu”. Ni menunjuk pada warna yang lebih ceria dari pada dirinya, warna Ku. Pada pohon buah jambu biji.
Mata si Cin membelalak mencari arah telunjuk sahabatnya itu. Dia mendapati si Ku yang ranum itu berada di ujung batang yang sedang ia injak. Sunyi, ia diam menyusuri secara perlahan menuju ujung itu. Kakinya lihai menjaga keseimbangan. Sedang tanganya berpegang pada dahan diatasnya. Semakin dekat dan dekat dengan warna itu… dan
“ Aaaaa…. !!!! “.
Bruk!!! Dara kecil itu telah terlentang di rerumputan yang basah karena hujan pagi tadi. Rupanya air cukup membuat licin batang pohon jambu.
“ Cin…!!!”. Teriak Ni.
“ Duh… aduh! Sss…. Sakit”. Si Cin merintih merasakan ada yang salah dengan punggungnya. Ia mencoba untuk meraba, memastikan tidak terjadi apa-apa dengan punggungnya itu.
“ Nila, kamu aja yang ngambil!. Sakit nih! Sayang tuh. Kuning cantik banget. Pasti manis”. Si Cin masih bisa berujar lantang.
Ah.. semanis apa ya kalau warnanya se-ceria itu? pikirnya.
Ni bingung. Dasar keras kepala.
“ Iya. Tar kita ambil pake kayu aja. Kamu nggak papa kan?”. Ni yang masih berada di atas pohon memastikan temannya baik-baik saja dengan segera turun.
“ Hey, bodoh!! Kamu disitu aja. Biar aku yang ambil kayunya. Mumpung kamu masih disitu.”. dengan teriak lantang pada sahabartnya, Si Cin mencoba bangun dari posisi terlentangnya. Mencoba segeara berdiri untuk mengambil genter agar misi pengambilan si Ku segera bisa dilakukan lagi.
“ Aaaa…!!! Aduh!!!”.
Tiba-tiba minggu pagi yang cerah itu menjadi gelap dimata Cin. Gelap sekali.
Langit dengan terang matahari saat itu menampakkan kelam tiba-tiba. Si Biru yang bertengger bersama mereka meneriaki Ni dengan keras.
“ Nila, bangunkan dia!”
Ni hanya menggeleng cemas.
“ Bi, kita bawa Cin pada yang lain!”.
Kisah 10 tahun silam mereka. Awal-awal Cin ingin meraih Ku.
***
“ Masa’ aku dibilang lugu, lucu!! Huff… lalu ku tanya. Pilih ku lempar sepatu atau sendal. Nggak sopan!”. Si Cin tiba-tiba marah sepulang dari kampus sambil masuk ke kamarnya yang sepi dan juga setia pada sunyi.
Malayang dipikirannya. Tiba-tiba ia lari keluar kamar dan menatap langit, bolehkah aku lebih dekat denganMu??? Meski hanya dengan BiruMu??? Dengan Bi lagi…
Tiba-tiba langit menghitam. Dan menyiramkan air dari hasil kondensi awan dilangit kewajah Cin.
“ Biarkan aku merasakan BiruMu. Si Bi...”
***
“ Hahaha.. Cin… cin. Kau lugu sekali. Lucu lagi! Ckckck… “.
“ Hey Ungu! Kalau kau bilangin aku lugu, akhwat lain itu akan kau bilang apa?!”. Nada Cin agak tinggi. Hari ini ia telah merasa kalah. Kalah dengan dirinya sendiri.
“ Kau tahu? ada bendera kemenangan di istana itu. Semakin kau gubris ultimatum dari mereka itu. Semakin jaya mereka!!. “. Bendera kebodohan semakin berkibar-kibar dikepalanya, setelah U, warna seperjuangannya itu, memberikan penjelasan yang sama sekali ia tidak faham.
Ditambah senyum kemenangan U, semakin gelap tampak wajah gadis itu.
“ Apa maksudmu?”. Si Cin bertanya kalah.
“ Mantan pejabat disana bilang… ‘makasih mbak, kalau mbak, mas dan kawan-kawan tidak berdemo, saya tidak akan bertahan disini’. Kamu tahu nggak artinya apa? Itulah guna mereka berada di kaki penguasa. “
Brengsek!!! Hanya karena itu??? Terlalu murah harga mereka. Dengan sedikit sunggingan, muncul juga senyum kesombongan yang dihembuskan iblis penghuni ruangan yang sering kosong itu pada si Cin. Namun malaikat menghapus senyum yang mengerikan itu.
“ Astagfirulloh…. “. Tiba-tiba wajah si Cin tertunduk.
Demi Alloh dia sudah menggadaikan segala jiwa raga. Apalah harga badannya yang telah sakit itu dibanding dengan perdagangan yang telah ia sumpah.
U hampir menemaninya tiap hari. Di sudut-sudut ruang kosong yang menganga di hati Cin. Selalu mewarnai wajah Cin yang harusnya merah seperti kebanyakan teman-temannya. Hanya saja karena telah berbaur dengan Bi, dan U menjadi sahabat setia si Cin.
‘Wah… kamu cocok pakai baju itu.’. ah! ini mah pasaran! Warna pink yang selalu ia hindari.
‘ hm… anak gadis tu mbok yang rapi kamarnya!’ cita rasa yang bagi Cin tidak penting!
‘ wah… mbak Cin kok hari ini beda ya? ’. Padahal ia hanya ingin merasakan warna asing yang menghampiri dirinya.
‘ anak yang kaya’ gini, kalau nggak bisa dibina, ya dibinasakan!’ Warna yang sangat bodoh menurutnya. Bukan warna yang baik. Ia membuang lepas ke arah yang paling jauh.
‘ baru ini seumur hidup aku menghadapi mahasiswa seperti ini!’ Warna gila, yang Cin tetap menjaga sikap takzimnya karena lebih tua. Penguasa istana mega. Ah, gelap. Cin tidak suka.
Baginya. Ini juga cita rasa hidup. Namun terilfiltrasi oleh prisma beningnya.
***
“ Teman-teman ikuti komando saya! Setelah hitungan ketiga, lempar tomat yang ada ditangan kalian ke arah foto ini”.
Jilbab gadis itu berkibar-kibar memberi semangat bersama angin di hari jum’at. Di ujung jalan Malioboro, depan gedung Agung.
Semakin lantang suaranya. Ia memimpin barisan yang ada dibelakang. Yang pasukannya terdiri dari makhluk yang sejenis dengannya. Sedangkan barisan yang berada didepan, menggenggam panji-panji agar terus berkibar dengan nasyidujjihad mereka.
“ Satu, dua tiga!!!”. Teriak gadis itu memberi komando dengan toa ditangannya.
Dan tomat-tomat segar itu, dari tangan-tangan pasukan menuju satu arah perjuangan. Membidik gambar penguasa saat itu. dan mereka mengaku mewakili rakyat yang jauh lebih ingin memaki si penguasa itu.
Namun tiba-tiba, Cin bahagia bisa merasakan sari pati yang baru kali ini ia rasa. Warna orange dari tomat-tomat yang jatuh kembali ke aspal tiba-tiba menjadi pucat. Pasalnya warna cairan yang keluar dari hidungnya memberikan cita rasa yang baru. Dan semakin jelas warna itu ketika disapu tisu putih yang dia ambil dari kantung jaketnya.
Dia tersenyum puas. Warna cairan itu… Me.
“Merah, selamat datang”. Ujar Cin pada Me dengan senyum.
Semakin dekat denganMu…
Biarkan aku merasakan sari pati hidup. Cin berucap lirih lagi.
***
Warna yang terpendar dari prisma jiwa gadis ini telah mewarnai dinding putih yang bisu itu. Dia menghitung bahwa dia telah menemui segala warna yang diinginkannya. MeJiKuHiBiNiU sudah semua. Dan masih setia menemaninya setiap hadir matahari setiap pagi, dan menghilang ketika mulai senja di barat. Berganti dengan bulan. Mungkin Ta ada disana. Tidak juga. Ah rindunya…. Ta sepertinya suka bersembunyi di balik awan. Memang suka bersembunyi di balik awan
“Terima kasih.. “. lirih Cin berucap.
Ta. Warna yang dirindunya. Sebelum pulang ia ingin menemuinya. Kali ini ia memohon. Terakhir ini saja.
“Temui aku pada Ta… Ku mohon… “ . Ujar Cin berbisik pada sahabatnya yang bersembunyi didalam prisma bening ditangannya.
Lalu, Prisma bening miliknya itu, ia letakkan pada fajar yang menjelang subuh. Biar dingin beku pagi ini di luar ruang kosong hatinya, tak apa. Di taman itu.
“Datanglah kalian pagi ini bersama Ta… ajak dia sekali ini saja. Ku mohon…“. Kata Cin dengan raganya yang setengah sadar.
Dan ketika matahari telah datang pada hari, datanglah Ta diiringi teman-temannya yang lain. Dan Cin kali ini mampu membuka mata setelah gelap satu purnama.
“ Terima kasih. Ta.. “.
***
Aku hanya ingin merasakan sari pati hidup.
Begitu kata Cin tiap matahari mendatangi hari.
“Kalian pulanglah… sungguh. Biarkan aku bersama Ta. Kali ini saja. “
Akhirnya teman-teman Cin pulang. Tersapu mendung yang tiba-tiba. Mereka melambaikan tangan pada Cin.
“Terima kasih telah mengatarkanku sampai sini. Maafkan segala kesalahanku. Dan sampaikan maafku pada mereka yang telah ku sumpah serapah. Kalian pulanglah dengan hati-hati. Jaga prisma beningku baik-baik”. Pesan terakhir Cin pada sahabat-sahabatnya.
Dan merekapun tersenyum untuk terakhir kali pada Cin. Tugas mereka selesai setelah membawa Ta padanya. Cin sangat menjaga sahabat-sahabatnya itu. karena mereka selalu tersenyum. Dan membuat wajah Cin selalu tersenyum di tiap matahari.
Namun kali ini, setelah sahabat-sahabat Cin turun dari puncak pendakian itu, Cin meneteskan air mata. Bening dan lembut. Ta menghapusnya.
“ Kau tak sendiri lagi Cin”. Ucap Ta.
“ Makasih Ta. Sekarang, hantarkan aku pada pemilikku dan pemilikmu. Ku mohon… ”. Ucap Cin lirih.
“ Jangan Cin, jangan sekarang. Aku baru saja menemuimu, dan kau akan meninggalkanku?”. Ta tidak rela melepaskan.
“ Tidak. Setelah aku pergi, ambillah prisma bening di taman yang pernah kita tanami krisan. Ada mereka sahabatku didalam prisma bening itu. tempat mereka pulang. Kau telah mengenal mereka kan? “.
Cin diam sejenak untuk mengambil nafas. Nafas-nafas di hitungan akhir.
“ Mereka yang barusan menjemputmu, dari balik awan”. Senyum Cin mengembang.
“ Cin…”. Ta tak mampu berkata lagi
“Ssstt… ucapkan saja ditelingaku syahadat. Biar aku mengikutimu. Aku sudah merasakan sakit ditenggorokan. Ku mohon… “. Cin masih tersenyum. Meski tanpa sahabat-sahabatnya.
Sedang hitam menatap wajah Cin di langit. Menangis rintih…
“ Ku mohon. Sampai aku menutup mata.” Lirih Cin.
Ta hanya mampu mengangguk.
Cin tersenyum. Dan semakin tersenyum mendapati rintik-rintik hujan maaf dari hitam diatas. Sejuk…
Hitam pun berujar…
“ Selamat datang Cin. Kau merindukan ini bukan…??? datanglah dengan keikhlasanmu…”.
Cin pun mengangguk lembut.
“Laailaaha.. illalloh…. “ Ucap Ta dekat telinga Cin.
Dan dengan terputus-putus Cin mengucapkannya…. Ia telah mengucapkannya… kalimah tertinggi itu.
Rintik-rintik hujan dari langit diatas semakin lebat. Membasahi kota dimana Cin meninggalkan semua. Menuju Robb Izzati. Namun hanya sekejap. Usai itu matahari bersinar lagi. Hitam pun pergi. Bersama Cin.
Ta menepati janji untuk mengambil prisma bening itu. Di taman krisan yang kata Cin mereka pernah membangunnya. Dan setelah mendapati prisma bening itu, terpendar dari beningnya sahabat-sahabat Cin. MeJiKuHiBiNiU.
Ta pun terkaget, takjub. Mereka Mengiringi Cin datang kembali padanya. Pada Ta yang tercipta kuat, dan yang telah melengkapi sari pati hidup Cin di akhir masanya. Cin yang baru saja meninggalkannya.
Kali ini sahabat-sahabat Cin itu mengatakan pada Ta dengan koor yang merdu secara bersama-sama….
“ Cin ini adalah milikmu. Tapi ia belum mengenalmu. Jaga dia baik-baik...”. Hanya syukur yang terucap dari bibir Ta. Ia takjub, bingung, dengan segala rasa yang tak ada kata yang mampu mewakili.
Setelah menenangkan diri, Ta Memberanikan diri untuk mengenal Cin yang baru.
Ta pun berujar lirih sambil menatap langit yang disaksikan Biru …
“ Cin, aku akan menjaganya…”
Cin pun hanya tersenyum, melirik Ta dari balik awan.
Entah, Ta yang mana yang akan dihantarkan Ar-Rahman untuk menemaninya kali ini.
Miss you Azzam
hualakokskakufnsfusfmwfsflsfsmfurowpoerhsfsfj.
ReplyDeleteini baru tulisan. walaupun masih belum di sket, ditata alurnya, di poles, didetailkan, ditata ulang, pendetailan yang lebih mengena, pemilihan kata-kata indahnya, baru penulisan. yah, paling tidak aku jadi tahu bahwa kau punya cukup bakat untuk menulis. maaf kalau kasar. yah, karena bagaimanapun juga ada baiknya untuk mensket apa yang akan kamu tulis sehingga punya makna yang tersampaikan denan mengena. sobat.
us
Miu....
ReplyDeleteWoi.....
How are you???
How can u have much time to make many articles???
I think that you are very busy.
Woi, please pray for me...
May i be able to be better and better during staying in Pare...
Wua... So that I must survive!!!
Btw, What programs and activities do you join until you never send sms to me???
About Irma, Actually i want to go there with ikhwah MIPA, but maybe i will do it flexiblely.
iya ya? somedaya lah. lagi lelah. haha. well, menyusul. duh, emang susah klo ngarang cerita ya. hebat ya klo Alloh buat skenario.
ReplyDeletehai mini... afwan jiddan jeng. gmn di pare. wah... sekearang pasti dah keren banget niy englishnya. ya... talking-talking about.. haha.
bakat terpendam kali ya min. sebenernya dari dulu mau nulis2. zaman korfak-nya pak agung. disuruh kak hanung nulis. kak azis aja bingug. hehe. inget mereka ga? seneng tahu kabarmu.
keep fight.
wasslm
Yes, i still remember ...
ReplyDeleteWuih, i think you really have ability of writing good articles...
toong......
ReplyDeleteklotak.
bahasa inggris yang bagus.
sandika wilujeng... mangga ndara...