Wednesday, December 24, 2008

SANDY

Mata Sandy berkaca-kaca. Tak kuat menahan bendungan bening itu. ia menjemur diri dibawah bintang malam. Terlalu larut untuk seorang gadis yang masih berada di luar rumah. Namun Sandy adalah Sandy. Dia adalah gadis yang tidak kenal aturan. Bukan, bukan berati ia tidak memiliki etika. Selama tidak ada yang dia rugikan, meski membahayakan dirinya, ia akan terus melakuan apa yang dia mau.

Dia pandang lebih lekat langit malam itu. Tidak ada bulan. Hanya bintang dan hanya beberapa. Tidak seperti malam yang biasanya. Malam ini ia mendapati awan-awan putih yang menjadikan malam seperti siang. Meski tanpa matahari.

Dia menekuk kakinya. Menempelkan siku kaki ke dagunya. Semakin lekat kebadan ia rekatkan tangannya mengelilingi kaki. Dan menggigit giginya sendiri. Bukan karena menahan dingin angin malam itu.
“ Tolong aku… “. Ucapnya lirih.
Sudah tiga matahari ia tidak menjumpai kekasihnya. Laki-laki itu…

***
“ Sandy. Hoi! Senyum-senyum sendiri. Ngapain sih?”. Tiba-tiba Intan menghampiri Sandy yang sedang melamun di taman gedung pusat kampus biru itu.
“ Hoh. Nggak papa kok. Tenang aja“. Jawab Sandy gampang.
“ Hm… gitu ya.”.
Sandy tidak menggubris keberadaan teman dekatnya itu.
Mereka diam.

Tidak ada kupu-kupu di taman itu. hanya ada hamparan hijau rumput yang tampak seperti permadani yang lembut. Mereka duduk di tangga naik balairung. Sebutan untuk ruangan luas itu. Sejuk memang menikamti sore disini. Juga mereka berdua.

Cahaya matahari semakin redam. Namun mereka semakin membisu. Juga bisu Sandy sore itu. Mungkin biasa bagi kebanyakan orang, tapi tidak untuk Intan.

“ Sand, ada apa sih?.” Intan membuka pembicaraan lagi.
Sudah satu jam mereka duduk bersama. Tapi tidak ada juga pembicaraan yang Sandy janjikan.
“ Katakan padaku.”. Intan memulai lagi.

Ada senyum yang tiba-tiba terkembang dari wajah Sandy.
“ Tan...” Akhirnya Sandy buka mulut. Namun tatapannya masih memandang kosong.
“ Aku jatuh cinta”.
Sandy tertunduk lemas.

“ Hahaha…. Hoh, si Sandy lagi jatuh cinta toh! Sama siapa Sand… ??? Hahaha.. akhirnya kau menemukan orang yang bisa meluluhkanmu. Hahaha…. “. Intan tertawa lepas. Kegirangan dengan berita yang baginya adalah berita gembira. Hanya saja tiba-tiba pohon tua depan balairung bergoyang tertepa angin besar sore itu. Dan beberapa burung yang bertengger disana terbang membuncah, mengudara mengitari pohon.

Sandy hanya tersenyum. Namun tiba-tiba sore itu menjadi sangat gelap. Dan belum tawa Intan berakhir, mereka telah terusir hujan besar dengan kilatan petir dan disusul guntur yang bergemuruh.

Hati Sandy pun sebenarnya sedang bergemuruh, namun gemuruh yang lembut. Ah cinta…

Sandy menarik tangan sahabatnya tiba-tiba. Bukan segera bernaung ke dalam gedung. Namun diajaknya Intan turun dari tangga dan menuju tengah-tengah permadani hijau itu untuk bergabung dengan hujan.

Mereka berdua tersenyum. Merentas hujan di tengah kegelapan dan kelam. Dan senyum mereka berubah menjadi tawa, dan tawa itu menjadi lepas. Kodok-kodok yang bersembunyi di selokan keluar mengkhawatirkan mereka, juga burung-burung yang belum lama berputar-putar di pohon tua itu masuk kembali bersembunyi di balik ranting-ranting lagi, ketakutan.

Tiba-tiba juga terbesit rasa ketakutan dalam kepala Intan yang tanpa sebab. Dan merubah senyumnya menjadi kelam setelah melihat langit yang makit hitam.
“ Sandy. Udah ah! Ayo pulang.”
“ Nggak ah. Aku mau disini. Pulang lah!” Jawab Sandy.
“ What! Ninggalin kamu sendiri disini? Lihat, ini dah gelap. Kita udah basah kuyup. Ayo pulang”. Timpal Intan sambil menggaet tangan Sandy.

“ Kau seperti nggak mengenalku. Aku mau disini!”. Ditarik kembali tangannya. Sandy masih dengan senyumnya dan sedikit lantang menjawab ajakan Intan.

Intan terdiam. Ah, sejak dulu memang tidak ada yang mampu memaksakan kehendak pada temannya itu. Yang keras kepala dengan segala keinginan.

“ Baiklah kalau kau mau disini. Aku pulang dulu. Tapi hati-hati. Hari sudah mulai gelap. Kau anak perempuan. Jangan pulang larut malam!.” Intan mengingatkan. Hanya saja ucapannya barusan memang tidak di gubris. Sandy masih terus senyum dan kadang-kadang tertawa di bawah hujan besar itu. Menengadahkan wajahnya untuk air-air yang jatuh langsung dari langit.

Badan dua gadis itu telah kuyup terguyur hujan. Juga wajah mereka yang basah, bibir yang sedikit membiru menahan dingin air dan angin. Bedanya, hanya Intan yang menggigil.

Plap plap…!!! Kilat tanpa petir memotret mereka dari langit.
Sambil mendekatkan tangannya ke badan, Intan lari meninggalkan Sandy sendiri diatas permadani yang juga mulai berwarna gelap itu. Tiba-tiba pilar balairung menghilang. Bangunan tua yang sesungguhnya indah itu mulai tampak menyeramkan. Kolosal kekuasaan yang angkuh. Ah, mungkin karena penghuninya hari ini adalah orang-orang yang arogan. Banyak yang mulai mengutuknya. Pretise, golden, seperti zaman kolonial. Intan semakin takut. Namun tetap ditinggalkannya sendiri si Sandy. Gadis keras kepala itu.
***
“ Selamat pagi Intan…”. Sandy menyapa dari sepeda mini yang ia goes.
Hey, ada segepok mawar merah di keranjangnya. Ia turun dan berjalan beriringan bersama temannya itu.

“ Hm... Apa nih? nggak mungkin kan kamu mau ngasih bunga ini ke aku?”. Intan bingung.
“Untuk kekasihku.” Sandy menjawab dengan sedikit malu. Ada merah di pipinya.

Intan bingung. Sedikit berkerut dahi dan sedikit tidak yakin. Ia ingin mengatakan sesuatu, lalu ia tutup dari menganganya itu. Ah… sudahlah. Bagi Intan kebahagiaan sahabatnya itu adalah kebahagiaannya. Tapi… biasanya laki-laki yang memberikan bunga pada seorang gadis. Tapi Sandy adalah Sandy. Begitulah Sandy.
Pagi ini semakin cerah saja…

“ Mm… secepat itu kah? Dan… apakah dia juga menjanjikan akan melamarmu?”. Intan bertanya jelas dengan tidak yakin.
Sandy mengangguk malu. Dua kali. Ah, dasar gadis.
Si Sandy, masih dengan rona wajahnya yang merah itu.

“ Ah!”. Intan terbengong. Ia tahan langkah sahabatnya itu. Diam. Dan matanya terpaku menantap gadis cantik dihadapannya. Ia minta diyakinkan.
Sandy mengangguk lagi. Pelan. Dua kali. Masih dengan rona wajah yang merah itu.

Intan menggeleng kepalanya dengan tersenyum.
“ Kapan kau akan mengenalkannya padaku?”. Intan bertanya.
“ Besok pagi sebelum jam tujuh. Ku tunggu kau di balairung”. Sandy masih tersenyum. Kali ini tampak wajahnya seperti mawar di keranjang sepeda itu.

***

“ Kalau kita nanti jalan, kau nggak boleh jauh-jauh dari aku. Janji ya.” Si Sandy memastikan Intan tidak melakukan hal-hal aneh.
“ Janji!”. Sambil menunjukkan jari tengah dan telunjuknya.

Mereka duduk tenang ditaman yang rindang itu. Dibawah pohon besar yang dikitari kursi mengelilingi meja bundar pada tiap sisinya. Sandi memilih kursi paling timur agar tidak terhalang dengan pandangan pohon besar yang menaungi mereka. Sedangkan orang-orang datang ke kampus itu dengan tergesa-gesa sepanjang jalan yang melintang dari utara ke selatan. Jalan yang melintang disebelah timur taman dimana mereka duduk.

“ itu dia!”. Bisik Sandy.
“ Yang mana?” Intan bingung segera membalikkan badan.
“ Kemeja abu-abu kotak”. Tapi Sandy segera menunduk.

Seorang laki-laki setinggi 175 cm. Kulit sawo matang. Tampak cerdas dengan segepok buku di tangan dan kaca mata minus. Tangan kanannya menjinjing tas laptop. Tapi, tidak begitu tampan menurutnya.

Intan memperhatikan laki-laki itu sampai hilang masuk ke gedung besar sebelah timur. Tepat menghadap tempat dimana mereka duduk.

“Dosen muda di fakultas ini. Orangnya cerdas dan baik. Karya-karyanya luar biasa. “Sandy menjelaskan dengan senyum-senyum sendiri.
“ Hm… sepertinya kau mengenalnya dengan baik.”. Ujar Intan memastikan.
“ Sangat baik.” Jawab Sandy singkat.

Hm… si Intan hanya menganguk-angguk. Ah, dasar orang lagi jatuh cinta. Katanya sih semua jadi rasa coklat.
Termasuk ketika dilihatnya mata Sandy. Hanya ada bintang-bintang.

***
“ Hari ini valentine days. Aku mau kasih dia coklat buatanku.” Ujar Sandy.
“ Wah…. Mana buatku?”. Timpal Intan.
“ Kau Sudah lama tidak main ke kontarakanku.” Jawab Sandy agak cemberut.
“ Maafkan aku ya. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Jadi jarang menemanimu.” Intan merasa bersalah.

“ Nggak papa. Sekarang aku udah nggak minder lagi kok. Tenang aja. Aku kan udah punya dia.” Ada rona merah lagi yang kembang di pipi Sandy.
“ Hahaha.. baiklah. Gitu dong. Jangan mengurung diri terus.” Intan menasehati.

“ Aku mau ke tempat dia dulu ya.”
“ Baiklah. Hati-hati”.
“ Dahh…. “. Sandy segera beranjak dan melambai pada sahabatnya itu. ada senyum yang dicuri oleh Intan.
“ Dahh… “ Intan melambaikan tangannya juga dan menggelengkan kepala. Sepagi ini menemui kekasih…??? Aneh.

Ketika Sandy mulai menundukkan kepalanya lagi. Seperti biasanya ketika ia berjalan di keramaian orang.

Sandy adalah gadis Minang yang sangat cerdas. Dia selalu mendapatkan nilai terbaik di kelas. Pendiam. Namun karena diamnya itulah yang menjadikannya seperti emas. Tidak banyak bertanya di kelas, namun banyak komentar dosen yang memujinya karena ia menjawab soal dengan cara-cara yang kadang belum pernah diajarkan. Ayu, begitu orang jawa bilang. Hitam manis. Hidungnya bangir. Banyak yang menyukainya. Namun hampir semuanya mundur kembali karena gadis ini begitu dingin. Tidak ada respon, kata mereka sih begitu.
***
“ Sandy..! Sand…! Kamu dimana?! Sandy!!!”. Intan segera datang ke kontrakan Sandy ketika tiba-tiba Sandy menghubunginya lewat telpon. Mengisak tangis sebelum sempat berbicara.

Intan menuju kamar, hanya saja kamar itu seperti baru saja terbalik diguncang gempa. Buku-buku berserakan dan peralatan kamar yang tidak pada tempatnya. Komputer yang masih menyala dengan gambar laki-laki itu sebagai dekstop. Dia mendapati juga corat-coret lipstik di cermin pesegi panjang yang tergantung ditembok. Ia ketuk-ketuk di kamar mandi, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ia buka. Namun ia tidak mendapati Sandy. Segera ia ke ruang tengah, didapatinya gagang telpon yang menggelantung.

“ Sandy!!! Kamu dimana? Ini Intan! ” Sekarang tepatnya Intan berteriak mencari temannya.
Tiba-tiba Intan mendapati bercak darah di lantai dapur.
“ Sandy!!!”. Kali ini Intan berteriak.
Dan…
“ Astaghfirulloh….. “. Intan menemukan Sandy dibalik pintu dapur dengan darah yang bercecer dan mengalir dari tangan kirinya. Dan pisau yang terletak di kanan gadis ayu itu.
***
Pagi-pagi Intan menuju ke kampus laki-laki itu. Ia menunggu di pintu masuk gedung yang tempo hari bersama Sandy ia diperlihatkan laki-laki itu. Ia berdiri mondar-mandir. Melongok ke jalan dan memastikan laki-laki yang ia cari. Orang yang masuk ke gedung itu pun tidak nyaman dengan keberadaan Intan.

Namun ia tidak mendapatinya juga. Ah… mungkin laki-laki itu tidak ada jam pagi. Akhirnya ia bertanya pada satpam yang ada disana.
“ Mm… pak. Permisi. Boleh tanya?”. Sapa Intan.
“ Iya mbak. Kaya’nya mbak juga dari tadi kebingungan”. Jawab satpam paruh baya itu dengan sedikit logat jawa.

“ Bapak kenal seorang dosen. Orangnya tinggi, terus.. pake kaca mata, terus… kulitnya sawo matang?”. Intan sendiri ragu bertanya.
“ Wah.. ini fakultas gede mbak. Dosen yang begitu mah banyak. Namanya siapa?”. Tanya satpam.
“ Duh. Saya juga nggak tahu namanya. “ Intan semakin merasa bodoh.
“ Lha… mbak nya ini aneh. Ya apa lagi saya mbak. Soale banyak yang tak temui disini.” Jelas jawabannya demikian.
“ Ditunggu aja didalem. Ada kursi di dalem.” Satpam seragam biru itu menawarkan.
“ Oh. Baiklah. Sepertinya itu ide bagus. Mungkin saya nunggu didalem aja ya pak.” Intan menyerah
“ Yuk mbak”. Satpam itu mempersilahkan masuk.

Ruang lobi yang luas. Dengan ruangan yang menjulang tinggi langsung bisa tampak beberapa aktifitas orang-orang di lantai atas. Pasalnya atap gedung itu langsung dapat dilihat dari lantai satu. Sedangkan koridor perlantai dibentuk mengelilingi gedung. Jadi bolong di tengah. Gedung bertingkat enam itu memang unik. Gedung modern yang juga dilengkapi lift meski sudah ada tangga terpilinnya.

Belum banyak pagi itu orang-orang yang beraktifitas. Ia mencoba tenang. Jam pertama telah ia lewati di luar. Jam ke dua telah berjalan… ia semakin tidak tenang. Akhirnya ia ke toilet untuk membasuh wajahnya yang tegang.

Begitu ia selesai dari toilet dan keluar. Ia mendapati di ujung pintu masuk gedung, laki-laki itu sedang bersama seorang wanita turun dari mobil kijang. Dan yang membuatnya tercengang, mereka berdua sangat lekat. Selebih itu, wanita itu sedang hamil. Mata Intan terbelalak. Mungkin ini yang menjadi alasan Sandy merobek nadi tangannya sendiri. Intan sangat geram. Ditunggunya sesaat sambil mengepalkan tangannya.

Wanita itu memberika tas laptop yang dijinjingnya dari dalam. Dan mencium tangan laki-laki itu. setelah itu melambai ke arah laki-laki itu. Dan menghilang masuk ke dalam mobil lagi dan pergi meninggalkan gedung.

Sekarang laki-laki itu menuju ke dalam gedung. dengan serta merta ia mendatangi laki-laki yang ia tunggu berjam-jam itu, dan …

Plak plak!!! Ditamparnya laki-laki itu. Suara tamparan itu menggema ke seluruh ruangan.

“ Kurang ajar!!! Kamu tahu sekarang Sandy di rumah sakit. Aku tahu kalau ini yang telah menjadi sebab ia mau bunuh diri. Laki-laki macam apa kamu ini! ha?!”. Suara Intan menggema, dan orang-orang disekitar ruangan melongok ke mereka berdua.

Laki-laki itu mematung. Tangannya menahan sakit hasil tamparan dimukanya. Setelah manarik nafas panjang ia berkata.
“ Siapa kamu? Apa urusanmu denganku?”. Laki-laki itu menjawab tenang namun sedikit marah yang terpancar dari mata tajamnya.

“ Kau memang nggak ada urusannya denganku. Tapi Sandy adalah teman baikkku. Kau harus bertanggung jawab atas keadaannya”. Intan lantang dan semakin garang.

“ Sandy??? Siapa dia???”. Tanya laki-laki itu bingung.
Tangan Intan berayun akan menampar laki-laki itu lagi. Akan tetapi kali ini ditahan oleh laki-laki itu dan ia tidak dapat berkutik.
“ Satpam!!!”. Teriak laki-laki itu.
Segera dua satpam yang tadinya hanya bengong, kini segera menuruti panggilan laki-laki itu.
“ Bawa dia keluar. Dasar gadis sinting!!”. Jawab laki-laki itu.
“ Baik pak.” Jawab salah seorang.
“ Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab!!! Siapa wanita tadi?! Hah!”. Intan masih memberontak. Namun tidak juga lepas. Satpam kini yang mengambil alih pengamanan.

Setelah manarik nafas tenang, laki-laki itu menjawab.
“ Wanita tadi adalah istriku. Dan aku sangat mencintainya. Aku tidak faham apa maksudmu, orang gila!”. Jawab laki-laki itu mengejek.

Tangan Intan kini terkunci dibelakang punggungnya sendiri. Ia mencoba memberontak, namun dua orang satpam membuatnya tak berkutik, dia diseret dari ruangan dan dibawa keluar gedung. Segala sumpah serapah keluar dari mulutnya dan menggema di ruangan. Yang lama-lama suara itu menjauh dan menghilang.

Dan orang-orang dapat beraktifitas lagi setelah mematung melihat adegan barusan. Begitu juga dengan laki-laki itu. Namun ada beberapa pertanyaan dikepalanya yang tidak terjawab.

Laki-laki itu mencoba tenang. Mengambil nafas dan merapikan kemejanya. Menuju lift dan dipejetnya tombol naik. Ke lantai empat.

Sesampai di ruangannya, Ia berujar pada sekertarisnya.
“ Makasih ya. Berkat bantuanmu, sekarang aku sudah berdamai lagi dengan istriku”. Ujar laki-laki itu pada sekertarisnya.

Kehormatan bagi gadis berkaca mata itu untuk pertama kalinya disapa setelah dua minggu bekerja dikantor itu oleh bosnya yang dingin
“ Hm… apa hubunganya dengan saya?” tanya seketarisnya ragu
“ Bingkisan yang juga ku titipkan padamu itu. di dalamnya ada surat permintaan maafku. Bahwa aku tidak jadi menceraikannya” Jelas laki-laki itu.
“ Apa hubungannya dengan istri anda?” Tanya sekertaris itu bingung.
“ Coklat, es krim, bunga-bunga itu, dan buku-buku roman itu.” Jawab laki-laki itu.
“ Maaf pak. Kartunya memang tanpa nama. Tapi saya tidak pernah bilang kalau itu dari istri anda”. Sekertaris itu juga sedikit bingung.
Tiba-tiba saja laki-laki itu terpaku.

“ Jadi… siapa?”
“ Entah. Tapi dia selalu berada ditaman depan tiap pagi. Menunggu saya, dan menitipkan bingkisan-bingkisan itu untuk anda.”
Laki-laki itu terbengong.

Ia membuka kembali kartu-kartu yang menyertai bingkisan-bingkisan itu dari laci mejanya. Semuanya berwarna mera mudah. Dihitungnya kartu-kartu itu. satu, dua, tiga… ada 10 kartu. Berarti sudah ada 10 bingkisan yang pernah ia terima dari orang itu. Setiap pagi di hari kerja. Tapi, orang itu bukanlah istrinya.

“ Apa hari ini ada?”. Tanya laki-laki itu pada sekertarisnya.
“ Hari ini tidak ada”. Jawab sekertaris itu.
Laki-laki itu terpaku. Ia buka kembali kartu-kartu itu. Kartu cantik merah muda itu semua bertuliskan rangkaian kalimat yang sama.

I LOVE YOU
Semua sama.
Ia hanya bisa menggelengkan kepala.
Siapa dia???

***

“ Lepaskan aku!!! Ada apa ini? hey!!!” jerit Sandy dari kamarnya.
Sedangkan Intan hanya meneteskan air mata dibalik jendela. Melihat sahabatnya terjerat diatas tempat tidur dengan tali-tali yang menahan tangan dan kaki. Juga luka ditangan kiri yang belum kering. Luka yang hampir menghabiskan seluruh penghidupan Sandy.

“ Hey bodoh!!! Hugh. Lepaskan aku!!!”. Jerit Sandy lagi pada perwat-perawat yang menahannya.
“ Intan!!! Tolong aku…!!! Apakah kau tidak mau menolongku??! “.
Intan hanya menggeleng. Air matanya semakin deras
“ Maafkan aku Sandy.. “. Gumamnya lirih.

Dan diruangan itu…
“ Intan, katakan padanya untuk menyelamatkanku dari sini!!!”
Intan masih mendengar Sandy meminta tolong.
“ Lepaskan!!!”. Kali ini Sandy mengerang.

“ Aku yakin dia pasti segera datang menyelamatkanku dari orang-orang aneh ini. Dia juga pasti akan segera menceraikan istrinya yang kurang ajar itu dan datang kembali padaku!!!”. Sandy masih berbicara dengan Intan.

“ Intan!!! “.
Intan masih mendengar temannya itu memanggil namanya.
Dan juga kata-kata yang lain, yang lama kelamaan hilang di kejauhan dengan lirih yang sakit setelah dimasukkan dalam tubuh Sandy cairan penenang.

Ada sesak yang terasa di dada Intan. Mengapa ini harus terjadi pada Sandy, gadis ayu itu.
***
3 TAHUN KEMUDIAN…

“ Pak, permisi. Ada bingkisan untuk bapak”.
Sekertaris laki-laki itu menyerahkan rangkaian mawar ke meja bosnya.
“ Dari siapa?”. Tanya laki-laki itu dari balik laptopnya.
“ Tanpa nama”. Jawab sang sekertaris.
“ Hm.”. Laki-laki itu hanya mengangguk.

Dilihatnya rangkaian mawar itu. Sedikit bingung. Lalu Ia ambil rangkaian bunga itu dan dilihatnya ada kartu yang menggantung di salah satu tangkai. Warna merah muda. Kartu yang cantik, pikirnya. Diambilnya kartu itu. Dejavu?? Tidak, hanya saja ini tidak asing.

Wajahnya sedikit mengkerut. Dibukanya kartu cantik itu. Didapatinya juga kalimat yang tidak asing.

I LOVE YOU


Sandy. Gadis ayu itu.

He loves me, he loves me not.

5 comments:

  1. gaya penulisan yang cantik. dimulai dari penjelasan yang monoton, alias kat-kata "adalah" yang terus menggurui (kata-kata yang paling dihidari sastrawan kecuali penulis baru bernama Andrea Hirata) namun kemudian mengemasnya dengan cantik. episode-episode yang tentunya dengan mudah mengalahkan tulisan sampahku. ah, ternyata masih banyak tulisan-tulisan yang lebih baik dalam dunia yang sangat luas ini ya. kemudian, dalam proses penulisan yang berliku ini. aku menegaskan bahwa tidak ada salahnya untuk terus bertarung bukan. he he

    oke kembali kepada permasalahan yang di angkat, wah, beruntung sekali orang yang dicintai Sandy. tentunya cinta tidak mengenal batasan sehingga menggilakan seseorang dengan mudahnya bukan? yah, namun bagaimanapun juga tetap saja cinta tak mudah terhanyutkan. Kupikir lelaki itu mencintai Sandy apa adanya.

    us.

    ReplyDelete
  2. kegalauan yang dalam dari seorang yang jatuh cinta. Sandy, ehm... susah untuk dinyatakan. tapi sepakat dengan Anonymous said... us. he he he

    tulisan serius. kelihatannya lebih bagus dari yang prisma bening. mulai tertata. Eh siape tuh us. kok komentnya menarik. Hei us. kunjungi blogku juge ye... he he

    ReplyDelete
  3. us.

    umar syahafif. salam kenal ya sahlafif.

    ReplyDelete
  4. Hm.. Dong g klo laki2 itu knl sandy aja g? Kyny patah critanya

    ReplyDelete
  5. air menuju laut dengan sendirinya kan. apakah air dari awan mengenal laut ketika jatuhnya? Mm tak tahulah aku

    us.

    ReplyDelete