Wednesday, December 10, 2008

THANK YOU, FOR LOVING ME…

Begitulah aku ikut menendangkan lagu Bonjovi ini. Haha… tidak. Hanya saja ini adalah lagu yang sangat romantis menurutku. Bukan, bukan karena liriknya, tapi karena musiknya. Slow… . Minimal bisa membawakan romantisku. Cie… aku juga bisa romatis lho. Gubrax!!

Mengapa harus begini judulnya. Yah.. aku mengucapkan terima kasih. Pada siapapun yang telah mencintaiku, yang telah memberikan warna-warni dalam hidupku, saudara saudariku, sahabatku, teman-temanku, all of you… Hanya terima kasih yang mampu aku ucapkan. Kau ingin taku ke-Aku anku. Ah.. alangkah angkuhnya diri ini.

Untukmu yang telah membangun rumah jiwaku
Thank you…

MALAM ITU
Bsk ad pmbhsn susdukor. Klo bs dtg y.
Bahasa sms yang datar. Benar saja. Tapi tidak seperti ini biasanya. Setelah aku mengecewakan beberapa orang dalam hidup ini, pun dengan orang yang bisa menyadarkanku tentang sebuah ke-terusterangan juga telah kecewa. Biasa dia menyapaku dengna mb’, tapi tidak kali ini.

Maaf, g bs dtg
Aku tidak menyapanya dengan kata-kata dek kali ini, karena aku sedang kehilangan kasih sayangnya.

Tahu g klo mb Ima kmrn milad?

Aku tersenyum kecut. aku memang tidak tahu!! tidak pernah perhatian. Setelah beberapa kegagalan dalam menjalin sebuah persahabatan, aku merasa ketakutan ketika mendatangi jiwa-jiwa yang lain. Maka aku hanya mampu menyentuh raganya, membuatnya tersenyum, menolong ketika ada. Tetapi, untuk menyentuh jiwanya…. ???

Maaf klo g perhatian.
Message sent!

Ada sesak yang biasa ku rasa. Ini adalah yang kesekian kalinya. Setelah aku menguji nilai persaudaraan seorang sahabat dengan tidak mengucapkan “met milad”. Sebuah kesalahan kah? Jelas! Tapi kali ini, kebiasaanku itu telah membuatku terbiasa untuk tidak ingin tahu lebih jauh siapa orang yang dekat denganku. Hingga orang-orang yang masih tetap bertahan denganku adalah orang-orang hebat! Orang-orang yang sangat hebat. Selamat ya…. !!!
Hahaha…

Thank you, for loving me…
Banyak raga yang telah ku peluk, ku tenangkan dengan mengelus pundaknya, juga jiwanya. Namun ku lepas kembali. Perlahan… karena aku takut. Yah… tepatnya aku takut. Melukainya lagi…

DIA…
Ka, gmn kbrnya. Kangen nih. Hehe
Message sent.
Kerinduan yang aku ungkap. Sangat gamblang. Setelah sekian lama tak jumpa. Aku memang sangat merindunya. Baginya, kata-kata ini adalah kata-kata tabu untuk diucapkan. Ungkapkan saja dengan kasih sayang. Tidak! Bagiku ini harus disampaikan!

Km sdh maafkan aku kah?
Sms yang ku kirim untuk hal yang tidak perlu penjelasan. Memang tidak ada yang dijelaskan. Karena memang tidak ada apa-apa. Aku, hanya menginginkan dia memaafkanku. Haha.. gila memang. Aku hanya ingin dimaafkan!

Membuat kami seperti kakak adik. Selalu bersama dalam banyak acara. Bookfair, belanja bulanan, cari makan malam. Wajahnya yang imut, dan memang lebih tepat dia sebagai adiknya. Haha… dan aku kakaknya. Tapi aku memanggilnya ka’, suku kata terakhir dari nama depannya. Ka’, saudariku.

Kosnya yang dekat menguntungkanku. Kita bisa saling berkunjung kapanpun kita mau.
Dia yang mengajarkan banyak hal. Haha.. dialah yang mengenalkan dunia padaku. Dunia luar yang tidak pernah ku sentuh. Karena yang aku tahu hanyalah buku dengan banyak rumus. Dan rumus-rumus itulah yang telah mengantarkanku sampai ke UGM. Sampai di Yogyakarta. Cacing-cacing itu…. Hihihi.

Darinya aku tahu buku-buku novel terkenal, cerita orang-orang sukses, dunia psikologi, ah! Apa saja aku tahu darinya. Dia yang faham akan kedunguanku, dia juga yang menertawai dan dia juga yang mau menjelaskan. Tidak menghinaku terus menerus, dan dia ingin aku tahu semuanya. Terima kasih….
G ad yg prl dimaafkn.

Diantara kami memang tidak ada permulaan, maka tidak perlu ada penyelesaian. Tidak ada kesalahan, maka tidak ada yang perlu dimaafkan. Katanya….

Hanya saja….
Ke-egoisan kami! Sama-sama keras kepala. Haha.. karena begitulah kami. Kami seperti pinang dibelah dua. Dia adalah cerminku. Bagiku, begitu….

Aku sangat sayang padanya, melebihi diriku sendiri. Sungguh. Dia sangat menghargai kebodohanku, dia yang juga yang mampu memahamkanku banyak hal. Sedang aku, aku hanya mau menjadi orang dekatnya. Yang hanya menolongnya dimana ia butuh, hanya ingin mendengar segala cerita senang susahnya, juga mengajaknya tertawa bersama dengan segala lelucon baru.

NADA YANG SAMA…
Dirmawa mw ketemu. Bs jm brp?
Nada yang sama. Padahal waktu telah melangkahkan fajar, juga matahari yang berbeda. Tapi, nada yang sama. Datar….

Haha.. aku biasa dengan suasana sepi. Maka sebuah kebahagiaan ketika bisa merasakan segala euforia yang lewat. Bahagia sekali….

Mb baru bs jm 11.
Message sent!
Ok. Ktemu di KM jm 11.
End.

Berarti 1 jam lagi. Perjalanan 20 menit. Berarti harus sudah siap dalam waktu 40 menit. Belum dengan Umair yang rewel dan waktu yang dihabiskan untuk memanaskannya.
Anak ini yang mengajarkanku integritas seorang aktivis.

Message delivered
Sodara/i yg kucintai krn Alloh, gmn progresnya? Tolg smskan mana aja yg udah dan mana aj yg blm, ditunggu skrg jg…
Ah… integritas yang luar biasa bukan?! Dia yang megajarkanku begitu….
Thank you, for loving me…

SELAMA INI….
Bertahan sendiri, sedih sendiri, sakit sendiri, cinta sendiri. Dengan segala keluh kesah dan sumpah serapah yang meninjijikkan. Huff… udah pernah ku bilang.

Hitam disegala pejuru. Diatas hitam, di bawah hitam. Di kanan, dikiri. Pun aku hanya bisa melukis hitam. Maaf, karena aku hanya punya hitam…
Hanya saja…

Kali ini aku sedang membangun prisma yang bening. Bening yang memancar pelangi… ah, diriku…
Egois lagi. Hahaha…

***
Bahkan seseorang hari itu telah menyadarkanku sampai pada alam bawah sadar dengan frekuensi terendah, memang inilah diriku.
Aku tahu klo aku selalu kalah.
Kau yang membangunkanku….
Dia, juga orang yang sempat menemaniku sejenak dengan segala sepi. Yang mampu menembus dimensi dan membuat mozaik-mozaik baru. Menghampirkan euforia. Dan juga yang telah meninggalkan asa sendiri. Asa sendiri…

***
“ Hahaha… betul miu, pura-pura tegar didepan orang lain. Lemah lembut, selalu ceria, padahal….. “.

Saudariku yang satu ini mendetailkan siapa diriku sebenarnya. Rapuh, menunggu runtuh. Gemuruh. Ckckck… jangan percaya bagi siapapun yang belum mengenalku. Hihi… tapi Saudariku yagn satu ini jauh lebih memahami diriku yang sungguh lapuk ini. dia termasuk orang yang masih bertahan untuk tetap bersamaku. Orang-orang hebat yang juga ku maksud!

Sampai menunggu ia untuk dijemput teman hidupnya. Setelah itu, aku sendiri lagi…
Ah.. katanya sedang membangun prisma …

Dengarkan…
Where’re you go? I miss you so…
Giliran lagu ini yang berdendang.
Thank you, for loving me… my sist…

***

Bukan, bukan egois karena ini terus terusan tentangku. Ku menulisnya karena aku hanya ingin mengubah sebuah alur hidup diriku. Kasihan sekali….

Tapi, aku adalah orang yang sudah cukup dengan diri sendiri. Karena tiap hari aku semakin kehilangan diriku di terpa angin dan terbang bersama layang bayang yang tercipta cahaya siang matahari dan lupa malam harinya.

Aku tidak butuh orang lain, dengan segala keegoisanku. Aku tidak butuh komentar orang lain. Pun aku masih bisa bekerja dengan segala proyek dan agenda hidupku tidak untukku. Aku sudah cukup jemu dengan diriku.

Aku hanya ingin mewarisi jiwanya.
Jiwa yang kurindu selalu….
Selalu ku rindu…

SORE ITU!!!
Wah… serunya. Aku baru saja bersama Irma, silaturahim lagi di lokasi KKN. Setelah Ramadhan belum kesana lagi. Dan sekarang…. Kami pulang dengan banyak oleh-oleh. Ku beri tahu ya isinya. Mangga, kacang tanah, dan pete. Hoho… pete! Buat Irma aja ah! Hahaha….

Bukan ini inti ceritanya. Tapi aku sudah menjanjikan untuk melepas kepergian seorang saudara yang juga telah mewarnai kanvas hidupku. Dengan apa yang telah dia sumbangkan, pemikiran aneh dan juga riwayat hidupnya.

Keretanya berangkat jam 16.30 WIB dari stasiun lempuyangan. Kata Arif. Nama yang tepat bukan bagi seorang yang sangat arif?! Tapi yang ku tahu kereta berangkan 16.55 WIB. Haha, dia hanya ingin ngobrol sejenak mungkin. Teman yang pernah dua kali seperjalanan ini memang sangat menyenangkan.
Seperti biasanya dia naik kereta ekonomi. Tapi kali ini adalah kepulanganya dengan menyimpan sejenak cita-citanya.

***
“ ane tidak ingin menyumbang secara terang-terang di Hizb. Hanya saja pengen jadi orang dibalik layar.”. ah.. tuturnya mengalir begitu saja. Atau mungkin karena dia sudah bosan? Dengan selama ini bekerja di Hizb kampus? Oh. Dia bukan orang yang seperti itu.

“ ane pengen ngajar.”. Sederhana. Masih dengan cita-cita yang sama, yang juga pernah diungkapkannya jauh-jauh hari.
“ Dosen”. Lugas. Elegant. Cerdas.

Aku hanya tersenyum mengangguk. Semoga kau dimudahkan… Gumamku saat itu.. saat perjalanan kami kembali ke Yogyakarta bersama.

***
Hujan besar tiba-tiba mengiringi perjalananku dari Gunung Kidul. Banjir disana sini. Untungnya aku g bawa si Umair, setelah tuker pake dengan temen asrama. Motor ini bisa menerjang bajir dengan kedalaman 15 cm-an. Hebat ya. Ya iya lah.. cie.. klo Umair, bisa mogok dijalan. Hahaha…. Irma yang bingung. Bukan! Aku juga bingung lah!!

Dan.. janjiku untuk melepas kepulangan Arif harus aku tepati. Apapun yang terjadi. Sesampai di asrama dan setelah mengantar Irma ke kosnya, aku langsng bersiap diri.

“ Ca, yux segera. Jadi kan kita ke lempuyangan?”. Aku mengingatkan Eca. Melepas orang yang telah mendidiknya juga selama di kampus.

“ hm… masih hujan besar mb”. Sambil melongok ke keluar kamar.
Iya sih. Hujan besar banget. Aku mengurungkan sejenak niatku. Sekarang mendekati jam setengah 5 kurang 10 menit.

“ Yux ah!!! Tar ketinggalan”. Aku pun bersegera. Terserah Eca mau jadi ikut atau g. Pun harus bermandi hujan, aku hanya ingin menguvapkan terimakasih...

***
Jalan dijogja jelas licin selama diguyur hujan. Masih begitu deras. Tapi ini tidak menghalangiku untuk terus melajukan motor dengan kecepatan maksimal. Si Eca diem aja. Haha.. mungkin dia takut. G juga. Dia jago ngebut juga kok.

Shiyung…. Aku melesat diantara dua kijang yang kinclong. Weitzz.. everything is ok. Alloh tahu hambanya berusaha. Didepan ku lihat detikan lampu merah masih berhitung mundur. 10, 9, 8…. Aku masuk jalur kiri dan melambatkannya sejenak dan 3, 2… shyiung…. Aku melesar mengambil posisi nomor satu di F1 ini. hoho.. bukan bukan…

Terus ku laju dan terus ku laju. Polisi tidur ku terjang tanpa mengurangin kecepatan, mungkin yang kager Eca. Dug dug dug, sedikit mengganggu memang.
Dan huff,…. Lalu lintas masih padat. Ku keluarkan keahlianku. Lebih-lebih kijang-kijang yang mengkilap-kilap itu, VVTI - pun ku say hellow.. maaf ya. Duluan… taxi-taxi, apa lagi pengendara motor yagn lain. Shiyung…

Semakin dekat dengan lempuyangan. Terdengar dari jarak 20 meter. Ti.. nut.. ti.. nut… ti.. nut… hoho. Plang kereta api sebelah timur ditutup. G bisa lewat! Harus nunggu. G mungkin! Aku putar arah untuk ambil arah barat. Dan shiyung…..

Aku merentas pemandangan hijau pohon-pohon sepanjangan jalan dan aku menjadi tidak peduli dengan segala apa yang ada di depan mata. Dia, saudaraku itu…. Shiyung… tangan kananku telah merasakan full press!

Aku telah masuk jalur barat. Dan ti.. nut.. ti.. nut… jekejekejekejek…
Kereta itu…
Cshit…. Ku rem motor tepat di plang jalan kereta. Dan….
“ Mb, ini kan progo! Berarti mas arif di dalem”. Eca.
Didalem?
Ku longok pandanganku pada tiap gerobong yang bersambung-sambung itu. Mungkin aku masih menemukannya.
Tapi…. Sampai gerobong terakhir aku tidak juga menemukannya. Bahkan hanya untuk mengucapkan terima kasih…

Thank you… than you, for loving me…. Bersenandung lagi si Bonjovi di headset ku. Hahaha….

For all of u…
Thank you.. for loving me…

3 comments:

  1. uahmmm.... zzzz

    wuah baguuuss. strata kata-kata yang tertata rapi, baris-baris kalimat yang ditata rapi, pencurahan perhatian pada makna, salut-salut atas lahirnya tulisan ini. okey.. see you at next 'tulisan'. sebab tulisan tak pernah boong (yang boong yang nulis kalee)

    us.

    ReplyDelete
  2. hm...
    nuhun...
    aku sedang mencari kunci bagaimana sastrawan dari tanah minang menulis. banyak sekali penulis hebat dari sana. tidak spesifik dari minang. tapi andrea, dia juga dari sumatra. helvie, aku suka sekali. asma nadia yang disukai banyak remaja. aku blm bisa menemukan key-nya.

    tulisan selanjutnya... sementara tidak bisa menjadi tokoh figuran alias tidak ada tokoh "aku". karena dalam kenyataana aku hanya menjadi tokoh saksi dalam sudut pandangku sendiri. tidak lebih.

    klo masalah jujur... percakapan yang g shahih. jelas, emang Rosululloh yang detail katanya di hafal sahabat? g kan? aku suka ajah! hehe.

    belum apa-apa. masih ada cita2 yang lain.

    ReplyDelete
  3. kunci bagi seorang Helvie Tiana Rosa, adiknya, andrea dan segenap penulis handal lainnya bukan pada teknik apalagi tanah kelahiran. ada banyak hal yang dapat menjadikan tulisan itu hidup dan bernafas, bahkan memberikan motifasi atau pukulan paling telak alam kehidupan. ia adalah pengalaman batin pengalamnya. penulisnya. jika engkau menghilangkan sudut pandang seorang aku dalam tulisanmu, maka dapatilah bahwa tulisanmu akan bercerita lebih lincah. why? karena sudut pandang yang tercipta begitu banyak, bersusun, cantik, dan menawan. inilah alasan mengapa banyak penulis mencurahkan banyak awaktu dalam kehidupannya untuk mengalahkan diri atau menyerah sepenuhnya pada dirinya. totalitas, ini kunci utama penulis besar. dan kalau engkau tahu, butuh waktu paling tidak 3 tahun membangun skill menulis 5 tahun menghasilkan karya biasa-biasa saja, dan 10 tahun menciptakan sejarah. untuk ukuran ini, mungkin salim a fillah dengan kematangan tulisan awalnya (1 SMA sampai smster 4) sekitar 4 tahun marupakan proses penulisan awal saja. 10 tahun kemudianlah karyanya benar-benar akan dikenang. itupun kalau mereka mau terus berproses. okey, keep fighting. I wait your handwriting..

    us.

    ReplyDelete