hands of attien...
wajahnya teduh dengan segala bentuk dedikasi
assessor sang guru
ah..
andaikan aku bisa begitu
bolehkah aku bicara?
persamaan yang manakah yang menyatakan bahwa kami adalah produk pasaran
ketika pendidikan menjadi lahan ekonomi
ketika matematika tak lagi mendapati nilai optimum keuntungan
para calon akuntan yang selalu menghitung hutang
dan sastrawan yang tertawan
bolehkah lagi aku bicara?
tentang tetanggaku yang mengaggur selepas SMA
katanya, " ah, biar aku jadi TKI saja"
kemudian adiknya bilang, " aku ikut ya kak..?"
lagi ya aku bicara...
bagaimana membuat garis lurus antara pangan dalam negeri yang berbanding lurus dengan jumlah sarjana
para diploma pun gigit jari
sedang master dan doktor terlalu jauh untuk kami lampaui
pak guru...
jangan sendu
aku tahu
pun begitu
kau adalah buruh
meski sepuh
pengorbananmu seluruh
meski tameng pendidikan negerimu cemburu di hantar partai-partai peserta pemilu
lalu kau semakin sendu
murid-muridku pasti 'kan tersedu-sedu
Tuesday, June 30, 2009
Monday, June 29, 2009
bocah
hands of attien...
sambil berlari
anak itu berceloteh tentang ibunya yang garang
yang membuatkanya gamang masa depan
siang jadi abu
abu di tebar jadi debu
debu-debu yang melekat pada pipi-pipi penunggang kuda bermesin dikota
anak itu masih saja
berlari dan berkejaran dengan debu yang abu-abu
nafasnya tidak teratur bersama denyut jantungnya
menggantung di dada yang tak kan pernah busung
dibalap perutnya yang busung
masih berlari
ia mengumpat sejadi-jadi bapaknya
yang tak pernah ia tahu
-siapa kamu-
-cih!!-
masih berlari ia meludah kekiri
lalu berceloteh dan mengumpat lagi
pada pengguna jalan raya
pada pengguna trotoar kota
pada pengemudi mobil-mobil mengkilap
sedang ia tidak pernah kelelahan
dan ia masih terus berceloteh dan mengumpat
kapan aku menjadi manusia jagad
berdasi dan main loby bersama pejabat
sambil berlari
anak itu berceloteh tentang ibunya yang garang
yang membuatkanya gamang masa depan
siang jadi abu
abu di tebar jadi debu
debu-debu yang melekat pada pipi-pipi penunggang kuda bermesin dikota
anak itu masih saja
berlari dan berkejaran dengan debu yang abu-abu
nafasnya tidak teratur bersama denyut jantungnya
menggantung di dada yang tak kan pernah busung
dibalap perutnya yang busung
masih berlari
ia mengumpat sejadi-jadi bapaknya
yang tak pernah ia tahu
-siapa kamu-
-cih!!-
masih berlari ia meludah kekiri
lalu berceloteh dan mengumpat lagi
pada pengguna jalan raya
pada pengguna trotoar kota
pada pengemudi mobil-mobil mengkilap
sedang ia tidak pernah kelelahan
dan ia masih terus berceloteh dan mengumpat
kapan aku menjadi manusia jagad
berdasi dan main loby bersama pejabat
Saturday, June 27, 2009
cemburu
hands of attien...
sajak-sajak
menari-nari
di tuts tuts keyboardku
yang cemburu pada Chairil Anwar
ah
malu
baru bisa bicara tentang aku
sajak-sajak
bersolek
di layar monitorku
yang cemburu
pada Sutarji Calzoum Bahri
ah
ada saja
kesederhanaan yang kaya membahana
sajak-sajak
berpose
di buku-buku lusuhku
yang cemburu
pada Taufik Ismail
ah
yang benar saja
ia menyajikan layar patah-patah dalam 26 abjad
kilas sejarah yang dimusiumkan oleh kekacauan
sajak-sajak
menyanyi
aduhai...
klip klip ditiap sisi jalan dan kota-kota menjadi keangkuhan di sombongnya dunia
yang cemburu
pada tiap lirik Supaji Djoko Damono
huh!
peluh sudah aku
lelah sangat
telah mengembara
segala tentang mereka
yang ada
cemburu sajakku
menari dan bernyanyi sendiri
dalam gelap dan sunyi
mati!
sajak-sajak
menari-nari
di tuts tuts keyboardku
yang cemburu pada Chairil Anwar
ah
malu
baru bisa bicara tentang aku
sajak-sajak
bersolek
di layar monitorku
yang cemburu
pada Sutarji Calzoum Bahri
ah
ada saja
kesederhanaan yang kaya membahana
sajak-sajak
berpose
di buku-buku lusuhku
yang cemburu
pada Taufik Ismail
ah
yang benar saja
ia menyajikan layar patah-patah dalam 26 abjad
kilas sejarah yang dimusiumkan oleh kekacauan
sajak-sajak
menyanyi
aduhai...
klip klip ditiap sisi jalan dan kota-kota menjadi keangkuhan di sombongnya dunia
yang cemburu
pada tiap lirik Supaji Djoko Damono
huh!
peluh sudah aku
lelah sangat
telah mengembara
segala tentang mereka
yang ada
cemburu sajakku
menari dan bernyanyi sendiri
dalam gelap dan sunyi
mati!
Monday, June 22, 2009
kamu
hands of attien...
menemukanmu
selarik do'a-do'a ku lantunkan untuk meneguhkan sujud dan syukur
menjelang fajar di pertiga malam yang semakin kukuh
lalu panji-panji hati dikibarkan
bahwa kita telah memenangkan cinta di medan tanpa logika ini
denganmu
teduhnya jiwa tak kan kugadaikan dengan apapun
satu asa yang menjelma bersama satuan diorama sajak-sajak rindu
yang hanya bertemu dalam frekuensi dan amplitudo gelombang udara
setidaknya
kini ada
dihatiku
untuk bahagia bersama
dan terus cinta
menemukanmu
selarik do'a-do'a ku lantunkan untuk meneguhkan sujud dan syukur
menjelang fajar di pertiga malam yang semakin kukuh
lalu panji-panji hati dikibarkan
bahwa kita telah memenangkan cinta di medan tanpa logika ini
denganmu
teduhnya jiwa tak kan kugadaikan dengan apapun
satu asa yang menjelma bersama satuan diorama sajak-sajak rindu
yang hanya bertemu dalam frekuensi dan amplitudo gelombang udara
setidaknya
kini ada
dihatiku
untuk bahagia bersama
dan terus cinta
re-soneta
hands of attien...
untuk raga;
sungguhkah bilah jiddal tempo hari membekas luka?
yang mana?
aku melihatmu mengayuh mimpi yang warna-warninya bukan milikmu
aku melihatmu merajuk pelangi dan bintang yang tak kan pernah jadi satu
aku melihatmu mencatat sejarah yang itu sebenarnya bukan milikmu
aku melihatmu terkapar di hamparan taman terindah yang aku tahu
lalu keesokannya kau menjadi jagoan di galeri yang kau ciptakan sendiri
sepertinya lukamu adalah sayatan dari bilah pedang yang kau keluarkan lalu kau tancapkan sendiri karena kau memilih untuk demikian dari pada berpose luka dipentas yang aku adalah penggemar setia
penggemar yang selalu bertepuk tangan dan bahagia
sedang aku kini akan terus menunggu pentas selanjutnya
yang kiranya akan terus berjaya
menunggu episode mana lagi yang akan kau tampilkan dengan penuh rasa
wahai jiwa yang utuh...
untuk raga;
sungguhkah bilah jiddal tempo hari membekas luka?
yang mana?
aku melihatmu mengayuh mimpi yang warna-warninya bukan milikmu
aku melihatmu merajuk pelangi dan bintang yang tak kan pernah jadi satu
aku melihatmu mencatat sejarah yang itu sebenarnya bukan milikmu
aku melihatmu terkapar di hamparan taman terindah yang aku tahu
lalu keesokannya kau menjadi jagoan di galeri yang kau ciptakan sendiri
sepertinya lukamu adalah sayatan dari bilah pedang yang kau keluarkan lalu kau tancapkan sendiri karena kau memilih untuk demikian dari pada berpose luka dipentas yang aku adalah penggemar setia
penggemar yang selalu bertepuk tangan dan bahagia
sedang aku kini akan terus menunggu pentas selanjutnya
yang kiranya akan terus berjaya
menunggu episode mana lagi yang akan kau tampilkan dengan penuh rasa
wahai jiwa yang utuh...
Saturday, June 20, 2009
hands of attien...
malam dan malam terus menghantui dalam hitam
burung gagak, bulan, bintang
mengejekku dikesendirian yang bahagia
aih...
aku malu
pada rindu yang aku takut jadi abu
bermain2 rasa yang coba ku sembunyikan dalam kalbu
ah kamu,
geliat yang diam-diam ini lama2 jadi hantu
lalu aku pura-pura dungu
tapi tetap saja aku rindu
malam dan malam terus menghantui dalam hitam
burung gagak, bulan, bintang
mengejekku dikesendirian yang bahagia
aih...
aku malu
pada rindu yang aku takut jadi abu
bermain2 rasa yang coba ku sembunyikan dalam kalbu
ah kamu,
geliat yang diam-diam ini lama2 jadi hantu
lalu aku pura-pura dungu
tapi tetap saja aku rindu
Wednesday, June 17, 2009
melati
hands of attien...
melati
wangi suci
entah
sejak itu
aku menjadi kukuh
menjadikanku takut untuk berhutang udara di tiap detik
berhutang cinta setiap hari
berhutang rindu ditiap inci hati
oh, ku pecah tabungan rasa
lalu kukumpulkan dan ku beli segenggam bara
ku bungkus dengan kado terindah
padahal entah kapan kau pulang
jam dinding masih terus mengejek kita
ah, biarkan apa maunya
karena kita telah bersekutu dengan matahari dan bulan
lalu aku masih bertanya
kapan?
kau bawakan lagi untukku melati
melati
wangi suci
entah
sejak itu
aku menjadi kukuh
menjadikanku takut untuk berhutang udara di tiap detik
berhutang cinta setiap hari
berhutang rindu ditiap inci hati
oh, ku pecah tabungan rasa
lalu kukumpulkan dan ku beli segenggam bara
ku bungkus dengan kado terindah
padahal entah kapan kau pulang
jam dinding masih terus mengejek kita
ah, biarkan apa maunya
karena kita telah bersekutu dengan matahari dan bulan
lalu aku masih bertanya
kapan?
kau bawakan lagi untukku melati
Tuesday, June 16, 2009
panggung
aku tidak ingin terpasung angkuh
memasang topeng dalam drama
menari-nari diatas panggung tanpa irama
aduhai
senar gitar, senar biola bungkam
dalam sepi aku terus berdendang
didepan kesunyian
lalu hitam datang
mengelabui panggung dengan tirai yang semakin sendu
sedang aku masih dengan topengku
dalam drama ku yang dungu
memasang topeng dalam drama
menari-nari diatas panggung tanpa irama
aduhai
senar gitar, senar biola bungkam
dalam sepi aku terus berdendang
didepan kesunyian
lalu hitam datang
mengelabui panggung dengan tirai yang semakin sendu
sedang aku masih dengan topengku
dalam drama ku yang dungu
Monday, June 15, 2009
hands of attien...
lama-lama bumi jadi berisik
lebih seru bersembunyi dibalik sendu
ah, tidak
rupanya sedikit demi sedikit harus terkikis meski semu
kenalkan aku pada malu
karena ilalang-ilalang yang terhampar lembut itu enggan beranjak
setia bersama para pujangga cinta
mendamaikan antara rindu dan sayang
kemudian nanti kau akan bawakan aku bunga
dari taman yang belum lama kau semai
dari hatimu yang subur
lama-lama bumi jadi berisik
lebih seru bersembunyi dibalik sendu
ah, tidak
rupanya sedikit demi sedikit harus terkikis meski semu
kenalkan aku pada malu
karena ilalang-ilalang yang terhampar lembut itu enggan beranjak
setia bersama para pujangga cinta
mendamaikan antara rindu dan sayang
kemudian nanti kau akan bawakan aku bunga
dari taman yang belum lama kau semai
dari hatimu yang subur
Wednesday, June 10, 2009
flash
hands of attien...
menghidupkan kembali nafas di kota jogja. menjadi segala keajaiban waktu dimana doa-doa yang selama ini dipanjatkann Alloh memberikannya dengan cara dan skenarionya yang begitu cantik. ada goresan luka, ada air mata, ada tawa, ada kelakar, ada duka, ada cinta, ada benci. sesekali perenungan seutuhnya ibarat flash dimensi waktu yang cepatnya mengalahkan boeing terhebat.
selanjutnya, menantang garis keras yang selama ini menjadi jeruji-jeruji kerdil. dulu ibarat baja yang tak tertembus putus asa. Alloh ya kariim... mungkin beginilah Alloh memberikan caranya untukku sekedar berhenti mengelabui diri.
waktu sekarang berpacu lagi. dekapannya lepas dan aku telah ditertawakan jarak. di pantai air-air biru itu masih mengikis pantai. tak jemu. di langit, masih lah biru sesekali waktu yang kini tergerai mendung..
penuh sabar dan kesyukuran. dua cahaya yang menari diubun-ubunku itu tidak akan pernah ku lepas. karena bahagia dan menderita maka kitalah sutradaranya. meski air mata yang selama ini menjadi tirai. namun ternyata,, dengan itulah rukuk dan sujud ini semakin kukuh.
menghidupkan kembali nafas di kota jogja. menjadi segala keajaiban waktu dimana doa-doa yang selama ini dipanjatkann Alloh memberikannya dengan cara dan skenarionya yang begitu cantik. ada goresan luka, ada air mata, ada tawa, ada kelakar, ada duka, ada cinta, ada benci. sesekali perenungan seutuhnya ibarat flash dimensi waktu yang cepatnya mengalahkan boeing terhebat.
selanjutnya, menantang garis keras yang selama ini menjadi jeruji-jeruji kerdil. dulu ibarat baja yang tak tertembus putus asa. Alloh ya kariim... mungkin beginilah Alloh memberikan caranya untukku sekedar berhenti mengelabui diri.
waktu sekarang berpacu lagi. dekapannya lepas dan aku telah ditertawakan jarak. di pantai air-air biru itu masih mengikis pantai. tak jemu. di langit, masih lah biru sesekali waktu yang kini tergerai mendung..
penuh sabar dan kesyukuran. dua cahaya yang menari diubun-ubunku itu tidak akan pernah ku lepas. karena bahagia dan menderita maka kitalah sutradaranya. meski air mata yang selama ini menjadi tirai. namun ternyata,, dengan itulah rukuk dan sujud ini semakin kukuh.
Sunday, June 7, 2009
hands of attien...
mendekapnya
menjadi lepas segala lelah
denganmu aku mecicipi cinta
bersama alam
aduhai
lambai-lambai rindu terus mengejek kita
diperbatasan kota
yang jauh
diteropong dimensi
kemudian riak-riak gelombang biru itu berkibar-kibar lagi dalam ingatan
yang katamu berkejaran dengan waktu
dan kini kita mengiringi mimpi
dengan mengibarkan segala panji-panji
mungkin disini
sementara hatiku berlabuh
masih menunggumu
menantang waktu
mendekapnya
menjadi lepas segala lelah
denganmu aku mecicipi cinta
bersama alam
aduhai
lambai-lambai rindu terus mengejek kita
diperbatasan kota
yang jauh
diteropong dimensi
kemudian riak-riak gelombang biru itu berkibar-kibar lagi dalam ingatan
yang katamu berkejaran dengan waktu
dan kini kita mengiringi mimpi
dengan mengibarkan segala panji-panji
mungkin disini
sementara hatiku berlabuh
masih menunggumu
menantang waktu
Subscribe to:
Comments (Atom)