Wednesday, March 10, 2010

hands of attien...

yang ingin aku kamukakan kali ini hanya syukur dan syukur. realita hidup yang sudah ku jalani beberapa waktu ini membuatku untuk membuka mata lebar2. bahwa mukjizat itu nyata, bahwa kasih sayang Alloh itu luar biasa, bahwa sesungguhnya Alloh lah yang cinta pada kita.

Wednesday, January 27, 2010

hujan

hans of attien...

mencium aromamu harum pasca teriknya matahari
kau datang berkelebat-kelebat
seperti pasukan kelelawar

kau selalu anggun
selalu ranum
selalu segar menghadirkan tawar

kau setia saat bahagiaku
dan denganmu saat itu menjadi anugerah
paginya mawar bermekaran
pipit-pipit bernyanyi
juga kupu-kupu kuning senang berdendang di halamanku

mengharapkanmu selalu ku akui selalu
biar sejuk dinding-diding hatiku
kau siram dan kau basuh
senang bergelimang setia

datanglah lagi kapan kau mau
aku selalu menunggu untuk kau ramu
dari segala jiwaku yang selalu haru
biar aku selalu besamamu

catatan kecil

hands of attien...

sedari dulu, memutuskan hubungan persahabatan adalah hal yang paling mengerikan buatku. ketika hal ini ku ceritakan pada suami, dia mengatakan "beruntung ya aku?!". bisa jadi. salah satu reaksi berlebihannya ketika aku sendiri yang berfikiran jauh ketika ada sedikit masalah yang juga asalnya dari otakku. dan jawaban darinya dengan enteng, "hoalah.... ". ia mengatakan " jangan kau pikir dalam-dalam... ".

berimajinasi, membuat dunia sendiri, termasuk memikirkan hal yang mungkin bagi orang lain tidak penting, masih menjadi kebiasaanku. hubungannya dengan persahabatan. mungkin memang janggal. tapi, ada.

entahlah. bahkan aku tidak rela kehilangan 1 diantara mereka. selalu ada yang spesial, selalu ada yang berbeda. dan itu berharga.

aku bersyukur telah menemukan seseorang yang baik. itu cukup bagiku. dia, bukan siapa-siapa. kali ini sebagai sahabat? ya. semoga ia akan abadi hingga akhirat kelak. dan sekarang aku tinggal berusaha untuk bagaimana menghadirkan rasa syukur itu selalu.

Monday, January 25, 2010

kekasihku tidak disini

hands of attien...

air mataku belum selesai bicara
hingga satu purnama telah tertahan dalam bantahan logika
rasa dan karsanya semakin haru
menembus malam di kesendirian

pelita dicari
dalam remang-remang
dalam segala keraguan

hulunya telah kering
telah habis bersama waktu
telah membatu bersama jiwa-jiwa yang beku
tergugu

aku lihat aku disana
di kengerian yang gelap
yang hitam
dengan pelitaku yang secuil
nampak seperti berlian yang berpendar

ku berharap perihku lirih
tawar bersama air yang deras
ikut mengalir ke muara-muara samudra kebebasan
larut bersama biru
riang bermain bersama riak-riak ditepian
padahal aku hanya lupa
kekasihku tidak disini

Friday, January 22, 2010

biru tak lagi biru

hans of attien...

batu-batu
juga kerikil bersama pasir yang menepi hendak di terjang gelombang yang biru
haru, bergemuruh bersama badai yang mengempis di tepian

itu dulu
sekarang, tidak lagi begitu

karang-karang telah menjadi jasad, telah rapuh
disaksikan nyiur yang tak lagi gemulai

bakau dan kawanan ikan adalah teman
muara-muara di diselatan pun ramai
kaki bocah-bocah meriakkan sisian
sambil berdendang

itu dulu
sekarang, tidak lagi begitu

biru tak lagi biru
damai tak lagi melerai
ingin aku berteriak
agar dipecah gemuruh ombaknya
namun mereka tidak lagi begitu

teriakanku jadi perih
lari sembunyi bersama bocah-bocah yang tak lagi mendendangkan kaki-kaki
mereka terluka
tercabik-cabik oleh gelap
oleh biru yang tak lagi biru

Bukit

hans of attien...



pada bukit lumpuh, kuda-kuda berlari dan bunuh diri, menyisakan pijaknya yang tandus, mematikan rerumputan getir. ke arah istana, di sana, tempat seribu macam taman yang pernah tumbuh, tempat seribu kapal karam yang satu tubuh. Hari lain sebelum badai reda, kosongkan saja matamu dari pepohonan yang berbaring, kering, tak hendak mengerling. kupu-kupu buta di dahannya, menjerit-jerit, separuh sayapnya menyatu dengan tapak kuda yang masih betah, lengket di atas tanah. alangkah seminya musim, alangkah gugurnya angin. debu yang merangkai sendiri arah hembusnya, membawa kelopak terakhir, yang merancang kiamat bagi rentetan kemarau di tepi danau. jeritanmu telah melobangi awan, desahanmu mencakar-cakar hujan. tak jadi, tak jadi haru lah pertemuan demi pertemuan. bukit semakin rapuh, kerikilnya melepuh, lusuh.

seorang pengembara tiba dan duduk di sebuah batu besar, mendengarkan kicau yang sayup-sayup, melemparkan tangannya ke udara, selamat tinggal, katanya padamu. sungguh di mana dirimu yang seharusnya lapuk ditekuk batu. kau tak ada di sungai, kau tak ada di ngarai. kau terlalu gemulai untuk tunduk kepada badai, kepada ramai yang telah hampa dan masai, itu dia si tua bangka, ucapmu pada pohon ara, di sebelahnya teratai luka. di bibirmu seribu satu ucapan yang menyihir lembut. di wajahmu berteduh segala bentuk lelembut. kupu-kupu, tikus, tanah, bangkai, kuda, hujan hutan, bukit yang masam, merayap hitam. Kau kah yang menciptakan kekacauan itu, kau kah yang gagal mendirikan hijau di bangkai arus selatan?

bukit-bukit mulai rebah, tak ada rumah, tak ada petuah, tak ada rempah yang ramah, kecuali sobekan sayap dan potongan kaki, ada yang berserakan, ditelan bibir sungai, ada yang hening merayap di bahumu, bahumu belukar yang tak lagi tumbuh, terlalu tua. sungguh tua. ayunkan saja ranting yang terakhir itu. Seorang pengembara telah berlalu, tak menyisakan alamat, tak jua berbalut kalimat serupa ayat. sebab hanya kau yang bersikeras menjadikan bukit itu sebagai hayat, hingga kau akan tinggal di atasnya sebagai satu-satunya mayat.

sungging raga(2010)

Wednesday, January 20, 2010

dengarkanlah

hans of attien...

aku berbicara padamu dalam batinku
hendak hadirmu adalah kesyukuran bagiku dan bagimu
di kedalaman hati
di tengah gundahnya jiwaku yang selalu pilu

aku berbicara padamu dalam bantinku
hendak kau dengarkan lirihnya
desahku dalam segala kebimbangan
untukmu

aku berbicara dalam batinku
hendak apa jawabmu kelak?
sedang aku tidak akan pernah lelah untumu
sekarang dan kapanpun kau mau

aku berbicara dalam batinku
hendak bagaimana kau akan bertindak
aku mau kau punya cinta
pada segala yang mencintaimu

aku berbicara dalam batinku
hendak dengarkanlah dengan segala kebaikanmu
sambil menunggu waktumu

Monday, January 18, 2010

aku belajar darimu

hands of attien...

aku belajar darimu
tentang segala ilmu jiwa

aku belajar darimu
tentang mengeja hati

aku belajar darimu
tentang merenda rasa

aku belajar darimu
tentang apa sebenarnya cinta kita

Friday, January 15, 2010

puisiku masih tentangmu

hands of attien...

puisiku masih tentangmu
di langit hatiku

kadang jiwaku terus terbang
menebar benih agar jatuh di pelupuk mata para pecinta
agar mereka melihat
bahwa kau dan aku adalah satu

kau dan aku telah diajari waktu
dikerlingan malam dan diantara gemintang
diteriknya siang dan amarah matahari
kemarin begitu dan esokpun begitu lagi

kau dan aku telah dilukis madu
pada bunga-bunga yang berwarna warni
ditengah taman yang sebenarnya tak begitu asri

puisiku masih tentangmu
tentang cintamu dan tentang haribaanmu
karena kau
di langit hatiku

meski sekedarnya kau mencintaiku

hands of attien...

terima kasih, untukmu
begitulah kau mengajari
di kebimbangan yang lelah sudah

waktu telah mengulum cita-cita
kadang terang terasa gelap dan gelap menjadi terang
keping-keping hari yang dicatat bait-bait

bagiku
kau adalah semesta
meski sekedarnya kau mencintaiku

bagiku
kau adalah senja
yang selalu sejuk di kegelapanku

bagiku
hanya kau yang mampu melerai hati
meski sekedarnya kau mencintaiku

Thursday, January 14, 2010

hands of attien...

ketika awal menyentuh tuts tuts keyboard ini, entah apa yang berlari-lari dikepalaku. ternyata menumpahkan semua rasa tidaklah mudah. masih pagi begini, rasa gembira masih utuh menyelimuti. senyum atau sekedar dendangan kecil juga ada menemani. wah wah.. tapi semua itu blm tertuang semuanya. masalahnya aku bukan penulis handal. dan akhirnya.. puisi dan puisi lagi yang bisa tertorehkan.

Wednesday, January 13, 2010

meski sekedarnya kau mencintaiku

hands of attien...terima kasih, untukmu
begitulah kau mengajari
di kebimbangan yang lelah sudah

waktu telah mengulum cita-cita
kadang terang terasa gelap dan gelap menjadi terang
keping-keping hari yang dicatat bait-bait

bagiku
kau adalah semesta
meski sekedarnya kau mencintaiku

bagiku
kau adalah senja
yang selalu sejuk di kegelapanku

bagiku
hanya kau yang mampu melerai hati
meski sekedarnya kau mencintaiku

Tuesday, January 12, 2010

untukmu

hands of attien...

memujaku dengan segala kehinaan
gamang yang senang
menggugah kebisuan

diam
jika tidak lagi sunyi menjerit
atau kelam yang tak sudi berubah seri
aduhai...
bolehkah kupilih buah chery
dipetik dari kebun si baik hati

tumpahlah segala rasa
padamu
hingga air mata telah menjadi sahabat
atas kebodohan, kelemahan, kepasarahan yang tak berkesudahan
setelah itu
entah akan kau bawa kemana
lelahku bersamamu

Sunday, January 10, 2010

kamu

hans of attien...

mengingat tentangmu
aku hilang
ditelan waktu dan harapan

ada cerita yang pernah kau kiaskan
untukku
dulu

masih hinakah
jika memang bukan penyesalan yang ada
namun bagimu kebaahagiaan yang belum tiada
disana
ditaman-taman bunga mawarmu

sedang putih ini adalah pilihan
mungkin sehari layu
terinjak, katamu

maka setegar siapa kamu
jika aku sudah luruh bergemuruh