hans of attien...
mencium aromamu harum pasca teriknya matahari
kau datang berkelebat-kelebat
seperti pasukan kelelawar
kau selalu anggun
selalu ranum
selalu segar menghadirkan tawar
kau setia saat bahagiaku
dan denganmu saat itu menjadi anugerah
paginya mawar bermekaran
pipit-pipit bernyanyi
juga kupu-kupu kuning senang berdendang di halamanku
mengharapkanmu selalu ku akui selalu
biar sejuk dinding-diding hatiku
kau siram dan kau basuh
senang bergelimang setia
datanglah lagi kapan kau mau
aku selalu menunggu untuk kau ramu
dari segala jiwaku yang selalu haru
biar aku selalu besamamu
Wednesday, January 27, 2010
catatan kecil
hands of attien...
sedari dulu, memutuskan hubungan persahabatan adalah hal yang paling mengerikan buatku. ketika hal ini ku ceritakan pada suami, dia mengatakan "beruntung ya aku?!". bisa jadi. salah satu reaksi berlebihannya ketika aku sendiri yang berfikiran jauh ketika ada sedikit masalah yang juga asalnya dari otakku. dan jawaban darinya dengan enteng, "hoalah.... ". ia mengatakan " jangan kau pikir dalam-dalam... ".
berimajinasi, membuat dunia sendiri, termasuk memikirkan hal yang mungkin bagi orang lain tidak penting, masih menjadi kebiasaanku. hubungannya dengan persahabatan. mungkin memang janggal. tapi, ada.
entahlah. bahkan aku tidak rela kehilangan 1 diantara mereka. selalu ada yang spesial, selalu ada yang berbeda. dan itu berharga.
aku bersyukur telah menemukan seseorang yang baik. itu cukup bagiku. dia, bukan siapa-siapa. kali ini sebagai sahabat? ya. semoga ia akan abadi hingga akhirat kelak. dan sekarang aku tinggal berusaha untuk bagaimana menghadirkan rasa syukur itu selalu.
sedari dulu, memutuskan hubungan persahabatan adalah hal yang paling mengerikan buatku. ketika hal ini ku ceritakan pada suami, dia mengatakan "beruntung ya aku?!". bisa jadi. salah satu reaksi berlebihannya ketika aku sendiri yang berfikiran jauh ketika ada sedikit masalah yang juga asalnya dari otakku. dan jawaban darinya dengan enteng, "hoalah.... ". ia mengatakan " jangan kau pikir dalam-dalam... ".
berimajinasi, membuat dunia sendiri, termasuk memikirkan hal yang mungkin bagi orang lain tidak penting, masih menjadi kebiasaanku. hubungannya dengan persahabatan. mungkin memang janggal. tapi, ada.
entahlah. bahkan aku tidak rela kehilangan 1 diantara mereka. selalu ada yang spesial, selalu ada yang berbeda. dan itu berharga.
aku bersyukur telah menemukan seseorang yang baik. itu cukup bagiku. dia, bukan siapa-siapa. kali ini sebagai sahabat? ya. semoga ia akan abadi hingga akhirat kelak. dan sekarang aku tinggal berusaha untuk bagaimana menghadirkan rasa syukur itu selalu.
Monday, January 25, 2010
kekasihku tidak disini
hands of attien...
air mataku belum selesai bicara
hingga satu purnama telah tertahan dalam bantahan logika
rasa dan karsanya semakin haru
menembus malam di kesendirian
pelita dicari
dalam remang-remang
dalam segala keraguan
hulunya telah kering
telah habis bersama waktu
telah membatu bersama jiwa-jiwa yang beku
tergugu
aku lihat aku disana
di kengerian yang gelap
yang hitam
dengan pelitaku yang secuil
nampak seperti berlian yang berpendar
ku berharap perihku lirih
tawar bersama air yang deras
ikut mengalir ke muara-muara samudra kebebasan
larut bersama biru
riang bermain bersama riak-riak ditepian
padahal aku hanya lupa
kekasihku tidak disini
air mataku belum selesai bicara
hingga satu purnama telah tertahan dalam bantahan logika
rasa dan karsanya semakin haru
menembus malam di kesendirian
pelita dicari
dalam remang-remang
dalam segala keraguan
hulunya telah kering
telah habis bersama waktu
telah membatu bersama jiwa-jiwa yang beku
tergugu
aku lihat aku disana
di kengerian yang gelap
yang hitam
dengan pelitaku yang secuil
nampak seperti berlian yang berpendar
ku berharap perihku lirih
tawar bersama air yang deras
ikut mengalir ke muara-muara samudra kebebasan
larut bersama biru
riang bermain bersama riak-riak ditepian
padahal aku hanya lupa
kekasihku tidak disini
Friday, January 22, 2010
biru tak lagi biru
hans of attien...
batu-batu
juga kerikil bersama pasir yang menepi hendak di terjang gelombang yang biru
haru, bergemuruh bersama badai yang mengempis di tepian
itu dulu
sekarang, tidak lagi begitu
karang-karang telah menjadi jasad, telah rapuh
disaksikan nyiur yang tak lagi gemulai
bakau dan kawanan ikan adalah teman
muara-muara di diselatan pun ramai
kaki bocah-bocah meriakkan sisian
sambil berdendang
itu dulu
sekarang, tidak lagi begitu
biru tak lagi biru
damai tak lagi melerai
ingin aku berteriak
agar dipecah gemuruh ombaknya
namun mereka tidak lagi begitu
teriakanku jadi perih
lari sembunyi bersama bocah-bocah yang tak lagi mendendangkan kaki-kaki
mereka terluka
tercabik-cabik oleh gelap
oleh biru yang tak lagi biru
batu-batu
juga kerikil bersama pasir yang menepi hendak di terjang gelombang yang biru
haru, bergemuruh bersama badai yang mengempis di tepian
itu dulu
sekarang, tidak lagi begitu
karang-karang telah menjadi jasad, telah rapuh
disaksikan nyiur yang tak lagi gemulai
bakau dan kawanan ikan adalah teman
muara-muara di diselatan pun ramai
kaki bocah-bocah meriakkan sisian
sambil berdendang
itu dulu
sekarang, tidak lagi begitu
biru tak lagi biru
damai tak lagi melerai
ingin aku berteriak
agar dipecah gemuruh ombaknya
namun mereka tidak lagi begitu
teriakanku jadi perih
lari sembunyi bersama bocah-bocah yang tak lagi mendendangkan kaki-kaki
mereka terluka
tercabik-cabik oleh gelap
oleh biru yang tak lagi biru
Bukit
hans of attien...
pada bukit lumpuh, kuda-kuda berlari dan bunuh diri, menyisakan pijaknya yang tandus, mematikan rerumputan getir. ke arah istana, di sana, tempat seribu macam taman yang pernah tumbuh, tempat seribu kapal karam yang satu tubuh. Hari lain sebelum badai reda, kosongkan saja matamu dari pepohonan yang berbaring, kering, tak hendak mengerling. kupu-kupu buta di dahannya, menjerit-jerit, separuh sayapnya menyatu dengan tapak kuda yang masih betah, lengket di atas tanah. alangkah seminya musim, alangkah gugurnya angin. debu yang merangkai sendiri arah hembusnya, membawa kelopak terakhir, yang merancang kiamat bagi rentetan kemarau di tepi danau. jeritanmu telah melobangi awan, desahanmu mencakar-cakar hujan. tak jadi, tak jadi haru lah pertemuan demi pertemuan. bukit semakin rapuh, kerikilnya melepuh, lusuh.
seorang pengembara tiba dan duduk di sebuah batu besar, mendengarkan kicau yang sayup-sayup, melemparkan tangannya ke udara, selamat tinggal, katanya padamu. sungguh di mana dirimu yang seharusnya lapuk ditekuk batu. kau tak ada di sungai, kau tak ada di ngarai. kau terlalu gemulai untuk tunduk kepada badai, kepada ramai yang telah hampa dan masai, itu dia si tua bangka, ucapmu pada pohon ara, di sebelahnya teratai luka. di bibirmu seribu satu ucapan yang menyihir lembut. di wajahmu berteduh segala bentuk lelembut. kupu-kupu, tikus, tanah, bangkai, kuda, hujan hutan, bukit yang masam, merayap hitam. Kau kah yang menciptakan kekacauan itu, kau kah yang gagal mendirikan hijau di bangkai arus selatan?
bukit-bukit mulai rebah, tak ada rumah, tak ada petuah, tak ada rempah yang ramah, kecuali sobekan sayap dan potongan kaki, ada yang berserakan, ditelan bibir sungai, ada yang hening merayap di bahumu, bahumu belukar yang tak lagi tumbuh, terlalu tua. sungguh tua. ayunkan saja ranting yang terakhir itu. Seorang pengembara telah berlalu, tak menyisakan alamat, tak jua berbalut kalimat serupa ayat. sebab hanya kau yang bersikeras menjadikan bukit itu sebagai hayat, hingga kau akan tinggal di atasnya sebagai satu-satunya mayat.
sungging raga(2010)
pada bukit lumpuh, kuda-kuda berlari dan bunuh diri, menyisakan pijaknya yang tandus, mematikan rerumputan getir. ke arah istana, di sana, tempat seribu macam taman yang pernah tumbuh, tempat seribu kapal karam yang satu tubuh. Hari lain sebelum badai reda, kosongkan saja matamu dari pepohonan yang berbaring, kering, tak hendak mengerling. kupu-kupu buta di dahannya, menjerit-jerit, separuh sayapnya menyatu dengan tapak kuda yang masih betah, lengket di atas tanah. alangkah seminya musim, alangkah gugurnya angin. debu yang merangkai sendiri arah hembusnya, membawa kelopak terakhir, yang merancang kiamat bagi rentetan kemarau di tepi danau. jeritanmu telah melobangi awan, desahanmu mencakar-cakar hujan. tak jadi, tak jadi haru lah pertemuan demi pertemuan. bukit semakin rapuh, kerikilnya melepuh, lusuh.
seorang pengembara tiba dan duduk di sebuah batu besar, mendengarkan kicau yang sayup-sayup, melemparkan tangannya ke udara, selamat tinggal, katanya padamu. sungguh di mana dirimu yang seharusnya lapuk ditekuk batu. kau tak ada di sungai, kau tak ada di ngarai. kau terlalu gemulai untuk tunduk kepada badai, kepada ramai yang telah hampa dan masai, itu dia si tua bangka, ucapmu pada pohon ara, di sebelahnya teratai luka. di bibirmu seribu satu ucapan yang menyihir lembut. di wajahmu berteduh segala bentuk lelembut. kupu-kupu, tikus, tanah, bangkai, kuda, hujan hutan, bukit yang masam, merayap hitam. Kau kah yang menciptakan kekacauan itu, kau kah yang gagal mendirikan hijau di bangkai arus selatan?
bukit-bukit mulai rebah, tak ada rumah, tak ada petuah, tak ada rempah yang ramah, kecuali sobekan sayap dan potongan kaki, ada yang berserakan, ditelan bibir sungai, ada yang hening merayap di bahumu, bahumu belukar yang tak lagi tumbuh, terlalu tua. sungguh tua. ayunkan saja ranting yang terakhir itu. Seorang pengembara telah berlalu, tak menyisakan alamat, tak jua berbalut kalimat serupa ayat. sebab hanya kau yang bersikeras menjadikan bukit itu sebagai hayat, hingga kau akan tinggal di atasnya sebagai satu-satunya mayat.
sungging raga(2010)
Wednesday, January 20, 2010
dengarkanlah
hans of attien...
aku berbicara padamu dalam batinku
hendak hadirmu adalah kesyukuran bagiku dan bagimu
di kedalaman hati
di tengah gundahnya jiwaku yang selalu pilu
aku berbicara padamu dalam bantinku
hendak kau dengarkan lirihnya
desahku dalam segala kebimbangan
untukmu
aku berbicara dalam batinku
hendak apa jawabmu kelak?
sedang aku tidak akan pernah lelah untumu
sekarang dan kapanpun kau mau
aku berbicara dalam batinku
hendak bagaimana kau akan bertindak
aku mau kau punya cinta
pada segala yang mencintaimu
aku berbicara dalam batinku
hendak dengarkanlah dengan segala kebaikanmu
sambil menunggu waktumu
aku berbicara padamu dalam batinku
hendak hadirmu adalah kesyukuran bagiku dan bagimu
di kedalaman hati
di tengah gundahnya jiwaku yang selalu pilu
aku berbicara padamu dalam bantinku
hendak kau dengarkan lirihnya
desahku dalam segala kebimbangan
untukmu
aku berbicara dalam batinku
hendak apa jawabmu kelak?
sedang aku tidak akan pernah lelah untumu
sekarang dan kapanpun kau mau
aku berbicara dalam batinku
hendak bagaimana kau akan bertindak
aku mau kau punya cinta
pada segala yang mencintaimu
aku berbicara dalam batinku
hendak dengarkanlah dengan segala kebaikanmu
sambil menunggu waktumu
Monday, January 18, 2010
aku belajar darimu
hands of attien...
aku belajar darimu
tentang segala ilmu jiwa
aku belajar darimu
tentang mengeja hati
aku belajar darimu
tentang merenda rasa
aku belajar darimu
tentang apa sebenarnya cinta kita
aku belajar darimu
tentang segala ilmu jiwa
aku belajar darimu
tentang mengeja hati
aku belajar darimu
tentang merenda rasa
aku belajar darimu
tentang apa sebenarnya cinta kita
Friday, January 15, 2010
puisiku masih tentangmu
hands of attien...
puisiku masih tentangmu
di langit hatiku
kadang jiwaku terus terbang
menebar benih agar jatuh di pelupuk mata para pecinta
agar mereka melihat
bahwa kau dan aku adalah satu
kau dan aku telah diajari waktu
dikerlingan malam dan diantara gemintang
diteriknya siang dan amarah matahari
kemarin begitu dan esokpun begitu lagi
kau dan aku telah dilukis madu
pada bunga-bunga yang berwarna warni
ditengah taman yang sebenarnya tak begitu asri
puisiku masih tentangmu
tentang cintamu dan tentang haribaanmu
karena kau
di langit hatiku
puisiku masih tentangmu
di langit hatiku
kadang jiwaku terus terbang
menebar benih agar jatuh di pelupuk mata para pecinta
agar mereka melihat
bahwa kau dan aku adalah satu
kau dan aku telah diajari waktu
dikerlingan malam dan diantara gemintang
diteriknya siang dan amarah matahari
kemarin begitu dan esokpun begitu lagi
kau dan aku telah dilukis madu
pada bunga-bunga yang berwarna warni
ditengah taman yang sebenarnya tak begitu asri
puisiku masih tentangmu
tentang cintamu dan tentang haribaanmu
karena kau
di langit hatiku
meski sekedarnya kau mencintaiku
hands of attien...
terima kasih, untukmu
begitulah kau mengajari
di kebimbangan yang lelah sudah
waktu telah mengulum cita-cita
kadang terang terasa gelap dan gelap menjadi terang
keping-keping hari yang dicatat bait-bait
bagiku
kau adalah semesta
meski sekedarnya kau mencintaiku
bagiku
kau adalah senja
yang selalu sejuk di kegelapanku
bagiku
hanya kau yang mampu melerai hati
meski sekedarnya kau mencintaiku
terima kasih, untukmu
begitulah kau mengajari
di kebimbangan yang lelah sudah
waktu telah mengulum cita-cita
kadang terang terasa gelap dan gelap menjadi terang
keping-keping hari yang dicatat bait-bait
bagiku
kau adalah semesta
meski sekedarnya kau mencintaiku
bagiku
kau adalah senja
yang selalu sejuk di kegelapanku
bagiku
hanya kau yang mampu melerai hati
meski sekedarnya kau mencintaiku
Thursday, January 14, 2010
hands of attien...
ketika awal menyentuh tuts tuts keyboard ini, entah apa yang berlari-lari dikepalaku. ternyata menumpahkan semua rasa tidaklah mudah. masih pagi begini, rasa gembira masih utuh menyelimuti. senyum atau sekedar dendangan kecil juga ada menemani. wah wah.. tapi semua itu blm tertuang semuanya. masalahnya aku bukan penulis handal. dan akhirnya.. puisi dan puisi lagi yang bisa tertorehkan.
ketika awal menyentuh tuts tuts keyboard ini, entah apa yang berlari-lari dikepalaku. ternyata menumpahkan semua rasa tidaklah mudah. masih pagi begini, rasa gembira masih utuh menyelimuti. senyum atau sekedar dendangan kecil juga ada menemani. wah wah.. tapi semua itu blm tertuang semuanya. masalahnya aku bukan penulis handal. dan akhirnya.. puisi dan puisi lagi yang bisa tertorehkan.
Wednesday, January 13, 2010
meski sekedarnya kau mencintaiku
hands of attien...terima kasih, untukmu
begitulah kau mengajari
di kebimbangan yang lelah sudah
waktu telah mengulum cita-cita
kadang terang terasa gelap dan gelap menjadi terang
keping-keping hari yang dicatat bait-bait
bagiku
kau adalah semesta
meski sekedarnya kau mencintaiku
bagiku
kau adalah senja
yang selalu sejuk di kegelapanku
bagiku
hanya kau yang mampu melerai hati
meski sekedarnya kau mencintaiku
begitulah kau mengajari
di kebimbangan yang lelah sudah
waktu telah mengulum cita-cita
kadang terang terasa gelap dan gelap menjadi terang
keping-keping hari yang dicatat bait-bait
bagiku
kau adalah semesta
meski sekedarnya kau mencintaiku
bagiku
kau adalah senja
yang selalu sejuk di kegelapanku
bagiku
hanya kau yang mampu melerai hati
meski sekedarnya kau mencintaiku
Tuesday, January 12, 2010
untukmu
hands of attien...
memujaku dengan segala kehinaan
gamang yang senang
menggugah kebisuan
diam
jika tidak lagi sunyi menjerit
atau kelam yang tak sudi berubah seri
aduhai...
bolehkah kupilih buah chery
dipetik dari kebun si baik hati
tumpahlah segala rasa
padamu
hingga air mata telah menjadi sahabat
atas kebodohan, kelemahan, kepasarahan yang tak berkesudahan
setelah itu
entah akan kau bawa kemana
lelahku bersamamu
memujaku dengan segala kehinaan
gamang yang senang
menggugah kebisuan
diam
jika tidak lagi sunyi menjerit
atau kelam yang tak sudi berubah seri
aduhai...
bolehkah kupilih buah chery
dipetik dari kebun si baik hati
tumpahlah segala rasa
padamu
hingga air mata telah menjadi sahabat
atas kebodohan, kelemahan, kepasarahan yang tak berkesudahan
setelah itu
entah akan kau bawa kemana
lelahku bersamamu
Sunday, January 10, 2010
kamu
hans of attien...
mengingat tentangmu
aku hilang
ditelan waktu dan harapan
ada cerita yang pernah kau kiaskan
untukku
dulu
masih hinakah
jika memang bukan penyesalan yang ada
namun bagimu kebaahagiaan yang belum tiada
disana
ditaman-taman bunga mawarmu
sedang putih ini adalah pilihan
mungkin sehari layu
terinjak, katamu
maka setegar siapa kamu
jika aku sudah luruh bergemuruh
mengingat tentangmu
aku hilang
ditelan waktu dan harapan
ada cerita yang pernah kau kiaskan
untukku
dulu
masih hinakah
jika memang bukan penyesalan yang ada
namun bagimu kebaahagiaan yang belum tiada
disana
ditaman-taman bunga mawarmu
sedang putih ini adalah pilihan
mungkin sehari layu
terinjak, katamu
maka setegar siapa kamu
jika aku sudah luruh bergemuruh
Subscribe to:
Comments (Atom)