Wednesday, December 19, 2007

NEGERIKU

sabagai pemuda, dengan bangganya menyerahkan pada negeri ini segenap kemampuan kekritisan yang dimiliki. kami pemuda tanpa itervensi, kami pemuda yang tidak "manut" dengan orang tua manapun, kami pemuda yang memiliki banyak mimpi.

wahai teman, hari ini sekuat apa kita menggenggam cita-cita. negerimu kian pilu dirundung duka. tanahnya semakin gersang karena pohon-pohon yang ditumbang. rakyatnya semakin dingin di tengah kehangatan.

rangking kekayaan orang-orang terkaya di daratan ini naik berdampingang dengan angka kemiskinan yang semakin berprestasi.

sepertinya kita harus rajin berpuasa agar ikut merasakan lapar
namun jangan terus merenung merundung nasib bapakmu. Tuhan pun tak mau mengubah nasib tetanggamu, jika dan jika semua orang hanya bicara tak bekerja

sadarkah dibelahan bumi yang lain banyak tersimpan rahasia. gerombolan manusia lain yang perlahan mencuri-curi pandang. oh.. sungguh, kayanya negerimu...

lambaian pohonnya nyiur, sungai-sungai yang mengalir seperti lukisan firdaus, warna bunganya paling lengkap, wahana hidup para makhluk ciptaan Tuhan.

dengan apa kita bersyukur? sedang menikmati saja masih susah. itu karena kita tak tahu jalan, tak berilmu, selalu manut dengan west style.

liberalnya negerimu berada di puncak kebodohan, demokrasinya di ujung kehancuran. topeng-topeng baru datang dengan segepok harapan kosong. pendidikannya melahirkan para penghianat intelektualitas.

sakit hati jadinya para petani, sakit jiwa akhirnya pedagang kecil
oh negeriku...
ajari kami bersyukur dengan hadirnya indah lukisanmu
ajari kami bekerja seperti semut-semut yang memanggul gula,
seperti berang yang membangun jembatannya, seperti burung yang membuat sarangnya, seperti lebah yang membentuk arsitek rumahnya
biar tak ada tanggungan pertanyaan di akhirat kelak
dan biar Rabbku mencintaiku...

No comments:

Post a Comment