Thursday, September 18, 2008

kelanjutan...

Padahal belum juga sembuh pagi ini teringat amah yang kebetulan aku duduk disebelahku berkata agak keras,
“attien, ini siapa hayo. Klo kaya’ gini mendzolimi teman!!”. Ujarnya sembari ngantuk dan menunjuk bungkus permen Kisss merah penghilang ngantukku. Dug.. apa lagi ini. Teman2 melihatku. Karena suara amah yang agak keras.

“Oh iya, itu punya atin. Lupa. Ya maaf “. Sahutku
Tapi.. dalam hati kecilku, apakah hanya kesalahan sekecil ini aku menzolimi temen2? Kata-kata ini sering dipakai dalam bahasa Al-qur’an sebagai bentuk kata yang kasar menurutku. Dan aku yakin, apa yang aku lakukan semalam tak ubahnya hanya seonggok kecil bungkus permen yang lupa untuk dipungut.

Aku memaksa semyumku ketika ku pungut bungkus permen itu. Seperti ada seonggok batu berada di kerongkonganku, petir menyembar-nyambar kemudian diikuti rumah yang seakan-akan roboh menimpa. Huff…. Berat rasanya mengambil nafas. Masih terhuyung aku berjalan. Tapi…. Ku bilang itu cuma biasa, tapi tetap aja itu g biasa. Manusia cuek sedunia kena olok-olokan…

Lalu aku ke list piket, sebagai langkah pengobatan siapakah yang piket halaman amanina?? Sambil menyesal karena aku pun belum membersihkan ruang bawah rumah ustad. Kemudian petir menyambar untuk kedua kalinya. Meski ramadahan kali ini masih memasuki musim kemarau...

BUNGAKU LAYU
“iya, itu juga mendzolimi tanaman”. Itu juga ucapan tambahan amah setelah mengungkapkan betapa malunya kami sampai ustad pun menegur kami di kelas.

“bismilllahirohmanirrohim… ‘. Ujarku memohon kekuatan dari Alloh untuk memberanikan diri bertanggungjawab atas kesalahanku. Ketika ku ambil sapu lidi dan pengki, kulihat dihalaman udah ada temenku yang menyirami tanaman dihalaman asrama kami. Wajahnya sangat teduh. Ia selalu begitu. Zae.

Anak psiklogi yang angkatannya sama denganku ini paling pandai mengambil hati orang. Dengan modal itu juga aku tidak ragu untuk meminta maaf dan meminta izin membantunya sebagai bentuk pertanggungjawaban.
“oh, iya. Dengan senang hati”. Sembari tersenyum ia membalas baik twaranku. Plong…. rasanya. Karena senyumnya yang tulus itu jua ia memaklumi kesalahanku

Justru aku yang merasa bertambah kesalahan, karena g seharusnya begini. Ku sapu daun-daun kering dibawah pohon mangga yang lagi berbuah ini. Lumayan berdebu. Tapi terus kusapu. Kulihat tanaman yagn belum disiram itu layu. Udah lama memang hujan tidak turun. Baru dua kali selama musim kemarau ini. Itupun hanya gerimis kecil. Kasihan juga. Jadi bertambah satu ember lagi kesalahanku

Zae datang kearahku sembari membawa selang air yagn terus mngeluarkan air itu. Tak sampai airnya ke tanaman karena jauh, ku minta segera untuk ku tangani. Biasa aja.
“yah, aku cek air dulu”. Diberikannya selang itu padaku
“ho, emang gini atau gimana??”. Aku mencoba agar airnya bisa menjangku lebih jauh. Tetep aja susah, tekanan airnya aja kecil.

Zae menghilang dan akhirnya kembali. Hm… tidak ada perubahan…

Kemudian ia memasuki ruangan bawah untuk bersih-bersih. Kulihat ia mnyapu, dan membuka satu ruangan lagi yang sepertinya jarang digunakan.

aku masih terus asik menyirami tanaman yagn sepertinya sangat kehausan. Seperti ketika kita sedang puasa di siang hari. Maka tanaman kami g tumbuh subur. G ada pupuk, klo pun sering terlupa untuk dipiketin ya berati g disiram. Seperti kemaren tuh… si atin tuh!!!

“hayo niy… minumlah yang banyak. Biar gede-gede kalian… kasian banget”. Aku berguman sendiri. Mengharap mungkin bunga-bunga itu dapat mendengar suara hatiku. Hehe.. sedeng. Yah.. rupanya ini menjadi terapiku pagy ini. Setelah disambar petir berkai-kali tadi malam. Tak terlupakan

Eits..!!! ada kodok. Wah, masih kecil tapi. Warnanya coklat tua. Duh.. Dia keluar dari bonggol paling bawah pohon mangga. Kasihan sekali pikirku. Dia g bakal nemu air disini. Soalnya g ada genangan air. Akhirnya kusiram dia dari atas. Haha.. dia pasti seneng banget. Sambil lompat menjauh dia terus melirikku. Atau hanya perasaaanku aja?? Yang jelas aku seneng banget. Hoho.. padahal Cuma kodok gitu lho. Ya gapapa lah… klo boleh diibaratkan dia seperti mnemukan air di padang pasir. Ngebayanginkan gimana ausnya. Ya iyalah…

Setelah puas kusiram air, ku arahkan ujung selang ke arah akar pohon mangga yang sedang berumur sedang ini. Buah2nya sudah keluar dan berusia muda. Hm…..
Dalam hatiku.. “ nih, kukasih air. Sebanyak-banyaknya. Pasti kamu juga susah cari air di dalem tanah itu khan. Besok buahnya yang gede2 ya. Biar kita2 bisa makan banyak. Jangan rontok terus”.. aku tesenyum sendiri. Merasa mejadi pahlawan pagi ini karena telah mengguyur tanaman2, kodok, dan juga pohon mangga ini dengna air.

Sekita 5 menit khusus ku siramkan ke arah akar.. aku sudahi juga kiranya akar pohon ini bisa mencari sendiri makanan dalam tanah. Huff… selesai juga akhirnya.

Ku pikir pekerjaanku selesai. Aku mau ke warnet karena ingin segera menuliskan pengalaman spiritual ini. Dengan kata kunci, ‘piket hari ini’,’dzolimtum’, dan ‘tanaman’. Cie… tapi zae masih sibuk di ruang bawah. Klo kutingalkan langsung..?? g enak juga.. jatah ngebersihin itu ruangan juga aku kebagian dunk. Tapi karena itu pekerjaanku juga…. , kali cuma nyapu doang.
“aku duluan ya??!” ujarku
“oh, iya”. Sahutnya
Aku melangkah menuju gerbang kebebasan. Rasanya ingin aku berlari ke warnet depan asrama itu.
“ buru2 ya?”. Hoo.. zae masih mengajak bicara
“ ga juga siy.. ada apa ya?”. Jawabku sembari mundur kebelakang…


IKHLAS… SUNGGUH AKU IKLAS..
Ku gosok-gosok lantai menggunakan alat pel ini. Ruangan ini sering dipakai ustad buat ngeliqo’I para mutarobbinya. Biasanya sore menjelang magrib atau sampai malam hari. Huff… kebanyakan mahasiswa. Ya maklum. Namanya jug ustad kampus. Tapi ruangan ini seperti kurang nyaman menurutku untuk liqo’. Notabene didalam ruangan langsung ada kamar mandinya. Tapi itu justru mempermudah. Kadang selagi liqo’ aku sering mendengar canda tawa mereka, as usually lah.. atau memang hatiku yang kurang nyaman karena belum terbebas dari belenggu.

Ku gosok lagi lantai ruangan itu. Huff.. aku dah pengen ke warnet niy… ikhlas atin.. ikhlas…
‘yow.. aku ikhlas kok. Lebih baik mana??? Kamu ngerjain ini terpaksa, atau ikhlas.??’
‘iya iya aku ikhlas… apaan sih?’
Aku terus meperdebatkan hal ini dengan diriku sendiri.
Teringat tausiah ustad Satori di surat al-furqon ayat 32.
“…. ada mereka yang pertengahan, dan ada juga mereka yang mendahuluinya kebaikannya itu”.
Dug…
‘ikhlas.. , iya aku ikhlas kok’. Mudah2an g cuma nyampe di tenggorokan.

Terus ku pel lantai itu. Di pojok selatan ruangan.. dug. Ho??? Ada sajadah hijau tua. Warnanya ku kenal jelas. Yang raib setelah tinggal di awal bulan di amanina. Eits.. bukan ternyata. Ukurannya kurang besar. Tapi.. dibawah masih ada satu lagi. Lalu ku pungut dan …
‘ho… inikan punyaku…’
G salah lagi ini sajadah milikku. Udah hampir satu tahun tak berjumpa. Hua… jadi tersanjung. Ini sajadah selama ini dipakai ustad dan mutarobbinya untuk sholat kali ya. Eh.. khan ada juga tuh tamu yang biasanya juga bermalam disini. Berarti mereka juga pake..
Wah.. aku jadi terharu. Hiks hiks… diasrama klo kamu kehilangan yang berupa baju atau kain, pokoknya yang berhubungan dengan jemur menjemur tu susah bakalan nyari. Makanya, mending habis jemur, itu pakaian langsung amankan. Save dech!!

Dua sajadah dengan warna yang sama. Ibu membelikanku sajadah ini ketika akan ditinggal seorang diri di kota Yogyakarta. Daerah antah berantah, daerah impianku selama menjadi anak SMA. Mungkin keduanya memang sengaja ditaruh disini sebagai alat sholat serba guna. Lho..
Tapi yang penting bukan itu. Ternyata kebaikan yang tidak ditolak itu telah membawa kebaikan pula. Aku sungguh berterimakasih pada zae, meskipun sedikit berat (yah.. kali beberapa ons) untuk menerima tawaran mengepel ruangan ini. Dengan begitu aku dapat menjumpai sajadahku yang telah lama diculik orang. Lho!! Padahal beberapa malam ini aku sholat malam dengan 1 sajadah warna hijau muda, aku menggunakannya terus, juga g tahu kok bisa. Mungkin karena posisisnya selalu berada di paling atas tumpukan sajadah dilemari. Tapi.. ketika sholat berjama’ahpun aku mendapati sajadah hijau muda ini lagi. Padahal sudah disejajarkan sedemikian rupa. Cie… Dan aku bergumam sampai tadi subuh. ‘sajadahku kemana ya yang ijo tua itu … ??? “. Here!!

Sekarang, sungguh aku ikhlas… duile.. ky’ lagu seri Ramadhan. Gapapa kali..
Sekarang aku ingin berdendang. Nanana… nada lagu instrumental the song for our father jilid 1 yang ku kopi dari temen KKNku. Duh sendunya.. tapi syahdu didalam kalbu. Hu…..

Selesai ruangan pertama, ku coba membuka ruangan kedua. Masih kubiarkan sajadahku diruang pertama. Tak apalah. Biar pahalanya juga ngalir ke aku. Apa lagi ramadhan begini. Pasti buanyak banget…

Setelah dibuka. Wuih… bau apa niy. Hm.. ternyata bersumber dari kamar mandi dalam ruangan yang terbuka lebar. Lalu ku cek. Pantes aja, kamar mandi ini kering. Ruangannya juga g pernah dipake’. Ada 1 unit computer yang udah usang diatas meja, lemari dengan beberapa buku dan satu kursi bersandar di tembok. Hm… ngapain dibersihin. Yah… tapi aku merasa sangat tidak keberatan membersihkannya. Karena hatiku masih sangat senang. Senang dan senang….

Lalu kuselesaikan pekerjaanku di ruangan kedua itu. Bau dari kamar mandi udah g kecium lagi. Entah karena udah kebawa angin, atau sudah ku pel, atau karena aku lagi seneng. Wah.. bedanya tipis tuh karena g ada orang lain selain aku diruang kecil itu.

Kusususri emperan dan mencari temanku yagn tadi memakai jilbab pink itu. How.. ternyata diruangan satunya. Dua ruangan yagn terhubungan sekaligus dengan pintu. Yang satu mirip kamar dan satunya mirip dapur. Ada wastafel dapur dan juga meja yang lansung menempel di tembok seperti meja dapur kebanyakan.
“ini dipel juga??”. Tanyaku pada zae
“yah.. tapi ini debunya banyak banget.” Jawabnya sambil menyapu lantai itu ruangan.
“ terus susah”. Tambahnya sambil kepayahan karena debunya banyak tapi juga lembut. G mempan pake sampu yagn biasa.
“ya udah.. g usah dipaksa. Biar ku pel aja”. Jawabku.
“oh.. gitu ya”. Timpalnya

Lalu kupel lantai itu dengan senang hati. Tembok ruangan ini cerah, berwarna putih. Cahaya matahari juga mudah masuk lewat jendela yang terang. Lantainya berwarna pink seperti hatiku. Hehe.. yang jelas. Mau seluas apapun lantai ini, aku tetap seneng. Entahlah… ini mungkin karunia pagi ini. Terus ku pel lantainya sampai bersih. Agak susah dan memang sangat kotor. Tapi apa peduliku, aku tetap seneng. Aku jadi berucap terimakasih banyak ustad.. amah… (tapi jangan pake’ kata zolim lagi ya!), zae… hm…. Nanana.. aku berdendang lagi dalam hatiku. Masih dengan nada yang sama. Keikhlasan?? Sudah tidak dipertanyakan. Aku masih bahagia akan perjumpaan dengan sajadah hijau tua ku. Kata ustad Fatan yang pernah mengisi tatsqif di lokasi KKN…

‘siapa bilang cinta itu warnanya pink, atau merah jambu?? Ha??! Lantas surga juga digambarkan pink. Lagi seneng juga pake pink!’. Trainer satu ini memang kritis. Teman2 tertawa mendengar dan melihat gelagatnya.
“Alloh itu menggambarkan dalam Al-qur’an itu, surga warnanya hijau tua. Bukan pink! Jadi cinta itu warnanya hijau tua, bukan pink!”. ho…!!! Gitu yak?!

Dan aku telah menjumpai sajadah hijau tua ku, surgaku. Amien.. betapa bahagianya.
Dan jadi teringat ketika ada ikhwan yang mengatakan
“wah.. aku lagi VHT niy… “. Sambil senyum-senyum g jelas
“ho.. apaan VHT??”. Tanyaku bego’
“jadi gini mb Umi, mulai sekarang kita akan ubah bahasa2 kampus.” Kormasitku mencoba menjelaskan dengan gaya jawanya yang sengaja di buat-buat.
“VHT itu pengganti dari VMJ. Virus Merah Jambu diganti dengan Virus Hijau Tua …. “.
Gubraxs…. Saat itu perutku diguncang gempa, duh duh duh…. Dua manusia aktivis sekolah dan sya’bi ini tahu betul gimana caranya membuat dunia sendiri.

Dan sekarang aku juga lagi VHT. Dengan sajadahku, dengan pagi ini, dengan ustadku, dengan amahku, dengan teman2 asramaku, juga dengan asramaku. Wah… serasa di surga asrama ini. Aku telah menemukan cintaku disini. Dengan kisah ini. Dengan pagi ini. Yang melibatkan ustadku, amahku, teman2ku, dan di asramaku. Jadi terharu…

Segera kuselesaikan pekerjaanku. Dan ingin rasanya aku berlari ke gerbang timur itu untuk lari ke warnet dan menuliskan kebahagiaanku. Satu ruangan lagi. Hup hup… ku geret ember hitam itu. Lalu ku celupkan lagi pelnya, ku gosokkkan ke lantai lagi, lagi dan lagi. Sampai zae menyelesaikan pekerjaan nyapunya dan sekalian aku menyelesaikan ngepel ku. Finish!!! Akhirnya..

“udah kan?? “. Diriku mencoba meyakinkan
“iya, udah”. Sahut zae datar.
Aku berjalan dibelakangnya menuju keran air. 1 jam lebih kami menyelesaikan semua pekerjaan ini. Ku cuci alat pelnya, bagitu juga embernya. Udah g sabar lagi pengen lari ke pintu itu tu…
“ yang emperannya udah?”. Tanya zae
Shock…. !!!~
“blom.. emperannya juga ya?!”. Kepalaku berfirkir
“cuman dikit kok. G usah gpapa deh… “. Duh. Diriku berkilah.
Kutambah sekalian…
“klo gitu kamu aja ya??”, haha.. sukses aku mengucapkannya
“oh ya, gpapa.” Orang sebaik zae g bakal bilang ‘g mau’. Haha….

Aku menang sambil tersenyum melangkah tegap menuju pintu kebebasan. Aku pengen lari dan lari… dan dunia terasa terhampar luas dan indah ketika kuhirup udara kebebasan dengan meninggalakan emperan kotor yang sedang ditangani teman paling baik di asrama.

Ku dorong pintu warnet
“ pilih aja mb… “, kostumer service berujar pertanda tak seorangpun yang mengunjungi warnet ini pagi ini.
Ku pilih no 1. dan kutuliskan kisah asramaku.. Asma Amanina…


Jogja, 17 Ramadhan 1429 H
1:59 pm.
Umi Yuliatin

1 comment:

  1. wakakaka....


    manusia manusia aneh dengan keanehannya..

    Hm... jika hidup selalu ditanggapi seperti ini terus... mungkin enak kali ya... Hm... hijau tua......

    salam buat temen-temen di jogjakarta... nice tackle...

    yup ane musti terbang sekarang... wusss...

    ReplyDelete