Sunday, February 8, 2009

Xiao Di ( me, without KJ7)
epik yang membuatku tertawa dan menangis dalam waktu yang bersamaan.
mengajariku untuk berani, untuk tertawa dan menangis lebih kuat lagi

berkonfrontasi dalam hidup. akhir-akhir ini aku memilih untuk gencatan senjata. tapi bukan itu. tepatnya aku kalah. hanya saja aku masih bertahan untuk tetap hidup.

apa lagi yang akan kita cari setelah kita tehu tentang semua makna hidup. bahwa hidup terlalu cantik untuk dimaknai. memberikan banyak kesempatan bagi mereka yang mendapatkan rahmat Alloh untuk berkarya dan berbuat lebih banyak. tidak bingung dengan banyaknya pilihan karena mereka tahu bahwa semua pilihan memiliki konsekuensi yang pasti.

ya Alloh.. sering sedih melihat diri yang belum bisa mengendalikan keinginan. dengan dalil ini itu, ya sih.. nggak berlebihan kok. hanya saja kadang aku berkata " i can do more than that!". sayangnya aku hanya kurang berani untuk menantang.

well, mungkin memang hidup yang harus memulai agresinya lebih dulu. seperti cerita peperangan zaman dulu yang mau tidak mau kita harus berhadapan, menyiapkan bekal dan senjata, berkubang dengan darah, juga berdamai dengan maut. wuih...

tapi, mungkin aku memilih untuk agresi lebih dulu. sebelum hari dimulai. hoho..

semalam ke theater lagi. kecewa berat deh. alias nggak dong dengan pementasannnya. tanpa dialog, apa lagi diskusi. pemainnya tuggal. ku bilang ke seorang teman , " Mungkin kita memang bodoh soal seni" . Huah... tapi waktu kita pulang, eh, ada mbak2 yang nawarin jadwal si pemain theter lagi promosikan pementasan gratis untuk 10 pendaftar pertama. we e e... yo wes. tulis aja nama and cp. toh nggak usah harus susah payah lagi untuk cari jadwal and tempat pementasan seperti malam tadi. tapi memang ada satu catatan. mungkin aku akan susah memaknai pementasan tanpa dialog. huh. ironis. TUBUH SEPATU EL CONY. apa hubungannya kebaya dengan bendera Amerika, laki2 pakai sepatu ballet. lantas, kenapa musti tubuhnya dicat putih. hoho.. pertanyaan yang kata moderator silahkan untuk dimaknai sendiri. setidaknya memang kecewa, lantara pementasan yang penuh kritik sosial terhadap agresi di Gaza belum bisa dimaknai secara utuh dan belum ditampilkan dengan apik. menurutku.. orang yang nggak tahu seni.haha.. kacian deh gw.

Yogyakarta, begitulah kota ini. memberikan banyak warna warni. hayo.. siapa yang belum kesini??

tetep aja susah. kebanyakan pementasan malam hari. sayang sekali...

coba aku tulis sebuah syair lagi

(setelah beberapa menit berfikir..)
wah.. nggak bisa!!! nggak ada yang bisa ketulis niy. dududuh...

thanks kawan, telah mengajari bagaimana hidup
maaf, harus sekian kali ku baca untuk menemukan apa yang sedang berpose di kepalamu.

6 comments:

  1. saya pernah ke Yogya tapi sekali aja. Kapan2 mau ke sana lagi akh.

    Btw, saya akan update postingan di blog baru kok. Postingan di blog lama yg saya taruh di blog baru akan diberi tanda, jadi kamu gak bingung lagi. tks ya...

    ReplyDelete
  2. halah... gencatan senjata segala,
    hidup ini ya, jalani semampunya ajalah...

    ReplyDelete
  3. terkadang hidup memberikan nilai pasti. ketika tak ada lagi zaman untuk meletakkan tubuh, tidak ada umur balik, semua berjalan maju, maka siapa yang menantang arus akan terberangus, namun siapa yang mengarahkan arus akan menjadi air bah penghancur kemunafikan. lalu : akupun menjadi tenang sebab aku tahu bahwa rizkiku tidak akan diambil orang lain, akupun beramal sebab amalku tidak akan dikerjakan orang lain...yeach..

    ReplyDelete
  4. lhoh kok komentku kok atas nama ppnsi, ha ha ha ha afwan yo Tien, omr

    ReplyDelete
  5. membiarkan hidup seperti air mengalir begitu saja? kynya nggak deh..

    ReplyDelete