Friday, July 31, 2009

milik mereka di ujung waktu

hands of attien...

sekiranya tidak bisa tertawa
tidak senang
tidak sedih
kiranya begitu

yang mereka tahu
gelap bukanlah terang
yang dengannya masih terus mengejawantahkan kelam
menggigil
sendirian

yang cita itu tinggal berada di ujung waktu
puntungnya saja
dipungut dari jalanan orang-orang
yang telah mengebulkan segala kesenangan
meski mereka semua saat itu
tetaplah sendirian

orang-orang itu terus memungut waktu
meneriakkan zaman
sambil mencumbui nasib
mendekapi aib
aib kemiskinan
aib kelaparan
yang semakin busuk baunya

lalu keesokannya
tetap saja
tidak senang
tidak sedih

begitulah waktu menyelimuti kota
kota-kotaku
kota-kotamu
kota-kota mereka semua

tinggal secuil
gubuk-gubuk mereka
biar di pungut lagi
milik mereka ada di ujung zaman

Tuesday, July 28, 2009

birumu, karangku

hands of attien...



satu-satu
dari sini
sisi tepianmu
ku hitung gelombang berapa buih yang sampai
sedang suaranya terus mengemuruh
tiada jenuh

menggulung berguling kemudian membuncah bertingkah

dari palung-palung
memburu
ukiran ayat yang medayu bersama merdu yang tiada sayu
dikejauhan
bersama biru
bersama haru
bersama lalu
bersama-sama waktu

ditepian aku
aku diceburui senja setiap sorenya
meski gemitangnya usai itu berbinar-binar tiap malam
hingga fajar
pastikan biru tetap membahana

lalu bergelayut lagi angin-angin
menerpa wajahku wajahmu
masuk ke paru-paruku paru-parumu
bangkitkan gelaknya seperti gelak riak-riak gelombang yang bergembira

kuhitung lagi satu-satu
barisan buih yang sejukkan mata didatarannya yang masih biru
terus bergemuruh
yang kuatnya tak juga tumbangkan karang ditepian
karangku yang kesepian
karangku yang sendirian
yang di cemburui senja yang warnanya berikanku kesunyian

Sunday, July 19, 2009

hands of attien...

kutitipkan
pada angin senja yang telah pergi
padamu
berharap bulan pantulkan sinarnya tuk lukiskan wajahmu yang purna cahaya

Wednesday, July 15, 2009

batu-batu

hands of attien...

batu-batu berserakan
ke timur, ke barat
tak beraturan
menantang zaman

disini
orang-orang sakit terbiasa sabar
orang-orang lapar terkapar
pengangguran jadi pajangan
sarjana hanya jadi harapan

tanahnya subur
katanya
padi ramai menguning sepanjang tahun
katanya
air masih dari segala penjuru
juga dari hulu
begitulah dari dulu
katanya

dijalan-jalan
orang-orang berpantomim
sambil berlaga
senang sesenang-senangnya
tertawa setawa-tawanya

namun tiba-tiba angin bergemuruh
berpilin bersama batu-batu
tiba-tiba semua jadi termangu
tergugu

usai itu mereka menangis
meraung-raung
topeng-topeng pantomim mereka hilang
remuk
besama batu-batu yang berserakan
yang telah jadi abu
dizaman batu

Monday, July 13, 2009

pancaroba

hands of attien...

aku tidak tahu apa yang aku mau
masih
mengais-ngais

ingin sepertimu
tidak senang
tidak sedih
berkalang dengan angin dingin pancaroba zaman

bertenggernya para merpati berlimpah cahaya
sarangnya jadi bunga
berduet bersama angin dan matahari
di pancaroba

sore jadi malam,
malam jadi kelam
dinginnya menyelimuti kotaku
di pancaroba

entah pagi dingin
siang begitu membakar
sedang hatiku masih berbuku-buku
masih gerimis digalang rindu

oh...
terkapar saja aku di senja
meski tak ada pelangi
yang kuharap
pancaroba hanya datang di kelamku saja

Thursday, July 9, 2009

malam

hands of attien...

disimpang waktu
aku menunggu kereta kudaku
berpacu dengan purnama di malam yang sempurna

terpasung diam
bersama batu-batu
dilempari batu-batu
mengerling pada pedih yang semakin gerimis
aku, mengaku

kupasung janji
aku telah lupa
menggurat sederetan flash peristiwa bersama petir-petir takdir


lalu aku bermain cinta
sambil menggenggam bola-bole
berubah menjadi lampion-lampion yang dungu
sedang malam hitam semakin abu-abu

aduhai...
setidaknya matahari selalu setiap setiap cahayanya
sedang aku, setia pada kelamku
pada malam yang sudah jadi abu

Sunday, July 5, 2009

hands of attien...
1#
dibatas cakrawala pantai itu...
dibawah kali langit biru itu...
...

2#
ditingkahi deru debur ombak.
biru laut berkejaran berlomba menggapai...
cakrawala anggun bertabur awan putih.
Baron..

3#
setangkup..
ingin ku urai.
menjadi mantra mantra tanpa aksara
menjadi nada nada sarat makna
agar..
tak lagi jumawa
mengerling pada jiwa yang nyaris terkapar

4#
...
merangkat memgais sketsa...
tertatih mengeja baik demi bait...
bola mata kian sayu...

lirih berkata...

rindu

hands of attien...

berdamai dengan waktu.
setelah sekian lama bermusuhan dan tak helaknya mungkin sekedar untuk menoleh masa lalu. melihat jogja ketika siang, malam, siang, malam dan begitu seterusnya. ternyata dimensi dunia ini terus berubah dengan semaunya. walhasil.. banyak kita yang tertipu

kehidupan dunia ini sangatlah panjang. dan usia kita akan hanya berlalu saja. sejenak pun tidak. lalu, berapa sih yang kita miliki??

sejak dulu itu, selalu. ah, lelahnya...

muak juga dengan keramaian.

kadang ingin seperti Abdurahman yang mampu berbagi dengan alam dan pagi. teduhnya hutan kecil-kecil itu...

lelah dengan tawa
setidaknya membuatku terbungkam

berbagi?
selalu akan begitu.
sepinya...
memilih untuk jadi kotak sampah. baik lah.. asal jangan sumpah serapah aja.

"jika kau memberikan perhatian pada dunia, dia akan mentertawakanmu.. "


itulah, setidaknya garis merah yang cukup ku rangkum dengan segala lelah.

rindu seperti beberapa waktu yang lalu
ketika do'a tak henti untuk dipanjatkan
rindu...
ketika begitu dekat rasa ini...
ketika gerimis air mata ...
ketika dan ketika itu...
moment-moment yang lebih cantik dari perunggu itu...
aku rindu

Wednesday, July 1, 2009

rumah cahaya

hands of attien...

sonet seorang santri

sering aku bermanja pada dinding
saat guruku hadirkan ilmu
yang bersamanya malaikat
lalu alam-pun bersyafaat

pernah juga aku berpura-pura
diantara mereka yang khusu' pendengarannya
lalu aku cemburu
yang lain telah mengusung ilmu
sedang aku...

juga kadang-kadang aku sengaja ke alam mimpi saja
yang meraih imajinasi
padahal waktu itu
surga tengah menawarkan segala

ah, kasihannya aku
dan kini pun menderita
bertemu sesal

adakah lagi
mencium wangi surga
bersama guru dan para santri
di rumah cahaya
ah cahaya...

rumah cahaya (mb Ria)
hands of attien...

ku titipkan sajak-sajak ini untuk mu
pada angin yang menuju kesana
pada air yang bersama hujan kan turun disana
pada awan yang juga memandangmu disana


matahari terik
hari-hari selalu begitu
bulan kelam
tapi tiap alam tidaklah begitu

kuhembuskan rindu
pada tiap baik do'aku
bagimu
selalu tak lekang usai sujudku