Mata Sandy berkaca-kaca. Tak kuat menahan bendungan bening itu. ia menjemur diri dibawah bintang malam. Terlalu larut untuk seorang gadis yang masih berada di luar rumah. Namun Sandy adalah Sandy. Dia adalah gadis yang tidak kenal aturan. Bukan, bukan berati ia tidak memiliki etika. Selama tidak ada yang dia rugikan, meski membahayakan dirinya, ia akan terus melakuan apa yang dia mau.
Dia pandang lebih lekat langit malam itu. Tidak ada bulan. Hanya bintang dan hanya beberapa. Tidak seperti malam yang biasanya. Malam ini ia mendapati awan-awan putih yang menjadikan malam seperti siang. Meski tanpa matahari.
Dia menekuk kakinya. Menempelkan siku kaki ke dagunya. Semakin lekat kebadan ia rekatkan tangannya mengelilingi kaki. Dan menggigit giginya sendiri. Bukan karena menahan dingin angin malam itu.
“ Tolong aku… “. Ucapnya lirih.
Sudah tiga matahari ia tidak menjumpai kekasihnya. Laki-laki itu…
***
“ Sandy. Hoi! Senyum-senyum sendiri. Ngapain sih?”. Tiba-tiba Intan menghampiri Sandy yang sedang melamun di taman gedung pusat kampus biru itu.
“ Hoh. Nggak papa kok. Tenang aja“. Jawab Sandy gampang.
“ Hm… gitu ya.”.
Sandy tidak menggubris keberadaan teman dekatnya itu.
Mereka diam.
Tidak ada kupu-kupu di taman itu. hanya ada hamparan hijau rumput yang tampak seperti permadani yang lembut. Mereka duduk di tangga naik balairung. Sebutan untuk ruangan luas itu. Sejuk memang menikamti sore disini. Juga mereka berdua.
Cahaya matahari semakin redam. Namun mereka semakin membisu. Juga bisu Sandy sore itu. Mungkin biasa bagi kebanyakan orang, tapi tidak untuk Intan.
“ Sand, ada apa sih?.” Intan membuka pembicaraan lagi.
Sudah satu jam mereka duduk bersama. Tapi tidak ada juga pembicaraan yang Sandy janjikan.
“ Katakan padaku.”. Intan memulai lagi.
Ada senyum yang tiba-tiba terkembang dari wajah Sandy.
“ Tan...” Akhirnya Sandy buka mulut. Namun tatapannya masih memandang kosong.
“ Aku jatuh cinta”.
Sandy tertunduk lemas.
“ Hahaha…. Hoh, si Sandy lagi jatuh cinta toh! Sama siapa Sand… ??? Hahaha.. akhirnya kau menemukan orang yang bisa meluluhkanmu. Hahaha…. “. Intan tertawa lepas. Kegirangan dengan berita yang baginya adalah berita gembira. Hanya saja tiba-tiba pohon tua depan balairung bergoyang tertepa angin besar sore itu. Dan beberapa burung yang bertengger disana terbang membuncah, mengudara mengitari pohon.
Sandy hanya tersenyum. Namun tiba-tiba sore itu menjadi sangat gelap. Dan belum tawa Intan berakhir, mereka telah terusir hujan besar dengan kilatan petir dan disusul guntur yang bergemuruh.
Hati Sandy pun sebenarnya sedang bergemuruh, namun gemuruh yang lembut. Ah cinta…
Sandy menarik tangan sahabatnya tiba-tiba. Bukan segera bernaung ke dalam gedung. Namun diajaknya Intan turun dari tangga dan menuju tengah-tengah permadani hijau itu untuk bergabung dengan hujan.
Mereka berdua tersenyum. Merentas hujan di tengah kegelapan dan kelam. Dan senyum mereka berubah menjadi tawa, dan tawa itu menjadi lepas. Kodok-kodok yang bersembunyi di selokan keluar mengkhawatirkan mereka, juga burung-burung yang belum lama berputar-putar di pohon tua itu masuk kembali bersembunyi di balik ranting-ranting lagi, ketakutan.
Tiba-tiba juga terbesit rasa ketakutan dalam kepala Intan yang tanpa sebab. Dan merubah senyumnya menjadi kelam setelah melihat langit yang makit hitam.
“ Sandy. Udah ah! Ayo pulang.”
“ Nggak ah. Aku mau disini. Pulang lah!” Jawab Sandy.
“ What! Ninggalin kamu sendiri disini? Lihat, ini dah gelap. Kita udah basah kuyup. Ayo pulang”. Timpal Intan sambil menggaet tangan Sandy.
“ Kau seperti nggak mengenalku. Aku mau disini!”. Ditarik kembali tangannya. Sandy masih dengan senyumnya dan sedikit lantang menjawab ajakan Intan.
Intan terdiam. Ah, sejak dulu memang tidak ada yang mampu memaksakan kehendak pada temannya itu. Yang keras kepala dengan segala keinginan.
“ Baiklah kalau kau mau disini. Aku pulang dulu. Tapi hati-hati. Hari sudah mulai gelap. Kau anak perempuan. Jangan pulang larut malam!.” Intan mengingatkan. Hanya saja ucapannya barusan memang tidak di gubris. Sandy masih terus senyum dan kadang-kadang tertawa di bawah hujan besar itu. Menengadahkan wajahnya untuk air-air yang jatuh langsung dari langit.
Badan dua gadis itu telah kuyup terguyur hujan. Juga wajah mereka yang basah, bibir yang sedikit membiru menahan dingin air dan angin. Bedanya, hanya Intan yang menggigil.
Plap plap…!!! Kilat tanpa petir memotret mereka dari langit.
Sambil mendekatkan tangannya ke badan, Intan lari meninggalkan Sandy sendiri diatas permadani yang juga mulai berwarna gelap itu. Tiba-tiba pilar balairung menghilang. Bangunan tua yang sesungguhnya indah itu mulai tampak menyeramkan. Kolosal kekuasaan yang angkuh. Ah, mungkin karena penghuninya hari ini adalah orang-orang yang arogan. Banyak yang mulai mengutuknya. Pretise, golden, seperti zaman kolonial. Intan semakin takut. Namun tetap ditinggalkannya sendiri si Sandy. Gadis keras kepala itu.
***
“ Selamat pagi Intan…”. Sandy menyapa dari sepeda mini yang ia goes.
Hey, ada segepok mawar merah di keranjangnya. Ia turun dan berjalan beriringan bersama temannya itu.
“ Hm... Apa nih? nggak mungkin kan kamu mau ngasih bunga ini ke aku?”. Intan bingung.
“Untuk kekasihku.” Sandy menjawab dengan sedikit malu. Ada merah di pipinya.
Intan bingung. Sedikit berkerut dahi dan sedikit tidak yakin. Ia ingin mengatakan sesuatu, lalu ia tutup dari menganganya itu. Ah… sudahlah. Bagi Intan kebahagiaan sahabatnya itu adalah kebahagiaannya. Tapi… biasanya laki-laki yang memberikan bunga pada seorang gadis. Tapi Sandy adalah Sandy. Begitulah Sandy.
Pagi ini semakin cerah saja…
“ Mm… secepat itu kah? Dan… apakah dia juga menjanjikan akan melamarmu?”. Intan bertanya jelas dengan tidak yakin.
Sandy mengangguk malu. Dua kali. Ah, dasar gadis.
Si Sandy, masih dengan rona wajahnya yang merah itu.
“ Ah!”. Intan terbengong. Ia tahan langkah sahabatnya itu. Diam. Dan matanya terpaku menantap gadis cantik dihadapannya. Ia minta diyakinkan.
Sandy mengangguk lagi. Pelan. Dua kali. Masih dengan rona wajah yang merah itu.
Intan menggeleng kepalanya dengan tersenyum.
“ Kapan kau akan mengenalkannya padaku?”. Intan bertanya.
“ Besok pagi sebelum jam tujuh. Ku tunggu kau di balairung”. Sandy masih tersenyum. Kali ini tampak wajahnya seperti mawar di keranjang sepeda itu.
***
“ Kalau kita nanti jalan, kau nggak boleh jauh-jauh dari aku. Janji ya.” Si Sandy memastikan Intan tidak melakukan hal-hal aneh.
“ Janji!”. Sambil menunjukkan jari tengah dan telunjuknya.
Mereka duduk tenang ditaman yang rindang itu. Dibawah pohon besar yang dikitari kursi mengelilingi meja bundar pada tiap sisinya. Sandi memilih kursi paling timur agar tidak terhalang dengan pandangan pohon besar yang menaungi mereka. Sedangkan orang-orang datang ke kampus itu dengan tergesa-gesa sepanjang jalan yang melintang dari utara ke selatan. Jalan yang melintang disebelah timur taman dimana mereka duduk.
“ itu dia!”. Bisik Sandy.
“ Yang mana?” Intan bingung segera membalikkan badan.
“ Kemeja abu-abu kotak”. Tapi Sandy segera menunduk.
Seorang laki-laki setinggi 175 cm. Kulit sawo matang. Tampak cerdas dengan segepok buku di tangan dan kaca mata minus. Tangan kanannya menjinjing tas laptop. Tapi, tidak begitu tampan menurutnya.
Intan memperhatikan laki-laki itu sampai hilang masuk ke gedung besar sebelah timur. Tepat menghadap tempat dimana mereka duduk.
“Dosen muda di fakultas ini. Orangnya cerdas dan baik. Karya-karyanya luar biasa. “Sandy menjelaskan dengan senyum-senyum sendiri.
“ Hm… sepertinya kau mengenalnya dengan baik.”. Ujar Intan memastikan.
“ Sangat baik.” Jawab Sandy singkat.
Hm… si Intan hanya menganguk-angguk. Ah, dasar orang lagi jatuh cinta. Katanya sih semua jadi rasa coklat.
Termasuk ketika dilihatnya mata Sandy. Hanya ada bintang-bintang.
***
“ Hari ini valentine days. Aku mau kasih dia coklat buatanku.” Ujar Sandy.
“ Wah…. Mana buatku?”. Timpal Intan.
“ Kau Sudah lama tidak main ke kontarakanku.” Jawab Sandy agak cemberut.
“ Maafkan aku ya. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Jadi jarang menemanimu.” Intan merasa bersalah.
“ Nggak papa. Sekarang aku udah nggak minder lagi kok. Tenang aja. Aku kan udah punya dia.” Ada rona merah lagi yang kembang di pipi Sandy.
“ Hahaha.. baiklah. Gitu dong. Jangan mengurung diri terus.” Intan menasehati.
“ Aku mau ke tempat dia dulu ya.”
“ Baiklah. Hati-hati”.
“ Dahh…. “. Sandy segera beranjak dan melambai pada sahabatnya itu. ada senyum yang dicuri oleh Intan.
“ Dahh… “ Intan melambaikan tangannya juga dan menggelengkan kepala. Sepagi ini menemui kekasih…??? Aneh.
Ketika Sandy mulai menundukkan kepalanya lagi. Seperti biasanya ketika ia berjalan di keramaian orang.
Sandy adalah gadis Minang yang sangat cerdas. Dia selalu mendapatkan nilai terbaik di kelas. Pendiam. Namun karena diamnya itulah yang menjadikannya seperti emas. Tidak banyak bertanya di kelas, namun banyak komentar dosen yang memujinya karena ia menjawab soal dengan cara-cara yang kadang belum pernah diajarkan. Ayu, begitu orang jawa bilang. Hitam manis. Hidungnya bangir. Banyak yang menyukainya. Namun hampir semuanya mundur kembali karena gadis ini begitu dingin. Tidak ada respon, kata mereka sih begitu.
***
“ Sandy..! Sand…! Kamu dimana?! Sandy!!!”. Intan segera datang ke kontrakan Sandy ketika tiba-tiba Sandy menghubunginya lewat telpon. Mengisak tangis sebelum sempat berbicara.
Intan menuju kamar, hanya saja kamar itu seperti baru saja terbalik diguncang gempa. Buku-buku berserakan dan peralatan kamar yang tidak pada tempatnya. Komputer yang masih menyala dengan gambar laki-laki itu sebagai dekstop. Dia mendapati juga corat-coret lipstik di cermin pesegi panjang yang tergantung ditembok. Ia ketuk-ketuk di kamar mandi, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ia buka. Namun ia tidak mendapati Sandy. Segera ia ke ruang tengah, didapatinya gagang telpon yang menggelantung.
“ Sandy!!! Kamu dimana? Ini Intan! ” Sekarang tepatnya Intan berteriak mencari temannya.
Tiba-tiba Intan mendapati bercak darah di lantai dapur.
“ Sandy!!!”. Kali ini Intan berteriak.
Dan…
“ Astaghfirulloh….. “. Intan menemukan Sandy dibalik pintu dapur dengan darah yang bercecer dan mengalir dari tangan kirinya. Dan pisau yang terletak di kanan gadis ayu itu.
***
Pagi-pagi Intan menuju ke kampus laki-laki itu. Ia menunggu di pintu masuk gedung yang tempo hari bersama Sandy ia diperlihatkan laki-laki itu. Ia berdiri mondar-mandir. Melongok ke jalan dan memastikan laki-laki yang ia cari. Orang yang masuk ke gedung itu pun tidak nyaman dengan keberadaan Intan.
Namun ia tidak mendapatinya juga. Ah… mungkin laki-laki itu tidak ada jam pagi. Akhirnya ia bertanya pada satpam yang ada disana.
“ Mm… pak. Permisi. Boleh tanya?”. Sapa Intan.
“ Iya mbak. Kaya’nya mbak juga dari tadi kebingungan”. Jawab satpam paruh baya itu dengan sedikit logat jawa.
“ Bapak kenal seorang dosen. Orangnya tinggi, terus.. pake kaca mata, terus… kulitnya sawo matang?”. Intan sendiri ragu bertanya.
“ Wah.. ini fakultas gede mbak. Dosen yang begitu mah banyak. Namanya siapa?”. Tanya satpam.
“ Duh. Saya juga nggak tahu namanya. “ Intan semakin merasa bodoh.
“ Lha… mbak nya ini aneh. Ya apa lagi saya mbak. Soale banyak yang tak temui disini.” Jelas jawabannya demikian.
“ Ditunggu aja didalem. Ada kursi di dalem.” Satpam seragam biru itu menawarkan.
“ Oh. Baiklah. Sepertinya itu ide bagus. Mungkin saya nunggu didalem aja ya pak.” Intan menyerah
“ Yuk mbak”. Satpam itu mempersilahkan masuk.
Ruang lobi yang luas. Dengan ruangan yang menjulang tinggi langsung bisa tampak beberapa aktifitas orang-orang di lantai atas. Pasalnya atap gedung itu langsung dapat dilihat dari lantai satu. Sedangkan koridor perlantai dibentuk mengelilingi gedung. Jadi bolong di tengah. Gedung bertingkat enam itu memang unik. Gedung modern yang juga dilengkapi lift meski sudah ada tangga terpilinnya.
Belum banyak pagi itu orang-orang yang beraktifitas. Ia mencoba tenang. Jam pertama telah ia lewati di luar. Jam ke dua telah berjalan… ia semakin tidak tenang. Akhirnya ia ke toilet untuk membasuh wajahnya yang tegang.
Begitu ia selesai dari toilet dan keluar. Ia mendapati di ujung pintu masuk gedung, laki-laki itu sedang bersama seorang wanita turun dari mobil kijang. Dan yang membuatnya tercengang, mereka berdua sangat lekat. Selebih itu, wanita itu sedang hamil. Mata Intan terbelalak. Mungkin ini yang menjadi alasan Sandy merobek nadi tangannya sendiri. Intan sangat geram. Ditunggunya sesaat sambil mengepalkan tangannya.
Wanita itu memberika tas laptop yang dijinjingnya dari dalam. Dan mencium tangan laki-laki itu. setelah itu melambai ke arah laki-laki itu. Dan menghilang masuk ke dalam mobil lagi dan pergi meninggalkan gedung.
Sekarang laki-laki itu menuju ke dalam gedung. dengan serta merta ia mendatangi laki-laki yang ia tunggu berjam-jam itu, dan …
Plak plak!!! Ditamparnya laki-laki itu. Suara tamparan itu menggema ke seluruh ruangan.
“ Kurang ajar!!! Kamu tahu sekarang Sandy di rumah sakit. Aku tahu kalau ini yang telah menjadi sebab ia mau bunuh diri. Laki-laki macam apa kamu ini! ha?!”. Suara Intan menggema, dan orang-orang disekitar ruangan melongok ke mereka berdua.
Laki-laki itu mematung. Tangannya menahan sakit hasil tamparan dimukanya. Setelah manarik nafas panjang ia berkata.
“ Siapa kamu? Apa urusanmu denganku?”. Laki-laki itu menjawab tenang namun sedikit marah yang terpancar dari mata tajamnya.
“ Kau memang nggak ada urusannya denganku. Tapi Sandy adalah teman baikkku. Kau harus bertanggung jawab atas keadaannya”. Intan lantang dan semakin garang.
“ Sandy??? Siapa dia???”. Tanya laki-laki itu bingung.
Tangan Intan berayun akan menampar laki-laki itu lagi. Akan tetapi kali ini ditahan oleh laki-laki itu dan ia tidak dapat berkutik.
“ Satpam!!!”. Teriak laki-laki itu.
Segera dua satpam yang tadinya hanya bengong, kini segera menuruti panggilan laki-laki itu.
“ Bawa dia keluar. Dasar gadis sinting!!”. Jawab laki-laki itu.
“ Baik pak.” Jawab salah seorang.
“ Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab!!! Siapa wanita tadi?! Hah!”. Intan masih memberontak. Namun tidak juga lepas. Satpam kini yang mengambil alih pengamanan.
Setelah manarik nafas tenang, laki-laki itu menjawab.
“ Wanita tadi adalah istriku. Dan aku sangat mencintainya. Aku tidak faham apa maksudmu, orang gila!”. Jawab laki-laki itu mengejek.
Tangan Intan kini terkunci dibelakang punggungnya sendiri. Ia mencoba memberontak, namun dua orang satpam membuatnya tak berkutik, dia diseret dari ruangan dan dibawa keluar gedung. Segala sumpah serapah keluar dari mulutnya dan menggema di ruangan. Yang lama-lama suara itu menjauh dan menghilang.
Dan orang-orang dapat beraktifitas lagi setelah mematung melihat adegan barusan. Begitu juga dengan laki-laki itu. Namun ada beberapa pertanyaan dikepalanya yang tidak terjawab.
Laki-laki itu mencoba tenang. Mengambil nafas dan merapikan kemejanya. Menuju lift dan dipejetnya tombol naik. Ke lantai empat.
Sesampai di ruangannya, Ia berujar pada sekertarisnya.
“ Makasih ya. Berkat bantuanmu, sekarang aku sudah berdamai lagi dengan istriku”. Ujar laki-laki itu pada sekertarisnya.
Kehormatan bagi gadis berkaca mata itu untuk pertama kalinya disapa setelah dua minggu bekerja dikantor itu oleh bosnya yang dingin
“ Hm… apa hubunganya dengan saya?” tanya seketarisnya ragu
“ Bingkisan yang juga ku titipkan padamu itu. di dalamnya ada surat permintaan maafku. Bahwa aku tidak jadi menceraikannya” Jelas laki-laki itu.
“ Apa hubungannya dengan istri anda?” Tanya sekertaris itu bingung.
“ Coklat, es krim, bunga-bunga itu, dan buku-buku roman itu.” Jawab laki-laki itu.
“ Maaf pak. Kartunya memang tanpa nama. Tapi saya tidak pernah bilang kalau itu dari istri anda”. Sekertaris itu juga sedikit bingung.
Tiba-tiba saja laki-laki itu terpaku.
“ Jadi… siapa?”
“ Entah. Tapi dia selalu berada ditaman depan tiap pagi. Menunggu saya, dan menitipkan bingkisan-bingkisan itu untuk anda.”
Laki-laki itu terbengong.
Ia membuka kembali kartu-kartu yang menyertai bingkisan-bingkisan itu dari laci mejanya. Semuanya berwarna mera mudah. Dihitungnya kartu-kartu itu. satu, dua, tiga… ada 10 kartu. Berarti sudah ada 10 bingkisan yang pernah ia terima dari orang itu. Setiap pagi di hari kerja. Tapi, orang itu bukanlah istrinya.
“ Apa hari ini ada?”. Tanya laki-laki itu pada sekertarisnya.
“ Hari ini tidak ada”. Jawab sekertaris itu.
Laki-laki itu terpaku. Ia buka kembali kartu-kartu itu. Kartu cantik merah muda itu semua bertuliskan rangkaian kalimat yang sama.
I LOVE YOU
Semua sama.
Ia hanya bisa menggelengkan kepala.
Siapa dia???
***
“ Lepaskan aku!!! Ada apa ini? hey!!!” jerit Sandy dari kamarnya.
Sedangkan Intan hanya meneteskan air mata dibalik jendela. Melihat sahabatnya terjerat diatas tempat tidur dengan tali-tali yang menahan tangan dan kaki. Juga luka ditangan kiri yang belum kering. Luka yang hampir menghabiskan seluruh penghidupan Sandy.
“ Hey bodoh!!! Hugh. Lepaskan aku!!!”. Jerit Sandy lagi pada perwat-perawat yang menahannya.
“ Intan!!! Tolong aku…!!! Apakah kau tidak mau menolongku??! “.
Intan hanya menggeleng. Air matanya semakin deras
“ Maafkan aku Sandy.. “. Gumamnya lirih.
Dan diruangan itu…
“ Intan, katakan padanya untuk menyelamatkanku dari sini!!!”
Intan masih mendengar Sandy meminta tolong.
“ Lepaskan!!!”. Kali ini Sandy mengerang.
“ Aku yakin dia pasti segera datang menyelamatkanku dari orang-orang aneh ini. Dia juga pasti akan segera menceraikan istrinya yang kurang ajar itu dan datang kembali padaku!!!”. Sandy masih berbicara dengan Intan.
“ Intan!!! “.
Intan masih mendengar temannya itu memanggil namanya.
Dan juga kata-kata yang lain, yang lama kelamaan hilang di kejauhan dengan lirih yang sakit setelah dimasukkan dalam tubuh Sandy cairan penenang.
Ada sesak yang terasa di dada Intan. Mengapa ini harus terjadi pada Sandy, gadis ayu itu.
***
3 TAHUN KEMUDIAN…
“ Pak, permisi. Ada bingkisan untuk bapak”.
Sekertaris laki-laki itu menyerahkan rangkaian mawar ke meja bosnya.
“ Dari siapa?”. Tanya laki-laki itu dari balik laptopnya.
“ Tanpa nama”. Jawab sang sekertaris.
“ Hm.”. Laki-laki itu hanya mengangguk.
Dilihatnya rangkaian mawar itu. Sedikit bingung. Lalu Ia ambil rangkaian bunga itu dan dilihatnya ada kartu yang menggantung di salah satu tangkai. Warna merah muda. Kartu yang cantik, pikirnya. Diambilnya kartu itu. Dejavu?? Tidak, hanya saja ini tidak asing.
Wajahnya sedikit mengkerut. Dibukanya kartu cantik itu. Didapatinya juga kalimat yang tidak asing.
I LOVE YOU
Sandy. Gadis ayu itu.
He loves me, he loves me not.
Wednesday, December 24, 2008
Friday, December 19, 2008
PRISMA BENING
Gadis ini hanya ingin merasakan sari pati hidup.
Warna yang dia hitung dalam perjalanan pendakian ini tidak banyakk. Dia memanggil Hi sepanjang perjalanannya. Pada warna dahan-dahan yang lebat dari pohon-pohon rindang si kanan kiri jalan yang ia tapaki. Tapi yang membuatnya bahagia adalah beberapa warna lain yang juga pernah ia temui sebelumnya. Yaitu pada beberapa tumbuhan setinggi badannya. Apakah itu pada bunga, atau buah.
“Hijau, kali ini kau tampak lebih ceria”. Ujar Cin.
Membungkus bumi dan juga menjadi Hi. Sahabat Cin.
Setelah itu ia hanya tersenyum mencapai puncak. Aku puas… katanya. Namun langit tiba-tiba mendung subuh itu. Membuat team pendakiannya bingung. Perkiraaan cuaca telah salah mereka perhitungkan. Dan akhirnya teamnya memastikan untuk segera mengakhiri pendakian itu. Namun tidak baginya, ia hanya ingin menanti matahari terbit dari timur. Biar hanya fajar yang ingin ia temui dari tempat yang lebih dekat dengan langit dan segera sujud diatas batu paling lapang.
Ah…. Biar sekalian aku merasakan airMu disini. Lebih dekat denganMu…
“Kalian pulanglah dulu. Aku menyusul…”. Kata Cin pada sahabat-sahabatnya.
***
“ Hey Cin, lihat itu”. Ni menunjuk pada warna yang lebih ceria dari pada dirinya, warna Ku. Pada pohon buah jambu biji.
Mata si Cin membelalak mencari arah telunjuk sahabatnya itu. Dia mendapati si Ku yang ranum itu berada di ujung batang yang sedang ia injak. Sunyi, ia diam menyusuri secara perlahan menuju ujung itu. Kakinya lihai menjaga keseimbangan. Sedang tanganya berpegang pada dahan diatasnya. Semakin dekat dan dekat dengan warna itu… dan
“ Aaaaa…. !!!! “.
Bruk!!! Dara kecil itu telah terlentang di rerumputan yang basah karena hujan pagi tadi. Rupanya air cukup membuat licin batang pohon jambu.
“ Cin…!!!”. Teriak Ni.
“ Duh… aduh! Sss…. Sakit”. Si Cin merintih merasakan ada yang salah dengan punggungnya. Ia mencoba untuk meraba, memastikan tidak terjadi apa-apa dengan punggungnya itu.
“ Nila, kamu aja yang ngambil!. Sakit nih! Sayang tuh. Kuning cantik banget. Pasti manis”. Si Cin masih bisa berujar lantang.
Ah.. semanis apa ya kalau warnanya se-ceria itu? pikirnya.
Ni bingung. Dasar keras kepala.
“ Iya. Tar kita ambil pake kayu aja. Kamu nggak papa kan?”. Ni yang masih berada di atas pohon memastikan temannya baik-baik saja dengan segera turun.
“ Hey, bodoh!! Kamu disitu aja. Biar aku yang ambil kayunya. Mumpung kamu masih disitu.”. dengan teriak lantang pada sahabartnya, Si Cin mencoba bangun dari posisi terlentangnya. Mencoba segeara berdiri untuk mengambil genter agar misi pengambilan si Ku segera bisa dilakukan lagi.
“ Aaaa…!!! Aduh!!!”.
Tiba-tiba minggu pagi yang cerah itu menjadi gelap dimata Cin. Gelap sekali.
Langit dengan terang matahari saat itu menampakkan kelam tiba-tiba. Si Biru yang bertengger bersama mereka meneriaki Ni dengan keras.
“ Nila, bangunkan dia!”
Ni hanya menggeleng cemas.
“ Bi, kita bawa Cin pada yang lain!”.
Kisah 10 tahun silam mereka. Awal-awal Cin ingin meraih Ku.
***
“ Masa’ aku dibilang lugu, lucu!! Huff… lalu ku tanya. Pilih ku lempar sepatu atau sendal. Nggak sopan!”. Si Cin tiba-tiba marah sepulang dari kampus sambil masuk ke kamarnya yang sepi dan juga setia pada sunyi.
Malayang dipikirannya. Tiba-tiba ia lari keluar kamar dan menatap langit, bolehkah aku lebih dekat denganMu??? Meski hanya dengan BiruMu??? Dengan Bi lagi…
Tiba-tiba langit menghitam. Dan menyiramkan air dari hasil kondensi awan dilangit kewajah Cin.
“ Biarkan aku merasakan BiruMu. Si Bi...”
***
“ Hahaha.. Cin… cin. Kau lugu sekali. Lucu lagi! Ckckck… “.
“ Hey Ungu! Kalau kau bilangin aku lugu, akhwat lain itu akan kau bilang apa?!”. Nada Cin agak tinggi. Hari ini ia telah merasa kalah. Kalah dengan dirinya sendiri.
“ Kau tahu? ada bendera kemenangan di istana itu. Semakin kau gubris ultimatum dari mereka itu. Semakin jaya mereka!!. “. Bendera kebodohan semakin berkibar-kibar dikepalanya, setelah U, warna seperjuangannya itu, memberikan penjelasan yang sama sekali ia tidak faham.
Ditambah senyum kemenangan U, semakin gelap tampak wajah gadis itu.
“ Apa maksudmu?”. Si Cin bertanya kalah.
“ Mantan pejabat disana bilang… ‘makasih mbak, kalau mbak, mas dan kawan-kawan tidak berdemo, saya tidak akan bertahan disini’. Kamu tahu nggak artinya apa? Itulah guna mereka berada di kaki penguasa. “
Brengsek!!! Hanya karena itu??? Terlalu murah harga mereka. Dengan sedikit sunggingan, muncul juga senyum kesombongan yang dihembuskan iblis penghuni ruangan yang sering kosong itu pada si Cin. Namun malaikat menghapus senyum yang mengerikan itu.
“ Astagfirulloh…. “. Tiba-tiba wajah si Cin tertunduk.
Demi Alloh dia sudah menggadaikan segala jiwa raga. Apalah harga badannya yang telah sakit itu dibanding dengan perdagangan yang telah ia sumpah.
U hampir menemaninya tiap hari. Di sudut-sudut ruang kosong yang menganga di hati Cin. Selalu mewarnai wajah Cin yang harusnya merah seperti kebanyakan teman-temannya. Hanya saja karena telah berbaur dengan Bi, dan U menjadi sahabat setia si Cin.
‘Wah… kamu cocok pakai baju itu.’. ah! ini mah pasaran! Warna pink yang selalu ia hindari.
‘ hm… anak gadis tu mbok yang rapi kamarnya!’ cita rasa yang bagi Cin tidak penting!
‘ wah… mbak Cin kok hari ini beda ya? ’. Padahal ia hanya ingin merasakan warna asing yang menghampiri dirinya.
‘ anak yang kaya’ gini, kalau nggak bisa dibina, ya dibinasakan!’ Warna yang sangat bodoh menurutnya. Bukan warna yang baik. Ia membuang lepas ke arah yang paling jauh.
‘ baru ini seumur hidup aku menghadapi mahasiswa seperti ini!’ Warna gila, yang Cin tetap menjaga sikap takzimnya karena lebih tua. Penguasa istana mega. Ah, gelap. Cin tidak suka.
Baginya. Ini juga cita rasa hidup. Namun terilfiltrasi oleh prisma beningnya.
***
“ Teman-teman ikuti komando saya! Setelah hitungan ketiga, lempar tomat yang ada ditangan kalian ke arah foto ini”.
Jilbab gadis itu berkibar-kibar memberi semangat bersama angin di hari jum’at. Di ujung jalan Malioboro, depan gedung Agung.
Semakin lantang suaranya. Ia memimpin barisan yang ada dibelakang. Yang pasukannya terdiri dari makhluk yang sejenis dengannya. Sedangkan barisan yang berada didepan, menggenggam panji-panji agar terus berkibar dengan nasyidujjihad mereka.
“ Satu, dua tiga!!!”. Teriak gadis itu memberi komando dengan toa ditangannya.
Dan tomat-tomat segar itu, dari tangan-tangan pasukan menuju satu arah perjuangan. Membidik gambar penguasa saat itu. dan mereka mengaku mewakili rakyat yang jauh lebih ingin memaki si penguasa itu.
Namun tiba-tiba, Cin bahagia bisa merasakan sari pati yang baru kali ini ia rasa. Warna orange dari tomat-tomat yang jatuh kembali ke aspal tiba-tiba menjadi pucat. Pasalnya warna cairan yang keluar dari hidungnya memberikan cita rasa yang baru. Dan semakin jelas warna itu ketika disapu tisu putih yang dia ambil dari kantung jaketnya.
Dia tersenyum puas. Warna cairan itu… Me.
“Merah, selamat datang”. Ujar Cin pada Me dengan senyum.
Semakin dekat denganMu…
Biarkan aku merasakan sari pati hidup. Cin berucap lirih lagi.
***
Warna yang terpendar dari prisma jiwa gadis ini telah mewarnai dinding putih yang bisu itu. Dia menghitung bahwa dia telah menemui segala warna yang diinginkannya. MeJiKuHiBiNiU sudah semua. Dan masih setia menemaninya setiap hadir matahari setiap pagi, dan menghilang ketika mulai senja di barat. Berganti dengan bulan. Mungkin Ta ada disana. Tidak juga. Ah rindunya…. Ta sepertinya suka bersembunyi di balik awan. Memang suka bersembunyi di balik awan
“Terima kasih.. “. lirih Cin berucap.
Ta. Warna yang dirindunya. Sebelum pulang ia ingin menemuinya. Kali ini ia memohon. Terakhir ini saja.
“Temui aku pada Ta… Ku mohon… “ . Ujar Cin berbisik pada sahabatnya yang bersembunyi didalam prisma bening ditangannya.
Lalu, Prisma bening miliknya itu, ia letakkan pada fajar yang menjelang subuh. Biar dingin beku pagi ini di luar ruang kosong hatinya, tak apa. Di taman itu.
“Datanglah kalian pagi ini bersama Ta… ajak dia sekali ini saja. Ku mohon…“. Kata Cin dengan raganya yang setengah sadar.
Dan ketika matahari telah datang pada hari, datanglah Ta diiringi teman-temannya yang lain. Dan Cin kali ini mampu membuka mata setelah gelap satu purnama.
“ Terima kasih. Ta.. “.
***
Aku hanya ingin merasakan sari pati hidup.
Begitu kata Cin tiap matahari mendatangi hari.
“Kalian pulanglah… sungguh. Biarkan aku bersama Ta. Kali ini saja. “
Akhirnya teman-teman Cin pulang. Tersapu mendung yang tiba-tiba. Mereka melambaikan tangan pada Cin.
“Terima kasih telah mengatarkanku sampai sini. Maafkan segala kesalahanku. Dan sampaikan maafku pada mereka yang telah ku sumpah serapah. Kalian pulanglah dengan hati-hati. Jaga prisma beningku baik-baik”. Pesan terakhir Cin pada sahabat-sahabatnya.
Dan merekapun tersenyum untuk terakhir kali pada Cin. Tugas mereka selesai setelah membawa Ta padanya. Cin sangat menjaga sahabat-sahabatnya itu. karena mereka selalu tersenyum. Dan membuat wajah Cin selalu tersenyum di tiap matahari.
Namun kali ini, setelah sahabat-sahabat Cin turun dari puncak pendakian itu, Cin meneteskan air mata. Bening dan lembut. Ta menghapusnya.
“ Kau tak sendiri lagi Cin”. Ucap Ta.
“ Makasih Ta. Sekarang, hantarkan aku pada pemilikku dan pemilikmu. Ku mohon… ”. Ucap Cin lirih.
“ Jangan Cin, jangan sekarang. Aku baru saja menemuimu, dan kau akan meninggalkanku?”. Ta tidak rela melepaskan.
“ Tidak. Setelah aku pergi, ambillah prisma bening di taman yang pernah kita tanami krisan. Ada mereka sahabatku didalam prisma bening itu. tempat mereka pulang. Kau telah mengenal mereka kan? “.
Cin diam sejenak untuk mengambil nafas. Nafas-nafas di hitungan akhir.
“ Mereka yang barusan menjemputmu, dari balik awan”. Senyum Cin mengembang.
“ Cin…”. Ta tak mampu berkata lagi
“Ssstt… ucapkan saja ditelingaku syahadat. Biar aku mengikutimu. Aku sudah merasakan sakit ditenggorokan. Ku mohon… “. Cin masih tersenyum. Meski tanpa sahabat-sahabatnya.
Sedang hitam menatap wajah Cin di langit. Menangis rintih…
“ Ku mohon. Sampai aku menutup mata.” Lirih Cin.
Ta hanya mampu mengangguk.
Cin tersenyum. Dan semakin tersenyum mendapati rintik-rintik hujan maaf dari hitam diatas. Sejuk…
Hitam pun berujar…
“ Selamat datang Cin. Kau merindukan ini bukan…??? datanglah dengan keikhlasanmu…”.
Cin pun mengangguk lembut.
“Laailaaha.. illalloh…. “ Ucap Ta dekat telinga Cin.
Dan dengan terputus-putus Cin mengucapkannya…. Ia telah mengucapkannya… kalimah tertinggi itu.
Rintik-rintik hujan dari langit diatas semakin lebat. Membasahi kota dimana Cin meninggalkan semua. Menuju Robb Izzati. Namun hanya sekejap. Usai itu matahari bersinar lagi. Hitam pun pergi. Bersama Cin.
Ta menepati janji untuk mengambil prisma bening itu. Di taman krisan yang kata Cin mereka pernah membangunnya. Dan setelah mendapati prisma bening itu, terpendar dari beningnya sahabat-sahabat Cin. MeJiKuHiBiNiU.
Ta pun terkaget, takjub. Mereka Mengiringi Cin datang kembali padanya. Pada Ta yang tercipta kuat, dan yang telah melengkapi sari pati hidup Cin di akhir masanya. Cin yang baru saja meninggalkannya.
Kali ini sahabat-sahabat Cin itu mengatakan pada Ta dengan koor yang merdu secara bersama-sama….
“ Cin ini adalah milikmu. Tapi ia belum mengenalmu. Jaga dia baik-baik...”. Hanya syukur yang terucap dari bibir Ta. Ia takjub, bingung, dengan segala rasa yang tak ada kata yang mampu mewakili.
Setelah menenangkan diri, Ta Memberanikan diri untuk mengenal Cin yang baru.
Ta pun berujar lirih sambil menatap langit yang disaksikan Biru …
“ Cin, aku akan menjaganya…”
Cin pun hanya tersenyum, melirik Ta dari balik awan.
Entah, Ta yang mana yang akan dihantarkan Ar-Rahman untuk menemaninya kali ini.
Miss you Azzam
Warna yang dia hitung dalam perjalanan pendakian ini tidak banyakk. Dia memanggil Hi sepanjang perjalanannya. Pada warna dahan-dahan yang lebat dari pohon-pohon rindang si kanan kiri jalan yang ia tapaki. Tapi yang membuatnya bahagia adalah beberapa warna lain yang juga pernah ia temui sebelumnya. Yaitu pada beberapa tumbuhan setinggi badannya. Apakah itu pada bunga, atau buah.
“Hijau, kali ini kau tampak lebih ceria”. Ujar Cin.
Membungkus bumi dan juga menjadi Hi. Sahabat Cin.
Setelah itu ia hanya tersenyum mencapai puncak. Aku puas… katanya. Namun langit tiba-tiba mendung subuh itu. Membuat team pendakiannya bingung. Perkiraaan cuaca telah salah mereka perhitungkan. Dan akhirnya teamnya memastikan untuk segera mengakhiri pendakian itu. Namun tidak baginya, ia hanya ingin menanti matahari terbit dari timur. Biar hanya fajar yang ingin ia temui dari tempat yang lebih dekat dengan langit dan segera sujud diatas batu paling lapang.
Ah…. Biar sekalian aku merasakan airMu disini. Lebih dekat denganMu…
“Kalian pulanglah dulu. Aku menyusul…”. Kata Cin pada sahabat-sahabatnya.
***
“ Hey Cin, lihat itu”. Ni menunjuk pada warna yang lebih ceria dari pada dirinya, warna Ku. Pada pohon buah jambu biji.
Mata si Cin membelalak mencari arah telunjuk sahabatnya itu. Dia mendapati si Ku yang ranum itu berada di ujung batang yang sedang ia injak. Sunyi, ia diam menyusuri secara perlahan menuju ujung itu. Kakinya lihai menjaga keseimbangan. Sedang tanganya berpegang pada dahan diatasnya. Semakin dekat dan dekat dengan warna itu… dan
“ Aaaaa…. !!!! “.
Bruk!!! Dara kecil itu telah terlentang di rerumputan yang basah karena hujan pagi tadi. Rupanya air cukup membuat licin batang pohon jambu.
“ Cin…!!!”. Teriak Ni.
“ Duh… aduh! Sss…. Sakit”. Si Cin merintih merasakan ada yang salah dengan punggungnya. Ia mencoba untuk meraba, memastikan tidak terjadi apa-apa dengan punggungnya itu.
“ Nila, kamu aja yang ngambil!. Sakit nih! Sayang tuh. Kuning cantik banget. Pasti manis”. Si Cin masih bisa berujar lantang.
Ah.. semanis apa ya kalau warnanya se-ceria itu? pikirnya.
Ni bingung. Dasar keras kepala.
“ Iya. Tar kita ambil pake kayu aja. Kamu nggak papa kan?”. Ni yang masih berada di atas pohon memastikan temannya baik-baik saja dengan segera turun.
“ Hey, bodoh!! Kamu disitu aja. Biar aku yang ambil kayunya. Mumpung kamu masih disitu.”. dengan teriak lantang pada sahabartnya, Si Cin mencoba bangun dari posisi terlentangnya. Mencoba segeara berdiri untuk mengambil genter agar misi pengambilan si Ku segera bisa dilakukan lagi.
“ Aaaa…!!! Aduh!!!”.
Tiba-tiba minggu pagi yang cerah itu menjadi gelap dimata Cin. Gelap sekali.
Langit dengan terang matahari saat itu menampakkan kelam tiba-tiba. Si Biru yang bertengger bersama mereka meneriaki Ni dengan keras.
“ Nila, bangunkan dia!”
Ni hanya menggeleng cemas.
“ Bi, kita bawa Cin pada yang lain!”.
Kisah 10 tahun silam mereka. Awal-awal Cin ingin meraih Ku.
***
“ Masa’ aku dibilang lugu, lucu!! Huff… lalu ku tanya. Pilih ku lempar sepatu atau sendal. Nggak sopan!”. Si Cin tiba-tiba marah sepulang dari kampus sambil masuk ke kamarnya yang sepi dan juga setia pada sunyi.
Malayang dipikirannya. Tiba-tiba ia lari keluar kamar dan menatap langit, bolehkah aku lebih dekat denganMu??? Meski hanya dengan BiruMu??? Dengan Bi lagi…
Tiba-tiba langit menghitam. Dan menyiramkan air dari hasil kondensi awan dilangit kewajah Cin.
“ Biarkan aku merasakan BiruMu. Si Bi...”
***
“ Hahaha.. Cin… cin. Kau lugu sekali. Lucu lagi! Ckckck… “.
“ Hey Ungu! Kalau kau bilangin aku lugu, akhwat lain itu akan kau bilang apa?!”. Nada Cin agak tinggi. Hari ini ia telah merasa kalah. Kalah dengan dirinya sendiri.
“ Kau tahu? ada bendera kemenangan di istana itu. Semakin kau gubris ultimatum dari mereka itu. Semakin jaya mereka!!. “. Bendera kebodohan semakin berkibar-kibar dikepalanya, setelah U, warna seperjuangannya itu, memberikan penjelasan yang sama sekali ia tidak faham.
Ditambah senyum kemenangan U, semakin gelap tampak wajah gadis itu.
“ Apa maksudmu?”. Si Cin bertanya kalah.
“ Mantan pejabat disana bilang… ‘makasih mbak, kalau mbak, mas dan kawan-kawan tidak berdemo, saya tidak akan bertahan disini’. Kamu tahu nggak artinya apa? Itulah guna mereka berada di kaki penguasa. “
Brengsek!!! Hanya karena itu??? Terlalu murah harga mereka. Dengan sedikit sunggingan, muncul juga senyum kesombongan yang dihembuskan iblis penghuni ruangan yang sering kosong itu pada si Cin. Namun malaikat menghapus senyum yang mengerikan itu.
“ Astagfirulloh…. “. Tiba-tiba wajah si Cin tertunduk.
Demi Alloh dia sudah menggadaikan segala jiwa raga. Apalah harga badannya yang telah sakit itu dibanding dengan perdagangan yang telah ia sumpah.
U hampir menemaninya tiap hari. Di sudut-sudut ruang kosong yang menganga di hati Cin. Selalu mewarnai wajah Cin yang harusnya merah seperti kebanyakan teman-temannya. Hanya saja karena telah berbaur dengan Bi, dan U menjadi sahabat setia si Cin.
‘Wah… kamu cocok pakai baju itu.’. ah! ini mah pasaran! Warna pink yang selalu ia hindari.
‘ hm… anak gadis tu mbok yang rapi kamarnya!’ cita rasa yang bagi Cin tidak penting!
‘ wah… mbak Cin kok hari ini beda ya? ’. Padahal ia hanya ingin merasakan warna asing yang menghampiri dirinya.
‘ anak yang kaya’ gini, kalau nggak bisa dibina, ya dibinasakan!’ Warna yang sangat bodoh menurutnya. Bukan warna yang baik. Ia membuang lepas ke arah yang paling jauh.
‘ baru ini seumur hidup aku menghadapi mahasiswa seperti ini!’ Warna gila, yang Cin tetap menjaga sikap takzimnya karena lebih tua. Penguasa istana mega. Ah, gelap. Cin tidak suka.
Baginya. Ini juga cita rasa hidup. Namun terilfiltrasi oleh prisma beningnya.
***
“ Teman-teman ikuti komando saya! Setelah hitungan ketiga, lempar tomat yang ada ditangan kalian ke arah foto ini”.
Jilbab gadis itu berkibar-kibar memberi semangat bersama angin di hari jum’at. Di ujung jalan Malioboro, depan gedung Agung.
Semakin lantang suaranya. Ia memimpin barisan yang ada dibelakang. Yang pasukannya terdiri dari makhluk yang sejenis dengannya. Sedangkan barisan yang berada didepan, menggenggam panji-panji agar terus berkibar dengan nasyidujjihad mereka.
“ Satu, dua tiga!!!”. Teriak gadis itu memberi komando dengan toa ditangannya.
Dan tomat-tomat segar itu, dari tangan-tangan pasukan menuju satu arah perjuangan. Membidik gambar penguasa saat itu. dan mereka mengaku mewakili rakyat yang jauh lebih ingin memaki si penguasa itu.
Namun tiba-tiba, Cin bahagia bisa merasakan sari pati yang baru kali ini ia rasa. Warna orange dari tomat-tomat yang jatuh kembali ke aspal tiba-tiba menjadi pucat. Pasalnya warna cairan yang keluar dari hidungnya memberikan cita rasa yang baru. Dan semakin jelas warna itu ketika disapu tisu putih yang dia ambil dari kantung jaketnya.
Dia tersenyum puas. Warna cairan itu… Me.
“Merah, selamat datang”. Ujar Cin pada Me dengan senyum.
Semakin dekat denganMu…
Biarkan aku merasakan sari pati hidup. Cin berucap lirih lagi.
***
Warna yang terpendar dari prisma jiwa gadis ini telah mewarnai dinding putih yang bisu itu. Dia menghitung bahwa dia telah menemui segala warna yang diinginkannya. MeJiKuHiBiNiU sudah semua. Dan masih setia menemaninya setiap hadir matahari setiap pagi, dan menghilang ketika mulai senja di barat. Berganti dengan bulan. Mungkin Ta ada disana. Tidak juga. Ah rindunya…. Ta sepertinya suka bersembunyi di balik awan. Memang suka bersembunyi di balik awan
“Terima kasih.. “. lirih Cin berucap.
Ta. Warna yang dirindunya. Sebelum pulang ia ingin menemuinya. Kali ini ia memohon. Terakhir ini saja.
“Temui aku pada Ta… Ku mohon… “ . Ujar Cin berbisik pada sahabatnya yang bersembunyi didalam prisma bening ditangannya.
Lalu, Prisma bening miliknya itu, ia letakkan pada fajar yang menjelang subuh. Biar dingin beku pagi ini di luar ruang kosong hatinya, tak apa. Di taman itu.
“Datanglah kalian pagi ini bersama Ta… ajak dia sekali ini saja. Ku mohon…“. Kata Cin dengan raganya yang setengah sadar.
Dan ketika matahari telah datang pada hari, datanglah Ta diiringi teman-temannya yang lain. Dan Cin kali ini mampu membuka mata setelah gelap satu purnama.
“ Terima kasih. Ta.. “.
***
Aku hanya ingin merasakan sari pati hidup.
Begitu kata Cin tiap matahari mendatangi hari.
“Kalian pulanglah… sungguh. Biarkan aku bersama Ta. Kali ini saja. “
Akhirnya teman-teman Cin pulang. Tersapu mendung yang tiba-tiba. Mereka melambaikan tangan pada Cin.
“Terima kasih telah mengatarkanku sampai sini. Maafkan segala kesalahanku. Dan sampaikan maafku pada mereka yang telah ku sumpah serapah. Kalian pulanglah dengan hati-hati. Jaga prisma beningku baik-baik”. Pesan terakhir Cin pada sahabat-sahabatnya.
Dan merekapun tersenyum untuk terakhir kali pada Cin. Tugas mereka selesai setelah membawa Ta padanya. Cin sangat menjaga sahabat-sahabatnya itu. karena mereka selalu tersenyum. Dan membuat wajah Cin selalu tersenyum di tiap matahari.
Namun kali ini, setelah sahabat-sahabat Cin turun dari puncak pendakian itu, Cin meneteskan air mata. Bening dan lembut. Ta menghapusnya.
“ Kau tak sendiri lagi Cin”. Ucap Ta.
“ Makasih Ta. Sekarang, hantarkan aku pada pemilikku dan pemilikmu. Ku mohon… ”. Ucap Cin lirih.
“ Jangan Cin, jangan sekarang. Aku baru saja menemuimu, dan kau akan meninggalkanku?”. Ta tidak rela melepaskan.
“ Tidak. Setelah aku pergi, ambillah prisma bening di taman yang pernah kita tanami krisan. Ada mereka sahabatku didalam prisma bening itu. tempat mereka pulang. Kau telah mengenal mereka kan? “.
Cin diam sejenak untuk mengambil nafas. Nafas-nafas di hitungan akhir.
“ Mereka yang barusan menjemputmu, dari balik awan”. Senyum Cin mengembang.
“ Cin…”. Ta tak mampu berkata lagi
“Ssstt… ucapkan saja ditelingaku syahadat. Biar aku mengikutimu. Aku sudah merasakan sakit ditenggorokan. Ku mohon… “. Cin masih tersenyum. Meski tanpa sahabat-sahabatnya.
Sedang hitam menatap wajah Cin di langit. Menangis rintih…
“ Ku mohon. Sampai aku menutup mata.” Lirih Cin.
Ta hanya mampu mengangguk.
Cin tersenyum. Dan semakin tersenyum mendapati rintik-rintik hujan maaf dari hitam diatas. Sejuk…
Hitam pun berujar…
“ Selamat datang Cin. Kau merindukan ini bukan…??? datanglah dengan keikhlasanmu…”.
Cin pun mengangguk lembut.
“Laailaaha.. illalloh…. “ Ucap Ta dekat telinga Cin.
Dan dengan terputus-putus Cin mengucapkannya…. Ia telah mengucapkannya… kalimah tertinggi itu.
Rintik-rintik hujan dari langit diatas semakin lebat. Membasahi kota dimana Cin meninggalkan semua. Menuju Robb Izzati. Namun hanya sekejap. Usai itu matahari bersinar lagi. Hitam pun pergi. Bersama Cin.
Ta menepati janji untuk mengambil prisma bening itu. Di taman krisan yang kata Cin mereka pernah membangunnya. Dan setelah mendapati prisma bening itu, terpendar dari beningnya sahabat-sahabat Cin. MeJiKuHiBiNiU.
Ta pun terkaget, takjub. Mereka Mengiringi Cin datang kembali padanya. Pada Ta yang tercipta kuat, dan yang telah melengkapi sari pati hidup Cin di akhir masanya. Cin yang baru saja meninggalkannya.
Kali ini sahabat-sahabat Cin itu mengatakan pada Ta dengan koor yang merdu secara bersama-sama….
“ Cin ini adalah milikmu. Tapi ia belum mengenalmu. Jaga dia baik-baik...”. Hanya syukur yang terucap dari bibir Ta. Ia takjub, bingung, dengan segala rasa yang tak ada kata yang mampu mewakili.
Setelah menenangkan diri, Ta Memberanikan diri untuk mengenal Cin yang baru.
Ta pun berujar lirih sambil menatap langit yang disaksikan Biru …
“ Cin, aku akan menjaganya…”
Cin pun hanya tersenyum, melirik Ta dari balik awan.
Entah, Ta yang mana yang akan dihantarkan Ar-Rahman untuk menemaninya kali ini.
Miss you Azzam
Wednesday, December 17, 2008
wajah....
wajah-wajah yang wangi
semerbak
membuat senyum diantara polusi yang kelam
membawa mimpi dan optimisme yang punah
ah..
apapun yang terjadi dimasa depan
bocah-bocah itu akan selalu begitu
rindu sekali masa itu
kalian yang tidak pernah lelah bermain
biarkan kami ikut
belajar dengan segala damai dan warna-warni
ajak kami tertawa
sepuasnya
menertawakan dunia
semerbak
membuat senyum diantara polusi yang kelam
membawa mimpi dan optimisme yang punah
ah..
apapun yang terjadi dimasa depan
bocah-bocah itu akan selalu begitu
rindu sekali masa itu
kalian yang tidak pernah lelah bermain
biarkan kami ikut
belajar dengan segala damai dan warna-warni
ajak kami tertawa
sepuasnya
menertawakan dunia
dewi-dewi...
Apa ya yang lebih pas julukannya bagi orang yang memiliki kepribadian berbeda. Maksunya ada dua ruamh kepribadian didalamnya. Hm… analisis psikologi niy. Seperti beberapa orang yang pernah ku temui. Juga orang yang sampai pernah ku tanyai,
Ada berapa dianya-mu??
Juga orang yang g mengakui sebuah kebahagiaan yang hadir dalam dirinya adalah karena orang-orang disekitarnya, tapi karena yang lain. Padahal, dia sangat menyayangi teman-temannya itu. Kau tahu masalahnya, hanya karena dia selama ini merasa selalu hina dina.
Ada lagi katanya, orang indigo. Ah, entahlah. Yang aku faham anak indigo, bukan orang indigo.
Ada juga mereka yang pura-pura bahagia. Begitu yang pernah dituliskannya.
Apa lagi ya….
Reza armanda atau Niva atau Apit atau Abi atau Zae, g boleh protes ya aku nulis ini! Hoho…
DUNIA KEPRIBADIAN
Istilah ini aku dapatkan dari seorang teman. Ketika itu aku sedang kalut. G mampu memahami seseorang yang sudah 5 tahun kenal. tapi tetap aku g menemukan titik terang dan benar-benar memastikan begitulah adanya. Haha.. aneh kan?
DULU…
Cantik ku bilang. Anak orang cina. Tapi non-muslim. Dewi. Namanya melambangkan dirinya. Berkuilt putih, kurus tinggi, manis, berambut panjang. Ah anggunnya…
Inel yang duduk disebelahku menyikutkan tangan dan berbisik.
“ ssstt… Mi, anak ini lho yang katanya pacaranya pak guru”.
“Oh ya?!” memastikan.
“ G salah lagi. Cantik ya..?”. hm… Temanku yang juga tomboy ini pun memuji.
Hufff.. aku Cuma bisa melihat punggungnya non. Dia kan duduknya membelakangiku.
“ Ho… ya, klo gitu baguslah. Seleranya pak Guru jelas g main-main”.
Pak Guru, kami menyebutnya begitu. Tepatnya guru les komputer kami itu adalah orang yang sangat sabar. Perawakannya tinggi besar, cerdas dan dinamis. Dia membuka tempat les komputer ini dengan usahanya sendiri. Ah, enterpreneur sejati.
Sedangkan wanita ini, ia miliki segalanya. kacatipi - begitu pak guru menyebutnya. Kaya, cantik, tinggi, pinter. Semua mua dech dia punya. Cocok begitu intinya buat pak guru. Haha.. itulah pandangan kami sebagai murid sejati. Hanya saja, pak guru adalah muslim sejati, tapi Dewi bukan seorang muslim. Itu yang menjadi pertanyaan besar kami. Ah, mungkin waktu itu pak guru taunya juga muslim. Kenalan dalam waktu sehari?? Tanda tanya besar….
MULANYA…
“ hm… gimana ya Um jelasinnya. Waktu itu sih dia dateng ke sini. Dia mau daftar. Terus… besoknya ku bilang klo aku suka sama dia. Eh… ternyata dia mau. Hihi…” itulah penjelasan dari pak Guru. Singkat.
Aku pun hanya mengerenyitkan dahi setelah mendengarkan. Mungkin waktu 1 hari kenalan dan langsung “menembak”, gila memang. Tapi untuk gadis secantik dia, everything can happened.
Kamu tahu apa rutinitas mereka? Karena pak guru adalah orang yang sibuk, sedangkan dia sendiri siswi kelas 3 di sebuah SMK yang juga sibuk dengan persiapan kelulusan. Mereka marathon tiap sore. Begitu. Hm… apa ya? Emang aneh si.
Beberapa hari terlewati dan …
“ Eh, Umi ya?”. Ups. Do’i menyapaku. Huhu…. Tersanjung nih. Haha…
“ Hehe. Iya. Dewi kan?”. Tersipu malu. Lagi jawab sapaan orang keren nih…
“Hm.. iya. Eh Um, kamu buru-buru g?”. ho, waktu itu memang selesai kelas.
“ g juga sih. Ada apa?”. Tanyaku juga heran.
“ Gpapa. Pengen ngobrol aja”. Dug, what’s wrong with me? Aku g salah apa-apa kan…
“ ho. Sekarang…? Hehe. Iya dech”. Ku garuk kepalaku yang g gatal. (Bo’ong ding. Aku lupa adegannya)
Kami duduk berdua di beranda tempat les komputer Innovative tepatnya. Hu hu.. aku GR nih. Beneran deh. Aku dapet cewek cantik nih. Ho, bukan lesbi. Tapi bagiku saat itu aku sangat senang punya temen baru secantik dia. Dewi gitu lho…
“AKU DULU MUSLIM… “.
“ Jadi, kamu …? Hm… maksunya gimana ya?”. Tanyaku juga heran. Campur bingung, tepatnya… kaya’ orang bego’ gitu.
“ aku bukan anak kandung orang tuaku yang sekarang. Ibuku keturunan keraton jogja. Sedang bapakku orang biasa. Ada sengketa keluarga, dan dengan segala macam masalah. Akhirnya aku di adopsi ortuku yang sekarang”. Ho…. Penjelasannya membuatku terpaku. Aku seperti mendengar sebuah legenda baru. Aku manggut-manggut tanda faham. Faham yang g seutuhnya. Ada luka sepertinya.
“ Aku ikut agama ortuku yang sekarang. Otomatis kan?!”. Jelasnya gamblang.
“ Terus… kamu sendiri selama ini gimana?”. Tanyaku
“ ya aku aktif di gereja”. Jelas dong mb!
“ Tapi di sekolah aku juga belajar ngaji.” Whatzz…. Mengerinyitkan dahi lagi.
“ Hm.. aku hafal kok bacaan sholat. Aku dikit-dikit bisa baca alqur’an juga”.
Ho. Dia g lagi salah ngomong lho. Aku juga g lagi mimpi. Dia beneran ngomong gitu.
“ hehe. Ya kah?” aku minta diyakinkan
“ iya. Aku, pengen masuk Islam”. Whatzz..!! aku kontan kaget. Tersentak. Ini perbincangan pertama kami. Tapi, dia sudah menjelaskan banyak hal.
“ Kamu kaget ya? “ dia bertanya.
Dan aku menjawab
“ he. Iya.”. jelas kan jawabanku. Pun klo kamu berada di posisiku juga begitu.
Aku berfikir dan berfikir… ini adalah sebuah hidayah. G salah lagi. Ketika seseorang menyatakan keinginannya untuk menjadi seorang muslim. Dan dewi, ia telah mempelajari Islam sejak lama. Seperti membaca Al-qur’an, adalah pelajaran yang memerlukan waktu yang agak lama. Terus, hafal bacaan sholat. Well… aku seperti menjadi seorang superman. Yang keberadaanku bagi dewi sepertinya dibutuhkan. Tapi.. waitzz.. kan ada pak guru.
***
“ Hm.. iya Um. Aku tahu keinginannya itu”. Jelas pak guru
“ Iya pak. Tar klo kalian jadi nikah, kan bisa menyelamatkan dia. “. Aku coba untuk meyakinkan.
“ hehe. Gitu ya?”.
Duh… kok tanyanya gitu ya
“ ya iya lah. Ada orang yang bisa melindungi dia klo ada apa-apa. Perhatiin dong posisi dia. Bukan anak kandung. Maaf aja niy… tapi dia dapet segala kesenangan di rumah. Dia anak dari orang tua asuh yang berada.”. aku menjelaskan sulitnya posisi dewi.
“ yah.. aku akan nikahi dia dengan syarat itu memang”.
Huff… keren kan pak guru ku ini. haha… ya iyalah.
***
“ Apa!!”. Aku kaget mendengar penjelasannya.
“ Itulah kenyataannya di rumah. Aku udah g tahan sebenarnya. Tapi ternyata aku masih tangguh berada disana. Mereka yang membesarkanku.”.
Enough… penjelasannya nyaris tanpa basa-basi.
“ bekas pukulan rotan biasanya baru hilang sekitar empat hari sampai seminggu. Dan aku g bisa beraktivitas seperti biasanya”. Tambahnya.
Aku seperti ikut merasakan sakit. Membayangkan warna perih yang berada di punggungnya itu
“ Tapi, itu memang kamu melakukan kesalahan? “. Aku mentabayunkan hal yang bisa juga menyebabkan peristiwa serupa.
“ Hm… iya. Itu memang kesalahan. Tapi, memukul begitu sering itu juga kesalahan.”. dia membela.
Aku g habis fikir. Semakin kenal aku dengan kehidupan pahitnya.
“ Um… bapakku disini”. Whats..?? apa lagi ini!
“ Aku tahu dia disini. Aku kangen sama mereka. Selalu.”
Sepertinya aku butuh oksigen lebih banyak.
“ Maksud kamu apa sih wi?”. Ini semua butuh penjelasan.
“ Tempo hari dia menjawab puisi-puisiku. Aku tahu itu dia. Dan dia tahu aku”. Kamu tahu, tatapan matanya g pasti pada satu benda. Hanya pada udara yang tembus pada kehampaan.
Aku terdiam. Terpatung, g bergerak. Hoho. Belum mati. Masih bisa nulis cerita ini kok setelahnya. Kenyataan yang mengerikan. Seperti cerita-cerita dalam sinetron yang banyak nangis-nangis itu. Tapi kenyataan jelas lebih pahit.
Aku berfikir. Tapi buntu. Pelajaran yang g dapat ku mengerti. Bukan seperti alur integral metafisika yang biasa ku pelajari di kelas. Terlalu rumit.
****
“ Wah… senangnya lihat kalian.”. ku sapa dewi dan pak guru yang sedang mendiskusikan sesuatu di ruang tamu.
“ Hei. Udah selesai po kerjaanmu?” Pak guru menjawab sapaanku.
“ Udah dong… Beres bos. “ Aku menunjukkan wajah kemenangan. Soal-soal excel darinya ku babat habis. Hahaha…
“ Eh. Maaf ya ngganggu. Sengaja. Hihi”. Ya maaf aja. Aku kan emang udah selesai.
“ Um, sini gih. Ada yang mau ku tunjukin sama kamu. Tapi ini untuk kita2 aja yah?!”.
Dewi membuatku bingung. Apa lagi yang akan dia ceritakan padaku. Tingkahnya sedikit manja.
Dia mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah buku mirip diktat. Sampul mika warna biru muda. Disodorkannya ke diriku. Dan… ku buka. Satu per satu.
Ho, ini adalah deretan tulisan yang membawa penulisnya pada dimensi dua. Abstrak. G nyata. Tapi dirindu. Jadi, dia mengumpulkan puisi-puisinya dalam satu kumpulan puisi. Khusus miliknya. Menjadi mozaik yang utuh, namun hanya dalam mimpi. Begitulah puisi.
“Apaan sih? Aku g boleh tahu y?”. pak guru wajar penasaran. Masa’ sebagai cowoknya g boleh tahu. tapi memang hal ini terlalu privasi menurutku. Apa lagi puisi-puisi gadis cantik ini.
Dewi hanya tersenyum. Dia belum memperbolehkan.
Aku mencoba memahami beberapa pokok bahasan dengan apa yang telah ia tulis. Puisi bukan hal untuk dipertanyakan. Kebebasan bagi si penulis untuk menuliskan apa yang dia mau. G ada protes atau interupsi. Semau penulis. Ada beberapa pokok bahasan.
Kerinduan seorang anak pada ibu, pada bapak. Aku tahu cerita ini.
kesakitan yang sangat perih, dia coba menceritakan dirinya sebagai peri yang terkurung.
Istilah Gadis Pingit berulang kali dia ungkit-ungkit.
Dan… seorang pangeran. Ho.. seorang pangeran??? She have found him.
“ Tahu g mi. si dewi kemaren pingsan.”Pak guru membuka perbincangan lagi.
Eh.. apa! Pingsan! Apa lagi ini. aku hanya bengong. Ku arahkan pandangan mataku mata tubuh kurus dewi. Dia hanya tersenyum saja.
“ Haha. Pasti g percaya. Dia bener-bener pingsan!”.
Dia punya penyakit. Entah apa namanya. Berhubungan dengan darah. Kurang sel darah putih. Apa ya namanya? Kanker darah?
Ah dewi. Sekian banyak cerita telah ku peroleh tentangmu. Maaf jika aku g mampu berbuat apapun untukmu…
***
“ UM, UDAHLAH JANGAN DEKAT-DEKAT LAGI SAMA DIA.. “.
Itu ujar pak guru. G habis pikir. Ia memintaku untuk menghindari si dewi. Si dewi yang pernah sangat ia cintai itu dan yang baru dua bulan ini memadu kasih itu.
Aku masih teringat ketika mereka selalu menghabiskan sore bersama dengan melihat senja di langit barat, juga dewi yang bercerita bahwa tiap hari pak guru selalu menelfonnya, makan bersama, dan semua-mua yang ku dengar tentang mereka.
“ sebenarnya apa sih masalah kalian?”. Hoho… disini ternyata posisiku sebagai penengah mereka lho…
“ Mi, aku sudah tahu siapa dia sebenarnya.” Pak guru g ragu mengatakannya.
“Maksudnya?”. Aku bingung aja.
“ Pun mungkin aku juga sulit untuk mengatakannya. Tapi dia g seperti apa yang kita fahami sebelumnya.”. itu aja??
“ Gimana sih. Aku g ngerti deh. Setauku pak guru sangat senang tempo hari ketika bisa dekat sama dia.”.
aku memang bingung.
“ Ah, entar juga kamu akan faham. Tapi itu, kamu jangan terlalu dekat dengannya.”
Bukankah yang seperti ini tanpa penjelasan? Menyebalkan bagiku.
***
‘ ini Popi, sepupu dewi’
Message deliverd
‘sekarang gmn keadaannya’
Message sent
‘dr tadi mlm ngigau terus nama pacarnya yg dijepara”
Aku hanya terpaku. Mengingat puisi-puisi yang ditulisnya ketika itu. Sebelum dan sesudah bersama dengan pak guru. Dan sampai hari ini, bahkan dalam keadaan kritis itu, ia masih mengigau tentang pak guru??
‘Trs gmn sm tunanganny? ’
Message sent
‘g tau mb.sprtny mmaklumi.’
‘klo dah siuman ksh tau aq y. aq mw ngobrl sm dia’
Message deliverd
‘yup’
Ini tahun pertamaku di jogja. Tapi hari ini hatiku terterawang ke daerah asalku. Tentang cerita itu. Cerita yang bagiku sulit untuk difahami. Romansa cinta anak manusia, yang kandas dengan seribu alasan. Sakit, perih, mungkin begitu rasanya. Ah, aku sendiri g faham. Hanya menjadi saksi. Hihi…
Sakit dewi semakin parah. Dia yang memberi kabar langsung dengan isakan tangis di telfon. Atau sms dengan nada-nada penuh luka. Huff… sampai aku sendiri bingung menggambarkan bagaimana keadaannya sekarang. Karena terlalu banyak dan sulit untuk dijalani. Dan badannya yang kurus itu kini apakah akan semakin kurus juga? Sekurus impiannya yang semakin terkikis waktu.
Sekarang dia di Bandung. Sudah punya tunangan seorang polisi. Ku pikir dia bisa menggantikan pak guru. Hanya saja dewi sepertinya g pernah merelakan perginya kekasih yang amat ia cintai itu.
Kakinya retak karena jatuh dari motor, ditambah dengan kanker darah yang dia derita. Sejenak di bandung mungkin bisa menghindari pukulan rotan ibunya. Entah akan seberapa lama dia bisa menghindari semuanya. Begitulah ia menceritakan….
***
“ Um, udahlah. Dia itu g kaya’ apa yang kamu bayangin. Dia itu…. “
“ kemaren aku lihat dia cupika cupiki sama co. aku g suka. Setahuku dia itu…“
“ G tahu Um. Temen2 SMAnya bilang dia itu…. “
“ alasanku adalah karena dia g seperti yg ku kenal.” pak guru.
Begitu banyak cerita tentangmu. Warna yang bertolak belakang dengan yang selama ini ku kenal tentangmu. Bahkan aku g menemukan seorangpun yang sependapat denganku. Terlalu lucu bagiku. Atau aku yang terlalu lugu. Ah kau ini!
Ataukah kau kala itu kau yang lain…. ? dan kau yang ku tahu dari orang lain ini kau yang mana wi? Kau sakit itu kau yang mana? Terus, gadis pingit selama ini siapa dia? Putri keraton itu, itu siapa?
***
“ Bu, Dewinya ada?”. Aku bercakap dari luar tralis gerbang rumah megah ini dengan ibunya dewi yang juga telah mengenalku. Setelah anjing penjaganya menggonggong tamu tak diundang, ibunya datang dengan sedikit senyum. Anjingnya galak banget. Ada dua, yang satu berwarna putih tampak lucu dan imut, tapi ternyata g kalah galak. Hahaha…
“ Wah, dewinya di Karang Um. Ada apa ya?”. Ibunya menjelaskan.
“ Ho, pengen maen aja. Kan udah lama g ketemu. Di Karang dia dimana bu?” tanya ku untuk memperpanjang perbincangan.
“ Dewi kan kuliah disana. Terus ini dia belum pulang”. Jelas wanita paruh baya ini.
“ oya, katanya dewi pernah sakit di Bandung. Apa udah sembuh, kok udah mulai kuliah lagi?” Tiba-tiba aku berani menanyakan. Sebenarnya aku g ingin ibunya tahu klo aku tahu banyak hal tentang dewi.
“ G kok. Dewi baik-baik aja.” Jawab ibu. Tampak ada kerenyitan bingung di keningnya.
“ Lho, kan sempet rawat inap di rumah sakit?!”. Aku terus mengintrogasi. Wanita ini adalah wanita yang juga kasar terhadap dewi dengan pukulan rotannya. Hanya saja, untuk masalah yang memang langsung berhubungan dengan nyawa dewi kala itu apakah akan disembunyikannya juga?
“ G ah, dia baik-baik aja. Kuliah di Karang dan dia sehat-sehat aja”.
Ah, aku semakin bingung.
“ hm….. gitu ya bu?”. Aku hanya mencoba berfikir, tapi buntu. Bukan mencari solusi, but something wrong happened.
“ Ya udah deh. Ntar Umi kesini lagi. Soalnya no hp dewi g bisa di hubungi. Makasih ya bu. Mari…. “.
Enough… !!! Aku sudah lelah berada dalam sandiwaranya. Menjadi tokoh bonekanya. Menjadi orang yang memelasinya, dan menenangkan jiwa palsunya. Apa-apa yang udah diceritakan pak guru?? Juga cerita dari beberapa temanku?? Dan sekarang aku sendiri! Tentangnya, g pernah habis untuk diperdebatkan. Terutama dengan pak guru.
***
Laki-laki ini rupanya yang telah mampu mengobati dewi. Dari segala sakitnya selama ini. aku hanya memandangi senyum manisnya. Meski aku sendiri dalam keadaan lelah, tapi segalanya telah hilang begitu saja setelah melihatnya dalam keadaan yang jauh lebih baik dari yang pernah aku bayangkan.
“ yang membuatku tetap dengannya adalah dia seperti pak guru”. Tuturnya sedikit malu.
Ah, pak guru selalu berada dalam hatinya. Bahkan sampai hari ini. terhitung tiga putaran bumi mengelilingi matahari. Tetap saja begitu.
Tapi secara kilas mata laki-laki ini bebeda dengan pak guru. Orangnya lebih putih, lebih tampan bagi kebanyakan cewek ku pikir, dan memiliki prestis dari kalangan berada. Tampak dari penampilannya yang sangat elegant. Ah dewi, entah apa yang kau fikirkan… se-nggak2-nya ia tambatan hatimu hari ini. Dan g mengusik kehidupan pak guru lagi seperti yang terjadi beberapa waktu setelah kalian berpisah. Kisah roman kalian itu.
***
Riwayatmu pernah hilang dalam memoriku. Setelah aku kebingungan menelaah dirimu dengan lebih detail. Cerita-cerita dari orang lain mengusikku. Kita telah 3 tahun berteman. Tapi aku sendiri sebagai orang yang kau percaya dan menjadi pendengar setiamu, g percaya. Bahkan dengan pak guru sekalipun. Laki-laki yang sangat baik itu. Dan yang telah melepas bujangnya beberapa waktu lalu itu.
Aku menjadi g peduli. Aku terlalu sibuk dengan banyak urusan. Apa lagi di kota tempat aku belajar, aku punya banyak hal yang ku kerjakan. kisahmu terhapus begitu saja. Dan juga gambar dirimu dalam albumku semakin kusut. Nomor hpmu g bisa di kontak lagi. G ada berita lagi. Sudah cukup bagiku. Semoga menjadi kebaikan bagiku, dan juga dengan jiwa keduamu itu. Jiwa yang kesakitan itu. Yang mungkin masih ada sampai hari ini. tapi ku harap ia telah pergi dan benar-benar meninggalkanmu.
Kisah ke-Islamanmu telah kau ceritakan sejak dulu. Tapi aku g melihat perubahan dalam dirimu. Gosip-gosip dari banyak orang telah memekakkan telingaku. Tapi rintihanmu selama ini telah meredamkannya lagi. Ah dewi.. maafkan aku.
Sampai pada suatu hari…
***
“ Tiin… digole’i dewi..!! ” (Tin.. – panggilan di rumah - di cari dewi.)
Ibuku dari ruang tamu memanggil. Setelah ada deru mobil yang masuk ke halaman kami.
Hm… dewi yang mana ni? Ada beberapa nama dewi yang menjadi temanku. Masih pagi untuk menerima tamu. Tapi ini kan idul fitri. Saatnya berkunjung.
Aku segera menuju ruang tamu. Dan.. aku hanya mematung.
Dia, dewi itu. Yang telah hilang ceritanya selama 2 matahari, dalam kabar dan juga ruang memoriku. Kini berada di hadapanku dengan baju muslimahnya. Dia kenakan jilbab sesuai dengan warna bajunya yang hijau keemasan. Dan dibelakannya, berdiri laki-laki itu. Laki-laki kala dua matahari itu.
Aku bengong, g sadarkan diri. Haha.. maksudnya aku mencoba loading dengan memori-memori kala itu.
Kau hanya tersenyum manis yang semakin manis dengan lipstik tipismu itu.
“ Um… “. Kau menyapa.
Kau menyambangiku. Merangkulku dan begitu juga aku. Kita berpelukan erat. Rindu sekali…
Hanya saja…
Aku masih memandang matamu yang juga ikut berbicara, bahasa lain yang juga iku bercerita. Kau telah menikah dengan laki-laki ini dan memenuhi setengah agamamu sebagai muslim. Aku sungguh terbengong-bengong…
Aku g bertanya apa-apa. Aku g tahu pertanyaan seperti apa yang harus aku keluarkan.
“ ku kasih tahu. ini foto anakku.”.
Whatzz… secepat itu?
“ aku g bohong Mi. ini anakku sama dia.”. kau memperlihatkan layar ponselmu. Tampak anak yang manis sedang berpose bersamamu.
“ Udah berapa bulan?” akhirnya ada pertanyaan.
“ Putra udah tujuh bulan”. Jawabmu singkat.
Aku semakin beku. Dua matahari mengubahmu sedemikian cepat. Dan kau pun sudah punya buah hati?? Ku cubit kaki kananku. Huff.. aku g lagi mimpi kok.
Matahari selanjutnya kau memperlihatkan Putra padaku. Ia sedang tertidur saat itu. Sangat pulas. Ayahnya yang tampan dan juga ibunya yang cantik sepertimu, nampak padanya seperti pangeran kecil dalam pangkuan ratu. Kau masih dengan busana anggunmu. Aku hanya tertegun.
***
HARI INI…
Aku pun g yakin menggambarkan ini semua. Aku menjadi tokoh figuran pada film kusut seorang dewi. Adalah wanita yang g pernah aku fahami. Menjadikanku orang yang sangat bodoh. Kau tahu apa terjadi hari ini? ada gambaran episode dimana cita-citanya tercapai. Terutama keinginannya menjadi seorang muslim. Tentu saja hal yang sangat membahagiakan. Juga bagiku. Ini sebuah gerbang terindah yang telah dilewati oleh seorang dewi. Semoga saja begitu.
Namun.. aku sendiri ragu bagaimana menceritakannya. Ah.. tapi ku coba ya. Aku hanya ingin kalian bisa mengambil pelajaran dan dari dirinya aku ingin kalian bisa memahami orang terdekat anda dengan prasangka baik anda. G menjadi skeptis sepertiku saat ini. itulah pandanganku terhadap dewi. Gadis cantik putri keraton yang terasing di dimensi dua.
***
Miu_suzhu : udah tahu kabar dewi?
Pak_guru : hm… dia sering ditinggal pergi suaminya terus.
Miu_suzhu : ya iya lah. Suaminya kan konsultan tehnik sipil. Perginya kemana-mana. Ke pelosok juga disambangin.
Pak_guru : dia g tahan dgn suaminya. Tempo hari dia curhat sama aku.
Curhat?? Dengan pak guru??
Sambil mengetikkan tuts keyboard laptop Eca aku melanjutkan chatting ku dengan pak guruku yang baru saja YM-nya ku add.
Miu_suzhu : lho. Gitu ya. Setahuku dia bahagia bgt tu. Ya, terakhir pertemuan lebaran tempo hari sih..
Pak_guru : ah, kasihan dia. Tapi gmn lagi. Jalannya udah begitu.
Miu_suzhu : gitu ya .g tahu ah! Malah km yg tahu banyak tentang itu anak. Padahal aku kan mau ksh kabar tentang dia.
Pak_guru : udahlah. Yang lalu biar lalu.
Miu_suzhu : ye.. siapa yg mau ungkit2.
Pak_gutu : dia itu MBA.
MBA (Married by accident)
…..
…..
Pak_guru : Buzz!!
Pak_guru : Um… ?? masih di situ??
***
Jogja tambah kelam. Musim hujan ini se-nggak2-nya menambah jumlah orang yang terkena flu. Alhamdulillah aku sehat. Asalkan makan tepat waktu, minum susu, haha… everything will be ok. Tiba-tiba terlintas tentangmu. Kutulis, dan tiba-tiba ada rindu yang menyeruak…
‘aslmkm.Apa kbr wi?’
‘w’slm.baik. Ni siapa?’
‘ni umi. Hehe. Gmn kbr anakmu?’
‘Putra demam, badanny panas’
‘udh dbw kdokter? Inikan msm hjn.wjr, anak2’
‘udah 2x. tp blm reda jg’
‘km sndrian drmh?’
…
…
‘km tmbh gmk ap kurus?’
‘masih ky dulu’
Ho… masih kurus
‘makannya mkn yg bnyk dong wi…’
‘tenang aj. Klo aq nafsu aq mkn byk kok. Tp srg g nafsunya’
‘matahari masih setia wi. Senangkan putra dgn mnyenangkan dirimu’.
‘ya, Insya Alloh aq slalu brusaha utk itu, senyum anakku adlh kbhagiaanku. km g prnh sms sm pak guru?’
Kenapa kau menanyakannya….
‘g. terakhr chatting bln lalu. Km blm ktmu lg? Emg ad apa?’
‘g ad ap2. soalny bbrp mingg in dia rjn sms aq. Dia pngen ktmu sm aq klo plg ke jpara’
Hm… apakah cerita kalian memang g pernah berakhir??
‘ ho. aq dah 3th g ktnmu’
Message delivered
‘aq ktmu trakhir ky’ny wkt usai ujian skolah, katanya dia tmbh gmk n skrg lg kulh nymbg S1 di Rajabasa’
Aku g mau membahasnya lebih lanjut. G mau mencabut pedang pada luka yang telah kering milikmu itu. Juga mungkin lukanya. Yang telah 5 tahun menganga hitam. Kisah roman kala itu…
Orang itu, adalah masa lalu bagimu. Ruang yang berbeda wi. Dimensi yang berbeda. Berenanglah ke dimensimu sendiri Wi…..
Biarlah figuran ini menjadi balok prisma di dimensi yang lain. Yang telah menyaksikan kalian dan kini sedang mengharap cahaya putih, lalu memendarkan dan menjadi pelangi. Menjadi MeJiKuHiBiNiU…
Cahaya putih itu….
Ah cinta…
Keep it drowning in your love..
Backstreet boys sedang konser ditelingaku, membangun prisma itu. Hahaha… maafkan aku Wi.
Yogyakarta, 14 Desember 2008
Ada berapa dianya-mu??
Juga orang yang g mengakui sebuah kebahagiaan yang hadir dalam dirinya adalah karena orang-orang disekitarnya, tapi karena yang lain. Padahal, dia sangat menyayangi teman-temannya itu. Kau tahu masalahnya, hanya karena dia selama ini merasa selalu hina dina.
Ada lagi katanya, orang indigo. Ah, entahlah. Yang aku faham anak indigo, bukan orang indigo.
Ada juga mereka yang pura-pura bahagia. Begitu yang pernah dituliskannya.
Apa lagi ya….
Reza armanda atau Niva atau Apit atau Abi atau Zae, g boleh protes ya aku nulis ini! Hoho…
DUNIA KEPRIBADIAN
Istilah ini aku dapatkan dari seorang teman. Ketika itu aku sedang kalut. G mampu memahami seseorang yang sudah 5 tahun kenal. tapi tetap aku g menemukan titik terang dan benar-benar memastikan begitulah adanya. Haha.. aneh kan?
DULU…
Cantik ku bilang. Anak orang cina. Tapi non-muslim. Dewi. Namanya melambangkan dirinya. Berkuilt putih, kurus tinggi, manis, berambut panjang. Ah anggunnya…
Inel yang duduk disebelahku menyikutkan tangan dan berbisik.
“ ssstt… Mi, anak ini lho yang katanya pacaranya pak guru”.
“Oh ya?!” memastikan.
“ G salah lagi. Cantik ya..?”. hm… Temanku yang juga tomboy ini pun memuji.
Hufff.. aku Cuma bisa melihat punggungnya non. Dia kan duduknya membelakangiku.
“ Ho… ya, klo gitu baguslah. Seleranya pak Guru jelas g main-main”.
Pak Guru, kami menyebutnya begitu. Tepatnya guru les komputer kami itu adalah orang yang sangat sabar. Perawakannya tinggi besar, cerdas dan dinamis. Dia membuka tempat les komputer ini dengan usahanya sendiri. Ah, enterpreneur sejati.
Sedangkan wanita ini, ia miliki segalanya. kacatipi - begitu pak guru menyebutnya. Kaya, cantik, tinggi, pinter. Semua mua dech dia punya. Cocok begitu intinya buat pak guru. Haha.. itulah pandangan kami sebagai murid sejati. Hanya saja, pak guru adalah muslim sejati, tapi Dewi bukan seorang muslim. Itu yang menjadi pertanyaan besar kami. Ah, mungkin waktu itu pak guru taunya juga muslim. Kenalan dalam waktu sehari?? Tanda tanya besar….
MULANYA…
“ hm… gimana ya Um jelasinnya. Waktu itu sih dia dateng ke sini. Dia mau daftar. Terus… besoknya ku bilang klo aku suka sama dia. Eh… ternyata dia mau. Hihi…” itulah penjelasan dari pak Guru. Singkat.
Aku pun hanya mengerenyitkan dahi setelah mendengarkan. Mungkin waktu 1 hari kenalan dan langsung “menembak”, gila memang. Tapi untuk gadis secantik dia, everything can happened.
Kamu tahu apa rutinitas mereka? Karena pak guru adalah orang yang sibuk, sedangkan dia sendiri siswi kelas 3 di sebuah SMK yang juga sibuk dengan persiapan kelulusan. Mereka marathon tiap sore. Begitu. Hm… apa ya? Emang aneh si.
Beberapa hari terlewati dan …
“ Eh, Umi ya?”. Ups. Do’i menyapaku. Huhu…. Tersanjung nih. Haha…
“ Hehe. Iya. Dewi kan?”. Tersipu malu. Lagi jawab sapaan orang keren nih…
“Hm.. iya. Eh Um, kamu buru-buru g?”. ho, waktu itu memang selesai kelas.
“ g juga sih. Ada apa?”. Tanyaku juga heran.
“ Gpapa. Pengen ngobrol aja”. Dug, what’s wrong with me? Aku g salah apa-apa kan…
“ ho. Sekarang…? Hehe. Iya dech”. Ku garuk kepalaku yang g gatal. (Bo’ong ding. Aku lupa adegannya)
Kami duduk berdua di beranda tempat les komputer Innovative tepatnya. Hu hu.. aku GR nih. Beneran deh. Aku dapet cewek cantik nih. Ho, bukan lesbi. Tapi bagiku saat itu aku sangat senang punya temen baru secantik dia. Dewi gitu lho…
“AKU DULU MUSLIM… “.
“ Jadi, kamu …? Hm… maksunya gimana ya?”. Tanyaku juga heran. Campur bingung, tepatnya… kaya’ orang bego’ gitu.
“ aku bukan anak kandung orang tuaku yang sekarang. Ibuku keturunan keraton jogja. Sedang bapakku orang biasa. Ada sengketa keluarga, dan dengan segala macam masalah. Akhirnya aku di adopsi ortuku yang sekarang”. Ho…. Penjelasannya membuatku terpaku. Aku seperti mendengar sebuah legenda baru. Aku manggut-manggut tanda faham. Faham yang g seutuhnya. Ada luka sepertinya.
“ Aku ikut agama ortuku yang sekarang. Otomatis kan?!”. Jelasnya gamblang.
“ Terus… kamu sendiri selama ini gimana?”. Tanyaku
“ ya aku aktif di gereja”. Jelas dong mb!
“ Tapi di sekolah aku juga belajar ngaji.” Whatzz…. Mengerinyitkan dahi lagi.
“ Hm.. aku hafal kok bacaan sholat. Aku dikit-dikit bisa baca alqur’an juga”.
Ho. Dia g lagi salah ngomong lho. Aku juga g lagi mimpi. Dia beneran ngomong gitu.
“ hehe. Ya kah?” aku minta diyakinkan
“ iya. Aku, pengen masuk Islam”. Whatzz..!! aku kontan kaget. Tersentak. Ini perbincangan pertama kami. Tapi, dia sudah menjelaskan banyak hal.
“ Kamu kaget ya? “ dia bertanya.
Dan aku menjawab
“ he. Iya.”. jelas kan jawabanku. Pun klo kamu berada di posisiku juga begitu.
Aku berfikir dan berfikir… ini adalah sebuah hidayah. G salah lagi. Ketika seseorang menyatakan keinginannya untuk menjadi seorang muslim. Dan dewi, ia telah mempelajari Islam sejak lama. Seperti membaca Al-qur’an, adalah pelajaran yang memerlukan waktu yang agak lama. Terus, hafal bacaan sholat. Well… aku seperti menjadi seorang superman. Yang keberadaanku bagi dewi sepertinya dibutuhkan. Tapi.. waitzz.. kan ada pak guru.
***
“ Hm.. iya Um. Aku tahu keinginannya itu”. Jelas pak guru
“ Iya pak. Tar klo kalian jadi nikah, kan bisa menyelamatkan dia. “. Aku coba untuk meyakinkan.
“ hehe. Gitu ya?”.
Duh… kok tanyanya gitu ya
“ ya iya lah. Ada orang yang bisa melindungi dia klo ada apa-apa. Perhatiin dong posisi dia. Bukan anak kandung. Maaf aja niy… tapi dia dapet segala kesenangan di rumah. Dia anak dari orang tua asuh yang berada.”. aku menjelaskan sulitnya posisi dewi.
“ yah.. aku akan nikahi dia dengan syarat itu memang”.
Huff… keren kan pak guru ku ini. haha… ya iyalah.
***
“ Apa!!”. Aku kaget mendengar penjelasannya.
“ Itulah kenyataannya di rumah. Aku udah g tahan sebenarnya. Tapi ternyata aku masih tangguh berada disana. Mereka yang membesarkanku.”.
Enough… penjelasannya nyaris tanpa basa-basi.
“ bekas pukulan rotan biasanya baru hilang sekitar empat hari sampai seminggu. Dan aku g bisa beraktivitas seperti biasanya”. Tambahnya.
Aku seperti ikut merasakan sakit. Membayangkan warna perih yang berada di punggungnya itu
“ Tapi, itu memang kamu melakukan kesalahan? “. Aku mentabayunkan hal yang bisa juga menyebabkan peristiwa serupa.
“ Hm… iya. Itu memang kesalahan. Tapi, memukul begitu sering itu juga kesalahan.”. dia membela.
Aku g habis fikir. Semakin kenal aku dengan kehidupan pahitnya.
“ Um… bapakku disini”. Whats..?? apa lagi ini!
“ Aku tahu dia disini. Aku kangen sama mereka. Selalu.”
Sepertinya aku butuh oksigen lebih banyak.
“ Maksud kamu apa sih wi?”. Ini semua butuh penjelasan.
“ Tempo hari dia menjawab puisi-puisiku. Aku tahu itu dia. Dan dia tahu aku”. Kamu tahu, tatapan matanya g pasti pada satu benda. Hanya pada udara yang tembus pada kehampaan.
Aku terdiam. Terpatung, g bergerak. Hoho. Belum mati. Masih bisa nulis cerita ini kok setelahnya. Kenyataan yang mengerikan. Seperti cerita-cerita dalam sinetron yang banyak nangis-nangis itu. Tapi kenyataan jelas lebih pahit.
Aku berfikir. Tapi buntu. Pelajaran yang g dapat ku mengerti. Bukan seperti alur integral metafisika yang biasa ku pelajari di kelas. Terlalu rumit.
****
“ Wah… senangnya lihat kalian.”. ku sapa dewi dan pak guru yang sedang mendiskusikan sesuatu di ruang tamu.
“ Hei. Udah selesai po kerjaanmu?” Pak guru menjawab sapaanku.
“ Udah dong… Beres bos. “ Aku menunjukkan wajah kemenangan. Soal-soal excel darinya ku babat habis. Hahaha…
“ Eh. Maaf ya ngganggu. Sengaja. Hihi”. Ya maaf aja. Aku kan emang udah selesai.
“ Um, sini gih. Ada yang mau ku tunjukin sama kamu. Tapi ini untuk kita2 aja yah?!”.
Dewi membuatku bingung. Apa lagi yang akan dia ceritakan padaku. Tingkahnya sedikit manja.
Dia mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah buku mirip diktat. Sampul mika warna biru muda. Disodorkannya ke diriku. Dan… ku buka. Satu per satu.
Ho, ini adalah deretan tulisan yang membawa penulisnya pada dimensi dua. Abstrak. G nyata. Tapi dirindu. Jadi, dia mengumpulkan puisi-puisinya dalam satu kumpulan puisi. Khusus miliknya. Menjadi mozaik yang utuh, namun hanya dalam mimpi. Begitulah puisi.
“Apaan sih? Aku g boleh tahu y?”. pak guru wajar penasaran. Masa’ sebagai cowoknya g boleh tahu. tapi memang hal ini terlalu privasi menurutku. Apa lagi puisi-puisi gadis cantik ini.
Dewi hanya tersenyum. Dia belum memperbolehkan.
Aku mencoba memahami beberapa pokok bahasan dengan apa yang telah ia tulis. Puisi bukan hal untuk dipertanyakan. Kebebasan bagi si penulis untuk menuliskan apa yang dia mau. G ada protes atau interupsi. Semau penulis. Ada beberapa pokok bahasan.
Kerinduan seorang anak pada ibu, pada bapak. Aku tahu cerita ini.
kesakitan yang sangat perih, dia coba menceritakan dirinya sebagai peri yang terkurung.
Istilah Gadis Pingit berulang kali dia ungkit-ungkit.
Dan… seorang pangeran. Ho.. seorang pangeran??? She have found him.
“ Tahu g mi. si dewi kemaren pingsan.”Pak guru membuka perbincangan lagi.
Eh.. apa! Pingsan! Apa lagi ini. aku hanya bengong. Ku arahkan pandangan mataku mata tubuh kurus dewi. Dia hanya tersenyum saja.
“ Haha. Pasti g percaya. Dia bener-bener pingsan!”.
Dia punya penyakit. Entah apa namanya. Berhubungan dengan darah. Kurang sel darah putih. Apa ya namanya? Kanker darah?
Ah dewi. Sekian banyak cerita telah ku peroleh tentangmu. Maaf jika aku g mampu berbuat apapun untukmu…
***
“ UM, UDAHLAH JANGAN DEKAT-DEKAT LAGI SAMA DIA.. “.
Itu ujar pak guru. G habis pikir. Ia memintaku untuk menghindari si dewi. Si dewi yang pernah sangat ia cintai itu dan yang baru dua bulan ini memadu kasih itu.
Aku masih teringat ketika mereka selalu menghabiskan sore bersama dengan melihat senja di langit barat, juga dewi yang bercerita bahwa tiap hari pak guru selalu menelfonnya, makan bersama, dan semua-mua yang ku dengar tentang mereka.
“ sebenarnya apa sih masalah kalian?”. Hoho… disini ternyata posisiku sebagai penengah mereka lho…
“ Mi, aku sudah tahu siapa dia sebenarnya.” Pak guru g ragu mengatakannya.
“Maksudnya?”. Aku bingung aja.
“ Pun mungkin aku juga sulit untuk mengatakannya. Tapi dia g seperti apa yang kita fahami sebelumnya.”. itu aja??
“ Gimana sih. Aku g ngerti deh. Setauku pak guru sangat senang tempo hari ketika bisa dekat sama dia.”.
aku memang bingung.
“ Ah, entar juga kamu akan faham. Tapi itu, kamu jangan terlalu dekat dengannya.”
Bukankah yang seperti ini tanpa penjelasan? Menyebalkan bagiku.
***
‘ ini Popi, sepupu dewi’
Message deliverd
‘sekarang gmn keadaannya’
Message sent
‘dr tadi mlm ngigau terus nama pacarnya yg dijepara”
Aku hanya terpaku. Mengingat puisi-puisi yang ditulisnya ketika itu. Sebelum dan sesudah bersama dengan pak guru. Dan sampai hari ini, bahkan dalam keadaan kritis itu, ia masih mengigau tentang pak guru??
‘Trs gmn sm tunanganny? ’
Message sent
‘g tau mb.sprtny mmaklumi.’
‘klo dah siuman ksh tau aq y. aq mw ngobrl sm dia’
Message deliverd
‘yup’
Ini tahun pertamaku di jogja. Tapi hari ini hatiku terterawang ke daerah asalku. Tentang cerita itu. Cerita yang bagiku sulit untuk difahami. Romansa cinta anak manusia, yang kandas dengan seribu alasan. Sakit, perih, mungkin begitu rasanya. Ah, aku sendiri g faham. Hanya menjadi saksi. Hihi…
Sakit dewi semakin parah. Dia yang memberi kabar langsung dengan isakan tangis di telfon. Atau sms dengan nada-nada penuh luka. Huff… sampai aku sendiri bingung menggambarkan bagaimana keadaannya sekarang. Karena terlalu banyak dan sulit untuk dijalani. Dan badannya yang kurus itu kini apakah akan semakin kurus juga? Sekurus impiannya yang semakin terkikis waktu.
Sekarang dia di Bandung. Sudah punya tunangan seorang polisi. Ku pikir dia bisa menggantikan pak guru. Hanya saja dewi sepertinya g pernah merelakan perginya kekasih yang amat ia cintai itu.
Kakinya retak karena jatuh dari motor, ditambah dengan kanker darah yang dia derita. Sejenak di bandung mungkin bisa menghindari pukulan rotan ibunya. Entah akan seberapa lama dia bisa menghindari semuanya. Begitulah ia menceritakan….
***
“ Um, udahlah. Dia itu g kaya’ apa yang kamu bayangin. Dia itu…. “
“ kemaren aku lihat dia cupika cupiki sama co. aku g suka. Setahuku dia itu…“
“ G tahu Um. Temen2 SMAnya bilang dia itu…. “
“ alasanku adalah karena dia g seperti yg ku kenal.” pak guru.
Begitu banyak cerita tentangmu. Warna yang bertolak belakang dengan yang selama ini ku kenal tentangmu. Bahkan aku g menemukan seorangpun yang sependapat denganku. Terlalu lucu bagiku. Atau aku yang terlalu lugu. Ah kau ini!
Ataukah kau kala itu kau yang lain…. ? dan kau yang ku tahu dari orang lain ini kau yang mana wi? Kau sakit itu kau yang mana? Terus, gadis pingit selama ini siapa dia? Putri keraton itu, itu siapa?
***
“ Bu, Dewinya ada?”. Aku bercakap dari luar tralis gerbang rumah megah ini dengan ibunya dewi yang juga telah mengenalku. Setelah anjing penjaganya menggonggong tamu tak diundang, ibunya datang dengan sedikit senyum. Anjingnya galak banget. Ada dua, yang satu berwarna putih tampak lucu dan imut, tapi ternyata g kalah galak. Hahaha…
“ Wah, dewinya di Karang Um. Ada apa ya?”. Ibunya menjelaskan.
“ Ho, pengen maen aja. Kan udah lama g ketemu. Di Karang dia dimana bu?” tanya ku untuk memperpanjang perbincangan.
“ Dewi kan kuliah disana. Terus ini dia belum pulang”. Jelas wanita paruh baya ini.
“ oya, katanya dewi pernah sakit di Bandung. Apa udah sembuh, kok udah mulai kuliah lagi?” Tiba-tiba aku berani menanyakan. Sebenarnya aku g ingin ibunya tahu klo aku tahu banyak hal tentang dewi.
“ G kok. Dewi baik-baik aja.” Jawab ibu. Tampak ada kerenyitan bingung di keningnya.
“ Lho, kan sempet rawat inap di rumah sakit?!”. Aku terus mengintrogasi. Wanita ini adalah wanita yang juga kasar terhadap dewi dengan pukulan rotannya. Hanya saja, untuk masalah yang memang langsung berhubungan dengan nyawa dewi kala itu apakah akan disembunyikannya juga?
“ G ah, dia baik-baik aja. Kuliah di Karang dan dia sehat-sehat aja”.
Ah, aku semakin bingung.
“ hm….. gitu ya bu?”. Aku hanya mencoba berfikir, tapi buntu. Bukan mencari solusi, but something wrong happened.
“ Ya udah deh. Ntar Umi kesini lagi. Soalnya no hp dewi g bisa di hubungi. Makasih ya bu. Mari…. “.
Enough… !!! Aku sudah lelah berada dalam sandiwaranya. Menjadi tokoh bonekanya. Menjadi orang yang memelasinya, dan menenangkan jiwa palsunya. Apa-apa yang udah diceritakan pak guru?? Juga cerita dari beberapa temanku?? Dan sekarang aku sendiri! Tentangnya, g pernah habis untuk diperdebatkan. Terutama dengan pak guru.
***
Laki-laki ini rupanya yang telah mampu mengobati dewi. Dari segala sakitnya selama ini. aku hanya memandangi senyum manisnya. Meski aku sendiri dalam keadaan lelah, tapi segalanya telah hilang begitu saja setelah melihatnya dalam keadaan yang jauh lebih baik dari yang pernah aku bayangkan.
“ yang membuatku tetap dengannya adalah dia seperti pak guru”. Tuturnya sedikit malu.
Ah, pak guru selalu berada dalam hatinya. Bahkan sampai hari ini. terhitung tiga putaran bumi mengelilingi matahari. Tetap saja begitu.
Tapi secara kilas mata laki-laki ini bebeda dengan pak guru. Orangnya lebih putih, lebih tampan bagi kebanyakan cewek ku pikir, dan memiliki prestis dari kalangan berada. Tampak dari penampilannya yang sangat elegant. Ah dewi, entah apa yang kau fikirkan… se-nggak2-nya ia tambatan hatimu hari ini. Dan g mengusik kehidupan pak guru lagi seperti yang terjadi beberapa waktu setelah kalian berpisah. Kisah roman kalian itu.
***
Riwayatmu pernah hilang dalam memoriku. Setelah aku kebingungan menelaah dirimu dengan lebih detail. Cerita-cerita dari orang lain mengusikku. Kita telah 3 tahun berteman. Tapi aku sendiri sebagai orang yang kau percaya dan menjadi pendengar setiamu, g percaya. Bahkan dengan pak guru sekalipun. Laki-laki yang sangat baik itu. Dan yang telah melepas bujangnya beberapa waktu lalu itu.
Aku menjadi g peduli. Aku terlalu sibuk dengan banyak urusan. Apa lagi di kota tempat aku belajar, aku punya banyak hal yang ku kerjakan. kisahmu terhapus begitu saja. Dan juga gambar dirimu dalam albumku semakin kusut. Nomor hpmu g bisa di kontak lagi. G ada berita lagi. Sudah cukup bagiku. Semoga menjadi kebaikan bagiku, dan juga dengan jiwa keduamu itu. Jiwa yang kesakitan itu. Yang mungkin masih ada sampai hari ini. tapi ku harap ia telah pergi dan benar-benar meninggalkanmu.
Kisah ke-Islamanmu telah kau ceritakan sejak dulu. Tapi aku g melihat perubahan dalam dirimu. Gosip-gosip dari banyak orang telah memekakkan telingaku. Tapi rintihanmu selama ini telah meredamkannya lagi. Ah dewi.. maafkan aku.
Sampai pada suatu hari…
***
“ Tiin… digole’i dewi..!! ” (Tin.. – panggilan di rumah - di cari dewi.)
Ibuku dari ruang tamu memanggil. Setelah ada deru mobil yang masuk ke halaman kami.
Hm… dewi yang mana ni? Ada beberapa nama dewi yang menjadi temanku. Masih pagi untuk menerima tamu. Tapi ini kan idul fitri. Saatnya berkunjung.
Aku segera menuju ruang tamu. Dan.. aku hanya mematung.
Dia, dewi itu. Yang telah hilang ceritanya selama 2 matahari, dalam kabar dan juga ruang memoriku. Kini berada di hadapanku dengan baju muslimahnya. Dia kenakan jilbab sesuai dengan warna bajunya yang hijau keemasan. Dan dibelakannya, berdiri laki-laki itu. Laki-laki kala dua matahari itu.
Aku bengong, g sadarkan diri. Haha.. maksudnya aku mencoba loading dengan memori-memori kala itu.
Kau hanya tersenyum manis yang semakin manis dengan lipstik tipismu itu.
“ Um… “. Kau menyapa.
Kau menyambangiku. Merangkulku dan begitu juga aku. Kita berpelukan erat. Rindu sekali…
Hanya saja…
Aku masih memandang matamu yang juga ikut berbicara, bahasa lain yang juga iku bercerita. Kau telah menikah dengan laki-laki ini dan memenuhi setengah agamamu sebagai muslim. Aku sungguh terbengong-bengong…
Aku g bertanya apa-apa. Aku g tahu pertanyaan seperti apa yang harus aku keluarkan.
“ ku kasih tahu. ini foto anakku.”.
Whatzz… secepat itu?
“ aku g bohong Mi. ini anakku sama dia.”. kau memperlihatkan layar ponselmu. Tampak anak yang manis sedang berpose bersamamu.
“ Udah berapa bulan?” akhirnya ada pertanyaan.
“ Putra udah tujuh bulan”. Jawabmu singkat.
Aku semakin beku. Dua matahari mengubahmu sedemikian cepat. Dan kau pun sudah punya buah hati?? Ku cubit kaki kananku. Huff.. aku g lagi mimpi kok.
Matahari selanjutnya kau memperlihatkan Putra padaku. Ia sedang tertidur saat itu. Sangat pulas. Ayahnya yang tampan dan juga ibunya yang cantik sepertimu, nampak padanya seperti pangeran kecil dalam pangkuan ratu. Kau masih dengan busana anggunmu. Aku hanya tertegun.
***
HARI INI…
Aku pun g yakin menggambarkan ini semua. Aku menjadi tokoh figuran pada film kusut seorang dewi. Adalah wanita yang g pernah aku fahami. Menjadikanku orang yang sangat bodoh. Kau tahu apa terjadi hari ini? ada gambaran episode dimana cita-citanya tercapai. Terutama keinginannya menjadi seorang muslim. Tentu saja hal yang sangat membahagiakan. Juga bagiku. Ini sebuah gerbang terindah yang telah dilewati oleh seorang dewi. Semoga saja begitu.
Namun.. aku sendiri ragu bagaimana menceritakannya. Ah.. tapi ku coba ya. Aku hanya ingin kalian bisa mengambil pelajaran dan dari dirinya aku ingin kalian bisa memahami orang terdekat anda dengan prasangka baik anda. G menjadi skeptis sepertiku saat ini. itulah pandanganku terhadap dewi. Gadis cantik putri keraton yang terasing di dimensi dua.
***
Miu_suzhu : udah tahu kabar dewi?
Pak_guru : hm… dia sering ditinggal pergi suaminya terus.
Miu_suzhu : ya iya lah. Suaminya kan konsultan tehnik sipil. Perginya kemana-mana. Ke pelosok juga disambangin.
Pak_guru : dia g tahan dgn suaminya. Tempo hari dia curhat sama aku.
Curhat?? Dengan pak guru??
Sambil mengetikkan tuts keyboard laptop Eca aku melanjutkan chatting ku dengan pak guruku yang baru saja YM-nya ku add.
Miu_suzhu : lho. Gitu ya. Setahuku dia bahagia bgt tu. Ya, terakhir pertemuan lebaran tempo hari sih..
Pak_guru : ah, kasihan dia. Tapi gmn lagi. Jalannya udah begitu.
Miu_suzhu : gitu ya .g tahu ah! Malah km yg tahu banyak tentang itu anak. Padahal aku kan mau ksh kabar tentang dia.
Pak_guru : udahlah. Yang lalu biar lalu.
Miu_suzhu : ye.. siapa yg mau ungkit2.
Pak_gutu : dia itu MBA.
MBA (Married by accident)
…..
…..
Pak_guru : Buzz!!
Pak_guru : Um… ?? masih di situ??
***
Jogja tambah kelam. Musim hujan ini se-nggak2-nya menambah jumlah orang yang terkena flu. Alhamdulillah aku sehat. Asalkan makan tepat waktu, minum susu, haha… everything will be ok. Tiba-tiba terlintas tentangmu. Kutulis, dan tiba-tiba ada rindu yang menyeruak…
‘aslmkm.Apa kbr wi?’
‘w’slm.baik. Ni siapa?’
‘ni umi. Hehe. Gmn kbr anakmu?’
‘Putra demam, badanny panas’
‘udh dbw kdokter? Inikan msm hjn.wjr, anak2’
‘udah 2x. tp blm reda jg’
‘km sndrian drmh?’
…
…
‘km tmbh gmk ap kurus?’
‘masih ky dulu’
Ho… masih kurus
‘makannya mkn yg bnyk dong wi…’
‘tenang aj. Klo aq nafsu aq mkn byk kok. Tp srg g nafsunya’
‘matahari masih setia wi. Senangkan putra dgn mnyenangkan dirimu’.
‘ya, Insya Alloh aq slalu brusaha utk itu, senyum anakku adlh kbhagiaanku. km g prnh sms sm pak guru?’
Kenapa kau menanyakannya….
‘g. terakhr chatting bln lalu. Km blm ktmu lg? Emg ad apa?’
‘g ad ap2. soalny bbrp mingg in dia rjn sms aq. Dia pngen ktmu sm aq klo plg ke jpara’
Hm… apakah cerita kalian memang g pernah berakhir??
‘ ho. aq dah 3th g ktnmu’
Message delivered
‘aq ktmu trakhir ky’ny wkt usai ujian skolah, katanya dia tmbh gmk n skrg lg kulh nymbg S1 di Rajabasa’
Aku g mau membahasnya lebih lanjut. G mau mencabut pedang pada luka yang telah kering milikmu itu. Juga mungkin lukanya. Yang telah 5 tahun menganga hitam. Kisah roman kala itu…
Orang itu, adalah masa lalu bagimu. Ruang yang berbeda wi. Dimensi yang berbeda. Berenanglah ke dimensimu sendiri Wi…..
Biarlah figuran ini menjadi balok prisma di dimensi yang lain. Yang telah menyaksikan kalian dan kini sedang mengharap cahaya putih, lalu memendarkan dan menjadi pelangi. Menjadi MeJiKuHiBiNiU…
Cahaya putih itu….
Ah cinta…
Keep it drowning in your love..
Backstreet boys sedang konser ditelingaku, membangun prisma itu. Hahaha… maafkan aku Wi.
Yogyakarta, 14 Desember 2008
Wednesday, December 10, 2008
THANK YOU, FOR LOVING ME…
Begitulah aku ikut menendangkan lagu Bonjovi ini. Haha… tidak. Hanya saja ini adalah lagu yang sangat romantis menurutku. Bukan, bukan karena liriknya, tapi karena musiknya. Slow… . Minimal bisa membawakan romantisku. Cie… aku juga bisa romatis lho. Gubrax!!
Mengapa harus begini judulnya. Yah.. aku mengucapkan terima kasih. Pada siapapun yang telah mencintaiku, yang telah memberikan warna-warni dalam hidupku, saudara saudariku, sahabatku, teman-temanku, all of you… Hanya terima kasih yang mampu aku ucapkan. Kau ingin taku ke-Aku anku. Ah.. alangkah angkuhnya diri ini.
Untukmu yang telah membangun rumah jiwaku
Thank you…
MALAM ITU
Bsk ad pmbhsn susdukor. Klo bs dtg y.
Bahasa sms yang datar. Benar saja. Tapi tidak seperti ini biasanya. Setelah aku mengecewakan beberapa orang dalam hidup ini, pun dengan orang yang bisa menyadarkanku tentang sebuah ke-terusterangan juga telah kecewa. Biasa dia menyapaku dengna mb’, tapi tidak kali ini.
Maaf, g bs dtg
Aku tidak menyapanya dengan kata-kata dek kali ini, karena aku sedang kehilangan kasih sayangnya.
Tahu g klo mb Ima kmrn milad?
Aku tersenyum kecut. aku memang tidak tahu!! tidak pernah perhatian. Setelah beberapa kegagalan dalam menjalin sebuah persahabatan, aku merasa ketakutan ketika mendatangi jiwa-jiwa yang lain. Maka aku hanya mampu menyentuh raganya, membuatnya tersenyum, menolong ketika ada. Tetapi, untuk menyentuh jiwanya…. ???
Maaf klo g perhatian.
Message sent!
Ada sesak yang biasa ku rasa. Ini adalah yang kesekian kalinya. Setelah aku menguji nilai persaudaraan seorang sahabat dengan tidak mengucapkan “met milad”. Sebuah kesalahan kah? Jelas! Tapi kali ini, kebiasaanku itu telah membuatku terbiasa untuk tidak ingin tahu lebih jauh siapa orang yang dekat denganku. Hingga orang-orang yang masih tetap bertahan denganku adalah orang-orang hebat! Orang-orang yang sangat hebat. Selamat ya…. !!!
Hahaha…
Thank you, for loving me…
Banyak raga yang telah ku peluk, ku tenangkan dengan mengelus pundaknya, juga jiwanya. Namun ku lepas kembali. Perlahan… karena aku takut. Yah… tepatnya aku takut. Melukainya lagi…
DIA…
Ka, gmn kbrnya. Kangen nih. Hehe
Message sent.
Kerinduan yang aku ungkap. Sangat gamblang. Setelah sekian lama tak jumpa. Aku memang sangat merindunya. Baginya, kata-kata ini adalah kata-kata tabu untuk diucapkan. Ungkapkan saja dengan kasih sayang. Tidak! Bagiku ini harus disampaikan!
Km sdh maafkan aku kah?
Sms yang ku kirim untuk hal yang tidak perlu penjelasan. Memang tidak ada yang dijelaskan. Karena memang tidak ada apa-apa. Aku, hanya menginginkan dia memaafkanku. Haha.. gila memang. Aku hanya ingin dimaafkan!
Membuat kami seperti kakak adik. Selalu bersama dalam banyak acara. Bookfair, belanja bulanan, cari makan malam. Wajahnya yang imut, dan memang lebih tepat dia sebagai adiknya. Haha… dan aku kakaknya. Tapi aku memanggilnya ka’, suku kata terakhir dari nama depannya. Ka’, saudariku.
Kosnya yang dekat menguntungkanku. Kita bisa saling berkunjung kapanpun kita mau.
Dia yang mengajarkan banyak hal. Haha.. dialah yang mengenalkan dunia padaku. Dunia luar yang tidak pernah ku sentuh. Karena yang aku tahu hanyalah buku dengan banyak rumus. Dan rumus-rumus itulah yang telah mengantarkanku sampai ke UGM. Sampai di Yogyakarta. Cacing-cacing itu…. Hihihi.
Darinya aku tahu buku-buku novel terkenal, cerita orang-orang sukses, dunia psikologi, ah! Apa saja aku tahu darinya. Dia yang faham akan kedunguanku, dia juga yang menertawai dan dia juga yang mau menjelaskan. Tidak menghinaku terus menerus, dan dia ingin aku tahu semuanya. Terima kasih….
G ad yg prl dimaafkn.
Diantara kami memang tidak ada permulaan, maka tidak perlu ada penyelesaian. Tidak ada kesalahan, maka tidak ada yang perlu dimaafkan. Katanya….
Hanya saja….
Ke-egoisan kami! Sama-sama keras kepala. Haha.. karena begitulah kami. Kami seperti pinang dibelah dua. Dia adalah cerminku. Bagiku, begitu….
Aku sangat sayang padanya, melebihi diriku sendiri. Sungguh. Dia sangat menghargai kebodohanku, dia yang juga yang mampu memahamkanku banyak hal. Sedang aku, aku hanya mau menjadi orang dekatnya. Yang hanya menolongnya dimana ia butuh, hanya ingin mendengar segala cerita senang susahnya, juga mengajaknya tertawa bersama dengan segala lelucon baru.
NADA YANG SAMA…
Dirmawa mw ketemu. Bs jm brp?
Nada yang sama. Padahal waktu telah melangkahkan fajar, juga matahari yang berbeda. Tapi, nada yang sama. Datar….
Haha.. aku biasa dengan suasana sepi. Maka sebuah kebahagiaan ketika bisa merasakan segala euforia yang lewat. Bahagia sekali….
Mb baru bs jm 11.
Message sent!
Ok. Ktemu di KM jm 11.
End.
Berarti 1 jam lagi. Perjalanan 20 menit. Berarti harus sudah siap dalam waktu 40 menit. Belum dengan Umair yang rewel dan waktu yang dihabiskan untuk memanaskannya.
Anak ini yang mengajarkanku integritas seorang aktivis.
Message delivered
Sodara/i yg kucintai krn Alloh, gmn progresnya? Tolg smskan mana aja yg udah dan mana aj yg blm, ditunggu skrg jg…
Ah… integritas yang luar biasa bukan?! Dia yang megajarkanku begitu….
Thank you, for loving me…
SELAMA INI….
Bertahan sendiri, sedih sendiri, sakit sendiri, cinta sendiri. Dengan segala keluh kesah dan sumpah serapah yang meninjijikkan. Huff… udah pernah ku bilang.
Hitam disegala pejuru. Diatas hitam, di bawah hitam. Di kanan, dikiri. Pun aku hanya bisa melukis hitam. Maaf, karena aku hanya punya hitam…
Hanya saja…
Kali ini aku sedang membangun prisma yang bening. Bening yang memancar pelangi… ah, diriku…
Egois lagi. Hahaha…
***
Bahkan seseorang hari itu telah menyadarkanku sampai pada alam bawah sadar dengan frekuensi terendah, memang inilah diriku.
Aku tahu klo aku selalu kalah.
Kau yang membangunkanku….
Dia, juga orang yang sempat menemaniku sejenak dengan segala sepi. Yang mampu menembus dimensi dan membuat mozaik-mozaik baru. Menghampirkan euforia. Dan juga yang telah meninggalkan asa sendiri. Asa sendiri…
***
“ Hahaha… betul miu, pura-pura tegar didepan orang lain. Lemah lembut, selalu ceria, padahal….. “.
Saudariku yang satu ini mendetailkan siapa diriku sebenarnya. Rapuh, menunggu runtuh. Gemuruh. Ckckck… jangan percaya bagi siapapun yang belum mengenalku. Hihi… tapi Saudariku yagn satu ini jauh lebih memahami diriku yang sungguh lapuk ini. dia termasuk orang yang masih bertahan untuk tetap bersamaku. Orang-orang hebat yang juga ku maksud!
Sampai menunggu ia untuk dijemput teman hidupnya. Setelah itu, aku sendiri lagi…
Ah.. katanya sedang membangun prisma …
Dengarkan…
Where’re you go? I miss you so…
Giliran lagu ini yang berdendang.
Thank you, for loving me… my sist…
***
Bukan, bukan egois karena ini terus terusan tentangku. Ku menulisnya karena aku hanya ingin mengubah sebuah alur hidup diriku. Kasihan sekali….
Tapi, aku adalah orang yang sudah cukup dengan diri sendiri. Karena tiap hari aku semakin kehilangan diriku di terpa angin dan terbang bersama layang bayang yang tercipta cahaya siang matahari dan lupa malam harinya.
Aku tidak butuh orang lain, dengan segala keegoisanku. Aku tidak butuh komentar orang lain. Pun aku masih bisa bekerja dengan segala proyek dan agenda hidupku tidak untukku. Aku sudah cukup jemu dengan diriku.
Aku hanya ingin mewarisi jiwanya.
Jiwa yang kurindu selalu….
Selalu ku rindu…
SORE ITU!!!
Wah… serunya. Aku baru saja bersama Irma, silaturahim lagi di lokasi KKN. Setelah Ramadhan belum kesana lagi. Dan sekarang…. Kami pulang dengan banyak oleh-oleh. Ku beri tahu ya isinya. Mangga, kacang tanah, dan pete. Hoho… pete! Buat Irma aja ah! Hahaha….
Bukan ini inti ceritanya. Tapi aku sudah menjanjikan untuk melepas kepergian seorang saudara yang juga telah mewarnai kanvas hidupku. Dengan apa yang telah dia sumbangkan, pemikiran aneh dan juga riwayat hidupnya.
Keretanya berangkat jam 16.30 WIB dari stasiun lempuyangan. Kata Arif. Nama yang tepat bukan bagi seorang yang sangat arif?! Tapi yang ku tahu kereta berangkan 16.55 WIB. Haha, dia hanya ingin ngobrol sejenak mungkin. Teman yang pernah dua kali seperjalanan ini memang sangat menyenangkan.
Seperti biasanya dia naik kereta ekonomi. Tapi kali ini adalah kepulanganya dengan menyimpan sejenak cita-citanya.
***
“ ane tidak ingin menyumbang secara terang-terang di Hizb. Hanya saja pengen jadi orang dibalik layar.”. ah.. tuturnya mengalir begitu saja. Atau mungkin karena dia sudah bosan? Dengan selama ini bekerja di Hizb kampus? Oh. Dia bukan orang yang seperti itu.
“ ane pengen ngajar.”. Sederhana. Masih dengan cita-cita yang sama, yang juga pernah diungkapkannya jauh-jauh hari.
“ Dosen”. Lugas. Elegant. Cerdas.
Aku hanya tersenyum mengangguk. Semoga kau dimudahkan… Gumamku saat itu.. saat perjalanan kami kembali ke Yogyakarta bersama.
***
Hujan besar tiba-tiba mengiringi perjalananku dari Gunung Kidul. Banjir disana sini. Untungnya aku g bawa si Umair, setelah tuker pake dengan temen asrama. Motor ini bisa menerjang bajir dengan kedalaman 15 cm-an. Hebat ya. Ya iya lah.. cie.. klo Umair, bisa mogok dijalan. Hahaha…. Irma yang bingung. Bukan! Aku juga bingung lah!!
Dan.. janjiku untuk melepas kepulangan Arif harus aku tepati. Apapun yang terjadi. Sesampai di asrama dan setelah mengantar Irma ke kosnya, aku langsng bersiap diri.
“ Ca, yux segera. Jadi kan kita ke lempuyangan?”. Aku mengingatkan Eca. Melepas orang yang telah mendidiknya juga selama di kampus.
“ hm… masih hujan besar mb”. Sambil melongok ke keluar kamar.
Iya sih. Hujan besar banget. Aku mengurungkan sejenak niatku. Sekarang mendekati jam setengah 5 kurang 10 menit.
“ Yux ah!!! Tar ketinggalan”. Aku pun bersegera. Terserah Eca mau jadi ikut atau g. Pun harus bermandi hujan, aku hanya ingin menguvapkan terimakasih...
***
Jalan dijogja jelas licin selama diguyur hujan. Masih begitu deras. Tapi ini tidak menghalangiku untuk terus melajukan motor dengan kecepatan maksimal. Si Eca diem aja. Haha.. mungkin dia takut. G juga. Dia jago ngebut juga kok.
Shiyung…. Aku melesat diantara dua kijang yang kinclong. Weitzz.. everything is ok. Alloh tahu hambanya berusaha. Didepan ku lihat detikan lampu merah masih berhitung mundur. 10, 9, 8…. Aku masuk jalur kiri dan melambatkannya sejenak dan 3, 2… shyiung…. Aku melesar mengambil posisi nomor satu di F1 ini. hoho.. bukan bukan…
Terus ku laju dan terus ku laju. Polisi tidur ku terjang tanpa mengurangin kecepatan, mungkin yang kager Eca. Dug dug dug, sedikit mengganggu memang.
Dan huff,…. Lalu lintas masih padat. Ku keluarkan keahlianku. Lebih-lebih kijang-kijang yang mengkilap-kilap itu, VVTI - pun ku say hellow.. maaf ya. Duluan… taxi-taxi, apa lagi pengendara motor yagn lain. Shiyung…
Semakin dekat dengan lempuyangan. Terdengar dari jarak 20 meter. Ti.. nut.. ti.. nut… ti.. nut… hoho. Plang kereta api sebelah timur ditutup. G bisa lewat! Harus nunggu. G mungkin! Aku putar arah untuk ambil arah barat. Dan shiyung…..
Aku merentas pemandangan hijau pohon-pohon sepanjangan jalan dan aku menjadi tidak peduli dengan segala apa yang ada di depan mata. Dia, saudaraku itu…. Shiyung… tangan kananku telah merasakan full press!
Aku telah masuk jalur barat. Dan ti.. nut.. ti.. nut… jekejekejekejek…
Kereta itu…
Cshit…. Ku rem motor tepat di plang jalan kereta. Dan….
“ Mb, ini kan progo! Berarti mas arif di dalem”. Eca.
Didalem?
Ku longok pandanganku pada tiap gerobong yang bersambung-sambung itu. Mungkin aku masih menemukannya.
Tapi…. Sampai gerobong terakhir aku tidak juga menemukannya. Bahkan hanya untuk mengucapkan terima kasih…
Thank you… than you, for loving me…. Bersenandung lagi si Bonjovi di headset ku. Hahaha….
For all of u…
Thank you.. for loving me…
Mengapa harus begini judulnya. Yah.. aku mengucapkan terima kasih. Pada siapapun yang telah mencintaiku, yang telah memberikan warna-warni dalam hidupku, saudara saudariku, sahabatku, teman-temanku, all of you… Hanya terima kasih yang mampu aku ucapkan. Kau ingin taku ke-Aku anku. Ah.. alangkah angkuhnya diri ini.
Untukmu yang telah membangun rumah jiwaku
Thank you…
MALAM ITU
Bsk ad pmbhsn susdukor. Klo bs dtg y.
Bahasa sms yang datar. Benar saja. Tapi tidak seperti ini biasanya. Setelah aku mengecewakan beberapa orang dalam hidup ini, pun dengan orang yang bisa menyadarkanku tentang sebuah ke-terusterangan juga telah kecewa. Biasa dia menyapaku dengna mb’, tapi tidak kali ini.
Maaf, g bs dtg
Aku tidak menyapanya dengan kata-kata dek kali ini, karena aku sedang kehilangan kasih sayangnya.
Tahu g klo mb Ima kmrn milad?
Aku tersenyum kecut. aku memang tidak tahu!! tidak pernah perhatian. Setelah beberapa kegagalan dalam menjalin sebuah persahabatan, aku merasa ketakutan ketika mendatangi jiwa-jiwa yang lain. Maka aku hanya mampu menyentuh raganya, membuatnya tersenyum, menolong ketika ada. Tetapi, untuk menyentuh jiwanya…. ???
Maaf klo g perhatian.
Message sent!
Ada sesak yang biasa ku rasa. Ini adalah yang kesekian kalinya. Setelah aku menguji nilai persaudaraan seorang sahabat dengan tidak mengucapkan “met milad”. Sebuah kesalahan kah? Jelas! Tapi kali ini, kebiasaanku itu telah membuatku terbiasa untuk tidak ingin tahu lebih jauh siapa orang yang dekat denganku. Hingga orang-orang yang masih tetap bertahan denganku adalah orang-orang hebat! Orang-orang yang sangat hebat. Selamat ya…. !!!
Hahaha…
Thank you, for loving me…
Banyak raga yang telah ku peluk, ku tenangkan dengan mengelus pundaknya, juga jiwanya. Namun ku lepas kembali. Perlahan… karena aku takut. Yah… tepatnya aku takut. Melukainya lagi…
DIA…
Ka, gmn kbrnya. Kangen nih. Hehe
Message sent.
Kerinduan yang aku ungkap. Sangat gamblang. Setelah sekian lama tak jumpa. Aku memang sangat merindunya. Baginya, kata-kata ini adalah kata-kata tabu untuk diucapkan. Ungkapkan saja dengan kasih sayang. Tidak! Bagiku ini harus disampaikan!
Km sdh maafkan aku kah?
Sms yang ku kirim untuk hal yang tidak perlu penjelasan. Memang tidak ada yang dijelaskan. Karena memang tidak ada apa-apa. Aku, hanya menginginkan dia memaafkanku. Haha.. gila memang. Aku hanya ingin dimaafkan!
Membuat kami seperti kakak adik. Selalu bersama dalam banyak acara. Bookfair, belanja bulanan, cari makan malam. Wajahnya yang imut, dan memang lebih tepat dia sebagai adiknya. Haha… dan aku kakaknya. Tapi aku memanggilnya ka’, suku kata terakhir dari nama depannya. Ka’, saudariku.
Kosnya yang dekat menguntungkanku. Kita bisa saling berkunjung kapanpun kita mau.
Dia yang mengajarkan banyak hal. Haha.. dialah yang mengenalkan dunia padaku. Dunia luar yang tidak pernah ku sentuh. Karena yang aku tahu hanyalah buku dengan banyak rumus. Dan rumus-rumus itulah yang telah mengantarkanku sampai ke UGM. Sampai di Yogyakarta. Cacing-cacing itu…. Hihihi.
Darinya aku tahu buku-buku novel terkenal, cerita orang-orang sukses, dunia psikologi, ah! Apa saja aku tahu darinya. Dia yang faham akan kedunguanku, dia juga yang menertawai dan dia juga yang mau menjelaskan. Tidak menghinaku terus menerus, dan dia ingin aku tahu semuanya. Terima kasih….
G ad yg prl dimaafkn.
Diantara kami memang tidak ada permulaan, maka tidak perlu ada penyelesaian. Tidak ada kesalahan, maka tidak ada yang perlu dimaafkan. Katanya….
Hanya saja….
Ke-egoisan kami! Sama-sama keras kepala. Haha.. karena begitulah kami. Kami seperti pinang dibelah dua. Dia adalah cerminku. Bagiku, begitu….
Aku sangat sayang padanya, melebihi diriku sendiri. Sungguh. Dia sangat menghargai kebodohanku, dia yang juga yang mampu memahamkanku banyak hal. Sedang aku, aku hanya mau menjadi orang dekatnya. Yang hanya menolongnya dimana ia butuh, hanya ingin mendengar segala cerita senang susahnya, juga mengajaknya tertawa bersama dengan segala lelucon baru.
NADA YANG SAMA…
Dirmawa mw ketemu. Bs jm brp?
Nada yang sama. Padahal waktu telah melangkahkan fajar, juga matahari yang berbeda. Tapi, nada yang sama. Datar….
Haha.. aku biasa dengan suasana sepi. Maka sebuah kebahagiaan ketika bisa merasakan segala euforia yang lewat. Bahagia sekali….
Mb baru bs jm 11.
Message sent!
Ok. Ktemu di KM jm 11.
End.
Berarti 1 jam lagi. Perjalanan 20 menit. Berarti harus sudah siap dalam waktu 40 menit. Belum dengan Umair yang rewel dan waktu yang dihabiskan untuk memanaskannya.
Anak ini yang mengajarkanku integritas seorang aktivis.
Message delivered
Sodara/i yg kucintai krn Alloh, gmn progresnya? Tolg smskan mana aja yg udah dan mana aj yg blm, ditunggu skrg jg…
Ah… integritas yang luar biasa bukan?! Dia yang megajarkanku begitu….
Thank you, for loving me…
SELAMA INI….
Bertahan sendiri, sedih sendiri, sakit sendiri, cinta sendiri. Dengan segala keluh kesah dan sumpah serapah yang meninjijikkan. Huff… udah pernah ku bilang.
Hitam disegala pejuru. Diatas hitam, di bawah hitam. Di kanan, dikiri. Pun aku hanya bisa melukis hitam. Maaf, karena aku hanya punya hitam…
Hanya saja…
Kali ini aku sedang membangun prisma yang bening. Bening yang memancar pelangi… ah, diriku…
Egois lagi. Hahaha…
***
Bahkan seseorang hari itu telah menyadarkanku sampai pada alam bawah sadar dengan frekuensi terendah, memang inilah diriku.
Aku tahu klo aku selalu kalah.
Kau yang membangunkanku….
Dia, juga orang yang sempat menemaniku sejenak dengan segala sepi. Yang mampu menembus dimensi dan membuat mozaik-mozaik baru. Menghampirkan euforia. Dan juga yang telah meninggalkan asa sendiri. Asa sendiri…
***
“ Hahaha… betul miu, pura-pura tegar didepan orang lain. Lemah lembut, selalu ceria, padahal….. “.
Saudariku yang satu ini mendetailkan siapa diriku sebenarnya. Rapuh, menunggu runtuh. Gemuruh. Ckckck… jangan percaya bagi siapapun yang belum mengenalku. Hihi… tapi Saudariku yagn satu ini jauh lebih memahami diriku yang sungguh lapuk ini. dia termasuk orang yang masih bertahan untuk tetap bersamaku. Orang-orang hebat yang juga ku maksud!
Sampai menunggu ia untuk dijemput teman hidupnya. Setelah itu, aku sendiri lagi…
Ah.. katanya sedang membangun prisma …
Dengarkan…
Where’re you go? I miss you so…
Giliran lagu ini yang berdendang.
Thank you, for loving me… my sist…
***
Bukan, bukan egois karena ini terus terusan tentangku. Ku menulisnya karena aku hanya ingin mengubah sebuah alur hidup diriku. Kasihan sekali….
Tapi, aku adalah orang yang sudah cukup dengan diri sendiri. Karena tiap hari aku semakin kehilangan diriku di terpa angin dan terbang bersama layang bayang yang tercipta cahaya siang matahari dan lupa malam harinya.
Aku tidak butuh orang lain, dengan segala keegoisanku. Aku tidak butuh komentar orang lain. Pun aku masih bisa bekerja dengan segala proyek dan agenda hidupku tidak untukku. Aku sudah cukup jemu dengan diriku.
Aku hanya ingin mewarisi jiwanya.
Jiwa yang kurindu selalu….
Selalu ku rindu…
SORE ITU!!!
Wah… serunya. Aku baru saja bersama Irma, silaturahim lagi di lokasi KKN. Setelah Ramadhan belum kesana lagi. Dan sekarang…. Kami pulang dengan banyak oleh-oleh. Ku beri tahu ya isinya. Mangga, kacang tanah, dan pete. Hoho… pete! Buat Irma aja ah! Hahaha….
Bukan ini inti ceritanya. Tapi aku sudah menjanjikan untuk melepas kepergian seorang saudara yang juga telah mewarnai kanvas hidupku. Dengan apa yang telah dia sumbangkan, pemikiran aneh dan juga riwayat hidupnya.
Keretanya berangkat jam 16.30 WIB dari stasiun lempuyangan. Kata Arif. Nama yang tepat bukan bagi seorang yang sangat arif?! Tapi yang ku tahu kereta berangkan 16.55 WIB. Haha, dia hanya ingin ngobrol sejenak mungkin. Teman yang pernah dua kali seperjalanan ini memang sangat menyenangkan.
Seperti biasanya dia naik kereta ekonomi. Tapi kali ini adalah kepulanganya dengan menyimpan sejenak cita-citanya.
***
“ ane tidak ingin menyumbang secara terang-terang di Hizb. Hanya saja pengen jadi orang dibalik layar.”. ah.. tuturnya mengalir begitu saja. Atau mungkin karena dia sudah bosan? Dengan selama ini bekerja di Hizb kampus? Oh. Dia bukan orang yang seperti itu.
“ ane pengen ngajar.”. Sederhana. Masih dengan cita-cita yang sama, yang juga pernah diungkapkannya jauh-jauh hari.
“ Dosen”. Lugas. Elegant. Cerdas.
Aku hanya tersenyum mengangguk. Semoga kau dimudahkan… Gumamku saat itu.. saat perjalanan kami kembali ke Yogyakarta bersama.
***
Hujan besar tiba-tiba mengiringi perjalananku dari Gunung Kidul. Banjir disana sini. Untungnya aku g bawa si Umair, setelah tuker pake dengan temen asrama. Motor ini bisa menerjang bajir dengan kedalaman 15 cm-an. Hebat ya. Ya iya lah.. cie.. klo Umair, bisa mogok dijalan. Hahaha…. Irma yang bingung. Bukan! Aku juga bingung lah!!
Dan.. janjiku untuk melepas kepulangan Arif harus aku tepati. Apapun yang terjadi. Sesampai di asrama dan setelah mengantar Irma ke kosnya, aku langsng bersiap diri.
“ Ca, yux segera. Jadi kan kita ke lempuyangan?”. Aku mengingatkan Eca. Melepas orang yang telah mendidiknya juga selama di kampus.
“ hm… masih hujan besar mb”. Sambil melongok ke keluar kamar.
Iya sih. Hujan besar banget. Aku mengurungkan sejenak niatku. Sekarang mendekati jam setengah 5 kurang 10 menit.
“ Yux ah!!! Tar ketinggalan”. Aku pun bersegera. Terserah Eca mau jadi ikut atau g. Pun harus bermandi hujan, aku hanya ingin menguvapkan terimakasih...
***
Jalan dijogja jelas licin selama diguyur hujan. Masih begitu deras. Tapi ini tidak menghalangiku untuk terus melajukan motor dengan kecepatan maksimal. Si Eca diem aja. Haha.. mungkin dia takut. G juga. Dia jago ngebut juga kok.
Shiyung…. Aku melesat diantara dua kijang yang kinclong. Weitzz.. everything is ok. Alloh tahu hambanya berusaha. Didepan ku lihat detikan lampu merah masih berhitung mundur. 10, 9, 8…. Aku masuk jalur kiri dan melambatkannya sejenak dan 3, 2… shyiung…. Aku melesar mengambil posisi nomor satu di F1 ini. hoho.. bukan bukan…
Terus ku laju dan terus ku laju. Polisi tidur ku terjang tanpa mengurangin kecepatan, mungkin yang kager Eca. Dug dug dug, sedikit mengganggu memang.
Dan huff,…. Lalu lintas masih padat. Ku keluarkan keahlianku. Lebih-lebih kijang-kijang yang mengkilap-kilap itu, VVTI - pun ku say hellow.. maaf ya. Duluan… taxi-taxi, apa lagi pengendara motor yagn lain. Shiyung…
Semakin dekat dengan lempuyangan. Terdengar dari jarak 20 meter. Ti.. nut.. ti.. nut… ti.. nut… hoho. Plang kereta api sebelah timur ditutup. G bisa lewat! Harus nunggu. G mungkin! Aku putar arah untuk ambil arah barat. Dan shiyung…..
Aku merentas pemandangan hijau pohon-pohon sepanjangan jalan dan aku menjadi tidak peduli dengan segala apa yang ada di depan mata. Dia, saudaraku itu…. Shiyung… tangan kananku telah merasakan full press!
Aku telah masuk jalur barat. Dan ti.. nut.. ti.. nut… jekejekejekejek…
Kereta itu…
Cshit…. Ku rem motor tepat di plang jalan kereta. Dan….
“ Mb, ini kan progo! Berarti mas arif di dalem”. Eca.
Didalem?
Ku longok pandanganku pada tiap gerobong yang bersambung-sambung itu. Mungkin aku masih menemukannya.
Tapi…. Sampai gerobong terakhir aku tidak juga menemukannya. Bahkan hanya untuk mengucapkan terima kasih…
Thank you… than you, for loving me…. Bersenandung lagi si Bonjovi di headset ku. Hahaha….
For all of u…
Thank you.. for loving me…
Monday, December 8, 2008
“HWAA..!!! “
05.00 Am
“hwaaa….. !!!”, kontan ku ikut kaget. Teriakan histeris Teteh.
“ Apaan the?! Masih pagi buta begini… “. Tanya ku heran.
“ hih..! ulat ini lho. Boleh di bunuh g sih?!” jawabnya masih dengan wajah pucat
“ Ho.. klo ganggu boleh kok.”. Jawabku. Tapi tidak juga begitu yakin.
Teteh asal jawa barat itu memukulkan sandal dari depan kamarnya ke lantai beberapa kali. Aku hanya memandangnya dari ruang keluarga.
“hugh! Hugh!”. Ekspresinya memukul itu ulat.
“ hih!” Teteh besemangat lagi memukul-mukul itu ulat.
Dan… ku lihat dari atas genting ada makhluk yang sama sepertinya turun seperti spiderman yangturun dari gedung pencakar langit. Shyung…. Tetap di depan pintu kamar teteh. Dia turun pake’ benang, mirip benang laba-laba.
“ Teteh.. itu teh..!”. aku menunjuk dari jauh.
“ hih. Iya nih!”. Puk puk puk! Teteh masih memukul-mukukan sendalnya di lantai halaman.
Dan.. ada lagi yang turun. Shyung…. Benar2 mirip spiderman.
“teteh… ada lagi!!. Hi..”. ku beri tahu lagi dia.
Aku jadi ikutan geli. Aneh bin ajaib.
“Ulat apaan teh?”. Aku pun bertanya penasaran.
“ itu lho dari pohon jati”. Jawabnya.
Ho… tertnyata dari pohon jati sebelah asrama. Ada dua pohon jati besar yang berada di utara asrama kami. Terpisah oleh tembok yang mengelilingi asrama kami sekaligus sebagai dinding kamar-kamar kami.
Aku tidak tertarik melihat seperti apa ulat yang dimaksud.
Masih jam 5 pagi. Memang terlalu pagi untuk olah raga mulut. Haha… Hari yang juga hari besar umat Islam ini memang dingin di pagi buta. Sepertinya tadi malam hujan. Tampak halaman asrama kami basah. Dan juga udara pagi yang lembab.
Aku segera mempersiapkan diri untuk sholat Id. Tapi aku putuskan untuk menjemur cucianku kemaren. Karena kemaren g ada hanger dan juga tempat yang cukup untuk nangkring bajuku. Hu.. terlalu banyak cucian semingguku ini. hm…. Satu bak gede. Haha..
Weitzz.. g salah lagi. Lokasi jemuran yang juga menghadap langsung dengan tembok dimana pohon jati besar itu bersemayam, jelas rawan dengan hadirnya ulat-ulat yang sama…
Jemuran sudah penuh. Aku pilih milik baju milik temen2 yang udah kering. Lantas aku ambil untuk tempat baju2ku. But, sebelum itu…..
“Hwa..!!!”. aku menjerit kontan. Ulat hitam yang menggelikan sedang menggeliat berjalan naik di tembok putih itu. Hih..!!
Merinding bulu kudukku. Idih!.. huff… g ada orang tahu. Cuma ada mb mislina yang memang bawaanya tenang. Aku g boleh takut. Kan mau jemur baju. Masa g dijemur. Meski hujan 2 hari ini berturut2, bajuku mesti di hanger. Klo g bisa berabe, habis sudah stok di lemari. Cia…
Mencoba tegar dengan terus menjemur. Sesekali beegidik. “hih!”. Haha…
Baju kesekian ku hanger dan … “ Hwa…. !!!”. jeritku yang kedua kali. Kontan aku keluar dari barisan baju2 yang dijemur. Ada lagi ulat dengan jarak yang lebih dekat denganku. Juga ditembok, bagian bawah.
“hih ..!!”, merinding lagi.
“ kenapa mb umi?”. Sapa mb Mislina di ruang keluarga.
“ hih..!! ulatnya mb..”. aku mengadu
“ gapapa. Namanya juga ulat.”. huff.. enak sekali jawabannya.
Aku duduk dilantai sejenak. Sambil menekuk kakiku menahan merinding. “Hih!!”.
Wah.. g bisa begini terus. Harus segera beranjak dan berjuang untuk menjemur lagi. Besok harus save semua perlengkapan di kamar. Mau hibernasi. Maksudnya skripsi…. Hehe.
Aku bangkit dan melanjutkan perjuangan. Sedang diluar bersahutan takbir dari masjid-masjid di daerah Pugeran ini. Takbir kemenangan Ibrahim dan Ismail.
“Astaghfirulloh.. masa’ takut sama ulat begini sih!.”. aku sendiri heran. Aku bukan orang yang seperti ini dahulu kala. Biasa menerjang hutan belantara. Mencari kayu bakar untuk teman-teman. Sudah biasa menemui binatang kecil-kecil yang aneh2. dan senang ketika bertemu dengan ulat yang berwarna-warni. Bulu2 yang panjang dan gerakan jalannya yang lucu. Idih… hihi
Aku bangkit lagi. Ah.. gpapa.
Aku selesaikan sampai dengan baju terakhir. Dan…
“Hwa…. !!!”. ku lempar kontan ember yang baru saja ku buang airnya. Aku memegangnya!!. Hoh, tidak!! Aku memegang ulatnya!!!
“hih hih… !!!.” hwa… aku bertambah begidik lagi. Hih.. hih… aku telah mengucapkannya berkali-kali. Mb mislina hanya tertawa melihatku. Hahaha…
“mb…. Tolong dong!”. Rengekku
“ apa tho..?”. enak sekali jawabannya.
“Hih.. ! aku megang ulatnya nih… “
Segera ku buka keran. Belum 3 detik.. dan …
“hwa…!!!!”. Jeritan yang lebih keras.
Ada lagi di keran. Berpose mengejekku. Bertambah begidik lagi. Belum selesai dengan yang ku pegang. Hih!!!
“Mb miss!!”. Kali ini aku membentak
“ Ha ha ha..”. mb mis malah tertawa keras.
Aku jadi jengkel. Dengan ulat-ulat tadi. Penampilannya tidak begitu bagus. Dan entah kenapa juga kok aku jadi takut ulat. Idih…
Warnanya coklat hitam. Berbulu. Badannya gemuk sepanjang 4cm. hih… gerakan jalannya membuat badan bagian perut bertambah gemuk. Melengkuk keatas dan setelah itu gerakannya mengulur lebih panjang. Hih…
Dag dig dug.. jadi senam jantung dech. Entah sudah berapa kali aku menjerit pagi ini. biasanya aku lari2 pagi selama 15 menit. Tapi aku jadi g minat lagi dengan keadaan yang udah begini. Senam jantung aja deh. Dah cukup.
Warna langit udah terang. Aku putuskan segera mempersiapkan diri. Take a bath and go to pray this morning. Masih sambil bergidik dan beristighfar aku berjalan menuju kamar. Dan ….
“Hwa…!!! Kok nyampe sini sih… ”. haduh… capek juga jerit melulu.
Makhluk yang sama sedang jalan-jalan di kusen kayu pintu kamar ku. Si eca yang sedang beres2 didalam kamar pun merespon.
“ada apa mb…??”. Tanyanya tenang
“ ulat ca! di pintu tuh… “ jawabku sambil tetap bergidik. Hih!
“ Oh…. Ulat toh. Kirain apaan.. “. Tenang sekali dia memimpali.
“ Hih!!. “. Berulang kali aku masih bergidik. Mengambil perlengkapan mandi untuk segera ke lapangan Sholat id. Ketika sudah masuk kamar mandi pun… “Hih”. Aku keluar lagi. Masih bergidik..
“Piye tho mb. Ulatnya di luar kok… “ Eca mencoba menenangkan.
“ Iya. Tapi kan tetep aja”. Yang jelas g ada alasan. Cuma geli aja. Huff… bismillah… aku langsung segera lakukan hal lain untuk melupakan semuanya. Dan akhirnya bisa tenang sampai berangkat ke lapangan. Tepatnya halaman Casa Grande. Real estate mewah dekat asrama kami.
USAI SHOLAT …
Alhamdulillah…. Bisa tepat ikut sholat ied. Karena tadi tampak beberapa jama’ah yang ketinggalan. Sholat ied diadakan lebih awal dari biasanya. Dan benar saja, ketika sholat telah selesai, rintik hujan pagi ini memang membuat suhu semakin dingin. Aku hanya mencoba merentas partikel lembut-lembut itu ke wajahku. Sejuk…
Kami memasuki kembali halaman asrama. Sambil bercanda dengan soulmateku, Eca, mengobrolkan tentang hal-hal aneh. Eca, dia yang mengajarkan bahwa hidup hari ini untuk disambut dan tidak untuk direngeki. Hanya belajar untuk mengubah hidup yang selama itu selalu merasa segala hitam disegala ruang waktu dan tempat. Disegala dimensi.
Kami menemukan beberapa mangga yang jatuh dari pohonnya. Alhamdulillah.. pagi2 dah ada rezeki. Satu, dua, tiga, empat buah kami dapatkan. Hm… so sweet u are…
Bersama yang lain berkumpul di ruang keluarga untuk menikmati mangga yang hm…. Ku kupas mangga yang sudah masak itu. Hua… manis sangat sepertinya. Dah …
Tiba-tiba…
“ Hwa…!!”. Jerit Eca.
Aku bingung. “Kenapa..?”. dan…
“ Hwa… !!!”. aku ikut menjerit dan menjerit lagi. Masih melanjutkan yang tadi pagi. Ulat lagi! Menggeliat diatas karpet ruang keluarga dimana kami berkumpul.
Ya Alloh…. Aku beristighfar berulang kali. Tidak ada alasan untuk takut dengan ulat.
“Hayo2 dibuang gih ca!’”. Amah Emi memberi perintah. Tiga orang terheroik di asrama ini sedang berada di dalam satu forum. Dan soal ulat ini…
“ Nah tu… awas, hati2. kasian dia… “. Amah emi menjelaskan cara yang baik untuk mengusirkan. Tepatnya memindahkah ulat itu.
“ Hahaha… “. Eca hanya tertawa saja.
Sedang aku… ? aku hanya memalingkan wajah. Sudah cukup bagiku untuk memandang dengan lebih dekat. Dan kali ini pun juga sangat dekat. Pun aku sudah menyentuhnya. Hih..!!!
“Udah belom..?!”. aku bertanya. Bukan, teriak tepatnya.
“ Udah mb…”. Jawab Eca.
“Hih… kok bisa sih nyampe sini. Kan jauh?!”. Eca bertanya.
“ Lihat aja jalannya. Sangat terjangkau klo cuma nyampe sini. “. Sepetinya juga aku telah faham siapa ulat ini. ruang keluarga yang juga dekat dengan lokasi jemuran, sangat mudah dijangkau.
“ Ada apa mb? “. Mb Vira. Juga santri disini, bertanya sambil berjalan pincang. Memang begitu beliau. Kakinya tidak normal sejak kecil. Tanda cinta Alloh.
Orang yang sangat aku cintai ini dan yang membuatku semakin mencintainya adalah karena dia adalah seorang muallaf. Akhwat yang juga mahasiswa S2 Hukum di UGM itu selalu memandang segala sesuatu dengan posistif. Juga dengan peristiwa ini.
“ ho… mereka tho. Gapapa. Berarti sebentar lagi ada kupu-kupu”. Jelasnya
“ ho!”. Tiba-tiba aku bisa berfirkir arif detik ini. kupu-kupu??
“ hm… nanti yang seperti apa ya kupu-kupunya?? “. Dia berucap lagi
“ Haduh mb… “ Eca pun menanggapi.
“ Ha ha.. iya kan..?! Jadi kepompong dulu. Terus, mereka bisa terbang jadi kupu-kupu”. Jelasnya gamblang.
Aku seperti orang bangun tidur. Bengong. Iya ya.. Mereka akan jadi kupu-kupu. Indah… dengan segala warna. Entah hitam, atau coklat. Bahkan… apakah kau tahu tentang kupu-kupu gajah? Aku belum pernah melihatnya di jogja. Tapi di Lampung, tepatnya di rumah sering sekali melihat mereka menyambangi bunga asoka depan rumah ku. Juga kadang2 ada yang mampir sampai ke rumah. Warna mereka berarneka ragam. Karena ukurannya yang sangat besar. Itulah kenapa disebut kupu-kupu gajah. Memang sedikit menakutkan. Bukan karena menggigit. Juga karena sayapnya yang besar. Klo mengibak tangan yang hendak menyentuhnya, bisa merusak warnya yang ada disayapnya. Sayang…
Juga kupu-kupu yang berwarna kuning dari pohon yang biasa ditanam disepanjang jalan depan rumah-rumah disana. Sewaktu kecil, bersama teman-teman sering menangkap mereka di pagi hari. Terutama hari minggu dimana kami libur sekolah. Kadang kami menunggui mereka keluar dari kepompongnya. Dari bentuk sayap yang tertekuk karena tertahan cangkang kepompong, sampai tegak. Dan setelah tegak langsung kami tangkap. Setelah ditangkap. Kami hanya menghitung siapa yang dapat paling banyak. Kebanyakan kami masukkan kedalam toples untuk dipandang. dan diantarnya kami lepas bagi mereka yang telah lelah kami tahan. Hihi.. kasihan juga.
Haha… kami sangat senang waktu itu. Karena sangat banyak sekali kupu-kupu dimusim penghujan. Mungkin seperti musim semi bagi darerah yang mengenal 4 musim. Mereka terbang diantara kami yang juga ikut terbang dengan berlari kesana kemari. Menari bersama mereka. Warna kuning merekapun menjadi kebangganku. Subhanalloh…
Haha.. baiklah. Aku hanya manggut-manggut tandan faham. Euphoria sejenak yang menyejukkan. Mencoba memimatinya kembali. Klo dijogja, dimana ya bisa kutemukan?? Dan…..
“ Hwa..!!! “ Jerit kami ramai bersama-sama. Dia datang lagi…. !!! Ha ha ha…
Asma Amanina, 10 Dzulhijah 1428 H
“hwaaa….. !!!”, kontan ku ikut kaget. Teriakan histeris Teteh.
“ Apaan the?! Masih pagi buta begini… “. Tanya ku heran.
“ hih..! ulat ini lho. Boleh di bunuh g sih?!” jawabnya masih dengan wajah pucat
“ Ho.. klo ganggu boleh kok.”. Jawabku. Tapi tidak juga begitu yakin.
Teteh asal jawa barat itu memukulkan sandal dari depan kamarnya ke lantai beberapa kali. Aku hanya memandangnya dari ruang keluarga.
“hugh! Hugh!”. Ekspresinya memukul itu ulat.
“ hih!” Teteh besemangat lagi memukul-mukul itu ulat.
Dan… ku lihat dari atas genting ada makhluk yang sama sepertinya turun seperti spiderman yangturun dari gedung pencakar langit. Shyung…. Tetap di depan pintu kamar teteh. Dia turun pake’ benang, mirip benang laba-laba.
“ Teteh.. itu teh..!”. aku menunjuk dari jauh.
“ hih. Iya nih!”. Puk puk puk! Teteh masih memukul-mukukan sendalnya di lantai halaman.
Dan.. ada lagi yang turun. Shyung…. Benar2 mirip spiderman.
“teteh… ada lagi!!. Hi..”. ku beri tahu lagi dia.
Aku jadi ikutan geli. Aneh bin ajaib.
“Ulat apaan teh?”. Aku pun bertanya penasaran.
“ itu lho dari pohon jati”. Jawabnya.
Ho… tertnyata dari pohon jati sebelah asrama. Ada dua pohon jati besar yang berada di utara asrama kami. Terpisah oleh tembok yang mengelilingi asrama kami sekaligus sebagai dinding kamar-kamar kami.
Aku tidak tertarik melihat seperti apa ulat yang dimaksud.
Masih jam 5 pagi. Memang terlalu pagi untuk olah raga mulut. Haha… Hari yang juga hari besar umat Islam ini memang dingin di pagi buta. Sepertinya tadi malam hujan. Tampak halaman asrama kami basah. Dan juga udara pagi yang lembab.
Aku segera mempersiapkan diri untuk sholat Id. Tapi aku putuskan untuk menjemur cucianku kemaren. Karena kemaren g ada hanger dan juga tempat yang cukup untuk nangkring bajuku. Hu.. terlalu banyak cucian semingguku ini. hm…. Satu bak gede. Haha..
Weitzz.. g salah lagi. Lokasi jemuran yang juga menghadap langsung dengan tembok dimana pohon jati besar itu bersemayam, jelas rawan dengan hadirnya ulat-ulat yang sama…
Jemuran sudah penuh. Aku pilih milik baju milik temen2 yang udah kering. Lantas aku ambil untuk tempat baju2ku. But, sebelum itu…..
“Hwa..!!!”. aku menjerit kontan. Ulat hitam yang menggelikan sedang menggeliat berjalan naik di tembok putih itu. Hih..!!
Merinding bulu kudukku. Idih!.. huff… g ada orang tahu. Cuma ada mb mislina yang memang bawaanya tenang. Aku g boleh takut. Kan mau jemur baju. Masa g dijemur. Meski hujan 2 hari ini berturut2, bajuku mesti di hanger. Klo g bisa berabe, habis sudah stok di lemari. Cia…
Mencoba tegar dengan terus menjemur. Sesekali beegidik. “hih!”. Haha…
Baju kesekian ku hanger dan … “ Hwa…. !!!”. jeritku yang kedua kali. Kontan aku keluar dari barisan baju2 yang dijemur. Ada lagi ulat dengan jarak yang lebih dekat denganku. Juga ditembok, bagian bawah.
“hih ..!!”, merinding lagi.
“ kenapa mb umi?”. Sapa mb Mislina di ruang keluarga.
“ hih..!! ulatnya mb..”. aku mengadu
“ gapapa. Namanya juga ulat.”. huff.. enak sekali jawabannya.
Aku duduk dilantai sejenak. Sambil menekuk kakiku menahan merinding. “Hih!!”.
Wah.. g bisa begini terus. Harus segera beranjak dan berjuang untuk menjemur lagi. Besok harus save semua perlengkapan di kamar. Mau hibernasi. Maksudnya skripsi…. Hehe.
Aku bangkit dan melanjutkan perjuangan. Sedang diluar bersahutan takbir dari masjid-masjid di daerah Pugeran ini. Takbir kemenangan Ibrahim dan Ismail.
“Astaghfirulloh.. masa’ takut sama ulat begini sih!.”. aku sendiri heran. Aku bukan orang yang seperti ini dahulu kala. Biasa menerjang hutan belantara. Mencari kayu bakar untuk teman-teman. Sudah biasa menemui binatang kecil-kecil yang aneh2. dan senang ketika bertemu dengan ulat yang berwarna-warni. Bulu2 yang panjang dan gerakan jalannya yang lucu. Idih… hihi
Aku bangkit lagi. Ah.. gpapa.
Aku selesaikan sampai dengan baju terakhir. Dan…
“Hwa…. !!!”. ku lempar kontan ember yang baru saja ku buang airnya. Aku memegangnya!!. Hoh, tidak!! Aku memegang ulatnya!!!
“hih hih… !!!.” hwa… aku bertambah begidik lagi. Hih.. hih… aku telah mengucapkannya berkali-kali. Mb mislina hanya tertawa melihatku. Hahaha…
“mb…. Tolong dong!”. Rengekku
“ apa tho..?”. enak sekali jawabannya.
“Hih.. ! aku megang ulatnya nih… “
Segera ku buka keran. Belum 3 detik.. dan …
“hwa…!!!!”. Jeritan yang lebih keras.
Ada lagi di keran. Berpose mengejekku. Bertambah begidik lagi. Belum selesai dengan yang ku pegang. Hih!!!
“Mb miss!!”. Kali ini aku membentak
“ Ha ha ha..”. mb mis malah tertawa keras.
Aku jadi jengkel. Dengan ulat-ulat tadi. Penampilannya tidak begitu bagus. Dan entah kenapa juga kok aku jadi takut ulat. Idih…
Warnanya coklat hitam. Berbulu. Badannya gemuk sepanjang 4cm. hih… gerakan jalannya membuat badan bagian perut bertambah gemuk. Melengkuk keatas dan setelah itu gerakannya mengulur lebih panjang. Hih…
Dag dig dug.. jadi senam jantung dech. Entah sudah berapa kali aku menjerit pagi ini. biasanya aku lari2 pagi selama 15 menit. Tapi aku jadi g minat lagi dengan keadaan yang udah begini. Senam jantung aja deh. Dah cukup.
Warna langit udah terang. Aku putuskan segera mempersiapkan diri. Take a bath and go to pray this morning. Masih sambil bergidik dan beristighfar aku berjalan menuju kamar. Dan ….
“Hwa…!!! Kok nyampe sini sih… ”. haduh… capek juga jerit melulu.
Makhluk yang sama sedang jalan-jalan di kusen kayu pintu kamar ku. Si eca yang sedang beres2 didalam kamar pun merespon.
“ada apa mb…??”. Tanyanya tenang
“ ulat ca! di pintu tuh… “ jawabku sambil tetap bergidik. Hih!
“ Oh…. Ulat toh. Kirain apaan.. “. Tenang sekali dia memimpali.
“ Hih!!. “. Berulang kali aku masih bergidik. Mengambil perlengkapan mandi untuk segera ke lapangan Sholat id. Ketika sudah masuk kamar mandi pun… “Hih”. Aku keluar lagi. Masih bergidik..
“Piye tho mb. Ulatnya di luar kok… “ Eca mencoba menenangkan.
“ Iya. Tapi kan tetep aja”. Yang jelas g ada alasan. Cuma geli aja. Huff… bismillah… aku langsung segera lakukan hal lain untuk melupakan semuanya. Dan akhirnya bisa tenang sampai berangkat ke lapangan. Tepatnya halaman Casa Grande. Real estate mewah dekat asrama kami.
USAI SHOLAT …
Alhamdulillah…. Bisa tepat ikut sholat ied. Karena tadi tampak beberapa jama’ah yang ketinggalan. Sholat ied diadakan lebih awal dari biasanya. Dan benar saja, ketika sholat telah selesai, rintik hujan pagi ini memang membuat suhu semakin dingin. Aku hanya mencoba merentas partikel lembut-lembut itu ke wajahku. Sejuk…
Kami memasuki kembali halaman asrama. Sambil bercanda dengan soulmateku, Eca, mengobrolkan tentang hal-hal aneh. Eca, dia yang mengajarkan bahwa hidup hari ini untuk disambut dan tidak untuk direngeki. Hanya belajar untuk mengubah hidup yang selama itu selalu merasa segala hitam disegala ruang waktu dan tempat. Disegala dimensi.
Kami menemukan beberapa mangga yang jatuh dari pohonnya. Alhamdulillah.. pagi2 dah ada rezeki. Satu, dua, tiga, empat buah kami dapatkan. Hm… so sweet u are…
Bersama yang lain berkumpul di ruang keluarga untuk menikmati mangga yang hm…. Ku kupas mangga yang sudah masak itu. Hua… manis sangat sepertinya. Dah …
Tiba-tiba…
“ Hwa…!!”. Jerit Eca.
Aku bingung. “Kenapa..?”. dan…
“ Hwa… !!!”. aku ikut menjerit dan menjerit lagi. Masih melanjutkan yang tadi pagi. Ulat lagi! Menggeliat diatas karpet ruang keluarga dimana kami berkumpul.
Ya Alloh…. Aku beristighfar berulang kali. Tidak ada alasan untuk takut dengan ulat.
“Hayo2 dibuang gih ca!’”. Amah Emi memberi perintah. Tiga orang terheroik di asrama ini sedang berada di dalam satu forum. Dan soal ulat ini…
“ Nah tu… awas, hati2. kasian dia… “. Amah emi menjelaskan cara yang baik untuk mengusirkan. Tepatnya memindahkah ulat itu.
“ Hahaha… “. Eca hanya tertawa saja.
Sedang aku… ? aku hanya memalingkan wajah. Sudah cukup bagiku untuk memandang dengan lebih dekat. Dan kali ini pun juga sangat dekat. Pun aku sudah menyentuhnya. Hih..!!!
“Udah belom..?!”. aku bertanya. Bukan, teriak tepatnya.
“ Udah mb…”. Jawab Eca.
“Hih… kok bisa sih nyampe sini. Kan jauh?!”. Eca bertanya.
“ Lihat aja jalannya. Sangat terjangkau klo cuma nyampe sini. “. Sepetinya juga aku telah faham siapa ulat ini. ruang keluarga yang juga dekat dengan lokasi jemuran, sangat mudah dijangkau.
“ Ada apa mb? “. Mb Vira. Juga santri disini, bertanya sambil berjalan pincang. Memang begitu beliau. Kakinya tidak normal sejak kecil. Tanda cinta Alloh.
Orang yang sangat aku cintai ini dan yang membuatku semakin mencintainya adalah karena dia adalah seorang muallaf. Akhwat yang juga mahasiswa S2 Hukum di UGM itu selalu memandang segala sesuatu dengan posistif. Juga dengan peristiwa ini.
“ ho… mereka tho. Gapapa. Berarti sebentar lagi ada kupu-kupu”. Jelasnya
“ ho!”. Tiba-tiba aku bisa berfirkir arif detik ini. kupu-kupu??
“ hm… nanti yang seperti apa ya kupu-kupunya?? “. Dia berucap lagi
“ Haduh mb… “ Eca pun menanggapi.
“ Ha ha.. iya kan..?! Jadi kepompong dulu. Terus, mereka bisa terbang jadi kupu-kupu”. Jelasnya gamblang.
Aku seperti orang bangun tidur. Bengong. Iya ya.. Mereka akan jadi kupu-kupu. Indah… dengan segala warna. Entah hitam, atau coklat. Bahkan… apakah kau tahu tentang kupu-kupu gajah? Aku belum pernah melihatnya di jogja. Tapi di Lampung, tepatnya di rumah sering sekali melihat mereka menyambangi bunga asoka depan rumah ku. Juga kadang2 ada yang mampir sampai ke rumah. Warna mereka berarneka ragam. Karena ukurannya yang sangat besar. Itulah kenapa disebut kupu-kupu gajah. Memang sedikit menakutkan. Bukan karena menggigit. Juga karena sayapnya yang besar. Klo mengibak tangan yang hendak menyentuhnya, bisa merusak warnya yang ada disayapnya. Sayang…
Juga kupu-kupu yang berwarna kuning dari pohon yang biasa ditanam disepanjang jalan depan rumah-rumah disana. Sewaktu kecil, bersama teman-teman sering menangkap mereka di pagi hari. Terutama hari minggu dimana kami libur sekolah. Kadang kami menunggui mereka keluar dari kepompongnya. Dari bentuk sayap yang tertekuk karena tertahan cangkang kepompong, sampai tegak. Dan setelah tegak langsung kami tangkap. Setelah ditangkap. Kami hanya menghitung siapa yang dapat paling banyak. Kebanyakan kami masukkan kedalam toples untuk dipandang. dan diantarnya kami lepas bagi mereka yang telah lelah kami tahan. Hihi.. kasihan juga.
Haha… kami sangat senang waktu itu. Karena sangat banyak sekali kupu-kupu dimusim penghujan. Mungkin seperti musim semi bagi darerah yang mengenal 4 musim. Mereka terbang diantara kami yang juga ikut terbang dengan berlari kesana kemari. Menari bersama mereka. Warna kuning merekapun menjadi kebangganku. Subhanalloh…
Haha.. baiklah. Aku hanya manggut-manggut tandan faham. Euphoria sejenak yang menyejukkan. Mencoba memimatinya kembali. Klo dijogja, dimana ya bisa kutemukan?? Dan…..
“ Hwa..!!! “ Jerit kami ramai bersama-sama. Dia datang lagi…. !!! Ha ha ha…
Asma Amanina, 10 Dzulhijah 1428 H
Saturday, December 6, 2008
dimensi hitam putih
seorang teman mengirim message
semua yang tak sampai selalu hadirka perih
dan adakah yagn lebih menyakitkan dari dari dilupakan, dibuang dari semua ruang, dibuat lenyap dalam senyap. meski hati kembar rasa...
ku balas..
mungkin kalian hanya berbeda dimensi
dirimu sakit sendiri, mungkin dia sakit mati
wahai kalian yang kembar rasa...
hm.... maksudnya dong ga???
mungkin kamu g, tapi aku tahu
karena akupun berasa di dimensi hitam putih
terasing dari segala warna
bahkan dengan warna yang biasanya indah kupandang
dimensi hitam putih
semua yang tak sampai selalu hadirka perih
dan adakah yagn lebih menyakitkan dari dari dilupakan, dibuang dari semua ruang, dibuat lenyap dalam senyap. meski hati kembar rasa...
ku balas..
mungkin kalian hanya berbeda dimensi
dirimu sakit sendiri, mungkin dia sakit mati
wahai kalian yang kembar rasa...
hm.... maksudnya dong ga???
mungkin kamu g, tapi aku tahu
karena akupun berasa di dimensi hitam putih
terasing dari segala warna
bahkan dengan warna yang biasanya indah kupandang
dimensi hitam putih
puisiku
puisi-puisiku berlalu
sudah jemu
bahkan denganku
berlirik
tapi tak apik
jenuh
dengan bait yang kumuh
matahari sudah tinggi
namun habis cahaya mata ini
huruf dalam kataku, mati
"lelah..", katanya
"aku tak butuh siapa..", tambahnya
"lalu apa maumu??", aku bertanya
"tidak ada",jawabnya
satu warna masih siap dipoles kanvas hidupku
juga pewarna kerapuhan yang menghiasi wajah ini
pun hendak pergi entah kemana
sudah tidak ada cita rasa lagi
dalam bait-bait
pengasingan
sakit sendiri
egois
sepi
kini pucat pasi
tinggal hitam putih
senyum ini
puisi ini
jiwa ini
mayat ini
mati
sudah jemu
bahkan denganku
berlirik
tapi tak apik
jenuh
dengan bait yang kumuh
matahari sudah tinggi
namun habis cahaya mata ini
huruf dalam kataku, mati
"lelah..", katanya
"aku tak butuh siapa..", tambahnya
"lalu apa maumu??", aku bertanya
"tidak ada",jawabnya
satu warna masih siap dipoles kanvas hidupku
juga pewarna kerapuhan yang menghiasi wajah ini
pun hendak pergi entah kemana
sudah tidak ada cita rasa lagi
dalam bait-bait
pengasingan
sakit sendiri
egois
sepi
kini pucat pasi
tinggal hitam putih
senyum ini
puisi ini
jiwa ini
mayat ini
mati
habis kata
habis kata
bukan masa
hanya itu
habis sudah
tinggal lirikan mata
untuk sekedar menjawab
"ya", atau "tidak"
habis jiwa
bahkan hanya untuk sekedar menyumbang cinta
katanya, "entah, sudah kemana..."
yang sudah kuikrarkan di tiang tertinggi
dengan bayaran yang sangat mahal
bahkan tiada mampu yang membeli
raja pun iri
mungkin karena belum besyukur lagi
matahari-pun jengah
katanya, "mungkin kau harus membeli mati!"
gagap ku dengar
dengan apa ku bayar?
setali kisah senyum, atau lemparan sedekah?
terlalu murah
bukan masa
hanya itu
habis sudah
tinggal lirikan mata
untuk sekedar menjawab
"ya", atau "tidak"
habis jiwa
bahkan hanya untuk sekedar menyumbang cinta
katanya, "entah, sudah kemana..."
yang sudah kuikrarkan di tiang tertinggi
dengan bayaran yang sangat mahal
bahkan tiada mampu yang membeli
raja pun iri
mungkin karena belum besyukur lagi
matahari-pun jengah
katanya, "mungkin kau harus membeli mati!"
gagap ku dengar
dengan apa ku bayar?
setali kisah senyum, atau lemparan sedekah?
terlalu murah
Monday, December 1, 2008
"kau cemas??". jangan lagi
hm...
BOP. blom bayaran. karena si Alfan bilang
"udah mi. g usah aja"
betul juga. kan udah di kelarin di semester sebelumnya. skripsi yagn sudah ku jalani 3 semester ini. huff...
ayolah... bukan berarti harus cemas lagi bukan. khawatir?? g aku banget. semangatlah..!!
"wah.. keajaiban dunia ke-8". hoho
nampak dua temen sekelasku yang udah lama g dijumpai y. sudah lama memang tidak nampak orang-orang yang berasal dari satu planet di kampus ini. huff...
ayo dunk.. besok blom brani ngadep lagi. duh.. habis kl o mau ngerjain skripsi awalannya banyak banget. ini itu dulu. padahal dibelain bolos ku liah pagi dan malam. tapi g untuk halaqoh...
ah.. entah semalam ada hubungannya atau g dengan diriku akhr2 ini. rentenan bunga tidurku terus terang aneh. tiba2 aku berada di zaman SMA lagi. hufff
tiba-tiba, bareng adekku naik sepeda onthel..
tiba-tiba, aku bertemu dengan jin jahil yang menerbangkan sapu lidi di dapurku
hebatnya, aku membaca surat al fatihah. dalam mimpi aku bergumam....
" ho, ternyata jin jahil tu ky gini ya..??"
dan beberapa hal lain yang aku g faham juga maksudnya apa.
ketika aku bertekad untuk...
mengabil semangat baruku. yang baru kusadari klo aku masih memiliki sosok yang sangat aku cintai.
akan aku warisi jiwanya
aka aku laksanakan segala nasehatnya
ku rengkuh keridhoannya
ingin kumiliki habbitnya
ku pasangkan wajah teduhnya
dan... akan ku panuhi janjiku padanya
tak akan mengecewakannya
lagi lagi...
aku akan belajar untuk tidak peduli dengan diriku
maaf ya klo selama ni blogku egois sekali.
some day, aku posting yang lebih menarik
not just for me, but for all of u
well, kembali pada matahari lagi
mencari cahaya yang sedang menanti tiap masanya
semakin riang saja
ah diriku
berserilah selalu
bukan untuk dirimu
karena kau sudah tidak peduli dengan dirimu
kau sudah tidak butuh
itu katamu hari ini yang akan berlalu...
BOP, g perlu cemas lagi
skripsi, apa lagi
jangan cemas lagi
rengkuh lagi hari
cintai segala sesuatunya
maka segala sesuatunya akan mencintaimu
selalu...
BOP. blom bayaran. karena si Alfan bilang
"udah mi. g usah aja"
betul juga. kan udah di kelarin di semester sebelumnya. skripsi yagn sudah ku jalani 3 semester ini. huff...
ayolah... bukan berarti harus cemas lagi bukan. khawatir?? g aku banget. semangatlah..!!
"wah.. keajaiban dunia ke-8". hoho
nampak dua temen sekelasku yang udah lama g dijumpai y. sudah lama memang tidak nampak orang-orang yang berasal dari satu planet di kampus ini. huff...
ayo dunk.. besok blom brani ngadep lagi. duh.. habis kl o mau ngerjain skripsi awalannya banyak banget. ini itu dulu. padahal dibelain bolos ku liah pagi dan malam. tapi g untuk halaqoh...
ah.. entah semalam ada hubungannya atau g dengan diriku akhr2 ini. rentenan bunga tidurku terus terang aneh. tiba2 aku berada di zaman SMA lagi. hufff
tiba-tiba, bareng adekku naik sepeda onthel..
tiba-tiba, aku bertemu dengan jin jahil yang menerbangkan sapu lidi di dapurku
hebatnya, aku membaca surat al fatihah. dalam mimpi aku bergumam....
" ho, ternyata jin jahil tu ky gini ya..??"
dan beberapa hal lain yang aku g faham juga maksudnya apa.
ketika aku bertekad untuk...
mengabil semangat baruku. yang baru kusadari klo aku masih memiliki sosok yang sangat aku cintai.
akan aku warisi jiwanya
aka aku laksanakan segala nasehatnya
ku rengkuh keridhoannya
ingin kumiliki habbitnya
ku pasangkan wajah teduhnya
dan... akan ku panuhi janjiku padanya
tak akan mengecewakannya
lagi lagi...
aku akan belajar untuk tidak peduli dengan diriku
maaf ya klo selama ni blogku egois sekali.
some day, aku posting yang lebih menarik
not just for me, but for all of u
well, kembali pada matahari lagi
mencari cahaya yang sedang menanti tiap masanya
semakin riang saja
ah diriku
berserilah selalu
bukan untuk dirimu
karena kau sudah tidak peduli dengan dirimu
kau sudah tidak butuh
itu katamu hari ini yang akan berlalu...
BOP, g perlu cemas lagi
skripsi, apa lagi
jangan cemas lagi
rengkuh lagi hari
cintai segala sesuatunya
maka segala sesuatunya akan mencintaimu
selalu...
Sunday, November 30, 2008
bodo' ah!!
sudah lama aku tidak mengucapkan hal ini. ucapan yang sering aku ungkapkan ketika SMA. "bodo' ah".
ada PR fisika hari ini
"bodo' ah"
kok pake sepatu biru??
"bodo'"
ntar kena razia tuh sepatunya
"tenang aja. tinggak copot aja kan??"
ckckck.... haha
tuh, jilbabnya coret2an pulpen lagi.... (geram.."
"bodo' amat"
mi, bajunya g match sama jilbab tuh. seribu dapet tiga
"hehe... masa bodo'"
kasar terdengar. tapi seru.
sering sekali aku ingin mengembalikan semangat2 ketika masih sekolah. yah.. sekarang juga masih sekolah. itulah hasil pendidikan dimana aku berkembang diantara temen-temen yang juga masa bodoh denganku. haha.. g juga kok. ada sesuatu yagn kubanggakan dengan kata-kata itu.
"tidak ada yang perlu dicemaskan"
selain kata-kata itu, juga habbit ku.
tidur bada magrib, bangun jam 10pm-2pm. to be batman alias kalong. then, lanjut di kelas. haha... zzzz.....
KENANGAN SMA
"umi! tuh dipanggil". upiex gendutz
"hah. iya ya.". wake up...
"ya tuh. si umi nih sampe g denger". Nobita alias Ratna (sory ratna)
si Ria senyum2...
aku mengucek-ucek mataku. dipanggil pak Ketut. pasti dapet bagus nilaiku. melanjutkan tidur semalam di kelas. every day on school..
aku berjalan melenggang. dan tiba-tiba telah berdiri di depan guru yang paling ku sungkani itu.
ops.. ia menatapku heran.
mengangkat alisnya.... dan, menggoyangkan bahunya.
ho!!! refleks ku lihat ke arah anak2 dengan tatapan curiga
upiex, Ratna dam Ria cekikikan
kontan saja
"maaf pak. hehe.." . langsung membalikkan badan dan malu2 kembali ke bangku dengan kecepatan berjlaan 80km/jam. wuizzz...
anak-anak cuma melihatku heran.
satu. dua. tiga. mereka tertawa. hoho.... sakit..... tapi lucu!! konyol! huff....
"puasz??!!!". teriakku!
whatever. jadi orang paling telmi, bahan guyonan.
jadi siswa paling canggih. hehe... gesit dan lincah. (waktu 8 kg lbh ringan). paling jago lari, lempar lembing, lompat jauh. juara I. hihi...
ngatukan, cuek, juga brengsek.
gengster, telatan, g disiplin, g patuh.
"wah... bos preman kita ini udah lupa". Guntoro. mantang anggota geng. haha
ssst... duh, razia... menyembunyikan kaset dan video, majalah di tong sampah
"goblok!". mau gmn lagi. paling aman.
"ngapain kalian?". ketahuan juga
setelah ketahuan....
"maaf pak. hihi... ". Nia dan aku mengahadap guru
"bapak pinjem ya.".
hphp.... gubraxs...
ckckck...
"mb, yang sekolah kan bukan sepatunya. tapi otaknya". bapak
hehe... sepatuku dah senyum2... betul juga. gapapa ya...
" yang penting jalannya masih kedepan. g ke belakang".
hehe... sepeda federalku dan berubah warna. juga selalu cerewet. "tek kotek kote.. anak ayam kotek kotek... ". hm.. alias minta di ganti slebornya.
hehe... iya juga. ah bapak...
sampai suatu hari..
"anak kaya' gini, klo g bisa dibina. ya dibinasakan!".
jegler.. gledek tiba2. g ada mendung g ada angin. didepan MPK, kepala sekolah, komite sekolah. diruang laboratorium yang tiba-tiba menjadi ruang sidang.
" g bisa itu. seenaknya sendiri naikkan biaya masuk. g masuk akal." kilahku.
HARI INI
huff... apapun itu. aku rindu masa2 laluku. ah.. mungkin begini orang tua. haha. harusnya g boleh melihat kebelaknag. kan masih muda. harus punya cita-cita.
bukan itu. tapi hanya rindu semangatku. kebebasanku yang dulu.
"frame". kata Ari Ginanjar. itu yang harus ku jebol lagi.
orang dewasa! bukan. sebenarnya hanya sok dewasa.
jadi, tidak masalahkan kembali ke masa lalu.
indahnya....
ada PR fisika hari ini
"bodo' ah"
kok pake sepatu biru??
"bodo'"
ntar kena razia tuh sepatunya
"tenang aja. tinggak copot aja kan??"
ckckck.... haha
tuh, jilbabnya coret2an pulpen lagi.... (geram.."
"bodo' amat"
mi, bajunya g match sama jilbab tuh. seribu dapet tiga
"hehe... masa bodo'"
kasar terdengar. tapi seru.
sering sekali aku ingin mengembalikan semangat2 ketika masih sekolah. yah.. sekarang juga masih sekolah. itulah hasil pendidikan dimana aku berkembang diantara temen-temen yang juga masa bodoh denganku. haha.. g juga kok. ada sesuatu yagn kubanggakan dengan kata-kata itu.
"tidak ada yang perlu dicemaskan"
selain kata-kata itu, juga habbit ku.
tidur bada magrib, bangun jam 10pm-2pm. to be batman alias kalong. then, lanjut di kelas. haha... zzzz.....
KENANGAN SMA
"umi! tuh dipanggil". upiex gendutz
"hah. iya ya.". wake up...
"ya tuh. si umi nih sampe g denger". Nobita alias Ratna (sory ratna)
si Ria senyum2...
aku mengucek-ucek mataku. dipanggil pak Ketut. pasti dapet bagus nilaiku. melanjutkan tidur semalam di kelas. every day on school..
aku berjalan melenggang. dan tiba-tiba telah berdiri di depan guru yang paling ku sungkani itu.
ops.. ia menatapku heran.
mengangkat alisnya.... dan, menggoyangkan bahunya.
ho!!! refleks ku lihat ke arah anak2 dengan tatapan curiga
upiex, Ratna dam Ria cekikikan
kontan saja
"maaf pak. hehe.." . langsung membalikkan badan dan malu2 kembali ke bangku dengan kecepatan berjlaan 80km/jam. wuizzz...
anak-anak cuma melihatku heran.
satu. dua. tiga. mereka tertawa. hoho.... sakit..... tapi lucu!! konyol! huff....
"puasz??!!!". teriakku!
whatever. jadi orang paling telmi, bahan guyonan.
jadi siswa paling canggih. hehe... gesit dan lincah. (waktu 8 kg lbh ringan). paling jago lari, lempar lembing, lompat jauh. juara I. hihi...
ngatukan, cuek, juga brengsek.
gengster, telatan, g disiplin, g patuh.
"wah... bos preman kita ini udah lupa". Guntoro. mantang anggota geng. haha
ssst... duh, razia... menyembunyikan kaset dan video, majalah di tong sampah
"goblok!". mau gmn lagi. paling aman.
"ngapain kalian?". ketahuan juga
setelah ketahuan....
"maaf pak. hihi... ". Nia dan aku mengahadap guru
"bapak pinjem ya.".
hphp.... gubraxs...
ckckck...
"mb, yang sekolah kan bukan sepatunya. tapi otaknya". bapak
hehe... sepatuku dah senyum2... betul juga. gapapa ya...
" yang penting jalannya masih kedepan. g ke belakang".
hehe... sepeda federalku dan berubah warna. juga selalu cerewet. "tek kotek kote.. anak ayam kotek kotek... ". hm.. alias minta di ganti slebornya.
hehe... iya juga. ah bapak...
sampai suatu hari..
"anak kaya' gini, klo g bisa dibina. ya dibinasakan!".
jegler.. gledek tiba2. g ada mendung g ada angin. didepan MPK, kepala sekolah, komite sekolah. diruang laboratorium yang tiba-tiba menjadi ruang sidang.
" g bisa itu. seenaknya sendiri naikkan biaya masuk. g masuk akal." kilahku.
HARI INI
huff... apapun itu. aku rindu masa2 laluku. ah.. mungkin begini orang tua. haha. harusnya g boleh melihat kebelaknag. kan masih muda. harus punya cita-cita.
bukan itu. tapi hanya rindu semangatku. kebebasanku yang dulu.
"frame". kata Ari Ginanjar. itu yang harus ku jebol lagi.
orang dewasa! bukan. sebenarnya hanya sok dewasa.
jadi, tidak masalahkan kembali ke masa lalu.
indahnya....
Friday, November 28, 2008
kapan pulang?
"ikhlas mb.... "
postingan terakhir belum ku tampilkan
sebagai orang yang menjadi inspirator terbesarku
bapak
rindu
selalu begitu
pada tiap doa'ku
sejuk
jiwamu yang selalu ingin kami warisi
selalu saja berseri
kapan lagi kau nasehatkan logika-logika lucumu itu
tapi seru
ku rindu
anakmu tersandung batu
di negeri mimpi
yang sangat jauh
anakmu mau pulang
tapi tak jua menemukan jalan
masih menunggumu
bapak
selalu ku rindu
di tiap do'a-do'a ku
postingan terakhir belum ku tampilkan
sebagai orang yang menjadi inspirator terbesarku
bapak
rindu
selalu begitu
pada tiap doa'ku
sejuk
jiwamu yang selalu ingin kami warisi
selalu saja berseri
kapan lagi kau nasehatkan logika-logika lucumu itu
tapi seru
ku rindu
anakmu tersandung batu
di negeri mimpi
yang sangat jauh
anakmu mau pulang
tapi tak jua menemukan jalan
masih menunggumu
bapak
selalu ku rindu
di tiap do'a-do'a ku
berlari II
patungmu sudah lapuk
remuk
menjadi pupuk
krisan-krisan yang sempat ku tanam
menjadi subur
ku bilang
sendiri lagi
sepi lagi
rupanya
waktu mengizinkan untuk kembali lagi
untuk memilih lagi
dan aku tidak akan berlari
wahai jiwa-jiwa yang sejuk
ajaklah aku
tinggalkan segala warna-warni tamanku
meski rindu
seperti biasa
masih duduk
melihat badut-badut lucu
tertawa lagi
wahai jiwa-jiwa yang sejuk
ajaklah aku
untuk tinggalkan tamanku
dan ajaklah aku
untuk menghamparkan taman-taman baru lagi
warna-warni lagi
tanpa badut
tersudut
sepi lagi
remuk
menjadi pupuk
krisan-krisan yang sempat ku tanam
menjadi subur
ku bilang
sendiri lagi
sepi lagi
rupanya
waktu mengizinkan untuk kembali lagi
untuk memilih lagi
dan aku tidak akan berlari
wahai jiwa-jiwa yang sejuk
ajaklah aku
tinggalkan segala warna-warni tamanku
meski rindu
seperti biasa
masih duduk
melihat badut-badut lucu
tertawa lagi
wahai jiwa-jiwa yang sejuk
ajaklah aku
untuk tinggalkan tamanku
dan ajaklah aku
untuk menghamparkan taman-taman baru lagi
warna-warni lagi
tanpa badut
tersudut
sepi lagi
apa kabar hari ini?
putih
cerah lagi
tanpa sembab lagi
sebab, ada - ada lagi
haha
aku tertawa
lucu
dan menggembirakan
tersenyum
terus ku coba
sampai kudapati matahari lagi hari ini
bermandi cahaya lagi
jangan mendung lagi
biar menungunggu malam
biar tak tampak suram
biar cuma bulan
bebas lagi
tertawa lagi
sapa kanan kiri lagi
dan kusampaikan
apa kabar hari ini??
cerah lagi
tanpa sembab lagi
sebab, ada - ada lagi
haha
aku tertawa
lucu
dan menggembirakan
tersenyum
terus ku coba
sampai kudapati matahari lagi hari ini
bermandi cahaya lagi
jangan mendung lagi
biar menungunggu malam
biar tak tampak suram
biar cuma bulan
bebas lagi
tertawa lagi
sapa kanan kiri lagi
dan kusampaikan
apa kabar hari ini??
Monday, November 24, 2008
draft
ternyata aku punya draft tersimpan..
terhitung masih 40 menitan untuk mendownload selurh dokumentasi sas. padahal ni sudah jam 19.13. nyampe jam berapa di asrama.
DULU
semoga saja itu hanya untuk dulu. namun memang tidak tahu apakah kedepan akan terus seperti itu atau tidak. hanya saja yang lalu biar berlalu. itu banyak keburukan. biar ku tinggal jauh-jauh. biar tak tampak. biar ku tak takut
ha
ha
ternyata kejadian lagi malam ini. aku harus pulang malam memang. huff.. susah ya merubah kebiasaan. masih ada makhluk di kampus ini. hoho. aku maksudnya. g juga, ada bebrapa mahasiswa yang masih bercanda ria. sambil mendengar takbir yang lembur dari mushola.. g tahu klo mereka.
mataku dah lelah melihat mencari referensi TAku. tekadku ternyata belum berubah. kangaen bapak.. lho, kok bahasannya pindah.
DULU
SMA. dan juga sebelumnya. bapak dan sekeluarga adalah orang-oran yang terus mensuportku. meski jarang berada dirumah, ketika pulang malam beliau selalu menghampiri kamarku. dan aku masih selalu dalam keadaan terjaga. oh, entahlah. aku juga baru faham. aku suka berjaga malam mungkin karena harus selalu menunggu bapak pulang.
memang, tiap harinya pulang sore terus, berangkat pagi ke sekolah. karena memang begitulah bapak mengajarkan. ini zamannya perjuangan.
entahlah.. dijogja, meski ini adalah kota dari segala mimpi, tapi aku selalu merindukan bapak. rasa-rasanya memang beliau yang mampu menjaga mimpi-mimpiku selama ini.
memory, 24 November 2008
terhitung masih 40 menitan untuk mendownload selurh dokumentasi sas. padahal ni sudah jam 19.13. nyampe jam berapa di asrama.
DULU
semoga saja itu hanya untuk dulu. namun memang tidak tahu apakah kedepan akan terus seperti itu atau tidak. hanya saja yang lalu biar berlalu. itu banyak keburukan. biar ku tinggal jauh-jauh. biar tak tampak. biar ku tak takut
ha
ha
ternyata kejadian lagi malam ini. aku harus pulang malam memang. huff.. susah ya merubah kebiasaan. masih ada makhluk di kampus ini. hoho. aku maksudnya. g juga, ada bebrapa mahasiswa yang masih bercanda ria. sambil mendengar takbir yang lembur dari mushola.. g tahu klo mereka.
mataku dah lelah melihat mencari referensi TAku. tekadku ternyata belum berubah. kangaen bapak.. lho, kok bahasannya pindah.
DULU
SMA. dan juga sebelumnya. bapak dan sekeluarga adalah orang-oran yang terus mensuportku. meski jarang berada dirumah, ketika pulang malam beliau selalu menghampiri kamarku. dan aku masih selalu dalam keadaan terjaga. oh, entahlah. aku juga baru faham. aku suka berjaga malam mungkin karena harus selalu menunggu bapak pulang.
memang, tiap harinya pulang sore terus, berangkat pagi ke sekolah. karena memang begitulah bapak mengajarkan. ini zamannya perjuangan.
entahlah.. dijogja, meski ini adalah kota dari segala mimpi, tapi aku selalu merindukan bapak. rasa-rasanya memang beliau yang mampu menjaga mimpi-mimpiku selama ini.
memory, 24 November 2008
berlari
wajah yang kemarin kulihat itu...
benarkah dirimu?
dari dekat, sungguh itu dirimu
tapi tetap saja
aku harus berlari
mengejar sesuatu yang aku pun tidak tahu
pergi
menemui sengketa
perkara rumit yang akupun tidak faham
namun cantik
cantik sekali...
tetap saja begitu
dari kukenal sampai sekarang ku kenang
selalu begitu
aku lari
sejauh-jauhnya aku berlari dan berlari
namun...
jika pun masih bisa memilih
aku tidak mau berlari
dengan tidak memilih
biar kau tetap jadi temanku
di dunia yang aku selalu sendiri
sepi, kala itu
namun sekarang kau mematung
karena memang harus begitu
dan aku pun mematung
tidak boleh bicara, tersenyum atau tertawa
namun sudah ku tanam beberapa krisan
yang sempat kulukiskan saat itu
tinggal menunggu semi
atau sepi sendiri lagi
dan aku tidak ingin lari lagi
benarkah dirimu?
dari dekat, sungguh itu dirimu
tapi tetap saja
aku harus berlari
mengejar sesuatu yang aku pun tidak tahu
pergi
menemui sengketa
perkara rumit yang akupun tidak faham
namun cantik
cantik sekali...
tetap saja begitu
dari kukenal sampai sekarang ku kenang
selalu begitu
aku lari
sejauh-jauhnya aku berlari dan berlari
namun...
jika pun masih bisa memilih
aku tidak mau berlari
dengan tidak memilih
biar kau tetap jadi temanku
di dunia yang aku selalu sendiri
sepi, kala itu
namun sekarang kau mematung
karena memang harus begitu
dan aku pun mematung
tidak boleh bicara, tersenyum atau tertawa
namun sudah ku tanam beberapa krisan
yang sempat kulukiskan saat itu
tinggal menunggu semi
atau sepi sendiri lagi
dan aku tidak ingin lari lagi
di hukum. bukan dihukum!
di hukum. maksudnya di fakultas hukum. kata eca disini cepet dowloadnya. alahamdulillah, ternyat abenar. sekarang akudah download banyak file. serunya..!!!
huff.. bukan apa si. yang jauh lebih seru itu orang-orang yagn berdiri disekitar aku duduk. orang-orang bersorak ria meneriaki pra jagoan mereka yang asik sekali rebutan tali tambang. hhoho. jadi ini maksdunya pertandingan tarik tambang.
percaya g klo jeritannya .... wow!!! kencang sekali man. huff.. nging.. ditelingaku. well. mereka g peduli hujan deras, langit yang kelam. benar2 dech. klo di mipa niy... orang-orang pada kabur semua..
aku dah nongkrong disini dari jam 4 tadi. cewek cowok masih terus ramain menyoraki jagoanya. btw, aku bingung. ni event siapap yang ngadain ya..???
masih terus menyambar. klat-kilat merah. rupanya mereka sudah selesai sekarang. setelah menghasilkan satu anak cewek yagn pingsan mendadak.mana ku tahu kenapa? kedinginan kah? laper? atau kelelahan berteriak.??
hm...
huff.. bukan apa si. yang jauh lebih seru itu orang-orang yagn berdiri disekitar aku duduk. orang-orang bersorak ria meneriaki pra jagoan mereka yang asik sekali rebutan tali tambang. hhoho. jadi ini maksdunya pertandingan tarik tambang.
percaya g klo jeritannya .... wow!!! kencang sekali man. huff.. nging.. ditelingaku. well. mereka g peduli hujan deras, langit yang kelam. benar2 dech. klo di mipa niy... orang-orang pada kabur semua..
aku dah nongkrong disini dari jam 4 tadi. cewek cowok masih terus ramain menyoraki jagoanya. btw, aku bingung. ni event siapap yang ngadain ya..???
masih terus menyambar. klat-kilat merah. rupanya mereka sudah selesai sekarang. setelah menghasilkan satu anak cewek yagn pingsan mendadak.mana ku tahu kenapa? kedinginan kah? laper? atau kelelahan berteriak.??
hm...
dirimu....
message dari sahabatku:
tertunduk, terdiam, tersudut diantara rak kosong dan kardus. tak berdaya...
aku juga hanya hati bercerita padaNya
air mata pun hanya sedikit membantu menenangkan diri
hanya takut jika diri belum mampu bersabar dan bersyukur lebih...
kau lihat dia menetes lagi...
mengalir menghapus senyumku hari ini
sore ini, hujan membuat semakin syahdu
Ar-Rahman bersamaku..
HPku bergetar di dadaku. hoho. bukan, maksudnya karena hpku selalu ku kalungkan ke leher. jadi klo cek messAge gampang.
ku buka... terus...
ah, setiap orang memiliki kamar sendiri2 di hati saudaranya satu sama lain.
tapi, dia ini.....
AGUSTUS 2008
"umi sayang banget.... ".
saat ku kirimkan message ini. bersama dengan sedikir paruh hati yang di cungkil. sedikit hangat dipipiku.... masih hangat di pipiku. sedari tadi.
tidak selayaknya aku seperti itu. tapi cinta ini... ah. tapi... aku belum siap kehilangannya
SYAWAL 1428H
suka cita bersama waktu dan keluarga. hilang sejenak. namun tetap rindu. ah.. dia. sahabatku.
KEJOGJA LAGI
"sidang. aku lebih suka menyebutnya begitu. dari pada pendadaran. emang telor didadar. haha... ". itu katamu. menjelang kelulusanmu.
aku tersenyum. namun tak semanis senyummu, sahabat.
Apa yang kau rasa? deg degan? ah. kau bukan seperti yang lain. jiwamu kuat.
NOVEMBER
jubah hitammu. ku temukan disebelah barat Graha Sabha. haha... tentu tetap dengan senyummu itu. sahabat...
suka cita. semua... aki,mama... dan...
ah, ternyata dia. tak salah memang. layak menemanimu. sahabat...
dan sore itu.aku tak faham dengan messagemu itu. baru saja ku haturkan salam. namun, secepat itukah?
ah... apa lagi dirimu. pasti kau sekarang dengan mata segede itu. membendung aliran air dari matamu. yang terus tumpah.
lalu. aku benar2 menemukanmu di sudut rak kosong dan kardus-kardus!!!
terbelah lagi hatiku. "secepat ini kah??". kau juga hanya menggelengkan kepala.
"aku juga g tahu,,,". ujarmu.
mengalir lagi. air yang tidak terbendung itu
huff... dan hari ini. aku belum menemukanmu lagi. esok masih ada hari kan untuk kita jumpai? sekali saja. biar kita bersama
menyusuri jogja. kota dimana aku menemukanmu. ah.. bukan! tapi kita ditemukan. dengan rasa mahabbah, persaudaraan yang utuh.
saudariku...
katamu kau juga menangis. ketika ku bilang
"belum lama aku bisa membedakan dua kosa kata itu."
terlepas dari keduanya, aku berikan juga satu untukmu, cinta...
tertunduk, terdiam, tersudut diantara rak kosong dan kardus. tak berdaya...
aku juga hanya hati bercerita padaNya
air mata pun hanya sedikit membantu menenangkan diri
hanya takut jika diri belum mampu bersabar dan bersyukur lebih...
kau lihat dia menetes lagi...
mengalir menghapus senyumku hari ini
sore ini, hujan membuat semakin syahdu
Ar-Rahman bersamaku..
HPku bergetar di dadaku. hoho. bukan, maksudnya karena hpku selalu ku kalungkan ke leher. jadi klo cek messAge gampang.
ku buka... terus...
ah, setiap orang memiliki kamar sendiri2 di hati saudaranya satu sama lain.
tapi, dia ini.....
AGUSTUS 2008
"umi sayang banget.... ".
saat ku kirimkan message ini. bersama dengan sedikir paruh hati yang di cungkil. sedikit hangat dipipiku.... masih hangat di pipiku. sedari tadi.
tidak selayaknya aku seperti itu. tapi cinta ini... ah. tapi... aku belum siap kehilangannya
SYAWAL 1428H
suka cita bersama waktu dan keluarga. hilang sejenak. namun tetap rindu. ah.. dia. sahabatku.
KEJOGJA LAGI
"sidang. aku lebih suka menyebutnya begitu. dari pada pendadaran. emang telor didadar. haha... ". itu katamu. menjelang kelulusanmu.
aku tersenyum. namun tak semanis senyummu, sahabat.
Apa yang kau rasa? deg degan? ah. kau bukan seperti yang lain. jiwamu kuat.
NOVEMBER
jubah hitammu. ku temukan disebelah barat Graha Sabha. haha... tentu tetap dengan senyummu itu. sahabat...
suka cita. semua... aki,mama... dan...
ah, ternyata dia. tak salah memang. layak menemanimu. sahabat...
dan sore itu.aku tak faham dengan messagemu itu. baru saja ku haturkan salam. namun, secepat itukah?
ah... apa lagi dirimu. pasti kau sekarang dengan mata segede itu. membendung aliran air dari matamu. yang terus tumpah.
lalu. aku benar2 menemukanmu di sudut rak kosong dan kardus-kardus!!!
terbelah lagi hatiku. "secepat ini kah??". kau juga hanya menggelengkan kepala.
"aku juga g tahu,,,". ujarmu.
mengalir lagi. air yang tidak terbendung itu
huff... dan hari ini. aku belum menemukanmu lagi. esok masih ada hari kan untuk kita jumpai? sekali saja. biar kita bersama
menyusuri jogja. kota dimana aku menemukanmu. ah.. bukan! tapi kita ditemukan. dengan rasa mahabbah, persaudaraan yang utuh.
saudariku...
katamu kau juga menangis. ketika ku bilang
"belum lama aku bisa membedakan dua kosa kata itu."
terlepas dari keduanya, aku berikan juga satu untukmu, cinta...
Thursday, November 20, 2008
mendung
mendung
mengejawantahkan kotaku
yang biasa marah dengan segala terik
polusi, matahari, orang gila dan anak-anak jalanan
mendung
sore ini memang begitu
selalu
pada tiap perpisahan waktu
mendung
menunggu guntur
yang membakar jiwa-jiwa penakut
agar terbuka hatinya melihat manusia-manusia tersandung
oh mendung
mengapa harus setiap hari
namun biarlah begitu
biar cepat hujan
biar cepat bersih kotaku
ah mendung
biar begitu
bertambah gelapmu
bertambah suram kotaku
yogyakarta, 20 november 2008
mengejawantahkan kotaku
yang biasa marah dengan segala terik
polusi, matahari, orang gila dan anak-anak jalanan
mendung
sore ini memang begitu
selalu
pada tiap perpisahan waktu
mendung
menunggu guntur
yang membakar jiwa-jiwa penakut
agar terbuka hatinya melihat manusia-manusia tersandung
oh mendung
mengapa harus setiap hari
namun biarlah begitu
biar cepat hujan
biar cepat bersih kotaku
ah mendung
biar begitu
bertambah gelapmu
bertambah suram kotaku
yogyakarta, 20 november 2008
my lecture oh my lecture!
"serius banget niy?!". my 1st lecture
"iya ni, serius banget?!". 2nd lecture
"hahaha... iya. si umi bener2 lagi serius?!"> 3th lecture
well... itulah sapaan dosendku hari ini di kampus. setelah aku kabaru dari kampus beberapa waktu. akhirnya aku nongol dengan senyum2ku. cie.. but, ada warna yang berbeda ketika saat itu aku dispa begitu hangat.
"oh my lecture,, ".
sudah lama memang tidak mengobrol dengan mereka
SEBELUMNYA
hoss hoss... lorong gedung K aku susuri. sudah kesiangan sepertinya untuk menemui dosen. jam 11.22 di Hpku. bukan, bukan untuk konsultasi skripsi. ini bukan dosen pembimbingku . tapi dosen kaprodi. hihi. gaul orangnya. so, enak klo diajak diskusi. well... temennya andrea hirata. asal Belitong.
"hoho.. aku tahu kok mana cerita yang beneran dan bagian mana yang dibuat2". hm.. ujarnya ketika kutanya benar kenal kah dengan penulis novel legendaris itu.
mr Dedi. dosen muda sekaligus dosen cerdas.
"saya tu g kaya kamu. buku yang dari kiri sampai kanan ya di baca". hoho
ternyata maniak buku juga. g kya dosen2 statistk lainnya. keren kan
setelah menemukan ruanganya. .
"assalamu'alaikum...".
"wa'alaikumsalam.."
"pak, mana yang bapak bilang kemaren? g bisa lo langsung di download. meski purchase dulu. 140$" ujarku sambil ngos2-an
"ah, masa'" timpalnya
"hm... ayo pak. berarti bapak yang bisa login". tambahku
"connectnya itu langsung dengan wireless kampus"> ho.
alhamdulillah aku lagi bwa laptonya eca.
"coba gih!". tambahnya.
JAM 12.32am
" bisa kan??". Sapa pak dedi yang keluar dari ruangan menuju mushola
"he... iya pak. makasih ya pak". duduk manis depan laptop di meja yang menjorok ke pintu keluar gedung.
"iya. jadi mesti pake koneksi kampus. klo km ke warnet ya g bisa...". tambahnya sambil hengkang meninggalkanku.
"hehe... iya pak. tapi ini koneksinya g mau dari tadi. " ujarku mengeluh. karena 1 jam online g juga dapetin jurnal mujarab itu.
"iya. dari tadi tu. dari jam berapa ya tadi.?!". semakin jauh menuju musholla.
12.45am
aku merasa senang dengan sapaan ketiga dosenu itu. wah. memang dosen2 statistk itu beda banget dengan lainnya. belajar banyak dari beliau. orang2 hebat dan muda, yang mau di gaji dengan hanya sekian rupiah. tidak sebanding dengan mantan mahasiswanya yang berkarir di bank aku di market research.
"iya. g usah jadi dosen. susah. klo mau duitnya banyak. ke perusahaan aja," ujar pak dedi setahun yagn lalu. tidak menciutkanku. tapi aku tertantang untuk menjawabnya.
"jadi guru itu pahalanya banyak. iya a kaya.". sang murobbi (bener g ya lafalya">
amien..
my lecture oh my lecture. someday i will be there. with u to study everything in this study... in this science. with love.
"iya ni, serius banget?!". 2nd lecture
"hahaha... iya. si umi bener2 lagi serius?!"> 3th lecture
well... itulah sapaan dosendku hari ini di kampus. setelah aku kabaru dari kampus beberapa waktu. akhirnya aku nongol dengan senyum2ku. cie.. but, ada warna yang berbeda ketika saat itu aku dispa begitu hangat.
"oh my lecture,, ".
sudah lama memang tidak mengobrol dengan mereka
SEBELUMNYA
hoss hoss... lorong gedung K aku susuri. sudah kesiangan sepertinya untuk menemui dosen. jam 11.22 di Hpku. bukan, bukan untuk konsultasi skripsi. ini bukan dosen pembimbingku . tapi dosen kaprodi. hihi. gaul orangnya. so, enak klo diajak diskusi. well... temennya andrea hirata. asal Belitong.
"hoho.. aku tahu kok mana cerita yang beneran dan bagian mana yang dibuat2". hm.. ujarnya ketika kutanya benar kenal kah dengan penulis novel legendaris itu.
mr Dedi. dosen muda sekaligus dosen cerdas.
"saya tu g kaya kamu. buku yang dari kiri sampai kanan ya di baca". hoho
ternyata maniak buku juga. g kya dosen2 statistk lainnya. keren kan
setelah menemukan ruanganya. .
"assalamu'alaikum...".
"wa'alaikumsalam.."
"pak, mana yang bapak bilang kemaren? g bisa lo langsung di download. meski purchase dulu. 140$" ujarku sambil ngos2-an
"ah, masa'" timpalnya
"hm... ayo pak. berarti bapak yang bisa login". tambahku
"connectnya itu langsung dengan wireless kampus"> ho.
alhamdulillah aku lagi bwa laptonya eca.
"coba gih!". tambahnya.
JAM 12.32am
" bisa kan??". Sapa pak dedi yang keluar dari ruangan menuju mushola
"he... iya pak. makasih ya pak". duduk manis depan laptop di meja yang menjorok ke pintu keluar gedung.
"iya. jadi mesti pake koneksi kampus. klo km ke warnet ya g bisa...". tambahnya sambil hengkang meninggalkanku.
"hehe... iya pak. tapi ini koneksinya g mau dari tadi. " ujarku mengeluh. karena 1 jam online g juga dapetin jurnal mujarab itu.
"iya. dari tadi tu. dari jam berapa ya tadi.?!". semakin jauh menuju musholla.
12.45am
aku merasa senang dengan sapaan ketiga dosenu itu. wah. memang dosen2 statistk itu beda banget dengan lainnya. belajar banyak dari beliau. orang2 hebat dan muda, yang mau di gaji dengan hanya sekian rupiah. tidak sebanding dengan mantan mahasiswanya yang berkarir di bank aku di market research.
"iya. g usah jadi dosen. susah. klo mau duitnya banyak. ke perusahaan aja," ujar pak dedi setahun yagn lalu. tidak menciutkanku. tapi aku tertantang untuk menjawabnya.
"jadi guru itu pahalanya banyak. iya a kaya.". sang murobbi (bener g ya lafalya">
amien..
my lecture oh my lecture. someday i will be there. with u to study everything in this study... in this science. with love.
Subscribe to:
Comments (Atom)