Wednesday, February 4, 2009

mengeja purnama

bulan setengah
merahnya terhalang awan hitam
yang berbaur dengan angin utara dan selatan
di musim penghujan

sendiri
tanpa bintang
sepi
biasa di kegerlapan kota-kota

bulan setengah
termaktub dalam kitab dengan bahasa yang cantik
menuju utuh
purnama

bulan setengah
sayang, bukan purnama
ah, hanya belum saja

bulan setengah
begitulah
tegar menanti masa

haribaannya memaknai semua jiwa
salah satu diantaranya yang menuliskan kisah tentangnya
sama malangnya

oh bulan setengah
malam ini masih adakah?
atau ku tunggu sampai purnama sajah

7 comments:

  1. Bulan setengah tapi saya tahu karyamu tidak pernah setengah-setengah. karyamu utuh dan saya suka dengan puisi ini.

    ReplyDelete
  2. nuansanya indah, cuman kr sayanya sendiri memang ga begitu mahir mengartikannya, jadi nangkepnya juga setengah-setengah heheheh

    *nunggu penuh gitu?

    ReplyDelete
  3. Wah saya hanya bisa membaca tanpa mengelurkan suara apa apa..

    Salam bagi pecinta senia puisi, saya ini sangat tidak bisa menilai karya sastra..Tapi saya sangat menikmatinya..

    Salam...

    ReplyDelete
  4. digantungkan dalam purnama atau separuhnya
    sebab keduanya hanya hamburan sajah....

    terhirup bersama wangi kopi pagi
    yang akan menjulangkan mentari
    lalu besok atau lusa

    jadi purnama....

    ReplyDelete
  5. hebat, indah...
    oh bulan memang tempat keindahan
    saksi perilaku pada malam hari
    bulan, siapakah sebenarnya engkau
    kenapa aku terkagum, terpaku, bahagia
    ketika menyapamu...

    ReplyDelete
  6. Miu, aku suka puisi-puisimu..
    [fans berat gtu deh]. Pa kabar ukht?

    ReplyDelete
  7. bulan setengah
    masih begitu di sekian malam

    mb Francis.. makasih dah sudi mampir. lagi belajar nulis mbak.
    mocaha chi salam kenal
    bocahbancar juga salam kenal. selamat datang di blogku
    thanks sahlafif.
    niefa.. maafkan aku. yup. doakan untuk bisa eksis berkarya disini.
    suryaden.. nuhun sudah melanjutkan syairnya.

    ReplyDelete