Sejak lama ia ditinggal sang Bunda, kehidupan menawarkan padanya kedewasaan yang lebih awal dari anak-anak seusianya. Bukan ditinggal pergi ke dunia lain, hanya belahan bumi yang katanya menawarkan kemakmuran bagi rakyat negara ketiga.
Belia yang lahir 14 tahun yang lalu, ini memanglah tidak begitu mahir dalam hitungan matematika atau hafalan susunan pencernaan dalam pelajaran biologi di kelasnya. Namun prestasi dalam lomba lari mengantarkannya dalam kejuaraan tingkat kecamatan disebuah kabupaten baru di Lampung. Mungkin bagi kita bukan prestasi yang luar biasa, tapi itu adalah sebuah kekuatan hidup dan menjadikannya sebagai manusia yang berharga dengan bukti piala yang terpajang diruang keluarga.
Sari, begitu kami memanggilnya. Gadis yang dulu hanya seonggok bayi merah di rumah papan lapuk, gadis yang dulu menangis mengerang-erang ketika Bundanya melambaikan tangan dari jendela Carry ketika berusia 8 tahun, gadis yang dulu selalu menjadi bahan tertawaan teman-temannya bersamaan tidak ada baginya perlindungan meski hanya dibalik ketiak seorang ayah. Kini tegar, setegar badannya yang sigap menerjang angin ketika berlari, melawan matahari setiap hari, dan melawan zaman edan dengan kerudung kecil yang belum lama ia kenakan.
“ Mbak Attien…!!!” . Itu, itu teriakannya ketika aku pulang setelah satu tahun yang lalu. Ia datang padaku dengan berlari dan memelukku erat. Luluh lah baginya air yang telah membeku didadanya, menganak sungai, menceritakan betapa kejamnya kehidupan.
Ia menangis, menangis yang entah bagaimana aku memahaminya. Terlalu pahit untuk di ingat. Bahwa gemuruh hidup telah melintas dimata, menari-nari, mengejek dan menyuguhkannya cita-cita yang tak bertuan.
Ku raih badanya erat, entah mengobati jiwanya yang sesak atau tidak pun aku tak tahu. Siapalah aku dibanding dengan seorang Bunda yang selalu ia rindukan. Ia kembali erat merangkulku seperti setahun yang lalu, pertama kali aku melihatnya semakin anggun dengan balutan jilbab kecilnya.
Ia masih tersedu, dan meraih badanku hendak mengelumat segala kepahitan. Hingga tidak mampu mengatakan apapun. Badannya cukup tinggi dan terlalu tinggi untuk anak seusianya. Hingga mampu meraih panjang badanku yang berstatus mahasiswa.
“ Mbak…. “ Dilepas dekapanya. Dan aku mampu bernafas lega akhirnya.
“ Sssstt.. udah… nggak papa kok.” Aku mencoba menenangkan. Tapi aku sendiri tidak tenang. Entahlah, cerita apa lagi yang telah ia lalui tahun ini.
Matanya merah usai menumpahkan seluruh air mata, masih sesunggukan. Tenaganya habis terkuras, terperas waktu yang bersamanya setia berharap menunggu datangnya sejarah terulang kembali dengan cerita yang berbeda.
“ Kok nangis…? Katanya Mamak dah pulang… “ Aku bertanya heran. Tapi entahlah, tiap tahun kepulanganku ia selalu seperti ini menyambutku. Bukan, bukan karena rindu padaku. Hanya saja… kehidupannya adalah satu-satu jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini.
“ Mbak dibawain gelang sama Mamak. Nanti maen ya kalau dan nggak capek?” Ia memandangku dengan senyum yang khas. Bibirnya yang tipis menambah ayu gadis kurus tinggi itu.
“ Wah.. senangnya. Ya, nanti mbak main ke rumahmu. Salam dulu aja buat mamak. “
Sekarang ia benar-benar tersenyum, “ Ya udah, mbak istirahat dulu. Aku mau pulang. “
“ Ya.” Jawabku.
Ia lari tiba-tiba, sekencang ia berlomba lari tingkat kecamatan. Sekencang mungkin meninggalkanku di pintu rumah.
“ Mak…!!! Mbak Attien dah pulang…” Ku dengar suara itu jauh dari sini. Aku yang hanya mematung bersama dengan pertanyaan dari kabar dari telphone yang disampaikan ibuku. Benarkah itu???
Huufff…
***
“ Ya Alloh nduk… udah segede ini kamu?!” Wanita ini mungkin memujiku dengan perawakanku yang jelas beda sejak 2 tahun yang lalu.
“ Mbak Mar.. Mbak Mar…. Ya Iya lah mbak… masa’ mau kaya’ dulu terus.” Jawabku tersipu.
Begitu aku memanggil wanita beranak dua itu. Maryati nama lengkapnya. Masih seperti dulu kami warga sini memanggilnya, yang fasih betul sejak warung serba adanya dibuka sampai ditutup kembali karena banyak yang hutang dan tak terbayar.
Kamu juga beda mbak. Wajahmu semakin tegar.
Mungkin setelah tahu kemarin-kemarin kamu tahu semua cerita disini. Yang kalau aku jadi dirimu, akan teriris dan bisa jadi memutuskan untuk bunuh diri. Badanmu yang tak segemuk dulu ketika pergi, apakah ceritamu disana juga sepahit disini dengan tuan barumu 2 tahun ini?
“ Hahaha.. Anakmu juga dah gadis Mbak… “ Aku tertawa, pun dengannya. Anak-anak disekitar sini pun begitu. Yang dulu anak-anak sekarang sudah dewasa, juga mereka yang dulu dewasa sekarang sudah punya momongan. Juga termasuk anaknya, si Sari. Anak putri dari dua bersaudara itu dulu bocah yang sering ku momong kalau Bundanya pergi ke pasar belanja isi warung.
Kulihat Sari yang duduk manis sendiri di beranda rumah. Mendengar kami membicarakannya, dia pun tersipu sambil mengelus-elus si Slank kucing kesayangannya.
“ Ya tho… ntar lagi juga mantu.” Tambahku.
“ Huss.. Kamu tuh!” Ia berkilah sambil tersenyum.
“ Si Budi maksudnya…” Satu kosong. Aku sengaja menyebut anak pertamanya di akhir. Dan dia pun tertawa.
“ Yo Pak Nur dulu lah..” Hoalah.. Nama bapakku sekarang disebut.
Kami hening sejenak. Merefleksi betapa cepatnya waktu berjalan.
“ Hati-hati mbak. Anakmu dah gadis. Meski masih kelas 2 SMP , tapi badannya tinggi gitu. “ Aku membuka perbincangan kembali.
“ Halah nduk… tinggi tapi ceking gitu kok.” Ia melongok pun keluar. Melihat anaknya yang duduk sendiri masih bermain dengan sahabatnya setianya. Kucing loreng kuning yang suka makan anak ayam tetangga.
“ We.. kan masih masa pertumbuhan. Zaman sekarang anak sekolahan nggak kaya’ zaman aku dulu. Sekarang ngeri mbak! “
Ia diam. Bukan bermaksud untuk menakut-nakuti, mengingatkannya agar lebih menjaga anak gadisnya. Di daerah kami beberapa kasus anak sekolah melakukan seks bebas dengan pacarnya telah terjadi. Usai itu mereka akan putus sekolah dan dinikahkan bersamaan dengan diketahuinya si gadis hamil. Sungguh korban zaman edan yang menyedihkan.
“ Tapi tenang, Sari anak yang solehah kok. Udah pake jilbab lagi.” Aku menenangkan. Begitu aku sangat bangga dengan gadis belia ini, ia mampu melawan arus yang mengalir di lingkungan sekolah, pergaulan masyarakat, bahkan di rumahnya sendiri
“ Dia nggak punya cowok kok.” Tambahnya lebih tenang. Ia melihat bangga anaknya. Dengan jilbab yang membalut itu ia percaya gadsinya akan selamat dari anak-anak putra yang sering tak bertanggung jawab.
Setelah 6 tahun ia meninggalkan rumah untuk kehidupan yang lebih baik, serasa ada sesal namun demikianlah kehidupan harus ia jalani.
Dengan itu pertanyaanku kemarinpun belum mampu lontarkan. Benarkah???
-***
Siang itu kami berada di beranda rumah. Ramadhan kali ini memang ada yang berbeda. Kehadiaran mbak Mar memang memberi warna yang lain. Kehidupan bertetangga kami lebih riuh dengan seringnya para ibu-ibu rumah tangga bergumul bergosip ria dan tertawa tertiwi. Tidak ada arisan atau coba-coba resep makanan seperti mereka yang di kota atau perumahan.
Siang ini dan yang memang akhir-akhir ini ramai rumahnya untuk dijadikan sarang adalah rumah mbak Mar. yang belum lama ini di keramik hasil kerjanya enam tahun di tanah Arab Saudi. Lebih nyaman untuk jagongan.
“ Eh, katanyaYu Jum hari ini juga nyampe lho…”
“ Ah, masa’ sih? Semalem katanya masih di jakarta?”
“ Ya iyalah mbak Yu… hitungannya kan Cuma 10 jam ke sini.”
“ Udah nyampe’ kok tadi subuh”
“ Ooo.. “
Obrolan hangat siang itu memang terkesan biasa saja. Gosip, ngobrol ngalur ngidul, kebiasaan yang sulit dihindari oleh wanita manapun yang sedang berkumpul. Mungkin ini masih suasana Ramadahan. Yah.. tunggu bebrapa hari lagi lah setelah Idul Fitri. Mungkin memang puasa harus menjaga hal-hal yang telah menjadi kebiasaan buruk.
“ Kasihan ya Yu Jum. Nasibnya kaya’ aku. Pulang-pulang kerja dari jauh, eh nggak tahunya nyampe rumah dapet bencana. Mudah-mudahan Yu Jum sabar.”
Mbak Mar tiba-tiba melanjutkan dengan menggeserkan sedikit thema pembicaraan. Sedangkan ibu-ibu yang lain terdiam mendengar itu. Mereka tidak berani menyambung obrolan yang mereka pun tahu tentang itu. Karena mereka menjaga perasaan mbak Mar.
“ Eh, besok jam berapa sholat Ied-nya.” Tanyaku memecah keheningan.
“ Wah mbak.. besok kalau hujan gimana ya? Kan sekarang musim hujan. Apa kita sholat di masjid Syuhada aja…”
Syukurlah… Pembicaraan kali ini benar-benar beralih. Aku tidak ingin sakit hati yang masih berkoreng di jiwa mbak Mar kembali terpindai. Baru kemarin dia bercerita, kalau kasur dan juga sprei miliknya telah ia bakar. Wanita yang malang…
“ Mbak yang sabar… “ hanya itu yang ku ucapkkan kemarin. Hah! Aku sendiri marah pada diriku. Tidak mampu membendung air mata yang telah tumpah, juga sekedar untuk mendinginkan jiwanya yang telah mendidih.
Begitu kau menceritakan semuanya, sebagai sesama perempuan pun aku tak sanggup membayangkan. Kau dan anakmu itu telah begitu remuk untuk menerima semuanya.
“ Uangku ludes. Yang masih ditabungan nggak seberapa. Katanya untuk ini itu, tapi nggak berbekas. “
Kala itu aku hanya mengangguk mencoba untuk pahami dan ikut merasakan. Namun tak sampai. Aku dan tetangga tahu kalau uangmu habis untuk memebebaskan anakmu yang pertama dari penjara karena mencuri mesin pompa air di sekolah, aku dan tetangga juga tahu kalau uangmu digunakan untuk foya-foya suamimu, aku dan tetangga juga tahu bahwa apa-apa yang kamu perjuangkan selama 6 tahun di negeri orang tidak meninggalkan sesuatu yang setimpal.
Di tambah dengan kekecewaanmu sebagai istri…
“Di depan mata si Sari langsung Nduk!!! “
Ya Alloh... Apa lah yang lebih hina dari itu?!
Sari telah menjadi tong akhir dari segala kepahitan rumah yang belum lama bertekel itu. Seakan-akan hidup terlalu mahal. Dan tidak akan pernah cuma-cuma.
“ Iya. Kalau nggak demi Sari, aku nggak mungkin pergi.” Ucapmu polos sebagai Bunda yang baik, Bunda yang mengidamkan kesejahteraan yang selama ini tidak mampu diciptakan suami, Bunda yang mungkin juga ingin keluarganya sejahtera seperti keluarga yang lain. Hingga memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah menjemput masa depan yang lebih baik.
Meski begitu tegar, kesedihan itu masih terlukis diwajahmu. Istri mana yang sanggup untuk menerima itu. Ia bekerja susah payah ke negeri yang tidak menjamin keselamatan, hanya untuk dinar atau dirham yang akan ditukar rupiah. Untuk sekolah anak-anaknya, untuk mengubah garis nasib, untuk memerdekakan keinginan-keinginan yang selama ini terpenjara kemiskinan.
Dengan ini pun aku masih punya pertanyaan yang tak berani ku lontarkan, benarkah itu???
***
Idul Fitri semakin marak terasa. Budaya silaturahmi sangat subur disini. Kabiasaan yang katanya tidak lestari di tempat aku merantau untuk belajar, Yogyakarta. Orang-orang saling berkunjung satu sama lain. Semasa aku masih SD, orang-orang masih banyak yang menggunakan sepeda ontel berboncengan. Suami istri dengan anaknya yang didudukkan di stang sepeda, berseragam mengenakan baju terbaik. Atau kakak-adik yang usianya agak dewasa juga berboncengan. Dan kalau anak-anak mereka biasanya bergerombol dari rumah kerumah dengan sepeda yang memang untuk usia mereka. Pokoknya hampir semua bersepeda. Dan hanya yang mampu saja yang sudah mengenakan sepeda motor. Sekarang zaman kebalikan, hanya mereka yang belum mampu beli motor yang masih menaiki sepeda.
Dan sekali lagi jelas, bahwa kali suasana semakin riuh dengan kepulangan mbak Mar. radius tiga sampai empat rumah ikut merasakan kebahagiaan keluarga ini. kadang teriakannya yang memanggil si Sari atau Budi putra pertamanya memekik terdengar. Dan sore hari pertama idul Fitri aku memilih untuk nongkrong di rumah mbak Mar. Sekalian melepas rindu yang belum rampung.
Nampak keluarga ini begitu bahagia. Ini adalah lebaran pertama kalinya mereka bersama utuh sejak merantaunya sang Bunda. Kami pun bercerita banyak, mbak Mar minta diceritakan bagaimana rasanya belajar di tanah orang, juga aku diceritakan bagaimana serunya mengadu nasib di Arab sana. Cerita-cerita sedih sampai yang konyol semua disampaikan, gayanya yang ekspresif saat bercerita membuat semakin seru perbincangan.
Sampai-sampai pembicaraan kami saat itu…
“ Jadi.. Bener mbak? “ Aku terbelalak tak percaya.
Wanita itu manggut-manggut dan tersenyum.
“ Ya kan nduk…? “ Diraihnya gadisnya yang lagi asik memainkan rambut sang bunda.
“ Hih..!!! Pokoknya kalau nggak tuh nggak!!!” . Anak itu menolak untuk diraih dan lari ke kamarnya.
“ Mbak… mbok di pikir lagi… “ Saran yang cuma-cuma menurutku.
Wanita itu meninggalkanku dan menuju kamar anak gadisnya. Didapatinya anaknya menelungkupkan kepalanya di bawah bantal.
“ Sini... “ Ia mencoba meraih jiwa permata hatinya itu.
Gadis itu pun menolak lagi.
Mbak Mar pun menyerah, tidak mungkin memaksa.
“ Biar nduk Sari bisa kaya’ temen-temen. Ntar kalau dah SMA bisa bawa motor ke sekolah. Masa’ temennya bawa HP nanti Sari nggak bawa HP…? “ Ia mencoba merayu sang buah hati sambil mengelus pundaknya. Tapi gadis belia itu tidak bergeming.
Sedang aku hanya mematung di pintu kamar melihat pertunjukan itu. Menjadi penonton setia yang tak mampu bertepuk tangan atas kehebatan dunia. Sedang mbak Mar pun kini menatapku, ikut mematung,
Aku harus bagaimana? Tapi ini lah keputusanku…
Tapi gadismu telah diajari oleh hidup bahwa ia tidak memerlukan semua itu. Ia hanya butuh belaian Bunda yang hilang sejak umur 8 tahun. Ditambah dengan banyak kejadian dirumah yang tidak mampu dilihat dan dirasakan oleh anak seusianya. Diantara himpitan seorang ayah dan juga kakak yang jelas keduanya adalah laki-laki bertemperamen tinggi.
Aku pun hanya menggelengkan kepala. Ayo pikirkan lagi. atau gadismu akan terluka kembali…
***
Semua telah tertulis dan tinta telah mengering. Tragedi ini harus berulang kembali. Skenario hidup menghendaki demikianlah yang seharusnya terjadi.
Tidak cukup satu, dua atau tiga saja. Mungkin dengan keberangkatan yang ke empat kalinya akan benar-benar mengubah nasib.. Atau lima…?? Ah entahlah. Yah, dan mungkin dengan haji yang juga ke empat kalinya nanti harapannya akan benar-benar terkabul.
Mbak Mar sudah siap dengan dua koper besar dan harapan yang diderek masuk ke bagasi Carry. Siap membawa kembali sang Bunda yang sekaligus seorang istri ini untuk berjuang kembali di tanah orang. Bersama para bunda dan istri-istri yang lain.
Miris, Idul Fitri belum habis. Lebaran ketupat juga belum dicicipi. Lebaran yang dirayakan semiggu setelah tanggal 7 syawal ini masih tanpa sang bunda lagi. Sari hanya mematung tanpa ekspresi. Matanya kosong menatap maya. Sang bunda, harus jauh lagi di mata.
Jika dulu Sari menangis meraung-raung, namun pengalaman mengajarinya untuk lebih kuat. Terhitung dua tahun lagi akan berjumpa dengan sang bunda. Semoga selamat, begitu doanya setiap usai sholat.
Mbak Mar menyalami kami para tetangga satu persatu, sambil membisikkan.. “ do’akan ya..” Dan kami pun hanya mengangguk lagi seperti anggukan yang dulu. Air matanya mulai menganak sungai, memudarkan bedak dan lipstik yang baru saja terpoles.
Giliran sang suami untuk dipamiti, diciumnya tangan gagah itu sembari membisikkan “ Aku pamit” . Sang suami tak bisa berkata. Dibelai kepala wanita terbaiknya itu dan menjawab “ Maafkan aku”.
Si anak sulung masih mematung, sebagai bujang yang sudah dewasa memang tak sepatutnya untuk larut bersedih. Kehidupan di penjara beberapa bulan mengajarinya lebih. Ah, jauh dari sang bunda sudahlah kepastian. Mungkin hanya waktunya lebih cepat. Toh sang bunda masih pulang nantinya. Diciumnya tangan bunda. Dan sang bunda kembali membisikkan “ Jaga adikmu.” Dan si bujang menjawab singkat“ Ya.”
Sedang Sari masih tanpa ekspresi. Memandang kosong dan masih bertanya mengapa ini terjadi untuk kesekian kali. Belum genap rasa rindu terlunasi, sang bunda harus pergi meninggalkannya lagi. wajahnya dingin sembaari tangannya meraih salam bunda, sedingin angin yang enggan berhembus. “ Mamak berangkat ya nduk…? “. Dan wajah itu pun menjawab, Berangkatlah mak… aku sudah terlatih, dan sudah tak ada air mata lagi.
Namun di wajah sang bunda air mata itu semakin deras menganak sungai.
“ Belajar yang bener ya nduk. Mamak didoakan mudah-mudahan sukses. “Ujarnya sambil sesenggukan. “Kamu yang sabar…” Dan gadisnya hanya mengangguk tanpa menatap wajah yang akan dilihatnya dua tahun lagi. Tak apalah tanpa mamak lagi, toh aku sudah besar.
Mungkin jika harus terulang memang demikianlah adanya. Namun luka pada bunda semakin perih menganga. Tercabik-cabik lagi dengan tragedi pagi ini. Jikalau bisa terbagi dua, maka itulah yang akan dilakukannya.
Wanita itu akhirnya bergabung dengan para wanita yang senasib dengannya. Wajahnya mencoba tegar untuk melihat kedepan. Demi kebahagiaan keluarga, maka segala jalan asalkan halal akan terus ditempuhnya. Ia melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Sang suami dan si bujang pun hanya membalas senyum yang tak mampu menyembunyikan sendu. Sedang gadisnya lari secepat lomba lari hilang menyembunyikan teriakannya di dalam kamar. Mengapa harus lagi…!!!
Saturday, January 31, 2009
Friday, January 30, 2009
yang ada dikepalaku...
kata Rosululloh saw ... " ... Jangan merasa lemah."
kata Tarbawi .. "awas tertebas pedang yang kau mainkan sendiri!"
kata Ummi Munawiroh... "tazkiyatunnafs dengan muroqobatulloh"
kata Heru " sesuatu itu jauh lebih mudah dilakukan daripada dipikirkan "
kata ustad... " Hati-hati dengan jiwa kita yang akan menjadi kerdil, pengecut,"
Ya Alloh.. Mohon cahaya-Mu...
kata Tarbawi .. "awas tertebas pedang yang kau mainkan sendiri!"
kata Ummi Munawiroh... "tazkiyatunnafs dengan muroqobatulloh"
kata Heru " sesuatu itu jauh lebih mudah dilakukan daripada dipikirkan "
kata ustad... " Hati-hati dengan jiwa kita yang akan menjadi kerdil, pengecut,"
Ya Alloh.. Mohon cahaya-Mu...
Thursday, January 29, 2009
Wednesday, January 28, 2009
I carry it in my heart
I carry your heart with me
I carry it in my heart
I am never without it
anywhere i go you go ,my dear;
and whatever is done by only me is your doing, my darling
I fear no fate
for you are my fate,my sweet
I want no world
for beautiful you are my world,my true
and it’s you are whatever a moon has always meant
and whatever a sun will always sing is you
Here is the deepest secret nobody knows
here is the root of the root and the bud of the bud
and the sky of the sky of a tree called life; which grows
higher than the soul can hope or mind can hide
and this is the wonder that’s keeping the stars apart…
I carry your heart
(I carry it in my heart)
EE Cunnings
habis denger puisi ini nangis.. hua.. tentunya sengan terjemahan.
I carry it in my heart
I am never without it
anywhere i go you go ,my dear;
and whatever is done by only me is your doing, my darling
I fear no fate
for you are my fate,my sweet
I want no world
for beautiful you are my world,my true
and it’s you are whatever a moon has always meant
and whatever a sun will always sing is you
Here is the deepest secret nobody knows
here is the root of the root and the bud of the bud
and the sky of the sky of a tree called life; which grows
higher than the soul can hope or mind can hide
and this is the wonder that’s keeping the stars apart…
I carry your heart
(I carry it in my heart)
EE Cunnings
habis denger puisi ini nangis.. hua.. tentunya sengan terjemahan.
Tuesday, January 27, 2009
bicaralah
bicaralah
tentang cinta yang tak beralasan
bicaralah
tentang rindu yang tak terlunasi
bicaralah
tentang legenda kepahlawanan masa silam
yang jatuh
lalu luka
menganga
bicaralah
tentang negeri dongeng yang tak pernah nyata
bicaralah
tentang kedamaian yang hanya ada di surga
ayo bicara
tentang kebenaran yang tak kunjung terwujud
yang jatuh
lalu luka
menganga
terpindai oleh besi-besi yang panas
lalu menjadi borok
menjadi seonggok bangkai
tak terurus, lunglai
meski begitu
bicaralah
meski jatuh
lalu luka
menganga
tentang cinta yang tak beralasan
bicaralah
tentang rindu yang tak terlunasi
bicaralah
tentang legenda kepahlawanan masa silam
yang jatuh
lalu luka
menganga
bicaralah
tentang negeri dongeng yang tak pernah nyata
bicaralah
tentang kedamaian yang hanya ada di surga
ayo bicara
tentang kebenaran yang tak kunjung terwujud
yang jatuh
lalu luka
menganga
terpindai oleh besi-besi yang panas
lalu menjadi borok
menjadi seonggok bangkai
tak terurus, lunglai
meski begitu
bicaralah
meski jatuh
lalu luka
menganga
Monday, January 26, 2009
(Cerita kehidupan) PUALAM CAHAYA DI JAKARTA
“ Hoalah le… gek ndang rampung sekolahmu. Mbok wes tuo, lantas itu adik-adikmu diurusi..” Wanita paruh baya itu mengeluh pada anak sulungnya yang tak kunjung menyelesaikan studinya di Jakarta.
“ Iyo Mak. Kalau Ari dah selesai SMA biar ikut aku ke Jakarta. Nanti kuliah nyambi kerja.” Sigit menenangkan Ibunya yang mulai tua itu. Fikirnya, coba kalau Bapak masih hidup. Mungkin Ibunya tidak udah sekhawatir itu dengan masa depannya dan dua adiknya.
“ Bapak dan Ibu cuma pengen liat kalian jadi orang sukses, jadi orang yang bermanfaat untuk orang banyak, juga negara kita. “ Wanita itu melanjutkan omongannya sambil membenahi kayu bakarnya yang sedang membakar tungku air. Terlintas dibenaknya para pahlawan zamannya kecil dulu, juga tokoh-tokoh kenamaan seperti Soekarno, Soedirman, dan Soe Soe lainnya yang pernah ia dengar di radio waktu kecilnya dulu.
“ Iyo Mak.” Jawab Sigit enteng. Namun, ada semburat sendu diwajahnya.
Ia sendiri harus bertahan hidup di Jakarta yang keras itu. Kulturnya yang Jawa memang sering kalah untuk soal gaya hidup di kampus. Tapi toh tidak apa, karena banyak yang bernasib sama dengannya. Yaitu anak desa yang pengen menimba ilmu di Jakarta. Masyarakat desanya yang sangat desa itu lah yang membuatnya gigih berjuang. Dan Bapak lah selama ini yang telah mendidiknya lewat mimpi-mimpi yang kemudian menjadi awan-awan cantik. Mengajaknya untuk mendobrak dinding-dinding pemisah peradaban para priayi dan orang miskin yang identik dengan pendididkan rendah.
“ Kamu, dan juga adikmu adalah orang-orang hebat. Dan akan seterusnya begitu.”
Yah, kalimat itulah yang akan terus menjadi pengantar tidurnya tiap malam.
Merantau adalah keputusan besar. Begitulah yang terjadi. Bersama dengan pemuda desanya ia merantau ke jakarta menjadi buruh pabrik atau bangunan untuk mencari rupiah. Namun awan-awan itu telah membawanya ke bangku kuliah sebuah universitas bergengsi. Keputusan besar yang diambilnya di tahun kedua hidupnya di Jakarta.
“ Aku akan buktikan ke Bapak, kalau anaknya memang orang hebat.”
Jas kuning yang ia kenakan tiap acara resmi mewarnai kulitnya yang hitam karena terbakar terik matahari, juga mewarnai hidupnya yang selama ini bergumul dengan batu, semen dan ember dan masih akan selalu begitu tiap sore sampai malam hari.
“ Jack, aku besok izin lagi ya. Aku ada acara.” Sigit berujar pada Joko yang dipanggilnya Jack, pemuda yang berasal dari desa yang sama dengannya. Senasib dan sepenanggungan.
Sedang sore itu masih tampak matahari menyengat. Menjelang musim kemarau panjang.
“ Hoalah, kamu terlalu sering izin. Bilang sendiri sama pak mandor. Aku bisa disemprot meminta izin kamu tiap hari. Kalau untuk kuliah ndak masalah, untuk yang lain, ndak mau.” Sambil menghela keringatnya Joko menolak permintaan Sigit. “ Lebih baik kamu cari kerja lain aja. Sekarang statusmu mahasiswa. Ada yang bisa kamu jual ke orang lain. Ini mu!” Sambil menunjuk-nunjuk kepalanya Joko memberi saran.
Dari situlah kini Sigit memilih untuk mengajar privat anak-anak sekolah. Dimulai dengan menawarkan diri pada mandornya, kemudian ia dipromosikan oleh mandornya untuk mengajar anak dari bosnya si mandor itu. Dan dari situlah ia mampu bertahan hidup dan juga bertahan untuk tetap melanjutkan kuliahnya.
“ Kami ikut bangga kamu bisa kuliah, ndak usah cari tempat tinggal. Kamu tetap tinggal disini bareng kami. Toh meski udah jadi anak kuliahan, kamu tetep orang desa kaya’ kami. Ya tho?!”
Sigit tertawa mendengar itu. “ Makasih banyak Jack, tentu saja aku mau. Kalian ndak keberatan tho?”
“ Hey Sigit, kami tahu harga kos kosan. Asal kamu bisa belajar ditempat seperti ini.” Seru yang lainnya. “ Kalau pas kamu belajar malem ada yang ngorok, kamu bingkep aja! Hahaha…” Yang lain pun tertawa. Sedangkan Sigit hanya tersenyum bersyukur. Didatangkan padanya banyak kemudahan melalui teman-teman seperjuangannya. Teman seperjuangan dari desa yang ndeso.
Dipandangnya sekeliling ruangan. Rumah jadi-jadian, begitulah mereka menyebutnya. Rumah para tukang bangunan yang hanya berdindig triplek dan beratap seng. Kalau siang terasa panasnya minta ampun, tapi baginya tidak masalah. Toh siang hari masih ia beraktifitas di kampus atau mengajar privat. Yang jelas ia baru pulang magrib atau ‘Isya. Pulang ke rumah jadi-jadian yang juga rumah keong itu. dimana para tukang itu mengerjakan proyek, disitulah rumah jadi-jadian itu ada.
***
“ Hey Git, sekarang kamu kok pulangnya malam terus?” Tanya Joko pada Sigit yang baru saja pulang sejak subuh tadi.
Bagi Joko anak muda yang seumur dengannya ini adalah belahan jiwanya. Bukan sekedar teman, karena bagian dari perlindungan anak muda ini adalah dirinya sendiri. Sigit mengajarkan banyak hal padanya, itulah yang membuatnya begitu sayang. Tentang sholat, tentang ajaran berbakti, tentang pengetahuan, dan tentang-tentang lainnya. Hingga dia bisa melihat dunia, bahwa hidup bukan sekedar untuk nasi dan lauk pauk. Dia menyebut anak muda ini pualam cahaya. Pualam yang telah mengajakknya dan akan membawa desanya keluar dari kebodohan.
“ Iya Jack. Maaf ya. Besok-besok pun akan selalu gitu bisa jadi. Kegiatanku banyak di kampus.” Jawab Sigit sembari melepas sepatunya. Malam memang semakin larut. Dan bintang memang tidak tampak pendar di perkotaan.
“ Kemana aja?”
“ Di kampus aja kok.”
“ Oh… emang ngapain aja si kalau di kampus? “
“ Ya banyak.”
Jack merasa tidak begitu ditanggapi pertanyaannya. Ia hanya ingin memastikan bahwa temannya baik-baik saja. Ia hanya pandang punggung Sigit yang membelakanginya sambil rebahan karena lelah seharian bekerja.
“ Tenang aja Jack. Aku baik-baik aja.” Sigit memahami kerisauan Joko dengan kepulangannya yang selalu malam akhir-akhir ini. Malah hampir tengah malam.
“ Ada surat dari adikmu. Tadi pak mandor yang kasihkan.” Ujar Jack. “ Aku taruh di meja.”
“ Makasih Jack atas semuanya. Kalian baik sekali, ndak tahu kalau ndak ada kalian disini.”
“ Hm…” Joko tak begitu bersemangat menjawab.
Diambil dan dibacanya surat dari adiknya yang tergeletak di meja satu-satunya diruangan itu. Meja yang juga jadi meja makan, meja yang juga jadi meja belajarnya. Surat dari rumah, biasanya itu adalah perkataan dari Ibunya yang tidak bisa baca tulis. Itulah energi Sigit untuk terus bertahan di Jakarta. Surat yang selalu dikirim oleh adik-adiknya tiap dua minggu dan selalu dibalas keesokan harinya langsung karena tak sabar membalas kabar.
“ Ada kabar apa?” Tanya Joko memecah kesunyian. “ Ibumu sehat-sehat aja tho?”
Sigit tersenyum dan tersirat bahagia. Dilipat dan dimasukkannya kembali surat itu ke amplop. Dan disimpan bersama surat-surat yang lain. Surat-surat itu tersimpan rapat diantara buku-buku tebal materi kuliahnya hasil foto kopi. “ Ibu sehat Alhamdulillah. Ari dan Dewi rangking satu lagi.”
“ Wah, hebat! Mereka akan jadi kaya’ kamu Git.” Ujar Joko.
Sigit tersenyum. Terlintas wajah Ari dan Dewi yang lugu seperti anak desa kebanyakan. Hanya saja ia melihat dua adiknya itu akan menjadi orang-orang besar di negerinya. Otak cerdas dan juga perjuangan gigih selama ini yang telah diajarkan orang tuanya akan menjadi bekal dalam hidup. Dan yang paling penting dari itu adalah bagaimana kedua orang tuanya mengajarkan agama, untuk hidup dunia akhirat.
“ Ada kabar gembira. Aku senang hari ini. Tulisanku di muat di koran kota.” Sigit menghapus fatamorgana wajah bapak ibu dan dua adiknya.
“ Ha? Tulisan apa maksudnya.” Tanya Joko bingung.
“ Itu lho, soal pengangkatan kembali Soeharto jadi presiden.”
“ Ya iyalah. Dan memang akan seumur hidup negara ini akan punya presiden bernama Soeharto.”
“ Hahaha… Pak Harto itu dah tua dan sepuh. Bentar lagi pikun.” Nada bicara Sigit mengejek.
“ Huss! Kamu itu kalau ngomong hati-hati.”
“ Hahaha.. siapa yang mau ndengerin Jack... “ Sigit melihat yang lain telah telah pulas tidur. Memasuki alam mimpi yang tak pernah tertembus. Lagian toh misal mereka dengar tidak ada masalah. Dan Sigit faham apa yang dimaksud Joko. “ Kodok?!”
Merekapun tertawa bersama. Dan tampak mereka yang telah tidur sedikit terganggu dengan guyonan itu. Menggeliat dan usai itu merapikan mimpi kembali.
“ Besok pagi aku yang beliin kalian sarapan. Spesial edisi sukuran.” Tambahnya.
“ Yeach… Emang dapet berapa?”
“ Ada dech..” Sigit merahasiakan. Memang tidak begitu besar untuk tulisan yang tidak begitu populis. Dan memang ia tidak mengharapkan apa yang akan diperoleh dengan mengirimkan tulisan pedasnya yang telah menumpuk di komputer temannya sekelas. “ Yah… Wes, dah malem. Njenengan tidur aja. Aku besok pamit pagi-pagi banget berangkat sebelum subuh. Aku udah pesen sarapannya sama Mbok Minah. Langsung dianter sebelum kalian kerja pagi”
“ Ngapain pagi banget perginya?” Tanya Joko heran.
“ Aku banyak kerjaan di kampus. Jadi musti efektif. Dikejar deadline.”
“ Siapa deadline? Ngapain kamu dikerjar kejar sama dia? ” Tanya Joko polos.
“ Hahaha…. Maksudnya batas waktu mengerjakan tugas. Ini mau nyicil. Besok musti dientri ke komputer. Jadi aku mau tempat temen pagi-pagi banget.” Jelas Sigit.
“ Ya udah. Aku tidur duluan ya.”
Malam semakin larut. Dan Sigit pun masih lelah. Lelah yang sangat.
***
“ Kamu ngapain ikut-ikutan mereka demo kaya’ gitu, polisi sebanyak itu siap mberondong kalian!” Joko marah-marah pada teman yang masih kelelahan itu.
Sambil minum air putih Sigit hanya tersenyum dan hampir saja tersedak. “ Itu demi keadilan Jack.”
“ Aku ndak ngerti apa yang ada dikepalamu. Kamu teriak-teriak di TV kaya’ gitu, kalau tiba-tiba ada yang nembak kamu gimana? ”
“ Itu namanya resiko perjuangan… “ Kilah Sigit tenang.
“ Sigit, kamu merantau jauh-jauh, banting tulang kerja kasar, sampai akhirnya kamu bisa kuliah begini jangan sampai kandas dijalan. Kalau ada apa-apa bagaimana?! “ Nada bicara Joko meninggi. Ia memang tidak mampu memahami apa yang sedang dikerjakan Sigit bersama teman-temannya.
“ Almarhum Bapak mengajarkan, kalau benar bilang benar, kalau salah bilang salah.” Itulah Sigit yang telah tertanam dalam jiwanya pendidikan kebenaran dari seorang ayah.
“ Ah, Bapakmu sudah jadi tengkorak di kuburan.”
“ Jack!”
“ Maaf Git.” Joko menyesal ketus.
Ada sesuatu yang tidak terlerai. Bapak baginya adalah laki-laki sejati, teduh wajahnya yang teringat hanya akan menambah sejuk tiap hatinya yang sering bergemuruh menghadapi hidup. Kerja keras yang diajarkannya, juga pelajaran-pelajaran hidup di kelas-kelas kasih sayang.
Sigit menghela nafas mendinginkan emosi. Ia tahu maksud baik Joko. Tepatnya kekhawatiran Joko.
“ Jack, percayalah. Aku akan baik-baik saja.”
Joko diam.
“ Tulisanku dimuat lagi. sekarang di koran nasional. Jadi uangnya lebih besar. “ Dilihatnya punggung Joko yang tidur membelakanginya. Ditunggunya reaksi temannya itu, tapi tak juga sepatah kata keluar sekedar memberi selamat. “ Aku belikan sarapan lagi untuk kalian.” Juga tak terdengar apapun. Sigit menghela nafas. Dan direbahkan badannya yang lelah setelah seharian berjejalan di jalan bersama teman-temannya yang lain. Lelah yang sangat.
***
Pagi harinya ketika Joko terbangun Sigit sudah tidak ada dirumah keong itu. Tas lusuh kuliah temannya itu juga tak ada ditempanya. Dan kali ini dilihatnya gantungan baju dibalik pintu, jas kuning yang dulu sering bertengger menganggur, akhir-akhir ini ikut berkibar di tengah terik matahari mewarnai kulit hitam Sigit bersama jas-jas kuning lainnya. Dan akhir- akhir ini jas-jas kuning itu telah bergabung dengan jas-jas biru, jas-jas hijau, jas-jas merah, jas abu-abu, yang kesemuanya milik anak negeri dari sepenjuru nusantara yang sedang mengenyam pendidikan tinggi.
Joko semakin mengkhawatirkan Sigit. Cuaca di Jakarta semakin panas, pun situasinya. Ibu kota yang menjadi sentral pergolakan politik juga ekonomi.
“ Joko, ini sarapan pesenan mas Sigit untuk kalian.”
Lamunannya tergugah Mbok Minah yang nongol di depan pintu sambil membawa lima mangkuk soto. “ Mbok Minah… ngangetin aja. Masuk Mbok.”
“ O ya, kemaren aku lihat mas Sigit di TV. Itu beneran ya? Wah.. nanti bisa jadi terkenal. “ Mbok Minah memastikan bahwa ia tidak salah lihat orang.
Joko pun hanya diam menatap Mbok Minah lelah. Padahal hari masih pagi, pekerjaannya pun belum dimulai. “ Nggak tahu Mbok… “
“ Oo.. mungkin aku salah lihat ya Mas. Tapi bener kok, itu mas Sigit!” Tegas wanita umur 50an itu.
Joko pun hanya diam.
“ Assalamu’alaikum.”
“ Wa’alaikumsalam.” Jawab mereka bersamaan. “ Pak mandor? ada apa pagi-pagi begini kesini. Silahkan masuk.” Joko terheran karena ini belum jam kerja, dan tidak sekali kali pak mandor bersedia mampir di rumah keong yang menyempil di ujung gang yang berada di tengah proyek pembangunan gedung pencakar langit.
“ Itu dia. Hari ini dan mungkin juga besok kalian libur dulu. Proyek ini sementara diistirahatkan.”
“ Lho, gimana kok bisa begitu?” Tanya Joko.
“ Hmm… Aku sebagai mandor bawahan tahu apa. Tapi aku dengar desas desus kalau pemegang proyek ini sedang kena kridit macet.”
“ Apa itu maksudnya? “
“ Maksudnya uang pinjaman di bank belum bisa ditarik lagi. Karena Bank yang bersangkutan terkena liquiditas. “ Jelas pak Mandor yang tak bersemangat itu.
“ Apa itu liquiditas?” Tanya Joko lagi
“ Huh! Kamu ini tanya terus. Yang jelas kita sendiri selaku pekerja dibawah terancam kehilangan pekerjaan dengan macetnya pembangunan gedung ini. Sekarang mengerti?!”
Joko menelan ludah. Perutnya terasa penuh sebelum soto Mbok minah masuk ke perutnya. Dan kalau itu terjadi, berarti Mbok Minah akan kehilangan pelanggan. Mereka bertiga hening mematung bersama angin yang mulai enggan berhembus. Juga pagi yang tak terasa sejuk.
***
“ Assalamu’alaikum…. “ Suara itu membangunkan Joko yang melamun sendiri sedari siang tadi. Sedangkah tukang yang lain sedang nonton TV di rumah Mbok Minah. Kata mereka mau nonton Sigit yang ikut demo menuju gedung MPR.
“ Wa’alaikumsalam… masuk. “ Pikirnya ini sudah malam. Tapi yang didengar bukanlah suara Sigit. Dilihatnya bahwa ada dua orang bertamu memakai jas yang sama dengan jas nya Sigit.
“ Sigitnya ada? “ Tanya salah seorang yang lebih tinggi.
“ Sigit belum pulang” Jawab Joko singkat. “Silahkan duduk dulu. Sambil nunggu Sigit datang. “ Joko mempersilahkan kedua tamu itu untuk duduk di tikar.
“ Jadi dari tadi Sigit belum pulang?” Tanya yang lainnya sedikit heran.
“ Belum. Ada apa ya? “ Joko pun jadi ikut heran. Apa yang sebenarnya terjadi.
“ Assalamu’alaikum… “ Ketiga orang itu melongok ke pintu.
“ Wa’alaikumsalam…” Jawab ketiganya.
“ Sigit! Alhamdulillah…. Dari mana saja kamu?! Semua teman-teman mencarimu.” Tanya tamu itu.
“ Ssstt.. Iya. Aku baik-baik aja. Ada apa?” Tanya Sigit sedikit tegang menatap mata temannya.
“ Budi hilang. Kita nggak tahu dia dimana, dari kita nggak ada yang dihubungi. Nomornya juga nggak aktif.”
“ Siapa yang terakhir lihat atau dihubunginya?” Tanya Sigit
“ Terakhir aku masih lihat dia ikut jama’ah sholat zuhur di mushola RRI.” Jawab yang lain.
“ Kita sebarkan ke media. “ Tegas Sigit.
Joko tampak bingung dan mundur dari percakapan tiga orang itu. Ia memilih diam berjongkok menguping di mulut pintu. Pura-pura melihat langit malam yang tidak berbintang. Dan wajahnya yang menegang menambah suram malam yang gelap.
“ Malam ini kita harus koordinasi lagi. Besok teman-teman yang ke Jakarta akan semakin banyak. Ingatkan tiap penanggung jawab dari segala pintu masuk. kamu, hubungi wartawan. Kita akan konferensikan pernyataan kita dan juga informasi terkini, juga tentang hilangnya Budi. “ Sigit memberikan instruksi pada dua temannya yang lain. “ Dan kamu, hubungi teman-teman daerah untuk terus mengirimkan massa.”
“ Jack! “ Sigit memanggil.
Joko pun membalikkan badannya menatap Sigit tanpa ekspresi.
“ Maaf. Malam ini aku ndak tidur di rumah. Bisa jadi beberapa hari besok. “ Sigit mengajak dialog mulut dan mata Joko.
Joko beralih melihat kedua teman Sigit yang juga menatapnya seakan mengatakan, apa urusannya dengan orang ini?
“ Iya. Tapi hati-hati. Aku kasih kabar. “ Jawab Joko lepas.
Keesokan harinya Sigit benar-benar tidak pulang. Hari pertama, hari kedua, ketiga. Bahkan ini sudah seminggu. Kemudaian Joko dan teman-teman yang semakin sering punya banyak waktu menonton TV dirumah Mbok Minah itu semakin resah. Liputan langsung aksi demonstrasi besar-besaran mewarnai hampir seluruh Channel. Sesekali mereka melihat Sigit di wawancarai. Ada rasa bangga yang mereka rasa, bercampur dengan rasa khawatir yang tiba-tiba datang setiap muncul petugas berseragam brimob atau polisi yang memegang tameng kaca tebal dan pentung besi.
Surat dari rumah juga beberapa belum dibaca Sigit. Akhirnya Joko lah yang membaca surat-surat itu. mungkin ada suatu kabar yang harus diketahui langsung oleh Sigit. Joko sendiri kini sering terpaku sendiri di layar televisi milik Mbok Minah. Juga Mbok minah yang kadang menemani di kala warungnya sepi. Mulutnya selalu berzdikir mendoakan keselamatan Sigit.
***
“ Jack..!!! “
Suara itu di dengar Joko yang tengah menonton TV. Itu suara Sigit. Ia keluar dari rumah Mbok Minah.
“ Sigit!” Ia lihat anak muda itu cukup kumal, bau debu, dan wajahnya tampak tak terurus. “ Alhamdulillah… kamu baik-baik aja?” Ia bertanya tentang sesuatu yang telah ia tahu keadannya. Sigit tidak baik-baik saja.
Sigit ngos-ngosan usai berlari ke rumah Mbok Minah mendapati rumah keong itu telah kosong. “ Sekarang iya.”
“ Maksudmu apa? “ Joko bingung.
“ Ndak papa. Mana yang lain? Kok ndak ada dirumah?”
“ Mereka udah pulang. Karena proyek istirahat sampai waktu yang ndak ditentukan. “
“ Iya. Banyak Bank yang keuangannya macet. Ndak bisa ngasih kelanjutan peminjaman. Yang mau ambil tabungan juga ndak bisa. “
“ Kok kamu tahu?! Ah, ayo pulang dulu. Istirahat dulu.”
“ Ndak. Aku Cuma mau kasih kabar kalau aku baik-baik aja, juga ngambil surat dari adekku. Ada lagi kan yang datang? ”
“ Ada.”
“ Apa katanya?” Tanya Sigit.
“ Minggu depan Ari ujian akhir. Kamu dimintain doanya. Mamak sama Dewi sehat katanya. Kamu ditanyain kapan pulang?”
“ Alhamdulillah… nanti kubales. Jack, aku pamit lagi ya. Maafkan aku. Terimakasih banyak kamu dah ngejaga aku selama ini. Kalau kamu mau pulang nyusul yang lain pulanglah. Aku tahu kamu rindu rumah. Aku ndak tahu mau pulang kapan.“ Sigit menjabat tangan Jack.
“ Ndak. Aku ndak pulang tanpa kamu. Berangkat bareng-bareng, pulang bareng-bareng. “
“ Aku masih terus kaya’ gini tiap harinya…!” Sigit menolak untuk ditunggu.
“ Dan Aku masih tunggu tiap hari juga…” Jawab Joko lemah.
Dirangkulnya sahabat seperjuangan itu haru. Pun begitu Joko yang meraih pundak Sigit. Dan mereka berangkulan semakin erat.
“ Terus perjuangkan Git. Aku dukung kamu.” Satu titik air untuk masing-masing mata Joko, juga sepasang mata Sigit. Begitu bergemuruh hati Joko yang selalu mengkhawatirkan keberadaan Sigit. Ditepuk-tepuknya bangga pundak Sigit. Kemudian didekap kembali dengan dekapan yang paling erat.
Sigit membalas erat dekapan itu. “ Makasih Jack. Kamu sahabat terbaikku. “ Ia pun sangat bersyukur diberi banyak kesempatan untuk berjuang ditambah dengan seorang sahabat yang sangat menyayanginya, itulah arti hidup baginya. Arti hidup yang telah diajarkan oleh almarhum ayahanda. “ Do’akan aku dan teman-teman…” Tambahanya.
“ Selalu. Selalu ku doakan tiap habis sholat. “
Dekapan itu mereda. Dan Sigit pun hendak beranjak lagi. Masih dengan jas kuning dan tas lusuhnya.
“ Hati-hati ya.” Joko berpesan.
“ Iya Jack, makasih.” Ia raih kembali tangan Joko. Mereka bersalaman erat. Ditatapnya mata Joko. Pun Joko demikian. “ Aku pamit… Assalamu’alaikum…” Dan jabatan tangan itu meregang kembali.
“ Wa’alaikumsalam…”
Dan akhirnya mereka berpisah. Sigit melenggang cepat meninggalkan Joko, masih dengan jas kuning dan tas lusuhnya. Sesekali ia menengok kebelakang. Entah apa yang membuatnya demikian. Pun Joko hanya memandang punggung Sigit yang semakin jauh meninggalkannya. Semakin kecil dan semakin jauh penampakan itu juga silau terterpa senja yang memantul dari kaca-kaca rumah di pemukiman padat. Sampailah di ujung gang dan setelah itu siluet Sigit menghilang bersama dengan warna kuning jas yang membuatnya bangga memandang si pualam cahaya.
***
Joko masih terpaku di TV Mbok Minah. Setia mengikuti perkembangan berita, terutama berita Sigit. Ia selalu mengharap wajah Sigit muncul disana. Muncul untuk membuatnya bangga sekaligus membuatnya lega kalau Sigit baik-baik saja. Jantungnya bergemuruh saat-saat terjadinya kerusuhan. Kesokan dan keesokannya selalu begitu.
Hingga Joko tahu bahwa Sigit tidak mungkin kembali pulang ke desa bersamanya. Tahu bahwa surat dari adik-adiknya yang telah datang lagi, tidak akan pernah ia baca. Juga surat terakhir dari Ari berisi akan menyusul kakaknya ke jakarta selesai ujian karena bercita-cita melanjutkan sekolah di perguruan tinggi yang sama seperti kakaknya. Juga surat-surat itu tidak terbalas lagi oleh Mas Sigit . Mas Sigit Prasetyo, si pualam cahaya.
Untuk pahlawan reformasi :
Tragedi Tri Sakti 12 Mei 1998
Elang Mulia Lesmana
Hafidin Royan
Hendriawan Sie
Heri Hartanto
Taragedi Semanggi 13 November 1998
Abdullah
B.R. Norman Irmawan
Engkus Kusnadi
Heru S. Sudibyo
Lukman Firdaus
M. Jok Purwanto
Teddy Mardani
Uga Usmana
Sigit Prasetyo
Yogyakarta, 23 Januari 2009
Pualam Cahaya Negeri
“ Iyo Mak. Kalau Ari dah selesai SMA biar ikut aku ke Jakarta. Nanti kuliah nyambi kerja.” Sigit menenangkan Ibunya yang mulai tua itu. Fikirnya, coba kalau Bapak masih hidup. Mungkin Ibunya tidak udah sekhawatir itu dengan masa depannya dan dua adiknya.
“ Bapak dan Ibu cuma pengen liat kalian jadi orang sukses, jadi orang yang bermanfaat untuk orang banyak, juga negara kita. “ Wanita itu melanjutkan omongannya sambil membenahi kayu bakarnya yang sedang membakar tungku air. Terlintas dibenaknya para pahlawan zamannya kecil dulu, juga tokoh-tokoh kenamaan seperti Soekarno, Soedirman, dan Soe Soe lainnya yang pernah ia dengar di radio waktu kecilnya dulu.
“ Iyo Mak.” Jawab Sigit enteng. Namun, ada semburat sendu diwajahnya.
Ia sendiri harus bertahan hidup di Jakarta yang keras itu. Kulturnya yang Jawa memang sering kalah untuk soal gaya hidup di kampus. Tapi toh tidak apa, karena banyak yang bernasib sama dengannya. Yaitu anak desa yang pengen menimba ilmu di Jakarta. Masyarakat desanya yang sangat desa itu lah yang membuatnya gigih berjuang. Dan Bapak lah selama ini yang telah mendidiknya lewat mimpi-mimpi yang kemudian menjadi awan-awan cantik. Mengajaknya untuk mendobrak dinding-dinding pemisah peradaban para priayi dan orang miskin yang identik dengan pendididkan rendah.
“ Kamu, dan juga adikmu adalah orang-orang hebat. Dan akan seterusnya begitu.”
Yah, kalimat itulah yang akan terus menjadi pengantar tidurnya tiap malam.
Merantau adalah keputusan besar. Begitulah yang terjadi. Bersama dengan pemuda desanya ia merantau ke jakarta menjadi buruh pabrik atau bangunan untuk mencari rupiah. Namun awan-awan itu telah membawanya ke bangku kuliah sebuah universitas bergengsi. Keputusan besar yang diambilnya di tahun kedua hidupnya di Jakarta.
“ Aku akan buktikan ke Bapak, kalau anaknya memang orang hebat.”
Jas kuning yang ia kenakan tiap acara resmi mewarnai kulitnya yang hitam karena terbakar terik matahari, juga mewarnai hidupnya yang selama ini bergumul dengan batu, semen dan ember dan masih akan selalu begitu tiap sore sampai malam hari.
“ Jack, aku besok izin lagi ya. Aku ada acara.” Sigit berujar pada Joko yang dipanggilnya Jack, pemuda yang berasal dari desa yang sama dengannya. Senasib dan sepenanggungan.
Sedang sore itu masih tampak matahari menyengat. Menjelang musim kemarau panjang.
“ Hoalah, kamu terlalu sering izin. Bilang sendiri sama pak mandor. Aku bisa disemprot meminta izin kamu tiap hari. Kalau untuk kuliah ndak masalah, untuk yang lain, ndak mau.” Sambil menghela keringatnya Joko menolak permintaan Sigit. “ Lebih baik kamu cari kerja lain aja. Sekarang statusmu mahasiswa. Ada yang bisa kamu jual ke orang lain. Ini mu!” Sambil menunjuk-nunjuk kepalanya Joko memberi saran.
Dari situlah kini Sigit memilih untuk mengajar privat anak-anak sekolah. Dimulai dengan menawarkan diri pada mandornya, kemudian ia dipromosikan oleh mandornya untuk mengajar anak dari bosnya si mandor itu. Dan dari situlah ia mampu bertahan hidup dan juga bertahan untuk tetap melanjutkan kuliahnya.
“ Kami ikut bangga kamu bisa kuliah, ndak usah cari tempat tinggal. Kamu tetap tinggal disini bareng kami. Toh meski udah jadi anak kuliahan, kamu tetep orang desa kaya’ kami. Ya tho?!”
Sigit tertawa mendengar itu. “ Makasih banyak Jack, tentu saja aku mau. Kalian ndak keberatan tho?”
“ Hey Sigit, kami tahu harga kos kosan. Asal kamu bisa belajar ditempat seperti ini.” Seru yang lainnya. “ Kalau pas kamu belajar malem ada yang ngorok, kamu bingkep aja! Hahaha…” Yang lain pun tertawa. Sedangkan Sigit hanya tersenyum bersyukur. Didatangkan padanya banyak kemudahan melalui teman-teman seperjuangannya. Teman seperjuangan dari desa yang ndeso.
Dipandangnya sekeliling ruangan. Rumah jadi-jadian, begitulah mereka menyebutnya. Rumah para tukang bangunan yang hanya berdindig triplek dan beratap seng. Kalau siang terasa panasnya minta ampun, tapi baginya tidak masalah. Toh siang hari masih ia beraktifitas di kampus atau mengajar privat. Yang jelas ia baru pulang magrib atau ‘Isya. Pulang ke rumah jadi-jadian yang juga rumah keong itu. dimana para tukang itu mengerjakan proyek, disitulah rumah jadi-jadian itu ada.
***
“ Hey Git, sekarang kamu kok pulangnya malam terus?” Tanya Joko pada Sigit yang baru saja pulang sejak subuh tadi.
Bagi Joko anak muda yang seumur dengannya ini adalah belahan jiwanya. Bukan sekedar teman, karena bagian dari perlindungan anak muda ini adalah dirinya sendiri. Sigit mengajarkan banyak hal padanya, itulah yang membuatnya begitu sayang. Tentang sholat, tentang ajaran berbakti, tentang pengetahuan, dan tentang-tentang lainnya. Hingga dia bisa melihat dunia, bahwa hidup bukan sekedar untuk nasi dan lauk pauk. Dia menyebut anak muda ini pualam cahaya. Pualam yang telah mengajakknya dan akan membawa desanya keluar dari kebodohan.
“ Iya Jack. Maaf ya. Besok-besok pun akan selalu gitu bisa jadi. Kegiatanku banyak di kampus.” Jawab Sigit sembari melepas sepatunya. Malam memang semakin larut. Dan bintang memang tidak tampak pendar di perkotaan.
“ Kemana aja?”
“ Di kampus aja kok.”
“ Oh… emang ngapain aja si kalau di kampus? “
“ Ya banyak.”
Jack merasa tidak begitu ditanggapi pertanyaannya. Ia hanya ingin memastikan bahwa temannya baik-baik saja. Ia hanya pandang punggung Sigit yang membelakanginya sambil rebahan karena lelah seharian bekerja.
“ Tenang aja Jack. Aku baik-baik aja.” Sigit memahami kerisauan Joko dengan kepulangannya yang selalu malam akhir-akhir ini. Malah hampir tengah malam.
“ Ada surat dari adikmu. Tadi pak mandor yang kasihkan.” Ujar Jack. “ Aku taruh di meja.”
“ Makasih Jack atas semuanya. Kalian baik sekali, ndak tahu kalau ndak ada kalian disini.”
“ Hm…” Joko tak begitu bersemangat menjawab.
Diambil dan dibacanya surat dari adiknya yang tergeletak di meja satu-satunya diruangan itu. Meja yang juga jadi meja makan, meja yang juga jadi meja belajarnya. Surat dari rumah, biasanya itu adalah perkataan dari Ibunya yang tidak bisa baca tulis. Itulah energi Sigit untuk terus bertahan di Jakarta. Surat yang selalu dikirim oleh adik-adiknya tiap dua minggu dan selalu dibalas keesokan harinya langsung karena tak sabar membalas kabar.
“ Ada kabar apa?” Tanya Joko memecah kesunyian. “ Ibumu sehat-sehat aja tho?”
Sigit tersenyum dan tersirat bahagia. Dilipat dan dimasukkannya kembali surat itu ke amplop. Dan disimpan bersama surat-surat yang lain. Surat-surat itu tersimpan rapat diantara buku-buku tebal materi kuliahnya hasil foto kopi. “ Ibu sehat Alhamdulillah. Ari dan Dewi rangking satu lagi.”
“ Wah, hebat! Mereka akan jadi kaya’ kamu Git.” Ujar Joko.
Sigit tersenyum. Terlintas wajah Ari dan Dewi yang lugu seperti anak desa kebanyakan. Hanya saja ia melihat dua adiknya itu akan menjadi orang-orang besar di negerinya. Otak cerdas dan juga perjuangan gigih selama ini yang telah diajarkan orang tuanya akan menjadi bekal dalam hidup. Dan yang paling penting dari itu adalah bagaimana kedua orang tuanya mengajarkan agama, untuk hidup dunia akhirat.
“ Ada kabar gembira. Aku senang hari ini. Tulisanku di muat di koran kota.” Sigit menghapus fatamorgana wajah bapak ibu dan dua adiknya.
“ Ha? Tulisan apa maksudnya.” Tanya Joko bingung.
“ Itu lho, soal pengangkatan kembali Soeharto jadi presiden.”
“ Ya iyalah. Dan memang akan seumur hidup negara ini akan punya presiden bernama Soeharto.”
“ Hahaha… Pak Harto itu dah tua dan sepuh. Bentar lagi pikun.” Nada bicara Sigit mengejek.
“ Huss! Kamu itu kalau ngomong hati-hati.”
“ Hahaha.. siapa yang mau ndengerin Jack... “ Sigit melihat yang lain telah telah pulas tidur. Memasuki alam mimpi yang tak pernah tertembus. Lagian toh misal mereka dengar tidak ada masalah. Dan Sigit faham apa yang dimaksud Joko. “ Kodok?!”
Merekapun tertawa bersama. Dan tampak mereka yang telah tidur sedikit terganggu dengan guyonan itu. Menggeliat dan usai itu merapikan mimpi kembali.
“ Besok pagi aku yang beliin kalian sarapan. Spesial edisi sukuran.” Tambahnya.
“ Yeach… Emang dapet berapa?”
“ Ada dech..” Sigit merahasiakan. Memang tidak begitu besar untuk tulisan yang tidak begitu populis. Dan memang ia tidak mengharapkan apa yang akan diperoleh dengan mengirimkan tulisan pedasnya yang telah menumpuk di komputer temannya sekelas. “ Yah… Wes, dah malem. Njenengan tidur aja. Aku besok pamit pagi-pagi banget berangkat sebelum subuh. Aku udah pesen sarapannya sama Mbok Minah. Langsung dianter sebelum kalian kerja pagi”
“ Ngapain pagi banget perginya?” Tanya Joko heran.
“ Aku banyak kerjaan di kampus. Jadi musti efektif. Dikejar deadline.”
“ Siapa deadline? Ngapain kamu dikerjar kejar sama dia? ” Tanya Joko polos.
“ Hahaha…. Maksudnya batas waktu mengerjakan tugas. Ini mau nyicil. Besok musti dientri ke komputer. Jadi aku mau tempat temen pagi-pagi banget.” Jelas Sigit.
“ Ya udah. Aku tidur duluan ya.”
Malam semakin larut. Dan Sigit pun masih lelah. Lelah yang sangat.
***
“ Kamu ngapain ikut-ikutan mereka demo kaya’ gitu, polisi sebanyak itu siap mberondong kalian!” Joko marah-marah pada teman yang masih kelelahan itu.
Sambil minum air putih Sigit hanya tersenyum dan hampir saja tersedak. “ Itu demi keadilan Jack.”
“ Aku ndak ngerti apa yang ada dikepalamu. Kamu teriak-teriak di TV kaya’ gitu, kalau tiba-tiba ada yang nembak kamu gimana? ”
“ Itu namanya resiko perjuangan… “ Kilah Sigit tenang.
“ Sigit, kamu merantau jauh-jauh, banting tulang kerja kasar, sampai akhirnya kamu bisa kuliah begini jangan sampai kandas dijalan. Kalau ada apa-apa bagaimana?! “ Nada bicara Joko meninggi. Ia memang tidak mampu memahami apa yang sedang dikerjakan Sigit bersama teman-temannya.
“ Almarhum Bapak mengajarkan, kalau benar bilang benar, kalau salah bilang salah.” Itulah Sigit yang telah tertanam dalam jiwanya pendidikan kebenaran dari seorang ayah.
“ Ah, Bapakmu sudah jadi tengkorak di kuburan.”
“ Jack!”
“ Maaf Git.” Joko menyesal ketus.
Ada sesuatu yang tidak terlerai. Bapak baginya adalah laki-laki sejati, teduh wajahnya yang teringat hanya akan menambah sejuk tiap hatinya yang sering bergemuruh menghadapi hidup. Kerja keras yang diajarkannya, juga pelajaran-pelajaran hidup di kelas-kelas kasih sayang.
Sigit menghela nafas mendinginkan emosi. Ia tahu maksud baik Joko. Tepatnya kekhawatiran Joko.
“ Jack, percayalah. Aku akan baik-baik saja.”
Joko diam.
“ Tulisanku dimuat lagi. sekarang di koran nasional. Jadi uangnya lebih besar. “ Dilihatnya punggung Joko yang tidur membelakanginya. Ditunggunya reaksi temannya itu, tapi tak juga sepatah kata keluar sekedar memberi selamat. “ Aku belikan sarapan lagi untuk kalian.” Juga tak terdengar apapun. Sigit menghela nafas. Dan direbahkan badannya yang lelah setelah seharian berjejalan di jalan bersama teman-temannya yang lain. Lelah yang sangat.
***
Pagi harinya ketika Joko terbangun Sigit sudah tidak ada dirumah keong itu. Tas lusuh kuliah temannya itu juga tak ada ditempanya. Dan kali ini dilihatnya gantungan baju dibalik pintu, jas kuning yang dulu sering bertengger menganggur, akhir-akhir ini ikut berkibar di tengah terik matahari mewarnai kulit hitam Sigit bersama jas-jas kuning lainnya. Dan akhir- akhir ini jas-jas kuning itu telah bergabung dengan jas-jas biru, jas-jas hijau, jas-jas merah, jas abu-abu, yang kesemuanya milik anak negeri dari sepenjuru nusantara yang sedang mengenyam pendidikan tinggi.
Joko semakin mengkhawatirkan Sigit. Cuaca di Jakarta semakin panas, pun situasinya. Ibu kota yang menjadi sentral pergolakan politik juga ekonomi.
“ Joko, ini sarapan pesenan mas Sigit untuk kalian.”
Lamunannya tergugah Mbok Minah yang nongol di depan pintu sambil membawa lima mangkuk soto. “ Mbok Minah… ngangetin aja. Masuk Mbok.”
“ O ya, kemaren aku lihat mas Sigit di TV. Itu beneran ya? Wah.. nanti bisa jadi terkenal. “ Mbok Minah memastikan bahwa ia tidak salah lihat orang.
Joko pun hanya diam menatap Mbok Minah lelah. Padahal hari masih pagi, pekerjaannya pun belum dimulai. “ Nggak tahu Mbok… “
“ Oo.. mungkin aku salah lihat ya Mas. Tapi bener kok, itu mas Sigit!” Tegas wanita umur 50an itu.
Joko pun hanya diam.
“ Assalamu’alaikum.”
“ Wa’alaikumsalam.” Jawab mereka bersamaan. “ Pak mandor? ada apa pagi-pagi begini kesini. Silahkan masuk.” Joko terheran karena ini belum jam kerja, dan tidak sekali kali pak mandor bersedia mampir di rumah keong yang menyempil di ujung gang yang berada di tengah proyek pembangunan gedung pencakar langit.
“ Itu dia. Hari ini dan mungkin juga besok kalian libur dulu. Proyek ini sementara diistirahatkan.”
“ Lho, gimana kok bisa begitu?” Tanya Joko.
“ Hmm… Aku sebagai mandor bawahan tahu apa. Tapi aku dengar desas desus kalau pemegang proyek ini sedang kena kridit macet.”
“ Apa itu maksudnya? “
“ Maksudnya uang pinjaman di bank belum bisa ditarik lagi. Karena Bank yang bersangkutan terkena liquiditas. “ Jelas pak Mandor yang tak bersemangat itu.
“ Apa itu liquiditas?” Tanya Joko lagi
“ Huh! Kamu ini tanya terus. Yang jelas kita sendiri selaku pekerja dibawah terancam kehilangan pekerjaan dengan macetnya pembangunan gedung ini. Sekarang mengerti?!”
Joko menelan ludah. Perutnya terasa penuh sebelum soto Mbok minah masuk ke perutnya. Dan kalau itu terjadi, berarti Mbok Minah akan kehilangan pelanggan. Mereka bertiga hening mematung bersama angin yang mulai enggan berhembus. Juga pagi yang tak terasa sejuk.
***
“ Assalamu’alaikum…. “ Suara itu membangunkan Joko yang melamun sendiri sedari siang tadi. Sedangkah tukang yang lain sedang nonton TV di rumah Mbok Minah. Kata mereka mau nonton Sigit yang ikut demo menuju gedung MPR.
“ Wa’alaikumsalam… masuk. “ Pikirnya ini sudah malam. Tapi yang didengar bukanlah suara Sigit. Dilihatnya bahwa ada dua orang bertamu memakai jas yang sama dengan jas nya Sigit.
“ Sigitnya ada? “ Tanya salah seorang yang lebih tinggi.
“ Sigit belum pulang” Jawab Joko singkat. “Silahkan duduk dulu. Sambil nunggu Sigit datang. “ Joko mempersilahkan kedua tamu itu untuk duduk di tikar.
“ Jadi dari tadi Sigit belum pulang?” Tanya yang lainnya sedikit heran.
“ Belum. Ada apa ya? “ Joko pun jadi ikut heran. Apa yang sebenarnya terjadi.
“ Assalamu’alaikum… “ Ketiga orang itu melongok ke pintu.
“ Wa’alaikumsalam…” Jawab ketiganya.
“ Sigit! Alhamdulillah…. Dari mana saja kamu?! Semua teman-teman mencarimu.” Tanya tamu itu.
“ Ssstt.. Iya. Aku baik-baik aja. Ada apa?” Tanya Sigit sedikit tegang menatap mata temannya.
“ Budi hilang. Kita nggak tahu dia dimana, dari kita nggak ada yang dihubungi. Nomornya juga nggak aktif.”
“ Siapa yang terakhir lihat atau dihubunginya?” Tanya Sigit
“ Terakhir aku masih lihat dia ikut jama’ah sholat zuhur di mushola RRI.” Jawab yang lain.
“ Kita sebarkan ke media. “ Tegas Sigit.
Joko tampak bingung dan mundur dari percakapan tiga orang itu. Ia memilih diam berjongkok menguping di mulut pintu. Pura-pura melihat langit malam yang tidak berbintang. Dan wajahnya yang menegang menambah suram malam yang gelap.
“ Malam ini kita harus koordinasi lagi. Besok teman-teman yang ke Jakarta akan semakin banyak. Ingatkan tiap penanggung jawab dari segala pintu masuk. kamu, hubungi wartawan. Kita akan konferensikan pernyataan kita dan juga informasi terkini, juga tentang hilangnya Budi. “ Sigit memberikan instruksi pada dua temannya yang lain. “ Dan kamu, hubungi teman-teman daerah untuk terus mengirimkan massa.”
“ Jack! “ Sigit memanggil.
Joko pun membalikkan badannya menatap Sigit tanpa ekspresi.
“ Maaf. Malam ini aku ndak tidur di rumah. Bisa jadi beberapa hari besok. “ Sigit mengajak dialog mulut dan mata Joko.
Joko beralih melihat kedua teman Sigit yang juga menatapnya seakan mengatakan, apa urusannya dengan orang ini?
“ Iya. Tapi hati-hati. Aku kasih kabar. “ Jawab Joko lepas.
Keesokan harinya Sigit benar-benar tidak pulang. Hari pertama, hari kedua, ketiga. Bahkan ini sudah seminggu. Kemudaian Joko dan teman-teman yang semakin sering punya banyak waktu menonton TV dirumah Mbok Minah itu semakin resah. Liputan langsung aksi demonstrasi besar-besaran mewarnai hampir seluruh Channel. Sesekali mereka melihat Sigit di wawancarai. Ada rasa bangga yang mereka rasa, bercampur dengan rasa khawatir yang tiba-tiba datang setiap muncul petugas berseragam brimob atau polisi yang memegang tameng kaca tebal dan pentung besi.
Surat dari rumah juga beberapa belum dibaca Sigit. Akhirnya Joko lah yang membaca surat-surat itu. mungkin ada suatu kabar yang harus diketahui langsung oleh Sigit. Joko sendiri kini sering terpaku sendiri di layar televisi milik Mbok Minah. Juga Mbok minah yang kadang menemani di kala warungnya sepi. Mulutnya selalu berzdikir mendoakan keselamatan Sigit.
***
“ Jack..!!! “
Suara itu di dengar Joko yang tengah menonton TV. Itu suara Sigit. Ia keluar dari rumah Mbok Minah.
“ Sigit!” Ia lihat anak muda itu cukup kumal, bau debu, dan wajahnya tampak tak terurus. “ Alhamdulillah… kamu baik-baik aja?” Ia bertanya tentang sesuatu yang telah ia tahu keadannya. Sigit tidak baik-baik saja.
Sigit ngos-ngosan usai berlari ke rumah Mbok Minah mendapati rumah keong itu telah kosong. “ Sekarang iya.”
“ Maksudmu apa? “ Joko bingung.
“ Ndak papa. Mana yang lain? Kok ndak ada dirumah?”
“ Mereka udah pulang. Karena proyek istirahat sampai waktu yang ndak ditentukan. “
“ Iya. Banyak Bank yang keuangannya macet. Ndak bisa ngasih kelanjutan peminjaman. Yang mau ambil tabungan juga ndak bisa. “
“ Kok kamu tahu?! Ah, ayo pulang dulu. Istirahat dulu.”
“ Ndak. Aku Cuma mau kasih kabar kalau aku baik-baik aja, juga ngambil surat dari adekku. Ada lagi kan yang datang? ”
“ Ada.”
“ Apa katanya?” Tanya Sigit.
“ Minggu depan Ari ujian akhir. Kamu dimintain doanya. Mamak sama Dewi sehat katanya. Kamu ditanyain kapan pulang?”
“ Alhamdulillah… nanti kubales. Jack, aku pamit lagi ya. Maafkan aku. Terimakasih banyak kamu dah ngejaga aku selama ini. Kalau kamu mau pulang nyusul yang lain pulanglah. Aku tahu kamu rindu rumah. Aku ndak tahu mau pulang kapan.“ Sigit menjabat tangan Jack.
“ Ndak. Aku ndak pulang tanpa kamu. Berangkat bareng-bareng, pulang bareng-bareng. “
“ Aku masih terus kaya’ gini tiap harinya…!” Sigit menolak untuk ditunggu.
“ Dan Aku masih tunggu tiap hari juga…” Jawab Joko lemah.
Dirangkulnya sahabat seperjuangan itu haru. Pun begitu Joko yang meraih pundak Sigit. Dan mereka berangkulan semakin erat.
“ Terus perjuangkan Git. Aku dukung kamu.” Satu titik air untuk masing-masing mata Joko, juga sepasang mata Sigit. Begitu bergemuruh hati Joko yang selalu mengkhawatirkan keberadaan Sigit. Ditepuk-tepuknya bangga pundak Sigit. Kemudian didekap kembali dengan dekapan yang paling erat.
Sigit membalas erat dekapan itu. “ Makasih Jack. Kamu sahabat terbaikku. “ Ia pun sangat bersyukur diberi banyak kesempatan untuk berjuang ditambah dengan seorang sahabat yang sangat menyayanginya, itulah arti hidup baginya. Arti hidup yang telah diajarkan oleh almarhum ayahanda. “ Do’akan aku dan teman-teman…” Tambahanya.
“ Selalu. Selalu ku doakan tiap habis sholat. “
Dekapan itu mereda. Dan Sigit pun hendak beranjak lagi. Masih dengan jas kuning dan tas lusuhnya.
“ Hati-hati ya.” Joko berpesan.
“ Iya Jack, makasih.” Ia raih kembali tangan Joko. Mereka bersalaman erat. Ditatapnya mata Joko. Pun Joko demikian. “ Aku pamit… Assalamu’alaikum…” Dan jabatan tangan itu meregang kembali.
“ Wa’alaikumsalam…”
Dan akhirnya mereka berpisah. Sigit melenggang cepat meninggalkan Joko, masih dengan jas kuning dan tas lusuhnya. Sesekali ia menengok kebelakang. Entah apa yang membuatnya demikian. Pun Joko hanya memandang punggung Sigit yang semakin jauh meninggalkannya. Semakin kecil dan semakin jauh penampakan itu juga silau terterpa senja yang memantul dari kaca-kaca rumah di pemukiman padat. Sampailah di ujung gang dan setelah itu siluet Sigit menghilang bersama dengan warna kuning jas yang membuatnya bangga memandang si pualam cahaya.
***
Joko masih terpaku di TV Mbok Minah. Setia mengikuti perkembangan berita, terutama berita Sigit. Ia selalu mengharap wajah Sigit muncul disana. Muncul untuk membuatnya bangga sekaligus membuatnya lega kalau Sigit baik-baik saja. Jantungnya bergemuruh saat-saat terjadinya kerusuhan. Kesokan dan keesokannya selalu begitu.
Hingga Joko tahu bahwa Sigit tidak mungkin kembali pulang ke desa bersamanya. Tahu bahwa surat dari adik-adiknya yang telah datang lagi, tidak akan pernah ia baca. Juga surat terakhir dari Ari berisi akan menyusul kakaknya ke jakarta selesai ujian karena bercita-cita melanjutkan sekolah di perguruan tinggi yang sama seperti kakaknya. Juga surat-surat itu tidak terbalas lagi oleh Mas Sigit . Mas Sigit Prasetyo, si pualam cahaya.
Untuk pahlawan reformasi :
Tragedi Tri Sakti 12 Mei 1998
Elang Mulia Lesmana
Hafidin Royan
Hendriawan Sie
Heri Hartanto
Taragedi Semanggi 13 November 1998
Abdullah
B.R. Norman Irmawan
Engkus Kusnadi
Heru S. Sudibyo
Lukman Firdaus
M. Jok Purwanto
Teddy Mardani
Uga Usmana
Sigit Prasetyo
Yogyakarta, 23 Januari 2009
Pualam Cahaya Negeri
Sunday, January 25, 2009
padamu
pada batu-batu
pada air
pada awan-awan
pada angin
pada hujan
pada malam
pada senja
matahari
bulan
bintang
adakah darimu yang mengerti?
mengerti sejenak semua tentangku
berhentilah waktu
dan juga sunyi yang merdu
juga sepi yang hingar bingar
a ku le lah
pada air
pada awan-awan
pada angin
pada hujan
pada malam
pada senja
matahari
bulan
bintang
adakah darimu yang mengerti?
mengerti sejenak semua tentangku
berhentilah waktu
dan juga sunyi yang merdu
juga sepi yang hingar bingar
a ku le lah
Friday, January 23, 2009
HHOOH...
hhoohh.. tahu tak? ku kasih tahu ya... AKU MAU NAIK GUNUNG!!!!!!!!!!!!!
ALLOHUAKBAR. Finally finally.. yahch.. emang lagi ngusulin proposal sich. ke murobbi, ke babe dirumah. amie... doakan ya. mudah2an tercapai yang satu ini. menanjak menanjak menanjak dan menanjak.. mencapai puncak tertinggi dan sujud dengan lebih dekat. lebih dekat..
mb sih cuman.. mm... mm.. ya ntar ya. (biasalah bahasa diplomasi bahwa disana nanti aku akan baik-baik aja). hoh.. kemaren baru cuma ke Galunggung musti istirahan 3 hari. nah.. berarti musti latihan fisik. cie.. ya dunk!
bismillah....
GEDE!!! WAIT FOR ME....
ALLOHUAKBAR. Finally finally.. yahch.. emang lagi ngusulin proposal sich. ke murobbi, ke babe dirumah. amie... doakan ya. mudah2an tercapai yang satu ini. menanjak menanjak menanjak dan menanjak.. mencapai puncak tertinggi dan sujud dengan lebih dekat. lebih dekat..
mb sih cuman.. mm... mm.. ya ntar ya. (biasalah bahasa diplomasi bahwa disana nanti aku akan baik-baik aja). hoh.. kemaren baru cuma ke Galunggung musti istirahan 3 hari. nah.. berarti musti latihan fisik. cie.. ya dunk!
bismillah....
GEDE!!! WAIT FOR ME....
BATU
batu mawar
batu langit
batu duka
batu rindu
batu jarum
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati janji?
Dengan seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan
hati tak jatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan seribu
beringin ingin tak teduh. Dengan siapa aku mengeluh?
Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampai mengapa
gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa peluk
diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai sedang
lambai tak sampai. Kau tahu?
batu risau
batu pukau
batu Kau-ku
batu sepi
batu ngilu
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati
janji?
Sutardji Coulzum Bahri
keren ya syairnya. terang aku pengagum berat. klo beliau adalah seorang presiden penyair, klo aku apa ya...? hehe
yah.. hanya ingin menginspirasi banyak orang untuk menjadi lebih kuat, menjadi yang terbaik untuk dirinya sendiri. huff.. jadi ky trainer. aku jadi teringat dengan seorng penulis kenamaan zaman dulu ketika ia membandingkan anak muda zaman perang dengan anak muda zaman ini.
kalau umur 20an sekarang, dulu sudah mampu memimpin batalyon hari ini kita masih melihat diri kita sendiri duduk manis belajar di kelas. nggak nyambung si.. tapi setindaknya beda kan strongnya..
kalau yang SMA zaman ini dulu udah bisa menjadi guru SMA, sekrang yang tetep SMA.
ada satu titik terang yang dituliskan beliau, yaitu kalau anak muda zaman dulu bercirikan semangat dan pengorbanan, hari ini pemuda dengan intelektulitas yang sifatnya infirodhi. huuff...
hoh.. Coulzum bahri.. orang yang bisa membaca alam dengan cantik. Makannya sama2 nasi to. tapi aku sungguh pengagum beratnya. huff...
batu langit
batu duka
batu rindu
batu jarum
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati janji?
Dengan seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan
hati tak jatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan seribu
beringin ingin tak teduh. Dengan siapa aku mengeluh?
Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampai mengapa
gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa peluk
diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai sedang
lambai tak sampai. Kau tahu?
batu risau
batu pukau
batu Kau-ku
batu sepi
batu ngilu
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati
janji?
Sutardji Coulzum Bahri
keren ya syairnya. terang aku pengagum berat. klo beliau adalah seorang presiden penyair, klo aku apa ya...? hehe
yah.. hanya ingin menginspirasi banyak orang untuk menjadi lebih kuat, menjadi yang terbaik untuk dirinya sendiri. huff.. jadi ky trainer. aku jadi teringat dengan seorng penulis kenamaan zaman dulu ketika ia membandingkan anak muda zaman perang dengan anak muda zaman ini.
kalau umur 20an sekarang, dulu sudah mampu memimpin batalyon hari ini kita masih melihat diri kita sendiri duduk manis belajar di kelas. nggak nyambung si.. tapi setindaknya beda kan strongnya..
kalau yang SMA zaman ini dulu udah bisa menjadi guru SMA, sekrang yang tetep SMA.
ada satu titik terang yang dituliskan beliau, yaitu kalau anak muda zaman dulu bercirikan semangat dan pengorbanan, hari ini pemuda dengan intelektulitas yang sifatnya infirodhi. huuff...
hoh.. Coulzum bahri.. orang yang bisa membaca alam dengan cantik. Makannya sama2 nasi to. tapi aku sungguh pengagum beratnya. huff...
Thursday, January 22, 2009
Gila!
kawan, dendangkan untukku lagu
tapi aku bosan
lalu...?
seperti kesukaanku, bisakah kau memainkan biola cantik itu?
tapi tak lama pun aku akan jenuh
kalau begitu, maukah kau membacakan syair untukku?
tapi mengapa lidahku kelu?
ah, dongengkan saja untukku cerita
tapi tanpa itupun aku dapat mimpi dalam pejam
"
kalau begitu aku akan nonton theater saja ya!
ah... hanya itu?
lantas???
adakah yang bisa menjawab pertanyaanku... ?
adakah lagu kehidupan?
"akan kita ciptakan!"
dimanakah instrumental alam?
"Ia pun takut bersembunyi dari bencana!"
kemanakah perginya syair-syair cinta?
"mereka terusir oleh benci!"
mengapa dongeng-dongen kepahlawanan punah?
"karena boneka dan badut-badut telah tercipta!"
dan bagaimana orang-orang itu berlaga di podium kebodohan
"mereka hanya pura-pura. mereka hanya pura-pura! "
Gila!!! Gila semuanya!!!
tapi aku bosan
lalu...?
seperti kesukaanku, bisakah kau memainkan biola cantik itu?
tapi tak lama pun aku akan jenuh
kalau begitu, maukah kau membacakan syair untukku?
tapi mengapa lidahku kelu?
ah, dongengkan saja untukku cerita
tapi tanpa itupun aku dapat mimpi dalam pejam
"
kalau begitu aku akan nonton theater saja ya!
ah... hanya itu?
lantas???
adakah yang bisa menjawab pertanyaanku... ?
adakah lagu kehidupan?
"akan kita ciptakan!"
dimanakah instrumental alam?
"Ia pun takut bersembunyi dari bencana!"
kemanakah perginya syair-syair cinta?
"mereka terusir oleh benci!"
mengapa dongeng-dongen kepahlawanan punah?
"karena boneka dan badut-badut telah tercipta!"
dan bagaimana orang-orang itu berlaga di podium kebodohan
"mereka hanya pura-pura. mereka hanya pura-pura! "
Gila!!! Gila semuanya!!!
Tuesday, January 20, 2009
qona'ah dengan kebodohan. No way!
“ Pak, Bagus tadi di panggil kepala sekolah. Bapak masih inget tho kalau Bagus belum bayar SPP 3 bulan? “
Pak Bejo cuma mematung, melihat anaknya yang kelas 2 SD itu mengadu didepannya sambil mengulet sambel dinasinya yang tanpa lauk. Polos, tanpa ekspresi.
“ Apa katanya?” Matanya kini mengarah ke mulut anaknya yang kepedasan.
“ Ya Bagus bilang aja kalau Bapak belum ada duit.” Jawab anaknya enteng. Kali ini suapan nasi yang terakhir. Juga sambal yang terakhir.
Pak Bejo menelan ludah. Ia cukup kenyang melihat anaknya makan ditambah lauk dari jawaban anaknya.
“ Terus?” Tanyanya lagi.
“ Bagus bilang, ntar kalau Bapak Bagus udah punya duit, Bapak Bagus akan bayar SPPnya.” Selesai ngomong anak itu minum air putih didepannya.
“ Oh iya. Bagus tadi dapet nilai 100. Matematika Bagus betul semua!” Tiba-tiba Bagus mengejutkan bapaknya dengan berita gembira.
Dan wajah pak Bejo berubah begitu saja. “ Wah, anak Bapak hebat!”
Bagus pun tak mau kalah. “Siapa dulu bapaknya… Pak Bejo Kusumo! Ggghhh…”. Bagus bersendawa.
“ Hahaha… “ Pak Bejo pun hanya tertawa. Cah Bagus…
“ Pak, kok jualan Bapak ndak laku-laku kenapa e?” Tanya anak itu lagi polos. Dilihatnya balon doraemon dan balon-balon tokoh kartun lainnya. Tiap harinya tidak banyak berkurang.
Pak Bejo hanya tersenyum miris, pasalnya ia memang hanya berjualan di perempatan lampu merah. Berjualan bersama pedagang yang lain. Sama-sama pedagang kecil yang ketat bersaing, juga bersaing dengan pembeli dengan tawar menawar harga dari bus dan mobil-mobil pribadi.
“ Ssssttt… Bagus ndak boleh bilang gitu. Rezeki kita dah diatur. Alhamdulillah… gitu lho Le… “ Ujar laki-laki hitam itu.
Bagus lari ke gerombolan balon tokoh kartun itu. Ada Batman yang bisa terbang, ada One Peace yang tubuhnya terkenal a lot, ada Sailormoon yang bisa berubah, Power Ranger yang hebat, Spiderman dengan topeng misteriusnya, dan banyak lagi. Tapi Bagus tertarik dengan balon Doraemon. Diambil dan dipejet-pejetnya balon itu.
“ Pak e..?” Kali ini bagus memainkan balon Kucing bermulut besar itu.
“ Hmm… “ Sahut bapaknya.
“ Enak ya kalau kita puya Doraemon beneran. Kita bisa minta apa aja.” Bagus berkhayal menjadi Nobita. yang minta apa aja ke Doraemon, dan Doraemon pasti akan memberinya.
“ Hoalah le... itu kan di film. Di dunia ini ndak ada begituan. Kalau ada bapak ndak usah bekerja. Minta aja uang sama Doraemon.” Bapaknya menimpali.
“ Piye tho. Punya Doraemon kok ndak mau. “ Bagus masih menjawab.
“ Kalau minta apa-apa tu sama Gusti Alloh. Berdo’a. Makanya kamu jadi anak yang soleh, biar do’amu dan doa kita juga dikabulkan sama Gusti Alloh. Bukan sama Doraemon. “ Bapaknya menjelaskan.
Bagus hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan bapaknya. Sambil memainkan balon Doraemon di tangannya.
“ Do’akan juga ibumu ya Le…” Tambah bapaknya lagi.
***
Siang itu pak Bejo turun ke jalan lagi. Seperti biasanya, ia bersama dengan teman-teman seperjuangan, bersaing menjajakan dagangannya. Di zaman sulit seperti ini apa saja orang lakukan untuk melanjutkan hidup. Pun itu pekerjaan yang paling keras sekalipun. Namun zaman yang menghimpit ini lama-kelamaan menjadi sadis. Kasus bunuh diri meningkat, dari alasan anak yang tak bisa bayar SPP sampai pada seorang ibu yang khawatir tidak bisa memberi makan bayi yang baru dilahirkannya.
Lampu merah di perempatan itu menyala.
“ Sayang anak, sayang anak…” Pak Bejo turun lagi ke aspal, menawarkan balon-balon itu ke jendela-jendela mobil dan bus.
“ Bu, balonnya?” Pak Bejo lebih dekat ke kaca mobil-mobil pribadi. Milik orang-orang berkantung tebal.
“ Pak pak…! “ Sahut seorang Ibu dari Jendela
Pak Bejo lari menghampiri sambil tersenyum senang.
“ Berapa?”
“ Yang mana?”
“ Doraemon.”
“ Ooo… 20 ribu aja bu.” Jawab Pak Bejo
“ Wah. Mbok kurang.” Tawar Ibu itu.
“ Wah.. Ibu. Jangan ya bu.” Pak Bejo mempertahankan harga.
“ 10 ribu deh… “ Tambah ibu itu lagi.
Wajah Pak Bejo berubah. Mobilnya bagus, kok tawarannya segitunya sih..!
“ Maaf Bu.” Pak Bejo meninggalkan Ibu itu dan beralih ke mobil lainnya.
“ 15 Ribu deh pak!” Ibu itu lebih keras menawar agar terdengar.
Pak Bejo menggeleng.
“ Pak, tunggu!” Pak Bejo pun berhenti. “ Sini.” Tambah Ibu itu lagi.
Pak Bejo pun menghampiri kembali.
“ 17 setengah. Gimana? “ Ibu itu masih kekeh menawar.
“ Kalau Ibu mau 18 ribu. “ Pak Bejo pun melepaskan harga. Itu berarti ia hanya laba 3 ribu rupiah.
“ Ya udah. 18 ribu.” Terjadilah kesepakatan harga dan jual beli itu.
Pak Bejo pun tampak senang dan bersyukur. Sejak pagi tadi itu adalah penjualannya yang pertama.
Ia lalu menggelembungkan lagi balon Doraemon yang masih kempis. Berarti balon Doraemon yang kedua. Begitu selesai. Ada lagi yang memanggilnya. Dan akhirnya terjual lagi. kemudian Pak Bejo menggelelembungkan lagi balon doraemon. Dan balon ketiga itu pun terjual. Kemudia ke empat, ke lima dan seterusnya. Dan keesokan harinya pun demikian. Penjualan pun tetap laris dengan harga 20 ribu. Luar biasa. Dengan demikian ia bisa membayar lunas SPP Bagus juga SPP bulan depannya lagi.
Suatu hari setelah tiba dirumah pak Bejo pun berfikir. Kok beberapa hari ini balon Doraemon itu begitu laris. Dan ia pun bertanya kepada anaknya.
“ Itu karena lagi heboh di TV Pak e… “ Jelas Bagus.
“ Oo… itu ya Gus. Lagi ngetrend gitu?” Tanya bapaknya lagi.
“ Di rumahnya Galuh juga ada balon Doraemon. Kata Galuh, kalau mau minta apa aja, tinggal bilang ke Doraemon. Nanti dikasih. Bisa ngeramal juga lho Pak...“ jelas Bagus.
Pak Bejo pun bingung dengan penjelasan anaknya. “ Jangan sembrono kamu. Mana ada begituan?! Apa lagi bisa diminta-mintain gitu.”
“ Bapak tu ndak percaya. Ke rumahnya aja langsung. Di rumahnya Pretty juga ada. Pretty juga bilang gitu. “ Bagus pun masih ngeyel. “ Bapaknya Galuh sama Bapaknya Pretty juga bilang gitu.” Kali ini lebih mantap.
“ Huss, sudah. Jangan aneh-aneh lah!”
“ Hiiih! Bapak nih ngeyel. Yo wes kalau ndak percaya.” Bagus pun cenderung kesel. “ Tapi aku tetep manut sama bapak. Ndak boleh minta-minta sama Doraemon. Mintanya sama Gusti Alloh. Gitu tho pak e?” Tambah anak itu lagi.
Pak bejo pun semakin mengerenyitkan dahinya. Dan mengehela nafas. Orang-orang udah sedeng apa kok minta-minta sama Doraemon. Kali ini sama balonnya lagi. mending kalau memang Doraemon beneran. Tapi itukan tokoh fiktif. Pembodohan massal.
“ Yoo, siap-siap buat magribpan. Udah mandi belum? .” Pembicaraanpun beralih.
“ Bapak tho yang belum mandi. Aku dah siap. Tinggal pake peci sama sarung.” Jawab Bagus.
“ Ya wes. Bapak tak siap-siap dulu. Kamu yang azan lagi ya. Bapakmu kan dah mulai tua. Suaranya udah jelek.” Pak Bejo meminta.
“ Ya. Azannya Bagus, bagus ya pak?” Kali ini Bagus sumringah.
“ Iya. Bapak suka. Kamu jadi anak yang soleh ya. Biar Ibumu juga seneng disana.” Pak Bejo pun tak bosan mengingatkan tentang itu dan segera beranjak dari lelahnya. Baguslah yang selama ini mampu menghilangkan rasa lelah dan juga sedih. Setiba dirumah, pasti ayem liat anak itu. Penyejuk mata. Begitulah Bagus bagi pak Bejo. Bagus memang anak yang soleh.
Bagus pun bergegas untuk mengambil peci dan sarung. Dan ia pun lari ke masjid samping rumah. Masjid yang kian hari kian sepi. Kalau dulu ramai setiap habis magrib anak-anak kecil yang mengaji diajari beberapa anak muda, tapi sekarang tidak lagi. Anak mudanya jam segini biasanya nongkrong di perempatan, gitar gitaran atau sekedar guyon. Dan semakin malam biasanya semakin ramai. Dan tak ketinggalan rokok bahkan minuman keras adalah lukisan malam yang sudah lazim.
Terdengar sayup merdu suara azan Bagus yang mengalun dari mikrophone masjid. Pak Bejo yang mendengar pun bangga. Alhamdulillah… Anakku memang anak yang soleh.
Pak Bejo pun segera beranjak dari rumah. Namun dari jalan gang antara rumahnya dan masjis, ia melihat sesuatu yang ganjal di pohon beringin depan masjid. Ada yang menggantung luntang-lantung di bagian tengah rimbun pohon itu. Cahaya magrib memang sedikir menyilaukan matanya. Didekatinya lekat apa yang menggantung disitu. Dan pak Bejo pun terperanjat.
“ Astagfirulloh… Kok ada balon Doraemon disini!“ Pak Bejo tidak mampu menyembunyikan keheranannya. Persis balon Doraemon seperti yang dia jual. Kakinya menendang sesuatu. Dilihatnya apa yang barusan disemparnya.
“ A’udzubillahi mindholik… “ Pak Bejo pun hanya mengelus dada. Itu adalah tungkku kemenyan. Juga didapatinya bunga-bunga yang berwarna-warni.
“Hhihh… “ Pak Bejo bergidik jijik melihat hal itu. Ia pun segera naik dan menurunkan balon itu. dikempiskannya balon dan dilemparkan ke lobang sampah. Dibrak-abriknya tungku kemenyan dan kembang yang berwarna-warni itu. Setelah puas ia hengkang menuju pintu masjid. Seperti biasa, masjid tampak lenggang tanpa jama’ah. Hanya ada dia dan si putra tunggal tiap harinya.
Biasanya setelah sholat berjama’ah pak Bejo menyimak baca’an qur’an anaknya. Hanya saja sebelum mulai mengaji, pak Bejo bertanya tentang perihal balon Doraemon di depan masjid.
“ Wah, pak e ini nggak gaul. Di pohon sengon belakang rumah kita juga ada. Terus yang di rumahnya Galuh tu di gantung di kamar Bapaknya. Kalau yang dirumahnya Pretty di pohon nangka samping rumah. Udah biasa kali pak… terus, menyan sama bunga itu kan prasyaratnya. Kan Bagus udah pernah bilang, sekarang kalau orang-orang pengen apa aja tinggal bilang sama Doraemon… “ Jelas Bagus.
Kali ini wajah Pak Bejo serius. Raut wajahnya mengatakan nggak mungkin! Ada amarah yang tampak namun rapat tersimpan.
“ Ayo. Anter bapak kalau gitu. Buktikan ucapanmu itu.” Pak Bejo berdiri dan menggaet tangan anaknya semata wayangnya itu keluar masjid.
Sedangkan gelap telah menyelimuti bumi. Pak Bejo kembali kerumah mengambil senter. Dan Bagus hanya melenggang di depan pintu rumah menuggu bapaknya keluar lagi.
Keluar dari pintu pak Bejo langsung menuju belakang rumahnya. Dan Bagus tampak kepayahan menyusul langkah bapaknya yang lebar dan cepat. Tepat dibawah pohon randu tua itu, pak Bejo mengarahkan cahaya senternya.
“ Astaghfirulloh… “ Ujarnya.
“ Tuh kan. Bapak ndak percaya sih Bagus bilangin. “ Satu kosong. Pikir Bagus.
Tanpa ba bi bu pak bejo memanjat pohon besar itu. Diambilnya balon kucing tak berkumis itu dan dibiarkan jatuh ke tanah.
“ Kempesin balonya Gus! Bapak ndak sudi kebun bapak dijadikan tempat syirik kaya’ gini.” Perintah pak Bejo pada anaknya.
Bagus pun mengempesin balon itu. Dan Doraemon yang tampak gemuk itu kini sudah tak berbentuk lagi.
Pak Bejo pun turun. Menyan dan bunga-bunga dibawah pohon diobrak-abriknya. Dasar orang ndak beriman. Orang gila yang minta-minta sama balon. Astaghfirulloh… ini harus diberantas!
“ Sekarang anter bapak ke kebunnya Pretty.” Perintah pak Bejo.
Merekapun menuju kebun milik tetangga sebelah.
“ Le.. tak kasih tahu ya. Doraemon itu ndak bisa kasih apa-apa. Kalau kita mau minta apa aja, bilang aja sama Alloh. Habis setiap sholat, habis baca qur’an. Alloh pasti ngasih. Kita ndak boleh minta sama selain Alloh. Kamu faham? “ Pak Bejo pun memberikan wasiat pada anaknya. Dan Bagus pun hanya mengangguk-angguk.
“ Kalau mau Alloh mengabulkan do’amu, kamu ndak boleh tinggal sholat lima waktu, rajin ngaji, patuh sama Bapak, hormati yang lebih tua, dan jangan nakal sama temen. “ Tambahnya. “ Nah, yang nyembah-nyembah sama selain Alloh itu namanya syirik. Dan yang melakukan itu cuma orang-orang bodo. Alloh paling ndak suka. Terus dosanya ndak akan pernah diampuni sama Alloh. Hukumannya neraka abadi.” Sambil ngos ngosan pak Bejo menjelaskan. Jalannya pun semakin cepat. Apa lagi Bagus. Dia harus sedikit berlari mengimbangi.
“ Makanya kamu ndak boleh lewat ngajinya. Belajar Al-qur’an, hadist, sama tafsirnya. Biar ndak tersesat. “ Tak bosan pak Bejo menasehati. Dan Bagus pun mendengar betul apa yang disampaikan bapaknya itu. Laki-laki emas satu-satunya dalam hidup miliknya.
“ Mulai besok bapak ndak akan jualan balon doraemon lagi. Bantu bapak bakar semua dagangan besok pagi sebelum ke sekolah. Bapak pengen muntah tahu kaya’ gini.” Kali ini tepatnya pak Bejo menyesal. Telah menjual balon-balon itu. Bisa jadi hari ini Doraemon, esoknya Batman, Superman, atau Spongebob? Tokoh kartun rekaan orang-orang Yahudi.
Sampailah mereka di pohon nangka di kebun milik keluarga Pretty.
“ Astaghfirulloh… Sejak kapan bapaknya Pretty kaya’ gini?!” Pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu jawaban. Dan yang paling penting, kenapa banyak orang menuhankan balon Doraemon?
“ Bejo!!! “ Teriak seorang dari arah belakang mereka. Tampak segerombolan membawa obor sekitar 10 orang menghampiri mereka. Ada yang membawa pentung, rantai, celurit bahkan parang. Wajah mereka pun tegang. Dan Bagus ketakutan, ia pun bersembunyi di balik adan Bapaknya. Rombongan itu diiringi syetan-syetan berjubah hitam. Ada yang bertaring, bertanduk. Merekapun terkekeh-kekeh tertawa di samping, depan dan belakang rombongan.
“ Ternyata kamu yang ngobrak-ngabrik. Ndak sopan!!! “ Tampak Bapaknya Galuh berbicara garang. Yang juga ikutan menuhankan Doraemon.
“ Iya. Saya yang ngorak-ngabrik. Emang kenapa?!” Tantang Pak Bejo.
“ Kamu cukup membuat warga resah. Kamu harus minta maaf sama warga karena telah membuat onar!” Jawab laki-laki itu.
“ Betul! Betul!!” Teriak yang lain sambil mengacung-acungkan senjata mereka.
“ Mas, ingat ini. Saya ndak akan pernah minta maaf. Dan ndak akan biarkan kesyirikan merajalela di tengah masyarakat kita. Meminta sama balon Doraemon?! Hah! Memalukan. Nih, lihat! Dia aja ndak bisa membela dirinya sendiri.” Pak Bejo melemparkan balon Doraemon yang telah dikempesin ke depan mereka.
Mereka semua pun naik pitam. “ Serang!!!!” Entah suaranya siapa yang memberi aba-aba itu. Kemudian kesepuluh orang itu menghantamkan senjata mereka ke arah pak Bejo. Pak Bejo pun menggeret Bagus dan menyembunyikan anak kecil yang ketakutan itu dibelakang pohon nangka.
Dengan posisi siap tempur pak Bejo menyambut rombongan itu. Bela diri yang pernah dipelajarinya di pesantren membuatnya bertahan dan mampu menghindari beberapa serangan dari gerombolan yang ganas itu. Sedangkan syetan-syetan yang mengiringi tadi kini terbahak-bahak tertawa menonton adegan itu. Satu, dua, tiga orang pun roboh oleh tangan kosong pak Bejo. Namun tiba-tiba…
“ Aaagghhh… “ Pak Bejo tersungkur dengan parang yang tegak di punggungnya. Dijabutnya paksa parang itu dan dilemparkan jauh tak berarah.
Rombongan itu pun mundur perlahan-lahan. Dan merekapun lari. Sedangkan setan-setan tadi pun ikut lari masih sambil tertawa terbahak-bahak. Dan tawa setan-setan itu berhenti seiring datangnya malaikat-malaikat bersayap yang mengenakan jubah-jubah putih berkelebatan. Dan setan-setan itu bersama gerombolah itu menghilang di kegelapan.
Bagus pun keluar dari persembunyiannya. Dilihat Bapaknya yang sekarat. Matanya yang tadi ketakutan kini berurai air mata. “ Pak… Jangan mati… “ Ujar anak itu sambi memangku kepala Bapaknya.
Tampak wajah Pak Bejo yang sekarat itu tersenyum. Dipegangnya paras anaknya yang soleh itu, lembut. Selembut pipi anak bagus itu. Pak Bejo terus tersenyum, karena ia tahu telah ada yang menjemputnya untuk pergi meninggalkan bumi. Dan malaikat tadi dengan halus mengambil ruh pak Bejo. Sampai terakhir ruh itu meninggalkan jasad keluar dari ubun-ubun.
Dan laki-laki emas didepannya itu pun kini tiada.
Iya pak.. Besok Bagus bakar semua balon-balonnya. Bagus janji ndak akan ninggalin sholat. Bagus akan jadi anak yang soleh, rajin ngaji terus kirim doa buat Bapak sama Ibu. Terus mintanya sama Gusti Alloh aja… Bagus juga ndak pengan punya Doraemon kok.
***
“ Pak, emang beneran ya itu? “ Tanya Ro’uf sambil asik memainkan jari Bapaknya. Tapi matanya tertuju di iklan televisi yang menawarkan banyak hadiah dengan syarat kirim sms aja.
Bapaknya yang memangkunya itupun menghela nafas. “Huufff… Ya ndak lah Le… Kalau mau kaya, ya bekerja keras. Habis itu do’a minta sama Gusti Alloh.” Jelas bapaknya.
Dan iklan itu pun berganti.
“ Itu pak! Itu! Ayo bapak kirim sms. Coba tanya ntar kita bisa kaya apa ndak… !” Girang bocah itu antusias melihat tampilan Ki Joko Bodo berambut panjang dengan jambang dan kumis yang tebal itu, sambil meraih handphone di saku bapaknya yang tak bersaldo.
“ We e e… Ni bocah! Itu siapa namanya le?” Tantang bapaknya yang terperanjat.
“ Ki Joko Bodo. “ Jawab Ro’uf mengeja.
“ Nah… Orang bodo kok diikuti. Namanya apa Le? Syirik!” Jelas bapaknya mantap.
Anak kelas dua itu manggut-manggut. Ooo…
Hoalah pak… sekarang Doraemon ndak cuma di pohon-pohon besar, ndak cuma digantungkan di pintu-pintu dan jendela. Doraemon sekarang sudah menguasai media cetak. televisi, bahkan radio. Dan yang bodo sekarang ndak cuma orang-orang yang ndak sekolah aja, anak sekolah aja dikibuli, tani, buruh pabrik, guru-guru, pegawai, bahkan direktur pun ikut-ikutan bodo. Zaman udah edan. Lebih edan dari zamanmu dulu.
Biar kita nggak jadi generasi Doraemon. Yang tawadu' dengan kebodohan...
Pak Bejo cuma mematung, melihat anaknya yang kelas 2 SD itu mengadu didepannya sambil mengulet sambel dinasinya yang tanpa lauk. Polos, tanpa ekspresi.
“ Apa katanya?” Matanya kini mengarah ke mulut anaknya yang kepedasan.
“ Ya Bagus bilang aja kalau Bapak belum ada duit.” Jawab anaknya enteng. Kali ini suapan nasi yang terakhir. Juga sambal yang terakhir.
Pak Bejo menelan ludah. Ia cukup kenyang melihat anaknya makan ditambah lauk dari jawaban anaknya.
“ Terus?” Tanyanya lagi.
“ Bagus bilang, ntar kalau Bapak Bagus udah punya duit, Bapak Bagus akan bayar SPPnya.” Selesai ngomong anak itu minum air putih didepannya.
“ Oh iya. Bagus tadi dapet nilai 100. Matematika Bagus betul semua!” Tiba-tiba Bagus mengejutkan bapaknya dengan berita gembira.
Dan wajah pak Bejo berubah begitu saja. “ Wah, anak Bapak hebat!”
Bagus pun tak mau kalah. “Siapa dulu bapaknya… Pak Bejo Kusumo! Ggghhh…”. Bagus bersendawa.
“ Hahaha… “ Pak Bejo pun hanya tertawa. Cah Bagus…
“ Pak, kok jualan Bapak ndak laku-laku kenapa e?” Tanya anak itu lagi polos. Dilihatnya balon doraemon dan balon-balon tokoh kartun lainnya. Tiap harinya tidak banyak berkurang.
Pak Bejo hanya tersenyum miris, pasalnya ia memang hanya berjualan di perempatan lampu merah. Berjualan bersama pedagang yang lain. Sama-sama pedagang kecil yang ketat bersaing, juga bersaing dengan pembeli dengan tawar menawar harga dari bus dan mobil-mobil pribadi.
“ Ssssttt… Bagus ndak boleh bilang gitu. Rezeki kita dah diatur. Alhamdulillah… gitu lho Le… “ Ujar laki-laki hitam itu.
Bagus lari ke gerombolan balon tokoh kartun itu. Ada Batman yang bisa terbang, ada One Peace yang tubuhnya terkenal a lot, ada Sailormoon yang bisa berubah, Power Ranger yang hebat, Spiderman dengan topeng misteriusnya, dan banyak lagi. Tapi Bagus tertarik dengan balon Doraemon. Diambil dan dipejet-pejetnya balon itu.
“ Pak e..?” Kali ini bagus memainkan balon Kucing bermulut besar itu.
“ Hmm… “ Sahut bapaknya.
“ Enak ya kalau kita puya Doraemon beneran. Kita bisa minta apa aja.” Bagus berkhayal menjadi Nobita. yang minta apa aja ke Doraemon, dan Doraemon pasti akan memberinya.
“ Hoalah le... itu kan di film. Di dunia ini ndak ada begituan. Kalau ada bapak ndak usah bekerja. Minta aja uang sama Doraemon.” Bapaknya menimpali.
“ Piye tho. Punya Doraemon kok ndak mau. “ Bagus masih menjawab.
“ Kalau minta apa-apa tu sama Gusti Alloh. Berdo’a. Makanya kamu jadi anak yang soleh, biar do’amu dan doa kita juga dikabulkan sama Gusti Alloh. Bukan sama Doraemon. “ Bapaknya menjelaskan.
Bagus hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan bapaknya. Sambil memainkan balon Doraemon di tangannya.
“ Do’akan juga ibumu ya Le…” Tambah bapaknya lagi.
***
Siang itu pak Bejo turun ke jalan lagi. Seperti biasanya, ia bersama dengan teman-teman seperjuangan, bersaing menjajakan dagangannya. Di zaman sulit seperti ini apa saja orang lakukan untuk melanjutkan hidup. Pun itu pekerjaan yang paling keras sekalipun. Namun zaman yang menghimpit ini lama-kelamaan menjadi sadis. Kasus bunuh diri meningkat, dari alasan anak yang tak bisa bayar SPP sampai pada seorang ibu yang khawatir tidak bisa memberi makan bayi yang baru dilahirkannya.
Lampu merah di perempatan itu menyala.
“ Sayang anak, sayang anak…” Pak Bejo turun lagi ke aspal, menawarkan balon-balon itu ke jendela-jendela mobil dan bus.
“ Bu, balonnya?” Pak Bejo lebih dekat ke kaca mobil-mobil pribadi. Milik orang-orang berkantung tebal.
“ Pak pak…! “ Sahut seorang Ibu dari Jendela
Pak Bejo lari menghampiri sambil tersenyum senang.
“ Berapa?”
“ Yang mana?”
“ Doraemon.”
“ Ooo… 20 ribu aja bu.” Jawab Pak Bejo
“ Wah. Mbok kurang.” Tawar Ibu itu.
“ Wah.. Ibu. Jangan ya bu.” Pak Bejo mempertahankan harga.
“ 10 ribu deh… “ Tambah ibu itu lagi.
Wajah Pak Bejo berubah. Mobilnya bagus, kok tawarannya segitunya sih..!
“ Maaf Bu.” Pak Bejo meninggalkan Ibu itu dan beralih ke mobil lainnya.
“ 15 Ribu deh pak!” Ibu itu lebih keras menawar agar terdengar.
Pak Bejo menggeleng.
“ Pak, tunggu!” Pak Bejo pun berhenti. “ Sini.” Tambah Ibu itu lagi.
Pak Bejo pun menghampiri kembali.
“ 17 setengah. Gimana? “ Ibu itu masih kekeh menawar.
“ Kalau Ibu mau 18 ribu. “ Pak Bejo pun melepaskan harga. Itu berarti ia hanya laba 3 ribu rupiah.
“ Ya udah. 18 ribu.” Terjadilah kesepakatan harga dan jual beli itu.
Pak Bejo pun tampak senang dan bersyukur. Sejak pagi tadi itu adalah penjualannya yang pertama.
Ia lalu menggelembungkan lagi balon Doraemon yang masih kempis. Berarti balon Doraemon yang kedua. Begitu selesai. Ada lagi yang memanggilnya. Dan akhirnya terjual lagi. kemudian Pak Bejo menggelelembungkan lagi balon doraemon. Dan balon ketiga itu pun terjual. Kemudia ke empat, ke lima dan seterusnya. Dan keesokan harinya pun demikian. Penjualan pun tetap laris dengan harga 20 ribu. Luar biasa. Dengan demikian ia bisa membayar lunas SPP Bagus juga SPP bulan depannya lagi.
Suatu hari setelah tiba dirumah pak Bejo pun berfikir. Kok beberapa hari ini balon Doraemon itu begitu laris. Dan ia pun bertanya kepada anaknya.
“ Itu karena lagi heboh di TV Pak e… “ Jelas Bagus.
“ Oo… itu ya Gus. Lagi ngetrend gitu?” Tanya bapaknya lagi.
“ Di rumahnya Galuh juga ada balon Doraemon. Kata Galuh, kalau mau minta apa aja, tinggal bilang ke Doraemon. Nanti dikasih. Bisa ngeramal juga lho Pak...“ jelas Bagus.
Pak Bejo pun bingung dengan penjelasan anaknya. “ Jangan sembrono kamu. Mana ada begituan?! Apa lagi bisa diminta-mintain gitu.”
“ Bapak tu ndak percaya. Ke rumahnya aja langsung. Di rumahnya Pretty juga ada. Pretty juga bilang gitu. “ Bagus pun masih ngeyel. “ Bapaknya Galuh sama Bapaknya Pretty juga bilang gitu.” Kali ini lebih mantap.
“ Huss, sudah. Jangan aneh-aneh lah!”
“ Hiiih! Bapak nih ngeyel. Yo wes kalau ndak percaya.” Bagus pun cenderung kesel. “ Tapi aku tetep manut sama bapak. Ndak boleh minta-minta sama Doraemon. Mintanya sama Gusti Alloh. Gitu tho pak e?” Tambah anak itu lagi.
Pak bejo pun semakin mengerenyitkan dahinya. Dan mengehela nafas. Orang-orang udah sedeng apa kok minta-minta sama Doraemon. Kali ini sama balonnya lagi. mending kalau memang Doraemon beneran. Tapi itukan tokoh fiktif. Pembodohan massal.
“ Yoo, siap-siap buat magribpan. Udah mandi belum? .” Pembicaraanpun beralih.
“ Bapak tho yang belum mandi. Aku dah siap. Tinggal pake peci sama sarung.” Jawab Bagus.
“ Ya wes. Bapak tak siap-siap dulu. Kamu yang azan lagi ya. Bapakmu kan dah mulai tua. Suaranya udah jelek.” Pak Bejo meminta.
“ Ya. Azannya Bagus, bagus ya pak?” Kali ini Bagus sumringah.
“ Iya. Bapak suka. Kamu jadi anak yang soleh ya. Biar Ibumu juga seneng disana.” Pak Bejo pun tak bosan mengingatkan tentang itu dan segera beranjak dari lelahnya. Baguslah yang selama ini mampu menghilangkan rasa lelah dan juga sedih. Setiba dirumah, pasti ayem liat anak itu. Penyejuk mata. Begitulah Bagus bagi pak Bejo. Bagus memang anak yang soleh.
Bagus pun bergegas untuk mengambil peci dan sarung. Dan ia pun lari ke masjid samping rumah. Masjid yang kian hari kian sepi. Kalau dulu ramai setiap habis magrib anak-anak kecil yang mengaji diajari beberapa anak muda, tapi sekarang tidak lagi. Anak mudanya jam segini biasanya nongkrong di perempatan, gitar gitaran atau sekedar guyon. Dan semakin malam biasanya semakin ramai. Dan tak ketinggalan rokok bahkan minuman keras adalah lukisan malam yang sudah lazim.
Terdengar sayup merdu suara azan Bagus yang mengalun dari mikrophone masjid. Pak Bejo yang mendengar pun bangga. Alhamdulillah… Anakku memang anak yang soleh.
Pak Bejo pun segera beranjak dari rumah. Namun dari jalan gang antara rumahnya dan masjis, ia melihat sesuatu yang ganjal di pohon beringin depan masjid. Ada yang menggantung luntang-lantung di bagian tengah rimbun pohon itu. Cahaya magrib memang sedikir menyilaukan matanya. Didekatinya lekat apa yang menggantung disitu. Dan pak Bejo pun terperanjat.
“ Astagfirulloh… Kok ada balon Doraemon disini!“ Pak Bejo tidak mampu menyembunyikan keheranannya. Persis balon Doraemon seperti yang dia jual. Kakinya menendang sesuatu. Dilihatnya apa yang barusan disemparnya.
“ A’udzubillahi mindholik… “ Pak Bejo pun hanya mengelus dada. Itu adalah tungkku kemenyan. Juga didapatinya bunga-bunga yang berwarna-warni.
“Hhihh… “ Pak Bejo bergidik jijik melihat hal itu. Ia pun segera naik dan menurunkan balon itu. dikempiskannya balon dan dilemparkan ke lobang sampah. Dibrak-abriknya tungku kemenyan dan kembang yang berwarna-warni itu. Setelah puas ia hengkang menuju pintu masjid. Seperti biasa, masjid tampak lenggang tanpa jama’ah. Hanya ada dia dan si putra tunggal tiap harinya.
Biasanya setelah sholat berjama’ah pak Bejo menyimak baca’an qur’an anaknya. Hanya saja sebelum mulai mengaji, pak Bejo bertanya tentang perihal balon Doraemon di depan masjid.
“ Wah, pak e ini nggak gaul. Di pohon sengon belakang rumah kita juga ada. Terus yang di rumahnya Galuh tu di gantung di kamar Bapaknya. Kalau yang dirumahnya Pretty di pohon nangka samping rumah. Udah biasa kali pak… terus, menyan sama bunga itu kan prasyaratnya. Kan Bagus udah pernah bilang, sekarang kalau orang-orang pengen apa aja tinggal bilang sama Doraemon… “ Jelas Bagus.
Kali ini wajah Pak Bejo serius. Raut wajahnya mengatakan nggak mungkin! Ada amarah yang tampak namun rapat tersimpan.
“ Ayo. Anter bapak kalau gitu. Buktikan ucapanmu itu.” Pak Bejo berdiri dan menggaet tangan anaknya semata wayangnya itu keluar masjid.
Sedangkan gelap telah menyelimuti bumi. Pak Bejo kembali kerumah mengambil senter. Dan Bagus hanya melenggang di depan pintu rumah menuggu bapaknya keluar lagi.
Keluar dari pintu pak Bejo langsung menuju belakang rumahnya. Dan Bagus tampak kepayahan menyusul langkah bapaknya yang lebar dan cepat. Tepat dibawah pohon randu tua itu, pak Bejo mengarahkan cahaya senternya.
“ Astaghfirulloh… “ Ujarnya.
“ Tuh kan. Bapak ndak percaya sih Bagus bilangin. “ Satu kosong. Pikir Bagus.
Tanpa ba bi bu pak bejo memanjat pohon besar itu. Diambilnya balon kucing tak berkumis itu dan dibiarkan jatuh ke tanah.
“ Kempesin balonya Gus! Bapak ndak sudi kebun bapak dijadikan tempat syirik kaya’ gini.” Perintah pak Bejo pada anaknya.
Bagus pun mengempesin balon itu. Dan Doraemon yang tampak gemuk itu kini sudah tak berbentuk lagi.
Pak Bejo pun turun. Menyan dan bunga-bunga dibawah pohon diobrak-abriknya. Dasar orang ndak beriman. Orang gila yang minta-minta sama balon. Astaghfirulloh… ini harus diberantas!
“ Sekarang anter bapak ke kebunnya Pretty.” Perintah pak Bejo.
Merekapun menuju kebun milik tetangga sebelah.
“ Le.. tak kasih tahu ya. Doraemon itu ndak bisa kasih apa-apa. Kalau kita mau minta apa aja, bilang aja sama Alloh. Habis setiap sholat, habis baca qur’an. Alloh pasti ngasih. Kita ndak boleh minta sama selain Alloh. Kamu faham? “ Pak Bejo pun memberikan wasiat pada anaknya. Dan Bagus pun hanya mengangguk-angguk.
“ Kalau mau Alloh mengabulkan do’amu, kamu ndak boleh tinggal sholat lima waktu, rajin ngaji, patuh sama Bapak, hormati yang lebih tua, dan jangan nakal sama temen. “ Tambahnya. “ Nah, yang nyembah-nyembah sama selain Alloh itu namanya syirik. Dan yang melakukan itu cuma orang-orang bodo. Alloh paling ndak suka. Terus dosanya ndak akan pernah diampuni sama Alloh. Hukumannya neraka abadi.” Sambil ngos ngosan pak Bejo menjelaskan. Jalannya pun semakin cepat. Apa lagi Bagus. Dia harus sedikit berlari mengimbangi.
“ Makanya kamu ndak boleh lewat ngajinya. Belajar Al-qur’an, hadist, sama tafsirnya. Biar ndak tersesat. “ Tak bosan pak Bejo menasehati. Dan Bagus pun mendengar betul apa yang disampaikan bapaknya itu. Laki-laki emas satu-satunya dalam hidup miliknya.
“ Mulai besok bapak ndak akan jualan balon doraemon lagi. Bantu bapak bakar semua dagangan besok pagi sebelum ke sekolah. Bapak pengen muntah tahu kaya’ gini.” Kali ini tepatnya pak Bejo menyesal. Telah menjual balon-balon itu. Bisa jadi hari ini Doraemon, esoknya Batman, Superman, atau Spongebob? Tokoh kartun rekaan orang-orang Yahudi.
Sampailah mereka di pohon nangka di kebun milik keluarga Pretty.
“ Astaghfirulloh… Sejak kapan bapaknya Pretty kaya’ gini?!” Pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu jawaban. Dan yang paling penting, kenapa banyak orang menuhankan balon Doraemon?
“ Bejo!!! “ Teriak seorang dari arah belakang mereka. Tampak segerombolan membawa obor sekitar 10 orang menghampiri mereka. Ada yang membawa pentung, rantai, celurit bahkan parang. Wajah mereka pun tegang. Dan Bagus ketakutan, ia pun bersembunyi di balik adan Bapaknya. Rombongan itu diiringi syetan-syetan berjubah hitam. Ada yang bertaring, bertanduk. Merekapun terkekeh-kekeh tertawa di samping, depan dan belakang rombongan.
“ Ternyata kamu yang ngobrak-ngabrik. Ndak sopan!!! “ Tampak Bapaknya Galuh berbicara garang. Yang juga ikutan menuhankan Doraemon.
“ Iya. Saya yang ngorak-ngabrik. Emang kenapa?!” Tantang Pak Bejo.
“ Kamu cukup membuat warga resah. Kamu harus minta maaf sama warga karena telah membuat onar!” Jawab laki-laki itu.
“ Betul! Betul!!” Teriak yang lain sambil mengacung-acungkan senjata mereka.
“ Mas, ingat ini. Saya ndak akan pernah minta maaf. Dan ndak akan biarkan kesyirikan merajalela di tengah masyarakat kita. Meminta sama balon Doraemon?! Hah! Memalukan. Nih, lihat! Dia aja ndak bisa membela dirinya sendiri.” Pak Bejo melemparkan balon Doraemon yang telah dikempesin ke depan mereka.
Mereka semua pun naik pitam. “ Serang!!!!” Entah suaranya siapa yang memberi aba-aba itu. Kemudian kesepuluh orang itu menghantamkan senjata mereka ke arah pak Bejo. Pak Bejo pun menggeret Bagus dan menyembunyikan anak kecil yang ketakutan itu dibelakang pohon nangka.
Dengan posisi siap tempur pak Bejo menyambut rombongan itu. Bela diri yang pernah dipelajarinya di pesantren membuatnya bertahan dan mampu menghindari beberapa serangan dari gerombolan yang ganas itu. Sedangkan syetan-syetan yang mengiringi tadi kini terbahak-bahak tertawa menonton adegan itu. Satu, dua, tiga orang pun roboh oleh tangan kosong pak Bejo. Namun tiba-tiba…
“ Aaagghhh… “ Pak Bejo tersungkur dengan parang yang tegak di punggungnya. Dijabutnya paksa parang itu dan dilemparkan jauh tak berarah.
Rombongan itu pun mundur perlahan-lahan. Dan merekapun lari. Sedangkan setan-setan tadi pun ikut lari masih sambil tertawa terbahak-bahak. Dan tawa setan-setan itu berhenti seiring datangnya malaikat-malaikat bersayap yang mengenakan jubah-jubah putih berkelebatan. Dan setan-setan itu bersama gerombolah itu menghilang di kegelapan.
Bagus pun keluar dari persembunyiannya. Dilihat Bapaknya yang sekarat. Matanya yang tadi ketakutan kini berurai air mata. “ Pak… Jangan mati… “ Ujar anak itu sambi memangku kepala Bapaknya.
Tampak wajah Pak Bejo yang sekarat itu tersenyum. Dipegangnya paras anaknya yang soleh itu, lembut. Selembut pipi anak bagus itu. Pak Bejo terus tersenyum, karena ia tahu telah ada yang menjemputnya untuk pergi meninggalkan bumi. Dan malaikat tadi dengan halus mengambil ruh pak Bejo. Sampai terakhir ruh itu meninggalkan jasad keluar dari ubun-ubun.
Dan laki-laki emas didepannya itu pun kini tiada.
Iya pak.. Besok Bagus bakar semua balon-balonnya. Bagus janji ndak akan ninggalin sholat. Bagus akan jadi anak yang soleh, rajin ngaji terus kirim doa buat Bapak sama Ibu. Terus mintanya sama Gusti Alloh aja… Bagus juga ndak pengan punya Doraemon kok.
***
“ Pak, emang beneran ya itu? “ Tanya Ro’uf sambil asik memainkan jari Bapaknya. Tapi matanya tertuju di iklan televisi yang menawarkan banyak hadiah dengan syarat kirim sms aja.
Bapaknya yang memangkunya itupun menghela nafas. “Huufff… Ya ndak lah Le… Kalau mau kaya, ya bekerja keras. Habis itu do’a minta sama Gusti Alloh.” Jelas bapaknya.
Dan iklan itu pun berganti.
“ Itu pak! Itu! Ayo bapak kirim sms. Coba tanya ntar kita bisa kaya apa ndak… !” Girang bocah itu antusias melihat tampilan Ki Joko Bodo berambut panjang dengan jambang dan kumis yang tebal itu, sambil meraih handphone di saku bapaknya yang tak bersaldo.
“ We e e… Ni bocah! Itu siapa namanya le?” Tantang bapaknya yang terperanjat.
“ Ki Joko Bodo. “ Jawab Ro’uf mengeja.
“ Nah… Orang bodo kok diikuti. Namanya apa Le? Syirik!” Jelas bapaknya mantap.
Anak kelas dua itu manggut-manggut. Ooo…
Hoalah pak… sekarang Doraemon ndak cuma di pohon-pohon besar, ndak cuma digantungkan di pintu-pintu dan jendela. Doraemon sekarang sudah menguasai media cetak. televisi, bahkan radio. Dan yang bodo sekarang ndak cuma orang-orang yang ndak sekolah aja, anak sekolah aja dikibuli, tani, buruh pabrik, guru-guru, pegawai, bahkan direktur pun ikut-ikutan bodo. Zaman udah edan. Lebih edan dari zamanmu dulu.
Biar kita nggak jadi generasi Doraemon. Yang tawadu' dengan kebodohan...
Monday, January 19, 2009
pagi...
hai pagi...
terima kasih telah memanduku lagi
setiap hari pasti kan ku nanti
pada jenaka-jenaka fajar yang setia
duhai pagi...
ajari aku untuk tak lekang dari lelah
ajari aku seperti dulu kau mengajariku banyak hal
seperti ketika aku buru-buru mengikatkan tali sepatu karena akan terlambat upacara bendera
aduhai pagi...
kau tahu aku begitu malang
setiap malam selalu begitu
segala cita rasa membuncah
usai itu aku selalu tidur
dan membuat bunga mimpi lagi
usai itu lagi, aku menunggu fajar
dan menunggumu lagi
oh pagi...
selalu rindu energimu tiap waktu
entahlah...
ketika bertemu dengan matahari
setidaknya aku bersaksi bahwa aku tak kan pernah menyia-nyiakan waktu
dan malamnya, aku berdendang bersama bulan
ku ceritakan semuanya
usai itu, kami berdua tersenyum
pagi...
bisakah kita mengikat janji?
sudah ku buat jadwal baru dalam hidup ini
dan aku pun punya kosa kata baru
apakah kau tahu apa itu?
deadline!
dan aku berhasil menyusunnya duhai pagi...
ingatkah kau? itulah mimpi bertanggalku
ah pagi..
terima kasih ya.
terima kasih sekali ya
esok kita jumpa lagi
jangan terlambat
terima kasih telah memanduku lagi
setiap hari pasti kan ku nanti
pada jenaka-jenaka fajar yang setia
duhai pagi...
ajari aku untuk tak lekang dari lelah
ajari aku seperti dulu kau mengajariku banyak hal
seperti ketika aku buru-buru mengikatkan tali sepatu karena akan terlambat upacara bendera
aduhai pagi...
kau tahu aku begitu malang
setiap malam selalu begitu
segala cita rasa membuncah
usai itu aku selalu tidur
dan membuat bunga mimpi lagi
usai itu lagi, aku menunggu fajar
dan menunggumu lagi
oh pagi...
selalu rindu energimu tiap waktu
entahlah...
ketika bertemu dengan matahari
setidaknya aku bersaksi bahwa aku tak kan pernah menyia-nyiakan waktu
dan malamnya, aku berdendang bersama bulan
ku ceritakan semuanya
usai itu, kami berdua tersenyum
pagi...
bisakah kita mengikat janji?
sudah ku buat jadwal baru dalam hidup ini
dan aku pun punya kosa kata baru
apakah kau tahu apa itu?
deadline!
dan aku berhasil menyusunnya duhai pagi...
ingatkah kau? itulah mimpi bertanggalku
ah pagi..
terima kasih ya.
terima kasih sekali ya
esok kita jumpa lagi
jangan terlambat
Sunday, January 18, 2009
yux...
satu langkah telah terlunasi ( hwa... emangnya punya utang berapa?). wah, banyak banget.
pembenaran lagi? bukan bukan, sudah nggak ada alasan lagi. kau sudah memulai, jadi musti diselesaikan sampai akhir. so, apa yang baru saja dimulai? seperti apa yang tertulis. menyetuh masa depan. ho.. sejuknya.
bagaimana si penyikapan yang baik terhadap hidup. ah, ini hanya sebagian saja dari seorang ummi...
wortel
mulanya wortel adalah buah atau sayuran yang keras. setelah di rebus, maka empuklah dia. haha.. ini berarti sekeras apapun masalah, enjoy aja lah. kita selesaikan denngan masalah dingin
telur
kau tahu kawan, telur mentah didalamnya berbentuk cair dan lembek. nah.... setelah direbus apa jadinya, dia mengeras. itulah, ketika kita merasa lemah dan serba sensirif, maka tarbiyah Alloh akan menguatkan kita seperti telur itu ketika matang. enak dimakan dan bergizi. hehe..
kopi
nah.. kalau biji kopo itu warnanya item dan keras. maka setelah direbus di air, ia akan mewarnai air dan membuat air jadi harum kopi. sedap begitu... nah, itulah kita... jadilah inspirasi bagi orang lain yang pengaruhi kebaikan -kebaikan pada orang lain. ok.
terus... terus apa? haha. langkah pertama telah dimulai. maka perjuangkanlah.
teringat oleh apa yang tertulis di novel terbaru, Maryamah Karpov. hanya sebuah nasehat dari seorang ibu, ibu seorang Ikal.
kurang lebih begini,
kau tak tahu bagaimana rasanya pahit dan getirnya sesuatu, pun jika orang lain mengatakan itu padamu, kau pun tidak akan pernah tahu sebelum kau benar-benar merasakannya sendiri dengan memasukkan dirimu. nah lho.. so, nggak ada alasan lain untuk memulai juga yang laiin. ya kan?
jadi wortel, telur, kopi, kerupuk, lho! hehe. whateverlah... pilih bilikmu sendiri, dan masukkan dirimu ke lumpur petualangan. pasti seru! yah, pasti seru.
pembenaran lagi? bukan bukan, sudah nggak ada alasan lagi. kau sudah memulai, jadi musti diselesaikan sampai akhir. so, apa yang baru saja dimulai? seperti apa yang tertulis. menyetuh masa depan. ho.. sejuknya.
bagaimana si penyikapan yang baik terhadap hidup. ah, ini hanya sebagian saja dari seorang ummi...
wortel
mulanya wortel adalah buah atau sayuran yang keras. setelah di rebus, maka empuklah dia. haha.. ini berarti sekeras apapun masalah, enjoy aja lah. kita selesaikan denngan masalah dingin
telur
kau tahu kawan, telur mentah didalamnya berbentuk cair dan lembek. nah.... setelah direbus apa jadinya, dia mengeras. itulah, ketika kita merasa lemah dan serba sensirif, maka tarbiyah Alloh akan menguatkan kita seperti telur itu ketika matang. enak dimakan dan bergizi. hehe..
kopi
nah.. kalau biji kopo itu warnanya item dan keras. maka setelah direbus di air, ia akan mewarnai air dan membuat air jadi harum kopi. sedap begitu... nah, itulah kita... jadilah inspirasi bagi orang lain yang pengaruhi kebaikan -kebaikan pada orang lain. ok.
terus... terus apa? haha. langkah pertama telah dimulai. maka perjuangkanlah.
teringat oleh apa yang tertulis di novel terbaru, Maryamah Karpov. hanya sebuah nasehat dari seorang ibu, ibu seorang Ikal.
kurang lebih begini,
kau tak tahu bagaimana rasanya pahit dan getirnya sesuatu, pun jika orang lain mengatakan itu padamu, kau pun tidak akan pernah tahu sebelum kau benar-benar merasakannya sendiri dengan memasukkan dirimu. nah lho.. so, nggak ada alasan lain untuk memulai juga yang laiin. ya kan?
jadi wortel, telur, kopi, kerupuk, lho! hehe. whateverlah... pilih bilikmu sendiri, dan masukkan dirimu ke lumpur petualangan. pasti seru! yah, pasti seru.
Saturday, January 17, 2009
bisu
puisiku terlalu bisu untuk mengatakan segala hal tentangmu
palestina
aku kehabisan kata
kata-kata yang cantik
tak ada lagi
aku tak punya alasan untuk berkata lagi
dan sekarang aku hanya mampu menjerit
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaggghhhh!!!!!!!!
palestina
aku kehabisan kata
kata-kata yang cantik
tak ada lagi
aku tak punya alasan untuk berkata lagi
dan sekarang aku hanya mampu menjerit
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaggghhhh!!!!!!!!
seperti dugaanku, Ustad kami malam ini akan membahas hal yang sama. Palestine. kau tahu kawan.
siang kemarin, ingatkah kalian? dimana jogja tiba-tiba mendung hitam dan hujan besar sejenak. hujan besar sejenak temen. usai hujan reda, tiba-tiba panasnya aneh. aneh sekali. agh, ku pikir memang ada sesuatu yang terjadi... di Gaza. di Gaza kawan!
sorenya... Tatanan tinggi Hammas sekaligus menteri dalam negeri tiba-tiba diberitakan syahid. syahid kawan! bersama adik dan putranya.
baru saja aku mengunjungi Irfan di PKU. setelah mengantar teman untuk CT Scan. hwa.. kabarnya ada bagian tengkoraknya yang dibuka. masya Alloh.. kau tahu apa yang membuatku lebih miris. seorang kawan di UIN tidak hanya sebagian. tapi hampir semuanya kawan. semuanya!!!
dan kau tahu apa yang membuatku menjerit? anak-anak Palestin di operasi tanpa bius. tanpa bius!!!
gila. gila semuanya. semua sudah gila. bodoh! dunia terlalu bodoh melihat pemandangan itu. sangat bodoh!
tidak cukupkah ketika media massa memuat berita Israel yang membawa anjing-anjing yang mirip dengan tuannya itu ke dalam medan tempur. dan menjadikan seorang bocah berumur 4 tahun yang kala itu sedang bermain dengan kakaknya, di tembak, dan dijadikan makanan untuk anjing2 itu. ketika kakak2nya akan mengambil jenazah adiknya, maka mereka pun di berondong peluru. gila!!!!!!!!!!!
Ya Rohman....
adakah yang faham mengapa mereka melakukan itu? karena mereka pengecut teman. mereka pengecut. mereka sangat takut dengan anak-anak palestina. dan terbunuhnya banyak anak-anak palestina adalah wajah mereka bodoh dengan logika mereka sendiri. namun kita patut membenarkan itu kawan. dan kau tahu apa pembenaran itu, bahwa mereka takut bahwa kelak anak-anak itu akan menjadi pejuang militan. mereka takut itu kawan! mereka takut!
" Tanah ini lebih dari sekedar jiwa dan raga kami. lebih dari anak-anak kami. dan anak-anak kami lebih dari pada diri kami sendiri". itulah ujar dari seorang ummi disana.
tentara Israel akan merasa jenuh dengna peperangan yang membuat wajah mereka tampak seperti iblis. mereka akan kalah kawan. dan dengan kesabaran memperjuangakan tanah itu, Hammas akan menang kawan. Hammas akan menang!!!
Allohuakbar!!!
aina jundul muslimin??
aina jundul muslimin??
Arab bisu. bisu dan tuli!!!
apakah mereka terlalu cinta dunia? sayang dengan minyak minyak mereka?
apakah mereka terlalu bodoh? ah tidak, mereka membodohi diri sendiri!
aku benci melihat mreka berada di meja perundingan dan tidak berkata apapun.
aku benci melihat mreka dengan jubah-jubah putih yang berkibar kibar.
aku benci melihat mreka memakai kafayeh di kepala mereka.
aina jundul muslimin...
aina jundul muslimin...
siang kemarin, ingatkah kalian? dimana jogja tiba-tiba mendung hitam dan hujan besar sejenak. hujan besar sejenak temen. usai hujan reda, tiba-tiba panasnya aneh. aneh sekali. agh, ku pikir memang ada sesuatu yang terjadi... di Gaza. di Gaza kawan!
sorenya... Tatanan tinggi Hammas sekaligus menteri dalam negeri tiba-tiba diberitakan syahid. syahid kawan! bersama adik dan putranya.
baru saja aku mengunjungi Irfan di PKU. setelah mengantar teman untuk CT Scan. hwa.. kabarnya ada bagian tengkoraknya yang dibuka. masya Alloh.. kau tahu apa yang membuatku lebih miris. seorang kawan di UIN tidak hanya sebagian. tapi hampir semuanya kawan. semuanya!!!
dan kau tahu apa yang membuatku menjerit? anak-anak Palestin di operasi tanpa bius. tanpa bius!!!
gila. gila semuanya. semua sudah gila. bodoh! dunia terlalu bodoh melihat pemandangan itu. sangat bodoh!
tidak cukupkah ketika media massa memuat berita Israel yang membawa anjing-anjing yang mirip dengan tuannya itu ke dalam medan tempur. dan menjadikan seorang bocah berumur 4 tahun yang kala itu sedang bermain dengan kakaknya, di tembak, dan dijadikan makanan untuk anjing2 itu. ketika kakak2nya akan mengambil jenazah adiknya, maka mereka pun di berondong peluru. gila!!!!!!!!!!!
Ya Rohman....
adakah yang faham mengapa mereka melakukan itu? karena mereka pengecut teman. mereka pengecut. mereka sangat takut dengan anak-anak palestina. dan terbunuhnya banyak anak-anak palestina adalah wajah mereka bodoh dengan logika mereka sendiri. namun kita patut membenarkan itu kawan. dan kau tahu apa pembenaran itu, bahwa mereka takut bahwa kelak anak-anak itu akan menjadi pejuang militan. mereka takut itu kawan! mereka takut!
" Tanah ini lebih dari sekedar jiwa dan raga kami. lebih dari anak-anak kami. dan anak-anak kami lebih dari pada diri kami sendiri". itulah ujar dari seorang ummi disana.
tentara Israel akan merasa jenuh dengna peperangan yang membuat wajah mereka tampak seperti iblis. mereka akan kalah kawan. dan dengan kesabaran memperjuangakan tanah itu, Hammas akan menang kawan. Hammas akan menang!!!
Allohuakbar!!!
aina jundul muslimin??
aina jundul muslimin??
Arab bisu. bisu dan tuli!!!
apakah mereka terlalu cinta dunia? sayang dengan minyak minyak mereka?
apakah mereka terlalu bodoh? ah tidak, mereka membodohi diri sendiri!
aku benci melihat mreka berada di meja perundingan dan tidak berkata apapun.
aku benci melihat mreka dengan jubah-jubah putih yang berkibar kibar.
aku benci melihat mreka memakai kafayeh di kepala mereka.
aina jundul muslimin...
aina jundul muslimin...
Friday, January 16, 2009
lagi!
kawan, salahkah aku jika membuka kembali peranku dalam maya ini? haha. aku belum bisa memberhentikan semuanya.
memberhentikan jariku menari dan mencari kabar kalian. memberhentikan waktu, dan memberhentikan segala keegoisanku. gila!
semua orang bakal tertawa tentang kisah ini kawan. akan tertawa terpingkal pingkal. nggak penting!!! komentar mereka mungkin begitu. hua....
seperti kisah-kisah yang selama ini aku hanya menonton. kali ini aku menjadi pelaku utama kawan. kau tau rasanya? di teater di ujung lorong hitam. mengerikan sekali. sungguh mengerikan.
kalau aku keluar, hanya akan terbakar matahari.
cukupkah mengganti jihad itu dengan air mata?
seperti hujan sebentar yang baru saja membuat Jogja semakin panas?
memberhentikan jariku menari dan mencari kabar kalian. memberhentikan waktu, dan memberhentikan segala keegoisanku. gila!
semua orang bakal tertawa tentang kisah ini kawan. akan tertawa terpingkal pingkal. nggak penting!!! komentar mereka mungkin begitu. hua....
seperti kisah-kisah yang selama ini aku hanya menonton. kali ini aku menjadi pelaku utama kawan. kau tau rasanya? di teater di ujung lorong hitam. mengerikan sekali. sungguh mengerikan.
kalau aku keluar, hanya akan terbakar matahari.
cukupkah mengganti jihad itu dengan air mata?
seperti hujan sebentar yang baru saja membuat Jogja semakin panas?
Wednesday, January 14, 2009
Serpihan2 mimpi. (the last short story in this window)
kawan, kau tahu lagu Peterpan berjudul "kota mati". aku sangat suka lagu itu. bukan, bukan karena siapa penyanyi atau keras musiknya. tapi aku pecinta lirik-lirik yang cantik untuk dimengerti.
tiap membuka jendela kompi, aku akan klik quick launch di pojok kiri bawah windows mp. klik now playing, and open. masuk ke folder my music, basing, peterpan, cropp all and ENTER. selanjutnya baru membuka ms word atau ke explore folder.
hwa... lagu satu ini membawaku ke sebuah kota yang remuk redam. membayangkan bahwa gedung-gedung di kota itu seperti gedung-gedung yang roboh di Gaza city yang serig ku lihat di TV One (Ups, merk).
da ketika bertemu dengan kalimat " ... masih bertahan sisa mimpi-mimpiku, di kota ini.... ".
hmmff... langsung aku mencoba menerbangkan diri ke mengitari kota dan melihat masih banyak harapan untuk terus dibangun. meski dengan diri yang ringkih.
keras lagu itu ku dengar di headsetku, mengajakku untuk melupakan dunia dan lemari2, rak buku, kasur dan juga dipan bertingkat yang siap merobohku. aku ikut mendendngkannya dan terhenyak dengan datangnya setrum kejutan yagn bersumber dari tepukan seorang Eca wati. haha...
" Sssstt... ini niy.." menempelkan jari telunjuknya ke bibir dan menunjuk ke handphone yang menempel di pipi kirinya.
" Hoh... ". Aku terbengong dan mengacugkan jempol. Ok Ok!
setelah itu aku terbang lagi ke kota mati itu. bahwa mimpi-mimpiku masih tersisa disana. kupungut satu persatu. meski seripihannya kadang membuat jariku berdarah tapi terus ku pungut. ah, g seganas DIME yang diledakkan di Gaza.
setelah kelelahan berhadapan dengan kompi aku rehat sejenak saat itu. dan Eca wati memanggilku..
" Ya" jawabku
" hihi.. tahu nggak siapa yang nelphone tadi? ". Ujarnya.
" Nggak.. " Jawabku enteng. emang nggak nguping kok.
" Haha.. katanya. 'heh! siapa itu yang nyanyi. jelek banget suaranya'."
Ups!!! hahaha.. aku pun tertawa.
dan aku pun hanya teringat dengan lirik yang lain.
' tak perlu dengar kata mereka, teruslah berjalan... '. That's me guys! kau tahu lagu itu???
ah, tak ada eloknya rubah ini berkhayal
membangun puri di awan-awan gelap
malu, malu pada mereka yang masa depannya coba dihancurka
tapi justru dengan itu
mereka memungut serpihan serpihan mimpi untuk dibangun kembali
dan rubah ini akan selalu menindak mereka yang tak punya mimpi
apa lagi mereka yang tak bisa bermimpi.
gamang katanya
maka berjayalah mereka yang berkaca mata kuda
hidup seanggun merak di kebun taman sari
atau berkibarlah bendera-bendera asing yang menghujat kedaulatan sepetak tanah subur
itu salah kita
yang tiada mengimani bahwa Al Qolam telah menuliskannya untuk kita
dan masih mampu mengubah ketentuan2 masa depan, kalau kita mau merubahnya.
dengan pena, dengan pedang, dengan do'a, dengan segenap ruh yang masih bersemayam di tubuh
di tubuh rubah ini.
usai itu tinggal mati
dan menjemput mimpi yang abadi
special for me, maybe as closing this blog or maybe to open the new changed theme blog. bye...
tiap membuka jendela kompi, aku akan klik quick launch di pojok kiri bawah windows mp. klik now playing, and open. masuk ke folder my music, basing, peterpan, cropp all and ENTER. selanjutnya baru membuka ms word atau ke explore folder.
hwa... lagu satu ini membawaku ke sebuah kota yang remuk redam. membayangkan bahwa gedung-gedung di kota itu seperti gedung-gedung yang roboh di Gaza city yang serig ku lihat di TV One (Ups, merk).
da ketika bertemu dengan kalimat " ... masih bertahan sisa mimpi-mimpiku, di kota ini.... ".
hmmff... langsung aku mencoba menerbangkan diri ke mengitari kota dan melihat masih banyak harapan untuk terus dibangun. meski dengan diri yang ringkih.
keras lagu itu ku dengar di headsetku, mengajakku untuk melupakan dunia dan lemari2, rak buku, kasur dan juga dipan bertingkat yang siap merobohku. aku ikut mendendngkannya dan terhenyak dengan datangnya setrum kejutan yagn bersumber dari tepukan seorang Eca wati. haha...
" Sssstt... ini niy.." menempelkan jari telunjuknya ke bibir dan menunjuk ke handphone yang menempel di pipi kirinya.
" Hoh... ". Aku terbengong dan mengacugkan jempol. Ok Ok!
setelah itu aku terbang lagi ke kota mati itu. bahwa mimpi-mimpiku masih tersisa disana. kupungut satu persatu. meski seripihannya kadang membuat jariku berdarah tapi terus ku pungut. ah, g seganas DIME yang diledakkan di Gaza.
setelah kelelahan berhadapan dengan kompi aku rehat sejenak saat itu. dan Eca wati memanggilku..
" Ya" jawabku
" hihi.. tahu nggak siapa yang nelphone tadi? ". Ujarnya.
" Nggak.. " Jawabku enteng. emang nggak nguping kok.
" Haha.. katanya. 'heh! siapa itu yang nyanyi. jelek banget suaranya'."
Ups!!! hahaha.. aku pun tertawa.
dan aku pun hanya teringat dengan lirik yang lain.
' tak perlu dengar kata mereka, teruslah berjalan... '. That's me guys! kau tahu lagu itu???
ah, tak ada eloknya rubah ini berkhayal
membangun puri di awan-awan gelap
malu, malu pada mereka yang masa depannya coba dihancurka
tapi justru dengan itu
mereka memungut serpihan serpihan mimpi untuk dibangun kembali
dan rubah ini akan selalu menindak mereka yang tak punya mimpi
apa lagi mereka yang tak bisa bermimpi.
gamang katanya
maka berjayalah mereka yang berkaca mata kuda
hidup seanggun merak di kebun taman sari
atau berkibarlah bendera-bendera asing yang menghujat kedaulatan sepetak tanah subur
itu salah kita
yang tiada mengimani bahwa Al Qolam telah menuliskannya untuk kita
dan masih mampu mengubah ketentuan2 masa depan, kalau kita mau merubahnya.
dengan pena, dengan pedang, dengan do'a, dengan segenap ruh yang masih bersemayam di tubuh
di tubuh rubah ini.
usai itu tinggal mati
dan menjemput mimpi yang abadi
special for me, maybe as closing this blog or maybe to open the new changed theme blog. bye...
Tuesday, January 13, 2009
Azzam ( satu wangi yang dirindu )
“ Pengumuman, bagi teman-teman yang punyai waktu luang dalam waktu dekat ini. untuk bersedia menemani Ummi Atik. Ummahat dari Purworejo yang putranya Azzam di rawat di Rumah sakit Sardjito sejak 2 hari yang lalu. Keponakan ustad Tulus. Kira-kira siapa ya yang bisa?”.
Ku dengar pengumuman itu usai kelas ba’da subuh. Meski tidak masuk ke kalas, aku dapat mendengar taujih ustad langsung dari kamar. Karena kelas berada di sebelah tepat kamarku. Wal hasil, aku tidak bisa beraktifitas banyak di dalam kamar kecuali sedikit saja.
Ah, asrama kami memang menjadi transit pertama banyak informasi yang menyebar. Dari dibutuhkannya donor darah, sampai dengan berita walimahan. Tapi di asrama inilah aku menyadari hakikat hidup, membuka kelopak mataku lebar-lebar untuk melihat matahari yang sebenarnya.
“ Assalamu’alaikum..” Ada yang menyapaku dari luar kamar.
“ Wa’alaikumsalam... masuk aja“. Zae menyunggingkan senyum untukku. Santri paling baik diasrama. Kau ingat kawan tentang cerita sajadah hijau tuaku?
“ Umi, ada waktu hari ini?” Tanyanya jelas.
“ Mm… “ Aku berfikir untuk mencari alasan. Bukan, bukan bermaksud menghindar. Hanya saja aku sedang mengejar target skripsiku. Lihat saja si kompi yang semalaman on karena aku tertidur dan lupa mematikannya menampilkan cacing-caing yang cantik. Juga buku-buku yang berserakan tak karuan.
Tapi tatapan mata santri satu ini mengalahkan semuanya.
“ Ok. Aku ada”. Ah Zae.. . Ilmu psikologimu memang manjur. Tapi ku pikir bukan, hanya saja memang aku selalu kalah dengan tatapan jiwamu.
***
Rumah sakit ini begitu luas. Meski telah tinggal 4 tahun di Yogyakarta, dan pernah menjadi relawan di sini waktu gempa bumi 2006 silam aku tidak hafal betul sisi-sisi pembagian bangsal. Lorong-lorong yang kulalui tampak pucat dan bau karbol Pemandangan yang serba putih memang sangat dominan di rumah sakit. Namun aku sedikit terhenyak mengingat warna putih dan bau karbol waktu itu tersapu warna merah darah dan bau anyir . Ah, sisi gelap kota budaya ini memang telah lama terkubur. Banyak yang lupa.
Setelah 20 menit akhirnya ku temukan IRNA II Melati 3 nomor 5. Meski sempat salah kamar kini aku yakin karena didalam kamar ini nampak seorang Ummahat yang sedang merayu bocah kecil yang sedang susah makan. Ah, bangsal khusus anak-anak ini memberikan pemandangan yang tampak asing. Anak-anak dari yang bayi, balita juga yang sudah sekolah ada di bangsal ini dalam perawatan yang tidak lazim. Infus-infus juga selang-selang tranfusi yang menjulur di tangan-tangan mungil itu menyayat miris pandanganku. Terlalu sakit untuk ikut merasakan sakit yang mereka emban. Bangsal kelas 2 ini menceritakan banyak hal. Membuatku diam untuk lebih banyak bersyukur bahwa sejak kecil aku belum pernah dirawat di rumah sakit. Dan anak-anak itu, alangkah malangnya…
“ Assalamu’alaikum.” Aku memberi salam sembari membuka pintu perlahan.
“ Wa’alaikumsalam… “ Ummi itu menjawab salamku dengan melempar senyum. Salam hangat yang disodorkannya membuatku semakin mudah untuk berinteraksi di perjumpaan pertama ini.
“ Wah… namanya ammah siapa?” tanya Ummi Atik
“ Namanya Umi Mi… Mm… Umi Yuliatin”. Aku bingung. Karena jika hanya menyebut nama panggilanku saja, berarti Azzam akan bingung memanggil. Begitu kiranya.
“ Oh… dipanggil ammah… ammahYuli aja ya?!”. Timpalnya. Ummi memahami.
Ah, boleh juga. Aku manggut saja dan tersenyum.
Kulihat bocah kecil dan kurus itu tak berdaya terlentang diatas kasur berseprei warna biru laut. Matanya menghindar dari tatapanku. Pandangnya mengarah pada Umminya.
“ Nggg… “ Rengeknya.
“ Ini namanya ammah Yuli. Ammah, Azzam memang malu-malu kalau belum kenal dekat. Dari kemarin ammah yang lain juga dicuekin. Ya Zam? Maunya sama Umminya terus… “ Jelas
Ummi sambil tersenyum pada putra keempatnya. Bocah yang berumur 3 tahun 10 bulan itu tidak juga bicara untuk sekedar menjawab ocehan bundanya.
Aku hanya manggut-manggut. Kuberikan lagi senyumku pada Azzam. Namun dibuangnya begitu saja.
“ Nggg… “ Ia merengek lagi dan mencari tatapan mata bundanya.
“ Sakit ya nak? Mana yang sakit?” Ummi tersenyum pada bocah kurus itu. ah, sama sekali tak tampak kelelahan yang diceritakan teman-teman. Juga wajah yang cerah itu selalu menampakkan senyum, sama sekali tidak terbesit kesedihan. Justru nampak ketegaran yang tak terkalahkan.
Ah Ummi, tapi seorang bunda tetaplah seorang bunda. Bolehkah ku curi kekhawatiranmu tentang putramu Azzam?
“ Ini… “ Jawan Azzam merintih sakit sambil memegangi perutnya yang nampak buncit.
Kuberi senyum lagi bocah itu, tapi dibuangnya lagi dan dicarinya lagi tatapan bundanya.
Ah, keberadaanku memang sangat tidak bermanfaat. Setidaknya hanya ingin memberikan warna lain di ruang berwarna putih biru itu. Tapi senyum Azzam tidak juga kudapati. Apakah karena begitu sakit yang ia rasa. Sampai sekedar senyum tentang cerita lucu gajah kecil Riyan dan Jerapah pun tak ada untukku. Cerita yang secara terpatah-patah ku ceritakan untuk mengalihkan sakitnya itu, tak juga mengelakkan pandang matanya untuk terus mencari Umminya yang sedang sholat asar di ruang yang berbeda.
“Nggg… “ Selalu begitu. Pun sepatah kata belum ada untukku. Ah, apa salahku Azzam…
***
Gedung Central bedah ini begitu megah. 7 lantai yang menjulang tinggi dan memantulkan sinar matahari di jum’at siang. Di gedung inilah dilakukan operasi bedah Azzam. Aku tidak mampu membayangkan bagaimana bocah kecil itu akan menahan bekas sayatan yang dilakukan oleh dokter- dokter bertangan dingin itu. sabarlah, mungkin kau hanya harus menahan perih itu selama seminggu. Usai itu, kau akan bisa bermain dengan kakak dan adikmu di rumah yang sudah 2 minggu kau tinggal.
Lantai enam ini begitu lengang. Ku baca deretan nama yang hari ini menjalani pembedahan. Namamu yang bermakna begitu kukuh itu berada di urutan kedua dari bawah. Abdul Azzam. Kau mengingatkanku pada Abdullah Azzam. Mujahid yang syahid di tanah suci Palestina dan menajadi catatan sejarah tersendiri dikalangan prajurit Hammas.
Kumasuki ruang tunggu. Tampak Ummi dengan jilbab kaos kremnya sedang membaca al-qur’an mungil menghadap kiblat. Ah Ummi, memang Al-qur’an itulah obat hatimu yang pasti sedang galau.
“ Mi… ?”. Ku sentuh bahunya pelan.
“ Eh, Ammah”. Ummi tersenyum kecil padaku. Ah, kucuri lagi kekhawatiranmu itu Ummi. Ku ganti dengan senyum yang mungkin tidak akan menyembuhkan.
“ Tak lanjutkan dulu ya tilawahnya? “ Pintanya
Aku mengangguk pelan dan masih berusaha memberikan senyum. Mencoba meneguhkanmu Ummi, namun sepertinya kau tak butuh.
Absorbsi abses. Entah, metode apa yang digunakan para dokter itu pada perut Azzam yang semakin hari semakin membuncit itu. dengan badan yang semakin kurus dan wajah yang tirus. Pembengkakan hati yang diderita telah memusnahkan senyum bocah kecil itu. aku belum pernah melihat senyumnya sejak pertama kali menemuimu Azzam. Dan setelah ini, mungkin aku agak lama aku akan menjumpai senyummu. Ah Azzam, kau tahu apa yang membuatku begitu menyayangimu? Ketika Ummimu berkata
“ Mah, Alloh memang begitu sayang dengan anak ini ya. mungkin dia memang anak yang sangat kuat. Sampai Alloh memberikan sakit ini ke Azzam. “
Kata-kata itu membuatku begitu kerdil Azzam. Sejak kecil aku selalu sehat. Jika sakitpun mungkin paling parah hanya tifus. Itu juga tak sampai haru dirawat di rumah sakit. Bundamu memang benar. Kau begitu kuat.
***
“ Nggg… nggg…. “. Masih dengan nada yang sama. Hanya dengan frekuensi yang yang lebih sering. Kau semakin dingin menatapku. Tanpa kata-kata yang mungkin sudah biasa untukku. Katakan Azzam, apa yang yang harus ku lakukan untukmu?
Hari ini aku tidak berhasil membawakan donat polos pesananmu. Kenapa donat yang biasanya coklatnya warna warni itu kau tidak suka seperti anak-anak kebanyakan? Tapi ammah yang lain akan segera membawakannya untukmu. Tenang saja.
“ Bukan abses Mah.” Ujar ummi tiba-tiba membuka kebisuan.
“ Terus?” Aku bertanya bingung. Kalau begitu, operasi kemarin sia-sia belaka. Dokter-dokter itu salah diagnosis. Ah, rontsen dan CT Scan dan pengetahuan semua dokter itu telah membuktikan bahwa mata dan teknologi manusia hanya mampu menembus sampai dimensi tiga.
“ Belum tahu. Hatinya bersih. Nggak ada benjolan, nggak ada nanah. Bersih. Operasi kemariin akhirnya hanya diambil jaringan hatinya. Bisa jadi bakteri, atau juga yang lain. Ah… nggak tahulah. Hasilnya masih nunggu dari lab patologi. Kamis atau baru bisa tahu hasilnya. Itu juga paling cepat” Jelas Ummi setengah pasrah.
Ya Alloh… sampai sejauh ini dan sesakit itu dengan ditambah luka sayatan belum juga ada titik terang. Ini baru hari Sabtu, artinya segala ketidakpastian masih akan berlangsung selama 5 hari lagi.
“ Nggg… Nggg… “. Hanya itu yang mampu keluar dari rengekannya.
“ Sakitt!!! “
Hoh, aku tercekat. Azzam berteriak mengerang kesakitan menahan luka sayatan itu.
“ Mah, lihat gih. Dari tadi keluar cairan terus dari bekas sayatannya.”. Ummi menunjukkan sayatan yang berada di perut Azzam dengan membuka sedikit selimut yang membungkus badan bocah bermata jeli itu. Biar sakit, kau tampak tetap elok Azzam. Mata jelimu itu… Ah, Azzam.
Tampak lembab dan basah selimut yang berada disekitar sayatan itu. Dan ternyata cairan itu terus keluar dari ujung luka sebelah kiri.
“ Mi, dari kapan ini?” Tanyaku heran. Tak lazim kupikir. Bukan berwarna merah, tapi bening ke kuning-kuningan. Sedikit amis.
“ Udah dari tadi mah. Kata suster nggak papa. tapi nggak juga berhenti.” Jelas Ummi padaku menatap tajam.
“ Sakitt!!!” Teriak Azzam yang membuat Ummi dan aku semakin menyayat jiwa.
Aku segera keluar dari kamar yang semakin pucat itu ke ruang dokter. Ku buang tatapanku ke beberapa suster yang berjaga. Kalau aku mengatakan pada mereka, mereka pun mungkin hanya berujar
nggak papa kok mbak…
Aku dapati dokter baru saja kembali dari bangsal yang lain. Kuhampiri, tak mampu menyimpan kekhawatiranku ku tatap wajah dokter itu lekat, memohon.
“ Ya?”. Sapa dokter muda itu.
“ Dari tadi keluar cairan kuning dari luka sayatan Azzam. Masalahnya nggak juga berhenti dan udah dari tadi dok.” Ujarku menjelaskan.
Dokter itu langsung menuju ke kamar Azzam.
“ Sebentar ya Nak… “. Dokter itu merayu untuk membuka kembali selimut yang menutupi perut buncit itu.
“ Ok. Bantu saya bawa Azzam ke ruang tindakan ya. Kita ganti perbannya.” Jawab dokter muda itu tenang.
Setidaknya Azzam tidak dibiarkan tanpa diapa-apakan. Ummi sedikit lega tampaknya. Ada tindakan akhirnya dan tidak mementahkan lagi rasa sakit putranya itu.
Ummi menggendong tubuh Azzam. Kupegangi infus yang sudah menghiasi perawatan Azzam selama 10 hari ini. hanya berjarak 4 meter menuju ruang tindakan.
Azzam terus merintih. Terus merintih dengan frekuensi yang lebih sering. Dibaringkannya tubuh putranya diatas meja tindakan. Dibukanya keseluruhan selimut dari dari tubuh Azzam. Ah, aku semakin miris melihat tubuh anak ini. Sayatan sepanjang 25 cm itu melintang diperut yang lebih buncit dari sebelum operasi.
“ Sakitt!!!” Jerit Azzam melengking berkali-kali.
Dibukanya perban itu oleh dokter, dan semakin lengking jeritan Azzam.
“ Sakitt!!!”
“ Mbak sama ibu di luar aja yah. Nggak papa kok. Ok? “ Suster diruangan itu mengusir kami. Aku segera keluar karena sudah tak mampu melihat pemandangan tadi. Ummi kekeh untuk berada disamping putranya. Tak terasa tiba-tiba ada bendungan hangat dimataku, mengucur tiba-tiba. Nanar.
***
Sudah 4 hari aku belum menjenguk Azzam lagi. dan tiba-tiba saja aku rindu bocah bermata jeli itu. Dengan memastikan Ummi selalu ditemani Abi, dan dengan demikian Ummi akan lebih tenang. Sebelum rapat sore ini aku akan menjenguknya lagi. Ah Azzam, bukankah hari ini hasil lab itu akan memberikan penjelasan tentang semuanya.
I message received
Ammah, afwan slalu mrepotkn. Adakah yg bs mmbawkn azzam donat polos lg?
Aku hanya tersenyum membaca sms itu. Sekaligus membuka senyumku pagi ini.
yup, nanti Yuli carikn ya mi. mudah2an dapet.
Message sent!
***
“ Wah mbak. Harus pesan dulu. Dan baru bisa besok. Atau yang serba coklat?”. Tanya penjaga toko Dunkis Donut yang berada di swalayan mirota kampus itu.
“ Mm… nggak usah aja deh. Baru bisa besok ya jadinya?” Aku ragu mengiyakan.
“ Iya mbak. Maaf ya mbak…” Senyum gadis penjaga itu sembari manggut.
“ Ok. Nggak papa. permisi… “ Aku pamit dengan sedikit kecewa. Hoh, kemana ya mencari donat polos kesukaanmu itu Zam? Semoga ammah yang lain sudah membawakannya untukmu. Aku menyerah.
Ku laju Umair menuju Sardjito lagi. parkir sebelah utara disore hari memang tidak sepadat ketika pagi atau siang. Parkir yang dekat dengan tempat pendaftaran dan juga poliklinik itu memang lebih dekat ke ruang Melati dari pada yang di selatan.
Kulangkahkan kakiku pasti. Aku hanya rindu Azzam. Semilir angin sore mendingikan jiwaku. Menghempas jilbab kaos krem yang kukenakan. Lembut, sangat lembut. Kupercepat langkahku. Karena aku hanya punya waktu satu jam. Tidak seperti biasanya yang sampai malampun aku bisa. Dihari-hari akhir kepengurusann senat dikampus membuatku semakin jauh untuk menyentuh tugas akhirku. Juga amanah sebagai PJS ketua yang belum lama ku emban ini, membawa diriku ke euforia tiap akhir tahun, bagaimana aku begitu keras berjuang untuk khusnul khotimah di amanah-amanah yang menantang.
“ Assalamu’alaikum… “ Ku buka pintu kamar nomor lima ini.
“ Wa’alaikumsalam… “ Jawab mbak Nuri yang saat itu sedang menemani Ummi. Tatapannya bisu. Kualihkan pandanganku.
Ah, kudapati senyum kecil Ummi tak setegar biasanya. Dan… Astagfirulloh… pemandangan baru tampak janggal dengan adanya tabung oksigen yang tampak mendesis cairan bening diujung tapalnya. Dan selang yang diujung itu menghubung ke hidung bocah bermata jeli itu.
“ Mi…??”. Aku meminta penjelasan.
“ Tadi siang ia terkejut. Sekarang begini… “ Lirih sekali Ummi menjawab tanpa memandangku. Hanya tertuju pada mata putranya.
“ Azzam… “ Aku menyapanya sembari menawarkan kerlingan mata.
Anak itu diam saja. Tidak ada rengekan seperti biasanya. Sama sekali. Diam. Juga matanya. Hanya menatap kesana kemari. Ah, wajahnya tidak secerah biasanya. Ku pegang keningnya. Dingin. Telinganya juga berwarna pucat kuning. Ku sentuh, juga dingin. Juga telapak tangannya semakin pucat.
“ Kok.. ??”. Ah, aku berani tidak berani bertanya.
“ dingin …??” Lanjutku.
Mbak Nuri menarikku tanganku mundur.
“Pengawasan 24 jam. Pejet kuku jempol kakinya. Kaya’ gini. Klo nggak balik, cepet panggil dokter.” Jelas mbak Nuri pelan sembari mempraktekkan. “ Azzam dipuasakan dari tadi pagi.” Tambahnya.
Ah, aku ingin berkata-kata lagi. tapi tidak tahu apa yang mesti ku ucap atau yang ingin kutanya.
“ Diagnosisnya?”. Spontan saja aku ingat ini hari keluarnya hasil lab.
Mbak Nuri geleng kepada “ Belum tahu.”
“ Permisi… “. Dari arah pintu dokter penjaga Azzam menyapa kami. Pandangan kami mengarah padanya.
“ Bu… “. Sapanya sambil mengangguk, meminta Ummi untuk ikut keluar ruangan.
“ Begini bu. Kami sudah menerima hasil dari lab patologi. Hasilnya bahwa pembengkakan di hati Azzam adalah akibat saluran antara empedu dan hati yang terinfeksi. Ada dua kemungkinan penyebabnya. Yang pertama bakteri, atau yang faktor genetis. “
Aku menguping pembicaraan mereka dibelakang Ummi. Penjelasan yang hampir seperempat jam itu membuatku dan Ummi banyak bertanya. Jarang sekali bisa berdiskusi bebas dengan dokter. Segala istilah baru keluar dari pelajaran yang mungkin terhitung dua sks itu begitu rumit. Namun aku berusaha mengerti dengan analogi-analogi yang dokter muda itu gambarkan.
“ Pembengkakan yang terus menerus itu telah menghimpit beberapa organ disekitarnya. Lambung, usus, bahkan ginjal. Desakan itu menghimpit dan juga melukai beberapa organ. Makanya kita peroleh air besar Azzam yang menghitam Juga air kencing yang tambah pekat warnanya karena telah bercampur dengan darah. Bayangkan ukuran hati Azzam 10x lebih besar dari ukuran normal anak seumurnya. Dan organ disekitanya otomatis mendapat tekanan 9x lebih besar.” Tambah dokter itu.
“ Lalu dok. Apa program team dokter selanjutnya?” Tanya Ummi yang kali ini tampak begitu cemas.
“ Besok kita cek ginjalnya. Apakah ikut terhimpit atau tidak”. Jawaban yang tidak menjawab.
“ Maksudnya untuk pengobatan infeksi di saluran hati dan empedunya itu?!” Tanya Ummi berani.
“ Bisa Jadi transplantasi. Tapi… kita tunggu kondisi Azzam lebih baik. Kondisi yang seperti ini tidak memungkinkan. “ Jelas dokter itu lagi.
Meski belum puas berdiskusi dengan dokter, Ummi mencoba lebih tenang. Ia hanya menggeleng kepala. Aku hanya mampu mengelus pundaknya.
“ Terlalu berat mah untuk bocah sekecil Azzam”. Ucapnya lirih.
Ku elus halus lagi pundak wanita tegar itu. Menganguk angguk mengiyakan. Tanpa kata-kata.
Sedang dikejauhan terdengar azan. Waktu asar tiba.
“ Yuk, sholat dulu”. Ummi bergegas ke kamar mandi mengambil air wudhu. Jalannya gontai.
Aku ke kamar Azzam. Dan kudapati tiba-tiba Azzam muntah. Cairan yang keluar dari mulutnya berwarna coklat. Tapi, bukannya Azzam puasa dari tadi pagi?? Rupanya cairan inipun telah tercampur darah.
***
Hari Jum’at, hari yang pendek. Masih pagi. Seperti biasa berada didepan kompi. Menyusun karya-karya sastraku, dunia yang belum lama asik kugandrungi.
Ada ganguan kecil di layar monitor. Kerlip kecil karena lewat gelombang panggilan telphone dari Hp samsungku.
Calling
Ummi Atik
Mmm… ku tunggu. Mungkin hanya misscall. Tidak biasanya Ummi menelphone ketika meminta tolong. Atau…
***
Ku kebut Umair sebisaku. Tiga lampu merah kucuri warna kuningnya dengan kecepatan maksimal. Aku hanya terus membisu. Mencoba berfikir. Ah, mungkin ini memang yang terbaik untuk Azzam. Bocah kecil yang telah mamangku luka yang begitu berat. Kau pasti langsung mendapatkan dan menikmati donat polosmu yang paling lezat. Dan juga tanpa rasa sakit seperti biasanya.
Aku naik lewati tangga menuju lantai 2. Dan… derek beroda mencegatku di ujung tangga yang berpapasan dengan lift. Tampak Abi, seorang kawan dan dua perawat mendorong derek itu. Dan aku hanya terpaku menghempaskan badanku ke tembok dan mengalirkan bening hangat dari mataku. Kau berada dalam balutan warna biru muda itu. tanpa nafas dan juga denyut jantung lagi. namun kau mungkin kini punya sayap. Memudahkanmu yang sekedar bergerak kesana kemari berputar-putar dan bermain lagi. dan satu yang pasti, menanti Ayah Bundamu di surga, kenikmatan yang abadi.
***
Hari ini bayang-bayang Azzam kembali menggelanyuti pikiranku tiap harinya. Gambar-gambar wajah polos dibalik layar mengajakku untuk mencium kening para mujahid kecil itu. Para mujahid kecil bermata jeli. Berderet panjang berbaris untuk disholatkan. Warna hijau surga yang membalut bocah-bocah Filishtin itu terlukis putih kalimah tertinggi. Meneguhkan iman, dan meyakinkan bahwa telah tertulis oleh Al Qolam bahwa perang ini akan berlangsung sampai akhir zaman.
Dengan itu mengalirlah aroma juang dalam jiwa, cita-cita untuk menyusul mengusung perjuangan terus mendidih dan hanya mampu mengalirkan air mata.
Azzam, kau mengawaliku untuk lebih dekat pada mereka. Kubayangkan mencium kening mereka seperti mencium keningmu dulu. Hai Azzam, sudahkah kau bertemu dengan Abdullah Azzam? Sedangkan kau disanapun akan mendapatkan banyak teman baru. Bocah-bocah yang juga bermata jeli sepertimu itu. Mujahid-mujahid kecil Filishtin.
Terima kasih Azzam.
Kisah nyata perjalanan ruhani penulis di pertengahan November 2008.
Ummi, kapan berkunjung ke Yogyakarta lagi?
Ku dengar pengumuman itu usai kelas ba’da subuh. Meski tidak masuk ke kalas, aku dapat mendengar taujih ustad langsung dari kamar. Karena kelas berada di sebelah tepat kamarku. Wal hasil, aku tidak bisa beraktifitas banyak di dalam kamar kecuali sedikit saja.
Ah, asrama kami memang menjadi transit pertama banyak informasi yang menyebar. Dari dibutuhkannya donor darah, sampai dengan berita walimahan. Tapi di asrama inilah aku menyadari hakikat hidup, membuka kelopak mataku lebar-lebar untuk melihat matahari yang sebenarnya.
“ Assalamu’alaikum..” Ada yang menyapaku dari luar kamar.
“ Wa’alaikumsalam... masuk aja“. Zae menyunggingkan senyum untukku. Santri paling baik diasrama. Kau ingat kawan tentang cerita sajadah hijau tuaku?
“ Umi, ada waktu hari ini?” Tanyanya jelas.
“ Mm… “ Aku berfikir untuk mencari alasan. Bukan, bukan bermaksud menghindar. Hanya saja aku sedang mengejar target skripsiku. Lihat saja si kompi yang semalaman on karena aku tertidur dan lupa mematikannya menampilkan cacing-caing yang cantik. Juga buku-buku yang berserakan tak karuan.
Tapi tatapan mata santri satu ini mengalahkan semuanya.
“ Ok. Aku ada”. Ah Zae.. . Ilmu psikologimu memang manjur. Tapi ku pikir bukan, hanya saja memang aku selalu kalah dengan tatapan jiwamu.
***
Rumah sakit ini begitu luas. Meski telah tinggal 4 tahun di Yogyakarta, dan pernah menjadi relawan di sini waktu gempa bumi 2006 silam aku tidak hafal betul sisi-sisi pembagian bangsal. Lorong-lorong yang kulalui tampak pucat dan bau karbol Pemandangan yang serba putih memang sangat dominan di rumah sakit. Namun aku sedikit terhenyak mengingat warna putih dan bau karbol waktu itu tersapu warna merah darah dan bau anyir . Ah, sisi gelap kota budaya ini memang telah lama terkubur. Banyak yang lupa.
Setelah 20 menit akhirnya ku temukan IRNA II Melati 3 nomor 5. Meski sempat salah kamar kini aku yakin karena didalam kamar ini nampak seorang Ummahat yang sedang merayu bocah kecil yang sedang susah makan. Ah, bangsal khusus anak-anak ini memberikan pemandangan yang tampak asing. Anak-anak dari yang bayi, balita juga yang sudah sekolah ada di bangsal ini dalam perawatan yang tidak lazim. Infus-infus juga selang-selang tranfusi yang menjulur di tangan-tangan mungil itu menyayat miris pandanganku. Terlalu sakit untuk ikut merasakan sakit yang mereka emban. Bangsal kelas 2 ini menceritakan banyak hal. Membuatku diam untuk lebih banyak bersyukur bahwa sejak kecil aku belum pernah dirawat di rumah sakit. Dan anak-anak itu, alangkah malangnya…
“ Assalamu’alaikum.” Aku memberi salam sembari membuka pintu perlahan.
“ Wa’alaikumsalam… “ Ummi itu menjawab salamku dengan melempar senyum. Salam hangat yang disodorkannya membuatku semakin mudah untuk berinteraksi di perjumpaan pertama ini.
“ Wah… namanya ammah siapa?” tanya Ummi Atik
“ Namanya Umi Mi… Mm… Umi Yuliatin”. Aku bingung. Karena jika hanya menyebut nama panggilanku saja, berarti Azzam akan bingung memanggil. Begitu kiranya.
“ Oh… dipanggil ammah… ammahYuli aja ya?!”. Timpalnya. Ummi memahami.
Ah, boleh juga. Aku manggut saja dan tersenyum.
Kulihat bocah kecil dan kurus itu tak berdaya terlentang diatas kasur berseprei warna biru laut. Matanya menghindar dari tatapanku. Pandangnya mengarah pada Umminya.
“ Nggg… “ Rengeknya.
“ Ini namanya ammah Yuli. Ammah, Azzam memang malu-malu kalau belum kenal dekat. Dari kemarin ammah yang lain juga dicuekin. Ya Zam? Maunya sama Umminya terus… “ Jelas
Ummi sambil tersenyum pada putra keempatnya. Bocah yang berumur 3 tahun 10 bulan itu tidak juga bicara untuk sekedar menjawab ocehan bundanya.
Aku hanya manggut-manggut. Kuberikan lagi senyumku pada Azzam. Namun dibuangnya begitu saja.
“ Nggg… “ Ia merengek lagi dan mencari tatapan mata bundanya.
“ Sakit ya nak? Mana yang sakit?” Ummi tersenyum pada bocah kurus itu. ah, sama sekali tak tampak kelelahan yang diceritakan teman-teman. Juga wajah yang cerah itu selalu menampakkan senyum, sama sekali tidak terbesit kesedihan. Justru nampak ketegaran yang tak terkalahkan.
Ah Ummi, tapi seorang bunda tetaplah seorang bunda. Bolehkah ku curi kekhawatiranmu tentang putramu Azzam?
“ Ini… “ Jawan Azzam merintih sakit sambil memegangi perutnya yang nampak buncit.
Kuberi senyum lagi bocah itu, tapi dibuangnya lagi dan dicarinya lagi tatapan bundanya.
Ah, keberadaanku memang sangat tidak bermanfaat. Setidaknya hanya ingin memberikan warna lain di ruang berwarna putih biru itu. Tapi senyum Azzam tidak juga kudapati. Apakah karena begitu sakit yang ia rasa. Sampai sekedar senyum tentang cerita lucu gajah kecil Riyan dan Jerapah pun tak ada untukku. Cerita yang secara terpatah-patah ku ceritakan untuk mengalihkan sakitnya itu, tak juga mengelakkan pandang matanya untuk terus mencari Umminya yang sedang sholat asar di ruang yang berbeda.
“Nggg… “ Selalu begitu. Pun sepatah kata belum ada untukku. Ah, apa salahku Azzam…
***
Gedung Central bedah ini begitu megah. 7 lantai yang menjulang tinggi dan memantulkan sinar matahari di jum’at siang. Di gedung inilah dilakukan operasi bedah Azzam. Aku tidak mampu membayangkan bagaimana bocah kecil itu akan menahan bekas sayatan yang dilakukan oleh dokter- dokter bertangan dingin itu. sabarlah, mungkin kau hanya harus menahan perih itu selama seminggu. Usai itu, kau akan bisa bermain dengan kakak dan adikmu di rumah yang sudah 2 minggu kau tinggal.
Lantai enam ini begitu lengang. Ku baca deretan nama yang hari ini menjalani pembedahan. Namamu yang bermakna begitu kukuh itu berada di urutan kedua dari bawah. Abdul Azzam. Kau mengingatkanku pada Abdullah Azzam. Mujahid yang syahid di tanah suci Palestina dan menajadi catatan sejarah tersendiri dikalangan prajurit Hammas.
Kumasuki ruang tunggu. Tampak Ummi dengan jilbab kaos kremnya sedang membaca al-qur’an mungil menghadap kiblat. Ah Ummi, memang Al-qur’an itulah obat hatimu yang pasti sedang galau.
“ Mi… ?”. Ku sentuh bahunya pelan.
“ Eh, Ammah”. Ummi tersenyum kecil padaku. Ah, kucuri lagi kekhawatiranmu itu Ummi. Ku ganti dengan senyum yang mungkin tidak akan menyembuhkan.
“ Tak lanjutkan dulu ya tilawahnya? “ Pintanya
Aku mengangguk pelan dan masih berusaha memberikan senyum. Mencoba meneguhkanmu Ummi, namun sepertinya kau tak butuh.
Absorbsi abses. Entah, metode apa yang digunakan para dokter itu pada perut Azzam yang semakin hari semakin membuncit itu. dengan badan yang semakin kurus dan wajah yang tirus. Pembengkakan hati yang diderita telah memusnahkan senyum bocah kecil itu. aku belum pernah melihat senyumnya sejak pertama kali menemuimu Azzam. Dan setelah ini, mungkin aku agak lama aku akan menjumpai senyummu. Ah Azzam, kau tahu apa yang membuatku begitu menyayangimu? Ketika Ummimu berkata
“ Mah, Alloh memang begitu sayang dengan anak ini ya. mungkin dia memang anak yang sangat kuat. Sampai Alloh memberikan sakit ini ke Azzam. “
Kata-kata itu membuatku begitu kerdil Azzam. Sejak kecil aku selalu sehat. Jika sakitpun mungkin paling parah hanya tifus. Itu juga tak sampai haru dirawat di rumah sakit. Bundamu memang benar. Kau begitu kuat.
***
“ Nggg… nggg…. “. Masih dengan nada yang sama. Hanya dengan frekuensi yang yang lebih sering. Kau semakin dingin menatapku. Tanpa kata-kata yang mungkin sudah biasa untukku. Katakan Azzam, apa yang yang harus ku lakukan untukmu?
Hari ini aku tidak berhasil membawakan donat polos pesananmu. Kenapa donat yang biasanya coklatnya warna warni itu kau tidak suka seperti anak-anak kebanyakan? Tapi ammah yang lain akan segera membawakannya untukmu. Tenang saja.
“ Bukan abses Mah.” Ujar ummi tiba-tiba membuka kebisuan.
“ Terus?” Aku bertanya bingung. Kalau begitu, operasi kemarin sia-sia belaka. Dokter-dokter itu salah diagnosis. Ah, rontsen dan CT Scan dan pengetahuan semua dokter itu telah membuktikan bahwa mata dan teknologi manusia hanya mampu menembus sampai dimensi tiga.
“ Belum tahu. Hatinya bersih. Nggak ada benjolan, nggak ada nanah. Bersih. Operasi kemariin akhirnya hanya diambil jaringan hatinya. Bisa jadi bakteri, atau juga yang lain. Ah… nggak tahulah. Hasilnya masih nunggu dari lab patologi. Kamis atau baru bisa tahu hasilnya. Itu juga paling cepat” Jelas Ummi setengah pasrah.
Ya Alloh… sampai sejauh ini dan sesakit itu dengan ditambah luka sayatan belum juga ada titik terang. Ini baru hari Sabtu, artinya segala ketidakpastian masih akan berlangsung selama 5 hari lagi.
“ Nggg… Nggg… “. Hanya itu yang mampu keluar dari rengekannya.
“ Sakitt!!! “
Hoh, aku tercekat. Azzam berteriak mengerang kesakitan menahan luka sayatan itu.
“ Mah, lihat gih. Dari tadi keluar cairan terus dari bekas sayatannya.”. Ummi menunjukkan sayatan yang berada di perut Azzam dengan membuka sedikit selimut yang membungkus badan bocah bermata jeli itu. Biar sakit, kau tampak tetap elok Azzam. Mata jelimu itu… Ah, Azzam.
Tampak lembab dan basah selimut yang berada disekitar sayatan itu. Dan ternyata cairan itu terus keluar dari ujung luka sebelah kiri.
“ Mi, dari kapan ini?” Tanyaku heran. Tak lazim kupikir. Bukan berwarna merah, tapi bening ke kuning-kuningan. Sedikit amis.
“ Udah dari tadi mah. Kata suster nggak papa. tapi nggak juga berhenti.” Jelas Ummi padaku menatap tajam.
“ Sakitt!!!” Teriak Azzam yang membuat Ummi dan aku semakin menyayat jiwa.
Aku segera keluar dari kamar yang semakin pucat itu ke ruang dokter. Ku buang tatapanku ke beberapa suster yang berjaga. Kalau aku mengatakan pada mereka, mereka pun mungkin hanya berujar
nggak papa kok mbak…
Aku dapati dokter baru saja kembali dari bangsal yang lain. Kuhampiri, tak mampu menyimpan kekhawatiranku ku tatap wajah dokter itu lekat, memohon.
“ Ya?”. Sapa dokter muda itu.
“ Dari tadi keluar cairan kuning dari luka sayatan Azzam. Masalahnya nggak juga berhenti dan udah dari tadi dok.” Ujarku menjelaskan.
Dokter itu langsung menuju ke kamar Azzam.
“ Sebentar ya Nak… “. Dokter itu merayu untuk membuka kembali selimut yang menutupi perut buncit itu.
“ Ok. Bantu saya bawa Azzam ke ruang tindakan ya. Kita ganti perbannya.” Jawab dokter muda itu tenang.
Setidaknya Azzam tidak dibiarkan tanpa diapa-apakan. Ummi sedikit lega tampaknya. Ada tindakan akhirnya dan tidak mementahkan lagi rasa sakit putranya itu.
Ummi menggendong tubuh Azzam. Kupegangi infus yang sudah menghiasi perawatan Azzam selama 10 hari ini. hanya berjarak 4 meter menuju ruang tindakan.
Azzam terus merintih. Terus merintih dengan frekuensi yang lebih sering. Dibaringkannya tubuh putranya diatas meja tindakan. Dibukanya keseluruhan selimut dari dari tubuh Azzam. Ah, aku semakin miris melihat tubuh anak ini. Sayatan sepanjang 25 cm itu melintang diperut yang lebih buncit dari sebelum operasi.
“ Sakitt!!!” Jerit Azzam melengking berkali-kali.
Dibukanya perban itu oleh dokter, dan semakin lengking jeritan Azzam.
“ Sakitt!!!”
“ Mbak sama ibu di luar aja yah. Nggak papa kok. Ok? “ Suster diruangan itu mengusir kami. Aku segera keluar karena sudah tak mampu melihat pemandangan tadi. Ummi kekeh untuk berada disamping putranya. Tak terasa tiba-tiba ada bendungan hangat dimataku, mengucur tiba-tiba. Nanar.
***
Sudah 4 hari aku belum menjenguk Azzam lagi. dan tiba-tiba saja aku rindu bocah bermata jeli itu. Dengan memastikan Ummi selalu ditemani Abi, dan dengan demikian Ummi akan lebih tenang. Sebelum rapat sore ini aku akan menjenguknya lagi. Ah Azzam, bukankah hari ini hasil lab itu akan memberikan penjelasan tentang semuanya.
I message received
Ammah, afwan slalu mrepotkn. Adakah yg bs mmbawkn azzam donat polos lg?
Aku hanya tersenyum membaca sms itu. Sekaligus membuka senyumku pagi ini.
yup, nanti Yuli carikn ya mi. mudah2an dapet.
Message sent!
***
“ Wah mbak. Harus pesan dulu. Dan baru bisa besok. Atau yang serba coklat?”. Tanya penjaga toko Dunkis Donut yang berada di swalayan mirota kampus itu.
“ Mm… nggak usah aja deh. Baru bisa besok ya jadinya?” Aku ragu mengiyakan.
“ Iya mbak. Maaf ya mbak…” Senyum gadis penjaga itu sembari manggut.
“ Ok. Nggak papa. permisi… “ Aku pamit dengan sedikit kecewa. Hoh, kemana ya mencari donat polos kesukaanmu itu Zam? Semoga ammah yang lain sudah membawakannya untukmu. Aku menyerah.
Ku laju Umair menuju Sardjito lagi. parkir sebelah utara disore hari memang tidak sepadat ketika pagi atau siang. Parkir yang dekat dengan tempat pendaftaran dan juga poliklinik itu memang lebih dekat ke ruang Melati dari pada yang di selatan.
Kulangkahkan kakiku pasti. Aku hanya rindu Azzam. Semilir angin sore mendingikan jiwaku. Menghempas jilbab kaos krem yang kukenakan. Lembut, sangat lembut. Kupercepat langkahku. Karena aku hanya punya waktu satu jam. Tidak seperti biasanya yang sampai malampun aku bisa. Dihari-hari akhir kepengurusann senat dikampus membuatku semakin jauh untuk menyentuh tugas akhirku. Juga amanah sebagai PJS ketua yang belum lama ku emban ini, membawa diriku ke euforia tiap akhir tahun, bagaimana aku begitu keras berjuang untuk khusnul khotimah di amanah-amanah yang menantang.
“ Assalamu’alaikum… “ Ku buka pintu kamar nomor lima ini.
“ Wa’alaikumsalam… “ Jawab mbak Nuri yang saat itu sedang menemani Ummi. Tatapannya bisu. Kualihkan pandanganku.
Ah, kudapati senyum kecil Ummi tak setegar biasanya. Dan… Astagfirulloh… pemandangan baru tampak janggal dengan adanya tabung oksigen yang tampak mendesis cairan bening diujung tapalnya. Dan selang yang diujung itu menghubung ke hidung bocah bermata jeli itu.
“ Mi…??”. Aku meminta penjelasan.
“ Tadi siang ia terkejut. Sekarang begini… “ Lirih sekali Ummi menjawab tanpa memandangku. Hanya tertuju pada mata putranya.
“ Azzam… “ Aku menyapanya sembari menawarkan kerlingan mata.
Anak itu diam saja. Tidak ada rengekan seperti biasanya. Sama sekali. Diam. Juga matanya. Hanya menatap kesana kemari. Ah, wajahnya tidak secerah biasanya. Ku pegang keningnya. Dingin. Telinganya juga berwarna pucat kuning. Ku sentuh, juga dingin. Juga telapak tangannya semakin pucat.
“ Kok.. ??”. Ah, aku berani tidak berani bertanya.
“ dingin …??” Lanjutku.
Mbak Nuri menarikku tanganku mundur.
“Pengawasan 24 jam. Pejet kuku jempol kakinya. Kaya’ gini. Klo nggak balik, cepet panggil dokter.” Jelas mbak Nuri pelan sembari mempraktekkan. “ Azzam dipuasakan dari tadi pagi.” Tambahnya.
Ah, aku ingin berkata-kata lagi. tapi tidak tahu apa yang mesti ku ucap atau yang ingin kutanya.
“ Diagnosisnya?”. Spontan saja aku ingat ini hari keluarnya hasil lab.
Mbak Nuri geleng kepada “ Belum tahu.”
“ Permisi… “. Dari arah pintu dokter penjaga Azzam menyapa kami. Pandangan kami mengarah padanya.
“ Bu… “. Sapanya sambil mengangguk, meminta Ummi untuk ikut keluar ruangan.
“ Begini bu. Kami sudah menerima hasil dari lab patologi. Hasilnya bahwa pembengkakan di hati Azzam adalah akibat saluran antara empedu dan hati yang terinfeksi. Ada dua kemungkinan penyebabnya. Yang pertama bakteri, atau yang faktor genetis. “
Aku menguping pembicaraan mereka dibelakang Ummi. Penjelasan yang hampir seperempat jam itu membuatku dan Ummi banyak bertanya. Jarang sekali bisa berdiskusi bebas dengan dokter. Segala istilah baru keluar dari pelajaran yang mungkin terhitung dua sks itu begitu rumit. Namun aku berusaha mengerti dengan analogi-analogi yang dokter muda itu gambarkan.
“ Pembengkakan yang terus menerus itu telah menghimpit beberapa organ disekitarnya. Lambung, usus, bahkan ginjal. Desakan itu menghimpit dan juga melukai beberapa organ. Makanya kita peroleh air besar Azzam yang menghitam Juga air kencing yang tambah pekat warnanya karena telah bercampur dengan darah. Bayangkan ukuran hati Azzam 10x lebih besar dari ukuran normal anak seumurnya. Dan organ disekitanya otomatis mendapat tekanan 9x lebih besar.” Tambah dokter itu.
“ Lalu dok. Apa program team dokter selanjutnya?” Tanya Ummi yang kali ini tampak begitu cemas.
“ Besok kita cek ginjalnya. Apakah ikut terhimpit atau tidak”. Jawaban yang tidak menjawab.
“ Maksudnya untuk pengobatan infeksi di saluran hati dan empedunya itu?!” Tanya Ummi berani.
“ Bisa Jadi transplantasi. Tapi… kita tunggu kondisi Azzam lebih baik. Kondisi yang seperti ini tidak memungkinkan. “ Jelas dokter itu lagi.
Meski belum puas berdiskusi dengan dokter, Ummi mencoba lebih tenang. Ia hanya menggeleng kepala. Aku hanya mampu mengelus pundaknya.
“ Terlalu berat mah untuk bocah sekecil Azzam”. Ucapnya lirih.
Ku elus halus lagi pundak wanita tegar itu. Menganguk angguk mengiyakan. Tanpa kata-kata.
Sedang dikejauhan terdengar azan. Waktu asar tiba.
“ Yuk, sholat dulu”. Ummi bergegas ke kamar mandi mengambil air wudhu. Jalannya gontai.
Aku ke kamar Azzam. Dan kudapati tiba-tiba Azzam muntah. Cairan yang keluar dari mulutnya berwarna coklat. Tapi, bukannya Azzam puasa dari tadi pagi?? Rupanya cairan inipun telah tercampur darah.
***
Hari Jum’at, hari yang pendek. Masih pagi. Seperti biasa berada didepan kompi. Menyusun karya-karya sastraku, dunia yang belum lama asik kugandrungi.
Ada ganguan kecil di layar monitor. Kerlip kecil karena lewat gelombang panggilan telphone dari Hp samsungku.
Calling
Ummi Atik
Mmm… ku tunggu. Mungkin hanya misscall. Tidak biasanya Ummi menelphone ketika meminta tolong. Atau…
***
Ku kebut Umair sebisaku. Tiga lampu merah kucuri warna kuningnya dengan kecepatan maksimal. Aku hanya terus membisu. Mencoba berfikir. Ah, mungkin ini memang yang terbaik untuk Azzam. Bocah kecil yang telah mamangku luka yang begitu berat. Kau pasti langsung mendapatkan dan menikmati donat polosmu yang paling lezat. Dan juga tanpa rasa sakit seperti biasanya.
Aku naik lewati tangga menuju lantai 2. Dan… derek beroda mencegatku di ujung tangga yang berpapasan dengan lift. Tampak Abi, seorang kawan dan dua perawat mendorong derek itu. Dan aku hanya terpaku menghempaskan badanku ke tembok dan mengalirkan bening hangat dari mataku. Kau berada dalam balutan warna biru muda itu. tanpa nafas dan juga denyut jantung lagi. namun kau mungkin kini punya sayap. Memudahkanmu yang sekedar bergerak kesana kemari berputar-putar dan bermain lagi. dan satu yang pasti, menanti Ayah Bundamu di surga, kenikmatan yang abadi.
***
Hari ini bayang-bayang Azzam kembali menggelanyuti pikiranku tiap harinya. Gambar-gambar wajah polos dibalik layar mengajakku untuk mencium kening para mujahid kecil itu. Para mujahid kecil bermata jeli. Berderet panjang berbaris untuk disholatkan. Warna hijau surga yang membalut bocah-bocah Filishtin itu terlukis putih kalimah tertinggi. Meneguhkan iman, dan meyakinkan bahwa telah tertulis oleh Al Qolam bahwa perang ini akan berlangsung sampai akhir zaman.
Dengan itu mengalirlah aroma juang dalam jiwa, cita-cita untuk menyusul mengusung perjuangan terus mendidih dan hanya mampu mengalirkan air mata.
Azzam, kau mengawaliku untuk lebih dekat pada mereka. Kubayangkan mencium kening mereka seperti mencium keningmu dulu. Hai Azzam, sudahkah kau bertemu dengan Abdullah Azzam? Sedangkan kau disanapun akan mendapatkan banyak teman baru. Bocah-bocah yang juga bermata jeli sepertimu itu. Mujahid-mujahid kecil Filishtin.
Terima kasih Azzam.
Kisah nyata perjalanan ruhani penulis di pertengahan November 2008.
Ummi, kapan berkunjung ke Yogyakarta lagi?
Monday, January 12, 2009
Terima kasih, Ayah
sebuah karangan etalase cinta di masa depan. yang masih menjadi mimpi. untuk Bapak tercinta. laki-laki mutiara itu
maaf, jika aku hanya mampu menuliskan tentang ini.
“ Kenapa Ayah tidak mengatakan ini sebelum aku pulang?” Putri memaku wajahnya pada tembok yang putih. Sedang di sudut, berdiri kakaknya yang sedari tadi sabar mendengar caci maki yang keluar dari tutur adiknya tersayang.
“ Bang, mohonkan pada ayah. Aku ingin ayah mempertimbangkan lagi. Aku tidak kenal orang itu. Aku tidak tahu bagaimana menyampaikan ini. “ Wajahnya semakin tertunduk. Ia memerlukan pegangan untuk sekedar menegakkan badan.
“ Put, abang juga tidak ingin kau jauh dari rumah nantinya.” Ucap kakaknya ragu.
“Bang, siapa yang sudi merajut cinta yang tak berbentuk?!”. Ujar Putri menuduh.
“ Kau anak putri satu-satunya milik ayah. Ibu pernah berpesan, jangan sampai kau salah mendapatkan pendamping hidup”. Jelas kakaknya lagi.
“ Aku tidak bisa memahami apa mau ayah. Menikahkanku dengan orang yang sama sekali tak ku kenal. Tanpa nama, tanpa identitas, dan lusa? Gila. Ayah sudah gila. Aku seperti tidak mengenalnya lagi. “ Putri semakin tampak geram.
“ Tutup mulutmu Putri! Kau sudah keterlaluan berkata demikian tentang ayah. Percayalah, ayah memilihkan yang terbaik untukmu.” Kali ini satu-satunya abang tercinta memarahinya.
“ Tinggalkan aku sendiri disini Bang. Pergilah. Maafkan aku… “ Putri memohon untuk sendiri dikamarnya yang lama tak terurus itu. Belum selesai ia membereskan kopernya sepulang kemarin dari kota pelajar dimana ia menuntut ilmu. Juga belum ia mampu meluluhkan hatinya dari kisahnya dengan Rio, kali ini datang dari ayahnya sendiri. Laki-laki mutiara itu.
Ia teringat bagaimana Rio tiba-tiba memutuskan untuk meninggalkan kota dan juga dirinya. Tanpa alasan. Hanya surat yang bertanggal 3 hari setelah kepergian laki-laki yang juga ia tidak diberi tahu dimana tempatnya. Masih ingat bagaimana ia pertama kali berjumpa dengan kekasih hatinya itu. Begitu cantik untuk dikenang.
Dan yang melekat dijiwanya pada diperjuampaan pertamanya itu adalah lantunan Al-Qur’an yang saat itu dibacakan usai ia sholat asar di sebuah masjid kecil seberang kampusnya. Bacaan dari surat favouritenya, Al Mulk. Saat itu ia terhenyak, sungguh bacaan yang indah.
“ Assalamu’alaikum… “ Suara yang ia hafal betul siapa itu datang menggugahnya dari masa lalu.
“ Wa’alaikumsalam.. “. Jawab gadis itu takzim.
“ Maafkan ayahmu ini. Tidak terbesit sama sekali untuk menghancurkan masa depanmu. Justru sebaliknya. Ayah ingin yang terbaik.” Tutur laki-laki paruh baya itu.
Putri hanya memantung diam. Ia menjaga sikap takzim dengan ayahnya tercinta. Ada sesuatu yang ia tahan dalam dadanya. Begitu berat. Tapi tak juga terucap.
“ Ayah belum menjelaskan kenapa secepat ini.” Tambah Ayah.
“ Sepertinya Ayah tidak perlu menjelaskan. Sama seperti kenapa Putri akan jauh dari Ayah” Jawab Putri lirih.
“ Put… “.
“ Sudahlah Yah… biarkan Putri menenangkan diri.” Pinta Putri pada ayahnya. Ia tidak faham, apakah sopan mengusir ayahnya itu. Orang yang paling ia cintai di dunia ini.
Laki-laki berumur 55 tahun itu meninggalkan putrinya sendiri. Dengan kesunyian yang memang menjadi kegemaran putri tunggalnya itu.
Putri merasa berhak untuk marah. Namun, di depan ayahnya ia tidak akan mampu melakukannya. Mesir adalah tempat yang sangat jauh, yang bisa jadi tidak membawanya pulang kembali ketanah air. Harumnya tanah yang disiram hujan tidak akan pernah ditemui disana. Juga hijaunya kebun pisang di sekitar pemandangan danau tak akan pernah nampak lagi. Dan Mesir, tanah yang bercadas, juga panas yang menyengat. Tapi bukan itu. ia hanya ingin menjaga ayahnya tercinta. Ia hanya ingin tinggal dekat ayahnya. Mendapingi hari-hari tua ayahnya dan membahagiakan dengan cucu-cucu darinya.
Masih ingat perbincangan terakhir bagaimana ayah mencoba menjelaskan yang justru menimbulkan banyak pertanyaan.
“ Putri, kau pernah mengatakan pada ayah bahwa kau menginginkan orang yang soleh. Mujahid di jalan dakwah ini, orang yang akan membawamu dan juga keluarga kita ke surga bersama-sama. “ Jelas Ayah tegang.
“ Ah, Apa sih maksud ayah.” Sela Putri malu. Ia menanggapi dengan sedikit senyum. Itu adalah impian dari gadis belia di awal mengenal jalan perjuangna ini
“ Put, Ayah belum pikun.” Jawab laki-laki itu serius.
Putri kini terdiam. Tak berkutik. Ayahnya tidak main-main dengan apa yang akan disampaikan.
“ Katakan saja apa maksud ayah.” Jawab Putri tak sabar.
“ Lusa, mujahid itu akan menikahimu. Dan esok harinya ia akan langsung membawamu ke Mesir untuk melanjutkan studi doktornya.” Tanpa ragu ayah mengucapkan tiap kalimat. Dan usai itu pergi.
Putri sedang tidak bermimpi. Itulah kenyataannya. Tidak ada loby, tidak juga diskusi. Semuanya telah final. Ia berdalil bahwa Rosululloh pun memberikan hak bagi wanita yang akan menikah untuk melihat calon suaminya. Dan hanya ini saja yang terkabulkan.
Malam kali ini adalah malam terpekat yang pernah ia lalui. Sudah tengah malam, namun matanya tidak juga terpejam. Lukanya yang belum sembuh ketika di tinggal Rio, juga yang ia sebut sebagai “calon mujahid”. Dengan harapan yang begitu gamblang. Membuat kuncup jiwanya mekar. Dan masa depan yang sangat tampak terang.
Kenapa harus begini?
Pertanyaan yang tidak mampu ia jawab. Tidak logis.
Namun, terus mengingat hal itu semakin mengiris lukanya. Tiba-tiba bening dimatanya tidak terbendung. Mengalir seperti arak sungai di hilir. Ia segera bangun dan mengambil air wudhu. Dikenakannya mukena putih itu. Dan menghadap Robb semesta alam memohon petunjuk.
***
“ Put, seperti apa maumu. Orangnya sudah menunggu didepan.” Abangnya memanggil dari sela pintu yang tidak tertutup rapat.
“ Iya. Aku kesana. Abang tidak udah khawatir. Aku lebih baik hari ini.” Jawab Putri meyakinkan kakaknya untuk tidak mencemaskan dirinya.
Ia kenakan gamis biru mudanya. Juga dengan setelan jilbab biru muda. Dilihatnya dicermin bayangannya. memastikan tidak ada lagi bengkak dimatanya. Sisa-sisa dari tenaga untuk mengumpulkan jiwanya semalam.
Ia mohon berkali-kali kekuatan pada Alloh. Untuk dapat meneguhkan kembali jiwanya. Dan siap menerima pecahan misteri kehidupan selanjutnya.
Ya Rahman, teguhkan jiwa ku yang memang seseungguhnya rapuh…
Bismillahirrohmanirrohim…
Ia buka pintu kamarnya. Sembari membuka pintu hatinya yang hampir tertutup rapat untuk semua ketentuan. Ia tatap masa dihadapan dengan penuh yakin bahwa Alloh akan selalu mentakdirkan yagn terbaik bagi hamba-hambanya.
Ia angkat wajahnya menghadapi kenyataan.
“ Assalamu’alaikum… “ Sapa Putri dari balik pintu tengah.
“ Wa’alaikum salam… “. Jawab ayah berbarengan dengan laki-laki yang sedang menunggunya.
Namun, putri merasa waktu kini benar-benar berhenti. Mematungnya dari segala arah. Terlintas dibenaknya apakah ini mimpi atau bukan. Bahwa laki-laki yang datang padanya adalah Rio. Rio yang telah singgah dihatinya beberapa waktu lalu. Yang denga khayalan terbangunlah bunga-bunga mimpi yang elok di taman Sungguh kejutan yang membuatnya tercekat.
“ Kau… ?!”. Ucap Putri terkejut menatap nanar laki-laki didepannya.
Untuk yang kedua kalinya Putri tidak mampu lagi membendung bening air matanya mengalir. Seakan kejutan yang lekang dari bom waktu yang dahsyat.
“ Ayah, jelaskan ini”. Pinta Putri tersedu.
***
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Untuk ayah tercinta.
Bagaimana kabar ayah? Semoga sehat selalu dan semoga Alloh melindungimu selalu. Yah, mungkin juga dirimu disana. Rindu sekali putri ayah ini. hanya do’a yang mampu putri haturkan. Dan do’akan selalu Putrimu ini.
Ayah, sebagaimana ayah tahu bahwa hari ini Israel menggempur jalur Gaza. Semoga kita selalu diberi keikhlasan dengan semua ketentun. Mas Rio sudah seminggu berada di perbatasan Mesir-Gaza. Dan akhirnya beliau berhasil masuk dan menjadi relawan dokter di rumah sakit Asyifa, membantu para korban luka-luka yang dirawat disana.
Ayah, terimakasih nanda haturkan. Telah mempertemukan Putrimu ini dengan mujahid impian. Impian yang telah menjadi kenyataan. Bahwa mas Rio telah menjemput syahidnya. Dan menunggu kita disana. Dimana mengalir dibawahnya sungai-sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih lembut dari susu. Yang tidak ada kekhawatiran lagi didalamnya dan juga keindahan yang tiada tandingannya.
Ayah, mujahid yunior pun akan segera lahir ke bumi. Jangan pernah hentikan do’a-do’a ayah untuk Putrimu disini. Tugas putri belum selesai dan baru saja dimulai.
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb
Salam hangat dan rindu untuk ayah tercinta
Putri
maaf, jika aku hanya mampu menuliskan tentang ini.
“ Kenapa Ayah tidak mengatakan ini sebelum aku pulang?” Putri memaku wajahnya pada tembok yang putih. Sedang di sudut, berdiri kakaknya yang sedari tadi sabar mendengar caci maki yang keluar dari tutur adiknya tersayang.
“ Bang, mohonkan pada ayah. Aku ingin ayah mempertimbangkan lagi. Aku tidak kenal orang itu. Aku tidak tahu bagaimana menyampaikan ini. “ Wajahnya semakin tertunduk. Ia memerlukan pegangan untuk sekedar menegakkan badan.
“ Put, abang juga tidak ingin kau jauh dari rumah nantinya.” Ucap kakaknya ragu.
“Bang, siapa yang sudi merajut cinta yang tak berbentuk?!”. Ujar Putri menuduh.
“ Kau anak putri satu-satunya milik ayah. Ibu pernah berpesan, jangan sampai kau salah mendapatkan pendamping hidup”. Jelas kakaknya lagi.
“ Aku tidak bisa memahami apa mau ayah. Menikahkanku dengan orang yang sama sekali tak ku kenal. Tanpa nama, tanpa identitas, dan lusa? Gila. Ayah sudah gila. Aku seperti tidak mengenalnya lagi. “ Putri semakin tampak geram.
“ Tutup mulutmu Putri! Kau sudah keterlaluan berkata demikian tentang ayah. Percayalah, ayah memilihkan yang terbaik untukmu.” Kali ini satu-satunya abang tercinta memarahinya.
“ Tinggalkan aku sendiri disini Bang. Pergilah. Maafkan aku… “ Putri memohon untuk sendiri dikamarnya yang lama tak terurus itu. Belum selesai ia membereskan kopernya sepulang kemarin dari kota pelajar dimana ia menuntut ilmu. Juga belum ia mampu meluluhkan hatinya dari kisahnya dengan Rio, kali ini datang dari ayahnya sendiri. Laki-laki mutiara itu.
Ia teringat bagaimana Rio tiba-tiba memutuskan untuk meninggalkan kota dan juga dirinya. Tanpa alasan. Hanya surat yang bertanggal 3 hari setelah kepergian laki-laki yang juga ia tidak diberi tahu dimana tempatnya. Masih ingat bagaimana ia pertama kali berjumpa dengan kekasih hatinya itu. Begitu cantik untuk dikenang.
Dan yang melekat dijiwanya pada diperjuampaan pertamanya itu adalah lantunan Al-Qur’an yang saat itu dibacakan usai ia sholat asar di sebuah masjid kecil seberang kampusnya. Bacaan dari surat favouritenya, Al Mulk. Saat itu ia terhenyak, sungguh bacaan yang indah.
“ Assalamu’alaikum… “ Suara yang ia hafal betul siapa itu datang menggugahnya dari masa lalu.
“ Wa’alaikumsalam.. “. Jawab gadis itu takzim.
“ Maafkan ayahmu ini. Tidak terbesit sama sekali untuk menghancurkan masa depanmu. Justru sebaliknya. Ayah ingin yang terbaik.” Tutur laki-laki paruh baya itu.
Putri hanya memantung diam. Ia menjaga sikap takzim dengan ayahnya tercinta. Ada sesuatu yang ia tahan dalam dadanya. Begitu berat. Tapi tak juga terucap.
“ Ayah belum menjelaskan kenapa secepat ini.” Tambah Ayah.
“ Sepertinya Ayah tidak perlu menjelaskan. Sama seperti kenapa Putri akan jauh dari Ayah” Jawab Putri lirih.
“ Put… “.
“ Sudahlah Yah… biarkan Putri menenangkan diri.” Pinta Putri pada ayahnya. Ia tidak faham, apakah sopan mengusir ayahnya itu. Orang yang paling ia cintai di dunia ini.
Laki-laki berumur 55 tahun itu meninggalkan putrinya sendiri. Dengan kesunyian yang memang menjadi kegemaran putri tunggalnya itu.
Putri merasa berhak untuk marah. Namun, di depan ayahnya ia tidak akan mampu melakukannya. Mesir adalah tempat yang sangat jauh, yang bisa jadi tidak membawanya pulang kembali ketanah air. Harumnya tanah yang disiram hujan tidak akan pernah ditemui disana. Juga hijaunya kebun pisang di sekitar pemandangan danau tak akan pernah nampak lagi. Dan Mesir, tanah yang bercadas, juga panas yang menyengat. Tapi bukan itu. ia hanya ingin menjaga ayahnya tercinta. Ia hanya ingin tinggal dekat ayahnya. Mendapingi hari-hari tua ayahnya dan membahagiakan dengan cucu-cucu darinya.
Masih ingat perbincangan terakhir bagaimana ayah mencoba menjelaskan yang justru menimbulkan banyak pertanyaan.
“ Putri, kau pernah mengatakan pada ayah bahwa kau menginginkan orang yang soleh. Mujahid di jalan dakwah ini, orang yang akan membawamu dan juga keluarga kita ke surga bersama-sama. “ Jelas Ayah tegang.
“ Ah, Apa sih maksud ayah.” Sela Putri malu. Ia menanggapi dengan sedikit senyum. Itu adalah impian dari gadis belia di awal mengenal jalan perjuangna ini
“ Put, Ayah belum pikun.” Jawab laki-laki itu serius.
Putri kini terdiam. Tak berkutik. Ayahnya tidak main-main dengan apa yang akan disampaikan.
“ Katakan saja apa maksud ayah.” Jawab Putri tak sabar.
“ Lusa, mujahid itu akan menikahimu. Dan esok harinya ia akan langsung membawamu ke Mesir untuk melanjutkan studi doktornya.” Tanpa ragu ayah mengucapkan tiap kalimat. Dan usai itu pergi.
Putri sedang tidak bermimpi. Itulah kenyataannya. Tidak ada loby, tidak juga diskusi. Semuanya telah final. Ia berdalil bahwa Rosululloh pun memberikan hak bagi wanita yang akan menikah untuk melihat calon suaminya. Dan hanya ini saja yang terkabulkan.
Malam kali ini adalah malam terpekat yang pernah ia lalui. Sudah tengah malam, namun matanya tidak juga terpejam. Lukanya yang belum sembuh ketika di tinggal Rio, juga yang ia sebut sebagai “calon mujahid”. Dengan harapan yang begitu gamblang. Membuat kuncup jiwanya mekar. Dan masa depan yang sangat tampak terang.
Kenapa harus begini?
Pertanyaan yang tidak mampu ia jawab. Tidak logis.
Namun, terus mengingat hal itu semakin mengiris lukanya. Tiba-tiba bening dimatanya tidak terbendung. Mengalir seperti arak sungai di hilir. Ia segera bangun dan mengambil air wudhu. Dikenakannya mukena putih itu. Dan menghadap Robb semesta alam memohon petunjuk.
***
“ Put, seperti apa maumu. Orangnya sudah menunggu didepan.” Abangnya memanggil dari sela pintu yang tidak tertutup rapat.
“ Iya. Aku kesana. Abang tidak udah khawatir. Aku lebih baik hari ini.” Jawab Putri meyakinkan kakaknya untuk tidak mencemaskan dirinya.
Ia kenakan gamis biru mudanya. Juga dengan setelan jilbab biru muda. Dilihatnya dicermin bayangannya. memastikan tidak ada lagi bengkak dimatanya. Sisa-sisa dari tenaga untuk mengumpulkan jiwanya semalam.
Ia mohon berkali-kali kekuatan pada Alloh. Untuk dapat meneguhkan kembali jiwanya. Dan siap menerima pecahan misteri kehidupan selanjutnya.
Ya Rahman, teguhkan jiwa ku yang memang seseungguhnya rapuh…
Bismillahirrohmanirrohim…
Ia buka pintu kamarnya. Sembari membuka pintu hatinya yang hampir tertutup rapat untuk semua ketentuan. Ia tatap masa dihadapan dengan penuh yakin bahwa Alloh akan selalu mentakdirkan yagn terbaik bagi hamba-hambanya.
Ia angkat wajahnya menghadapi kenyataan.
“ Assalamu’alaikum… “ Sapa Putri dari balik pintu tengah.
“ Wa’alaikum salam… “. Jawab ayah berbarengan dengan laki-laki yang sedang menunggunya.
Namun, putri merasa waktu kini benar-benar berhenti. Mematungnya dari segala arah. Terlintas dibenaknya apakah ini mimpi atau bukan. Bahwa laki-laki yang datang padanya adalah Rio. Rio yang telah singgah dihatinya beberapa waktu lalu. Yang denga khayalan terbangunlah bunga-bunga mimpi yang elok di taman Sungguh kejutan yang membuatnya tercekat.
“ Kau… ?!”. Ucap Putri terkejut menatap nanar laki-laki didepannya.
Untuk yang kedua kalinya Putri tidak mampu lagi membendung bening air matanya mengalir. Seakan kejutan yang lekang dari bom waktu yang dahsyat.
“ Ayah, jelaskan ini”. Pinta Putri tersedu.
***
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Untuk ayah tercinta.
Bagaimana kabar ayah? Semoga sehat selalu dan semoga Alloh melindungimu selalu. Yah, mungkin juga dirimu disana. Rindu sekali putri ayah ini. hanya do’a yang mampu putri haturkan. Dan do’akan selalu Putrimu ini.
Ayah, sebagaimana ayah tahu bahwa hari ini Israel menggempur jalur Gaza. Semoga kita selalu diberi keikhlasan dengan semua ketentun. Mas Rio sudah seminggu berada di perbatasan Mesir-Gaza. Dan akhirnya beliau berhasil masuk dan menjadi relawan dokter di rumah sakit Asyifa, membantu para korban luka-luka yang dirawat disana.
Ayah, terimakasih nanda haturkan. Telah mempertemukan Putrimu ini dengan mujahid impian. Impian yang telah menjadi kenyataan. Bahwa mas Rio telah menjemput syahidnya. Dan menunggu kita disana. Dimana mengalir dibawahnya sungai-sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih lembut dari susu. Yang tidak ada kekhawatiran lagi didalamnya dan juga keindahan yang tiada tandingannya.
Ayah, mujahid yunior pun akan segera lahir ke bumi. Jangan pernah hentikan do’a-do’a ayah untuk Putrimu disini. Tugas putri belum selesai dan baru saja dimulai.
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb
Salam hangat dan rindu untuk ayah tercinta
Putri
Subscribe to:
Comments (Atom)