“ Hoalah le… gek ndang rampung sekolahmu. Mbok wes tuo, lantas itu adik-adikmu diurusi..” Wanita paruh baya itu mengeluh pada anak sulungnya yang tak kunjung menyelesaikan studinya di Jakarta.
“ Iyo Mak. Kalau Ari dah selesai SMA biar ikut aku ke Jakarta. Nanti kuliah nyambi kerja.” Sigit menenangkan Ibunya yang mulai tua itu. Fikirnya, coba kalau Bapak masih hidup. Mungkin Ibunya tidak udah sekhawatir itu dengan masa depannya dan dua adiknya.
“ Bapak dan Ibu cuma pengen liat kalian jadi orang sukses, jadi orang yang bermanfaat untuk orang banyak, juga negara kita. “ Wanita itu melanjutkan omongannya sambil membenahi kayu bakarnya yang sedang membakar tungku air. Terlintas dibenaknya para pahlawan zamannya kecil dulu, juga tokoh-tokoh kenamaan seperti Soekarno, Soedirman, dan Soe Soe lainnya yang pernah ia dengar di radio waktu kecilnya dulu.
“ Iyo Mak.” Jawab Sigit enteng. Namun, ada semburat sendu diwajahnya.
Ia sendiri harus bertahan hidup di Jakarta yang keras itu. Kulturnya yang Jawa memang sering kalah untuk soal gaya hidup di kampus. Tapi toh tidak apa, karena banyak yang bernasib sama dengannya. Yaitu anak desa yang pengen menimba ilmu di Jakarta. Masyarakat desanya yang sangat desa itu lah yang membuatnya gigih berjuang. Dan Bapak lah selama ini yang telah mendidiknya lewat mimpi-mimpi yang kemudian menjadi awan-awan cantik. Mengajaknya untuk mendobrak dinding-dinding pemisah peradaban para priayi dan orang miskin yang identik dengan pendididkan rendah.
“ Kamu, dan juga adikmu adalah orang-orang hebat. Dan akan seterusnya begitu.”
Yah, kalimat itulah yang akan terus menjadi pengantar tidurnya tiap malam.
Merantau adalah keputusan besar. Begitulah yang terjadi. Bersama dengan pemuda desanya ia merantau ke jakarta menjadi buruh pabrik atau bangunan untuk mencari rupiah. Namun awan-awan itu telah membawanya ke bangku kuliah sebuah universitas bergengsi. Keputusan besar yang diambilnya di tahun kedua hidupnya di Jakarta.
“ Aku akan buktikan ke Bapak, kalau anaknya memang orang hebat.”
Jas kuning yang ia kenakan tiap acara resmi mewarnai kulitnya yang hitam karena terbakar terik matahari, juga mewarnai hidupnya yang selama ini bergumul dengan batu, semen dan ember dan masih akan selalu begitu tiap sore sampai malam hari.
“ Jack, aku besok izin lagi ya. Aku ada acara.” Sigit berujar pada Joko yang dipanggilnya Jack, pemuda yang berasal dari desa yang sama dengannya. Senasib dan sepenanggungan.
Sedang sore itu masih tampak matahari menyengat. Menjelang musim kemarau panjang.
“ Hoalah, kamu terlalu sering izin. Bilang sendiri sama pak mandor. Aku bisa disemprot meminta izin kamu tiap hari. Kalau untuk kuliah ndak masalah, untuk yang lain, ndak mau.” Sambil menghela keringatnya Joko menolak permintaan Sigit. “ Lebih baik kamu cari kerja lain aja. Sekarang statusmu mahasiswa. Ada yang bisa kamu jual ke orang lain. Ini mu!” Sambil menunjuk-nunjuk kepalanya Joko memberi saran.
Dari situlah kini Sigit memilih untuk mengajar privat anak-anak sekolah. Dimulai dengan menawarkan diri pada mandornya, kemudian ia dipromosikan oleh mandornya untuk mengajar anak dari bosnya si mandor itu. Dan dari situlah ia mampu bertahan hidup dan juga bertahan untuk tetap melanjutkan kuliahnya.
“ Kami ikut bangga kamu bisa kuliah, ndak usah cari tempat tinggal. Kamu tetap tinggal disini bareng kami. Toh meski udah jadi anak kuliahan, kamu tetep orang desa kaya’ kami. Ya tho?!”
Sigit tertawa mendengar itu. “ Makasih banyak Jack, tentu saja aku mau. Kalian ndak keberatan tho?”
“ Hey Sigit, kami tahu harga kos kosan. Asal kamu bisa belajar ditempat seperti ini.” Seru yang lainnya. “ Kalau pas kamu belajar malem ada yang ngorok, kamu bingkep aja! Hahaha…” Yang lain pun tertawa. Sedangkan Sigit hanya tersenyum bersyukur. Didatangkan padanya banyak kemudahan melalui teman-teman seperjuangannya. Teman seperjuangan dari desa yang ndeso.
Dipandangnya sekeliling ruangan. Rumah jadi-jadian, begitulah mereka menyebutnya. Rumah para tukang bangunan yang hanya berdindig triplek dan beratap seng. Kalau siang terasa panasnya minta ampun, tapi baginya tidak masalah. Toh siang hari masih ia beraktifitas di kampus atau mengajar privat. Yang jelas ia baru pulang magrib atau ‘Isya. Pulang ke rumah jadi-jadian yang juga rumah keong itu. dimana para tukang itu mengerjakan proyek, disitulah rumah jadi-jadian itu ada.
***
“ Hey Git, sekarang kamu kok pulangnya malam terus?” Tanya Joko pada Sigit yang baru saja pulang sejak subuh tadi.
Bagi Joko anak muda yang seumur dengannya ini adalah belahan jiwanya. Bukan sekedar teman, karena bagian dari perlindungan anak muda ini adalah dirinya sendiri. Sigit mengajarkan banyak hal padanya, itulah yang membuatnya begitu sayang. Tentang sholat, tentang ajaran berbakti, tentang pengetahuan, dan tentang-tentang lainnya. Hingga dia bisa melihat dunia, bahwa hidup bukan sekedar untuk nasi dan lauk pauk. Dia menyebut anak muda ini pualam cahaya. Pualam yang telah mengajakknya dan akan membawa desanya keluar dari kebodohan.
“ Iya Jack. Maaf ya. Besok-besok pun akan selalu gitu bisa jadi. Kegiatanku banyak di kampus.” Jawab Sigit sembari melepas sepatunya. Malam memang semakin larut. Dan bintang memang tidak tampak pendar di perkotaan.
“ Kemana aja?”
“ Di kampus aja kok.”
“ Oh… emang ngapain aja si kalau di kampus? “
“ Ya banyak.”
Jack merasa tidak begitu ditanggapi pertanyaannya. Ia hanya ingin memastikan bahwa temannya baik-baik saja. Ia hanya pandang punggung Sigit yang membelakanginya sambil rebahan karena lelah seharian bekerja.
“ Tenang aja Jack. Aku baik-baik aja.” Sigit memahami kerisauan Joko dengan kepulangannya yang selalu malam akhir-akhir ini. Malah hampir tengah malam.
“ Ada surat dari adikmu. Tadi pak mandor yang kasihkan.” Ujar Jack. “ Aku taruh di meja.”
“ Makasih Jack atas semuanya. Kalian baik sekali, ndak tahu kalau ndak ada kalian disini.”
“ Hm…” Joko tak begitu bersemangat menjawab.
Diambil dan dibacanya surat dari adiknya yang tergeletak di meja satu-satunya diruangan itu. Meja yang juga jadi meja makan, meja yang juga jadi meja belajarnya. Surat dari rumah, biasanya itu adalah perkataan dari Ibunya yang tidak bisa baca tulis. Itulah energi Sigit untuk terus bertahan di Jakarta. Surat yang selalu dikirim oleh adik-adiknya tiap dua minggu dan selalu dibalas keesokan harinya langsung karena tak sabar membalas kabar.
“ Ada kabar apa?” Tanya Joko memecah kesunyian. “ Ibumu sehat-sehat aja tho?”
Sigit tersenyum dan tersirat bahagia. Dilipat dan dimasukkannya kembali surat itu ke amplop. Dan disimpan bersama surat-surat yang lain. Surat-surat itu tersimpan rapat diantara buku-buku tebal materi kuliahnya hasil foto kopi. “ Ibu sehat Alhamdulillah. Ari dan Dewi rangking satu lagi.”
“ Wah, hebat! Mereka akan jadi kaya’ kamu Git.” Ujar Joko.
Sigit tersenyum. Terlintas wajah Ari dan Dewi yang lugu seperti anak desa kebanyakan. Hanya saja ia melihat dua adiknya itu akan menjadi orang-orang besar di negerinya. Otak cerdas dan juga perjuangan gigih selama ini yang telah diajarkan orang tuanya akan menjadi bekal dalam hidup. Dan yang paling penting dari itu adalah bagaimana kedua orang tuanya mengajarkan agama, untuk hidup dunia akhirat.
“ Ada kabar gembira. Aku senang hari ini. Tulisanku di muat di koran kota.” Sigit menghapus fatamorgana wajah bapak ibu dan dua adiknya.
“ Ha? Tulisan apa maksudnya.” Tanya Joko bingung.
“ Itu lho, soal pengangkatan kembali Soeharto jadi presiden.”
“ Ya iyalah. Dan memang akan seumur hidup negara ini akan punya presiden bernama Soeharto.”
“ Hahaha… Pak Harto itu dah tua dan sepuh. Bentar lagi pikun.” Nada bicara Sigit mengejek.
“ Huss! Kamu itu kalau ngomong hati-hati.”
“ Hahaha.. siapa yang mau ndengerin Jack... “ Sigit melihat yang lain telah telah pulas tidur. Memasuki alam mimpi yang tak pernah tertembus. Lagian toh misal mereka dengar tidak ada masalah. Dan Sigit faham apa yang dimaksud Joko. “ Kodok?!”
Merekapun tertawa bersama. Dan tampak mereka yang telah tidur sedikit terganggu dengan guyonan itu. Menggeliat dan usai itu merapikan mimpi kembali.
“ Besok pagi aku yang beliin kalian sarapan. Spesial edisi sukuran.” Tambahnya.
“ Yeach… Emang dapet berapa?”
“ Ada dech..” Sigit merahasiakan. Memang tidak begitu besar untuk tulisan yang tidak begitu populis. Dan memang ia tidak mengharapkan apa yang akan diperoleh dengan mengirimkan tulisan pedasnya yang telah menumpuk di komputer temannya sekelas. “ Yah… Wes, dah malem. Njenengan tidur aja. Aku besok pamit pagi-pagi banget berangkat sebelum subuh. Aku udah pesen sarapannya sama Mbok Minah. Langsung dianter sebelum kalian kerja pagi”
“ Ngapain pagi banget perginya?” Tanya Joko heran.
“ Aku banyak kerjaan di kampus. Jadi musti efektif. Dikejar deadline.”
“ Siapa deadline? Ngapain kamu dikerjar kejar sama dia? ” Tanya Joko polos.
“ Hahaha…. Maksudnya batas waktu mengerjakan tugas. Ini mau nyicil. Besok musti dientri ke komputer. Jadi aku mau tempat temen pagi-pagi banget.” Jelas Sigit.
“ Ya udah. Aku tidur duluan ya.”
Malam semakin larut. Dan Sigit pun masih lelah. Lelah yang sangat.
***
“ Kamu ngapain ikut-ikutan mereka demo kaya’ gitu, polisi sebanyak itu siap mberondong kalian!” Joko marah-marah pada teman yang masih kelelahan itu.
Sambil minum air putih Sigit hanya tersenyum dan hampir saja tersedak. “ Itu demi keadilan Jack.”
“ Aku ndak ngerti apa yang ada dikepalamu. Kamu teriak-teriak di TV kaya’ gitu, kalau tiba-tiba ada yang nembak kamu gimana? ”
“ Itu namanya resiko perjuangan… “ Kilah Sigit tenang.
“ Sigit, kamu merantau jauh-jauh, banting tulang kerja kasar, sampai akhirnya kamu bisa kuliah begini jangan sampai kandas dijalan. Kalau ada apa-apa bagaimana?! “ Nada bicara Joko meninggi. Ia memang tidak mampu memahami apa yang sedang dikerjakan Sigit bersama teman-temannya.
“ Almarhum Bapak mengajarkan, kalau benar bilang benar, kalau salah bilang salah.” Itulah Sigit yang telah tertanam dalam jiwanya pendidikan kebenaran dari seorang ayah.
“ Ah, Bapakmu sudah jadi tengkorak di kuburan.”
“ Jack!”
“ Maaf Git.” Joko menyesal ketus.
Ada sesuatu yang tidak terlerai. Bapak baginya adalah laki-laki sejati, teduh wajahnya yang teringat hanya akan menambah sejuk tiap hatinya yang sering bergemuruh menghadapi hidup. Kerja keras yang diajarkannya, juga pelajaran-pelajaran hidup di kelas-kelas kasih sayang.
Sigit menghela nafas mendinginkan emosi. Ia tahu maksud baik Joko. Tepatnya kekhawatiran Joko.
“ Jack, percayalah. Aku akan baik-baik saja.”
Joko diam.
“ Tulisanku dimuat lagi. sekarang di koran nasional. Jadi uangnya lebih besar. “ Dilihatnya punggung Joko yang tidur membelakanginya. Ditunggunya reaksi temannya itu, tapi tak juga sepatah kata keluar sekedar memberi selamat. “ Aku belikan sarapan lagi untuk kalian.” Juga tak terdengar apapun. Sigit menghela nafas. Dan direbahkan badannya yang lelah setelah seharian berjejalan di jalan bersama teman-temannya yang lain. Lelah yang sangat.
***
Pagi harinya ketika Joko terbangun Sigit sudah tidak ada dirumah keong itu. Tas lusuh kuliah temannya itu juga tak ada ditempanya. Dan kali ini dilihatnya gantungan baju dibalik pintu, jas kuning yang dulu sering bertengger menganggur, akhir-akhir ini ikut berkibar di tengah terik matahari mewarnai kulit hitam Sigit bersama jas-jas kuning lainnya. Dan akhir- akhir ini jas-jas kuning itu telah bergabung dengan jas-jas biru, jas-jas hijau, jas-jas merah, jas abu-abu, yang kesemuanya milik anak negeri dari sepenjuru nusantara yang sedang mengenyam pendidikan tinggi.
Joko semakin mengkhawatirkan Sigit. Cuaca di Jakarta semakin panas, pun situasinya. Ibu kota yang menjadi sentral pergolakan politik juga ekonomi.
“ Joko, ini sarapan pesenan mas Sigit untuk kalian.”
Lamunannya tergugah Mbok Minah yang nongol di depan pintu sambil membawa lima mangkuk soto. “ Mbok Minah… ngangetin aja. Masuk Mbok.”
“ O ya, kemaren aku lihat mas Sigit di TV. Itu beneran ya? Wah.. nanti bisa jadi terkenal. “ Mbok Minah memastikan bahwa ia tidak salah lihat orang.
Joko pun hanya diam menatap Mbok Minah lelah. Padahal hari masih pagi, pekerjaannya pun belum dimulai. “ Nggak tahu Mbok… “
“ Oo.. mungkin aku salah lihat ya Mas. Tapi bener kok, itu mas Sigit!” Tegas wanita umur 50an itu.
Joko pun hanya diam.
“ Assalamu’alaikum.”
“ Wa’alaikumsalam.” Jawab mereka bersamaan. “ Pak mandor? ada apa pagi-pagi begini kesini. Silahkan masuk.” Joko terheran karena ini belum jam kerja, dan tidak sekali kali pak mandor bersedia mampir di rumah keong yang menyempil di ujung gang yang berada di tengah proyek pembangunan gedung pencakar langit.
“ Itu dia. Hari ini dan mungkin juga besok kalian libur dulu. Proyek ini sementara diistirahatkan.”
“ Lho, gimana kok bisa begitu?” Tanya Joko.
“ Hmm… Aku sebagai mandor bawahan tahu apa. Tapi aku dengar desas desus kalau pemegang proyek ini sedang kena kridit macet.”
“ Apa itu maksudnya? “
“ Maksudnya uang pinjaman di bank belum bisa ditarik lagi. Karena Bank yang bersangkutan terkena liquiditas. “ Jelas pak Mandor yang tak bersemangat itu.
“ Apa itu liquiditas?” Tanya Joko lagi
“ Huh! Kamu ini tanya terus. Yang jelas kita sendiri selaku pekerja dibawah terancam kehilangan pekerjaan dengan macetnya pembangunan gedung ini. Sekarang mengerti?!”
Joko menelan ludah. Perutnya terasa penuh sebelum soto Mbok minah masuk ke perutnya. Dan kalau itu terjadi, berarti Mbok Minah akan kehilangan pelanggan. Mereka bertiga hening mematung bersama angin yang mulai enggan berhembus. Juga pagi yang tak terasa sejuk.
***
“ Assalamu’alaikum…. “ Suara itu membangunkan Joko yang melamun sendiri sedari siang tadi. Sedangkah tukang yang lain sedang nonton TV di rumah Mbok Minah. Kata mereka mau nonton Sigit yang ikut demo menuju gedung MPR.
“ Wa’alaikumsalam… masuk. “ Pikirnya ini sudah malam. Tapi yang didengar bukanlah suara Sigit. Dilihatnya bahwa ada dua orang bertamu memakai jas yang sama dengan jas nya Sigit.
“ Sigitnya ada? “ Tanya salah seorang yang lebih tinggi.
“ Sigit belum pulang” Jawab Joko singkat. “Silahkan duduk dulu. Sambil nunggu Sigit datang. “ Joko mempersilahkan kedua tamu itu untuk duduk di tikar.
“ Jadi dari tadi Sigit belum pulang?” Tanya yang lainnya sedikit heran.
“ Belum. Ada apa ya? “ Joko pun jadi ikut heran. Apa yang sebenarnya terjadi.
“ Assalamu’alaikum… “ Ketiga orang itu melongok ke pintu.
“ Wa’alaikumsalam…” Jawab ketiganya.
“ Sigit! Alhamdulillah…. Dari mana saja kamu?! Semua teman-teman mencarimu.” Tanya tamu itu.
“ Ssstt.. Iya. Aku baik-baik aja. Ada apa?” Tanya Sigit sedikit tegang menatap mata temannya.
“ Budi hilang. Kita nggak tahu dia dimana, dari kita nggak ada yang dihubungi. Nomornya juga nggak aktif.”
“ Siapa yang terakhir lihat atau dihubunginya?” Tanya Sigit
“ Terakhir aku masih lihat dia ikut jama’ah sholat zuhur di mushola RRI.” Jawab yang lain.
“ Kita sebarkan ke media. “ Tegas Sigit.
Joko tampak bingung dan mundur dari percakapan tiga orang itu. Ia memilih diam berjongkok menguping di mulut pintu. Pura-pura melihat langit malam yang tidak berbintang. Dan wajahnya yang menegang menambah suram malam yang gelap.
“ Malam ini kita harus koordinasi lagi. Besok teman-teman yang ke Jakarta akan semakin banyak. Ingatkan tiap penanggung jawab dari segala pintu masuk. kamu, hubungi wartawan. Kita akan konferensikan pernyataan kita dan juga informasi terkini, juga tentang hilangnya Budi. “ Sigit memberikan instruksi pada dua temannya yang lain. “ Dan kamu, hubungi teman-teman daerah untuk terus mengirimkan massa.”
“ Jack! “ Sigit memanggil.
Joko pun membalikkan badannya menatap Sigit tanpa ekspresi.
“ Maaf. Malam ini aku ndak tidur di rumah. Bisa jadi beberapa hari besok. “ Sigit mengajak dialog mulut dan mata Joko.
Joko beralih melihat kedua teman Sigit yang juga menatapnya seakan mengatakan, apa urusannya dengan orang ini?
“ Iya. Tapi hati-hati. Aku kasih kabar. “ Jawab Joko lepas.
Keesokan harinya Sigit benar-benar tidak pulang. Hari pertama, hari kedua, ketiga. Bahkan ini sudah seminggu. Kemudaian Joko dan teman-teman yang semakin sering punya banyak waktu menonton TV dirumah Mbok Minah itu semakin resah. Liputan langsung aksi demonstrasi besar-besaran mewarnai hampir seluruh Channel. Sesekali mereka melihat Sigit di wawancarai. Ada rasa bangga yang mereka rasa, bercampur dengan rasa khawatir yang tiba-tiba datang setiap muncul petugas berseragam brimob atau polisi yang memegang tameng kaca tebal dan pentung besi.
Surat dari rumah juga beberapa belum dibaca Sigit. Akhirnya Joko lah yang membaca surat-surat itu. mungkin ada suatu kabar yang harus diketahui langsung oleh Sigit. Joko sendiri kini sering terpaku sendiri di layar televisi milik Mbok Minah. Juga Mbok minah yang kadang menemani di kala warungnya sepi. Mulutnya selalu berzdikir mendoakan keselamatan Sigit.
***
“ Jack..!!! “
Suara itu di dengar Joko yang tengah menonton TV. Itu suara Sigit. Ia keluar dari rumah Mbok Minah.
“ Sigit!” Ia lihat anak muda itu cukup kumal, bau debu, dan wajahnya tampak tak terurus. “ Alhamdulillah… kamu baik-baik aja?” Ia bertanya tentang sesuatu yang telah ia tahu keadannya. Sigit tidak baik-baik saja.
Sigit ngos-ngosan usai berlari ke rumah Mbok Minah mendapati rumah keong itu telah kosong. “ Sekarang iya.”
“ Maksudmu apa? “ Joko bingung.
“ Ndak papa. Mana yang lain? Kok ndak ada dirumah?”
“ Mereka udah pulang. Karena proyek istirahat sampai waktu yang ndak ditentukan. “
“ Iya. Banyak Bank yang keuangannya macet. Ndak bisa ngasih kelanjutan peminjaman. Yang mau ambil tabungan juga ndak bisa. “
“ Kok kamu tahu?! Ah, ayo pulang dulu. Istirahat dulu.”
“ Ndak. Aku Cuma mau kasih kabar kalau aku baik-baik aja, juga ngambil surat dari adekku. Ada lagi kan yang datang? ”
“ Ada.”
“ Apa katanya?” Tanya Sigit.
“ Minggu depan Ari ujian akhir. Kamu dimintain doanya. Mamak sama Dewi sehat katanya. Kamu ditanyain kapan pulang?”
“ Alhamdulillah… nanti kubales. Jack, aku pamit lagi ya. Maafkan aku. Terimakasih banyak kamu dah ngejaga aku selama ini. Kalau kamu mau pulang nyusul yang lain pulanglah. Aku tahu kamu rindu rumah. Aku ndak tahu mau pulang kapan.“ Sigit menjabat tangan Jack.
“ Ndak. Aku ndak pulang tanpa kamu. Berangkat bareng-bareng, pulang bareng-bareng. “
“ Aku masih terus kaya’ gini tiap harinya…!” Sigit menolak untuk ditunggu.
“ Dan Aku masih tunggu tiap hari juga…” Jawab Joko lemah.
Dirangkulnya sahabat seperjuangan itu haru. Pun begitu Joko yang meraih pundak Sigit. Dan mereka berangkulan semakin erat.
“ Terus perjuangkan Git. Aku dukung kamu.” Satu titik air untuk masing-masing mata Joko, juga sepasang mata Sigit. Begitu bergemuruh hati Joko yang selalu mengkhawatirkan keberadaan Sigit. Ditepuk-tepuknya bangga pundak Sigit. Kemudian didekap kembali dengan dekapan yang paling erat.
Sigit membalas erat dekapan itu. “ Makasih Jack. Kamu sahabat terbaikku. “ Ia pun sangat bersyukur diberi banyak kesempatan untuk berjuang ditambah dengan seorang sahabat yang sangat menyayanginya, itulah arti hidup baginya. Arti hidup yang telah diajarkan oleh almarhum ayahanda. “ Do’akan aku dan teman-teman…” Tambahanya.
“ Selalu. Selalu ku doakan tiap habis sholat. “
Dekapan itu mereda. Dan Sigit pun hendak beranjak lagi. Masih dengan jas kuning dan tas lusuhnya.
“ Hati-hati ya.” Joko berpesan.
“ Iya Jack, makasih.” Ia raih kembali tangan Joko. Mereka bersalaman erat. Ditatapnya mata Joko. Pun Joko demikian. “ Aku pamit… Assalamu’alaikum…” Dan jabatan tangan itu meregang kembali.
“ Wa’alaikumsalam…”
Dan akhirnya mereka berpisah. Sigit melenggang cepat meninggalkan Joko, masih dengan jas kuning dan tas lusuhnya. Sesekali ia menengok kebelakang. Entah apa yang membuatnya demikian. Pun Joko hanya memandang punggung Sigit yang semakin jauh meninggalkannya. Semakin kecil dan semakin jauh penampakan itu juga silau terterpa senja yang memantul dari kaca-kaca rumah di pemukiman padat. Sampailah di ujung gang dan setelah itu siluet Sigit menghilang bersama dengan warna kuning jas yang membuatnya bangga memandang si pualam cahaya.
***
Joko masih terpaku di TV Mbok Minah. Setia mengikuti perkembangan berita, terutama berita Sigit. Ia selalu mengharap wajah Sigit muncul disana. Muncul untuk membuatnya bangga sekaligus membuatnya lega kalau Sigit baik-baik saja. Jantungnya bergemuruh saat-saat terjadinya kerusuhan. Kesokan dan keesokannya selalu begitu.
Hingga Joko tahu bahwa Sigit tidak mungkin kembali pulang ke desa bersamanya. Tahu bahwa surat dari adik-adiknya yang telah datang lagi, tidak akan pernah ia baca. Juga surat terakhir dari Ari berisi akan menyusul kakaknya ke jakarta selesai ujian karena bercita-cita melanjutkan sekolah di perguruan tinggi yang sama seperti kakaknya. Juga surat-surat itu tidak terbalas lagi oleh Mas Sigit . Mas Sigit Prasetyo, si pualam cahaya.
Untuk pahlawan reformasi :
Tragedi Tri Sakti 12 Mei 1998
Elang Mulia Lesmana
Hafidin Royan
Hendriawan Sie
Heri Hartanto
Taragedi Semanggi 13 November 1998
Abdullah
B.R. Norman Irmawan
Engkus Kusnadi
Heru S. Sudibyo
Lukman Firdaus
M. Jok Purwanto
Teddy Mardani
Uga Usmana
Sigit Prasetyo
Yogyakarta, 23 Januari 2009
Pualam Cahaya Negeri
No comments:
Post a Comment