Friday, March 27, 2009

drama

hands of attien...

berhadapan dengan badai lagi, bagi kita bukanlah hal sulit untuk dilalui. kebanyak orang mampu tegara pada tiap sisi kehidupannya. p[andai mengambil pelajaran, mampppu membuat jaring-jaring hikmah, juga menjadikannya epik yang begitu cantik.

hanya saja matahati tidak pernah bosan untuk hadir di setiap hari, dengan fajar yang selalu menyajikan cahaya kehohidupan yang pasti. mampukah?

kisah cinta, kisah sehabat, kisah saudara, kisah petualanga, dan banyak kisah yang telah tertulis, dan kisah-kisah itu tidka pernah berhenti pada satu episode ending. yang menjadikannya cantik hanya bagaimana itu mampu disajikan dalam sebuah drama yang menarik untuk disimak, si penulis yang mampu berpuisi dan bermetafora ria dengan 26 abjad. aduhai..... jika dan hanya jika waktulah yang menuliskan itu, niscaya diamlah seluruh manusia.

membaca dan memahaminya kadang membuat perut mual, mata menangis, tertawa terbahak-bahak, atau mematung tanpa komentar. ada tokoh antagonis, ada protagonis, sekaan-akan skenario itu begitu menarik untuk disimak. dan dalam kenyataannya adalah tidak berperan dalam keduanya. menyedihkan. air mata terus tumpah, darah pun ikut berlomba, penghinaan, fitnah, pesakitan, jeritan, menjadi pewarna utama yang dalam serunya drama di atas bumi ini.

seakan-akan ubun-ubun manusia tergantung di langit, dan tombol-tombol pengontrol didalamnya dikendalikan dalam ritme yang sulit. kemudian terus menerus dengan tawa, tangis, jeritan, senyuman, kemurungan, dan ritme ritme lainnya.

sehingga ubun-ubun itu terus memiliki nada yang terus bersenandung. hanya ubun-ubun yang diajak sujud, menggantngkan utuh untuk menyerahkan segala skenarionya pada Sang Pemilik, memohon dan tersungkur dengan segala pertanyaan yang ia sendiri tidak mampu untuk menjawabnya.

ya Kariim... apalah daya untuk menjadi pemain yang baik, hanya perlindungan yang diharapkan dilimpahkannya atas do'a do'a manusia yang teraniaya. lepaslah masa, demi tahun, bulan dan hari.

janji ini akan terus terpatri
baru kemarin terikrar
dan tak akan teringkari

3 comments:

  1. ya, menjaga iman adalah menjaga diri sendiri juga

    ReplyDelete
  2. sebuah perenungan yang disajikan dengan begitu apik mbak...makasih buat postingan ini.

    ReplyDelete