Tuesday, January 13, 2009

Azzam ( satu wangi yang dirindu )

“ Pengumuman, bagi teman-teman yang punyai waktu luang dalam waktu dekat ini. untuk bersedia menemani Ummi Atik. Ummahat dari Purworejo yang putranya Azzam di rawat di Rumah sakit Sardjito sejak 2 hari yang lalu. Keponakan ustad Tulus. Kira-kira siapa ya yang bisa?”.

Ku dengar pengumuman itu usai kelas ba’da subuh. Meski tidak masuk ke kalas, aku dapat mendengar taujih ustad langsung dari kamar. Karena kelas berada di sebelah tepat kamarku. Wal hasil, aku tidak bisa beraktifitas banyak di dalam kamar kecuali sedikit saja.

Ah, asrama kami memang menjadi transit pertama banyak informasi yang menyebar. Dari dibutuhkannya donor darah, sampai dengan berita walimahan. Tapi di asrama inilah aku menyadari hakikat hidup, membuka kelopak mataku lebar-lebar untuk melihat matahari yang sebenarnya.

“ Assalamu’alaikum..” Ada yang menyapaku dari luar kamar.
“ Wa’alaikumsalam... masuk aja“. Zae menyunggingkan senyum untukku. Santri paling baik diasrama. Kau ingat kawan tentang cerita sajadah hijau tuaku?

“ Umi, ada waktu hari ini?” Tanyanya jelas.
“ Mm… “ Aku berfikir untuk mencari alasan. Bukan, bukan bermaksud menghindar. Hanya saja aku sedang mengejar target skripsiku. Lihat saja si kompi yang semalaman on karena aku tertidur dan lupa mematikannya menampilkan cacing-caing yang cantik. Juga buku-buku yang berserakan tak karuan.

Tapi tatapan mata santri satu ini mengalahkan semuanya.
“ Ok. Aku ada”. Ah Zae.. . Ilmu psikologimu memang manjur. Tapi ku pikir bukan, hanya saja memang aku selalu kalah dengan tatapan jiwamu.

***

Rumah sakit ini begitu luas. Meski telah tinggal 4 tahun di Yogyakarta, dan pernah menjadi relawan di sini waktu gempa bumi 2006 silam aku tidak hafal betul sisi-sisi pembagian bangsal. Lorong-lorong yang kulalui tampak pucat dan bau karbol Pemandangan yang serba putih memang sangat dominan di rumah sakit. Namun aku sedikit terhenyak mengingat warna putih dan bau karbol waktu itu tersapu warna merah darah dan bau anyir . Ah, sisi gelap kota budaya ini memang telah lama terkubur. Banyak yang lupa.

Setelah 20 menit akhirnya ku temukan IRNA II Melati 3 nomor 5. Meski sempat salah kamar kini aku yakin karena didalam kamar ini nampak seorang Ummahat yang sedang merayu bocah kecil yang sedang susah makan. Ah, bangsal khusus anak-anak ini memberikan pemandangan yang tampak asing. Anak-anak dari yang bayi, balita juga yang sudah sekolah ada di bangsal ini dalam perawatan yang tidak lazim. Infus-infus juga selang-selang tranfusi yang menjulur di tangan-tangan mungil itu menyayat miris pandanganku. Terlalu sakit untuk ikut merasakan sakit yang mereka emban. Bangsal kelas 2 ini menceritakan banyak hal. Membuatku diam untuk lebih banyak bersyukur bahwa sejak kecil aku belum pernah dirawat di rumah sakit. Dan anak-anak itu, alangkah malangnya…

“ Assalamu’alaikum.” Aku memberi salam sembari membuka pintu perlahan.
“ Wa’alaikumsalam… “ Ummi itu menjawab salamku dengan melempar senyum. Salam hangat yang disodorkannya membuatku semakin mudah untuk berinteraksi di perjumpaan pertama ini.
“ Wah… namanya ammah siapa?” tanya Ummi Atik
“ Namanya Umi Mi… Mm… Umi Yuliatin”. Aku bingung. Karena jika hanya menyebut nama panggilanku saja, berarti Azzam akan bingung memanggil. Begitu kiranya.
“ Oh… dipanggil ammah… ammahYuli aja ya?!”. Timpalnya. Ummi memahami.
Ah, boleh juga. Aku manggut saja dan tersenyum.

Kulihat bocah kecil dan kurus itu tak berdaya terlentang diatas kasur berseprei warna biru laut. Matanya menghindar dari tatapanku. Pandangnya mengarah pada Umminya.
“ Nggg… “ Rengeknya.
“ Ini namanya ammah Yuli. Ammah, Azzam memang malu-malu kalau belum kenal dekat. Dari kemarin ammah yang lain juga dicuekin. Ya Zam? Maunya sama Umminya terus… “ Jelas
Ummi sambil tersenyum pada putra keempatnya. Bocah yang berumur 3 tahun 10 bulan itu tidak juga bicara untuk sekedar menjawab ocehan bundanya.

Aku hanya manggut-manggut. Kuberikan lagi senyumku pada Azzam. Namun dibuangnya begitu saja.
“ Nggg… “ Ia merengek lagi dan mencari tatapan mata bundanya.
“ Sakit ya nak? Mana yang sakit?” Ummi tersenyum pada bocah kurus itu. ah, sama sekali tak tampak kelelahan yang diceritakan teman-teman. Juga wajah yang cerah itu selalu menampakkan senyum, sama sekali tidak terbesit kesedihan. Justru nampak ketegaran yang tak terkalahkan.

Ah Ummi, tapi seorang bunda tetaplah seorang bunda. Bolehkah ku curi kekhawatiranmu tentang putramu Azzam?
“ Ini… “ Jawan Azzam merintih sakit sambil memegangi perutnya yang nampak buncit.

Kuberi senyum lagi bocah itu, tapi dibuangnya lagi dan dicarinya lagi tatapan bundanya.

Ah, keberadaanku memang sangat tidak bermanfaat. Setidaknya hanya ingin memberikan warna lain di ruang berwarna putih biru itu. Tapi senyum Azzam tidak juga kudapati. Apakah karena begitu sakit yang ia rasa. Sampai sekedar senyum tentang cerita lucu gajah kecil Riyan dan Jerapah pun tak ada untukku. Cerita yang secara terpatah-patah ku ceritakan untuk mengalihkan sakitnya itu, tak juga mengelakkan pandang matanya untuk terus mencari Umminya yang sedang sholat asar di ruang yang berbeda.

“Nggg… “ Selalu begitu. Pun sepatah kata belum ada untukku. Ah, apa salahku Azzam…


***

Gedung Central bedah ini begitu megah. 7 lantai yang menjulang tinggi dan memantulkan sinar matahari di jum’at siang. Di gedung inilah dilakukan operasi bedah Azzam. Aku tidak mampu membayangkan bagaimana bocah kecil itu akan menahan bekas sayatan yang dilakukan oleh dokter- dokter bertangan dingin itu. sabarlah, mungkin kau hanya harus menahan perih itu selama seminggu. Usai itu, kau akan bisa bermain dengan kakak dan adikmu di rumah yang sudah 2 minggu kau tinggal.

Lantai enam ini begitu lengang. Ku baca deretan nama yang hari ini menjalani pembedahan. Namamu yang bermakna begitu kukuh itu berada di urutan kedua dari bawah. Abdul Azzam. Kau mengingatkanku pada Abdullah Azzam. Mujahid yang syahid di tanah suci Palestina dan menajadi catatan sejarah tersendiri dikalangan prajurit Hammas.

Kumasuki ruang tunggu. Tampak Ummi dengan jilbab kaos kremnya sedang membaca al-qur’an mungil menghadap kiblat. Ah Ummi, memang Al-qur’an itulah obat hatimu yang pasti sedang galau.

“ Mi… ?”. Ku sentuh bahunya pelan.
“ Eh, Ammah”. Ummi tersenyum kecil padaku. Ah, kucuri lagi kekhawatiranmu itu Ummi. Ku ganti dengan senyum yang mungkin tidak akan menyembuhkan.

“ Tak lanjutkan dulu ya tilawahnya? “ Pintanya
Aku mengangguk pelan dan masih berusaha memberikan senyum. Mencoba meneguhkanmu Ummi, namun sepertinya kau tak butuh.

Absorbsi abses. Entah, metode apa yang digunakan para dokter itu pada perut Azzam yang semakin hari semakin membuncit itu. dengan badan yang semakin kurus dan wajah yang tirus. Pembengkakan hati yang diderita telah memusnahkan senyum bocah kecil itu. aku belum pernah melihat senyumnya sejak pertama kali menemuimu Azzam. Dan setelah ini, mungkin aku agak lama aku akan menjumpai senyummu. Ah Azzam, kau tahu apa yang membuatku begitu menyayangimu? Ketika Ummimu berkata
“ Mah, Alloh memang begitu sayang dengan anak ini ya. mungkin dia memang anak yang sangat kuat. Sampai Alloh memberikan sakit ini ke Azzam. “

Kata-kata itu membuatku begitu kerdil Azzam. Sejak kecil aku selalu sehat. Jika sakitpun mungkin paling parah hanya tifus. Itu juga tak sampai haru dirawat di rumah sakit. Bundamu memang benar. Kau begitu kuat.

***
“ Nggg… nggg…. “. Masih dengan nada yang sama. Hanya dengan frekuensi yang yang lebih sering. Kau semakin dingin menatapku. Tanpa kata-kata yang mungkin sudah biasa untukku. Katakan Azzam, apa yang yang harus ku lakukan untukmu?

Hari ini aku tidak berhasil membawakan donat polos pesananmu. Kenapa donat yang biasanya coklatnya warna warni itu kau tidak suka seperti anak-anak kebanyakan? Tapi ammah yang lain akan segera membawakannya untukmu. Tenang saja.

“ Bukan abses Mah.” Ujar ummi tiba-tiba membuka kebisuan.
“ Terus?” Aku bertanya bingung. Kalau begitu, operasi kemarin sia-sia belaka. Dokter-dokter itu salah diagnosis. Ah, rontsen dan CT Scan dan pengetahuan semua dokter itu telah membuktikan bahwa mata dan teknologi manusia hanya mampu menembus sampai dimensi tiga.

“ Belum tahu. Hatinya bersih. Nggak ada benjolan, nggak ada nanah. Bersih. Operasi kemariin akhirnya hanya diambil jaringan hatinya. Bisa jadi bakteri, atau juga yang lain. Ah… nggak tahulah. Hasilnya masih nunggu dari lab patologi. Kamis atau baru bisa tahu hasilnya. Itu juga paling cepat” Jelas Ummi setengah pasrah.

Ya Alloh… sampai sejauh ini dan sesakit itu dengan ditambah luka sayatan belum juga ada titik terang. Ini baru hari Sabtu, artinya segala ketidakpastian masih akan berlangsung selama 5 hari lagi.

“ Nggg… Nggg… “. Hanya itu yang mampu keluar dari rengekannya.
“ Sakitt!!! “
Hoh, aku tercekat. Azzam berteriak mengerang kesakitan menahan luka sayatan itu.

“ Mah, lihat gih. Dari tadi keluar cairan terus dari bekas sayatannya.”. Ummi menunjukkan sayatan yang berada di perut Azzam dengan membuka sedikit selimut yang membungkus badan bocah bermata jeli itu. Biar sakit, kau tampak tetap elok Azzam. Mata jelimu itu… Ah, Azzam.

Tampak lembab dan basah selimut yang berada disekitar sayatan itu. Dan ternyata cairan itu terus keluar dari ujung luka sebelah kiri.
“ Mi, dari kapan ini?” Tanyaku heran. Tak lazim kupikir. Bukan berwarna merah, tapi bening ke kuning-kuningan. Sedikit amis.

“ Udah dari tadi mah. Kata suster nggak papa. tapi nggak juga berhenti.” Jelas Ummi padaku menatap tajam.
“ Sakitt!!!” Teriak Azzam yang membuat Ummi dan aku semakin menyayat jiwa.

Aku segera keluar dari kamar yang semakin pucat itu ke ruang dokter. Ku buang tatapanku ke beberapa suster yang berjaga. Kalau aku mengatakan pada mereka, mereka pun mungkin hanya berujar
nggak papa kok mbak…

Aku dapati dokter baru saja kembali dari bangsal yang lain. Kuhampiri, tak mampu menyimpan kekhawatiranku ku tatap wajah dokter itu lekat, memohon.
“ Ya?”. Sapa dokter muda itu.
“ Dari tadi keluar cairan kuning dari luka sayatan Azzam. Masalahnya nggak juga berhenti dan udah dari tadi dok.” Ujarku menjelaskan.

Dokter itu langsung menuju ke kamar Azzam.
“ Sebentar ya Nak… “. Dokter itu merayu untuk membuka kembali selimut yang menutupi perut buncit itu.
“ Ok. Bantu saya bawa Azzam ke ruang tindakan ya. Kita ganti perbannya.” Jawab dokter muda itu tenang.

Setidaknya Azzam tidak dibiarkan tanpa diapa-apakan. Ummi sedikit lega tampaknya. Ada tindakan akhirnya dan tidak mementahkan lagi rasa sakit putranya itu.

Ummi menggendong tubuh Azzam. Kupegangi infus yang sudah menghiasi perawatan Azzam selama 10 hari ini. hanya berjarak 4 meter menuju ruang tindakan.

Azzam terus merintih. Terus merintih dengan frekuensi yang lebih sering. Dibaringkannya tubuh putranya diatas meja tindakan. Dibukanya keseluruhan selimut dari dari tubuh Azzam. Ah, aku semakin miris melihat tubuh anak ini. Sayatan sepanjang 25 cm itu melintang diperut yang lebih buncit dari sebelum operasi.

“ Sakitt!!!” Jerit Azzam melengking berkali-kali.
Dibukanya perban itu oleh dokter, dan semakin lengking jeritan Azzam.
“ Sakitt!!!”

“ Mbak sama ibu di luar aja yah. Nggak papa kok. Ok? “ Suster diruangan itu mengusir kami. Aku segera keluar karena sudah tak mampu melihat pemandangan tadi. Ummi kekeh untuk berada disamping putranya. Tak terasa tiba-tiba ada bendungan hangat dimataku, mengucur tiba-tiba. Nanar.

***
Sudah 4 hari aku belum menjenguk Azzam lagi. dan tiba-tiba saja aku rindu bocah bermata jeli itu. Dengan memastikan Ummi selalu ditemani Abi, dan dengan demikian Ummi akan lebih tenang. Sebelum rapat sore ini aku akan menjenguknya lagi. Ah Azzam, bukankah hari ini hasil lab itu akan memberikan penjelasan tentang semuanya.

I message received
Ammah, afwan slalu mrepotkn. Adakah yg bs mmbawkn azzam donat polos lg?

Aku hanya tersenyum membaca sms itu. Sekaligus membuka senyumku pagi ini.
yup, nanti Yuli carikn ya mi. mudah2an dapet.
Message sent!
***

“ Wah mbak. Harus pesan dulu. Dan baru bisa besok. Atau yang serba coklat?”. Tanya penjaga toko Dunkis Donut yang berada di swalayan mirota kampus itu.

“ Mm… nggak usah aja deh. Baru bisa besok ya jadinya?” Aku ragu mengiyakan.
“ Iya mbak. Maaf ya mbak…” Senyum gadis penjaga itu sembari manggut.
“ Ok. Nggak papa. permisi… “ Aku pamit dengan sedikit kecewa. Hoh, kemana ya mencari donat polos kesukaanmu itu Zam? Semoga ammah yang lain sudah membawakannya untukmu. Aku menyerah.

Ku laju Umair menuju Sardjito lagi. parkir sebelah utara disore hari memang tidak sepadat ketika pagi atau siang. Parkir yang dekat dengan tempat pendaftaran dan juga poliklinik itu memang lebih dekat ke ruang Melati dari pada yang di selatan.

Kulangkahkan kakiku pasti. Aku hanya rindu Azzam. Semilir angin sore mendingikan jiwaku. Menghempas jilbab kaos krem yang kukenakan. Lembut, sangat lembut. Kupercepat langkahku. Karena aku hanya punya waktu satu jam. Tidak seperti biasanya yang sampai malampun aku bisa. Dihari-hari akhir kepengurusann senat dikampus membuatku semakin jauh untuk menyentuh tugas akhirku. Juga amanah sebagai PJS ketua yang belum lama ku emban ini, membawa diriku ke euforia tiap akhir tahun, bagaimana aku begitu keras berjuang untuk khusnul khotimah di amanah-amanah yang menantang.

“ Assalamu’alaikum… “ Ku buka pintu kamar nomor lima ini.
“ Wa’alaikumsalam… “ Jawab mbak Nuri yang saat itu sedang menemani Ummi. Tatapannya bisu. Kualihkan pandanganku.

Ah, kudapati senyum kecil Ummi tak setegar biasanya. Dan… Astagfirulloh… pemandangan baru tampak janggal dengan adanya tabung oksigen yang tampak mendesis cairan bening diujung tapalnya. Dan selang yang diujung itu menghubung ke hidung bocah bermata jeli itu.

“ Mi…??”. Aku meminta penjelasan.
“ Tadi siang ia terkejut. Sekarang begini… “ Lirih sekali Ummi menjawab tanpa memandangku. Hanya tertuju pada mata putranya.

“ Azzam… “ Aku menyapanya sembari menawarkan kerlingan mata.
Anak itu diam saja. Tidak ada rengekan seperti biasanya. Sama sekali. Diam. Juga matanya. Hanya menatap kesana kemari. Ah, wajahnya tidak secerah biasanya. Ku pegang keningnya. Dingin. Telinganya juga berwarna pucat kuning. Ku sentuh, juga dingin. Juga telapak tangannya semakin pucat.

“ Kok.. ??”. Ah, aku berani tidak berani bertanya.
“ dingin …??” Lanjutku.

Mbak Nuri menarikku tanganku mundur.
“Pengawasan 24 jam. Pejet kuku jempol kakinya. Kaya’ gini. Klo nggak balik, cepet panggil dokter.” Jelas mbak Nuri pelan sembari mempraktekkan. “ Azzam dipuasakan dari tadi pagi.” Tambahnya.

Ah, aku ingin berkata-kata lagi. tapi tidak tahu apa yang mesti ku ucap atau yang ingin kutanya.
“ Diagnosisnya?”. Spontan saja aku ingat ini hari keluarnya hasil lab.
Mbak Nuri geleng kepada “ Belum tahu.”

“ Permisi… “. Dari arah pintu dokter penjaga Azzam menyapa kami. Pandangan kami mengarah padanya.
“ Bu… “. Sapanya sambil mengangguk, meminta Ummi untuk ikut keluar ruangan.

“ Begini bu. Kami sudah menerima hasil dari lab patologi. Hasilnya bahwa pembengkakan di hati Azzam adalah akibat saluran antara empedu dan hati yang terinfeksi. Ada dua kemungkinan penyebabnya. Yang pertama bakteri, atau yang faktor genetis. “

Aku menguping pembicaraan mereka dibelakang Ummi. Penjelasan yang hampir seperempat jam itu membuatku dan Ummi banyak bertanya. Jarang sekali bisa berdiskusi bebas dengan dokter. Segala istilah baru keluar dari pelajaran yang mungkin terhitung dua sks itu begitu rumit. Namun aku berusaha mengerti dengan analogi-analogi yang dokter muda itu gambarkan.

“ Pembengkakan yang terus menerus itu telah menghimpit beberapa organ disekitarnya. Lambung, usus, bahkan ginjal. Desakan itu menghimpit dan juga melukai beberapa organ. Makanya kita peroleh air besar Azzam yang menghitam Juga air kencing yang tambah pekat warnanya karena telah bercampur dengan darah. Bayangkan ukuran hati Azzam 10x lebih besar dari ukuran normal anak seumurnya. Dan organ disekitanya otomatis mendapat tekanan 9x lebih besar.” Tambah dokter itu.

“ Lalu dok. Apa program team dokter selanjutnya?” Tanya Ummi yang kali ini tampak begitu cemas.

“ Besok kita cek ginjalnya. Apakah ikut terhimpit atau tidak”. Jawaban yang tidak menjawab.

“ Maksudnya untuk pengobatan infeksi di saluran hati dan empedunya itu?!” Tanya Ummi berani.

“ Bisa Jadi transplantasi. Tapi… kita tunggu kondisi Azzam lebih baik. Kondisi yang seperti ini tidak memungkinkan. “ Jelas dokter itu lagi.

Meski belum puas berdiskusi dengan dokter, Ummi mencoba lebih tenang. Ia hanya menggeleng kepala. Aku hanya mampu mengelus pundaknya.

“ Terlalu berat mah untuk bocah sekecil Azzam”. Ucapnya lirih.
Ku elus halus lagi pundak wanita tegar itu. Menganguk angguk mengiyakan. Tanpa kata-kata.
Sedang dikejauhan terdengar azan. Waktu asar tiba.
“ Yuk, sholat dulu”. Ummi bergegas ke kamar mandi mengambil air wudhu. Jalannya gontai.

Aku ke kamar Azzam. Dan kudapati tiba-tiba Azzam muntah. Cairan yang keluar dari mulutnya berwarna coklat. Tapi, bukannya Azzam puasa dari tadi pagi?? Rupanya cairan inipun telah tercampur darah.

***
Hari Jum’at, hari yang pendek. Masih pagi. Seperti biasa berada didepan kompi. Menyusun karya-karya sastraku, dunia yang belum lama asik kugandrungi.
Ada ganguan kecil di layar monitor. Kerlip kecil karena lewat gelombang panggilan telphone dari Hp samsungku.

Calling
Ummi Atik

Mmm… ku tunggu. Mungkin hanya misscall. Tidak biasanya Ummi menelphone ketika meminta tolong. Atau…

***
Ku kebut Umair sebisaku. Tiga lampu merah kucuri warna kuningnya dengan kecepatan maksimal. Aku hanya terus membisu. Mencoba berfikir. Ah, mungkin ini memang yang terbaik untuk Azzam. Bocah kecil yang telah mamangku luka yang begitu berat. Kau pasti langsung mendapatkan dan menikmati donat polosmu yang paling lezat. Dan juga tanpa rasa sakit seperti biasanya.

Aku naik lewati tangga menuju lantai 2. Dan… derek beroda mencegatku di ujung tangga yang berpapasan dengan lift. Tampak Abi, seorang kawan dan dua perawat mendorong derek itu. Dan aku hanya terpaku menghempaskan badanku ke tembok dan mengalirkan bening hangat dari mataku. Kau berada dalam balutan warna biru muda itu. tanpa nafas dan juga denyut jantung lagi. namun kau mungkin kini punya sayap. Memudahkanmu yang sekedar bergerak kesana kemari berputar-putar dan bermain lagi. dan satu yang pasti, menanti Ayah Bundamu di surga, kenikmatan yang abadi.

***
Hari ini bayang-bayang Azzam kembali menggelanyuti pikiranku tiap harinya. Gambar-gambar wajah polos dibalik layar mengajakku untuk mencium kening para mujahid kecil itu. Para mujahid kecil bermata jeli. Berderet panjang berbaris untuk disholatkan. Warna hijau surga yang membalut bocah-bocah Filishtin itu terlukis putih kalimah tertinggi. Meneguhkan iman, dan meyakinkan bahwa telah tertulis oleh Al Qolam bahwa perang ini akan berlangsung sampai akhir zaman.

Dengan itu mengalirlah aroma juang dalam jiwa, cita-cita untuk menyusul mengusung perjuangan terus mendidih dan hanya mampu mengalirkan air mata.

Azzam, kau mengawaliku untuk lebih dekat pada mereka. Kubayangkan mencium kening mereka seperti mencium keningmu dulu. Hai Azzam, sudahkah kau bertemu dengan Abdullah Azzam? Sedangkan kau disanapun akan mendapatkan banyak teman baru. Bocah-bocah yang juga bermata jeli sepertimu itu. Mujahid-mujahid kecil Filishtin.

Terima kasih Azzam.

Kisah nyata perjalanan ruhani penulis di pertengahan November 2008.
Ummi, kapan berkunjung ke Yogyakarta lagi?

4 comments:

  1. temen: Mi,klo blh ak ksh saran,cerpenmu jgn dpampang di dpn ky gitu.

    nah.. gitu. ni mau sign in g bisa2. so, tomorrow maybe no many my words here. so sorry. just need someone who want read and give built comment for better. how if i want that's you?

    ReplyDelete
  2. ku beri tahu kabar gembira.. mungkin memang hari ini aku gembira sendiri. tapi percayalah klo aku sedang gembira. kau tahu, komunitas menulis guys... ??? i never mind bout this. but actually it's really really great idea to better in writing. so, pray for me for this. and my brother said that, " be a scientist and writer". the beautiful dream.

    mm... tapi aku bakal rindu blogku. yah.. liat aja dech. bisa nggak sih pisah dulu. atau tar malah bakal lebih rame. cihuy...

    mm... melanjutkan yang sebelumnya. gini kelanjutan keterangannya.
    ku bilang, "ho.. emang jelek banget panjang gitu. orang jg bakal bosen".
    balasnya, " ntar bisa di bajak lho"

    ho! shock. wajar kan? haha. padahal cuma begituan ceritanya. well, wellcome to the new world. it's a new dream...

    ku kasih kabar lagi. semua-mua jadi menatangku. semua orang benar2 menantangku! (baca sambil bayangin klo aku lagi decak pinggang). setelah hari ini aku menuliskan di agenda hidupku " Menyentuh masa depan... ". tapi benar saja, usai itu banyak orang menterorku.

    tadi malam semua masalah kususun. hwa... begitu berat rasa2nya. satu... dua... tiga... dan seterusnya. solusinya, satu... dua... tiga... habis itu aku tertawa sendiri. baru kali ini aku menuliskan apa masalah hidupku. ah, dasar egois. begitulah sisi gelapku.

    dan 2009 ini akan menjadi masa dimana aku bakal dan bahkan harus naik ke tangga hidup selanjutnya. seperti apa yang tertulis dalam al-qr'an. manusia itu akan menjalani hidup di dunia tahap demi tahap (Al-Insyiqaq). great!!! dan dengan tantangan2 itulah wahanaku untuk mencapai tangga selanjutnya. sebelum tangga terakhir.

    ReplyDelete
  3. If u want me to comment on ur writing, the answer is : yes, i will.
    =)

    -tapi pas aku ada waktu yah, biasa lah, hehe...


    -HP-
    170187

    ReplyDelete
  4. Sungguh q menyesal..
    knp q baru baca sekarang...

    Trim's banget..
    Membuat q bergerak membantu mereka tidak hanya do'a...,walaupun q jauh dengan nya..

    Doakan sukses dalam " Ta'bligh Akbar Peduli Palestina" Guna galang dana bwt mereka..

    Tyo

    Saudaraku....,Palestina Menanti Uluran Tanganmu...

    ReplyDelete