Sejak lama ia ditinggal sang Bunda, kehidupan menawarkan padanya kedewasaan yang lebih awal dari anak-anak seusianya. Bukan ditinggal pergi ke dunia lain, hanya belahan bumi yang katanya menawarkan kemakmuran bagi rakyat negara ketiga.
Belia yang lahir 14 tahun yang lalu, ini memanglah tidak begitu mahir dalam hitungan matematika atau hafalan susunan pencernaan dalam pelajaran biologi di kelasnya. Namun prestasi dalam lomba lari mengantarkannya dalam kejuaraan tingkat kecamatan disebuah kabupaten baru di Lampung. Mungkin bagi kita bukan prestasi yang luar biasa, tapi itu adalah sebuah kekuatan hidup dan menjadikannya sebagai manusia yang berharga dengan bukti piala yang terpajang diruang keluarga.
Sari, begitu kami memanggilnya. Gadis yang dulu hanya seonggok bayi merah di rumah papan lapuk, gadis yang dulu menangis mengerang-erang ketika Bundanya melambaikan tangan dari jendela Carry ketika berusia 8 tahun, gadis yang dulu selalu menjadi bahan tertawaan teman-temannya bersamaan tidak ada baginya perlindungan meski hanya dibalik ketiak seorang ayah. Kini tegar, setegar badannya yang sigap menerjang angin ketika berlari, melawan matahari setiap hari, dan melawan zaman edan dengan kerudung kecil yang belum lama ia kenakan.
“ Mbak Attien…!!!” . Itu, itu teriakannya ketika aku pulang setelah satu tahun yang lalu. Ia datang padaku dengan berlari dan memelukku erat. Luluh lah baginya air yang telah membeku didadanya, menganak sungai, menceritakan betapa kejamnya kehidupan.
Ia menangis, menangis yang entah bagaimana aku memahaminya. Terlalu pahit untuk di ingat. Bahwa gemuruh hidup telah melintas dimata, menari-nari, mengejek dan menyuguhkannya cita-cita yang tak bertuan.
Ku raih badanya erat, entah mengobati jiwanya yang sesak atau tidak pun aku tak tahu. Siapalah aku dibanding dengan seorang Bunda yang selalu ia rindukan. Ia kembali erat merangkulku seperti setahun yang lalu, pertama kali aku melihatnya semakin anggun dengan balutan jilbab kecilnya.
Ia masih tersedu, dan meraih badanku hendak mengelumat segala kepahitan. Hingga tidak mampu mengatakan apapun. Badannya cukup tinggi dan terlalu tinggi untuk anak seusianya. Hingga mampu meraih panjang badanku yang berstatus mahasiswa.
“ Mbak…. “ Dilepas dekapanya. Dan aku mampu bernafas lega akhirnya.
“ Sssstt.. udah… nggak papa kok.” Aku mencoba menenangkan. Tapi aku sendiri tidak tenang. Entahlah, cerita apa lagi yang telah ia lalui tahun ini.
Matanya merah usai menumpahkan seluruh air mata, masih sesunggukan. Tenaganya habis terkuras, terperas waktu yang bersamanya setia berharap menunggu datangnya sejarah terulang kembali dengan cerita yang berbeda.
“ Kok nangis…? Katanya Mamak dah pulang… “ Aku bertanya heran. Tapi entahlah, tiap tahun kepulanganku ia selalu seperti ini menyambutku. Bukan, bukan karena rindu padaku. Hanya saja… kehidupannya adalah satu-satu jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini.
“ Mbak dibawain gelang sama Mamak. Nanti maen ya kalau dan nggak capek?” Ia memandangku dengan senyum yang khas. Bibirnya yang tipis menambah ayu gadis kurus tinggi itu.
“ Wah.. senangnya. Ya, nanti mbak main ke rumahmu. Salam dulu aja buat mamak. “
Sekarang ia benar-benar tersenyum, “ Ya udah, mbak istirahat dulu. Aku mau pulang. “
“ Ya.” Jawabku.
Ia lari tiba-tiba, sekencang ia berlomba lari tingkat kecamatan. Sekencang mungkin meninggalkanku di pintu rumah.
“ Mak…!!! Mbak Attien dah pulang…” Ku dengar suara itu jauh dari sini. Aku yang hanya mematung bersama dengan pertanyaan dari kabar dari telphone yang disampaikan ibuku. Benarkah itu???
Huufff…
***
“ Ya Alloh nduk… udah segede ini kamu?!” Wanita ini mungkin memujiku dengan perawakanku yang jelas beda sejak 2 tahun yang lalu.
“ Mbak Mar.. Mbak Mar…. Ya Iya lah mbak… masa’ mau kaya’ dulu terus.” Jawabku tersipu.
Begitu aku memanggil wanita beranak dua itu. Maryati nama lengkapnya. Masih seperti dulu kami warga sini memanggilnya, yang fasih betul sejak warung serba adanya dibuka sampai ditutup kembali karena banyak yang hutang dan tak terbayar.
Kamu juga beda mbak. Wajahmu semakin tegar.
Mungkin setelah tahu kemarin-kemarin kamu tahu semua cerita disini. Yang kalau aku jadi dirimu, akan teriris dan bisa jadi memutuskan untuk bunuh diri. Badanmu yang tak segemuk dulu ketika pergi, apakah ceritamu disana juga sepahit disini dengan tuan barumu 2 tahun ini?
“ Hahaha.. Anakmu juga dah gadis Mbak… “ Aku tertawa, pun dengannya. Anak-anak disekitar sini pun begitu. Yang dulu anak-anak sekarang sudah dewasa, juga mereka yang dulu dewasa sekarang sudah punya momongan. Juga termasuk anaknya, si Sari. Anak putri dari dua bersaudara itu dulu bocah yang sering ku momong kalau Bundanya pergi ke pasar belanja isi warung.
Kulihat Sari yang duduk manis sendiri di beranda rumah. Mendengar kami membicarakannya, dia pun tersipu sambil mengelus-elus si Slank kucing kesayangannya.
“ Ya tho… ntar lagi juga mantu.” Tambahku.
“ Huss.. Kamu tuh!” Ia berkilah sambil tersenyum.
“ Si Budi maksudnya…” Satu kosong. Aku sengaja menyebut anak pertamanya di akhir. Dan dia pun tertawa.
“ Yo Pak Nur dulu lah..” Hoalah.. Nama bapakku sekarang disebut.
Kami hening sejenak. Merefleksi betapa cepatnya waktu berjalan.
“ Hati-hati mbak. Anakmu dah gadis. Meski masih kelas 2 SMP , tapi badannya tinggi gitu. “ Aku membuka perbincangan kembali.
“ Halah nduk… tinggi tapi ceking gitu kok.” Ia melongok pun keluar. Melihat anaknya yang duduk sendiri masih bermain dengan sahabatnya setianya. Kucing loreng kuning yang suka makan anak ayam tetangga.
“ We.. kan masih masa pertumbuhan. Zaman sekarang anak sekolahan nggak kaya’ zaman aku dulu. Sekarang ngeri mbak! “
Ia diam. Bukan bermaksud untuk menakut-nakuti, mengingatkannya agar lebih menjaga anak gadisnya. Di daerah kami beberapa kasus anak sekolah melakukan seks bebas dengan pacarnya telah terjadi. Usai itu mereka akan putus sekolah dan dinikahkan bersamaan dengan diketahuinya si gadis hamil. Sungguh korban zaman edan yang menyedihkan.
“ Tapi tenang, Sari anak yang solehah kok. Udah pake jilbab lagi.” Aku menenangkan. Begitu aku sangat bangga dengan gadis belia ini, ia mampu melawan arus yang mengalir di lingkungan sekolah, pergaulan masyarakat, bahkan di rumahnya sendiri
“ Dia nggak punya cowok kok.” Tambahnya lebih tenang. Ia melihat bangga anaknya. Dengan jilbab yang membalut itu ia percaya gadsinya akan selamat dari anak-anak putra yang sering tak bertanggung jawab.
Setelah 6 tahun ia meninggalkan rumah untuk kehidupan yang lebih baik, serasa ada sesal namun demikianlah kehidupan harus ia jalani.
Dengan itu pertanyaanku kemarinpun belum mampu lontarkan. Benarkah???
-***
Siang itu kami berada di beranda rumah. Ramadhan kali ini memang ada yang berbeda. Kehadiaran mbak Mar memang memberi warna yang lain. Kehidupan bertetangga kami lebih riuh dengan seringnya para ibu-ibu rumah tangga bergumul bergosip ria dan tertawa tertiwi. Tidak ada arisan atau coba-coba resep makanan seperti mereka yang di kota atau perumahan.
Siang ini dan yang memang akhir-akhir ini ramai rumahnya untuk dijadikan sarang adalah rumah mbak Mar. yang belum lama ini di keramik hasil kerjanya enam tahun di tanah Arab Saudi. Lebih nyaman untuk jagongan.
“ Eh, katanyaYu Jum hari ini juga nyampe lho…”
“ Ah, masa’ sih? Semalem katanya masih di jakarta?”
“ Ya iyalah mbak Yu… hitungannya kan Cuma 10 jam ke sini.”
“ Udah nyampe’ kok tadi subuh”
“ Ooo.. “
Obrolan hangat siang itu memang terkesan biasa saja. Gosip, ngobrol ngalur ngidul, kebiasaan yang sulit dihindari oleh wanita manapun yang sedang berkumpul. Mungkin ini masih suasana Ramadahan. Yah.. tunggu bebrapa hari lagi lah setelah Idul Fitri. Mungkin memang puasa harus menjaga hal-hal yang telah menjadi kebiasaan buruk.
“ Kasihan ya Yu Jum. Nasibnya kaya’ aku. Pulang-pulang kerja dari jauh, eh nggak tahunya nyampe rumah dapet bencana. Mudah-mudahan Yu Jum sabar.”
Mbak Mar tiba-tiba melanjutkan dengan menggeserkan sedikit thema pembicaraan. Sedangkan ibu-ibu yang lain terdiam mendengar itu. Mereka tidak berani menyambung obrolan yang mereka pun tahu tentang itu. Karena mereka menjaga perasaan mbak Mar.
“ Eh, besok jam berapa sholat Ied-nya.” Tanyaku memecah keheningan.
“ Wah mbak.. besok kalau hujan gimana ya? Kan sekarang musim hujan. Apa kita sholat di masjid Syuhada aja…”
Syukurlah… Pembicaraan kali ini benar-benar beralih. Aku tidak ingin sakit hati yang masih berkoreng di jiwa mbak Mar kembali terpindai. Baru kemarin dia bercerita, kalau kasur dan juga sprei miliknya telah ia bakar. Wanita yang malang…
“ Mbak yang sabar… “ hanya itu yang ku ucapkkan kemarin. Hah! Aku sendiri marah pada diriku. Tidak mampu membendung air mata yang telah tumpah, juga sekedar untuk mendinginkan jiwanya yang telah mendidih.
Begitu kau menceritakan semuanya, sebagai sesama perempuan pun aku tak sanggup membayangkan. Kau dan anakmu itu telah begitu remuk untuk menerima semuanya.
“ Uangku ludes. Yang masih ditabungan nggak seberapa. Katanya untuk ini itu, tapi nggak berbekas. “
Kala itu aku hanya mengangguk mencoba untuk pahami dan ikut merasakan. Namun tak sampai. Aku dan tetangga tahu kalau uangmu habis untuk memebebaskan anakmu yang pertama dari penjara karena mencuri mesin pompa air di sekolah, aku dan tetangga juga tahu kalau uangmu digunakan untuk foya-foya suamimu, aku dan tetangga juga tahu bahwa apa-apa yang kamu perjuangkan selama 6 tahun di negeri orang tidak meninggalkan sesuatu yang setimpal.
Di tambah dengan kekecewaanmu sebagai istri…
“Di depan mata si Sari langsung Nduk!!! “
Ya Alloh... Apa lah yang lebih hina dari itu?!
Sari telah menjadi tong akhir dari segala kepahitan rumah yang belum lama bertekel itu. Seakan-akan hidup terlalu mahal. Dan tidak akan pernah cuma-cuma.
“ Iya. Kalau nggak demi Sari, aku nggak mungkin pergi.” Ucapmu polos sebagai Bunda yang baik, Bunda yang mengidamkan kesejahteraan yang selama ini tidak mampu diciptakan suami, Bunda yang mungkin juga ingin keluarganya sejahtera seperti keluarga yang lain. Hingga memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah menjemput masa depan yang lebih baik.
Meski begitu tegar, kesedihan itu masih terlukis diwajahmu. Istri mana yang sanggup untuk menerima itu. Ia bekerja susah payah ke negeri yang tidak menjamin keselamatan, hanya untuk dinar atau dirham yang akan ditukar rupiah. Untuk sekolah anak-anaknya, untuk mengubah garis nasib, untuk memerdekakan keinginan-keinginan yang selama ini terpenjara kemiskinan.
Dengan ini pun aku masih punya pertanyaan yang tak berani ku lontarkan, benarkah itu???
***
Idul Fitri semakin marak terasa. Budaya silaturahmi sangat subur disini. Kabiasaan yang katanya tidak lestari di tempat aku merantau untuk belajar, Yogyakarta. Orang-orang saling berkunjung satu sama lain. Semasa aku masih SD, orang-orang masih banyak yang menggunakan sepeda ontel berboncengan. Suami istri dengan anaknya yang didudukkan di stang sepeda, berseragam mengenakan baju terbaik. Atau kakak-adik yang usianya agak dewasa juga berboncengan. Dan kalau anak-anak mereka biasanya bergerombol dari rumah kerumah dengan sepeda yang memang untuk usia mereka. Pokoknya hampir semua bersepeda. Dan hanya yang mampu saja yang sudah mengenakan sepeda motor. Sekarang zaman kebalikan, hanya mereka yang belum mampu beli motor yang masih menaiki sepeda.
Dan sekali lagi jelas, bahwa kali suasana semakin riuh dengan kepulangan mbak Mar. radius tiga sampai empat rumah ikut merasakan kebahagiaan keluarga ini. kadang teriakannya yang memanggil si Sari atau Budi putra pertamanya memekik terdengar. Dan sore hari pertama idul Fitri aku memilih untuk nongkrong di rumah mbak Mar. Sekalian melepas rindu yang belum rampung.
Nampak keluarga ini begitu bahagia. Ini adalah lebaran pertama kalinya mereka bersama utuh sejak merantaunya sang Bunda. Kami pun bercerita banyak, mbak Mar minta diceritakan bagaimana rasanya belajar di tanah orang, juga aku diceritakan bagaimana serunya mengadu nasib di Arab sana. Cerita-cerita sedih sampai yang konyol semua disampaikan, gayanya yang ekspresif saat bercerita membuat semakin seru perbincangan.
Sampai-sampai pembicaraan kami saat itu…
“ Jadi.. Bener mbak? “ Aku terbelalak tak percaya.
Wanita itu manggut-manggut dan tersenyum.
“ Ya kan nduk…? “ Diraihnya gadisnya yang lagi asik memainkan rambut sang bunda.
“ Hih..!!! Pokoknya kalau nggak tuh nggak!!!” . Anak itu menolak untuk diraih dan lari ke kamarnya.
“ Mbak… mbok di pikir lagi… “ Saran yang cuma-cuma menurutku.
Wanita itu meninggalkanku dan menuju kamar anak gadisnya. Didapatinya anaknya menelungkupkan kepalanya di bawah bantal.
“ Sini... “ Ia mencoba meraih jiwa permata hatinya itu.
Gadis itu pun menolak lagi.
Mbak Mar pun menyerah, tidak mungkin memaksa.
“ Biar nduk Sari bisa kaya’ temen-temen. Ntar kalau dah SMA bisa bawa motor ke sekolah. Masa’ temennya bawa HP nanti Sari nggak bawa HP…? “ Ia mencoba merayu sang buah hati sambil mengelus pundaknya. Tapi gadis belia itu tidak bergeming.
Sedang aku hanya mematung di pintu kamar melihat pertunjukan itu. Menjadi penonton setia yang tak mampu bertepuk tangan atas kehebatan dunia. Sedang mbak Mar pun kini menatapku, ikut mematung,
Aku harus bagaimana? Tapi ini lah keputusanku…
Tapi gadismu telah diajari oleh hidup bahwa ia tidak memerlukan semua itu. Ia hanya butuh belaian Bunda yang hilang sejak umur 8 tahun. Ditambah dengan banyak kejadian dirumah yang tidak mampu dilihat dan dirasakan oleh anak seusianya. Diantara himpitan seorang ayah dan juga kakak yang jelas keduanya adalah laki-laki bertemperamen tinggi.
Aku pun hanya menggelengkan kepala. Ayo pikirkan lagi. atau gadismu akan terluka kembali…
***
Semua telah tertulis dan tinta telah mengering. Tragedi ini harus berulang kembali. Skenario hidup menghendaki demikianlah yang seharusnya terjadi.
Tidak cukup satu, dua atau tiga saja. Mungkin dengan keberangkatan yang ke empat kalinya akan benar-benar mengubah nasib.. Atau lima…?? Ah entahlah. Yah, dan mungkin dengan haji yang juga ke empat kalinya nanti harapannya akan benar-benar terkabul.
Mbak Mar sudah siap dengan dua koper besar dan harapan yang diderek masuk ke bagasi Carry. Siap membawa kembali sang Bunda yang sekaligus seorang istri ini untuk berjuang kembali di tanah orang. Bersama para bunda dan istri-istri yang lain.
Miris, Idul Fitri belum habis. Lebaran ketupat juga belum dicicipi. Lebaran yang dirayakan semiggu setelah tanggal 7 syawal ini masih tanpa sang bunda lagi. Sari hanya mematung tanpa ekspresi. Matanya kosong menatap maya. Sang bunda, harus jauh lagi di mata.
Jika dulu Sari menangis meraung-raung, namun pengalaman mengajarinya untuk lebih kuat. Terhitung dua tahun lagi akan berjumpa dengan sang bunda. Semoga selamat, begitu doanya setiap usai sholat.
Mbak Mar menyalami kami para tetangga satu persatu, sambil membisikkan.. “ do’akan ya..” Dan kami pun hanya mengangguk lagi seperti anggukan yang dulu. Air matanya mulai menganak sungai, memudarkan bedak dan lipstik yang baru saja terpoles.
Giliran sang suami untuk dipamiti, diciumnya tangan gagah itu sembari membisikkan “ Aku pamit” . Sang suami tak bisa berkata. Dibelai kepala wanita terbaiknya itu dan menjawab “ Maafkan aku”.
Si anak sulung masih mematung, sebagai bujang yang sudah dewasa memang tak sepatutnya untuk larut bersedih. Kehidupan di penjara beberapa bulan mengajarinya lebih. Ah, jauh dari sang bunda sudahlah kepastian. Mungkin hanya waktunya lebih cepat. Toh sang bunda masih pulang nantinya. Diciumnya tangan bunda. Dan sang bunda kembali membisikkan “ Jaga adikmu.” Dan si bujang menjawab singkat“ Ya.”
Sedang Sari masih tanpa ekspresi. Memandang kosong dan masih bertanya mengapa ini terjadi untuk kesekian kali. Belum genap rasa rindu terlunasi, sang bunda harus pergi meninggalkannya lagi. wajahnya dingin sembaari tangannya meraih salam bunda, sedingin angin yang enggan berhembus. “ Mamak berangkat ya nduk…? “. Dan wajah itu pun menjawab, Berangkatlah mak… aku sudah terlatih, dan sudah tak ada air mata lagi.
Namun di wajah sang bunda air mata itu semakin deras menganak sungai.
“ Belajar yang bener ya nduk. Mamak didoakan mudah-mudahan sukses. “Ujarnya sambil sesenggukan. “Kamu yang sabar…” Dan gadisnya hanya mengangguk tanpa menatap wajah yang akan dilihatnya dua tahun lagi. Tak apalah tanpa mamak lagi, toh aku sudah besar.
Mungkin jika harus terulang memang demikianlah adanya. Namun luka pada bunda semakin perih menganga. Tercabik-cabik lagi dengan tragedi pagi ini. Jikalau bisa terbagi dua, maka itulah yang akan dilakukannya.
Wanita itu akhirnya bergabung dengan para wanita yang senasib dengannya. Wajahnya mencoba tegar untuk melihat kedepan. Demi kebahagiaan keluarga, maka segala jalan asalkan halal akan terus ditempuhnya. Ia melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Sang suami dan si bujang pun hanya membalas senyum yang tak mampu menyembunyikan sendu. Sedang gadisnya lari secepat lomba lari hilang menyembunyikan teriakannya di dalam kamar. Mengapa harus lagi…!!!
sungguh wanita yg tegar.
ReplyDeleteoya. ini di angkat dari kisah nyata...
ReplyDelete