Saturday, January 3, 2009

PA TAHHA TI

Minggu pagi yang indah. Selalu begitu. Yuli si gadis periang itu membuka jendela kosnya dengan sunggingan senyum yang bebas lepas. Tidak ada kuliah hari ini, tidak ada tugas, juga tidak ada agenda berarti. Ditengoknya jam dinding dikamarnya, jam itu jelas mengejeknya. Sudah pukul 8! Jelas, tidak pantas anak gadis bangun jam segitu.

Hanya saja sejuk udara masih menyisakan hawa embun. Cicit burung yang bersarang dikebun dan tampak langsung dari jendela itu menghadirkan orkestra instrumental kenamaan, mountain sunrise peaceful pan flutes, kesukaannya. Namun sinyal teknologi tiba-tiba menembus atap kamarnya dan irama orkestra itu tiba-tiba berganti suara kucing yang menggelikan.
Meong….
Rington ponsel Samsung milik Yuli.

Huff.. mengganggu saja. Piikir Yuli
. dilihatnya layar ponsel.
Sanusi? Sudah ku sangka kau akan telphone aku hari ini.

Yuli : Assalamu’alaikum…
Sanusi : Wa’alaikumsalam…
Yuli : Gimana Boy…
Sanusi : nggak gimana-gimana kok Yul. Hahaha…
Diam sejenak...

Sanusi : Sakit Yul, Sakit…!!!
Yuli : udah lah San… ikhlas lah …
Sanusi : Ikhklas sih ikhlas Yul. Tapi sakit…!!!
Yuli : Hahaha… kau itu cowok. Yang kuat dong! Cari lagi…
Sanusi : Gampang Yul cari lagi. Semua cewek gampang kepincut sama aku.
Yuli : hu… Semua orang juga tahu. itu nyadar!!
Sanusi : Tapi dia itu….
Belum selesai bicara…

Yuli : Hahaha… kau sih. Gadis baik dan sesolehah dia kau sia-sia… !!!

Obrolan telphone yang setengah jam itu menambah ekspresi senyum Yuli dengan tawa kecil di wajah Yuli.
Begitu ya orang patah hati. Kasihan… haha.

Wah, kali ini patah hati sungguhan.
Kata Sanusi yang di tinggal mantan kekasihnya menikah. Pacaran mereka yang berlangsung selama 3 tahun kandas imbas tingkah laki-laki ini yang pandai menggaet gadis. Meski playboy dan karena playboynya itulah, gadis sesabar Tari si kekasih itu, akhirnya mengundurkan diri. Jelas dong dalam perjalanan mereka mangalami putus sambung. emang kereta?! As usually boy and girl in middle age fall in love. Haha… Tapi memang itulah ceritanya. Dan Yuli yang mengerti betul kisah mereka berdua merasa kasihan disatu sisi, tapi juga bahagia disisi lain. Tari yang juga adalah teman dekat ketika SMA itu telah mendapatkan laki-laki yang sangat baik. Soleh, begitu kata orang.
Tapi Sanusi, cowok playboy itu. Bisa ya patah hati??? Kosa kata baru sepertinya.

Nun dijauh pulau seberang Yuli hanya berdo’a. Bukan karena ia tidak setia kawan dengan tidak hadir di pesta pernikahan Tari, hanya saja skripsi yang sudah 4 semester belum kelar juga menjadi alasan utama. Apa kira-kira jawaban yang harus dikeluarkan ketika Amak dan Abah tanya.
Kapan kau lulus nak?

Pagi itu semakin cerah tampaknya. Juga diwajah Yuli. Masih memikirkan alangkah bahagianya sahabatnya disana. Juga dilain sisi, geli juga ketika menyaksikan patah hati seorang teman meski hanya dengan mendengar keluh kesahnya. Keluh kesah dari seorang playboy yang patah hati. Haha…
***
1 Message received.
Yul, aku inget Ujo terus niy…

Hahaha… Yuli pun hanya mengerenyitkan dahi dan tersenyum kecut. Apa pula ini? terlalu banyak kisah cinta yang cukup menjejali otaknya. Belum sembuh kisah patah hati Sanusi, eh… sungguh malang nian gadis minang yang juga sohib dekatnya itu.

Lalu, apa perlu ku dendangkan lagu untukmu? Karya Brurie Marantika. ‘Hatiku hancur mengenang dikau...’

Message sent.

Hahaha…. Yuli hanya mencoba menghibur. Nelfia, kategori kisah roman akut permanent tingkat tinggi. Sudah putus dua tahun, tak jua pudar rasa itu. ah, menyedihkan…

Daftar saja berapa cerita yang datang padanya tentang makhluk yang bernama cinta ini. Kata penulis handal Andrea Hirata, bahwa cinta itu berbanding lurus dengan gila. Namun ia menyangkal, jika memang begitu, keduanya tidak akan pernah menyatu. Jadi, kalau cinta ya cinta, kalau gila ya gila. Lantas, kisah Nelfia kali ini masuk ke kategori yang mana??

Daftar saja, Dewi, Sanusi, Nelfia, Hanif, Angga, dan masih banyak lagi. Yuli tahu persis kisah mereka itu. Sampai-sampai ia bertanya dari salah seorang dari mereka. Ditanya salah seorang dari mereka
Apa sih rasanya patah hati??
Dan balasnya….
Seperti mencabut pedang di luka yang telah kering

Ho… mengerikan sekali. Hanya terngiang pedang samurai milik Musashi alias Takezo yang membabat banyak nyawa di rerimbunan hutan pinus dekat kuil Ozoin. Kisah samurai yang belum lama dikhatamkannya.
Jika luka itu miliknya, hih, sakitnya...

Kasihan ya mereka itu…

***
Yuli sangat bersyukur. Perjalanan cintanya hari ini berjalan mulus. Setelah mantap untuk menjaga izzah dirinya dengan menolak beberapa rekan laki-laki yang mengajaknya berkencan, kini membuatnya lega. Azzam untuk menyiapkan diri terlebih dahulu segala sesuatunya untuk berumah tangga, kini kuncupnya sudah tampak. Hanya memang harus menunggu sejenak lagi, sedikit lagi untuk mekar. Begitulah kiranya…

Bacalah ungkapan yang dituliskan ketika ia baru saja sadar, bahwa dasar hati yang memendam rasa yang menggetarkan itu terjawab oleh sang kekasih dengan mengirimkan gelombang getaran yang sama. Cinta…

Kubiarkan rasa ini meraja.
Mengkomando jiwaku yang kini telah menjadi manusia,
Manusia, se-manusia - manusianya.

Duhai Tuhan manusia, andai saja ku tahu rasanya begini
Tentu aku tak-kan menyerahkan daulat kerajaan jiwaku padanya
Cinta


Hanya saja Yuli butuh waktu. Menghadapi segala kenyataan. Bahwa apapun bisa terjadi.

Namun tengoklah Yuli, kali ini pun ia tidak mampu mendiagnosis diri seperti apa yang diungkap dirinya tempo hari. Entah kali ini ia sedang benar-benar jatuh cinta, atau sedang sakit jiwa.

Pun secara logika, awal mula ceritanya sama sekali tidak masuk akal. Tidak pernah tegur sapa, tidak juga ngobrol. Pun jika berada dalam satu ruangan yang tiba-tiba laki-laki itu datang, Yuli pun memilih pergi dan sibuk dengan hal-hal lain.

Kapan jadinya kau akan melamarku?

Message sent

Message received
Kasih wkt aku 3 bln lagi

Ah, lama sekali bang... Asal kau tak buat aku patah hati seperti mereka itu...


Besar peluang banyak hal akan terjadi dalam waktu itu. Yang Ia ingat hanya sebuah kisah dari seorang teman yang juga kisah cinta. Bahwa hidup seorang ksatria sempurna yang juga patah arang karena cinta dengan cukup bertahan dengan kalimat penutup…
Ia adalah ksatria, yang ikhlas dengan segala apa yang terjadi di hidupnya.

***
Sudah tak sabar lagi Yuli ingin sampai di rumah. Jika pulang lebaran yang lalu ia tidak bisa membawa kabar apapun, namun kali ini sangat berbeda. Awal tahun yang sangat luar biasa. Bagaimana tidak, hutang studinya telah terlunasi. Dan Mei depan ia akan mengajak Amak dan Abah ke Jogja menghadiri wisudanya di gedung megah Graha Sabha Pramana. Dan jika kemarin ia tidak bisa menjawab pertanyaan Amak,
Yul… Bujang mana ya yang bisa curi hati kau?
Namun kali ini ia akan menyampaikan dengan suka cita
Amak, menantu amak akan datang minggu depan melamar Yuli..

Haha… Yuli tersenyum-senyum sendiri. Perjalanan yang memakan tiga hari dua malam ke Medan itu sama sekali tidak masalah. Juga koper dan dua kardus yang ditenteng tiap pergantian bus bukanlah beban yang berarti.
Yang ada hanya senyum dan senyum. Dan yang membuatnya semakin gembira adalah telphone dari Abah kemarin.
Esok juga ya kau musti berangkat. Ada berita gembira yang harus kau jumpa sendiri di rumah.
Begitu terngiang kata-kata Abah. Ah Abah… tak jua kunjung bosan memberi putri kau ini kejutan…

Perjalanan Yuli terasa cepat. Setelah menembus ruang dan waktu. Tak terasa ombak sepanjang selat sunda, juga gelombang di lubang-lubang jalan aspal sepanjang kampung di pinggiran kota Medan. Akhirnya, Ia sampai juga di rumah yang baginya segala sumber cinta dunia. Cinta Amak, cinta Abah, juga ketiga abangnya yang sekarang masih merantau menyebar di seantero tanah Arab. Belajar ilmu agama.

Yuli turun dari bis dengan tegap. Masih tersungging senyum. Satu koper dan dua kardus berisi oleh-oleh menjadi pengiring ketika ia memasuki halaman rumah. Rumput hijau yang terbentang tiba-tiba menjadi permadani, beberapa pohon kelapa tiba-tiba menjadi pinus yang menjulang, dan kembang asoka yang sedang tidak berbunga berubah menjadi cemara. Ah… bahagianya.

Amak, Abah, Yuli dulu berangkat dengan cinta Amah dan Abah. Kali ini Yuli pulang bawa satu cinta, esok ‘kan datang ke rumah kita…

Sesampai di beranda rumah.
“ Assalamu’alaikum… Amak..!!!”. Teriak Yuli dengan girang.
“ Anakmu datang…!” Tambahnya

Pintu depan terbuka. Muncul seorang wanita paruh baya dengan sunggingan senyum yang merekah.
“ Wa’alaikum salam…. “.

Diciumnya tangan Amak, juga peluk hangat. Seperti anak ayam yang terlalu lama mencari induknya yang hilang.

“ Alhamdulillah… akhirnya kau pulang nak.” Sambut Amak.

“ Alhamdulillah Mak. Yuli bener-bener pulang sekarang. Mana Abah?”. Yuli tanya celingukan. Tidak tampak Abah menyambut kedatangan putri tunggalnya.

“ Tuh Abah.” Jawab Amak sembari menunjuk arah belakang Yuli.
Turun dari angkot laki-laki paruh baya nan berwibawa.
Ah Abah…

Dan… Abah ternyata tidak sendiri. Ada laki-laki muda bersama Abah. Berbincang akrab memasuki halaman rumah.

“ Mak, siapa itu?”. Tanya Yuli sedikit heran. Ia tahu betul, laki-laki itu bukan berasal kampungnya.

Sambil senyum bahagia Amak manjawab, “ Itulah kabar gembira yang tempo hari Abah kau bilang. Bujang yang akan jadi menantu Amak dan Abah nanti. Gimana menurut Kau?”

Tiba-tiba hijau permadani jadi hitam, langit biru juga meghitam. Waktupun mematung tak bergeming. Pohon-pohon pinus roboh, dan cemara pun kering, daunnya berguguran.

Ah… Mengapa kau datang juga?

Makhluk mengerikan itu, yang bernama Pa tahha ti.

Namanya juga anak gadis. Linangan air mata jadi motif yang unik di wajah Yuli.

Kenapa akhirnya harus menimpaku juga?

Begitu kurang lebih dialog hatinya.

Abang, maafkan Yuli. Demi Alloh semua diluar kehendak Yuli, dengan buat Abang merasakan patah hati lagi. Patah hati Abang yang sudah bertubi-tubi.






untuk diriku, dan juga dua kawan baruku.
terimakasih telah mampir di duniaku....

8 comments:

  1. ceritanya bagus deh Mi.,
    Hm..

    PATAH HATI ya? Itu kan resikonya orang yang jatuh cinta.. Aku juga pernah sih patah hati. Ops!

    Thanks for it!

    ReplyDelete
  2. duhai, kenapa engkau tidak memberitahukan kepadaku. sekadar mematahkan hatiku.. he he he
    apakah sudah benar seperti tulisanmu? kalau ya.. katakanlah. sebab akan lebih sakit ditusuk dari belakang daripada ditebas tepat dileherku. He he

    Umar Syahafif

    ReplyDelete
  3. siip dech... banyak cerita yang harus diungkap. biar punya banyak hikmah. oya, ada kelanjutannya...


    ehm, ketika Yuli menceritakan pada Tari tentang hal itu, Tari hanya menjawab. " Hahaha... Yuli sih, telat patah hatinya. Kurang imu!".
    Yuli pun hanya tertawa.
    " Iya, ternyata aku telat ya?! hahaha... ".


    lho, ada yang marah ya? maaf... aku hanya ingat satu sajak Rendra.
    " Susah senang tidaklah istimewa, sebab setiap orang mengalaminya."

    let's see what the next story about Yuli...

    ReplyDelete
  4. lumayan, lebih diasah lagi ya..? bwt pembaca lebih Greget dunk, ringan tapi brilian, key? q tunggu lo...

    M. Tyo fahry A. /si jack

    ReplyDelete
  5. paling yang marah cuman Wex....

    UmSyah

    ReplyDelete
  6. Jadi, tokoh utamanya tuh Yuli ?

    ReplyDelete