Tuesday, January 20, 2009

qona'ah dengan kebodohan. No way!

“ Pak, Bagus tadi di panggil kepala sekolah. Bapak masih inget tho kalau Bagus belum bayar SPP 3 bulan? “

Pak Bejo cuma mematung, melihat anaknya yang kelas 2 SD itu mengadu didepannya sambil mengulet sambel dinasinya yang tanpa lauk. Polos, tanpa ekspresi.

“ Apa katanya?” Matanya kini mengarah ke mulut anaknya yang kepedasan.

“ Ya Bagus bilang aja kalau Bapak belum ada duit.” Jawab anaknya enteng. Kali ini suapan nasi yang terakhir. Juga sambal yang terakhir.

Pak Bejo menelan ludah. Ia cukup kenyang melihat anaknya makan ditambah lauk dari jawaban anaknya.

“ Terus?” Tanyanya lagi.

“ Bagus bilang, ntar kalau Bapak Bagus udah punya duit, Bapak Bagus akan bayar SPPnya.” Selesai ngomong anak itu minum air putih didepannya.

“ Oh iya. Bagus tadi dapet nilai 100. Matematika Bagus betul semua!” Tiba-tiba Bagus mengejutkan bapaknya dengan berita gembira.

Dan wajah pak Bejo berubah begitu saja. “ Wah, anak Bapak hebat!”

Bagus pun tak mau kalah. “Siapa dulu bapaknya… Pak Bejo Kusumo! Ggghhh…”. Bagus bersendawa.

“ Hahaha… “ Pak Bejo pun hanya tertawa. Cah Bagus…

“ Pak, kok jualan Bapak ndak laku-laku kenapa e?” Tanya anak itu lagi polos. Dilihatnya balon doraemon dan balon-balon tokoh kartun lainnya. Tiap harinya tidak banyak berkurang.

Pak Bejo hanya tersenyum miris, pasalnya ia memang hanya berjualan di perempatan lampu merah. Berjualan bersama pedagang yang lain. Sama-sama pedagang kecil yang ketat bersaing, juga bersaing dengan pembeli dengan tawar menawar harga dari bus dan mobil-mobil pribadi.

“ Ssssttt… Bagus ndak boleh bilang gitu. Rezeki kita dah diatur. Alhamdulillah… gitu lho Le… “ Ujar laki-laki hitam itu.

Bagus lari ke gerombolan balon tokoh kartun itu. Ada Batman yang bisa terbang, ada One Peace yang tubuhnya terkenal a lot, ada Sailormoon yang bisa berubah, Power Ranger yang hebat, Spiderman dengan topeng misteriusnya, dan banyak lagi. Tapi Bagus tertarik dengan balon Doraemon. Diambil dan dipejet-pejetnya balon itu.

“ Pak e..?” Kali ini bagus memainkan balon Kucing bermulut besar itu.
“ Hmm… “ Sahut bapaknya.
“ Enak ya kalau kita puya Doraemon beneran. Kita bisa minta apa aja.” Bagus berkhayal menjadi Nobita. yang minta apa aja ke Doraemon, dan Doraemon pasti akan memberinya.

“ Hoalah le... itu kan di film. Di dunia ini ndak ada begituan. Kalau ada bapak ndak usah bekerja. Minta aja uang sama Doraemon.” Bapaknya menimpali.

“ Piye tho. Punya Doraemon kok ndak mau. “ Bagus masih menjawab.
“ Kalau minta apa-apa tu sama Gusti Alloh. Berdo’a. Makanya kamu jadi anak yang soleh, biar do’amu dan doa kita juga dikabulkan sama Gusti Alloh. Bukan sama Doraemon. “ Bapaknya menjelaskan.

Bagus hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan bapaknya. Sambil memainkan balon Doraemon di tangannya.

“ Do’akan juga ibumu ya Le…” Tambah bapaknya lagi.

***
Siang itu pak Bejo turun ke jalan lagi. Seperti biasanya, ia bersama dengan teman-teman seperjuangan, bersaing menjajakan dagangannya. Di zaman sulit seperti ini apa saja orang lakukan untuk melanjutkan hidup. Pun itu pekerjaan yang paling keras sekalipun. Namun zaman yang menghimpit ini lama-kelamaan menjadi sadis. Kasus bunuh diri meningkat, dari alasan anak yang tak bisa bayar SPP sampai pada seorang ibu yang khawatir tidak bisa memberi makan bayi yang baru dilahirkannya.

Lampu merah di perempatan itu menyala.

“ Sayang anak, sayang anak…” Pak Bejo turun lagi ke aspal, menawarkan balon-balon itu ke jendela-jendela mobil dan bus.

“ Bu, balonnya?” Pak Bejo lebih dekat ke kaca mobil-mobil pribadi. Milik orang-orang berkantung tebal.

“ Pak pak…! “ Sahut seorang Ibu dari Jendela
Pak Bejo lari menghampiri sambil tersenyum senang.

“ Berapa?”

“ Yang mana?”

“ Doraemon.”

“ Ooo… 20 ribu aja bu.” Jawab Pak Bejo

“ Wah. Mbok kurang.” Tawar Ibu itu.

“ Wah.. Ibu. Jangan ya bu.” Pak Bejo mempertahankan harga.

“ 10 ribu deh… “ Tambah ibu itu lagi.

Wajah Pak Bejo berubah. Mobilnya bagus, kok tawarannya segitunya sih..!

“ Maaf Bu.” Pak Bejo meninggalkan Ibu itu dan beralih ke mobil lainnya.

“ 15 Ribu deh pak!” Ibu itu lebih keras menawar agar terdengar.

Pak Bejo menggeleng.

“ Pak, tunggu!” Pak Bejo pun berhenti. “ Sini.” Tambah Ibu itu lagi.

Pak Bejo pun menghampiri kembali.

“ 17 setengah. Gimana? “ Ibu itu masih kekeh menawar.

“ Kalau Ibu mau 18 ribu. “ Pak Bejo pun melepaskan harga. Itu berarti ia hanya laba 3 ribu rupiah.

“ Ya udah. 18 ribu.” Terjadilah kesepakatan harga dan jual beli itu.

Pak Bejo pun tampak senang dan bersyukur. Sejak pagi tadi itu adalah penjualannya yang pertama.

Ia lalu menggelembungkan lagi balon Doraemon yang masih kempis. Berarti balon Doraemon yang kedua. Begitu selesai. Ada lagi yang memanggilnya. Dan akhirnya terjual lagi. kemudian Pak Bejo menggelelembungkan lagi balon doraemon. Dan balon ketiga itu pun terjual. Kemudia ke empat, ke lima dan seterusnya. Dan keesokan harinya pun demikian. Penjualan pun tetap laris dengan harga 20 ribu. Luar biasa. Dengan demikian ia bisa membayar lunas SPP Bagus juga SPP bulan depannya lagi.

Suatu hari setelah tiba dirumah pak Bejo pun berfikir. Kok beberapa hari ini balon Doraemon itu begitu laris. Dan ia pun bertanya kepada anaknya.

“ Itu karena lagi heboh di TV Pak e… “ Jelas Bagus.

“ Oo… itu ya Gus. Lagi ngetrend gitu?” Tanya bapaknya lagi.

“ Di rumahnya Galuh juga ada balon Doraemon. Kata Galuh, kalau mau minta apa aja, tinggal bilang ke Doraemon. Nanti dikasih. Bisa ngeramal juga lho Pak...“ jelas Bagus.

Pak Bejo pun bingung dengan penjelasan anaknya. “ Jangan sembrono kamu. Mana ada begituan?! Apa lagi bisa diminta-mintain gitu.”

“ Bapak tu ndak percaya. Ke rumahnya aja langsung. Di rumahnya Pretty juga ada. Pretty juga bilang gitu. “ Bagus pun masih ngeyel. “ Bapaknya Galuh sama Bapaknya Pretty juga bilang gitu.” Kali ini lebih mantap.

“ Huss, sudah. Jangan aneh-aneh lah!”

“ Hiiih! Bapak nih ngeyel. Yo wes kalau ndak percaya.” Bagus pun cenderung kesel. “ Tapi aku tetep manut sama bapak. Ndak boleh minta-minta sama Doraemon. Mintanya sama Gusti Alloh. Gitu tho pak e?” Tambah anak itu lagi.

Pak bejo pun semakin mengerenyitkan dahinya. Dan mengehela nafas. Orang-orang udah sedeng apa kok minta-minta sama Doraemon. Kali ini sama balonnya lagi. mending kalau memang Doraemon beneran. Tapi itukan tokoh fiktif. Pembodohan massal.

“ Yoo, siap-siap buat magribpan. Udah mandi belum? .” Pembicaraanpun beralih.

“ Bapak tho yang belum mandi. Aku dah siap. Tinggal pake peci sama sarung.” Jawab Bagus.

“ Ya wes. Bapak tak siap-siap dulu. Kamu yang azan lagi ya. Bapakmu kan dah mulai tua. Suaranya udah jelek.” Pak Bejo meminta.

“ Ya. Azannya Bagus, bagus ya pak?” Kali ini Bagus sumringah.

“ Iya. Bapak suka. Kamu jadi anak yang soleh ya. Biar Ibumu juga seneng disana.” Pak Bejo pun tak bosan mengingatkan tentang itu dan segera beranjak dari lelahnya. Baguslah yang selama ini mampu menghilangkan rasa lelah dan juga sedih. Setiba dirumah, pasti ayem liat anak itu. Penyejuk mata. Begitulah Bagus bagi pak Bejo. Bagus memang anak yang soleh.

Bagus pun bergegas untuk mengambil peci dan sarung. Dan ia pun lari ke masjid samping rumah. Masjid yang kian hari kian sepi. Kalau dulu ramai setiap habis magrib anak-anak kecil yang mengaji diajari beberapa anak muda, tapi sekarang tidak lagi. Anak mudanya jam segini biasanya nongkrong di perempatan, gitar gitaran atau sekedar guyon. Dan semakin malam biasanya semakin ramai. Dan tak ketinggalan rokok bahkan minuman keras adalah lukisan malam yang sudah lazim.

Terdengar sayup merdu suara azan Bagus yang mengalun dari mikrophone masjid. Pak Bejo yang mendengar pun bangga. Alhamdulillah… Anakku memang anak yang soleh.

Pak Bejo pun segera beranjak dari rumah. Namun dari jalan gang antara rumahnya dan masjis, ia melihat sesuatu yang ganjal di pohon beringin depan masjid. Ada yang menggantung luntang-lantung di bagian tengah rimbun pohon itu. Cahaya magrib memang sedikir menyilaukan matanya. Didekatinya lekat apa yang menggantung disitu. Dan pak Bejo pun terperanjat.

“ Astagfirulloh… Kok ada balon Doraemon disini!“ Pak Bejo tidak mampu menyembunyikan keheranannya. Persis balon Doraemon seperti yang dia jual. Kakinya menendang sesuatu. Dilihatnya apa yang barusan disemparnya.

“ A’udzubillahi mindholik… “ Pak Bejo pun hanya mengelus dada. Itu adalah tungkku kemenyan. Juga didapatinya bunga-bunga yang berwarna-warni.

“Hhihh… “ Pak Bejo bergidik jijik melihat hal itu. Ia pun segera naik dan menurunkan balon itu. dikempiskannya balon dan dilemparkan ke lobang sampah. Dibrak-abriknya tungku kemenyan dan kembang yang berwarna-warni itu. Setelah puas ia hengkang menuju pintu masjid. Seperti biasa, masjid tampak lenggang tanpa jama’ah. Hanya ada dia dan si putra tunggal tiap harinya.

Biasanya setelah sholat berjama’ah pak Bejo menyimak baca’an qur’an anaknya. Hanya saja sebelum mulai mengaji, pak Bejo bertanya tentang perihal balon Doraemon di depan masjid.

“ Wah, pak e ini nggak gaul. Di pohon sengon belakang rumah kita juga ada. Terus yang di rumahnya Galuh tu di gantung di kamar Bapaknya. Kalau yang dirumahnya Pretty di pohon nangka samping rumah. Udah biasa kali pak… terus, menyan sama bunga itu kan prasyaratnya. Kan Bagus udah pernah bilang, sekarang kalau orang-orang pengen apa aja tinggal bilang sama Doraemon… “ Jelas Bagus.

Kali ini wajah Pak Bejo serius. Raut wajahnya mengatakan nggak mungkin! Ada amarah yang tampak namun rapat tersimpan.

“ Ayo. Anter bapak kalau gitu. Buktikan ucapanmu itu.” Pak Bejo berdiri dan menggaet tangan anaknya semata wayangnya itu keluar masjid.

Sedangkan gelap telah menyelimuti bumi. Pak Bejo kembali kerumah mengambil senter. Dan Bagus hanya melenggang di depan pintu rumah menuggu bapaknya keluar lagi.

Keluar dari pintu pak Bejo langsung menuju belakang rumahnya. Dan Bagus tampak kepayahan menyusul langkah bapaknya yang lebar dan cepat. Tepat dibawah pohon randu tua itu, pak Bejo mengarahkan cahaya senternya.

“ Astaghfirulloh… “ Ujarnya.

“ Tuh kan. Bapak ndak percaya sih Bagus bilangin. “ Satu kosong. Pikir Bagus.

Tanpa ba bi bu pak bejo memanjat pohon besar itu. Diambilnya balon kucing tak berkumis itu dan dibiarkan jatuh ke tanah.

“ Kempesin balonya Gus! Bapak ndak sudi kebun bapak dijadikan tempat syirik kaya’ gini.” Perintah pak Bejo pada anaknya.

Bagus pun mengempesin balon itu. Dan Doraemon yang tampak gemuk itu kini sudah tak berbentuk lagi.

Pak Bejo pun turun. Menyan dan bunga-bunga dibawah pohon diobrak-abriknya. Dasar orang ndak beriman. Orang gila yang minta-minta sama balon. Astaghfirulloh… ini harus diberantas!

“ Sekarang anter bapak ke kebunnya Pretty.” Perintah pak Bejo.

Merekapun menuju kebun milik tetangga sebelah.

“ Le.. tak kasih tahu ya. Doraemon itu ndak bisa kasih apa-apa. Kalau kita mau minta apa aja, bilang aja sama Alloh. Habis setiap sholat, habis baca qur’an. Alloh pasti ngasih. Kita ndak boleh minta sama selain Alloh. Kamu faham? “ Pak Bejo pun memberikan wasiat pada anaknya. Dan Bagus pun hanya mengangguk-angguk.

“ Kalau mau Alloh mengabulkan do’amu, kamu ndak boleh tinggal sholat lima waktu, rajin ngaji, patuh sama Bapak, hormati yang lebih tua, dan jangan nakal sama temen. “ Tambahnya. “ Nah, yang nyembah-nyembah sama selain Alloh itu namanya syirik. Dan yang melakukan itu cuma orang-orang bodo. Alloh paling ndak suka. Terus dosanya ndak akan pernah diampuni sama Alloh. Hukumannya neraka abadi.” Sambil ngos ngosan pak Bejo menjelaskan. Jalannya pun semakin cepat. Apa lagi Bagus. Dia harus sedikit berlari mengimbangi.

“ Makanya kamu ndak boleh lewat ngajinya. Belajar Al-qur’an, hadist, sama tafsirnya. Biar ndak tersesat. “ Tak bosan pak Bejo menasehati. Dan Bagus pun mendengar betul apa yang disampaikan bapaknya itu. Laki-laki emas satu-satunya dalam hidup miliknya.

“ Mulai besok bapak ndak akan jualan balon doraemon lagi. Bantu bapak bakar semua dagangan besok pagi sebelum ke sekolah. Bapak pengen muntah tahu kaya’ gini.” Kali ini tepatnya pak Bejo menyesal. Telah menjual balon-balon itu. Bisa jadi hari ini Doraemon, esoknya Batman, Superman, atau Spongebob? Tokoh kartun rekaan orang-orang Yahudi.

Sampailah mereka di pohon nangka di kebun milik keluarga Pretty.
“ Astaghfirulloh… Sejak kapan bapaknya Pretty kaya’ gini?!” Pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu jawaban. Dan yang paling penting, kenapa banyak orang menuhankan balon Doraemon?

“ Bejo!!! “ Teriak seorang dari arah belakang mereka. Tampak segerombolan membawa obor sekitar 10 orang menghampiri mereka. Ada yang membawa pentung, rantai, celurit bahkan parang. Wajah mereka pun tegang. Dan Bagus ketakutan, ia pun bersembunyi di balik adan Bapaknya. Rombongan itu diiringi syetan-syetan berjubah hitam. Ada yang bertaring, bertanduk. Merekapun terkekeh-kekeh tertawa di samping, depan dan belakang rombongan.

“ Ternyata kamu yang ngobrak-ngabrik. Ndak sopan!!! “ Tampak Bapaknya Galuh berbicara garang. Yang juga ikutan menuhankan Doraemon.

“ Iya. Saya yang ngorak-ngabrik. Emang kenapa?!” Tantang Pak Bejo.

“ Kamu cukup membuat warga resah. Kamu harus minta maaf sama warga karena telah membuat onar!” Jawab laki-laki itu.

“ Betul! Betul!!” Teriak yang lain sambil mengacung-acungkan senjata mereka.

“ Mas, ingat ini. Saya ndak akan pernah minta maaf. Dan ndak akan biarkan kesyirikan merajalela di tengah masyarakat kita. Meminta sama balon Doraemon?! Hah! Memalukan. Nih, lihat! Dia aja ndak bisa membela dirinya sendiri.” Pak Bejo melemparkan balon Doraemon yang telah dikempesin ke depan mereka.

Mereka semua pun naik pitam. “ Serang!!!!” Entah suaranya siapa yang memberi aba-aba itu. Kemudian kesepuluh orang itu menghantamkan senjata mereka ke arah pak Bejo. Pak Bejo pun menggeret Bagus dan menyembunyikan anak kecil yang ketakutan itu dibelakang pohon nangka.

Dengan posisi siap tempur pak Bejo menyambut rombongan itu. Bela diri yang pernah dipelajarinya di pesantren membuatnya bertahan dan mampu menghindari beberapa serangan dari gerombolan yang ganas itu. Sedangkan syetan-syetan yang mengiringi tadi kini terbahak-bahak tertawa menonton adegan itu. Satu, dua, tiga orang pun roboh oleh tangan kosong pak Bejo. Namun tiba-tiba…

“ Aaagghhh… “ Pak Bejo tersungkur dengan parang yang tegak di punggungnya. Dijabutnya paksa parang itu dan dilemparkan jauh tak berarah.

Rombongan itu pun mundur perlahan-lahan. Dan merekapun lari. Sedangkan setan-setan tadi pun ikut lari masih sambil tertawa terbahak-bahak. Dan tawa setan-setan itu berhenti seiring datangnya malaikat-malaikat bersayap yang mengenakan jubah-jubah putih berkelebatan. Dan setan-setan itu bersama gerombolah itu menghilang di kegelapan.

Bagus pun keluar dari persembunyiannya. Dilihat Bapaknya yang sekarat. Matanya yang tadi ketakutan kini berurai air mata. “ Pak… Jangan mati… “ Ujar anak itu sambi memangku kepala Bapaknya.

Tampak wajah Pak Bejo yang sekarat itu tersenyum. Dipegangnya paras anaknya yang soleh itu, lembut. Selembut pipi anak bagus itu. Pak Bejo terus tersenyum, karena ia tahu telah ada yang menjemputnya untuk pergi meninggalkan bumi. Dan malaikat tadi dengan halus mengambil ruh pak Bejo. Sampai terakhir ruh itu meninggalkan jasad keluar dari ubun-ubun.

Dan laki-laki emas didepannya itu pun kini tiada.

Iya pak.. Besok Bagus bakar semua balon-balonnya. Bagus janji ndak akan ninggalin sholat. Bagus akan jadi anak yang soleh, rajin ngaji terus kirim doa buat Bapak sama Ibu. Terus mintanya sama Gusti Alloh aja… Bagus juga ndak pengan punya Doraemon kok.

***
“ Pak, emang beneran ya itu? “ Tanya Ro’uf sambil asik memainkan jari Bapaknya. Tapi matanya tertuju di iklan televisi yang menawarkan banyak hadiah dengan syarat kirim sms aja.

Bapaknya yang memangkunya itupun menghela nafas. “Huufff… Ya ndak lah Le… Kalau mau kaya, ya bekerja keras. Habis itu do’a minta sama Gusti Alloh.” Jelas bapaknya.

Dan iklan itu pun berganti.

“ Itu pak! Itu! Ayo bapak kirim sms. Coba tanya ntar kita bisa kaya apa ndak… !” Girang bocah itu antusias melihat tampilan Ki Joko Bodo berambut panjang dengan jambang dan kumis yang tebal itu, sambil meraih handphone di saku bapaknya yang tak bersaldo.

“ We e e… Ni bocah! Itu siapa namanya le?” Tantang bapaknya yang terperanjat.

“ Ki Joko Bodo. “ Jawab Ro’uf mengeja.

“ Nah… Orang bodo kok diikuti. Namanya apa Le? Syirik!” Jelas bapaknya mantap.

Anak kelas dua itu manggut-manggut. Ooo…

Hoalah pak… sekarang Doraemon ndak cuma di pohon-pohon besar, ndak cuma digantungkan di pintu-pintu dan jendela. Doraemon sekarang sudah menguasai media cetak. televisi, bahkan radio. Dan yang bodo sekarang ndak cuma orang-orang yang ndak sekolah aja, anak sekolah aja dikibuli, tani, buruh pabrik, guru-guru, pegawai, bahkan direktur pun ikut-ikutan bodo. Zaman udah edan. Lebih edan dari zamanmu dulu.


Biar kita nggak jadi generasi Doraemon. Yang tawadu' dengan kebodohan...

5 comments:

  1. ada pesan kah...???
    jwb: ada

    bukannya mau sok dengan fokus. tapi karena terlalu banyak ide untuk dituangkan dalam tulisan di kertas-kertas bekas yang kumiliki. bertumpuk-tumpuk kebodohan masa silam. bertumpuk-tumpuk amanah hari ini. dan bertumpuk-tumpuk impian di masa setelah masa. semuanya perlu disusun, di rapikan, diharmonikan dalam nuansa surga. ach.. ngomong apah ini..he he...

    you can use some HTML tags, such as U,M,A,R

    ReplyDelete
  2. cerita yg bagus. kita memang tidak boleh terperangkap sama sesuatu yg bukan dari Allah.

    ReplyDelete
  3. iya. Umar emang sering nggak jelas ngomongnya.

    mbak Francis. makasih banyak apresiasinya. wah, seneng dikomentarin sama mbak. seperti yang dibilang umar, kontent ceritanya agak melebar. kurang focus. sepertinya itu lebih lengkap.

    wah, saya lagi tergila-gila dengan cerpennya ... siapa ya. Hadi hadi gitu namanya. sering cerita tentang kepala yang bisa copot dari badan. hih.. tapi lucu dan seru. tetep cantik dengan pesan yang tersirat.

    ReplyDelete
  4. wah! nama Bagus jadi pemeran

    syirik itu tipis dan halus, tapi meresahkan hati

    ReplyDelete
  5. hmmm, mengharukan ..
    pokoknya oke deh !
    dah gag bisa komen apa^ lagi nihh ..

    ReplyDelete