sebuah karangan etalase cinta di masa depan. yang masih menjadi mimpi. untuk Bapak tercinta. laki-laki mutiara itu
maaf, jika aku hanya mampu menuliskan tentang ini.
“ Kenapa Ayah tidak mengatakan ini sebelum aku pulang?” Putri memaku wajahnya pada tembok yang putih. Sedang di sudut, berdiri kakaknya yang sedari tadi sabar mendengar caci maki yang keluar dari tutur adiknya tersayang.
“ Bang, mohonkan pada ayah. Aku ingin ayah mempertimbangkan lagi. Aku tidak kenal orang itu. Aku tidak tahu bagaimana menyampaikan ini. “ Wajahnya semakin tertunduk. Ia memerlukan pegangan untuk sekedar menegakkan badan.
“ Put, abang juga tidak ingin kau jauh dari rumah nantinya.” Ucap kakaknya ragu.
“Bang, siapa yang sudi merajut cinta yang tak berbentuk?!”. Ujar Putri menuduh.
“ Kau anak putri satu-satunya milik ayah. Ibu pernah berpesan, jangan sampai kau salah mendapatkan pendamping hidup”. Jelas kakaknya lagi.
“ Aku tidak bisa memahami apa mau ayah. Menikahkanku dengan orang yang sama sekali tak ku kenal. Tanpa nama, tanpa identitas, dan lusa? Gila. Ayah sudah gila. Aku seperti tidak mengenalnya lagi. “ Putri semakin tampak geram.
“ Tutup mulutmu Putri! Kau sudah keterlaluan berkata demikian tentang ayah. Percayalah, ayah memilihkan yang terbaik untukmu.” Kali ini satu-satunya abang tercinta memarahinya.
“ Tinggalkan aku sendiri disini Bang. Pergilah. Maafkan aku… “ Putri memohon untuk sendiri dikamarnya yang lama tak terurus itu. Belum selesai ia membereskan kopernya sepulang kemarin dari kota pelajar dimana ia menuntut ilmu. Juga belum ia mampu meluluhkan hatinya dari kisahnya dengan Rio, kali ini datang dari ayahnya sendiri. Laki-laki mutiara itu.
Ia teringat bagaimana Rio tiba-tiba memutuskan untuk meninggalkan kota dan juga dirinya. Tanpa alasan. Hanya surat yang bertanggal 3 hari setelah kepergian laki-laki yang juga ia tidak diberi tahu dimana tempatnya. Masih ingat bagaimana ia pertama kali berjumpa dengan kekasih hatinya itu. Begitu cantik untuk dikenang.
Dan yang melekat dijiwanya pada diperjuampaan pertamanya itu adalah lantunan Al-Qur’an yang saat itu dibacakan usai ia sholat asar di sebuah masjid kecil seberang kampusnya. Bacaan dari surat favouritenya, Al Mulk. Saat itu ia terhenyak, sungguh bacaan yang indah.
“ Assalamu’alaikum… “ Suara yang ia hafal betul siapa itu datang menggugahnya dari masa lalu.
“ Wa’alaikumsalam.. “. Jawab gadis itu takzim.
“ Maafkan ayahmu ini. Tidak terbesit sama sekali untuk menghancurkan masa depanmu. Justru sebaliknya. Ayah ingin yang terbaik.” Tutur laki-laki paruh baya itu.
Putri hanya memantung diam. Ia menjaga sikap takzim dengan ayahnya tercinta. Ada sesuatu yang ia tahan dalam dadanya. Begitu berat. Tapi tak juga terucap.
“ Ayah belum menjelaskan kenapa secepat ini.” Tambah Ayah.
“ Sepertinya Ayah tidak perlu menjelaskan. Sama seperti kenapa Putri akan jauh dari Ayah” Jawab Putri lirih.
“ Put… “.
“ Sudahlah Yah… biarkan Putri menenangkan diri.” Pinta Putri pada ayahnya. Ia tidak faham, apakah sopan mengusir ayahnya itu. Orang yang paling ia cintai di dunia ini.
Laki-laki berumur 55 tahun itu meninggalkan putrinya sendiri. Dengan kesunyian yang memang menjadi kegemaran putri tunggalnya itu.
Putri merasa berhak untuk marah. Namun, di depan ayahnya ia tidak akan mampu melakukannya. Mesir adalah tempat yang sangat jauh, yang bisa jadi tidak membawanya pulang kembali ketanah air. Harumnya tanah yang disiram hujan tidak akan pernah ditemui disana. Juga hijaunya kebun pisang di sekitar pemandangan danau tak akan pernah nampak lagi. Dan Mesir, tanah yang bercadas, juga panas yang menyengat. Tapi bukan itu. ia hanya ingin menjaga ayahnya tercinta. Ia hanya ingin tinggal dekat ayahnya. Mendapingi hari-hari tua ayahnya dan membahagiakan dengan cucu-cucu darinya.
Masih ingat perbincangan terakhir bagaimana ayah mencoba menjelaskan yang justru menimbulkan banyak pertanyaan.
“ Putri, kau pernah mengatakan pada ayah bahwa kau menginginkan orang yang soleh. Mujahid di jalan dakwah ini, orang yang akan membawamu dan juga keluarga kita ke surga bersama-sama. “ Jelas Ayah tegang.
“ Ah, Apa sih maksud ayah.” Sela Putri malu. Ia menanggapi dengan sedikit senyum. Itu adalah impian dari gadis belia di awal mengenal jalan perjuangna ini
“ Put, Ayah belum pikun.” Jawab laki-laki itu serius.
Putri kini terdiam. Tak berkutik. Ayahnya tidak main-main dengan apa yang akan disampaikan.
“ Katakan saja apa maksud ayah.” Jawab Putri tak sabar.
“ Lusa, mujahid itu akan menikahimu. Dan esok harinya ia akan langsung membawamu ke Mesir untuk melanjutkan studi doktornya.” Tanpa ragu ayah mengucapkan tiap kalimat. Dan usai itu pergi.
Putri sedang tidak bermimpi. Itulah kenyataannya. Tidak ada loby, tidak juga diskusi. Semuanya telah final. Ia berdalil bahwa Rosululloh pun memberikan hak bagi wanita yang akan menikah untuk melihat calon suaminya. Dan hanya ini saja yang terkabulkan.
Malam kali ini adalah malam terpekat yang pernah ia lalui. Sudah tengah malam, namun matanya tidak juga terpejam. Lukanya yang belum sembuh ketika di tinggal Rio, juga yang ia sebut sebagai “calon mujahid”. Dengan harapan yang begitu gamblang. Membuat kuncup jiwanya mekar. Dan masa depan yang sangat tampak terang.
Kenapa harus begini?
Pertanyaan yang tidak mampu ia jawab. Tidak logis.
Namun, terus mengingat hal itu semakin mengiris lukanya. Tiba-tiba bening dimatanya tidak terbendung. Mengalir seperti arak sungai di hilir. Ia segera bangun dan mengambil air wudhu. Dikenakannya mukena putih itu. Dan menghadap Robb semesta alam memohon petunjuk.
***
“ Put, seperti apa maumu. Orangnya sudah menunggu didepan.” Abangnya memanggil dari sela pintu yang tidak tertutup rapat.
“ Iya. Aku kesana. Abang tidak udah khawatir. Aku lebih baik hari ini.” Jawab Putri meyakinkan kakaknya untuk tidak mencemaskan dirinya.
Ia kenakan gamis biru mudanya. Juga dengan setelan jilbab biru muda. Dilihatnya dicermin bayangannya. memastikan tidak ada lagi bengkak dimatanya. Sisa-sisa dari tenaga untuk mengumpulkan jiwanya semalam.
Ia mohon berkali-kali kekuatan pada Alloh. Untuk dapat meneguhkan kembali jiwanya. Dan siap menerima pecahan misteri kehidupan selanjutnya.
Ya Rahman, teguhkan jiwa ku yang memang seseungguhnya rapuh…
Bismillahirrohmanirrohim…
Ia buka pintu kamarnya. Sembari membuka pintu hatinya yang hampir tertutup rapat untuk semua ketentuan. Ia tatap masa dihadapan dengan penuh yakin bahwa Alloh akan selalu mentakdirkan yagn terbaik bagi hamba-hambanya.
Ia angkat wajahnya menghadapi kenyataan.
“ Assalamu’alaikum… “ Sapa Putri dari balik pintu tengah.
“ Wa’alaikum salam… “. Jawab ayah berbarengan dengan laki-laki yang sedang menunggunya.
Namun, putri merasa waktu kini benar-benar berhenti. Mematungnya dari segala arah. Terlintas dibenaknya apakah ini mimpi atau bukan. Bahwa laki-laki yang datang padanya adalah Rio. Rio yang telah singgah dihatinya beberapa waktu lalu. Yang denga khayalan terbangunlah bunga-bunga mimpi yang elok di taman Sungguh kejutan yang membuatnya tercekat.
“ Kau… ?!”. Ucap Putri terkejut menatap nanar laki-laki didepannya.
Untuk yang kedua kalinya Putri tidak mampu lagi membendung bening air matanya mengalir. Seakan kejutan yang lekang dari bom waktu yang dahsyat.
“ Ayah, jelaskan ini”. Pinta Putri tersedu.
***
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Untuk ayah tercinta.
Bagaimana kabar ayah? Semoga sehat selalu dan semoga Alloh melindungimu selalu. Yah, mungkin juga dirimu disana. Rindu sekali putri ayah ini. hanya do’a yang mampu putri haturkan. Dan do’akan selalu Putrimu ini.
Ayah, sebagaimana ayah tahu bahwa hari ini Israel menggempur jalur Gaza. Semoga kita selalu diberi keikhlasan dengan semua ketentun. Mas Rio sudah seminggu berada di perbatasan Mesir-Gaza. Dan akhirnya beliau berhasil masuk dan menjadi relawan dokter di rumah sakit Asyifa, membantu para korban luka-luka yang dirawat disana.
Ayah, terimakasih nanda haturkan. Telah mempertemukan Putrimu ini dengan mujahid impian. Impian yang telah menjadi kenyataan. Bahwa mas Rio telah menjemput syahidnya. Dan menunggu kita disana. Dimana mengalir dibawahnya sungai-sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih lembut dari susu. Yang tidak ada kekhawatiran lagi didalamnya dan juga keindahan yang tiada tandingannya.
Ayah, mujahid yunior pun akan segera lahir ke bumi. Jangan pernah hentikan do’a-do’a ayah untuk Putrimu disini. Tugas putri belum selesai dan baru saja dimulai.
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb
Salam hangat dan rindu untuk ayah tercinta
Putri
Berharap terpilih menelikungi lorong-lorong Hamas menuju Palestina lalu mati setelah meledakkan 7 pesawat tempur. lalu 20 tahun kemudian 7 cahaya menyusul dari Indonesia, melewati lorong VIP sebagai pemikir Hamas yang baru. Lalu menemukan makam ayahnya dan menyampaikan surat dari sang Ummi. Ya Rabb, Syahidkan aku...
ReplyDeleteLembayung di Setiap sore, senyum-senyum bidadari yang mengambang di Dunia mengamati puluhan ratusan mujahid berpulang ke Surga....
(Di pelataran cdms)
amiin, pun berharap menjadi salah seorang mujahidah. bukankah begitu miu?
ReplyDeletesebuah mimpi tersirat, subhanaLLah, kmana larinya jiwa- jiwa itu? lingkungan yang hampir tak lagi kutemui di kegelapan... Ah, kmana larinya???
Sungguh kurindu...
Smoga Allah membantuku menemukannya dalam terang maupun gelapnya.