hands of attien...
lama sudah tak menuliskanmu dalam latar putih
maafkan
penaku mengering
habis sudah kata
aku rindu untuk menuliskanmu lagi
rindu yang tak pernah terlunasi
mungkin perlu bertamasya ke negeti awan
di langit biru yang akhir-akhir ini mendung
dan sering menambah sendu wajah-wajah murung
dan Yogyakarta semakin terapasung
lalu ku pungut lagi tinta-tinta yang pernah tumpah
berdamai
mengislahkannya dengan kertas
yang sudah lusuh, luruh
lagi-lagi tentangmu
sejenak tak jua tertumpahkan
bahkan sekedar menuliskan kabar
tentang hati yang berdebar
coba ku celupkan lagi penaku pada tinta-tinta yang pernah tumpah
namun kini jariku kaku
sedang keras sudah lusuh, luruh
membentang di meja kayu yang mulai rapuh
tidak tampak siang, tidak juga malam
diruang gelap ini
aku sudah lupa pada matahari
sedang jariku masih kaku
untuk menuliskanmu
wahai puisi yang ku rindu
ho ho makanya senam jari
ReplyDeletebiar semakin jeli
memulai sebait puisi.... (syahafif)
lekas sembuh ya...
jadi teringat kalo coblosan pemilu...
ReplyDeletetetap saja tak mudah membuat sebait ataupu sebaris puisi yang tak hanya puisi
ReplyDeletemengislahkannya dengan kertas
ReplyDeleteyang sudah lusuh, luruh
(i like it)
tapi coba nulisnya jgn terlalu tueuuurang benderang, pastilebih bagus.
Inetku mati, jadi males mau posting
prof_umay???
ReplyDeletebaiklah.
suryaden.. aku jd g ngeri hubungannya dengan pemilu
thanks ngga,,, weitz... prasojo jenenge sopo iku?