Sunday, March 8, 2009

Tinta di Yogyakarta

hands of attien...

lama sudah tak menuliskanmu dalam latar putih
maafkan
penaku mengering
habis sudah kata

aku rindu untuk menuliskanmu lagi
rindu yang tak pernah terlunasi

mungkin perlu bertamasya ke negeti awan
di langit biru yang akhir-akhir ini mendung
dan sering menambah sendu wajah-wajah murung
dan Yogyakarta semakin terapasung

lalu ku pungut lagi tinta-tinta yang pernah tumpah
berdamai
mengislahkannya dengan kertas
yang sudah lusuh, luruh

lagi-lagi tentangmu
sejenak tak jua tertumpahkan
bahkan sekedar menuliskan kabar
tentang hati yang berdebar

coba ku celupkan lagi penaku pada tinta-tinta yang pernah tumpah
namun kini jariku kaku
sedang keras sudah lusuh, luruh
membentang di meja kayu yang mulai rapuh

tidak tampak siang, tidak juga malam

diruang gelap ini
aku sudah lupa pada matahari
sedang jariku masih kaku
untuk menuliskanmu
wahai puisi yang ku rindu

5 comments:

  1. ho ho makanya senam jari
    biar semakin jeli
    memulai sebait puisi.... (syahafif)

    lekas sembuh ya...

    ReplyDelete
  2. jadi teringat kalo coblosan pemilu...

    ReplyDelete
  3. tetap saja tak mudah membuat sebait ataupu sebaris puisi yang tak hanya puisi

    ReplyDelete
  4. mengislahkannya dengan kertas
    yang sudah lusuh, luruh
    (i like it)
    tapi coba nulisnya jgn terlalu tueuuurang benderang, pastilebih bagus.
    Inetku mati, jadi males mau posting

    ReplyDelete
  5. prof_umay???
    baiklah.

    suryaden.. aku jd g ngeri hubungannya dengan pemilu

    thanks ngga,,, weitz... prasojo jenenge sopo iku?

    ReplyDelete