Tuesday, September 1, 2009

hands of attien...

memasang sulam pita
pada kain-kain cahaya
di temani pelita
malam-malam sahaja

Sunday, August 23, 2009

Ramadhan

hands of attien...

harum
tiap kelebatan lembutnya layak sutera
pada siang, pada malam-malam

membangunkan jiwa-jiwa yang tidur
menyatakan mimpi
yang telah tersingkir pada janji-janji suci
dari Nya
di bulan ini
hanya di bulan ini

sabitnya mulai tersenyum
dingin malamnya sejuk
panas siangnya membahana
bergairah segala jiwa
bahagia

sujudku sujudmu dan semua sujud tertorehkan pada bumi
khusuk
mengagungkan Dzat Yang Maha Agung
yang rahmatNya ia turunkan bersama maaf
seluas langit dan bumi
yang siap setiap saat siap merengkuhku dan merengkuhmu selalu

aduhai...
bilalah aku bersamanya
ialah yang merengkuhnya
saat itu ku harap cinta
yang penuh mukjizat tuk ciptakan surga suatu kelak
yang dengannya tengah terbuka lebar-lebar
cantik, dirindu olehku, olehmu dan oleh semua

Friday, July 31, 2009

milik mereka di ujung waktu

hands of attien...

sekiranya tidak bisa tertawa
tidak senang
tidak sedih
kiranya begitu

yang mereka tahu
gelap bukanlah terang
yang dengannya masih terus mengejawantahkan kelam
menggigil
sendirian

yang cita itu tinggal berada di ujung waktu
puntungnya saja
dipungut dari jalanan orang-orang
yang telah mengebulkan segala kesenangan
meski mereka semua saat itu
tetaplah sendirian

orang-orang itu terus memungut waktu
meneriakkan zaman
sambil mencumbui nasib
mendekapi aib
aib kemiskinan
aib kelaparan
yang semakin busuk baunya

lalu keesokannya
tetap saja
tidak senang
tidak sedih

begitulah waktu menyelimuti kota
kota-kotaku
kota-kotamu
kota-kota mereka semua

tinggal secuil
gubuk-gubuk mereka
biar di pungut lagi
milik mereka ada di ujung zaman

Tuesday, July 28, 2009

birumu, karangku

hands of attien...



satu-satu
dari sini
sisi tepianmu
ku hitung gelombang berapa buih yang sampai
sedang suaranya terus mengemuruh
tiada jenuh

menggulung berguling kemudian membuncah bertingkah

dari palung-palung
memburu
ukiran ayat yang medayu bersama merdu yang tiada sayu
dikejauhan
bersama biru
bersama haru
bersama lalu
bersama-sama waktu

ditepian aku
aku diceburui senja setiap sorenya
meski gemitangnya usai itu berbinar-binar tiap malam
hingga fajar
pastikan biru tetap membahana

lalu bergelayut lagi angin-angin
menerpa wajahku wajahmu
masuk ke paru-paruku paru-parumu
bangkitkan gelaknya seperti gelak riak-riak gelombang yang bergembira

kuhitung lagi satu-satu
barisan buih yang sejukkan mata didatarannya yang masih biru
terus bergemuruh
yang kuatnya tak juga tumbangkan karang ditepian
karangku yang kesepian
karangku yang sendirian
yang di cemburui senja yang warnanya berikanku kesunyian

Sunday, July 19, 2009

hands of attien...

kutitipkan
pada angin senja yang telah pergi
padamu
berharap bulan pantulkan sinarnya tuk lukiskan wajahmu yang purna cahaya

Wednesday, July 15, 2009

batu-batu

hands of attien...

batu-batu berserakan
ke timur, ke barat
tak beraturan
menantang zaman

disini
orang-orang sakit terbiasa sabar
orang-orang lapar terkapar
pengangguran jadi pajangan
sarjana hanya jadi harapan

tanahnya subur
katanya
padi ramai menguning sepanjang tahun
katanya
air masih dari segala penjuru
juga dari hulu
begitulah dari dulu
katanya

dijalan-jalan
orang-orang berpantomim
sambil berlaga
senang sesenang-senangnya
tertawa setawa-tawanya

namun tiba-tiba angin bergemuruh
berpilin bersama batu-batu
tiba-tiba semua jadi termangu
tergugu

usai itu mereka menangis
meraung-raung
topeng-topeng pantomim mereka hilang
remuk
besama batu-batu yang berserakan
yang telah jadi abu
dizaman batu

Monday, July 13, 2009

pancaroba

hands of attien...

aku tidak tahu apa yang aku mau
masih
mengais-ngais

ingin sepertimu
tidak senang
tidak sedih
berkalang dengan angin dingin pancaroba zaman

bertenggernya para merpati berlimpah cahaya
sarangnya jadi bunga
berduet bersama angin dan matahari
di pancaroba

sore jadi malam,
malam jadi kelam
dinginnya menyelimuti kotaku
di pancaroba

entah pagi dingin
siang begitu membakar
sedang hatiku masih berbuku-buku
masih gerimis digalang rindu

oh...
terkapar saja aku di senja
meski tak ada pelangi
yang kuharap
pancaroba hanya datang di kelamku saja

Thursday, July 9, 2009

malam

hands of attien...

disimpang waktu
aku menunggu kereta kudaku
berpacu dengan purnama di malam yang sempurna

terpasung diam
bersama batu-batu
dilempari batu-batu
mengerling pada pedih yang semakin gerimis
aku, mengaku

kupasung janji
aku telah lupa
menggurat sederetan flash peristiwa bersama petir-petir takdir


lalu aku bermain cinta
sambil menggenggam bola-bole
berubah menjadi lampion-lampion yang dungu
sedang malam hitam semakin abu-abu

aduhai...
setidaknya matahari selalu setiap setiap cahayanya
sedang aku, setia pada kelamku
pada malam yang sudah jadi abu

Sunday, July 5, 2009

hands of attien...
1#
dibatas cakrawala pantai itu...
dibawah kali langit biru itu...
...

2#
ditingkahi deru debur ombak.
biru laut berkejaran berlomba menggapai...
cakrawala anggun bertabur awan putih.
Baron..

3#
setangkup..
ingin ku urai.
menjadi mantra mantra tanpa aksara
menjadi nada nada sarat makna
agar..
tak lagi jumawa
mengerling pada jiwa yang nyaris terkapar

4#
...
merangkat memgais sketsa...
tertatih mengeja baik demi bait...
bola mata kian sayu...

lirih berkata...

rindu

hands of attien...

berdamai dengan waktu.
setelah sekian lama bermusuhan dan tak helaknya mungkin sekedar untuk menoleh masa lalu. melihat jogja ketika siang, malam, siang, malam dan begitu seterusnya. ternyata dimensi dunia ini terus berubah dengan semaunya. walhasil.. banyak kita yang tertipu

kehidupan dunia ini sangatlah panjang. dan usia kita akan hanya berlalu saja. sejenak pun tidak. lalu, berapa sih yang kita miliki??

sejak dulu itu, selalu. ah, lelahnya...

muak juga dengan keramaian.

kadang ingin seperti Abdurahman yang mampu berbagi dengan alam dan pagi. teduhnya hutan kecil-kecil itu...

lelah dengan tawa
setidaknya membuatku terbungkam

berbagi?
selalu akan begitu.
sepinya...
memilih untuk jadi kotak sampah. baik lah.. asal jangan sumpah serapah aja.

"jika kau memberikan perhatian pada dunia, dia akan mentertawakanmu.. "


itulah, setidaknya garis merah yang cukup ku rangkum dengan segala lelah.

rindu seperti beberapa waktu yang lalu
ketika do'a tak henti untuk dipanjatkan
rindu...
ketika begitu dekat rasa ini...
ketika gerimis air mata ...
ketika dan ketika itu...
moment-moment yang lebih cantik dari perunggu itu...
aku rindu

Wednesday, July 1, 2009

rumah cahaya

hands of attien...

sonet seorang santri

sering aku bermanja pada dinding
saat guruku hadirkan ilmu
yang bersamanya malaikat
lalu alam-pun bersyafaat

pernah juga aku berpura-pura
diantara mereka yang khusu' pendengarannya
lalu aku cemburu
yang lain telah mengusung ilmu
sedang aku...

juga kadang-kadang aku sengaja ke alam mimpi saja
yang meraih imajinasi
padahal waktu itu
surga tengah menawarkan segala

ah, kasihannya aku
dan kini pun menderita
bertemu sesal

adakah lagi
mencium wangi surga
bersama guru dan para santri
di rumah cahaya
ah cahaya...

rumah cahaya (mb Ria)
hands of attien...

ku titipkan sajak-sajak ini untuk mu
pada angin yang menuju kesana
pada air yang bersama hujan kan turun disana
pada awan yang juga memandangmu disana


matahari terik
hari-hari selalu begitu
bulan kelam
tapi tiap alam tidaklah begitu

kuhembuskan rindu
pada tiap baik do'aku
bagimu
selalu tak lekang usai sujudku

Tuesday, June 30, 2009

guru

hands of attien...

wajahnya teduh dengan segala bentuk dedikasi
assessor sang guru

ah..
andaikan aku bisa begitu

bolehkah aku bicara?

persamaan yang manakah yang menyatakan bahwa kami adalah produk pasaran
ketika pendidikan menjadi lahan ekonomi
ketika matematika tak lagi mendapati nilai optimum keuntungan
para calon akuntan yang selalu menghitung hutang
dan sastrawan yang tertawan

bolehkah lagi aku bicara?

tentang tetanggaku yang mengaggur selepas SMA
katanya, " ah, biar aku jadi TKI saja"
kemudian adiknya bilang, " aku ikut ya kak..?"

lagi ya aku bicara...

bagaimana membuat garis lurus antara pangan dalam negeri yang berbanding lurus dengan jumlah sarjana
para diploma pun gigit jari
sedang master dan doktor terlalu jauh untuk kami lampaui

pak guru...
jangan sendu
aku tahu
pun begitu
kau adalah buruh
meski sepuh
pengorbananmu seluruh

meski tameng pendidikan negerimu cemburu di hantar partai-partai peserta pemilu
lalu kau semakin sendu
murid-muridku pasti 'kan tersedu-sedu

Monday, June 29, 2009

bocah

hands of attien...

sambil berlari
anak itu berceloteh tentang ibunya yang garang
yang membuatkanya gamang masa depan

siang jadi abu
abu di tebar jadi debu
debu-debu yang melekat pada pipi-pipi penunggang kuda bermesin dikota
anak itu masih saja
berlari dan berkejaran dengan debu yang abu-abu

nafasnya tidak teratur bersama denyut jantungnya
menggantung di dada yang tak kan pernah busung
dibalap perutnya yang busung

masih berlari
ia mengumpat sejadi-jadi bapaknya
yang tak pernah ia tahu
-siapa kamu-

-cih!!-
masih berlari ia meludah kekiri
lalu berceloteh dan mengumpat lagi
pada pengguna jalan raya
pada pengguna trotoar kota
pada pengemudi mobil-mobil mengkilap

sedang ia tidak pernah kelelahan
dan ia masih terus berceloteh dan mengumpat
kapan aku menjadi manusia jagad
berdasi dan main loby bersama pejabat

Saturday, June 27, 2009

cemburu

hands of attien...

sajak-sajak
menari-nari
di tuts tuts keyboardku
yang cemburu pada Chairil Anwar

ah
malu
baru bisa bicara tentang aku

sajak-sajak
bersolek
di layar monitorku
yang cemburu
pada Sutarji Calzoum Bahri

ah
ada saja
kesederhanaan yang kaya membahana

sajak-sajak
berpose
di buku-buku lusuhku
yang cemburu
pada Taufik Ismail

ah
yang benar saja
ia menyajikan layar patah-patah dalam 26 abjad
kilas sejarah yang dimusiumkan oleh kekacauan

sajak-sajak
menyanyi
aduhai...
klip klip ditiap sisi jalan dan kota-kota menjadi keangkuhan di sombongnya dunia
yang cemburu
pada tiap lirik Supaji Djoko Damono

huh!
peluh sudah aku
lelah sangat
telah mengembara
segala tentang mereka

yang ada
cemburu sajakku
menari dan bernyanyi sendiri
dalam gelap dan sunyi
mati!

Monday, June 22, 2009

kamu

hands of attien...

menemukanmu
selarik do'a-do'a ku lantunkan untuk meneguhkan sujud dan syukur
menjelang fajar di pertiga malam yang semakin kukuh

lalu panji-panji hati dikibarkan
bahwa kita telah memenangkan cinta di medan tanpa logika ini

denganmu
teduhnya jiwa tak kan kugadaikan dengan apapun
satu asa yang menjelma bersama satuan diorama sajak-sajak rindu
yang hanya bertemu dalam frekuensi dan amplitudo gelombang udara

setidaknya
kini ada
dihatiku
untuk bahagia bersama
dan terus cinta

re-soneta

hands of attien...

untuk raga;

sungguhkah bilah jiddal tempo hari membekas luka?
yang mana?

aku melihatmu mengayuh mimpi yang warna-warninya bukan milikmu
aku melihatmu merajuk pelangi dan bintang yang tak kan pernah jadi satu
aku melihatmu mencatat sejarah yang itu sebenarnya bukan milikmu
aku melihatmu terkapar di hamparan taman terindah yang aku tahu

lalu keesokannya kau menjadi jagoan di galeri yang kau ciptakan sendiri
sepertinya lukamu adalah sayatan dari bilah pedang yang kau keluarkan lalu kau tancapkan sendiri karena kau memilih untuk demikian dari pada berpose luka dipentas yang aku adalah penggemar setia
penggemar yang selalu bertepuk tangan dan bahagia

sedang aku kini akan terus menunggu pentas selanjutnya
yang kiranya akan terus berjaya
menunggu episode mana lagi yang akan kau tampilkan dengan penuh rasa
wahai jiwa yang utuh...

Saturday, June 20, 2009

hands of attien...

malam dan malam terus menghantui dalam hitam
burung gagak, bulan, bintang
mengejekku dikesendirian yang bahagia

aih...
aku malu
pada rindu yang aku takut jadi abu
bermain2 rasa yang coba ku sembunyikan dalam kalbu

ah kamu,
geliat yang diam-diam ini lama2 jadi hantu
lalu aku pura-pura dungu
tapi tetap saja aku rindu

Wednesday, June 17, 2009

melati

hands of attien...

melati
wangi suci
entah
sejak itu
aku menjadi kukuh

menjadikanku takut untuk berhutang udara di tiap detik
berhutang cinta setiap hari
berhutang rindu ditiap inci hati

oh, ku pecah tabungan rasa
lalu kukumpulkan dan ku beli segenggam bara
ku bungkus dengan kado terindah
padahal entah kapan kau pulang

jam dinding masih terus mengejek kita
ah, biarkan apa maunya
karena kita telah bersekutu dengan matahari dan bulan

lalu aku masih bertanya
kapan?
kau bawakan lagi untukku melati

Tuesday, June 16, 2009

panggung

aku tidak ingin terpasung angkuh
memasang topeng dalam drama
menari-nari diatas panggung tanpa irama

aduhai
senar gitar, senar biola bungkam
dalam sepi aku terus berdendang
didepan kesunyian

lalu hitam datang
mengelabui panggung dengan tirai yang semakin sendu
sedang aku masih dengan topengku
dalam drama ku yang dungu

Monday, June 15, 2009

hands of attien...

lama-lama bumi jadi berisik
lebih seru bersembunyi dibalik sendu
ah, tidak
rupanya sedikit demi sedikit harus terkikis meski semu

kenalkan aku pada malu
karena ilalang-ilalang yang terhampar lembut itu enggan beranjak
setia bersama para pujangga cinta
mendamaikan antara rindu dan sayang

kemudian nanti kau akan bawakan aku bunga
dari taman yang belum lama kau semai
dari hatimu yang subur

Wednesday, June 10, 2009

flash

hands of attien...

menghidupkan kembali nafas di kota jogja. menjadi segala keajaiban waktu dimana doa-doa yang selama ini dipanjatkann Alloh memberikannya dengan cara dan skenarionya yang begitu cantik. ada goresan luka, ada air mata, ada tawa, ada kelakar, ada duka, ada cinta, ada benci. sesekali perenungan seutuhnya ibarat flash dimensi waktu yang cepatnya mengalahkan boeing terhebat.

selanjutnya, menantang garis keras yang selama ini menjadi jeruji-jeruji kerdil. dulu ibarat baja yang tak tertembus putus asa. Alloh ya kariim... mungkin beginilah Alloh memberikan caranya untukku sekedar berhenti mengelabui diri.

waktu sekarang berpacu lagi. dekapannya lepas dan aku telah ditertawakan jarak. di pantai air-air biru itu masih mengikis pantai. tak jemu. di langit, masih lah biru sesekali waktu yang kini tergerai mendung..

penuh sabar dan kesyukuran. dua cahaya yang menari diubun-ubunku itu tidak akan pernah ku lepas. karena bahagia dan menderita maka kitalah sutradaranya. meski air mata yang selama ini menjadi tirai. namun ternyata,, dengan itulah rukuk dan sujud ini semakin kukuh.

Sunday, June 7, 2009

hands of attien...

mendekapnya
menjadi lepas segala lelah
denganmu aku mecicipi cinta
bersama alam

aduhai
lambai-lambai rindu terus mengejek kita
diperbatasan kota
yang jauh
diteropong dimensi

kemudian riak-riak gelombang biru itu berkibar-kibar lagi dalam ingatan
yang katamu berkejaran dengan waktu

dan kini kita mengiringi mimpi
dengan mengibarkan segala panji-panji
mungkin disini
sementara hatiku berlabuh
masih menunggumu
menantang waktu

Friday, May 15, 2009

cinta

hands of attien...

kini aku berani menyebut namamu
cinta
dikelam malam, sampai menunggu fajar, lantas terang, kemudian suram dan kamudian malam lagi
ah, sungguh
mungkin tak lekang oleh waktu

matahari cemburu
malu

usai pelataran kita digelar langit pun menyahut
didatangkannya hujan
pasca janji kuat yang kau ikrarkan

barokah
itu katamu

lalu jantungku berdegub lebih seru
bersama sabar dan kesyukuran
bersama sujud dan lantunan do'a
merayakan cinta yang bernaung dibawah surga
amin

aduhai...
sungguh indah menyebut namamu
cinta

Thursday, May 14, 2009

my husband


hands of attien...
ini foto my handsome husband pic. (hehe.. ini dia lho yang minta dinamain. coz katanya wajah bisa berubah)
so, klo kalian liat Umi jalan sama orang yang ky gini, jangan marah ya. hehe.. orangnya phobia foto. hm.. katanya ni fotonya di pengasingan. hehe.

oya, tar juga kita ipload deh foto berdua. tapi g sekarang. blm dipindah. foto nikah g di publish. so sorry ya...

mohon doanya.

Thursday, May 7, 2009

hands of attien...

Assalamu'alaikum...

apa kabar temen2.. kayanya di mail list dah rame banget ya. hihi.. Yup.


Insya Alloh akan dilaksanakan akad nikah Umi Yuliatin dan Bambang Irawan. Lampung, 10 Mei 2009. Jam 10 am.


Mohon doanya ya.... semoga berlimpah barokah dan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.

acara hari itu cuma akad aja. resepsinya tunggu aja undangannya ya. kalian nabung dulu. hehe...

and kalian yang dah pada punya calon buruan aja de. banyak setannya lho di jalan...

terus buat riris and Ncax, semoga dimudahkan sampai hari Hnya. ok.

lama tak bersua dengan kalian. kangen...

aduhai...
beginilah ceritanya
lama tak berjumpa
boleh lah kita menyapa sekarang

boleh juga ya Umi kasih kisah
hanya kisah kasih
10 Mei nanti..
hihi..

wassalmkm...

Monday, May 4, 2009

hands of attien...

meraba hati untuk mendapat segenggam syukur.
skenario yang begitu hebat dan lebih seru dibanding dengan novel-novel cinta. inilah cahaya. dari yang jauh hari dirindu dan selalu dirindu. hm..

aku hanya sekelebat byang dan kisah yang ungkn pernah tertulis pada buku harian orang-orang terdekat, tetapi aku kini adalah tokoh utama dalam novelku sendiri. tinggal belajar bagaimana untuk membagi cerita ini kepada orang lain. untuk mengatakan, Alloh itu Maha segala-galanya.

setiap desah nafas yang dihalau resah, begitu saja akan membeku dan runtuh ketika menyebut AsmaNya.

cerita ini mungkin hanya satu purnama berlangsung
tapi...
cerita ini mungkin hanya aku yang tahu
tapi... aku juga ingin kau tahu
cerita ini mungkin hanya tentang cahaya
tapi... itulah dirimu

ketika rindu mulai menghampiri di tiap bait yang ingin teguh kembali

saat-saat itu bisa jadi aku hanya seonggok batu
dalam hitam, dalam gelap dan dalam sepi yang semakin merona
saat-saat itu...

saat-saat itu yang kumiliki hanya doa dan sujud
saat-saat itu yang manis bagiku hanyalah menangis
saat-saat itu yang ku rasa...

aduhai
bagaimana aku mampu menuliskan bait-bait yang mulai kelelahan
mungkin saat itulah bungkamnya dunia menawarkan cinta
dari kejauhan
dari ujung keajaiban

lalu malam berubah menjadi dingin
bersama bulan setengah yang selalu ku senangi
diujung timur langit
diselimuti tawaran takdir yang menggetarkan

Sunday, April 26, 2009

bantu aku

hands of attien...

bantu aku
ketika aku memutuskan untuk mencintaimu
kelak

ku tampilkan alamanda setelah tersimpan rapat
lalu terterpa sinar
ah, cahaya...

mungkin masih esok
esok, lantas keesokannya lagi

bantu aku
ketika aku memutuskan untuk patuh padamu
kelak
mungkin masih esok
esok, lantas keesokannya lagi

aku bersiap untuk menata tamanku
rumput-rumput hijau, cemara, mawar, juga alamandaku
ah, alamanda

bantu aku
ketika aku memutuskan untuk menjadi sahabat sejatimu
kelak
mungkin masih esok
esok, lantas keesokannya lagi

baru saja berani kutuliskan alamanda
sejarah masa depan yang terjaga rapi
pernah terguncang
lantas tegak lagi
ah, alamanda

bantu aku
ketika aku memutuskan untuk menjadi makmummu
kelak
mungkin masih esok
esok, lantas keesokannya lagi

ajari aku untuk lebih dekat dengan Rabbku dan Rabbmu
bersama
ditaman yang masih kususun

duhai orang asing
orang asing yang akan ku berikan padanya alamandaku

bantu aku
duhai orang asing

Monday, April 20, 2009

hands of attien...

ku sanjung kamu
pada bait-baitku yang tak kan pernah sampai
meski telah berdamai dengan jarak dan waktu

puisi telah jadi banci
kata telah bisu

padahal cahaya tidak pernah henti mengerti gelap
sedang mimpi datang ketika malam
sirna dieterpa bayang
dari cahaya
ah, cahaya...

aku menggugu kini
meski terus mengumpat, mencaci dan meneriaki segala sesal yang pernah ditausiahkan
ah
sungguh aku tak punya alasan
tak punya penjelasan

cahaya
namamu terpahat
dan terpatri
bersama kredo yang belum lama kuikrarkan

ah, cahaya...

Wednesday, April 15, 2009

akselerasi tarbiyah

hands of attien...

akselerasi tarbiyah yang kini sedang ku alami menjadikan hari2ku berada pada titik spiritual tertinggi dalam hidup. merasa detak jantung dan nafas yang selalu berdzikir dengan segala kesabaran dan juga tawakal yang tak pernah terhenti. adakalanya pura-pura tegar untuk terus dapat tersenyum meski palsu. duh.. knp coba. tapi memang dengan tulisan ini aku sedikit terbantu.

akselerasi tarbiyah yang telah berjalan 1 bulan ini telah menenggelamkan segala ego dan juga kesombongan, segala logika dan semua perhitungan matematika. keajaiban-keajaiban terus terjadi dan tak mampu untuk diterka, apa ini artinya? karena beitu luas makna yang terhampar dan begitu sempit otak ini untuk memutar lembara2n buku yang pernah dibaca sekedar mencari arti.

akselerasi tarbiyah telah merubah seluruh isi kepalaku. dan ini akan terus terkenang sepanjang hidup. entah itu amarah yang akhirnya mampu ku taklukkan, egois yang sudah ku kubur dalam-dalam, tangisan yang semakin merdu, juga puisi-puisi yang semakin bermakna.

akselerasi tarbiyah telah mengubah cita-citaku. bagimana mimpi yang ternyata selama ini berdamai dengan ego telah tertaklukkan. bahwa Alloh selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-hambanya.

jika ketenangan yang diraih ketika badai dan juga api berhamburan dalam dada apa lagi jika ini bukan disebut sebagai sebuah kasih sayang dari Ar-rohman..??

mungkin harus lebih mencintai cinta, lebih rindu pada rindu. ah cahaya...

Saturday, April 11, 2009

hands of attien...

ku taklukkan mimpi dan hati
ketika
ketika pilihan sedang bernyanyi

ku tundukkan logika
diatas sajadahku

ku pasung kebodohanku
disaksikan kegelapan
yang ketakukan

ku hamparkan do'a-do'a
sepanjang fajar

ku lantunkan ayat-ayat
pada nada-nada cinta

Rabbi
anta Rabbi laa ilaa ha illa anta
kekuasaanmu menjadikanku teguh
diatas teka-teki yang terpasung angkuh

apakah ini?
sudah aku mengaduh
dan biarkan aku terus mengeluh
mengejawantahkan rasa
bersama bimbang yang tak berkesudahan

selalu
pada harap dan cemas

Thursday, April 9, 2009

senjaku

hands of attien...

hujan setiap hari
di tanahku
tiap senja yang pilu

kalau saja banjir mungkin langsung ku dayung saja cadikku
dipelataran rumah
menuju muara
lantas ke pulau seberang

tak ada maksud untuk pergi
karena senja yang tak pernah berdamai dengan mimpi
sedang pagi, tak lagi berseri

oh damai yang tak damai
bijak yang tak bijak
geram sudah
habis sudah

senja lagi senja lagi
berharap semakin berkilau dari kehari
tanpa hujan atau gerimis
atau biar ku tunggu saja cantiknya
seperti yang ingin ku temui di pantai pasir putih
pesisir pulau ku hari itu

aduhai...
jika malam tak mampu aku berkata
memilih mematung
menunggu pagi
yang tak pernah mati
tak lagi beseri

Friday, March 27, 2009

drama

hands of attien...

berhadapan dengan badai lagi, bagi kita bukanlah hal sulit untuk dilalui. kebanyak orang mampu tegara pada tiap sisi kehidupannya. p[andai mengambil pelajaran, mampppu membuat jaring-jaring hikmah, juga menjadikannya epik yang begitu cantik.

hanya saja matahati tidak pernah bosan untuk hadir di setiap hari, dengan fajar yang selalu menyajikan cahaya kehohidupan yang pasti. mampukah?

kisah cinta, kisah sehabat, kisah saudara, kisah petualanga, dan banyak kisah yang telah tertulis, dan kisah-kisah itu tidka pernah berhenti pada satu episode ending. yang menjadikannya cantik hanya bagaimana itu mampu disajikan dalam sebuah drama yang menarik untuk disimak, si penulis yang mampu berpuisi dan bermetafora ria dengan 26 abjad. aduhai..... jika dan hanya jika waktulah yang menuliskan itu, niscaya diamlah seluruh manusia.

membaca dan memahaminya kadang membuat perut mual, mata menangis, tertawa terbahak-bahak, atau mematung tanpa komentar. ada tokoh antagonis, ada protagonis, sekaan-akan skenario itu begitu menarik untuk disimak. dan dalam kenyataannya adalah tidak berperan dalam keduanya. menyedihkan. air mata terus tumpah, darah pun ikut berlomba, penghinaan, fitnah, pesakitan, jeritan, menjadi pewarna utama yang dalam serunya drama di atas bumi ini.

seakan-akan ubun-ubun manusia tergantung di langit, dan tombol-tombol pengontrol didalamnya dikendalikan dalam ritme yang sulit. kemudian terus menerus dengan tawa, tangis, jeritan, senyuman, kemurungan, dan ritme ritme lainnya.

sehingga ubun-ubun itu terus memiliki nada yang terus bersenandung. hanya ubun-ubun yang diajak sujud, menggantngkan utuh untuk menyerahkan segala skenarionya pada Sang Pemilik, memohon dan tersungkur dengan segala pertanyaan yang ia sendiri tidak mampu untuk menjawabnya.

ya Kariim... apalah daya untuk menjadi pemain yang baik, hanya perlindungan yang diharapkan dilimpahkannya atas do'a do'a manusia yang teraniaya. lepaslah masa, demi tahun, bulan dan hari.

janji ini akan terus terpatri
baru kemarin terikrar
dan tak akan teringkari

Monday, March 23, 2009

hands of attien...

ditanah ini ternyata puisiku masih terus bernyanyi. dimanapun berada. ada lepi baru yang menemani.modal pinjem. hihihi....

well, tidak banyak yang dapat tertulis disini. hanya saja.. hanya saja..cukup hanya saja. hahaha.. duh duh. puzig.

guys, semua akan baik2 saja. tidak perlu risau dan khawatir yang berlebihan. cintailah hidup. karena inihanya sekali. hidup yang bukan main...

ditulis saat menghadapi pilihan-pilihan masa depan.cie....

Thursday, March 19, 2009

hands of attien...

aku cinta Lampung sangat....
menyesal tidak mengerjakan segala sesuatunya di waktu yang tepat (pake bahasanya irma. ). hugz...

well, bagaimanapun. Lampung emang keren. Jogja kedua. ndak percaya. yang jelas aku cinta sangat.. ( hihi. gaya melayunya keluar)

Sunday, March 15, 2009

hands of attien...

cerita ini tidak lebih pilu dari yang lain
bahwa lambai-lambai tiap dahan ketika ditiup agin semilir
sedikit mengikis kegundahan
ditiap pagi

di tiap bait mulai ku uraikan cerita
hingga di sudut-sudut ruang yang semakin hari semakin sempit
semakin waktu semakin gelap
ruang yang mati

dan dari waktu ke waktu aku semakin mematung
lalu, bongkahan dalam dada yang berat semakin membebani
semakin pahit
semakin pelik

kemudian mengemislah makhluk ini
mengharapkan keluasan
seluas luasnya

Pak, anakmu disini semakin cinta saja
hanya cinta saja
boleh kan rindu?
ini rindu sangat
lalu kapan aku bisa mendekapmu lagi?

boleh ku seka airmatamu di pipi yang kini keriput?
ketegaranmu yang selalu terbit di pagi hinggal malam hingga pagi lagi
tak lekang waktu

lalu
kapan kau akan mendekapku lagi?

siapalah yang lebih mencintaimu dibanding Zat yang paling kau cintai?
maka ku serahkan padaNya
yang ku katakan di tiap pertiga malam
ku telah meminta
agar menjaga ketegaranmu yang terbit di pagi hingga malam hingga pagi lagi
itu saja


Wednesday, March 11, 2009

ibu

hands of attien...

bolehlah sebut saja aku
dalam bait-bait doa pada malam yang sulit untuk ku temu
dengan rinduku
selalu

tapi dirimu
tak halnya soal boleh atau tidak
" selalu"
katamu

ah.. aku hanya rindu
itu saja

Sunday, March 8, 2009

Tinta di Yogyakarta

hands of attien...

lama sudah tak menuliskanmu dalam latar putih
maafkan
penaku mengering
habis sudah kata

aku rindu untuk menuliskanmu lagi
rindu yang tak pernah terlunasi

mungkin perlu bertamasya ke negeti awan
di langit biru yang akhir-akhir ini mendung
dan sering menambah sendu wajah-wajah murung
dan Yogyakarta semakin terapasung

lalu ku pungut lagi tinta-tinta yang pernah tumpah
berdamai
mengislahkannya dengan kertas
yang sudah lusuh, luruh

lagi-lagi tentangmu
sejenak tak jua tertumpahkan
bahkan sekedar menuliskan kabar
tentang hati yang berdebar

coba ku celupkan lagi penaku pada tinta-tinta yang pernah tumpah
namun kini jariku kaku
sedang keras sudah lusuh, luruh
membentang di meja kayu yang mulai rapuh

tidak tampak siang, tidak juga malam

diruang gelap ini
aku sudah lupa pada matahari
sedang jariku masih kaku
untuk menuliskanmu
wahai puisi yang ku rindu

Saturday, March 7, 2009

nikmat-kebahagiaan (episode-2

Kelanjutan jasad…

Apa reaksi kita ketika tiba-tiba jari kita tidak mampu lagi bergerak ketika bangun tidur? Yang biasanya kita ajak untuk mengetikan tuts tuts diatas keyboar komputer kita, menuangkan isi kepala kita pada 26 utusan, ah… semoga Alloh mengampuni kita.

Bahwa kesyukuran dengan apa yang telah Alloh karuniakan mengajarkan diri kita pada perbaikan hubungan kita kepada Alloh, sekaligus menunaikan kewajiban dari masing-masing yang menjadi hak darinya. Bekerja, membantu orang lain, menunaikan amanah, memberi, dan banyak lagi. jasad ini berkerja dan terus bekerja berpacu dengan waktu dan berkompetisi. Hanya saja, apa yang menjadikan jasad ini berkerja dengan baik? Bahwa pekerjaannya merupakan bentuk dari sebuah kesadaran dan keprofessionalan amal. Ialah akal.

Akal
Bahwa akal lah salah satu yang membedakan manusia dengan makhluk Alloh yang lain. Dengan hewan dan tumbuhan. Ia diciptakan begitu menakjubkan. Berbanding dengan memori mesin ciptaan manusia, maka hitungannya otak memiliki kapasitas miliaran giga byte.

Otak hewan dan otak manusia jelas memiliki perbedaan sebagaimana akal yang menyertainya didalam membedakan dua jenis makhluk Alloh ini. manusia terus menciptakan sesuatu yang baru dalam hidupnya. Bermodalkan dari apa yang telah Alloh karuniakan didalamnya. Seperti yang sudah ditulis sebelumnya, bahwa alam dan isinya telah diciptakan untuk menusia. Analisis kerja otak yang membaginya dalam otak kanan dan otak kiri memberikan gambaran kepada kita bahwa cara kerja otak ini simpulsif.

Otak kanan yang cenderung kepada gambar, musik, seni, warna, puisi, sedang otak kiri bermain dengan matematika, analisis, menghafal, dan sebagainya. Keduanya berperan dalam pencerdasan manusia. Menelaah ilmu pengetahuan yang telah diajarkan Alloh melalui alam dan fenomena sosial. Dengannya kini berjalan mesin berkuda, mesin terbang, komputer, dan mesin-mesin lainnya. Ilmu pengetahuan tersebut berkiblat pada alam yang telah Alloh sediakan didalamnya sebagai piranti kerasnya, sedang lunaknya, itulah akal manusia. Allohuakbar….

Dialah otak. Piranti yang begitu manakjubkan berada di kepala manusia. Meski hewan pun memilikinya, namun pengembangan ketrampilan manusia semuanya berawal dari sana. Sedangkan hewan, Alloh telah mengajarkan kepada mereka bahwa mereka pun terbatas dengan itu. meski manusia sendiri harus belajar dari hewan tersebut. Ilmu pengetahuan terkini pun belajar dari mereka.

Dalam badan yang berdiri, otak manusia selalu berada dalam keadaan sujud. Dimana gerakan ini didalam sholat adalah gerakan yang paling mendekatkan seorang hamba kepada Alloh. Maka, makhluk yang bernama otak ini telah berada pada sunnatulloh bahwa segala sesuatu di alam ini selalu bertasbih dan selalu tunduk kepadaNya.

Ikhwah fillah, akal ini lah yang telah mengajak kita untuk melihat banyaknya pilhan-pilhan dalam hidup kita. Mana yang akan kita pilih, apa yang harus kita lakukan dengan itu.

Semua organ yang berada dalam diri kita terkendali atasnya. Batang otak kita (otak kecil) mengendalikan semua fungsi organ yang bergerak tanpa kita sadari. Paru-paru yang kembang kempis, gerak-gerak peristaltik pada tenggorokan, usus, kerja ginjal, jantung, hati. Dan semua kerja organ ini akan berhenti begitu saja ketika ia terputus hubungannya dengan syaraf yang menghubungkan. Maka dari itu, Alloh melarang kita untuk menyembelih binatang dengan memutus batang otak atau lewat syaraf punggung belakang. Jantung tidak akan memompa darah keluar dari tubuh begitu hewan ini disembelih. Akhirnya darah akan membeku didalam daging. Sedangkan kejang-kejang yang terjadi ketika hewan disembelih, bukanlah bentuk dari sakit yang tarasa, tetapi dengan memfungsikan jantung yang reaksi terhadap perintah otak kecil usai menerima perintah dari rangsangan sembelihan untuk seoptimal mungkin berkontraksi dan akhirnya mengeluarkan darah dari saluran darah yang telah diputus.

Apakah yang menjadi suplemen atas otak dan akal manusia ini? Benar sekali, ialah ilmu pengetahuan yang terus mencari siapa yang akan menjadi tuan atasnya. Sedangkan akal manusia pun terus haus akan ilmu pengetahuan.

Dalam banyak nash Islam telah mewajibkan setiap muslin untuk terus mencari ilmu pengetahuan atasnya. Apakah itu ilmu diniyah atau pengetahuan umum. Yah, inilah yang masih menjadi kesalahan kita telah membedakan ilmu dalam dua kamar. Kolaborasi keduanya hari ini telah disusun oleh para ilmuan muslim, bahwa apa-apa yang dibaca dari alam berupa pengetahuan telah berjalan atas sunnatulloh. Para ilmuan baratpun telah berkiblat kepada Al-qur’an sebagai referensi. Seiring ilmu pengetahuan alam yang memberikan bukti bahwa hipotesis Al-qur’an tidak ditolak. Pun ilmu pengetahuan alam juga yang tidak mempu membuktikan bahwa Al-qur’an dapat ditolak. Yang artinya alam berjalan atas skenario Alloh, pemilik kalam tertinggi.

Sedangkan ilmu diniah, adalah tuntutan bagi bagi manusia untuk mengenal Alloh, mengetahui apa yang Alloh tujuankan pada manusia. Jika ilmu alam mengajarkan bahwa manusia menggali apa yang Alloh peruntukkan bagianya, maka ilmu diniyah mengajarkan apa yang harus seorang hamba lakukan untuk penciptanya. Meskipun Alloh sendiri sudah tidak memerlukanya. Karena Mahasuci Alloh yang tiada lebih Mulia dari padaNya.

Otak dan akal yang telah Alloh berikan ini mengemban kedua tugas ini. Tentang ilmu diniyah dan ilmu alam. Dan jika mereka tidak menunaikannya, maka ia telah keluar dari skenario Alloh. bagaimana mungkin kita sebagai hambanya mempu untuk keluar dari apa yang telah tertulis, sedangkan bumi tidak berani bergeser dari garis orbit, begitu dengan bulan, dan bintang-bintang. Dan apapun yang terjadi, bahwa otak dan akal kita telah Alloh sujudkan kepadaNya. Wallohu’alam…

Bahwa apa-apa yang manusia ciptakan di muka bumi ini, jika ditimbang dengan sayap lalat sekalipun, maka tiada imbang keduanya….

Thursday, March 5, 2009

nikmat-kebahagiaan

hans of attien...

kita telah sepakat bahawa kebahagiaan seseorang tidak dinilai dari materi yang ia miliki, kenyamana hidup yang dirasakan, kelezatan dari segala indera yang dianugerahkan padanya, tidak juga dari gelak tawanya. kita telah sepakat bahwa kebahagiaan hidup juga tidak sekedar dilingkupi oleh orang-orang yang hormat pada kita, tidak juga dari hadiah-hadiah yang dengan gratis kita dapatkan,

hari ini mungkin kita bisa kukuh untuk menyatakan demikian, secara hidup kita yang masih ditanggung orang tua memberikan lisensi bahwa ada yang harus kita cari lagi. apa itu? apa-apa yang sedang kita kerjakan hari ini. apakah hidup ini hanya untuk bahagia? dan jawabannya adalah lalu apakah kita berharap bertemu dengan kedukaan??

dan kebahagiaan itu sesungguhnya ada di dalam hati.

bagaimana?

bahwa dalam hidup ini masing2 kita telah diberi nikmat dalah tiga hal, yaitu jasad, akal, dan ruh. yang setiap harinya kewajiban kita untuk selalu menjaga ketiganya dalam keadaan sehat. jasad kita butuh makanan yang halal dan toyyib, otak kita butuh ilmu, dan ruh kita butuh kekuatan.

masing2 memiliki porsinya sendiri, bertahap dan tidak sekaligus dalam menjaganya. dan ketiganya memiliki hubungan yang sangat erat.

bahwa jasad ini telah di hak-kan oleh Alloh untuk diri kita masing2 untuk kita syukuri. menjaga kebugaran dan kesehatan, juga kebersihan dan penampilan menjadi haknya yang mustinya tiap waktunya kita tunaikan. ia akan membantu kita pada tiap rukuk dan sujud, membaca alqur'an, dan ibadah ibadah lainnya. secara sunnatulloh bahwa kita hanya diciptakan hanya untuk beribadah kepada Alloh. kemudian jasad ini yang mengaktualisasikan diri kita untuk mempu berinteraksi dengan orang lain, menikmatai hidup sosial, mendapatkan bi'ah yang baik, juga menjadi haknya.

soal makanan si jasad, bahwa Alloh telah menjamin semuanya di dunia ini. dalam surat An-nazi'at Alloh menjelaskan, kurma, kebun2 yang lebat, semuanya diciptakan untuk kita. dan terakhir Alloh menutup surat itu dengan " Maka bertasbihlah.... ". yah... kita diminta untuk bertasbih dan terus memujiNya. padahal tiada berkurang kemuliaan Alloh dengan membangkangnya seluruh makhluk dibumi, dan tidak bertambah pula dengan memujiNya seluruh makhluk di bumi. inilah kawan kebahagiaan itu bagi kita, bagi kita seorang muslim. seorang yang telah menyerahkan hidup kita kepada Alloh semata. dan kebahagiaan ini berada dalam hati-hati ini kita. yang turut dirasakan oleh ruh dan akal. bahwa mereka berdua pun mengakui keilmiahan kalam teringgi-Alqur'an, dan bahwa ruh kita begitu mengagumi bersama dengan alam. Allohuakbar...

oleh karena itu, mari kita jaga jasad ini dengan baik. menjadi haknya untuk selalu tampil menyengankan orang, mata ini, senyum ini, tangan ini, dan semuanya, ada hak dan kewajiban untuk mereka tunaikan. menjaga mereka untuk tetap bugar dan sehat adalah kewajiban kita, dan hak-nya. ia akan terus membantu kita dalam rukuk dan sujud, dalam ibadah2 kita. dan mendukung akan dan ruh untuk terus merasakan lezatnya hidup dalam keimanan. dan bahwa Alloh mencintai muslim yang kuat.

btw, mari kita tunaikan haknya, dan tunaikan pula kewajiban darinya. amanah untuk menjaga mereka dari kemaksiatan, hal yang sia-sia, dan kemalasan.

dan sedikit resep, Anis Matta pernah menjelaskan dengan olah raga maka kita akan mendapati raga yang sehat, dan jiwa yang sehat pula. wallohu'alam...

next: akal dan ruh

Wednesday, March 4, 2009

mereka....

hands of attien...

sekilas tampak bayangan itu lagi. seperti alunan lagu yang membawaku untuk memasuki dimensi masa lalu. pertemuan pertama itu, seakan menjadi pengukuh bahwa seorang Bagus telah mampir dalam kehidupan ini.

adakah yang mengerti jika ini bagian dari hidayah untuk kita renungkan? aku semakin mencintai jalan yang telah ku tempuh ini. seperti semakin kokohnya kakiku untuk terus tegak. tidak akan menjadi orang yang tengah2, dan menjadi orang-orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri.

bahwa taujih dan do'a-do'a tiap forum kita akan selalu diamini malaikat.

sudah tiga mujahid yang syahid sudi mampir dalam kilas video yang bermain dimataku. Titis Nastiti, Abdul Azzam, Bagus Aji Pamungkas.

beberapa moment yang membuatku merinding. jika Alm. Titis bersama kami membuat pementasa drama berkenaan dengan Cinta Hakiki, tokoh utama ini telah menjemput janji pada tiap kalimat text drama.

"bahwa kematian adalah sebuah pembebasan"

syair yang belum berani ku tuntaskan

Azzam yang mengajarkan bahwa perih yang menyayat itu tidaklah lama. karena Rosululloh pun berkata, "Dunia bagiku seperti pohon rindang yang berada di padang pasir. Aku berteduh disana dan kemudian pergi melanjutkan perjalanan kembali."

semoga ini adalah hidayah bagi semua.

juga Bagus yang selalu siap sedia untuk selalu berada dalam barisan terdepan. dan bahwa Alloh jauh menyayanginya. dan pada hari itu, tuntas sudah semua tugas yang diamahkan padanya. Allohu akbar...

namun ia akan selalu hidup.

Sunday, March 1, 2009

lima tahun yang lalu

hands of attien...

negeriku
sudah lama tak ada yang mendendangkan lagu untukmu
mungkin aku
waktu itu
lima tahun yang lalu

negeriku
sudah lama tak bercerita tentangmu
wajahmu yang bergambarkan bangunan-bangunan megah, berparadekan kemiskinan dan kelaparan
ciliwung keruh*
wajah nelayan keruh*
sungguh

bicaralah
membisu itu wagu
tentang lapindo yang lumpurnya membatu
petaninya membatu
rumah-rumah diguncang lindu
sawah-sawah tergugu

cup cup cup cup...

bagimu
panas terik tak terasa**
hujan rintik tak mengapa**
sabar sabar... kata presidenmu

duh duh duh... keburu mati rakyatku

buldozer semakin angkuh
geribik-geribik lapuk runtuh

harga tanah
setali uang sewa tidur
kelam tergusur

bicara gapap
mata katarak
telinga memekak


lalu menunggu ratu adil
dengan jampi-jampi yang musykil
bim salabim
keluarlah si jahil

kemanakah seantero cucu-cucu para pejuang
yang kakeknya telah mati di medan laga
ataukah mereka telah lupa
atau kah pura-pura lupa

darah setali satu atau dua generasi
masih memanggil-manggil
menggaung di tiap mereka tidur
dulu ayah dan kakekmu tidak cengeng sepertimu
lihatlah kamu
mudah sekali tergugu

aku hanya ingat terakhir kali menyanyikan lagu untukmu
lima tahun yang lalu

Thursday, February 26, 2009

hans of attien...


Innalillahi wa innailaihi roji'un.
Bagus Aji Pamungkas telah berpulang
Kamis, 25 feb 09, 22:40


berpulang
setelah melanglang

senyum dan juga perjuangan
mengukirmu di setiap kisah
bersama kami dalam tiap langkah

kawan, selamat jalan
hendak cita2 kami terkabulkan sepertimu


dikau, mujahid ke-3 yang sudi mampir untuk menunjukkan manisnya syahid
yang tiada semanis sekedar di mimbar mimbar ceramah agama

Tuesday, February 24, 2009

angin

hans of attien...

hanya mampu berbisik pada angin
masih adakah hari?
sedang waktu tidak lagi mau berdamai
tentang mimpi yang tergadai

lagi-lagi pada angin
bahwa kasih tidak mampu lagi dinanti
entah cinta pergi kemana
sedang rindu tak pernah terlunasi

kubisikkan lagi
"jaga rahasia ini"
ia pun berjanji
dan mengislahkan lagi dengan mimpi yang terbeli kembali

ilalang disana terus melambai-lambai
menoleh ke kiri, menoleh kekanan
bersama anginku
yang berdamai lagi dengan mimpi dan waktu

ah, cahaya...

serangan baru lagi.
aku hanya merasa aneh begitu saja hari2 ini. dibarengi dengan kakak dan adekku yang jadi aneh tiba2. seakan-akan doa saudariku ditanah Haram terkabulkan cuma-cuma. Ya Alloh... alangkah nikmat nafas yang berhembus dengan iman ini..
jazakillah ukhti...

"maka bashiroh orang-orang yang soleh adalah sebuah penglihatan yang baik"

dan terus saja kabar itu datang satu persatu, membuatku menjadi kerdil seperti kerikil yang tak sanggup untuk terus berada di tepian. usai itu mengharap badai datang dan melantingkan badanku biar remuk bersama pasir atau debu sekalipun. hanya saja mungkin aku memilih untuk berada di tepian pasir putih. bukan parangtritis atau depok, yah. di pulau ku sana. masih bayak nyiur, masih putih pasirnya, masih tenang birunya, masih kokoh pulaunya, masih tegar orangnya, masih indah cakrawalanya, masih cantik semua warna disana. meski harus terpelanting menyebrangi selat sunda. jauhnya...

hendaklah bersabar dengan segala tsabat. lagi lagi dan lagi. apa yang menjadi kekuatan ku ada do'a do'a dan do'a. aku belajar untuk membuka lagi kalam tertinggi, inspirasi yang cantik dalam terminal kecil kehidupan.

maka aku hanya mampu meminta, meminta dan meminta. dari sederetan doa adalah memohon yang terbaik, terbaik dan terbaik. dan dari segala perbaikan yang mampu ku lakukan hanyalah bersyukur, bersyukur dan bersyukur. dan dengan segala nafas yang ku hirup adalah kehidupan, kehidupan dan kehidupan. sedang tiap malam aku hanya mampu bermimpi , bermimpi dan bermimpi. meski esok mati.

menyibak hari dengan segala warna. ah... sangat tampak klo aku cukup lelah dengan diri sendiri. kasiah deh.

setiap hari menuntut untuk berkaca pada cermin yang lebih bening. kisah orang-orang yang membuatku tehenyak tak juga memberikan terbiyah yang signifikan sebagai pembanding. hanya saja Alloh tak kalah cara untuk memberikan ini langsung padaku.

baik dia si khadimat mulia, si perantau sejati, si dia yang berada antara sejengkal dengan kamatian, si dia yang susah payah mencari cahaya, si dia young leader. membuatku gugup memandang keajaiban-kejaiban cinta.

aku bersyukur kakakku yang semakin hebat disana, adikku yang terus kekanak-kanakan, juga mujahidku di tepian barat pulau jawa yang masih terus berdamai dengan mimpi. bapak ibu yang tak lekang dikejar zaman. rambut mereka yang memutih mungkin semakin seru untuk dibicarakan. aduhai... betapa rindu, rindu dan rindu diri ini.

dua kisah yang menurutku adalah sebuah keajaiban, bertautan menjadi mozaik yang sedap untuk ditelaah. setidaknya mampu membuat jiwa ini untuk mensucikan segala jasad, otak dan ruh yang baru mentas dari comberan.

pilihan-pilihan yang menggetarkan. juga keputusan-keputusan yang mendebarkan. juga kenyataan yang menakjubkan. luar biasa. segala namaMu ku sebut. ya Kariim...

akhirnya kuputuskan untuk tidak peduli lagi pada diri sendiri. biarlah sesuai dengan segala skenario yang tertuliskan. meski aku tidak mau hanya sekedar menjadi air yang mengalir.

apapun itu, maka jiwa ini akan terus terpaut seperti "ikatan-ikatan unta". menjadi sunnatulloh disegala sisi kehidupan. akankah tetap ku ikatkan di pohon yang kokoh, atau ku lepas dan berpetualang lagi ke padang pasir.

ah, cahaya...

Monday, February 23, 2009

tal berjudul

hans of attien...

malam rebah di kemuning mimpi
bercampur gelap
kisah sehari yang bejibun mimpi
tiada secuil upil yang berbanding mati

lalu menganga kembali luka
pura-pura lupa pada segala warna
mengulum hati yang berkabut jingga
usai itu lelah, dan pergi musnah

sedang jam terus tertawa
mengejek jasad yang tak peduli pada dunia
terlalu enak dipannya yang menderik
sedang mimpinya diusir jangkik

malam rebah di kemuning mimpi
tiada warna lagi yang sudi
sedang jasad itu terus mendengkur
yang terus pura-pura lupa dengan alam kubur

ah, usahlah risau pada segala sandiwara
sedang fajar tidak pernah terlambat untuk dipeluk
pada tiap agenda matahari

bukalah jendela dunia yang gelap dikamar yang kau matikan lilinya
pandanglah bahwa udara terus berhembus
dan embun-embun masih setia

hiruplah sebanyak yang kamu mau
agar paru-paru kehidupan terisi kembali mimpi
meski jejak-jejak kafilah yang pernah mengajarkan perang
mengejek agenda harian orang-orang kerdil

lalu Tuhanmu telah membuka pintu
mengerahkan tentara bersayap yang siap bertugas
entah menjemput pemilik jasad, atau menebarkan rahmat

puisi seorang kawan

hanes of attien...

Malam yang Sedikit

embun belum selesai menetes pada daun
mentari masih lelap jauh di seberang
terlalu pagi untuk memulangkan kesadaran
rindu masih sangat dingin untuk disampaikan
maka kutumpuk ia bersama lelah yang tak sudah-sudah
kusandingkan bersama luka-luka yang payah

tapi hendak kapan lagi?
siang kemarin terlalu garang
bahkan terlalu berisik untuk mendengar siul berdendang
juga kemarin kemarinnya
dan kemarin kemarinkemarinnya
mungkin juga setelah ini dan setelahnya

waktu burung-burung terbang pulang
nyeri mulai berani mencium tulang
bertambah berani menjelang petang
hingga akhirnya semua sendi
berujar mereka ingin mati
begitulah hari kemarin
juga kemarin kemarinnya
dan kemarin kemarinkemarinnya
mungkin juga setelah ini dan setelahnya

maka tinggallah ini yang disisakan
malam yang sedikit
kurang separuh atau lebih sedikit
maka
kesadaran dipaksa pulang lebih dulu
rindu mulai dihangat-hangatkan
dingin dan nyeri yang tidur pulas di punggung
harus dikalahkan
seperti beradu, siapa yang jaga lebih dulu?

dapati malam-malamku jatuh
yakinkan diriku simpuh
pada sujud-sujudku yang rapuh
luruh penghambaan
genap kenistaan


puisi ini gubahan seorang Angga Aditya. salah seorang yang saya kagumi.

kunjungi blognya. ada oase yang dapat kita temukan

Wednesday, February 18, 2009

Alloh...

ya Rohman
aku masih menelusuri satu-satu namamu
semakin dekat jiwa ini
biarkan selalu

ya Ghoffar
beri aku pelajaran dalam tiap sudut
dan hapuskanlah kesalahan2 silam
yang pada tiap malam hamba menyebut namamu

ya Kariim
jika diri ini begitu angkuh
manalah yang lebih hina?
sedang namamu begitu agung

ya latif...
bahkan kau mendengar desiran hati kami
cacian hati kami
kurangnya syukur kami

ya 'Aliy...
segala pengetahuanmu diatas apa yang dihujjah para pemuja logika
beri kekuatan kami untuk terus dijalanmu

segala namaMu ku sebut
satu-satu

sebagai wasilah do'a kami
untuk saudara kami seperjuangan
yang paling Kau cintai

The Real Mujahid

hans of attien...

akhi
apalah ini untukmu. Alloh lebih peduli untuk mendekatimu dari pada mendengar tangisku yang pecah usai tilawah sebagai wasilah doaku.

maafkan mb yang selama ini belum berhasil mendampingimu
dengan amanah2 kita yang telah terlewat, semoga Alloh menerimanya karena itu adalah karya terbaikmu


harum mujahid semerbak di rungan ber AC alias IMC. detak mesin pemantau mengingatkanku akan kejadian 3 tahun yang lalu. masih di posisi 6, dari kemarin pertama kali masuk.

" kemarin badannya dingin, sekarang demam"

" semalam juga sempat gerak gerak tangannya."

" klo demam berarti ada infeksi."

Syafakalloh akhi.
kami merindukanmu.
pelajaran untukku dan teman2 untuk selalu mengingat bahwa kita ada yang memiliki.

Monday, February 16, 2009

hihi.. aku punya cerita seru. benar2 nasrulloh.. berhasil lolos dari kejaran polisi.. nggak sih.
cuma kena semprit donag. tapi ya gimana, tanpa STNK (lagi di kirim ke ruman) dan juga SIM. yo wes, mendingan jalan myuter.

masya Alloh.. jadi teringat dengna bapak polisi yang pernah menolongku
" mbaknya ustadzah?"

bingung...
" Bukan pak. Santri"

"kuliah dimana?"
sok cuek dengan sibu kmenulis berita acara

" UGM"

" oo.. jawabnya datar."

bingung, sekaligus tak sabar.

" Nih... " Ia berikan kembali STNK motorku.

" Makasih pak, berapa?"
tanyaku pura2 nggak tahu.

" udah. nggak usah aja."

what!!! shock. padahal, aku sudah mengumpat semauku.
nggak akan pernah ikhlas memberikan uang begitu besar pada polisi2 banyak kerjaan itu.

lebih bingung.
" makasih pak.. "

" Ya"

" eh mbak. plangnya di pasang ya"

hehe... maaf pak.. (ujarku dalam hati)

usai itu berderai air mataku.. masya Alloh.. banyak mereka yang masih baik.

tapi yang jelas, aku tidak pernah ikhlas dengan denda2 itu. makanya aku kabur. cia.... !!!

Sunday, February 15, 2009

nyanyikanlah
sebuah syair yang tak pernah bernada
biarkan orang lain terpesona pada indah kata-kata

bacakanlah
ayat-ayat gombal yang hanya mampu membuat orang tersenyum semenit saja
biar mereka tahu, bahwa kesengan hanya lah sementara

terbanglah
melayang pada biru yang menghampar
menukik
mendarat dan terbang lagi

jika kau ingin perubahan, ayo
jika kau ingin orang lain tersenyum karena mu, ayo
jika kau ingin dunia ini lebih damai, ayo

nyanyikanlah lagumu sendiri

Saturday, February 14, 2009

bib bib bib.. haha. macam senjata sincan ketika berubah menjadi pahlawan bertopeng. khayalan, puisi, kosa kata baru. mungkin ketiganya sangat menarik bagi penulis baru sepertiku.(Amie..). tapi tak henyak dari itu semua bahwa realitas lebih indah untuk ditulis dan dijabarkn sebagai sebuah pelajaran. aku mencoba untuk menyembunyikan apa yang berada di kepalaku dan sekaligus ada dihatiku dengan berdalih bahwa " adakah yang lebih bermanfaat dari sekedar mengungkapkan itu ?" hoalah.... kasian deh gw.

bernostalgia dengan zaman keemasan (baca zaman SMA). zaman dimana menjadi kebanggaanku ketika aku bisa melakukan banyak hal semauku. tidak terlalu bingung dengan apa yang orang fikirkan tentang ku. sehingga ingin rasanya masa lalu itu ku jemput kembali dan ku kenakan untuk hidup di masa sekarang. well, bukankah yang seperti ini orang sakit??? haha

hm.. fikiran ini timbul ketika ku dihubungi oleh seorang teman SMA yang sudah lama tak jumpa. suaranya pun aku tak tahu macam mana. tapi ketika dia menghubungiku di telp, masya Alloh...

kami sepakat masa itu adalah masa terkonyol dalam hidup kami. julukanku kala itu membuatku miris, tapi aku sangat bangga dengan teman2ku itu.

telmi, " Udah, kerjain aja matematikanya", or... " telat mi ketawanya", atau namaku diganti miu karena ada lambang "u" dalam persamaan fisika. hoalah...

jogja memang menawarkan banyak hal. dan aku telah banyak belajar di kota ini. meski juga nggak kelar2 skripsinya. mual2 dengan cacing2 yang berpose di buku utama juga buku2 latihan, dan hal2 lain menawarkanku sesuatu yang cantik dan pantas untuk ditantang. haha... kasihan deh.

dan dibalik itu semua. aku sangat merasa bahagia menjadi dirku yang sekarang. seorang guru mengatakan, " ketahuilah tentang Tuhanmu dengan mengetahui apa yang Tuhan inginkan darimu dengan tolabul 'ilmi". hm.. kesungguhan yang belum terpatri, cita-cita yang belum ku merdekakan karena selalu terjerat keinginan2 semu.

marhalah2 selanjutnya harus dicapai. karena waktu akan terus berputar. tanpa istirahat.

kadang aku benci terlalu melankolis, dan sering muntah dengan puisi2 cengengku. hih! egois se-egois egoisnya. " ada tidak yang lebih bermanfaat dari itu untuk orang lain?". pertanyaan ini akan selalu menghantuiku, karena aku terlalu benci pada orang2 egois.

Friday, February 13, 2009

Bulan II

semalam bulan hilang
karena kelam awan
bersama angin utara dan selatan
bersilang, menyembunyikanmu

aku menanti
bulan yang hilang

sedang semilir angin tak selembut pagi
menawarkan dingin yang mati
bersama hujan yang berkelebat
sedang saat itu
aku menanti
bulan yang hilang

satu satu ku eja bentuk awan
ada yang menertawaiku
atau berusaha mengasihiku
sedang aku, hanya mematung
berpose anggun
sedang saat itu
aku sedang menanti
bulan yang hilang

kutawarkan lagi mimpi-mimpi
namun aku sudah lelah menanti
sekali lagi ku tawarkan lagi mimpi-mimpi
dan sekali lagi aku lelah menanti

oh bulan yang hilang
sajakku masih tentangmu
selalu masih tentangmu

kini ramai awan-awan menertawaiku
menghalangiku untuk memandangmu
meski kutawarkan mimpi-mimpi lagi
sedang aku hanya mampu menanti

Sunday, February 8, 2009

Xiao Di ( me, without KJ7)
epik yang membuatku tertawa dan menangis dalam waktu yang bersamaan.
mengajariku untuk berani, untuk tertawa dan menangis lebih kuat lagi

berkonfrontasi dalam hidup. akhir-akhir ini aku memilih untuk gencatan senjata. tapi bukan itu. tepatnya aku kalah. hanya saja aku masih bertahan untuk tetap hidup.

apa lagi yang akan kita cari setelah kita tehu tentang semua makna hidup. bahwa hidup terlalu cantik untuk dimaknai. memberikan banyak kesempatan bagi mereka yang mendapatkan rahmat Alloh untuk berkarya dan berbuat lebih banyak. tidak bingung dengan banyaknya pilihan karena mereka tahu bahwa semua pilihan memiliki konsekuensi yang pasti.

ya Alloh.. sering sedih melihat diri yang belum bisa mengendalikan keinginan. dengan dalil ini itu, ya sih.. nggak berlebihan kok. hanya saja kadang aku berkata " i can do more than that!". sayangnya aku hanya kurang berani untuk menantang.

well, mungkin memang hidup yang harus memulai agresinya lebih dulu. seperti cerita peperangan zaman dulu yang mau tidak mau kita harus berhadapan, menyiapkan bekal dan senjata, berkubang dengan darah, juga berdamai dengan maut. wuih...

tapi, mungkin aku memilih untuk agresi lebih dulu. sebelum hari dimulai. hoho..

semalam ke theater lagi. kecewa berat deh. alias nggak dong dengan pementasannnya. tanpa dialog, apa lagi diskusi. pemainnya tuggal. ku bilang ke seorang teman , " Mungkin kita memang bodoh soal seni" . Huah... tapi waktu kita pulang, eh, ada mbak2 yang nawarin jadwal si pemain theter lagi promosikan pementasan gratis untuk 10 pendaftar pertama. we e e... yo wes. tulis aja nama and cp. toh nggak usah harus susah payah lagi untuk cari jadwal and tempat pementasan seperti malam tadi. tapi memang ada satu catatan. mungkin aku akan susah memaknai pementasan tanpa dialog. huh. ironis. TUBUH SEPATU EL CONY. apa hubungannya kebaya dengan bendera Amerika, laki2 pakai sepatu ballet. lantas, kenapa musti tubuhnya dicat putih. hoho.. pertanyaan yang kata moderator silahkan untuk dimaknai sendiri. setidaknya memang kecewa, lantara pementasan yang penuh kritik sosial terhadap agresi di Gaza belum bisa dimaknai secara utuh dan belum ditampilkan dengan apik. menurutku.. orang yang nggak tahu seni.haha.. kacian deh gw.

Yogyakarta, begitulah kota ini. memberikan banyak warna warni. hayo.. siapa yang belum kesini??

tetep aja susah. kebanyakan pementasan malam hari. sayang sekali...

coba aku tulis sebuah syair lagi

(setelah beberapa menit berfikir..)
wah.. nggak bisa!!! nggak ada yang bisa ketulis niy. dududuh...

thanks kawan, telah mengajari bagaimana hidup
maaf, harus sekian kali ku baca untuk menemukan apa yang sedang berpose di kepalamu.

Saturday, February 7, 2009

menggapai-gapai

berlabuh di pantai lepas pulau
mendayuh di laut biru
menggapai gapai...

sudah terdengar riuh buihmu
diatara nyiur yang bisu
tanpa penghuni

cadikku...
di kelebatan bayang terciptakan oase sepandang mata
menari mengejek dan mencaci fatamorgana
kasihan....

bernyanyi...
bersama mimpi-mimpi
sepi

kemudian...
berlabuh di pantai lepas pulau
mendayuh di laut biru
menggapai gapai...

oh.. jauh nian
setiap dayung lepas satu nafasku
lepas satu jiwaku

menerjang ombak yang diam
menentang badai yang bisu
dan biru yang beku

oh... hantaran pulau nun jauh disana
pandanglah!
sudah ku dengar riuh buih pantaimu
diatara nyiur bisu
tanpa penghuni

sedang aku mematung
menggapai-gapai...

Wednesday, February 4, 2009

mengeja purnama

bulan setengah
merahnya terhalang awan hitam
yang berbaur dengan angin utara dan selatan
di musim penghujan

sendiri
tanpa bintang
sepi
biasa di kegerlapan kota-kota

bulan setengah
termaktub dalam kitab dengan bahasa yang cantik
menuju utuh
purnama

bulan setengah
sayang, bukan purnama
ah, hanya belum saja

bulan setengah
begitulah
tegar menanti masa

haribaannya memaknai semua jiwa
salah satu diantaranya yang menuliskan kisah tentangnya
sama malangnya

oh bulan setengah
malam ini masih adakah?
atau ku tunggu sampai purnama sajah

Sunday, February 1, 2009

Ini salah! ( Thanks mas wahyu..)

Terimakasih ya Alloh.. telah menunjukkan betapa remuk diri ini. huuff.. tinggal sehari lagi. dan mulai hari ini, akan menyapa matahari lagi...

semalam baru saja bertemu dengan teman2 daerah yang kuliah di Jogja. wuih... keren banget. pentas seni secara selektif beberapa membuatku bangga sekaligus miris. ya Alloh.. segalanya memang tidak akan ada yang sia-sia. aku bertemu dengan seniorku yang kalau dulu aku mengenalnya, akan kupicingkan sebelah mataku. tapi ternyata setelah mengenal beliah lebih jauh semasa di Jogja. ternyata kami memiliki sifat yang hampir sama.. seru gitu ngobrolnya.


dan tadi malam aku baru mendapat satu kosa kata yang mungkin terkesan biasa dari beliau, tetapi bagiku ini luar biasa. "Ini salah!" Only that...

thanks mas wahyu... selalu bangga bertemu denganmu. juga adek2 kita. begitulah aku mencari energi, bertemu dengan mereka yang sesama perantauan di Jogja asal daerahku.

tari Sembah, puisi, theater yang... menjadi warna lain malam ini. untuk kaliah yang dari lampung timur. Great!!! u are different. kalian tahu kan kalau aku nggak betah duduk di tengah2 mereka dari awal acara. usai kalian tampil, aku begitu bangga... aku nggak salah datang malam ini.

cihuii... Great!!!

bersama malam
bercinta dengan bulan
cantik
begitu selalu yang ku cari


ternyata wajar, kalau dari kerjaanku selalu ngotak-ngatik perangkan sigma, integral, differensial dan masih terus begitu.. dan di perjalanan aku bertemu dengan orang yang membawaku untuk mengoptimalkan otak kananku.. ah,tepatnya aku menyebutnya mengajak untuk membaca alam. lantas.. puisi, theater, sastra... bener2 dech. entahlah. dulu nggak bakalan aku mau yang namanya baca novel, wuih.. sekarang? malah mau buat cerpen. terus Ima bilang.. " Ukhty.. buatlah novel yang akan membawamu ke GSP dulu.." Yux...

ayolah.. bagaimana kalau kita mulai lagi?? ok??

oya, aku punya cerita yang membuatku shck!
waktu semalam nonton pentas seni, ada salah seorang penonton yang nggak waras ku bilang. penampilannnya terbilang anak gadungan. rambut panjang tak terurus, orangnya tinggi, tapi ceking. pake anting2 di telinga, lidah, dagu. hoh.. nggak banget deh. poninya nutupin muka, terus nggak terurus gitu lah. dan tiap kali ada penampilan baru, dia akan teriak keras.. "Hu.... " sambil mengacung-ngacungkan jari jempol, telunjuk, dan kelingking. bersorak melengking.

aku yakin dengan suuzonku dia itu nge-drug. kalau orang normal nggak gitu.

dan sampai diluar, si Arsyad bialang... " itu yang bla bla bla... (menyebutkan orang tadi) ketua IKPM Lampung Tengah."

sial.

" sudah 4 tahun kepengurusan..."

huh....

hih... yang liat aja gimana gitu.

Saturday, January 31, 2009

Balada Sang Bunda dan Gadisnya

Sejak lama ia ditinggal sang Bunda, kehidupan menawarkan padanya kedewasaan yang lebih awal dari anak-anak seusianya. Bukan ditinggal pergi ke dunia lain, hanya belahan bumi yang katanya menawarkan kemakmuran bagi rakyat negara ketiga.

Belia yang lahir 14 tahun yang lalu, ini memanglah tidak begitu mahir dalam hitungan matematika atau hafalan susunan pencernaan dalam pelajaran biologi di kelasnya. Namun prestasi dalam lomba lari mengantarkannya dalam kejuaraan tingkat kecamatan disebuah kabupaten baru di Lampung. Mungkin bagi kita bukan prestasi yang luar biasa, tapi itu adalah sebuah kekuatan hidup dan menjadikannya sebagai manusia yang berharga dengan bukti piala yang terpajang diruang keluarga.

Sari, begitu kami memanggilnya. Gadis yang dulu hanya seonggok bayi merah di rumah papan lapuk, gadis yang dulu menangis mengerang-erang ketika Bundanya melambaikan tangan dari jendela Carry ketika berusia 8 tahun, gadis yang dulu selalu menjadi bahan tertawaan teman-temannya bersamaan tidak ada baginya perlindungan meski hanya dibalik ketiak seorang ayah. Kini tegar, setegar badannya yang sigap menerjang angin ketika berlari, melawan matahari setiap hari, dan melawan zaman edan dengan kerudung kecil yang belum lama ia kenakan.

“ Mbak Attien…!!!” . Itu, itu teriakannya ketika aku pulang setelah satu tahun yang lalu. Ia datang padaku dengan berlari dan memelukku erat. Luluh lah baginya air yang telah membeku didadanya, menganak sungai, menceritakan betapa kejamnya kehidupan.

Ia menangis, menangis yang entah bagaimana aku memahaminya. Terlalu pahit untuk di ingat. Bahwa gemuruh hidup telah melintas dimata, menari-nari, mengejek dan menyuguhkannya cita-cita yang tak bertuan.

Ku raih badanya erat, entah mengobati jiwanya yang sesak atau tidak pun aku tak tahu. Siapalah aku dibanding dengan seorang Bunda yang selalu ia rindukan. Ia kembali erat merangkulku seperti setahun yang lalu, pertama kali aku melihatnya semakin anggun dengan balutan jilbab kecilnya.

Ia masih tersedu, dan meraih badanku hendak mengelumat segala kepahitan. Hingga tidak mampu mengatakan apapun. Badannya cukup tinggi dan terlalu tinggi untuk anak seusianya. Hingga mampu meraih panjang badanku yang berstatus mahasiswa.

“ Mbak…. “ Dilepas dekapanya. Dan aku mampu bernafas lega akhirnya.
“ Sssstt.. udah… nggak papa kok.” Aku mencoba menenangkan. Tapi aku sendiri tidak tenang. Entahlah, cerita apa lagi yang telah ia lalui tahun ini.

Matanya merah usai menumpahkan seluruh air mata, masih sesunggukan. Tenaganya habis terkuras, terperas waktu yang bersamanya setia berharap menunggu datangnya sejarah terulang kembali dengan cerita yang berbeda.

“ Kok nangis…? Katanya Mamak dah pulang… “ Aku bertanya heran. Tapi entahlah, tiap tahun kepulanganku ia selalu seperti ini menyambutku. Bukan, bukan karena rindu padaku. Hanya saja… kehidupannya adalah satu-satu jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini.

“ Mbak dibawain gelang sama Mamak. Nanti maen ya kalau dan nggak capek?” Ia memandangku dengan senyum yang khas. Bibirnya yang tipis menambah ayu gadis kurus tinggi itu.

“ Wah.. senangnya. Ya, nanti mbak main ke rumahmu. Salam dulu aja buat mamak. “
Sekarang ia benar-benar tersenyum, “ Ya udah, mbak istirahat dulu. Aku mau pulang. “
“ Ya.” Jawabku.
Ia lari tiba-tiba, sekencang ia berlomba lari tingkat kecamatan. Sekencang mungkin meninggalkanku di pintu rumah.

“ Mak…!!! Mbak Attien dah pulang…” Ku dengar suara itu jauh dari sini. Aku yang hanya mematung bersama dengan pertanyaan dari kabar dari telphone yang disampaikan ibuku. Benarkah itu???

Huufff…

***

“ Ya Alloh nduk… udah segede ini kamu?!” Wanita ini mungkin memujiku dengan perawakanku yang jelas beda sejak 2 tahun yang lalu.

“ Mbak Mar.. Mbak Mar…. Ya Iya lah mbak… masa’ mau kaya’ dulu terus.” Jawabku tersipu.

Begitu aku memanggil wanita beranak dua itu. Maryati nama lengkapnya. Masih seperti dulu kami warga sini memanggilnya, yang fasih betul sejak warung serba adanya dibuka sampai ditutup kembali karena banyak yang hutang dan tak terbayar.

Kamu juga beda mbak. Wajahmu semakin tegar.

Mungkin setelah tahu kemarin-kemarin kamu tahu semua cerita disini. Yang kalau aku jadi dirimu, akan teriris dan bisa jadi memutuskan untuk bunuh diri. Badanmu yang tak segemuk dulu ketika pergi, apakah ceritamu disana juga sepahit disini dengan tuan barumu 2 tahun ini?

“ Hahaha.. Anakmu juga dah gadis Mbak… “ Aku tertawa, pun dengannya. Anak-anak disekitar sini pun begitu. Yang dulu anak-anak sekarang sudah dewasa, juga mereka yang dulu dewasa sekarang sudah punya momongan. Juga termasuk anaknya, si Sari. Anak putri dari dua bersaudara itu dulu bocah yang sering ku momong kalau Bundanya pergi ke pasar belanja isi warung.

Kulihat Sari yang duduk manis sendiri di beranda rumah. Mendengar kami membicarakannya, dia pun tersipu sambil mengelus-elus si Slank kucing kesayangannya.

“ Ya tho… ntar lagi juga mantu.” Tambahku.

“ Huss.. Kamu tuh!” Ia berkilah sambil tersenyum.

“ Si Budi maksudnya…” Satu kosong. Aku sengaja menyebut anak pertamanya di akhir. Dan dia pun tertawa.

“ Yo Pak Nur dulu lah..” Hoalah.. Nama bapakku sekarang disebut.

Kami hening sejenak. Merefleksi betapa cepatnya waktu berjalan.

“ Hati-hati mbak. Anakmu dah gadis. Meski masih kelas 2 SMP , tapi badannya tinggi gitu. “ Aku membuka perbincangan kembali.

“ Halah nduk… tinggi tapi ceking gitu kok.” Ia melongok pun keluar. Melihat anaknya yang duduk sendiri masih bermain dengan sahabatnya setianya. Kucing loreng kuning yang suka makan anak ayam tetangga.

“ We.. kan masih masa pertumbuhan. Zaman sekarang anak sekolahan nggak kaya’ zaman aku dulu. Sekarang ngeri mbak! “

Ia diam. Bukan bermaksud untuk menakut-nakuti, mengingatkannya agar lebih menjaga anak gadisnya. Di daerah kami beberapa kasus anak sekolah melakukan seks bebas dengan pacarnya telah terjadi. Usai itu mereka akan putus sekolah dan dinikahkan bersamaan dengan diketahuinya si gadis hamil. Sungguh korban zaman edan yang menyedihkan.

“ Tapi tenang, Sari anak yang solehah kok. Udah pake jilbab lagi.” Aku menenangkan. Begitu aku sangat bangga dengan gadis belia ini, ia mampu melawan arus yang mengalir di lingkungan sekolah, pergaulan masyarakat, bahkan di rumahnya sendiri

“ Dia nggak punya cowok kok.” Tambahnya lebih tenang. Ia melihat bangga anaknya. Dengan jilbab yang membalut itu ia percaya gadsinya akan selamat dari anak-anak putra yang sering tak bertanggung jawab.

Setelah 6 tahun ia meninggalkan rumah untuk kehidupan yang lebih baik, serasa ada sesal namun demikianlah kehidupan harus ia jalani.

Dengan itu pertanyaanku kemarinpun belum mampu lontarkan. Benarkah???

-***

Siang itu kami berada di beranda rumah. Ramadhan kali ini memang ada yang berbeda. Kehadiaran mbak Mar memang memberi warna yang lain. Kehidupan bertetangga kami lebih riuh dengan seringnya para ibu-ibu rumah tangga bergumul bergosip ria dan tertawa tertiwi. Tidak ada arisan atau coba-coba resep makanan seperti mereka yang di kota atau perumahan.

Siang ini dan yang memang akhir-akhir ini ramai rumahnya untuk dijadikan sarang adalah rumah mbak Mar. yang belum lama ini di keramik hasil kerjanya enam tahun di tanah Arab Saudi. Lebih nyaman untuk jagongan.

“ Eh, katanyaYu Jum hari ini juga nyampe lho…”

“ Ah, masa’ sih? Semalem katanya masih di jakarta?”

“ Ya iyalah mbak Yu… hitungannya kan Cuma 10 jam ke sini.”

“ Udah nyampe’ kok tadi subuh”

“ Ooo.. “

Obrolan hangat siang itu memang terkesan biasa saja. Gosip, ngobrol ngalur ngidul, kebiasaan yang sulit dihindari oleh wanita manapun yang sedang berkumpul. Mungkin ini masih suasana Ramadahan. Yah.. tunggu bebrapa hari lagi lah setelah Idul Fitri. Mungkin memang puasa harus menjaga hal-hal yang telah menjadi kebiasaan buruk.

“ Kasihan ya Yu Jum. Nasibnya kaya’ aku. Pulang-pulang kerja dari jauh, eh nggak tahunya nyampe rumah dapet bencana. Mudah-mudahan Yu Jum sabar.”

Mbak Mar tiba-tiba melanjutkan dengan menggeserkan sedikit thema pembicaraan. Sedangkan ibu-ibu yang lain terdiam mendengar itu. Mereka tidak berani menyambung obrolan yang mereka pun tahu tentang itu. Karena mereka menjaga perasaan mbak Mar.

“ Eh, besok jam berapa sholat Ied-nya.” Tanyaku memecah keheningan.

“ Wah mbak.. besok kalau hujan gimana ya? Kan sekarang musim hujan. Apa kita sholat di masjid Syuhada aja…”

Syukurlah… Pembicaraan kali ini benar-benar beralih. Aku tidak ingin sakit hati yang masih berkoreng di jiwa mbak Mar kembali terpindai. Baru kemarin dia bercerita, kalau kasur dan juga sprei miliknya telah ia bakar. Wanita yang malang…

“ Mbak yang sabar… “ hanya itu yang ku ucapkkan kemarin. Hah! Aku sendiri marah pada diriku. Tidak mampu membendung air mata yang telah tumpah, juga sekedar untuk mendinginkan jiwanya yang telah mendidih.

Begitu kau menceritakan semuanya, sebagai sesama perempuan pun aku tak sanggup membayangkan. Kau dan anakmu itu telah begitu remuk untuk menerima semuanya.

“ Uangku ludes. Yang masih ditabungan nggak seberapa. Katanya untuk ini itu, tapi nggak berbekas. “

Kala itu aku hanya mengangguk mencoba untuk pahami dan ikut merasakan. Namun tak sampai. Aku dan tetangga tahu kalau uangmu habis untuk memebebaskan anakmu yang pertama dari penjara karena mencuri mesin pompa air di sekolah, aku dan tetangga juga tahu kalau uangmu digunakan untuk foya-foya suamimu, aku dan tetangga juga tahu bahwa apa-apa yang kamu perjuangkan selama 6 tahun di negeri orang tidak meninggalkan sesuatu yang setimpal.

Di tambah dengan kekecewaanmu sebagai istri…
“Di depan mata si Sari langsung Nduk!!! “
Ya Alloh... Apa lah yang lebih hina dari itu?!

Sari telah menjadi tong akhir dari segala kepahitan rumah yang belum lama bertekel itu. Seakan-akan hidup terlalu mahal. Dan tidak akan pernah cuma-cuma.

“ Iya. Kalau nggak demi Sari, aku nggak mungkin pergi.” Ucapmu polos sebagai Bunda yang baik, Bunda yang mengidamkan kesejahteraan yang selama ini tidak mampu diciptakan suami, Bunda yang mungkin juga ingin keluarganya sejahtera seperti keluarga yang lain. Hingga memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah menjemput masa depan yang lebih baik.

Meski begitu tegar, kesedihan itu masih terlukis diwajahmu. Istri mana yang sanggup untuk menerima itu. Ia bekerja susah payah ke negeri yang tidak menjamin keselamatan, hanya untuk dinar atau dirham yang akan ditukar rupiah. Untuk sekolah anak-anaknya, untuk mengubah garis nasib, untuk memerdekakan keinginan-keinginan yang selama ini terpenjara kemiskinan.

Dengan ini pun aku masih punya pertanyaan yang tak berani ku lontarkan, benarkah itu???

***
Idul Fitri semakin marak terasa. Budaya silaturahmi sangat subur disini. Kabiasaan yang katanya tidak lestari di tempat aku merantau untuk belajar, Yogyakarta. Orang-orang saling berkunjung satu sama lain. Semasa aku masih SD, orang-orang masih banyak yang menggunakan sepeda ontel berboncengan. Suami istri dengan anaknya yang didudukkan di stang sepeda, berseragam mengenakan baju terbaik. Atau kakak-adik yang usianya agak dewasa juga berboncengan. Dan kalau anak-anak mereka biasanya bergerombol dari rumah kerumah dengan sepeda yang memang untuk usia mereka. Pokoknya hampir semua bersepeda. Dan hanya yang mampu saja yang sudah mengenakan sepeda motor. Sekarang zaman kebalikan, hanya mereka yang belum mampu beli motor yang masih menaiki sepeda.

Dan sekali lagi jelas, bahwa kali suasana semakin riuh dengan kepulangan mbak Mar. radius tiga sampai empat rumah ikut merasakan kebahagiaan keluarga ini. kadang teriakannya yang memanggil si Sari atau Budi putra pertamanya memekik terdengar. Dan sore hari pertama idul Fitri aku memilih untuk nongkrong di rumah mbak Mar. Sekalian melepas rindu yang belum rampung.

Nampak keluarga ini begitu bahagia. Ini adalah lebaran pertama kalinya mereka bersama utuh sejak merantaunya sang Bunda. Kami pun bercerita banyak, mbak Mar minta diceritakan bagaimana rasanya belajar di tanah orang, juga aku diceritakan bagaimana serunya mengadu nasib di Arab sana. Cerita-cerita sedih sampai yang konyol semua disampaikan, gayanya yang ekspresif saat bercerita membuat semakin seru perbincangan.

Sampai-sampai pembicaraan kami saat itu…
“ Jadi.. Bener mbak? “ Aku terbelalak tak percaya.

Wanita itu manggut-manggut dan tersenyum.
“ Ya kan nduk…? “ Diraihnya gadisnya yang lagi asik memainkan rambut sang bunda.

“ Hih..!!! Pokoknya kalau nggak tuh nggak!!!” . Anak itu menolak untuk diraih dan lari ke kamarnya.

“ Mbak… mbok di pikir lagi… “ Saran yang cuma-cuma menurutku.

Wanita itu meninggalkanku dan menuju kamar anak gadisnya. Didapatinya anaknya menelungkupkan kepalanya di bawah bantal.

“ Sini... “ Ia mencoba meraih jiwa permata hatinya itu.
Gadis itu pun menolak lagi.
Mbak Mar pun menyerah, tidak mungkin memaksa.

“ Biar nduk Sari bisa kaya’ temen-temen. Ntar kalau dah SMA bisa bawa motor ke sekolah. Masa’ temennya bawa HP nanti Sari nggak bawa HP…? “ Ia mencoba merayu sang buah hati sambil mengelus pundaknya. Tapi gadis belia itu tidak bergeming.

Sedang aku hanya mematung di pintu kamar melihat pertunjukan itu. Menjadi penonton setia yang tak mampu bertepuk tangan atas kehebatan dunia. Sedang mbak Mar pun kini menatapku, ikut mematung,
Aku harus bagaimana? Tapi ini lah keputusanku…

Tapi gadismu telah diajari oleh hidup bahwa ia tidak memerlukan semua itu. Ia hanya butuh belaian Bunda yang hilang sejak umur 8 tahun. Ditambah dengan banyak kejadian dirumah yang tidak mampu dilihat dan dirasakan oleh anak seusianya. Diantara himpitan seorang ayah dan juga kakak yang jelas keduanya adalah laki-laki bertemperamen tinggi.

Aku pun hanya menggelengkan kepala. Ayo pikirkan lagi. atau gadismu akan terluka kembali…

***
Semua telah tertulis dan tinta telah mengering. Tragedi ini harus berulang kembali. Skenario hidup menghendaki demikianlah yang seharusnya terjadi.

Tidak cukup satu, dua atau tiga saja. Mungkin dengan keberangkatan yang ke empat kalinya akan benar-benar mengubah nasib.. Atau lima…?? Ah entahlah. Yah, dan mungkin dengan haji yang juga ke empat kalinya nanti harapannya akan benar-benar terkabul.

Mbak Mar sudah siap dengan dua koper besar dan harapan yang diderek masuk ke bagasi Carry. Siap membawa kembali sang Bunda yang sekaligus seorang istri ini untuk berjuang kembali di tanah orang. Bersama para bunda dan istri-istri yang lain.

Miris, Idul Fitri belum habis. Lebaran ketupat juga belum dicicipi. Lebaran yang dirayakan semiggu setelah tanggal 7 syawal ini masih tanpa sang bunda lagi. Sari hanya mematung tanpa ekspresi. Matanya kosong menatap maya. Sang bunda, harus jauh lagi di mata.

Jika dulu Sari menangis meraung-raung, namun pengalaman mengajarinya untuk lebih kuat. Terhitung dua tahun lagi akan berjumpa dengan sang bunda. Semoga selamat, begitu doanya setiap usai sholat.

Mbak Mar menyalami kami para tetangga satu persatu, sambil membisikkan.. “ do’akan ya..” Dan kami pun hanya mengangguk lagi seperti anggukan yang dulu. Air matanya mulai menganak sungai, memudarkan bedak dan lipstik yang baru saja terpoles.

Giliran sang suami untuk dipamiti, diciumnya tangan gagah itu sembari membisikkan “ Aku pamit” . Sang suami tak bisa berkata. Dibelai kepala wanita terbaiknya itu dan menjawab “ Maafkan aku”.

Si anak sulung masih mematung, sebagai bujang yang sudah dewasa memang tak sepatutnya untuk larut bersedih. Kehidupan di penjara beberapa bulan mengajarinya lebih. Ah, jauh dari sang bunda sudahlah kepastian. Mungkin hanya waktunya lebih cepat. Toh sang bunda masih pulang nantinya. Diciumnya tangan bunda. Dan sang bunda kembali membisikkan “ Jaga adikmu.” Dan si bujang menjawab singkat“ Ya.”

Sedang Sari masih tanpa ekspresi. Memandang kosong dan masih bertanya mengapa ini terjadi untuk kesekian kali. Belum genap rasa rindu terlunasi, sang bunda harus pergi meninggalkannya lagi. wajahnya dingin sembaari tangannya meraih salam bunda, sedingin angin yang enggan berhembus. “ Mamak berangkat ya nduk…? “. Dan wajah itu pun menjawab, Berangkatlah mak… aku sudah terlatih, dan sudah tak ada air mata lagi.

Namun di wajah sang bunda air mata itu semakin deras menganak sungai.
“ Belajar yang bener ya nduk. Mamak didoakan mudah-mudahan sukses. “Ujarnya sambil sesenggukan. “Kamu yang sabar…” Dan gadisnya hanya mengangguk tanpa menatap wajah yang akan dilihatnya dua tahun lagi. Tak apalah tanpa mamak lagi, toh aku sudah besar.

Mungkin jika harus terulang memang demikianlah adanya. Namun luka pada bunda semakin perih menganga. Tercabik-cabik lagi dengan tragedi pagi ini. Jikalau bisa terbagi dua, maka itulah yang akan dilakukannya.

Wanita itu akhirnya bergabung dengan para wanita yang senasib dengannya. Wajahnya mencoba tegar untuk melihat kedepan. Demi kebahagiaan keluarga, maka segala jalan asalkan halal akan terus ditempuhnya. Ia melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Sang suami dan si bujang pun hanya membalas senyum yang tak mampu menyembunyikan sendu. Sedang gadisnya lari secepat lomba lari hilang menyembunyikan teriakannya di dalam kamar. Mengapa harus lagi…!!!

Friday, January 30, 2009

yang ada dikepalaku...

kata Rosululloh saw ... " ... Jangan merasa lemah."

kata Tarbawi .. "awas tertebas pedang yang kau mainkan sendiri!"

kata Ummi Munawiroh... "tazkiyatunnafs dengan muroqobatulloh"

kata Heru " sesuatu itu jauh lebih mudah dilakukan daripada dipikirkan "

kata ustad... " Hati-hati dengan jiwa kita yang akan menjadi kerdil, pengecut,"



Ya Alloh.. Mohon cahaya-Mu...

Thursday, January 29, 2009

larilah ke laut
dan mainkah air
tulis aja tulis aja tulis aja
tulis lagi tulis lagi apa aja

tinggal tulis aja
huaff.. emang statistika.hm...

Wednesday, January 28, 2009

I carry it in my heart

I carry your heart with me
I carry it in my heart
I am never without it
anywhere i go you go ,my dear;

and whatever is done by only me is your doing, my darling
I fear no fate
for you are my fate,my sweet
I want no world
for beautiful you are my world,my true
and it’s you are whatever a moon has always meant
and whatever a sun will always sing is you

Here is the deepest secret nobody knows
here is the root of the root and the bud of the bud
and the sky of the sky of a tree called life; which grows
higher than the soul can hope or mind can hide
and this is the wonder that’s keeping the stars apart…

I carry your heart
(I carry it in my heart)

EE Cunnings

habis denger puisi ini nangis.. hua.. tentunya sengan terjemahan.

Tuesday, January 27, 2009

bicaralah

bicaralah
tentang cinta yang tak beralasan

bicaralah
tentang rindu yang tak terlunasi

bicaralah
tentang legenda kepahlawanan masa silam

yang jatuh
lalu luka
menganga

bicaralah
tentang negeri dongeng yang tak pernah nyata

bicaralah
tentang kedamaian yang hanya ada di surga

ayo bicara
tentang kebenaran yang tak kunjung terwujud

yang jatuh
lalu luka
menganga

terpindai oleh besi-besi yang panas
lalu menjadi borok
menjadi seonggok bangkai
tak terurus, lunglai

meski begitu
bicaralah

meski jatuh
lalu luka
menganga

Monday, January 26, 2009

(Cerita kehidupan) PUALAM CAHAYA DI JAKARTA

“ Hoalah le… gek ndang rampung sekolahmu. Mbok wes tuo, lantas itu adik-adikmu diurusi..” Wanita paruh baya itu mengeluh pada anak sulungnya yang tak kunjung menyelesaikan studinya di Jakarta.

“ Iyo Mak. Kalau Ari dah selesai SMA biar ikut aku ke Jakarta. Nanti kuliah nyambi kerja.” Sigit menenangkan Ibunya yang mulai tua itu. Fikirnya, coba kalau Bapak masih hidup. Mungkin Ibunya tidak udah sekhawatir itu dengan masa depannya dan dua adiknya.

“ Bapak dan Ibu cuma pengen liat kalian jadi orang sukses, jadi orang yang bermanfaat untuk orang banyak, juga negara kita. “ Wanita itu melanjutkan omongannya sambil membenahi kayu bakarnya yang sedang membakar tungku air. Terlintas dibenaknya para pahlawan zamannya kecil dulu, juga tokoh-tokoh kenamaan seperti Soekarno, Soedirman, dan Soe Soe lainnya yang pernah ia dengar di radio waktu kecilnya dulu.

“ Iyo Mak.” Jawab Sigit enteng. Namun, ada semburat sendu diwajahnya.

Ia sendiri harus bertahan hidup di Jakarta yang keras itu. Kulturnya yang Jawa memang sering kalah untuk soal gaya hidup di kampus. Tapi toh tidak apa, karena banyak yang bernasib sama dengannya. Yaitu anak desa yang pengen menimba ilmu di Jakarta. Masyarakat desanya yang sangat desa itu lah yang membuatnya gigih berjuang. Dan Bapak lah selama ini yang telah mendidiknya lewat mimpi-mimpi yang kemudian menjadi awan-awan cantik. Mengajaknya untuk mendobrak dinding-dinding pemisah peradaban para priayi dan orang miskin yang identik dengan pendididkan rendah.

“ Kamu, dan juga adikmu adalah orang-orang hebat. Dan akan seterusnya begitu.”

Yah, kalimat itulah yang akan terus menjadi pengantar tidurnya tiap malam.

Merantau adalah keputusan besar. Begitulah yang terjadi. Bersama dengan pemuda desanya ia merantau ke jakarta menjadi buruh pabrik atau bangunan untuk mencari rupiah. Namun awan-awan itu telah membawanya ke bangku kuliah sebuah universitas bergengsi. Keputusan besar yang diambilnya di tahun kedua hidupnya di Jakarta.

“ Aku akan buktikan ke Bapak, kalau anaknya memang orang hebat.”

Jas kuning yang ia kenakan tiap acara resmi mewarnai kulitnya yang hitam karena terbakar terik matahari, juga mewarnai hidupnya yang selama ini bergumul dengan batu, semen dan ember dan masih akan selalu begitu tiap sore sampai malam hari.

“ Jack, aku besok izin lagi ya. Aku ada acara.” Sigit berujar pada Joko yang dipanggilnya Jack, pemuda yang berasal dari desa yang sama dengannya. Senasib dan sepenanggungan.

Sedang sore itu masih tampak matahari menyengat. Menjelang musim kemarau panjang.

“ Hoalah, kamu terlalu sering izin. Bilang sendiri sama pak mandor. Aku bisa disemprot meminta izin kamu tiap hari. Kalau untuk kuliah ndak masalah, untuk yang lain, ndak mau.” Sambil menghela keringatnya Joko menolak permintaan Sigit. “ Lebih baik kamu cari kerja lain aja. Sekarang statusmu mahasiswa. Ada yang bisa kamu jual ke orang lain. Ini mu!” Sambil menunjuk-nunjuk kepalanya Joko memberi saran.

Dari situlah kini Sigit memilih untuk mengajar privat anak-anak sekolah. Dimulai dengan menawarkan diri pada mandornya, kemudian ia dipromosikan oleh mandornya untuk mengajar anak dari bosnya si mandor itu. Dan dari situlah ia mampu bertahan hidup dan juga bertahan untuk tetap melanjutkan kuliahnya.

“ Kami ikut bangga kamu bisa kuliah, ndak usah cari tempat tinggal. Kamu tetap tinggal disini bareng kami. Toh meski udah jadi anak kuliahan, kamu tetep orang desa kaya’ kami. Ya tho?!”

Sigit tertawa mendengar itu. “ Makasih banyak Jack, tentu saja aku mau. Kalian ndak keberatan tho?”

“ Hey Sigit, kami tahu harga kos kosan. Asal kamu bisa belajar ditempat seperti ini.” Seru yang lainnya. “ Kalau pas kamu belajar malem ada yang ngorok, kamu bingkep aja! Hahaha…” Yang lain pun tertawa. Sedangkan Sigit hanya tersenyum bersyukur. Didatangkan padanya banyak kemudahan melalui teman-teman seperjuangannya. Teman seperjuangan dari desa yang ndeso.

Dipandangnya sekeliling ruangan. Rumah jadi-jadian, begitulah mereka menyebutnya. Rumah para tukang bangunan yang hanya berdindig triplek dan beratap seng. Kalau siang terasa panasnya minta ampun, tapi baginya tidak masalah. Toh siang hari masih ia beraktifitas di kampus atau mengajar privat. Yang jelas ia baru pulang magrib atau ‘Isya. Pulang ke rumah jadi-jadian yang juga rumah keong itu. dimana para tukang itu mengerjakan proyek, disitulah rumah jadi-jadian itu ada.

***
“ Hey Git, sekarang kamu kok pulangnya malam terus?” Tanya Joko pada Sigit yang baru saja pulang sejak subuh tadi.

Bagi Joko anak muda yang seumur dengannya ini adalah belahan jiwanya. Bukan sekedar teman, karena bagian dari perlindungan anak muda ini adalah dirinya sendiri. Sigit mengajarkan banyak hal padanya, itulah yang membuatnya begitu sayang. Tentang sholat, tentang ajaran berbakti, tentang pengetahuan, dan tentang-tentang lainnya. Hingga dia bisa melihat dunia, bahwa hidup bukan sekedar untuk nasi dan lauk pauk. Dia menyebut anak muda ini pualam cahaya. Pualam yang telah mengajakknya dan akan membawa desanya keluar dari kebodohan.

“ Iya Jack. Maaf ya. Besok-besok pun akan selalu gitu bisa jadi. Kegiatanku banyak di kampus.” Jawab Sigit sembari melepas sepatunya. Malam memang semakin larut. Dan bintang memang tidak tampak pendar di perkotaan.

“ Kemana aja?”

“ Di kampus aja kok.”

“ Oh… emang ngapain aja si kalau di kampus? “

“ Ya banyak.”

Jack merasa tidak begitu ditanggapi pertanyaannya. Ia hanya ingin memastikan bahwa temannya baik-baik saja. Ia hanya pandang punggung Sigit yang membelakanginya sambil rebahan karena lelah seharian bekerja.

“ Tenang aja Jack. Aku baik-baik aja.” Sigit memahami kerisauan Joko dengan kepulangannya yang selalu malam akhir-akhir ini. Malah hampir tengah malam.

“ Ada surat dari adikmu. Tadi pak mandor yang kasihkan.” Ujar Jack. “ Aku taruh di meja.”

“ Makasih Jack atas semuanya. Kalian baik sekali, ndak tahu kalau ndak ada kalian disini.”

“ Hm…” Joko tak begitu bersemangat menjawab.

Diambil dan dibacanya surat dari adiknya yang tergeletak di meja satu-satunya diruangan itu. Meja yang juga jadi meja makan, meja yang juga jadi meja belajarnya. Surat dari rumah, biasanya itu adalah perkataan dari Ibunya yang tidak bisa baca tulis. Itulah energi Sigit untuk terus bertahan di Jakarta. Surat yang selalu dikirim oleh adik-adiknya tiap dua minggu dan selalu dibalas keesokan harinya langsung karena tak sabar membalas kabar.

“ Ada kabar apa?” Tanya Joko memecah kesunyian. “ Ibumu sehat-sehat aja tho?”

Sigit tersenyum dan tersirat bahagia. Dilipat dan dimasukkannya kembali surat itu ke amplop. Dan disimpan bersama surat-surat yang lain. Surat-surat itu tersimpan rapat diantara buku-buku tebal materi kuliahnya hasil foto kopi. “ Ibu sehat Alhamdulillah. Ari dan Dewi rangking satu lagi.”

“ Wah, hebat! Mereka akan jadi kaya’ kamu Git.” Ujar Joko.

Sigit tersenyum. Terlintas wajah Ari dan Dewi yang lugu seperti anak desa kebanyakan. Hanya saja ia melihat dua adiknya itu akan menjadi orang-orang besar di negerinya. Otak cerdas dan juga perjuangan gigih selama ini yang telah diajarkan orang tuanya akan menjadi bekal dalam hidup. Dan yang paling penting dari itu adalah bagaimana kedua orang tuanya mengajarkan agama, untuk hidup dunia akhirat.

“ Ada kabar gembira. Aku senang hari ini. Tulisanku di muat di koran kota.” Sigit menghapus fatamorgana wajah bapak ibu dan dua adiknya.

“ Ha? Tulisan apa maksudnya.” Tanya Joko bingung.

“ Itu lho, soal pengangkatan kembali Soeharto jadi presiden.”

“ Ya iyalah. Dan memang akan seumur hidup negara ini akan punya presiden bernama Soeharto.”

“ Hahaha… Pak Harto itu dah tua dan sepuh. Bentar lagi pikun.” Nada bicara Sigit mengejek.

“ Huss! Kamu itu kalau ngomong hati-hati.”

“ Hahaha.. siapa yang mau ndengerin Jack... “ Sigit melihat yang lain telah telah pulas tidur. Memasuki alam mimpi yang tak pernah tertembus. Lagian toh misal mereka dengar tidak ada masalah. Dan Sigit faham apa yang dimaksud Joko. “ Kodok?!”

Merekapun tertawa bersama. Dan tampak mereka yang telah tidur sedikit terganggu dengan guyonan itu. Menggeliat dan usai itu merapikan mimpi kembali.

“ Besok pagi aku yang beliin kalian sarapan. Spesial edisi sukuran.” Tambahnya.

“ Yeach… Emang dapet berapa?”

“ Ada dech..” Sigit merahasiakan. Memang tidak begitu besar untuk tulisan yang tidak begitu populis. Dan memang ia tidak mengharapkan apa yang akan diperoleh dengan mengirimkan tulisan pedasnya yang telah menumpuk di komputer temannya sekelas. “ Yah… Wes, dah malem. Njenengan tidur aja. Aku besok pamit pagi-pagi banget berangkat sebelum subuh. Aku udah pesen sarapannya sama Mbok Minah. Langsung dianter sebelum kalian kerja pagi”

“ Ngapain pagi banget perginya?” Tanya Joko heran.

“ Aku banyak kerjaan di kampus. Jadi musti efektif. Dikejar deadline.”

“ Siapa deadline? Ngapain kamu dikerjar kejar sama dia? ” Tanya Joko polos.

“ Hahaha…. Maksudnya batas waktu mengerjakan tugas. Ini mau nyicil. Besok musti dientri ke komputer. Jadi aku mau tempat temen pagi-pagi banget.” Jelas Sigit.

“ Ya udah. Aku tidur duluan ya.”

Malam semakin larut. Dan Sigit pun masih lelah. Lelah yang sangat.

***

“ Kamu ngapain ikut-ikutan mereka demo kaya’ gitu, polisi sebanyak itu siap mberondong kalian!” Joko marah-marah pada teman yang masih kelelahan itu.

Sambil minum air putih Sigit hanya tersenyum dan hampir saja tersedak. “ Itu demi keadilan Jack.”

“ Aku ndak ngerti apa yang ada dikepalamu. Kamu teriak-teriak di TV kaya’ gitu, kalau tiba-tiba ada yang nembak kamu gimana? ”

“ Itu namanya resiko perjuangan… “ Kilah Sigit tenang.

“ Sigit, kamu merantau jauh-jauh, banting tulang kerja kasar, sampai akhirnya kamu bisa kuliah begini jangan sampai kandas dijalan. Kalau ada apa-apa bagaimana?! “ Nada bicara Joko meninggi. Ia memang tidak mampu memahami apa yang sedang dikerjakan Sigit bersama teman-temannya.

“ Almarhum Bapak mengajarkan, kalau benar bilang benar, kalau salah bilang salah.” Itulah Sigit yang telah tertanam dalam jiwanya pendidikan kebenaran dari seorang ayah.

“ Ah, Bapakmu sudah jadi tengkorak di kuburan.”

“ Jack!”

“ Maaf Git.” Joko menyesal ketus.

Ada sesuatu yang tidak terlerai. Bapak baginya adalah laki-laki sejati, teduh wajahnya yang teringat hanya akan menambah sejuk tiap hatinya yang sering bergemuruh menghadapi hidup. Kerja keras yang diajarkannya, juga pelajaran-pelajaran hidup di kelas-kelas kasih sayang.

Sigit menghela nafas mendinginkan emosi. Ia tahu maksud baik Joko. Tepatnya kekhawatiran Joko.

“ Jack, percayalah. Aku akan baik-baik saja.”

Joko diam.

“ Tulisanku dimuat lagi. sekarang di koran nasional. Jadi uangnya lebih besar. “ Dilihatnya punggung Joko yang tidur membelakanginya. Ditunggunya reaksi temannya itu, tapi tak juga sepatah kata keluar sekedar memberi selamat. “ Aku belikan sarapan lagi untuk kalian.” Juga tak terdengar apapun. Sigit menghela nafas. Dan direbahkan badannya yang lelah setelah seharian berjejalan di jalan bersama teman-temannya yang lain. Lelah yang sangat.

***
Pagi harinya ketika Joko terbangun Sigit sudah tidak ada dirumah keong itu. Tas lusuh kuliah temannya itu juga tak ada ditempanya. Dan kali ini dilihatnya gantungan baju dibalik pintu, jas kuning yang dulu sering bertengger menganggur, akhir-akhir ini ikut berkibar di tengah terik matahari mewarnai kulit hitam Sigit bersama jas-jas kuning lainnya. Dan akhir- akhir ini jas-jas kuning itu telah bergabung dengan jas-jas biru, jas-jas hijau, jas-jas merah, jas abu-abu, yang kesemuanya milik anak negeri dari sepenjuru nusantara yang sedang mengenyam pendidikan tinggi.

Joko semakin mengkhawatirkan Sigit. Cuaca di Jakarta semakin panas, pun situasinya. Ibu kota yang menjadi sentral pergolakan politik juga ekonomi.

“ Joko, ini sarapan pesenan mas Sigit untuk kalian.”

Lamunannya tergugah Mbok Minah yang nongol di depan pintu sambil membawa lima mangkuk soto. “ Mbok Minah… ngangetin aja. Masuk Mbok.”

“ O ya, kemaren aku lihat mas Sigit di TV. Itu beneran ya? Wah.. nanti bisa jadi terkenal. “ Mbok Minah memastikan bahwa ia tidak salah lihat orang.

Joko pun hanya diam menatap Mbok Minah lelah. Padahal hari masih pagi, pekerjaannya pun belum dimulai. “ Nggak tahu Mbok… “

“ Oo.. mungkin aku salah lihat ya Mas. Tapi bener kok, itu mas Sigit!” Tegas wanita umur 50an itu.

Joko pun hanya diam.

“ Assalamu’alaikum.”

“ Wa’alaikumsalam.” Jawab mereka bersamaan. “ Pak mandor? ada apa pagi-pagi begini kesini. Silahkan masuk.” Joko terheran karena ini belum jam kerja, dan tidak sekali kali pak mandor bersedia mampir di rumah keong yang menyempil di ujung gang yang berada di tengah proyek pembangunan gedung pencakar langit.

“ Itu dia. Hari ini dan mungkin juga besok kalian libur dulu. Proyek ini sementara diistirahatkan.”

“ Lho, gimana kok bisa begitu?” Tanya Joko.

“ Hmm… Aku sebagai mandor bawahan tahu apa. Tapi aku dengar desas desus kalau pemegang proyek ini sedang kena kridit macet.”

“ Apa itu maksudnya? “

“ Maksudnya uang pinjaman di bank belum bisa ditarik lagi. Karena Bank yang bersangkutan terkena liquiditas. “ Jelas pak Mandor yang tak bersemangat itu.

“ Apa itu liquiditas?” Tanya Joko lagi

“ Huh! Kamu ini tanya terus. Yang jelas kita sendiri selaku pekerja dibawah terancam kehilangan pekerjaan dengan macetnya pembangunan gedung ini. Sekarang mengerti?!”

Joko menelan ludah. Perutnya terasa penuh sebelum soto Mbok minah masuk ke perutnya. Dan kalau itu terjadi, berarti Mbok Minah akan kehilangan pelanggan. Mereka bertiga hening mematung bersama angin yang mulai enggan berhembus. Juga pagi yang tak terasa sejuk.

***

“ Assalamu’alaikum…. “ Suara itu membangunkan Joko yang melamun sendiri sedari siang tadi. Sedangkah tukang yang lain sedang nonton TV di rumah Mbok Minah. Kata mereka mau nonton Sigit yang ikut demo menuju gedung MPR.

“ Wa’alaikumsalam… masuk. “ Pikirnya ini sudah malam. Tapi yang didengar bukanlah suara Sigit. Dilihatnya bahwa ada dua orang bertamu memakai jas yang sama dengan jas nya Sigit.

“ Sigitnya ada? “ Tanya salah seorang yang lebih tinggi.

“ Sigit belum pulang” Jawab Joko singkat. “Silahkan duduk dulu. Sambil nunggu Sigit datang. “ Joko mempersilahkan kedua tamu itu untuk duduk di tikar.

“ Jadi dari tadi Sigit belum pulang?” Tanya yang lainnya sedikit heran.

“ Belum. Ada apa ya? “ Joko pun jadi ikut heran. Apa yang sebenarnya terjadi.

“ Assalamu’alaikum… “ Ketiga orang itu melongok ke pintu.

“ Wa’alaikumsalam…” Jawab ketiganya.

“ Sigit! Alhamdulillah…. Dari mana saja kamu?! Semua teman-teman mencarimu.” Tanya tamu itu.

“ Ssstt.. Iya. Aku baik-baik aja. Ada apa?” Tanya Sigit sedikit tegang menatap mata temannya.

“ Budi hilang. Kita nggak tahu dia dimana, dari kita nggak ada yang dihubungi. Nomornya juga nggak aktif.”

“ Siapa yang terakhir lihat atau dihubunginya?” Tanya Sigit

“ Terakhir aku masih lihat dia ikut jama’ah sholat zuhur di mushola RRI.” Jawab yang lain.

“ Kita sebarkan ke media. “ Tegas Sigit.

Joko tampak bingung dan mundur dari percakapan tiga orang itu. Ia memilih diam berjongkok menguping di mulut pintu. Pura-pura melihat langit malam yang tidak berbintang. Dan wajahnya yang menegang menambah suram malam yang gelap.

“ Malam ini kita harus koordinasi lagi. Besok teman-teman yang ke Jakarta akan semakin banyak. Ingatkan tiap penanggung jawab dari segala pintu masuk. kamu, hubungi wartawan. Kita akan konferensikan pernyataan kita dan juga informasi terkini, juga tentang hilangnya Budi. “ Sigit memberikan instruksi pada dua temannya yang lain. “ Dan kamu, hubungi teman-teman daerah untuk terus mengirimkan massa.”

“ Jack! “ Sigit memanggil.

Joko pun membalikkan badannya menatap Sigit tanpa ekspresi.

“ Maaf. Malam ini aku ndak tidur di rumah. Bisa jadi beberapa hari besok. “ Sigit mengajak dialog mulut dan mata Joko.

Joko beralih melihat kedua teman Sigit yang juga menatapnya seakan mengatakan, apa urusannya dengan orang ini?

“ Iya. Tapi hati-hati. Aku kasih kabar. “ Jawab Joko lepas.

Keesokan harinya Sigit benar-benar tidak pulang. Hari pertama, hari kedua, ketiga. Bahkan ini sudah seminggu. Kemudaian Joko dan teman-teman yang semakin sering punya banyak waktu menonton TV dirumah Mbok Minah itu semakin resah. Liputan langsung aksi demonstrasi besar-besaran mewarnai hampir seluruh Channel. Sesekali mereka melihat Sigit di wawancarai. Ada rasa bangga yang mereka rasa, bercampur dengan rasa khawatir yang tiba-tiba datang setiap muncul petugas berseragam brimob atau polisi yang memegang tameng kaca tebal dan pentung besi.

Surat dari rumah juga beberapa belum dibaca Sigit. Akhirnya Joko lah yang membaca surat-surat itu. mungkin ada suatu kabar yang harus diketahui langsung oleh Sigit. Joko sendiri kini sering terpaku sendiri di layar televisi milik Mbok Minah. Juga Mbok minah yang kadang menemani di kala warungnya sepi. Mulutnya selalu berzdikir mendoakan keselamatan Sigit.

***
“ Jack..!!! “
Suara itu di dengar Joko yang tengah menonton TV. Itu suara Sigit. Ia keluar dari rumah Mbok Minah.

“ Sigit!” Ia lihat anak muda itu cukup kumal, bau debu, dan wajahnya tampak tak terurus. “ Alhamdulillah… kamu baik-baik aja?” Ia bertanya tentang sesuatu yang telah ia tahu keadannya. Sigit tidak baik-baik saja.

Sigit ngos-ngosan usai berlari ke rumah Mbok Minah mendapati rumah keong itu telah kosong. “ Sekarang iya.”

“ Maksudmu apa? “ Joko bingung.

“ Ndak papa. Mana yang lain? Kok ndak ada dirumah?”

“ Mereka udah pulang. Karena proyek istirahat sampai waktu yang ndak ditentukan. “

“ Iya. Banyak Bank yang keuangannya macet. Ndak bisa ngasih kelanjutan peminjaman. Yang mau ambil tabungan juga ndak bisa. “

“ Kok kamu tahu?! Ah, ayo pulang dulu. Istirahat dulu.”

“ Ndak. Aku Cuma mau kasih kabar kalau aku baik-baik aja, juga ngambil surat dari adekku. Ada lagi kan yang datang? ”

“ Ada.”

“ Apa katanya?” Tanya Sigit.

“ Minggu depan Ari ujian akhir. Kamu dimintain doanya. Mamak sama Dewi sehat katanya. Kamu ditanyain kapan pulang?”

“ Alhamdulillah… nanti kubales. Jack, aku pamit lagi ya. Maafkan aku. Terimakasih banyak kamu dah ngejaga aku selama ini. Kalau kamu mau pulang nyusul yang lain pulanglah. Aku tahu kamu rindu rumah. Aku ndak tahu mau pulang kapan.“ Sigit menjabat tangan Jack.

“ Ndak. Aku ndak pulang tanpa kamu. Berangkat bareng-bareng, pulang bareng-bareng. “

“ Aku masih terus kaya’ gini tiap harinya…!” Sigit menolak untuk ditunggu.

“ Dan Aku masih tunggu tiap hari juga…” Jawab Joko lemah.

Dirangkulnya sahabat seperjuangan itu haru. Pun begitu Joko yang meraih pundak Sigit. Dan mereka berangkulan semakin erat.

“ Terus perjuangkan Git. Aku dukung kamu.” Satu titik air untuk masing-masing mata Joko, juga sepasang mata Sigit. Begitu bergemuruh hati Joko yang selalu mengkhawatirkan keberadaan Sigit. Ditepuk-tepuknya bangga pundak Sigit. Kemudian didekap kembali dengan dekapan yang paling erat.

Sigit membalas erat dekapan itu. “ Makasih Jack. Kamu sahabat terbaikku. “ Ia pun sangat bersyukur diberi banyak kesempatan untuk berjuang ditambah dengan seorang sahabat yang sangat menyayanginya, itulah arti hidup baginya. Arti hidup yang telah diajarkan oleh almarhum ayahanda. “ Do’akan aku dan teman-teman…” Tambahanya.

“ Selalu. Selalu ku doakan tiap habis sholat. “

Dekapan itu mereda. Dan Sigit pun hendak beranjak lagi. Masih dengan jas kuning dan tas lusuhnya.

“ Hati-hati ya.” Joko berpesan.

“ Iya Jack, makasih.” Ia raih kembali tangan Joko. Mereka bersalaman erat. Ditatapnya mata Joko. Pun Joko demikian. “ Aku pamit… Assalamu’alaikum…” Dan jabatan tangan itu meregang kembali.

“ Wa’alaikumsalam…”

Dan akhirnya mereka berpisah. Sigit melenggang cepat meninggalkan Joko, masih dengan jas kuning dan tas lusuhnya. Sesekali ia menengok kebelakang. Entah apa yang membuatnya demikian. Pun Joko hanya memandang punggung Sigit yang semakin jauh meninggalkannya. Semakin kecil dan semakin jauh penampakan itu juga silau terterpa senja yang memantul dari kaca-kaca rumah di pemukiman padat. Sampailah di ujung gang dan setelah itu siluet Sigit menghilang bersama dengan warna kuning jas yang membuatnya bangga memandang si pualam cahaya.

***
Joko masih terpaku di TV Mbok Minah. Setia mengikuti perkembangan berita, terutama berita Sigit. Ia selalu mengharap wajah Sigit muncul disana. Muncul untuk membuatnya bangga sekaligus membuatnya lega kalau Sigit baik-baik saja. Jantungnya bergemuruh saat-saat terjadinya kerusuhan. Kesokan dan keesokannya selalu begitu.

Hingga Joko tahu bahwa Sigit tidak mungkin kembali pulang ke desa bersamanya. Tahu bahwa surat dari adik-adiknya yang telah datang lagi, tidak akan pernah ia baca. Juga surat terakhir dari Ari berisi akan menyusul kakaknya ke jakarta selesai ujian karena bercita-cita melanjutkan sekolah di perguruan tinggi yang sama seperti kakaknya. Juga surat-surat itu tidak terbalas lagi oleh Mas Sigit . Mas Sigit Prasetyo, si pualam cahaya.

Untuk pahlawan reformasi :
Tragedi Tri Sakti 12 Mei 1998
Elang Mulia Lesmana
Hafidin Royan
Hendriawan Sie
Heri Hartanto


Taragedi Semanggi 13 November 1998
Abdullah
B.R. Norman Irmawan
Engkus Kusnadi
Heru S. Sudibyo
Lukman Firdaus
M. Jok Purwanto
Teddy Mardani
Uga Usmana
Sigit Prasetyo


Yogyakarta, 23 Januari 2009
Pualam Cahaya Negeri